Nestapa Biarkan Sirna, Gadisku

(Bones of my bones, flesh of my flesh, blood of my blood)

Riuh rendah tangismu ketika kau terjebak di rimba alam fana
Anganku menjelma nyata saat kusaksikan tingkahmu nan gempita
November tanggal sebelas, hari yang penuh kegembiraan itu
Tahun 1988 menjadi titimangsa sejarah kelahiranmu
Yang berjalan tanpa terasa hingga kau pun menjelma seorang dara

Lakon kehidupan memang penuh adegan yang tak pernah kita duga
Adakalanya kita menangis sedih, adakalanya kita tertawa gembira
Riang dan duka silih berganti seperti rembulan dan matahari
Angan dan kenyataan tak selalu berjalan beriringan
Selaraskan saja hidupmu dengan harmoni semesta

Kau kini berada di masa penuh pancaroba layaknya seorang remaja
Ingin rasanya kuulang lagi masa kecilmu, agar aku selalu bersamamu
Namun waktu terlalu cepat berlalu, seiring langkahmu yang ceria
Ah, masih panjang jalan membentang di hadapanmu, puteriku
Nestapa biarkan sirna bersama senja usia Papa
Tetapkan hatimu, mantapkan langkahmu
I
llahi takkan pernah meninggalkanmu

Billy Soemawisastra.

(Untuk Purnama Papa: Ranty Laras Kinanti,

dari Papa yang selalu rindu celotehmu)

Keterangan Tambahan:

Foto-foto Ranty dari blog ini terpaksa dihapus, karena ada orang-orang iseng yang memanfaatkan foto-foto tersebut untuk kepentingan pribadinya. Di antaranya dengan membuat account facebook atas nama Ranty (dengan ejaan nama yang salah)  dan mencantumkan foto Ranty yang semula termuat di blog ini.  Saya mengimbau orang-orang tersebut (entah siapa) untuk segera menghapus account facebook palsu tersebut, dan menghapus foto-fotonya yang diambil tanpa izin itu.

This entry was posted in Puisi by Billy Soemawisastra. Bookmark the permalink.

Tentang Billy Soemawisastra

Blog Jagat Alit mulai dipublikasikan di jagat maya pada 23 November 2007, dan hampir setahun kemudian, 7 Juli 2008, blog Alun-Alun (http://www.jagatalun.com) menyusul sebagai "penyeimbang" Jagat Alit. Ketika kedua blog ini diterbitkan, saya masih bekerja di Liputan 6 SCTV, sebagai Kepala Departemen Pendidikan & Pelatihan Pemberitaan (Head of News Training Department). Saya bergabung di stasiun televisi swasta terkemuka ini, sejak 1995, dengan posisi awal: produser, kemudian produser eksekutif. Di manajemen, saya pernah menduduki posisi Manajer Pemrosesan dan Penayangan (News Processing & Broadcast Manager), dan Senior Manager Program Khusus dan Mingguan (Senior Manager for Current Affairs & Special Programmes). Sebelum bergabung dengan SCTV, saya pernah menjadi produser pemberitaan di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia); Redaktur Pelaksana beberapa majalah keluarga; dan penyiar, reporter, redaktur Radio Arief Rachman Hakim (ARH). Pendidikan terakhir saya: Fakultas Ushuluddin (Theology) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) "Syarif Hidayatullah" Jakarta, dan pernah "nyantri" di Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Sejak 1 November 2009, saya resmi pensiun dari SCTV. Tetapi tentu saja saya tidak akan pernah pensiun dari pekerjaan saya sebagai jurnalis, penulis dan pengajar, selama Allah masih mengijinkan saya untuk melakukan semua itu. Sejak 2010, saya bersama isteri saya, mendirikan suatu lembaga training yang kami beri nama: BE Training (Beyond Expectation Training). Untuk mengetahui lebih jauh lembaga ini, silakan klik http://www.be-training.org.

11 thoughts on “Nestapa Biarkan Sirna, Gadisku

  1. Bung Johanes, terima kasih Anda telah berkunjung ke “Jagat Alit”. Saya juga sempat singgah tadi di blog Anda, “Penembus Batas”. Sepertinya justru saya yang harus belajar banyak dari Anda. Puisi-puisi Anda sangat bagus, meditatif. Saya akan sering-sering berkunjung ke blog Anda untuk menikmati karya-karya Anda.

  2. Sajak yang bagus bagi nama yang indah milik gadis yang cantik. Orang Jawa menyebutnya sandi-asma untuk inisial yang tersusun di dalam sajak dan membentuk nama. Pujangga Jawa yang gemar menggubah sandi-asma dalam sajak-sajaknya yaitu R. Ngabehi Ranggawarsita. Ini anak yang nomor berapa, Mang? (Sori, saya jadi sok akrab, soalnya memang beginilah anak-anak BB-ARH memanggil Anda). Salam buat keluarga & anak-anak eks BB-ARH (kalau ketemu).

  3. Terima kasih, Hargie. Komentar Anda adalah pengetahuan baru bagi saya. Saya baru tahu bahwa Ki Ranggawarsita gemar menggubah sandi-asma dalam sajak-sajaknya. Ki Ranggawarsita adalah pujangga Jawa yang saya kagumi. Sayangnya, saya tidak mengerti sastra Jawa, sehingga karya-karya beliau yang saya baca hanyalah cuplikan karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan, itu, tentu saja sangat terbatas. O ya, Ranty adalah anak saya nomor dua (bungsu). Satu-satunya perempuan. Kalau saya ketemu dengan anak-anak BB-ARH, insyaallah akan saya sampaikan salam Anda. Sukses selalu untuk Anda, Hargie. Saya tidak keberatan Anda memanggil saya Mang, karena sebutan (panggilan) untuk saya memang banyak: Mang, Bang, Kang, Bung, Mas. Malahan, belakangan ini banyak juga yang memanggil saya: Mbah, Abah dan Eyang. Saya suka dengan semua sebutan itu.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s