Jagat Alit

Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan

Kematian

Amat beragam perilaku orang menghadapi dan menerima kenyataan kematian. Juga dalam hal memahami makna kematian.

Banyak orang menghadapi kematian dengan duka dan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan cenderung menjadi berlebihan dalam menerima kedukaan, ketika ajal itu datang menjemput pada waktunya.

Peristiwa meninggalnya Soeharto misalnya.

Publikasi meninggalnya Pak Harto menjadi berlebihan ketika media massa setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap hari mendaraskan kesedihan. Bahkan masih ditambah lagi ajakan SBY untuk berkabung secara nasional selama 7 hari. Luar biasa! Kedukaan yang jadi terkesan terlalu didramatisir.

Sangat sedikit orang yang mampu menghadapi kematian dengan senyum ikhlas.

Apakah itu kematian diri sendiri, atau kematian yang dialami oleh orang dekat kerabat keluarga. Suami atau istri, atau anak, cucu, sahabat, teman, dsb.

Demikian sedikitnya orang yang mampu menghadapi kematian dengan senyum, hingga kadang orang semacam ini dikategorikan “aneh”.

Terlepas dari makna spiritual kematian yang tetap menjadi misteri bagi manusia, bukankah kematian sebenarnya merupakan hal yang alamiah – biasa saja. Setiap hari selalu ada orang mati (dan di sisi lain ada pula bayi lahir).

Seorang sahabat sempat di-“tegur” oleh keluarganya ketika sang ibunda meninggal. Pasalnya dia tidak terlihat sedih. Malah dia sangat tenang dan tetap tersenyum. Raut wajahnya amat tenang ketika mendengar kabar bahwa ibundanya meninggal dunia.

Saat berhadapan dengan jenazah sang ibu, mukanya tampak kalem. Sementara anggota keluarga yang lain dan para sahabat terlihat amat berduka.

Saya pun penasaran ingin tahu, mengapa dia bisa menghadapi kematian ibundanya dengan tersenyum. Padahal saya tahu, hubungan sang sahabat ini dengan ibundanya begitu dekat. Bisa dibilang dia anak kesayangan – anak mama.

“Kematian itu hal yang biasa saja, alamiah. Semuanya sudah ada yang mengatur,” katanya.

“Aku tahu, ibuku ada di sana. Kehadiran tidak selalu berwujud fisik bukan? Dan kematian tidak berarti meniadakan kehadiran kan?” katanya menambahkan. Tetap dengan wajah tenang dan tersenyum.

Pandangannya tentang hidup, membuat sahabat saya ini selalu tersenyum dalam menghadapi hidup. Termasuk ketika menghadapi kenyataan ibunda tercintanya meninggal dunia.

Segala puja-puji (apalagi sampai setinggi langit), perlukah diungkapkan ketika seseorang meninggal?

Segala hal perbuatan baik memang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap orang sesuai kodrat. Bukan karena supaya dilihat dan dinilai orang, atau agar dikenang dan dipuja puji setinggi langit ketika meninggal kelak, atau agar dapat pahala dari Sang Pencipta. Jelas bukan itu!

Konsep bahwa manusia adalah Citra Sang Pencipta (Sang Pencipta adalah sumber segala Kebaikan dan KEBAIKAN itu sendiri) – itulah yang mengharuskan orang berbuat baik kepada orang lain dan segala sesuatu ciptaan-Nya. Dan inilah tugas utama hidup manusia: menyebarkan dan mengamalkan KEBAIKAN Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan tak perlu digembar-gemborkan dengan maksud agar dilihat orang atau dinilai hebat oleh orang lain. Apalagi agar terbebas dari jerat hukum bagi ahli warisnya atau para pengikut orang yang telah meninggal. (Dalam konteks wafatnya Pak Harto – ini jelas tidak relevan!). Bukankah “kebaikan” dalam dunia politik selalu bersayap? Tidak ada yang gratis di dunia politik. “Kebaikan” dalam konteks politik tidak bisa disejajarkan dengan kebaikan sejati yang tulus.

Setiap peran dalam hidup mempunyai tanggung jawab menyebarluaskan dan mewujudkan KEBAIKAN-Nya. Pak Harto misalnya, ketika menjadi penguasa berkewajiban melayani dan menyejahterakan seluruh rakyat, tak terkecuali. Apakah yang seideologi atau pun tidak! Jadi tidak ada hak sama sekali dari seorang pengemban kekuasaan untuk menelantarkan rakyat, untuk tidak berbagi kebaikan. Diminta atau pun tidak. Dalam hal ini kebaikan ada, bukan berkat kemurahan hati. Tapi itulah mandat dari SANG KEBAIKAN sejati.

Mengapa kita harus tersenyum saat menghadapi kematian?

Ketika kita mendapatkan kelahiran seorang bayi, senyum dan suka cita itu muncul dari hati sebagai ungkapan syukur. Selayaknya pula saat kematian itu tiba waktunya, senyum dan suka citalah yang mestinya mengembang di diri kita. Suka cita bukan berarti harus berpesta pora riuh rendah. Namun suka cita dalam wujudnya yang hakiki ucapan syukur dan keikhlasan hati.

Jadi tidak perlu berlebihan menghadapi kematian. Apalagi dengan puja puji setinggi langit. Hadapi saja semuanya secara wajar dengan senyum.

Vincent Hakim Roosadhy

[Tulisan ini juga bisa dilihat pada http://blog.liputan6.com]

Kamis, 31 Januari 2008 Ditulis oleh Vincent Hakim Roosadhy | Refleksi | , | Tinggalkan sebuah Komentar

Hijrah

Telah terbit rembulan di atas kami
dari arah Tsaniyatil Wada’i.
Kami sampaikan syukur dan puji
atas ajakan yang ia serukan dari Illahi.

Syair berbahasa Arab, yang di kemudian hari dikenal sebagai Shalawat Badr ini, serempak dinyanyikan masyarakat Yatsrib, guna menyambut kedatangan Muhammad ibnu Abdullah dan Abubakar Shiddiq. Berhari-hari, kedua lelaki asal Makkah ini, berkuda dan terkadang berjalan kaki melintasi teriknya padang pasir. Sesekali bersembunyi di balik bukit dan di dalam gua. Bukan sekadar untuk menghindari badai gurun yang ganas, tetapi juga (dan terutama) menghindari para algojo Quraisy yang ditugaskan membunuh Muhammad, Sang Nabi.

Sudah lama penduduk Yatsrib menunggu kedatangan Muhammad. Mereka ingin mendengar langsung, kabar nubuwat Ibnu Abdullah, yang telah lama tersiar di seluruh jazirah. Mereka tahu, penguasa Makkah yang sangat membenci putra Abdullah karena ajaran monoteismenya itu, berniat membunuh Rasulullah. Itu sebabnya mereka pun membuka pintu Yatsrib selebar-lebarnya bagi Muhammad.

gua-hira1.jpg

Bagi penduduk Yatsrib, yang terpecah dalam dua kelompok suku besar: Aus dan Khazraj yang saling berseteru itu, kedatangan Muhammad diharapkan dapat menyatukan mereka. Karena mereka pun pernah mendengar berita bahwa laki-laki Makkah itu berhasil menyatukan Suku Quraisy yang terpecah-belah dalam beberapa kabilah. Sehingga kemudian digelari Al-Amin, atau “orang yang dapat dipercaya”.

Kegembiraan mereka meledak, dan Shalawat Badr pun membahana, ketika akhirnya Muhammad tiba di Yatsrib bersama sahabatnya yang paling setia. Kedatangannnya mereka ibaratkan sinar purnama yang teduh, yang menerangi dan menghangati relung-relung hati mereka. Nama Yatsrib pun kemudian berganti menjadi Madinah, kependekan dari kata madinatul-munawwarah (kota yang bercahaya) dan madinatunnabiy (kota Nabi) atau madinaturrasul (kota Rasul).

Keberangkatan Nabi Muhammad SAW bersama Abubakar Shiddiq, dari Makkah menuju Madinah, yang berlangsung sekitar 13-24 September 622 Masehi itulah, yang kemudian dicatat sejarah sebagai hijratunnabiy atau hijraturrasul. Tujuh belas tahun kemudian, bertahun-tahun setelah wafatnya Muhammad Rasulullah, Khalifah Umar ibnu Khattab mencanangkan peristiwa hijrahnya Sang Nabi, sebagai awal Tarikh (Kalender) Hijriyah, yang dimulai dengan tanggal 1 Muharram.

Sistem penanggalan Kalender Hijriyah, didasarkan pada peredaran lunar (bulan). Berbeda dengan Kalender Masehi yang berpatokan pada sistem peredaran solar (matahari). Orang-orang Arab, juga menamakan Tarikh Hijriyah sebagai Tarikh Qomariyah dan Tarikh Masehi sebagai Tarikh Syamsiyah.

lunar-solar-system.jpg

Karena peredaran bulan mengelilingi bumi lebih singkat daripada peredaran matahari, maka satu tahun Hijriyah lebih pendek 11 hari dibandingkan satu tahun Masehi, meski jumlah bulannya sama-sama 12. Hijriyah 354 hari, Masehi 365 hari. Sehingga dalam satu abad, terdapat selisih sekitar tiga tahun, antara Hijriyah dan Masehi. Yang juga perlu dicatat, walau awal Kalender Hijriyah dimulai dengan tanggal 1 Muharram, peristiwa Hijrah Nabi (jika dihitung mundur) sebenarnya terjadi pada 1 Rabi’ul Awwal.

Pencanangan Kalender Hijriyyah oleh Umar ibnu Khattab, lebih bernilai sosio-kultural dan historis ketimbang religi. Sehingga dalam perayaannya pun, peringatan 1 Muharam tidak semeriah Idul Fitri dan Idul Adha yang kental dengan nilai-nilai ibadah. Jika dibuat peringkat, peringatan 1 Muharam sama peringkatnya dengan peringatan Maulid Nabi. Dengan demikian, tanggal 1 Muharam, mungkin lebih tepat disebut sebagai “Tahun Baru Orang Islam” bukan “Tahun Baru Islam”.

Beberapa ahli sejarah, bahkan menyebut Tarikh Hijriyah sebagai “Kalender Arab-Islam”, untuk memberi ruang adanya kalender orang Islam lainnya di luar Arab. Orang Jawa-Islam misalnya, mempunyai kalender sendiri (paduan antara Tahun Saka dengan Tahun Hijriyah). Sehingga nama-nama bulannya pun agak berbeda. Bulan Muharam menjadi bulan Syuro, bulan Sya’ban menjadi bulan Ruwah, dan lain sebagainya.

Yang bisa dimaknai secara religi adalah peristiwa Hijrah Nabi itu sendiri. Hijrah mengandung makna: perjalanan meninggalkan kesengsaraan menuju kebahagiaan; meninggalkan keputus-asaan menuju optimisme; atau meninggalkan keburukan menuju kebaikan.

John L. Esposito, dalam The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic Word, Volume 2 (Oxford University Press, 1995), melukiskan peristiwa Hijrah Nabi sebagai “penolakan simbolis terhadap rasa putus asa dalam menghadapi penindasan dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama (di Makkah). Sehingga keputusan meninggalkan lingkungan yang menindas menuju lingkungan yang lebih kondusif (Madinah) merupakan pilihan tepat.”

prophets-mosque-full-view-at-night_madena.jpg

Yang lebih menarik untuk dikaji dan diteladani, adalah apa yang dilakukan Muhammad Rasulullah di Madinah bersama para sahabatnya, yang berangsur-angsur ikut berhijrah. Madinah adalah sebuah kota oase yang berpenduduk multi-etnis dan multi-agama. Penduduk aslinya adalah orang Arab dari Suku Aus dan Khajraj yang kemudian masuk Islam, serta Arab-Nasrani dan Arab-Yahudi. Lalu datanglah orang-orang Islam dari Makkah yang disebut Muhajirin (orang-orang yang berhijrah), untuk membedakannya dengan Muslim Madinah yang disebut kaum Anshor (para penolong).

Rasulullah yang bijaksana itu, berdiri di tengah, untuk memelihara kehamonisan dan menyelaraskan keberagaman. Semua penduduk Madinah, baik itu kaum Muhajirin, Anshor, maupun Yahudi dan Nasrani, diberinya hak yang sama, termasuk diberi kebebasan untuk beribadah sesuai keyakinan agamanya masing-masing, dalam perlindungan Sang Rasul. Masing-masing pihak dilarang saling mengganggu.

Rasulullah yang welas asih itu, sangat menghormati perbedaan. Perbedaan dinilainya sebagai rahmat (karunia) Tuhan, karena Islam adalah “rahmat bagi seluruh alam”, yang juga berarti “rahmat bagi seluruh manusia” (dengan segala kebhinekaannya).

Kepada seluruh penduduk Madinah yang multi-etnis dan multi-keyakinan itu, Rasulullah Muhammad SAW berujar: “Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapa pun yang engkau kenal maupun tidak engkau kenal. Kalian belum bisa disebut beriman, sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (Hadis Riwayat Imam Bukhari).

Jadi mengapa kita tidak meneladani Rasulullah yang humanis dan pluralis itu? Yang dilukiskan Al-Barzanji sebagai laki-laki yang gagah, berwajah cerah dan jernih, murah senyum dan senantiasa bertutur lemah lembut. Rasulullah yang Suci dan Disucikan Allah itu sangat membenci anarkisme. Jika kemudian muncul peperangan dalam perjalanan sejarahnya, itu lebih karena untuk membela diri dari musuh-musuhnya yang ingin membunuh Rasulullah dan para pengikutnya.

Akhirul kalam, segala puji hanya buat Allah yang telah mengutus Muhammad. Limpahkanlah shalawat dan salam bagi Rasulullah, serta para kerabat dan sahabatnya. Selamat menyambut tahun baru 1 Muharram 1429 Hijriyah. Semoga kita mampu berhijrah dari kemiskinan menuju kesejahteraan, dari perseteruan menuju keharmonisan, dari kebencian dan kedengkian menuju cinta kasih bagi sesama.

Billy Soemawisastra.

[Tulisan ini juga bisa dilihat pada: www.liputan6.com. Foto: www.biocrawler.com, http://shakabect.files.wordpress.com, http://newsimg.bbc.co.uk, hhtp://ircamera.as.arizona.edu]

Kamis, 10 Januari 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Refleksi, Wacana | , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar

Jati Diri

Dalam suatu kesempatan liputan ke luar negeri, saya pernah dipanggil petugas imigrasi dan diingatkan agar form tentang data diri diisi lengkap.

“Maaf, ini belum Anda isi,” kata perempuan petugas sambil menunjuk kolom agama.

“Apakah harus diisi?” saya bertanya dengan gaya santai sambil agak cengengesan.

“Ya. Harus Anda isi,” kata si petugas paruh baya yang manis itu sambil memandang saya dengan senyum simpatik. Saya suka senyumnya.

“Harus? Kenapa?”

Petugas itu tidak menjawab, tapi langsung menyodorkan form itu kembali. Sebenarnya saya memang agak kesal. Bagi saya urusan keimanan – hubungan pribadi dengan Sang Khalik pencipta alam semesta – Yahwe – Allah – Bapa yang bersemayam di surga – Tuhan – Gusti ingkang murbeng ing dumadi adalah sangat pribadi.

Ahh. Ya sudahlah. Sambil menggerutu dalam hati, form itu pun saya isi.

“Dagelan nggak lucu. Katanya negeri kebebasan. Negeri sekuler, lha kok…”

“Ok! Finish!” form itu segera saya serahkan ke petugas. Saya pun cepat berlalu dari situ.

Saya tidak perhatikan lagi bagaimana ekspresi petugas itu. Di form itu saya tuliskan “Soccer” alias Sepakbola – pada kolom agama. Yang pasti setelah saya isi dan serahkan form itu, saya tidak dipanggil lagi.

“Syukurlah. Agama sepakbola sudah diakui dunia,” pikir saya sambil ketawa dalam hati. Kenyataan, bahwa saya memang gila nonton bola. (Tapi maaf, bukan sepakbola Indonesia – yang hanya bikin emosi dan capek hati jika ditonton).

Di negeri kita, ada banyak pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang tumpang tindih – salah kaprah – tipu menipu membodohi publik berkaitan dengan soal hak dan kewajiban, fungsi, kepentingan, dan tanggung jawab. Kepentingan pribadi, golongan, atau partai meminjam “kendaraan kepentingan” seolah-olah menjadi kepentingan publik. Ada yang semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah, penguasa, atau negara namun tidak dijalankan. Atau seharusnya menjadi tanggung jawab pribadi tapi justru “merepotkan” pemerintah. Lihat saja kasus Lumpur Lapindo yang tidak juga selesai itu.

Yang paling berat memang hak pribadi namun diintervensi seolah-olah menjadi hak publik. Lucunya, pemerintah ikut-ikutan ngurusi. Soal kehidupan ber-Tuhan misalnya. Di form KTP, Paspor, Ijazah, Lamaran Pekerjaan, atau apalah. Ada kolom isian tentang agama yang wajib diisi. Haruskah orang lain atau publik tahu warna keimanan keyakinan seseorang itu apa? Atau perlukah publik tahu, seseorang beretnis keturunan apa (Cina, Arab, Jawa, Batak, Sunda, atau warga keturunan apa, dll)? Seberapa penting?

Ada banyak kasus, karena warna keimanan, lamaran kerja diterima, tender menang, orang naik pangkat jabatan, atau mungkin lamaran nikah diterima sang calon mertua. Namun jamak pula, karena sebuah warna keimanan, orang mati. Terbunuh secara kharakter, karier mandek, tidak naik pangkat, dibenci orang, putus cinta, dan bahkan batal menikah. Banyak juga rumah orang yang dirusak, tempat ibadah diporak-porandakan, sampai nyawa melayang karena beda warna keimanan, cara memahami, dan menjalankan ritual keyakinan.

Apa agamamu? Kamu orang apa? Apakah kamu sudah menikah? Kapan kamu akan menikah? Atau, istrimu sudah mengandung belum? Kapan mau punya anak? Anakmu berapa? Dst. Pertanyaan-pertanyaan sejenis setiap saat kita dengar dan menjadi sangat “biasa” terlontar. Sadarkah itu artinya telah memasuki wilayah yang sangat personal? Nama. Agama. Suku. Kebangsaan. Status. Pekerjaan. Ciri-ciri fisik. Warna kulit. Pendidikan. Menikah-tidak menikah. Inikah jati diri? Jika tidak bernama, apakah berarti tidak memiliki jati diri? Jika tidak memiliki agama, apakah berarti tak berjati diri? Tak berstatus berarti tak berjati diri? Dan seterusnya, dan sebagainya?

Apa itu Jati Diri?

Apakah jati diri setara jika disejajarkan dengan nama (yang setiap saat bisa berganti dengan macam-macam alias dari a sampai z)? Apakah jati diri sejajar dengan warna keimanan seseorang? (yang bisa saja karena alasan-alasan tertentu, orang berpindah agama, keyakinan, atau ideologi). Apakah bisa disepadankan dengan kesukuan, kebangsaan, atau status kewarganegaraan, profesi, hobi, dan sebagainya? Saya sering mendengar pernyataan pejabat negara – petinggi pemerintahan atau kelompok elite politik yang mengatakan bahwa bangsa kita nyaris kehilangan “jati diri”-nya.

Jati diri bukanlah kata-kata. Bukan warna kulit. Bukan bentuk mata. Bukan pula KTP atau ID card yang bisa dicetak dalam hitungan menit. Jati diri – sebuah pribadi – realitas pada diri yang melekat erat menyatu tak terpisahkan. Kematian tak menghilangkan jati diri. Setiap individu memiliki pribadi jati diri yang selalu khas unik. Kekhasan jati diri adalah karena membawa Citra Sang Pencipta – Sang Pribadi Maha Unik. Setiap orang berhak menjadi pribadi. Menjadi jati diri. Hak yang juga melekat erat dalam setiap pribadi. Setiap orang wajib – harus menghormati dan menghargai pribadi-pribadi. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Keyakinan dan warna keimanan (serta lembaganya) mestinya menjaga dan mengarahkan pribadi-pribadi, agar menjadi pribadi sejati menuju jati diri mencapai keabadian Sang Pribadi.

Saya terkesan dengan iklan : MAY BE YES, MAY BE NO. Iklan ini menurut saya cerdas, lucu, ringan, berani, dan menampilkan pesan pemberontakan terhadap kebiasaan sebagian orang Indonesia yang suka sok mau tahu urusan pribadi dan memaksakan kehendak atau kebenaran pribadi/kelompok kepada orang lain. Pas banget dengan kondisi negeri ini sampai detik ini.

Apakah saya juga suka ingin tahu dan mencampuri urusan orang? Atau memaksakan kehendak kebenaran pribadi? Ahh… MAY BE YES, MAY BE NO!

Vincent Hakim Roosadhy

[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: http://blog.liputan6.com]

Selasa, 8 Januari 2008 Ditulis oleh Vincent Hakim Roosadhy | Refleksi, Wacana | , | Tinggalkan sebuah Komentar