<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Korupsi Lagi, Lagi-lagi Korupsi</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/2008/03/03/korupsi-lagi-lagi-lagi-korupsi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com/2008/03/03/korupsi-lagi-lagi-lagi-korupsi/</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 02:24:25 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Pambudi Nugroho</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/03/03/korupsi-lagi-lagi-lagi-korupsi/#comment-72</link>
		<dc:creator><![CDATA[Pambudi Nugroho]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 11:34:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=72#comment-72</guid>
		<description><![CDATA[Bung Billy yang berbahagia,
Sebelumnya saya mengucapkan :
Taqaballahu minna wa minkum,Minal Aidin wal Faidzin..

Kalo saya boleh meminjam bahasa bir seorang bijak yakni Bung Arthur yang menjadi spiritual saya :&quot; Menghargai sebuah Proses &quot; barangkali betul , negri ini sudah tidak mampu lagi untuk menghargai sebuah proses ketika budaya &quot; instan &quot; berubah menakutkan bagaikan rakyat Jawa Timur yang tertimpa LUMPUR PANAS.
Sementara orang lebih senang menyaksikan cerita seram macam RYAN atau iklan-iklan yang setiap jam membunuh akal sehat anak bangsa, maka celakalah kita karena segala sesuatu dibawah matahari harus melulu kepada &quot; Target&quot;ketimbang menghargai sebuah proses.Walhasil semua serba &quot;instan &quot; seperti doktrin yang membentuk budaya bisu.

Korupsi menurut saya bung Billy , adalah kebudayaan kita atas ketidakberdayaan pendidikan dialog sebagai praksis pembebasan dimulai dari pemerintah sampai ke RT,yang
justru saya lihat sebenarnya berangkat dari komunitas yang terlupakan yaitu keluarga.Kalau kita menyaksikan entertaiment budaya barat,drama keluarga misalnya;tradisi dialog menjadi sebuah &quot;sarapan pagi dimeja makan &quot;.Padahal katanya budaya barat merusak moral bangsa ini seperti yang didengungkan oleh pemuka agama yang soleh. Sementara kita saksikan fragmentasi singkat seperti ini :

   ( Sang anak baru saja tiba dirumah ) 
PAPA &amp; MAMA  : Dorus !! duduk sini! papa mau bicara !
Dorus        : Loh..ngomong-ngomong aja Pah,..biasanya     
               kalo Papa Mama ngomong saya monggo-monggo  
               wae toh (nyengir)
PAPA &amp; MAMA  : DIAM KAMU! Pokoknya kamu tidak boleh 
               kuliah di IKJ , Mau jadi apa kamu ??    
               SENIMAN ?? Itu tidak bisa kaya ?? pokoknya km harus jadi Dokter!TITIK!! Nanti papa kasih km Mobil jaguar dan uang saku 1 Milyard.

Bukan main! padahal Tuhan saja melakukan kotbah melalui dialog &amp; diskusi. Anak2 terbentuk menjadi korban ilmu hafalan dan tidak diajarkan untuk menguraikan. Sehingga &quot;sang penerus&quot; menjadi buta &amp; mencakar cakar langit ketika terjadi ketidakadilan didalam keadilan.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana peran aktif jika memang benar ada wartawan,penyiar,agama bahkan pemerintah sekarang tidak menjadi propaganda kebohongan belaka yang mampu memediasikan sebuah berita menjadi dialog sebagai praksis pembelajaran untuk pembebasan(Paulo F)

Assalamu&#039;alaikum Wr. Wb.
Pambudi Nugroho
INRI &amp; Alumnus lokakarya bengkel Teater Rendra Cipayung Dpk]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Billy yang berbahagia,<br />
Sebelumnya saya mengucapkan :<br />
Taqaballahu minna wa minkum,Minal Aidin wal Faidzin..</p>
<p>Kalo saya boleh meminjam bahasa bir seorang bijak yakni Bung Arthur yang menjadi spiritual saya :&#8221; Menghargai sebuah Proses &#8221; barangkali betul , negri ini sudah tidak mampu lagi untuk menghargai sebuah proses ketika budaya &#8221; instan &#8221; berubah menakutkan bagaikan rakyat Jawa Timur yang tertimpa LUMPUR PANAS.<br />
Sementara orang lebih senang menyaksikan cerita seram macam RYAN atau iklan-iklan yang setiap jam membunuh akal sehat anak bangsa, maka celakalah kita karena segala sesuatu dibawah matahari harus melulu kepada &#8221; Target&#8221;ketimbang menghargai sebuah proses.Walhasil semua serba &#8220;instan &#8221; seperti doktrin yang membentuk budaya bisu.</p>
<p>Korupsi menurut saya bung Billy , adalah kebudayaan kita atas ketidakberdayaan pendidikan dialog sebagai praksis pembebasan dimulai dari pemerintah sampai ke RT,yang<br />
justru saya lihat sebenarnya berangkat dari komunitas yang terlupakan yaitu keluarga.Kalau kita menyaksikan entertaiment budaya barat,drama keluarga misalnya;tradisi dialog menjadi sebuah &#8220;sarapan pagi dimeja makan &#8220;.Padahal katanya budaya barat merusak moral bangsa ini seperti yang didengungkan oleh pemuka agama yang soleh. Sementara kita saksikan fragmentasi singkat seperti ini :</p>
<p>   ( Sang anak baru saja tiba dirumah )<br />
PAPA &amp; MAMA  : Dorus !! duduk sini! papa mau bicara !<br />
Dorus        : Loh..ngomong-ngomong aja Pah,..biasanya<br />
               kalo Papa Mama ngomong saya monggo-monggo<br />
               wae toh (nyengir)<br />
PAPA &amp; MAMA  : DIAM KAMU! Pokoknya kamu tidak boleh<br />
               kuliah di IKJ , Mau jadi apa kamu ??<br />
               SENIMAN ?? Itu tidak bisa kaya ?? pokoknya km harus jadi Dokter!TITIK!! Nanti papa kasih km Mobil jaguar dan uang saku 1 Milyard.</p>
<p>Bukan main! padahal Tuhan saja melakukan kotbah melalui dialog &amp; diskusi. Anak2 terbentuk menjadi korban ilmu hafalan dan tidak diajarkan untuk menguraikan. Sehingga &#8220;sang penerus&#8221; menjadi buta &amp; mencakar cakar langit ketika terjadi ketidakadilan didalam keadilan.</p>
<p>Persoalannya sekarang adalah bagaimana peran aktif jika memang benar ada wartawan,penyiar,agama bahkan pemerintah sekarang tidak menjadi propaganda kebohongan belaka yang mampu memediasikan sebuah berita menjadi dialog sebagai praksis pembelajaran untuk pembebasan(Paulo F)</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum Wr. Wb.<br />
Pambudi Nugroho<br />
INRI &amp; Alumnus lokakarya bengkel Teater Rendra Cipayung Dpk</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

