Dari Penyadaran ke Refleksi
Jalan untuk Memperkuat Rakyat
Sebuah goresan pengalaman.
Urban Rural Mission (URM) menjunjung tinggi rakyat sebagai
tokoh dari perubahan dan sejarah.
(Rev. Dr.A. George Ninan, Bishop Nasik, India)
Pada mulanya arti kata “rakyat” bagi saya tak berbeda dengan pemahaman umum, yakni kumpulan orang-orang (individu). Ia sama saja artinya dengan kata “masyarakat”. Tahun 1972, di Surabaya tatkala bersama sekelompok kaum muda saya diringkus serdadu karena berdemo soal beras mahal, maka arti kata “rakyat” mulai sedikit khas: orang-orang yang kelaparan, bukan pejabat, serdadu dan tentu saja bukan pengusaha.
Selama bekerja sebagai “penyiar” di radio ARH Jakarta, lagu-lagu rakyat – saat itu, era 70 – 80 an, berarti nyanyian protes menjadi kesukaan saya. Konser rakyat Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Remy Sylado Company dan The Gang of Harry Rusli menjadi kegemaran lantaran syair-syair mereka mengemukakan sindiran, ironi atau paradoks tentang Indonesia. Dalam salah satu lagunya, dengan mengharukan Leo Imam Sukarno Kristi menyenandungkan nasib rakyat.
Hari itu di empat lima
Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI
………
Hari ini di kaki lima
Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI
Pada periode ini, saya – sebenarnya agak malu mengakui ini – seperti seorang romantikus bulan purnama, bersimpati kepada nasib rakyat yang menderita… (He, he,he… sepertinya saya tak menderita ya ?).
Adalah Majalah Berita Mingguan FOKUS tempat saya bekerja sebagai redaktur, pada 1984 menurunkan laporan sampul 200 Orang Kaya Indonesia. Laporan ini sebenarnya hanya semacam paparan sederhana siapa saja yang menjadi kaya raya sejak Soeharto berkuasa tahun 1966. Ada di sana nama Liem Soei Liong, Bob Hasan, Prayogo Pangestu dan seterusnya. Eh, tahu-tahu majalah yang terbit sejak 1982 itu dibredel Harmoko, menteri penerangan saat itu. Alhasil, saya merasa menjadi bagian dari rakyat yang menderita.
Namun rakyat sebagaimana dipahami gerakan URM (Urban Rural Mission), barulah mulai sungguh-sungguh saya pelajari tatkala bergaul dengan teman-teman yang bekerja di tengah-tengah rakyat, antara lain Indera Nababan. Sejak 1985, Indera Nababan mulai mengorganisir kembali jaringan gerakan URM Indonesia di tengah-tengah kesibukannya sebagai Kepala Biro Informasi PGI dan Koordinator Pelayanan Buruh Jakarta (PBJ), bagian dari Pelayanan Masyarakat Kota – Huria Kristen Batak Protestan (PMK – HKBP) Jakarta. Saya bergabung bekerja di Majalah Berita OIKOUMENE (sampai 1992) kemudian di YAKOMA PGI (sejak 1992).
Bagi gerakan URM, rakyat adalah orang-orang tertindas, terpinggirkan, tereksploitasi, termiskin. Mereka itu bisa orang miskin kota, petani yang tidak memiliki tanah, nelayan tradisional yang diterjang pukat harimau, buruh pabrik, buruh migran, kaum perempuan yang dinomorduakan. Mereka tersingkir karena alasan-alasan sejarah oleh kelompok masyarakat yang dominan. Nah, rakyat inilah menurut Rev. George Ninan, salah satu tokoh gerakan URM di Asia, yang semestinya menjadi tokoh dari perubahan dan sejarah. Pertanyaannya, bagaimana memampukan rakyat menjadi tokoh?
Dalam pertemuan-pertemuan nasional URM Indonesia sejak 1985 hingga 2000 disepakati berbagai upaya penguatan rakyat, antara lain Pelatihan Community Workers, pelatihan rakyat, perkunjungan (Exposure Program), seminar rakyat dan dialog publik. Kendati begitu, fokus kegiatan lebih menajam kepada pendidikan rakyat. Sejak dini Indera Nababan berulang-ulang menekankan, perubahan di Indonesia tidak mungkin terjadi bila tanpa keikutsertaan rakyat. Karena itu rakyat harus ”dibangunkan”, ”terjaga”, dari situasi pingsan karena penindasan yang dialaminya.
Di dunia ini, menurut Paulo Freire, terdapat dua jenis manusia. Jenis pertama, yakni, bagian terbesar, menderita karena ketidakadilan, sedang jenis yang kedua, yakni sebagian kecil, menikmati jerih payah orang lain secara tidak adil. Itulah situasi penindasan, situasi yang tidak manusiawi (dehumanisasi). URM Indonesia begitu yakin situasi penindasan terhadap rakyat Indonesia bukanlah takdir yang mesti diterima secara pasrah, namun suatu realitas yang bisa diubah. Rakyat memiliki naluri, kesadaran, kepribadian dan ungkapan diri. Ia mampu memahami keberadaan dirinya dan dunianya, dengan bekal pikiran dan tindakan ia mampu mengubah realitas dunianya. Untuk itu diperlukan pendidikan rakyat, yang merupakan proses berkeseimbangan dari penyadaran, dilanjutkan dengan pendidikan, pengorganisasian, aksi, sampai kepada refleksi.
Penyadaran.
Dari pengalaman pendidikan rakyat yang diselenggarakan URM Indonesia, ada dua bentuk ”permainan penyadaran” yang bisa membantu menjelaskan makna penyadaran: permainan ”orang buta dituntun orang melek”, dan permainan mencipta ”patung orang yang dibenci dan orang-orang yang disayangi”.
Permainan pertama bermakna, proses penyadaran adalah memampukan orang dari situasi tidak melihat (buta) menjadi mampu melihat (celik). Bila kita buta, kita akan sangat tergantung kepada yang menuntun (tidak buta). Dia memperlakukan kita sesuka-sukanya. Orang yang sadar adalah orang yang berjuang mengubah situasi dari buta menjadi tidak buta.
Permainan kedua, mengajak rakyat memahami realitas, ada orang-orang yang kita ”sayangi”, boleh jadi karena keprihatinan kita terhadap nasibnya (yang buta sejarah, buta hukum, dan seterusnya), yang sebenarnya disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”. Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”. Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh kesewenang-wenangan segelintir orang, yang mendapatkan peluang dari sebuah sistem atau struktur yang menindas.
Melalui dua permainan yang sejujurnya diinspirasi oleh permainan anak-anak, rakyat menyadari bahwa manusia terbagi dalam dua kelas: kelas penindas dan tertindas. Ia menjadi sadar, kebutaannya bukanlah nasib buruk, namun buah dari kesewenang-wenangan kaum ”berpenglihatan” yang suka menindas. Alhasil, langkah pertama dalam upaya memperkuat rakyat adalah penyadaran akan situasi penindasan sebagai realitas. Apakah ia menerima saja realitas itu sebagai takdir, atau mau mengubahnya. Andai ia mau mengubahnya, maka perjalanan atau pengembaraan dapat dilanjutkan.
Pendidikan.
Pendidikan popular atau pendidikan rakyat jelas berbeda dengan pendidikan di sekolah (formal). Pendidikan sekolah membelenggu murid, menempatkan murid sebagai objek dalam sistem pendidikan yang menyebabkan manusia menjadi komoditi bagi keperluan pembangunanisme. Sebaliknya pendidikan popular menempatkan rakyat menjadi subyek yang membebaskan dirinya dari belenggu ketertindasan. Paulo Freire, tokoh pendidikan rakyat asal Brasil menyebutnya sebagai pendidikan hadap masalah: rakyat diajak menggali pengalamannya. Belajar dari pengalaman itu rakyat menyadari situasi penindasan yang menyengsarakan, menggerakkan mereka untuk berjuang mengubah realitas (kenyataan) sesuai harapan dan cita-cita rakyat.
Pendidikan rakyat mengenal tiga tahap pengembangan.
Pengembangan sikap (attitude): rakyat diajak menggali dan menghargai pengalamannya, rakyat memahami realitas, dan pemahaman ini pada dirinya membangkitkan kreasi untuk mengubah realitas sesuai dengan harapannya. Pengalaman adalah sejarah rakyat. Ia tidak bisa dinafikan atau dihujat kendati penuh kepahitan. Ia perlu dipahami, dihargai kemudian diubah menjadi kenyataan baru. Rakyat hanya akan mampu mengubah kenyataan itu bila sikapnya juga berubah: dari tertutup menjadi terbuka, dari buta menjadi celik. Bila ia mampu menghadirkan dirinya atau mengaktualisasikan dirinya secara baru. Ia pada ujungnya menjadi percaya diri. Topik Aktualisasi Diri dan Spiritualitas memampukan rakyat mengekspresikan dirinya.
Pengembangan keterampilan (skill): rakyat dimampukan untuk terampil pertama-tama menganalisis ketertindasan yang dialaminya (analisis sosial). Kenapa situasi seperti ini terjadi? Apa sebab? Siapa penyebab? Kenapa rakyat selalu kalah? Apa sebenarnya akar permasalahan yang mengharu biru rakyat? Keterampilan kedua adalah tindak lanjut atas jawaban terhadap segudang pertanyaan analisis tadi. Yakni kalau rakyat sudah paham akan situasi, apakah dia mau berjuang untuk mengubah situasi itu agar menjadi realitas yang berbeda? Untuk itu ia memerlukan alat perjuangan, yaitu organisasi rakyat, organisasi dari, oleh dan untuk rakyat.
Pengembangan pengetahuan (knowledge), rakyat dimampukan mengembangkan pengetahuan sehubungan dengan upaya-upaya memperkuat dirinya. Topik bervariasi, dari politik, ekonomi, gender, budaya, sosial, komunikasi, demokrasi, HAM, lingkungan hidup, dan seterusnya. Tentu saja ini harus sesuai dengan kebutuhan dan disepakati rakyat. Ia tidak ditentukan oleh segelintir orang yang mengaku pintar.
Organisasi.
Langkah penyadaran dan pendidikan menggulirkan rakyat pada kebutuhan menggalang kekuatannya dalam upaya mengubah realitas atau ”dunia”. Dan kekuatan rakyat adalah organisasi. Inilah langkah ketiga penguatan rakyat.
Organisasi rakyat bukanlah organisasi yang dibentuk dengan mengacu kepada bentuk-bentuk mapan. Sekali lagi perlu disimak, ia lahir berdasarkan kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang konkret. Organisasi rakyat berorientasi kepada masalah (isu) yang dihadapi rakyat. Karena itu ia harus (1) sederhana, (2) partisipatif dan (3) terawasi (terkontrol).
Organisasi rakyat akan berkembang menjadi kekuatan besar tatkala berbagai organisasi dengan isu yang sama bergabung (koalisi, aliansi) menjadi gerakan yang dahsyat. Jadi organisasi adalah kekuatan rakyat, yang memampukan kaum tertindas mengubah kenyataan (realitas) penindasan, menjadi dunia baru yang sesuai dengan harapan atau cita-cita rakyat.
Fungsi organisasi rakyat adalah untuk (1) memperjuangkan hak-hak rakyat, (2) melindungi kepentingan rakyat, dan (3) menggulirkan perubahan bagi terwujudnya cita-cita rakyat.
Aksi.
Hanya bila rakyat mampu menggalang kekuatan melalui organisasi rakyat yang berdaulat, ia bisa maju lagi dalam perjalanannya. Kali ini ia mengubah kehendak menjadi tindakan bagi mewujudkan harapan atau cita-citanya. Itulah langkah keempat, yakni aksi. Ini adalah muara dari perjalanan panjang sejak penyadaran tadi. Perjalanan itu harus ditempuh secara sistematis.
Dengan begitu rakyat tahu persis akan posisinya dan mampu memainkan perannya dengan baik dan benar. Banyak aksi rakyat gagal karena kegenitan aktivis yang tak mampu belajar bersama rakyat, lebih suka mendikte rakyat sesuai kepentingan sendiri. Tanpa melalui proses yang sistematis, aksi-aksi rakyat hanya akan menyenangkan para aktivis, menyebabkan frustasi di kalangan rakyat (karena lebih banyak kalahnya ketimbang menangnya). Aksi seperti itu hanya melahirkan aktivisme.
Aksi rakyat lahir dari perjalanan penyadaran, pendidikan dan penggalangan kekuatan. Aksi itu harus menghasilkan kemenangan-kemenangan bagi rakyat. Ia bermula dari kemenangan kecil yang kemudian berakibat besar, yakni mengubah potensi (modal) rakyat dan menghargainya. Aksi rakyat yang sistematis juga memungkinkan tampilnya pemimpin-pemimpin baru dari rakyat sendiri.
Pemimpin-pemimpin yang lahir karena kebutuhan perjuangan, bukan karena dititipkan dari ”atas”. Karena itu organsisasi rakyat harus benar-benar berangkat dari masalah-masalah (isu) rakyat dalam menyusun agenda aksinya, sehingga memungkinkan berlangsungnya formasi kepemimpinan sesuai kebutuhan dan kesepakatan bersama.
Refleksi.
Ada saat untuk bertindak (aksi), ada saat berdiam diri seraya bercermin. Itulah saat-saat refleksi. Refleksi terjadi hanya apabila ada aksi. Refleksi tanpa aksi melahirkan demagog atau pembual, cuma jago bicara, debat, diskusi, namun tak mampu melakukan apa-apa untuk perubahan. Sebaliknya aksi tanpa refleksi hanya menghadirkan para aktivis yang memang gegap gempita, namun sering jadi pecundang.
Tak dapat ditawar, usai melakukan perjalanan dari penyadaran, pendidikan, organisasi sampai kepada aksi, kita harus sejenak berhenti, melepas lelah, berdiam diri, merenung, bercermin dari semua proses perjalanan pengamatan tadi. Apa yang sudah dicapai? Adakah yang tercecer? Apa yang positif dan negatifnya? Pelajaran apa yang kita peroleh dari sana? Apa yang perlu kita kerjakan selanjutnya?
Langkah-langkah atau jalan penguatan rakyat secara sistematis, merupakan proses aksi – refleksi. Setia pada proses ini berarti memampukan rakyat mengembangkan dialog. Dan dialog yang dialektis, menurut Paulo Freire, senantiasa memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi perubahan.
Rakyat yang menjadi partisipan pelatihan-pelatihan URM Indonesia mempunyai kesan khas setelah mengikuti proses kegiatan.
Beberapa Kutipan dari Sejumlah Peserta Pelatihan URM.
- Latihan ini sangat bermanfaat karena dari tidak tahu berorganisasi menjadi tahu, kemudian lebih paham pagi masalah hukum perburuhan. Ada nilai tambah dalam pelatihan, disamping saya menjadi semakin berani juga mengerti bahwa hak-hak manusia sangat besar nilainya. (Latihan Organisasi Buruh, Jetun Silangit, Siborong-borong, 19 – 22 Maret 2000).
- Pendidikan ini perlu untuk para pemimpin organisasi. Rasanya mereka belum pernah mempelajari dan merasa sombong menjadi pemimpin. Latihan ini juga perlu bagi golongan atas. Setelah ikut latihan ada percaya diri dan ternyata tingkat pendidikan bukanlah menjadi penentu dan pedoman utama. Selama ini ada rapat di kampung, dan saya tidak bisa bicara seperti ini, namun sekarang saya bisa mengungkapkan keinginan saya dan semakin berani.(Lokakarya Pengembangan Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5 Februari 2000).
- Saya termasuk anak nelayan yang sudah ikut pelatihan kemana-mana. Saya menemukan bahwa sistem yang sangat terorganisir dan sistematis dilakukan dalam lokakarya ini, Sangat terkesan dan ada spirit untuk menambah wawasan yang tidak bisa diungkapkan saat ini. (Lokakarya Pengembangan Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5 Februari 2000).
- Apa yang saya dapat dari pelatihan ini akan dikembangkan di tempat lain. Saya juga mendapat arti jati diri sehingga arti kehidupan di dapat di sini, terutama dapat berkenalan dan bertekad untuk berjuang. (Pendidikan Organisasi Rakyat III, Tasikmalaya, 25 – 28 Mei 2000).
- Terkesan dengan metode pelatihan dan belum pernah mengikuti pelatihan seperti yang diberikan. Materi yang diberikan berbobot dengan penyajian yang sederhana dan mudah diikuti, santai namun memberi arti. (Latihan Organisasi Rakyat I di Garut, 6-8 Desember 1999).
- Pelatihan ini mempunyai nilai tersendiri atau istimewa. Melalui latihan ini bisa menjembatani konflik, menerobos jarak diantara kita dan akhirnya menjalin komunikasi, dan mendidik untuk bersama/bersatu. (Pelatihan Pengorganisasian Dasar Buruh, Pematang Siantar, 6-9 Juli 2000).
- Fenomena baru yang selama ini tidak ada, saya temukan di pelatihan ini, Permainan orang buta dan peragaan dalam materi sangat bekaitan dan memberikan penyadaran bagi kita. Saya menemukan rasa peduli dan daya kritis yang semakin berkembang. Semoga dalam proses belajar, mengerti, mendalami diikuti pula dengan pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Tekad kita dalam pelatihan ini agar dilaksanakan dan dibuktikan setalah kita kembali ke tempat masing-masing. (Pelatihan Pengorganisasian Dasar Buruh, Pematang Siantar, 6 – 9 Juli 2000)
- Terimakasih atas pelatihan ini dan satu kemampuan yang tidak disadari adalah mengaktualisasikan diri untuk mampu menjadi pelaku dari program/tujuan. (Pelatihan Pengorganisasian Petani di Bidang Pemasaran, Pematang Siantar, 1-4 Juli 2000).
- Selama ini saya melihat perempuan selalu tampil tidak percaya diri, mulai sekarang saya akan menanamkan perempuan sama haknya dengan laki-laki dan mulai melatih diri sejak dini. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender II di Tapanuli Utara, 12 – 15 Maret 2001)
- Tekad saya untuk menerapkan demokrasi, transparansi di desa semakin kuat dan saya memohon kekuatan dari Tuhan untuk menjalankannya. Permintaan saya, di samping kepala desa perlu juga pelatihan untuk rakyat kecil seperti pedagang dan petani karena merekalah teman saya di kampung untuk diajak kerjasama. (Lokakarya Pimpinan Desa II di Tapanuli Utara, Tarutung, 4-8 Februari 2001).
- Ada perintah dari kepala sekolah untuk mengikutinya. Kami awalnya mengelak, untuk ada gender. Setelah mengikutinya kami jadi menyesal dan merasa puas. Selama ini perempuan selalu merendahkan diri karena dikatakan perempuan hanya sebagai pendamping. Kami menjadi percaya diri setelah mengikuti lokakarya. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan gender IV di Tapanuli Utara, Tarutung, 14-17 Mei 2001).
- Bangga kepada fasilitator yang mau mengangkat derajat perempuan. Selama ini perempuan direndahkan dan hanya sebagai bahan pelengkap dalam adat. Setelah mengikuti lokakarya ini jadi mengerti apa itu kesetaraan gender. Jadi jangan hanya di sini saja melaksanakan lokakarya ini. Akan lebih baik diadakan di desa yang masih merendahkan perempuan. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender IV di Tapanuli Utara, Tarutung, 14-7 Mei 2001).
Medan, 25 April 2008
Arthur John Horoni
[Tulisan ini juga dapat dilihat pada Blog Bung Daktur ARH]
Bukan Sekadar Gosip Jalanan
Belum sirna dari ingatan kita, rasanya, peristiwa penangkapan Jaksa Tri Gunawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebulan lalu, dengan tuduhan menerima suap. Lalu kita pun dikejutkan lagi (sebenarnya tidak perlu lagi terkejut) dengan penangkapan anggota Komisi IV DPR-RI Al Amin Nur Nasution dan Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan Azirwan, juga karena kasus suap-menyuap.
Berderetnya peristiwa penangkapan para tersangka korupsi (termasuk suap-menyuap) dalam bulan-bulan terakhir ini, di satu sisi membuktikan bahwa KPK memang benar-benar serius melaksanakan tugasnya. Di sisi lain, juga semakin membenarkan asumsi bahwa sudah tidak ada lagi institusi yang benar-benar “bersih” di negeri ini, termasuk institusi yang seharusnya memberikan teladan kejujuran kepada rakyat. Juga bukti bahwa sindiran grup musik Slank melalui lagunya: Gosip Anak Jalanan, memang ada benarnya.
Terungkapnya kasus-kasus korupsi, yang selalu diberitakan secara luas oleh semua media, tak kunjung membuat jera. Bahkan tak pula mampu membangkitkan rasa malu. Hal ini terlihat dari liputan-liputan televisi yang menampilkan wajah para tersangka koruptor. Wajah-wajah itu, tampak tidak menunjukkan penyesalan ataupun ekspresi malu. Mungkinkah karena mereka tahu bahwa akhirnya mereka akan mendapat hukuman ringan atau malahan dibebaskan, karena pengadilan bisa diatur? Atau karena mereka tahu bahwa mereka hanyalah sebutir es di atas puncak gunung salju?
Komentar seperti ini memang bisa dinilai sebagai komentar orang pesimis dan apatis, yang sudah tidak percaya lagi pada sistem yang bergulir di republik ini. Namun siapa lagi yang dapat dipercaya bila para pemimpinnya lebih disibukkan dengan upaya menumpuk kekayaan secara tidak halal, menebar pesona dan mengumbar janji, ketimbang memperbaiki nasib sebagian besar rakyatnya, yang kian terhimpit berbagai kesulitan?
Tetapi apa yang dilakukan KPK, sedikit banyak memberikan harapan. Dengan dibongkarnya kasus-kasus korupsi pada lembaga-lembaga tinggi (dan tertinggi) negara, siapa tahu lambat-laun akan muncul rasa was-was pada para pejabat di lembaga-lembaga yang lebih rendah, sehingga akan berpikir ratusan kali sebelum berbuat korupsi. Asalkan bukan sebaliknya yang terjadi, yakni semakin canggih dalam menyembunyikan perbuatan korupnya.
Khusus untuk para anggota Dewan Perwakilan Rakyat, peristiwa penangkapan Al Amin Nur Nasution, seyogianya dijadikan momentum untuk semakin mawas diri dan membersihkan diri, bukan justru marah terhadap grup musik Slank yang telah meluncurkan lagu: Gosip Anak Jalanan. Buktikan bahwa sindiran Slank, tidak benar.
Billy Soemawisastra
[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: www.liputan6.com]
Yesus dan Petani Andalas Utara
Adakah masih kami disebut petani
bila cuma punya tubuh
golok dan
pacul?
……………………………………….
Tak elok, kawan
tak elok
orang bilang kau penggarap
penunggu
kuli tani
…………………………………….
Kau siapa?
…………………………………….
Kita sama sobat
petani tak bertanah
karena tanah petani
dari abad ke abad dijarah
para raja, tuan tanah, penjajah
bertukar jadi tanah negara
perkebunan swasta
perkebunan negara
dan kita melarat
………………………………………
Ya, ya, aku mulai celik
bapakku jadi buruh perkebunan
miskin seumur-umur
pensiun tak bertanah
tak berumah
padahal para birokrat kebun
punya berhektar tanah
dan pesangon milyaran
saat usai masa bakti
para anak juragan
sekolah di negeri manca
sialan!
…………………………………..
Tapi, siapa kau kawan?
………………………………….
Serigala punya liang
burung punya sarang
tapi Anak Manusia tak punya
tempat untuk meletakkan kepalaNya …
……………………………………
Ha ha ha, Kau rupanya
Sang pengembara dari segala abad
di segala tempat
tentu sebagai sesama orang menderita
aku cepat kenal Kau
Sang Yesus, sobat jelata dari Nazareth
Tapi kenapa Kau ke sini
ini lahan sengketa Bos
Kau bisa dapat bencana
belum kapok disalib kaum petinggi
agama Yahudi di Golgota dulu?
Menyingkirkah Kawan
tak tega bila Kau disakiti lagi
kini giliran kami
petani tak bertanah
merebut kembali milik kami
tempatMu
di Gereja yang mentereng di kota-kota
jangan kotorkan diriMu
di kubangan para miskin ini
……………………………………….
Nah, nah, kau salah Marihot
……………………………………….
Astaga, Kau tahu namaku
……………………………………….
Ya, ya, karena kau tak pasrah pada nasib
kau masih berjuang bersama sesama
petani tak bertanah
di Simalungun, Pematangsiantar,
Serdang Bedagai, Deli Serdang
Batu Bara
Asahan, Labuhan Batu
di Lampung
Tanah Pasundan
Jawa Timur
dan seterusnya
merebut tanah untuk petani
menegakkan harkat dan martabat rakyat
tertindas,
Maka kau saudaraku
Namamu di hatiku
…………………………………………..
Tapi kenapa Kau bilang aku salah?
bukankah tempatMu memang di gereja?
Apalagi ini hari Minggu
……………………………………………
Sobatku,
BagiKu, setiap hari hari Minggu
artinya, setiap hari itu ibadah
dan ibadah yang sesunguhnya
adalah mengunjungi para jelata
melawat yang sakit
memberi makan yang lapar
membebaskan yang terbelenggu
memaklumkan Kabar Baik bagi
petani tak bertanah
untuk berjuang mendapatkan tanah
mewujudkan perubahan
Ibadah yang sesungguhnya
bukan pamer baju baru
sepatu model mutakhir
anting dan kalung mas
lantas melamun terkantuk-kantuk
lantaran khotbah pendeta tak menyentuh
persoalan umat
hapal peta Yerusalem, Betlehem
dan Yerikho
namun tak paham
bahwa di desa Durin Tonggal,
Pancur Batu, Deli Serdang
petani yang berkeringat menanami tanah
dianiaya preman dan oknum polisi
Kaum miskin itu dituduh menjarah tanah perkebunan
Padahal perkebunan merugi terus
walau birokratnya kaya raya
korupsi sudah jadi budaya
dan gereja dibangun dari hasil curian pejabat
Tidak, kawan
Aku pengembara
Kau belum baca Yesus Putera Manusia
yang ditulis sobatku Kahlil Gibran
penyair pemberang yang juga menghajar
tingkah laku pemuka agama di Lebanon
yang sok saleh namun korup?
Dia tulis, yang di gereja itu
Yesusnya orang Kristen
yang jadi Kristus Sang Raja
kau bisa mengerti kalau belajar teologi
namun Aku,
Yesus orang Nazaret
Sobat para jelata
kau tak perlu repot belajar teologi
untuk memahami Aku
cukup baca Alkitab dengan matamu sendiri
jangan pakai rumus para teolog
atau petinggi gereja
yang kebanyakannya sudah jadi
nabi istana
maka kau akan paham
Injil
Kabar Gembira
artinya berubah
buta – melihat
lumpuh – berjalan
tawanan – merdeka
mampukah gereja melakukan itu?
…………………………………………….
Sobatku Orang Nazaret
tolong jangan bikin aku bingung
jadi apa sesungguhnya gereja itu?
Salahkah bila kubilang
gereja itu bukan gedung dari batu
besi dan kayu
ditambah struktur yang kaku
namun persekutuan orang yang
sehati sepikir untuk mengubah
nasibnya menjadi manusia yang bermartabat?
Dan jalan perubahan yang dipilih
Adalah jalan kasih
aktif tanpa kekerasan?
……………………………………………
Kau benar Marihot
Kitab suci tidak lagi rumus
kesalehan bagimu
ia telah mewujud menjadi
perbuatan
tidak seperti gaya
banyak pemimpin gereja
yang pintar bikin manifes
narasi natal
narasi paskah
namun tak pernah jadi tindakan
yang membebaskan rakyat dari kemiskinan
kekerasan
dan ketidakadilan
………………………………………
Bos
Jangan marah ya
aku pernah menggunakan namaMu
semoga aku tak menyebut dengan sia- sia
waktu itu, dalam perjuangan
merebut tanah bersama rakyat
polisi menghardik kami
hei siapa yang menyuruh kalian
menduduki lahan perkebunan ini?
menyingkir atau kutembak
Kujawab
hati nurani kami yang menyuruh kami
kami petani tak bertanah berjuang
melaksanakan reforma agraria
tanah untuk rakyat
tatkala Gus Dur masih presiden
dia bilang 40% tanah perkebunan mesti
dibagi untuk rakyat
belum lama Presiden SBY bilang
lebih 8 juta hektar lahan harus
dibagi kepada rakyat tak bertanah
karena ujar-ujar yang bagus ini
belum dilaksanakan
kami membantu para pemimpin itu
mulai menduduki tanah perkebunan
yang HGU-nya telah tamat
Pintar kau ya
kata komandan polisi
kalau tanah ini milik kalian
mana alas haknya
sertifikatnya
kujawab begini:
Yesus saja tak pernah memberi sertifikat
kau baru jadi polisi sudah belagak
Mati langkah polisi itu Bos
tapi ampunlah kalau caraku itu
telah memanfaatkan namaMu
secara sia-sia
…………………………………………….
Ha ha ha dasar Batak
Mantap juga tipu kau itu
lanjutkan perjuangan kalian
petani tak bertanah
sampai semua memperoleh
tanah
dan mengelola tanah itu
sebagai sumber pendapatan
jangan dijual
agar kalian dapat hidup dari tanah itu
……………………………………………..
Sobatku Yesus
terima kasih
pesanmu selalu kuingat:
Aku datang, supaya mereka
mempunyai hidup,
dan mempunyainya dalam
segala kelimpahan
Medan, 9 April 2008
Arthur John Horoni
[Foto: www.daylife.com]
Pemimpin Tanpa Spiritualitas
Billy, tiba-tiba aku kangen betul pada Bung Daktur, Mas Zen (Zainal Abidin Suryokusumo) sobat kita yang sudah lebih enam bulan kembali kehadirat Penciptanya. Dia adalah guru spiritualitas bagi banyak orang. Spiritualitas, yang kata dasarnya: Spirit, kita alihkan ke bahasa kita: semangat. Padahal mungkin lebih kena jika diterjemahkan sebagai “roh” atau “ruah”: keyakinan yang teguh. Pada Bung Daktur, tatkala Bengkel Belia ARH dideklarasikan bulan Desember 1975 di Pantai Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, keyakinan yang teguh itu terpateri dalam idiom, “untuk Tuhan dan Tanah Air, kami berbakti”. Idiom itu diakuinya tidak orisinal miliknya. Ia mengutip Lord Baden Powell, Bapak Kepanduan Dunia. Maklum, zaman remaja (ABG, kata anak muda kiwari), Bung Daktur ikut kepanduan. Makanya dia memiliki itu tadi, spiritualitas. Entah kenapa setelah pandu menjadi pramuka, gerakan itu malah memble. Maaf.
Billy, sobatku yang panjang sabar.
Aku rasa kita perlu memperbincangkan ikhwal spiritualitas ini. Bagiku, spiritualitas tidak identik dengan ajaran agama. Ia mengatasi tembok doktrin. Ia dapat saja ditemui dalam keutuhan iman, kearifan budaya lokal, sejarah, perjuangan rakyat tertindas untuk bertahan hidup, humor, puisi, tarian, nyanyian para sufi atau celoteh sederhana petani organik yang anti pupuk kimia dan bibit hibrida. Orang yang memilih sikap emoh terhadap roh-roh zaman macam: mamonisme (kemaruk duit), materialisme, konsumerisme, narsisisme, korupsi, gila kuasa dan sebangsanmya, tentu orang yang memiliki spiritualitas.
Nah, di sinilah soalnya. Nilai ini yang tampaknya sulit kita temukan, ia telah menjadi sesuatu yang luks di tengah-tengah trend pragmatisme atawa mumpungisme. Pada akhir dasawarsa 70-an sampai awal 80-an abad silam, tatkala kita bersama-sama Bengkel Belia ARH kamping di Gunung Salak atau di perkebunan tebu di Subang, kau ingat, kita berlatih bagaimana menjadi demokrat dalam pemilihan kepala suku. Inspiratornya tentu saja Bung Daktur. Bayangkan, di tengah-tengah situasi otoriter Suharto waktu itu, kita sudah mempraktekkan attitude (sikap) anti kemapanan. Berani melawan arus, kata orang. Perdebatan dihalalkan, perbedaan pendapat diterima sebagai rahmat, ekspresi diri yang bebas dimuliakan. Ingat semangat perlawanan dalam Lomba Baca Puisi-puisi Tempe yang sarat sajak protes pada 1979 atau Aksi Musik ARH 80. Bengkel Belia ARH sudah berani pada saat Suharto dan Orbanya masih berjaya.
Tak pelak, karena kita dilandasi spiritualitas, kalau aku boleh berefleksi. Toh tak perlu kita sesali ketika ada yang tak tahan. Tatkala para senior kita memilih jalan partai politik, spiritualitas untuk memihak kepada kaum yang terpinggirkan, rakyat jelata, yang dalam puisi Taufiq Ismail digambarkan sebagai, “yang di pinggir jalan mengacungkan tangan kepada bus yang penuh,” tersingkir. Jalan pragmatisme menjadi pilihan. Apa boleh buat, kalau tidak sekarang, kapan lagi ikut-ikutan berkuasa. Celakanya, setelah reformasi bergulir sejak 1998, semangat mumpung orang partai malah semakin menjadi-jadi.
Kekuasaan menjadi dambaan, dan rakyat boleh makan janji kampanye saja. Rakyat Jakarta sudah digilas janji kampanye gubernurnya karena ternyata, kendati ahlinya sudah berjaya, banjir (ada hujan maupun tidak hujan), kemacetan jalanan, kesemrawutan tata kota, penggusuran rakyat jelata tetap saja jadi cerita sehari-hari.
Rakyat Sumatera Utara dan Jawa Barat hari-hari ini juga lagi melahap janji kampanye. Sialnya, calon perseorangan belum dapat kesempatan, padahal calon yang dijagokan partai yang oligarkis dan sentralistik ini tak sesuai harapan rakyat. Padahal mereka bakal memimpin provinsi-provinsi itu lima tahun ke depan. Dan, para politisi yang diusung partai-partai ini semua tak memiliki roh. Tak punya spiritualitas. Beragama pasti. Sangat taat. Tapi apa itu sudah jaminan memiliki spiritualitas?
Billy,
Maukah kau sejenak membayangkan negara yang para pemimpinnya tak memiliki keyakinan yang teguh, roh, untuk menyejahterakan rakyatnya? Tanpa spiritualitas kita berada dalam suasana anomali, tanpa pegangan, tak jelas mana yang boleh dan mana yang tak boleh. Tak jelas etikanya, karena material jadi tujuan, dambaan, sementara mental-spiritualnya jadi pemanis bibir saja.
Tentu saja tak mudah merawat dan menumbuhkan spiritalitas, keyakinan yang teguh, sikap batin yang mengarah kepada penegakan hak dan martabat manusia. Seorang teman dulu pernah becanda, begini, “sobat, kita bisa berbeda agama tapi satu iman.” Aku kaget mulanya. Maksudmu? “Ya, iman kita kan keadilan, walau agama bisa berbeda.” Tapi bukankah semua agama mengumandangkan keadilan, perdamaian, persaudaraan dan penghormatan kepada alam ciptaan Tuhan. Ya, rohnya, spiritualitasnya begitu, tapi praktek banyak orang beragama tidak begitu.
Apalagi kalau sudah jadi politisi yang bercita-cita jadi penguasa. Rakyat cuma jadi kendaraan yang dibayar murah. Partai telah mengijonkan rakyat demi mendapatkan uang untuk biaya kampanye. Gosipnya, para calon pemimpin harus membayar pemimpin partai sekian M. Wow. Saat kampanye, setiap kepala manusia yang dikerahkan, mendapat nasi bungkus seharga 15 ribu rupiah ditambah uang transpor. Hitung-hitung Rp 100.000 sehari itu. Lumayan, ketimbang nganggur, kata rakyat. Padahal harga seekor kambing boleh jadi di atas Rp 500.000. Celaka, para politisi, para pemimpin tanpa spiritualitas, menghargai seorang rakyat lebih rendah dari seekor kambing! Kutuk apa gerangan ini, Billy?
Mungkin kita perlu bermimpi, suatu hari, entah kapan, siapa tahu saat negeri yang terlalu luas ini secara pragmatis memilih jalan republik federasi, akan muncul pemimpin yang mau belajar jujur pada dirinya sendiri, mau menghargai dirinya apa adanya, yang mandiri dan merdeka dari relasi kekuasaan penindasan, yang berani memilih berpihak kepada kepentingan rakyat, yang memiliki bela rasa, kepekaan dan keperdulian kepada rakyatnya yang sengsara (bukan yang berurai airmata lantaran nonton film, namun tak menangis saat ada ibu hamil mati karena kelaparan), yang menghargai waktu – tidak menunda-nunda keputusan penting, yang setia mendengar suara rakyat, yang selalu belajar dari sejarah (keledai saja tak pernah terperosok ke dalam lobang yang sama), yang sedia menjadi pelayan rakyat.
Karena menjunjung nilai-nilai itu, sang pemimpin pun dihargai, karena ia memiliki watak yang bijak. Ia memiliki keyakinan yang teguh untuk membangun bangsa dan negara bersama rakyatnya. Ia memiliki spiritualitas. Tak salah mulai dari mimpi ya? Mumpung belum dilarang.
Medan, 8 April 2008
Arthur John Horoni
[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: http://bungdaktur-arh.blogspot.com]
Kesederhanaan
Sederhana tidak sesederhana makna kata-katanya.
Keserderhanaan. Sebuah kata yang amat sulit dipahami arti sebenarnya. Mungkin karena biasa dipakai orang untuk “menipu” makna sesungguhnya hingga sering bias. Banyak orang bersembunyi di balik arti kata sederhana. Arti kesederhanaan merangkul pikiran, memeluk erat kata-kata dan perilaku. Dan yang pasti, menyatu dalam kemesraan kedalaman penghayatan hidup spiritual penuh ketulusan. Dalam bahasa Jawa ada kata bermakna filosofis SUMELEH. Artinya: lepas, tulus ikhlas, tanpa beban, tidak ada pretensi negatif apa pun di belakangnya. Ada makna “kepasrahan diri” di sana.
Alkisah ada seorang duda tua miskin yang hidup bersama dua anak. Setelah istrinya meninggal, ia seorang diri mengasuh dua anaknya. Seorang anak laki-lakinya gagah dan tampan. Adiknya seorang perempuan cantik dan cerdas. Kemiskinan Pak Tua dan kondisi kedua anaknya sering jadi perbincangan warga desa. Pak Tua tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai omongan orang. Dia tetap hidup sederhana dan rajin bekerja sebagai buruh tani di sawah.
Suatu ketika anak lelakinya tertimpa musibah jatuh dari kuda yang dipercayakan orang untuk digembalakan. Salah satu kakinya patah dan akhirnya si pemuda tampan pun menjadi cacat permanen. Para tetangga datang dan ikut menyatakan keprihatinannya.
“Pak, saya ikut prihatin atas musibah dan kemalangan ini,” kata seorang tetangganya.
“Terima kasih. Saya tidak tahu, apakah ini musibah atau keberuntungan,” jawab Pak Tua dengan lugu.
Tak lama berselang. Pemerintah merekrut seluruh pemuda desa untuk wajib militer menghadapi konflik di perbatasan. Para pemuda dan orang tua pun resah. Beberapa warga desa menjadi teringat pada anak Pak Tua yang cacat.
“Pak Tua. Kamu beruntung ya. Anak laki-lakimu tidak dikirim berperang di perbatasan. Anak-anak kami semua berangkat …”, kata seorang wanita tetangganya.
“Bu. Saya tidak tahu, apakah saya sedang beruntung atau tidak beruntung.” Jawab Pak Tua, tetap dengan kesederhanaan berpikirnya.
Suatu waktu datanglah seorang pemandu bakat di desa ini. Ketika melihat, bertemu, dan ngobrol panjang lebar dengan keluarga Pak Tua, sang pemandu bakat pun amat terkesan. Sang pemandu bakat, bukan hanya terkesan pada Pak Tua yang bijak, namun juga terpesona atas ketampanan, kecantikan, dan kecerdasan anak-anak dari seorang buruh tani miskin ini.
“Pak. Bolehkah saya mengajak kedua anak bapak ke kota untuk menjadi pemeran film yang sedang saya buat?” pinta sang pemandu bakat dengan amat sopan dan tulus penuh harap.
Pak Tua pun mempertimbangkan dan akhirnya luluh hati mengizinkan kedua anaknya dibawa sang pemandu bakat. Orang-orang di desa ini pun heboh mempergunjingkannya.
“Pak. Kamu akan kehilangan anak-anakmu. Kamu rugi karena tidak ada lagi orang yang bisa mengurusi dan membantumu di rumah,” kata seorang pejabat desa.
“Ya. Terima kasih atas perhatian bapak. Tapi sesungguhnya saya tidak tahu, apakah saya sedang rugi atau akan beruntung,” jawab Pak Tua dengan tenang.
Satu setengah tahun kemudian tersiar kabar, ada dua orang muda dari desa ini menjadi bintang film yang amat berbakat dan mulai diidolakan para kawula muda kota. Warga desa pun kembali heboh. Silih berganti mereka mendatangi rumah Pak Tua, memberikan ucapan selamat dan menjadi amat ramah penuh perhatian
“Wah. Selamat ya pak. Anak-anakmu hebat. Dan pasti, kamu akan ikut menjadi kaya dan terkenal,” kata beberapa warga desa.
Pak Tua menerima segala ucapan para tetangganya dengan sikap tetap lugu sederhana. Tidak ada yang berubah pada ekspresi Pak Tua.
“Terima kasih. Tapi sesungguhnya saya tidak tahu. Apakah saya sedang beruntung atau sedang rugi. Saya juga tidak tahu, apakah saya akan menjadi kaya dan terkenal atau tidak. Saya pun tidak tahu, apakah kami hebat?”
Ahh … siapa yang tahu, apa yang akan terjadi nanti. Data-data, angka-angka statistik, hitungan-hitungan ramalan, hidup, nasib, dan keberuntungan-kerugian. Semua itu kosong kehampaan – kata orang bijak. Kenyataan, banyak orang lebih memuja kehampaan. Atau cepat menilai orang berdasarkan tampilan fisik aksesoris semata. Dan banyak pula, orang yang begitu bangga dengan atribut, aksesoris, dan membalur diri dengan puja puji agar dipuji khalayak. Program-program televisi … cermin mini kehidupan kita yang penuh dengan atribut-atribut, kegaduhan, dan impian.
Ya … Tapi biarlah semuanya berjalan dengan apa adanya.
Siapa yang tahu esok akan terjadi apa?
Vincent Hakim Roosadhy







