Yesus dan Petani Andalas Utara Posted on Rabu, 9 April 2008 by Arthur John Horoni Adakah masih kami disebut petani bila cuma punya tubuh golok dan pacul? ………………………………………. Tak elok, kawan tak elok orang bilang kau penggarap penunggu kuli tani ……………………………………. Kau siapa? ……………………………………. Kita sama sobat petani tak bertanah karena tanah petani dari abad ke abad dijarah para raja, tuan tanah, penjajah bertukar jadi tanah negara perkebunan swasta perkebunan negara dan kita melarat ……………………………………… Ya, ya, aku mulai celik bapakku jadi buruh perkebunan miskin seumur-umur pensiun tak bertanah tak berumah padahal para birokrat kebun punya berhektar tanah dan pesangon milyaran saat usai masa bakti para anak juragan sekolah di negeri manca sialan! ………………………………….. Tapi, siapa kau kawan? …………………………………. Serigala punya liang burung punya sarang tapi Anak Manusia tak punya tempat untuk meletakkan kepalaNya … …………………………………… Ha ha ha, Kau rupanya Sang pengembara dari segala abad di segala tempat tentu sebagai sesama orang menderita aku cepat kenal Kau Sang Yesus, sobat jelata dari Nazareth Tapi kenapa Kau ke sini ini lahan sengketa Bos Kau bisa dapat bencana belum kapok disalib kaum petinggi agama Yahudi di Golgota dulu? Menyingkirkah Kawan tak tega bila Kau disakiti lagi kini giliran kami petani tak bertanah merebut kembali milik kami tempatMu di Gereja yang mentereng di kota-kota jangan kotorkan diriMu di kubangan para miskin ini ………………………………………. Nah, nah, kau salah Marihot ………………………………………. Astaga, Kau tahu namaku ………………………………………. Ya, ya, karena kau tak pasrah pada nasib kau masih berjuang bersama sesama petani tak bertanah di Simalungun, Pematangsiantar, Serdang Bedagai, Deli Serdang Batu Bara Asahan, Labuhan Batu di Lampung Tanah Pasundan Jawa Timur dan seterusnya merebut tanah untuk petani menegakkan harkat dan martabat rakyat tertindas, Maka kau saudaraku Namamu di hatiku ………………………………………….. Tapi kenapa Kau bilang aku salah? bukankah tempatMu memang di gereja? Apalagi ini hari Minggu …………………………………………… Sobatku, BagiKu, setiap hari hari Minggu artinya, setiap hari itu ibadah dan ibadah yang sesunguhnya adalah mengunjungi para jelata melawat yang sakit memberi makan yang lapar membebaskan yang terbelenggu memaklumkan Kabar Baik bagi petani tak bertanah untuk berjuang mendapatkan tanah mewujudkan perubahan Ibadah yang sesungguhnya bukan pamer baju baru sepatu model mutakhir anting dan kalung mas lantas melamun terkantuk-kantuk lantaran khotbah pendeta tak menyentuh persoalan umat hapal peta Yerusalem, Betlehem dan Yerikho namun tak paham bahwa di desa Durin Tonggal, Pancur Batu, Deli Serdang petani yang berkeringat menanami tanah dianiaya preman dan oknum polisi Kaum miskin itu dituduh menjarah tanah perkebunan Padahal perkebunan merugi terus walau birokratnya kaya raya korupsi sudah jadi budaya dan gereja dibangun dari hasil curian pejabat Tidak, kawan Aku pengembara Kau belum baca Yesus Putera Manusia yang ditulis sobatku Kahlil Gibran penyair pemberang yang juga menghajar tingkah laku pemuka agama di Lebanon yang sok saleh namun korup? Dia tulis, yang di gereja itu Yesusnya orang Kristen yang jadi Kristus Sang Raja kau bisa mengerti kalau belajar teologi namun Aku, Yesus orang Nazaret Sobat para jelata kau tak perlu repot belajar teologi untuk memahami Aku cukup baca Alkitab dengan matamu sendiri jangan pakai rumus para teolog atau petinggi gereja yang kebanyakannya sudah jadi nabi istana maka kau akan paham Injil Kabar Gembira artinya berubah buta – melihat lumpuh – berjalan tawanan – merdeka mampukah gereja melakukan itu? ……………………………………………. Sobatku Orang Nazaret tolong jangan bikin aku bingung jadi apa sesungguhnya gereja itu? Salahkah bila kubilang gereja itu bukan gedung dari batu besi dan kayu ditambah struktur yang kaku namun persekutuan orang yang sehati sepikir untuk mengubah nasibnya menjadi manusia yang bermartabat? Dan jalan perubahan yang dipilih Adalah jalan kasih aktif tanpa kekerasan? …………………………………………… Kau benar Marihot Kitab suci tidak lagi rumus kesalehan bagimu ia telah mewujud menjadi perbuatan tidak seperti gaya banyak pemimpin gereja yang pintar bikin manifes narasi natal narasi paskah namun tak pernah jadi tindakan yang membebaskan rakyat dari kemiskinan kekerasan dan ketidakadilan ……………………………………… Bos Jangan marah ya aku pernah menggunakan namaMu semoga aku tak menyebut dengan sia- sia waktu itu, dalam perjuangan merebut tanah bersama rakyat polisi menghardik kami hei siapa yang menyuruh kalian menduduki lahan perkebunan ini? menyingkir atau kutembak Kujawab hati nurani kami yang menyuruh kami kami petani tak bertanah berjuang melaksanakan reforma agraria tanah untuk rakyat tatkala Gus Dur masih presiden dia bilang 40% tanah perkebunan mesti dibagi untuk rakyat belum lama Presiden SBY bilang lebih 8 juta hektar lahan harus dibagi kepada rakyat tak bertanah karena ujar-ujar yang bagus ini belum dilaksanakan kami membantu para pemimpin itu mulai menduduki tanah perkebunan yang HGU-nya telah tamat Pintar kau ya kata komandan polisi kalau tanah ini milik kalian mana alas haknya sertifikatnya kujawab begini: Yesus saja tak pernah memberi sertifikat kau baru jadi polisi sudah belagak Mati langkah polisi itu Bos tapi ampunlah kalau caraku itu telah memanfaatkan namaMu secara sia-sia ……………………………………………. Ha ha ha dasar Batak Mantap juga tipu kau itu lanjutkan perjuangan kalian petani tak bertanah sampai semua memperoleh tanah dan mengelola tanah itu sebagai sumber pendapatan jangan dijual agar kalian dapat hidup dari tanah itu …………………………………………….. Sobatku Yesus terima kasih pesanmu selalu kuingat: Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan Medan, 9 April 2008 Arthur John Horoni [Foto: www.daylife.com] Like this:SukaBe the first to like this post.
Bukan petani jika tidak punya tanah… Padahal di tanahlah kita berpijak…Jadi ‘mo jadi petani, dudukilah tanah!!!’
Bukan petani jika tidak punya tanah… Padahal di tanahlah kita berpijak…Jadi ‘mo jadi petani, dudukilah tanah!!!’