Jagat Alit

Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan

Terima Kasihku pada Sang Buddha

Lama saya berpikir, apa yang dapat saya tulis untuk Sang Buddha di Hari Waisak 2552/2008 ini? Sudah terlalu banyak cendekiawan dari berbagai agama menulis tentang Siddharta Gautama. Begitu pula para ilmuwan, budayawan dan filsuf dari zaman ke zaman, yang umumnya memuji kebesaran Sang Buddha — kesederhanaannya, kesuciannya, dan ajaran-ajarannya yang ringkas namun padat membumi.

Kalaupun saya ikut menulis tentang Sang Buddha, tulisan saya tak ubahnya sebutir debu yang mudah hilang diterbangkan angin. Meskipun debu itu sempat singgah di altar Mendut dan Borobudur. Tetapi saya merasa harus menulis, walaupun serba sedikit dan serba dangkal tentang Sang Pangeran yang lahir di Taman Lumbini, 623 SM itu, karena begitu besar rasa terima kasih saya padanya.

Siddharta Gautama, yang memperoleh pencerahan di Bodhgaya, 588 SM, dalam usianya ke-35 tahun, telah banyak memberikan inspirasi tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi banyak orang, sejak dulu hingga sekarang. Siddharta telah meninggalkan segala kemewahannya untuk mencari hakikat hidup, begitu ditengarainya bahwa hidup hanyalah “pertempuran” yang tiada henti antara kebahagiaan dan ketersiksaan, antara musibah dan anugrah, antara bencana dan keberuntungan. Semua itu adalah dukkha (penderitaan) yang melilit hidup manusia.

Lalu di bawah pohon bodhi, di suatu tempat yang kemudian disebut Bodhgaya, Siddharta yang juga bergelar Sang Bodhisatwa itu menemukan arti bahwa kebahagiaan dan ketersiksaan, bukanlah dua hal yang bertentangan dan saling bermusuhan. Melainkan satu rangkaian yang saling melengkapi, dan dapat dinikmati dengan penuh rasa syukur. Asalkan (kita) melaksanakan kebajikan atau berbuat baik pada sesama (Dana); menghindari perbuatan jahat atau berusaha tidak menyakiti sesama (Sila); dan selalu berusaha menyucikan pikiran (samadhi). Itulah inti ajaran Sang Buddha.

Begitu sederhananya ajaran itu, namun melaksanakannya secara konsisten tidaklah mudah. Termasuk melakukan apa yang disebut Samadhi (meditasi). Samadhi bukan hanya berdiam diri dan mengistirahatkan pikiran, melainkan suatu perjalanan ke dasar diri untuk menemukan kondisi “tanpa keinginan”. Kondisi suwung yang tak berbentuk, berwarna atau pun berupa (arupa). Kondisi azali manusia. Kondisi yang harus terus menerus dibentuk bahkan dalam keadaan penuh gerak (berkegiatan sehari-hari). Jika kondisi ini berhasil menyatu dalam diri, kita pun akan terbebas dari rasa iri, dengki dan keserakahan.

Diakui atau tidak, ajaran dan perilaku sang Buddha ini mempengaruhi para pencari kebenaran lintas agama berabad-abad kemudian. Salah satu contohnya adalah Ibrahim bin Adham, seorang Sultan atau Raja yang berkuasa di kerajaan Balkh (kini termasuk wilayah Afghanistan bagian utara). Sultan Ibrahim bin Adham, Bin Mansur al-Balkhi al- Ijli, yang juga dijuluki Abu Ishaq itu, rela meninggalkan kebesaran dan kemewahannya sebagai seorang Sultan, untuk berkelana mencari kebenaran.

Dengan hanya selembar pakaian yang melekat di tubuhnya, Ibrahim bin Adham pun berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya sebagai seorang faqir. Ia tinggalkan segala “keinginannya” sebagai manusia normal, dengan hanya satu cita-cita: mendekatkan diri kepada Allah, sepenuhnya, dan dengan segala kecintaan. Ia pun dikenal sebagai salah seorang sufi besar dalam khazanah sufisme Islam. Wafat pada sekitar 777 Masehi di Suriah.

Tentu masih bisa diperdebatkan apakah betul Ibrahim bin Adham terinspirasi Sang Buddha? Namun mengingat lokasi Afghanistan yang tak jauh dari Nepal dan India, serta pernah berkiprahnya para penganut Buddhisme dalam jumlah besar di Afghanistan, keterpengaruhan itu bukanlah hal yang mustahil.

Hanya sampai di sini tulisan saya untuk memperingati Tri Suci Waisak 2552/2008. Sekedar ungkapan rasa terima kasih saya kepada Sang Buddha, yang wafat pada usia 80 tahun di Kusinara, 543 SM. Terima kasih bahwa engkau pernah hadir di atas Bumi, Sang Buddha. Meski jarak kehidupan Anda dan kehidupan saya dipisahkan ruang dan waktu berbilang milenium, namun perilaku dan ajaran Anda banyak mempengaruhi hidup saya. Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.

Billy Soemawisastra

[Foto: www.snowlion.com, www.wikipedia.org]

Selasa, 20 Mei 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Inspirasi, Refleksi | , , , , | 4 Komentar