Isra Mi’raj


Setidaknya selama sebulan ini (penghujung bulan Juli hingga paruh ketiga Agustus) umat Islam di seluruh dunia merayakan peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan spiritual Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang kemudian dilanjutkan menuju Sidratil Muntaha. Perjalanan jauh yang berlangsung hanya semalam itu, menurut perhitungan tahun Hijriyah, terjadi pada tanggal 27 Rajab, yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 30 Juli.

Hingga kini para pemikir Islam masih belum sepakat tentang bentuk perjalanan Nabi Muhammad, yang penuh misteri itu. Ada yang berpendapat bahwa Isra Mi’raj dilakukan Rasulullah secara utuh, dalam arti tubuh dan ruhnya yang melakukan perjalanan tersebut. Ada juga yang berpendapat hanya ruhnya yang berangkat, sementara tubuhnya tetap berada di Mekah.

Pun, tak sedikit yang berpendapat bahwa Isra Mi’raj itu berlangsung dalam suasana meditatif atau suasana zikrullah. Berdasarkan konsep ini, ruh dan tubuh Rasulullah tidak pergi ke mana pun. Ia tetap berada di Mekah, di rumahnya. Tetapi batinnya yang sedang berada dalam keheningan, dalam suasa mengingat Allah secara total, memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Sang Pencipta mengenai kekuasaanNya yang tiada tara. Dalam kondisi itu, Rasulullah berkomunikasi langsung dengan Allah.

Semua pendapat tersebut mempunyai dasar-dasar yang kuat, sehingga bentuk perjalanan Isra dan Mi’raj tidak akan pernah selesai diperdebatkan. Menurut Guru Besar Ilmu Tafsir Al-Quran, Prof. DR. Quraisy Shihab, hanya keimananlah yang bisa menerima dan meyakini adanya Isra Mi’raj. Terutama karena peristiwa tersebut secara eksplisit termaktub dalam beberapa ayat suci Al-Quran, di antaranya ayat 7 surat Al-Isra.

Sudah selayaknya umat Islam meyakini adanya peristiwa Isra Mi’raj, karena untuk memahami ajaran agama, tidak sepenuhnya bisa ditelusuri secara aqliyah (akal semata) tetapi juga harus dibarengi dengan naqliyah (berpegang pada dalil-dalil dalam Kitab Suci). Agama, merupakan paduan antara immanent dan transcendent.

Lalu apa relevansi Isra Mi’raj dengan keseharian manusia? Melalui peristiwa tersebut, Sang Pencipta agaknya ingin mengatakan secara tegas bahwa di atas segala-galanya, ada Dia. Dia yang memperhatikan tingkah-polah manusia, hingga yang sekecil-kecilnya. Dia yang akan mengadili manusia pada saatnya kelak. Walhasil, orang yang mengaku beriman dan beragama, seyogianya selalu sadar bahwa segala perbuatannya senantiasa tidak lepas dari pemantauan Sang Maha Kuasa. Adakah kesadaran ini sudah menyatu dalam diri manusia, khususnya umat beragama?

Tampaknya tidak. Masih banyak orang yang tidak pernah malu berbuat kemungkaran dan merugikan orang lain, padahal mereka mengaku beriman. Salah satu perbuatan mungkar dan merugikan orang lain itu adalah korupsi. Dan, para pelaku korupsi itu adalah mereka yang mengaku beriman dan beragama, dan pernah berkampanye pada pemilu dengan mengatasnamakan agama, guna meraih konstituen sebanyak-banyaknya.

Akhirnya agama hanya menjadi komoditas politik. Seperti “ayam potong” yang ramai-ramai disembelih setiap pemilu. Setelah berhasil, beramai-ramai pulalah berbagi-bagi uang rakyat, tanpa rasa malu, tanpa rasa bersalah. Paling-paling, begitu ketahuan, uang itu dikembalikan. Padahal pengembalian uang seperti itu tidak menghapus niat dan perbuatan sebelumnya. Pun yang dikembalikan hanya yang ketahuan. Yang tidak ketahuan?

Sebentar lagi kita akan menghadapi pemilu. Sebentar lagi kita akan menyaksikan para calon wakil rakyat berkampanye. Sebagian di antara mereka akan berkampanye dengan mengedepankan agama, dan akan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan hadis nabi dalam orasinya. Mudah-mudahan rakyat tidak tertipu lagi oleh para “penjual agama” ini.

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: www.liputan6.com]

SD Harintha, Pencetus Meditasi Hening


Guru meditasi itu telah berpindah ke lain dimensi. Pada dimensi sebelumnya, dimensi fana, Sang Guru hidup dalam kondisi yang serba kekurangan. Berpindah-pindah dari satu rumah petak ke rumah petak lainnya, yang biaya sewanya lebih murah. Tetapi tak pernah sedikit pun Sang Guru mengeluhkan nasibnya. Bahkan sebaliknya, ia selalu mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta, dan menerima segalanya dengan penuh keikhlasan. “Maturnuwun, Gusti. Sumonggo Kerso,” begitu ucapnya selalu.

Berpindah ke lain dimensi, seperti itulah Sang Guru memaknai kematian. Perpindahan Sang Ruh dari alam fana yang diliputi berbagai keinginan, menuju alam baqa yang suwung, bebas dari segala keinginan. Di alam suwung itu yang ada hanya keheningan. Tanpa bentuk. Tanpa rupa. Tanpa warna. “Itulah frekuensi Illahi, yang sebenarnya bisa kita capai selagi kita berada di alam fana, melalui latihan meditasi tanpa henti,” ujarnya.

SD Harintha (1932-2007)

Sang Guru itu bernama Suratno Dharmo Harintha (ia lebih suka menyingkat namanya sebagai SD Harintha). Lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 13 Januari 1932. Dialah yang pertama kali mencetuskan Meditasi Hening, praktek meditasi dengan metode dekonsentrasi. Meditasi tersebut, konon merupakan warisan leluluhurnya: Pangeran Sambernyawa, pendiri Dinasti Mangkunegaran.

Pertama kali saya mengenalnya sekitar tahun 1989. Waktu itu saya masih bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Majalah SARTIKA, majalah kesehatan jantung yang diterbitkan oleh Grup Bustanil Arifin (mantan Kabulog di zaman Soeharto). Salah seorang wartawan saya, Iskandar Sultoni, menyodorkan tulisannya tentang Meditasi Hening, yang menurutnya, bisa dijadikan sebagai alternatif cara mengendalikan stres.

Sebagai pengelola majalah kesehatan jantung, tentu saja saya menilai tulisan semacam itu memang layak dimuat. Terutama karena stres, merupakan salah satu faktor resiko utama serangan jantung koroner. Tetapi secara pribadi, saat itu saya tidak tertarik dengan Meditasi Hening. Meski saya pun sependapat dengan Iskandar Sultoni bahwa tulisannya akan sangat bermanfaat bagi para pembaca, yang sebagian besar adalah anggota Klub Jantung Sehat Yayasan Jantung Indonesia.

Sekitar setahun kemudian, ketika saya tengah membolak-balik nomor-nomor majalah yang pernah kami terbitkan, saya tertumbuk pada tulisan Iskandar Sultoni tentang Meditasi Hening. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin berkenalan dengan SD Harintha, pencetus Meditasi Hening, yang amat dikagumi teman saya itu. Saya pun mengajak Iskandar untuk berkunjung ke rumah orang tua tersebut.

Dengan sangat antusias, Iskandar mengantarkan saya ke tempat kediaman sekaligus tempat praktek Pak Harintha, di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Di sana saya menemukan orang tua yang sangat sederhana. Penuh kebapakan. Tutur katanya lemah lembut, dan sorot matanya memancarkan semangat hidup yang amat tinggi.

Sejak itu terjadilah dialog intens antara saya dengan beliau, tentang konsep Meditasi Hening. Konsep meditasi yang digalinya dari budaya Jawa, yang selalu menekankan inward looking, dan upaya mengendalikan keinginan.

Banyak kesamaan antara konsep Meditasi Hening yang diajarkan Pak Harintha, dengan konsep tasawufnya Al-Ghazali. Kebetulan, sedikit banyak saya pernah mengaji kitab-kitab Al-Ghazali, tatkala masih menjadi santri di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Sehingga, tentu saja, obrolan saya dengan Pak Harintha terasa semakin menarik.

Saya pun menjadi salah seorang murid Pak Harintha, hingga bertahun-tahun kemudian. Dan, ia tak pernah berubah. Meskipun kesulitan hidup menimpanya bertubi-tubi, ia tetap terlihat cerah, penuh semangat, tetapi juga penuh kepasrahan.

Dari Tanah Kusir ia pindah ke daerah Rawa Buaya, Cengkareng, lalu pindah lagi ke kawasan Pamulang, Tangerang, sampai akhir hayatnya. Semua itu ia lakukan karena Sang Guru Meditasi ini tidak memiliki rumah. Ia harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, untuk memperoleh rumah kontrakan yang lebih murah. Dan, tampaknya tidak pernah terpikir oleh Pak Harintha, untuk meminta bantuan para muridnya (yang sebagian besar orang kaya).

April 2007, Sang Guru jatuh sakit, dan sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa pekan, sampai akhirnya meninggal dunia. Meninggalkan tiga orang putra dan dua orang putri, yang kesemuanya sudah berkeluarga. Hanya keluarga inti dan salah seorang muridnya paling setia, Ibu Rossalia, yang mengantar jenazah beliau menuju peristirahatan terakhirnya di Wonogiri.

Lalu ke mana murid-muridnya yang lain? Banyak yang tidak tahu bahwa Sang Guru telah berpulang. Mungkin karena masih disibukkan untuk mengejar berbagai keinginan. Seperti saya, yang tidak pernah ada puasnya mengejar keinginan, sehingga sering lupa pada Pak Harintha yang telah mengajarri saya Meditasi Hening. Mengajari saya untuk mengendalikan keinginan. Saya pun, tidak menghadiri upacara pemakamannya.

Mungkin saya termasuk murid yang tidak peduli pada nasib Sang guru, terutama pada hari-hari terakhirnya. Tetapi sesungguhnya, rasa terima kasih saya kepada beliau, begitu besar dan tak ada habisnya hingga kini. Begitu banyak pencerahan yang beliau berikan kepada saya, Beliaulah yang mengajari saya secara konkret, cara-cara pengendalian diri. Beliaulah yang selalu mengingatkan saya akan keagungan Sang Pencipta, dan betapa kecilnya manusia di hadapanNya.

Saya tidak akan mengucapkan selamat jalan kepada beliau, karena beliau tidak pergi ke mana pun. Beliau, masih ada di sini. Hanya saja di lain dimensi.

Billy Soemawisastra.

[Foto SD Harintha: Iskandar Sultoni]

Meditasi Hening, Perjalanan Menuju Alam Suwung


Banyak “orang pintar” yang mengklaim dirinya sebagai penemu Meditasi Hening. Tetapi sepanjang pengetahuan saya, Meditasi Hening ini pertama kali diperkenalkan oleh guru saya: Bapak Suratno Dharmo Harintha, pada sekitar tahun 1980-an. Meditasi Hening adalah suatu meditasi yang menggunakan metode dekonsentrasi. Dalam arti, Anda tidak perlu memusatkan pikiran ke suatu titik atau obyek tertentu ketika bermeditasi. Hanya saja, pikiran Anda tidak boleh dibiarkan menerawang atau mengembara ke berbagai tempat dan waktu, tetapi harus dialihkan secara bersangsur-angsur ke tempat dan waktu Anda bermeditasi.

Meditasi Hening, memang bukan satu-satunya meditasi yang menggunakan metode dekonsentrasi. Meditasi Reiki, Zen, Yoga, juga merupakan meditasi dekonsentrasi. Tetapi tidaklah berlebihan kiranya, jika dikatakan bahwa Meditasi Hening yang diperkenalkan laki-laki asal Wonogiri ini, merupakan meditasi yang paling sederhana tata-caranya. Anda tidak perlu duduk bersila dengan melipat kedua kaki Anda ketika bermeditasi. Anda juga tidak perlu menyilangkan tangan di dada dengan posisi tubuh yang tegak dan punggung lurus. Anda cukup duduk di kursi dengan posisi sesantai mungkin.

Mengapa disebut Meditasi Hening? Karena “terminal terakhir” dari perjalanan meditasi yang diajarkan Pak Harintha, Sang Guru, adalah Alam Hening. Bila Anda bermeditasi bersama Pak Harintha, dalam posisi duduk di kursi atau sofa, pertama kali beliau akan meminta Anda melepaskan segala beban pikiran, dan tidak membiarkan pikiran melanglangbuana. Seluruh pikiran harus dihadirkan di tempat mana sang pelaku meditasi berada. Tetapi tak perlu berkonsentrasi pada satu titik tertentu. Seluruh pendengaran harus tetap dibuka, sambil memelihara sikap waspada.

Bila Anda sudah terlihat bersikap relaks, Sang Guru akan meminta Anda untuk menutup mata perlahan. Otot-otot yang tegang di seluruh bagian tubuh secara berangsur harus dikendorkan. Nafas tidak perlu diatur, biarkan berjalan secara natural. Lalu imajinasikan diri Anda sedang mengalirkan segala beban pikiran atau stres dari kepala menuju dada. Simpan sejenak, lalu alirkan lagi secara perlahan menuju ujung kaki, seolah sedang membuang semua energi negatif melalui telapak kaki.

Sekali lagi, jangan biarkan pikiran Anda melalangbuana. Bila merasa kesulitan mengendalikan pikiran, resapi dan dengarkan saja nafas Anda yang keluar masuk tubuh Anda, sampai pada tahap nafas itu terasa semakin halus dan tidak terdengar lagi desahnya. Lalu rasakan dan dengarkan degup jantung Anda, hingga mencapai tahap Anda tidak lagi mendengar detak jantung.

“Loosss,” kata Sang Guru. “Jangan berpikir tentang masa lalu dan jangan pikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pikiran Anda hanya berada pada detik ini. Sadari detik demi detik. Batin dan pikiran hanya diisi dengan rasa terima kasih, rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan berbagai kenikmatan, seraya berserah diri secara total kepadaNya. Maturnuwun, Gusti. Sumonggo Kerso. Terima kasih, Tuhan. Apapun yang Kau berikan padaku, kuterima dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya.”

Jika Anda telah berada dalam kondisi penuh rasa terima kasih dan berserah diri secara total kepada Sang Pencipta, serta tidak terdengar lagi alunan nafas dan detak jantung, berarti Anda telah sampai di gelombang alpha. Pak Harintha yang telah sangat terlatih bermeditasi itu bisa mendeteksi, apakah muridnya sudah sampai pada gelombang alpha, atau masih di gelombang beta, atau justru meluncur ke gelombang  delta (gelombang tidur). Tetapi para peserta setidaknya bisa menandai sendiri, sudah sampaikah dia ke alpha atau belum?

Bila dalam meditasi itu Anda sudah tidak merasakan lagi kegelisahan, kekhawatiran, sakit hati, iri dan dengki, dan batin hanya dipenuhi dengan rasa terima kasih dan kepasrahan total kepada Tuhan, berarti Anda sudah sampai di gelombang alpha. Bila kondisi ini dapat Anda pelihara secara konstan, hanya dalam beberapa detik lagi Anda bisa sampai di alam hening, atau alam suwung.

Sulit menggambarkan seperti apa itu alam suwung atau alam hening, karena kondisi alamnya tak berbentuk, tak berwarna, tak berupa. Hanya saja bisa ditandai dengan rasa sejuk yang luar biasa mengaliri seluruh tubuh. Rasa sejuk itu sendiri berasal dari dalam tubuh. Dan, pada saat itu, si pelaku meditasi benar-benar berada dalam kondisi “tidak mempunyai keinginan apapun”.

Biasanya hanya beberapa detik saja si pelaku berada di alam suwung. Sang Guru akan meminta peserta untuk menandai kondisi tersebut, dan membuka mata secara perlahan. Kembali pada kondisi pra-meditasi. Tetapi keheningan yang sudah berhasil diraih dalam meditasi, harus terus dipelihara.

Tidak semua peserta meditasi berhasil dengan cepat berpijak di alam suwung, ataupun sampai ke gelombang alpha. Ada yang berbulan-bulan bahkan tak sampai-sampai ke alpha. Tetapi ada juga yang dengan segera menemukan hening. Tahap-tahap keberhasilan meditasi ini sangat bergantung pada pribadi setiap orang. Kuncinya, sekali lagi, adalah kepasrahan total kepada Sang Pencipta, dan rasa syukur yang tak pernah henti, atas sekecil apapun karunia (baik berupa anugrah maupun musibah) yang diberikan Tuhan.

Itu sebabnya, dalam persiapan menjelang meditasi, terlebih dulu Pak Harintha akan memberikan conditioning, dengan bercerita tentang nikmat-nikmat Tuhan yang diberikan kepada manusia. Tentang perlunya mengendalikan berbagai keinginan, dan mengeliminasi rasa iri dan dengki. Mengusir segala kekhawatiran dan membangkitkan optimisme.

Meditasi dalam Keseharian.

Yang ingin dicapai Meditasi Hening-nya Pak Harintha, bukan meditasinya itu sendiri. Meditasi hanyalah alat untuk melatih pengendalian diri. Bila Sang Guru menilai Anda sudah trampil bermeditasi dengan mata tertutup, pada hari-hari berikutnya beliau akan mengajak Anda bermeditasi dengan mata terbuka. Bermeditasi sambil berbincang-bincang mengenai makna kehidupan, dan tentang berbagai tugas yang kita emban sebagai manusia di atas bumi.

Tahap-tahap yang berhasil dicapai dan dirasakan dalam praktek meditasi, baik dalam kondisi mata tertutup maupun terbuka, sebaiknya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam keseharian kita dilanda kegelisahan, usir segera kegelisahan itu dan menggantinya dengan kepasrahan. Tetapi bukan pasrah tanpa usaha. Melainkan pasrah dalam arti berserah diri kepadaNya. Pasrah pada apapun (bencana maupun keberuntungan) yang sedang kita alami detik demi detik, sambil berusaha dan berdo’a meminta kekuatanNya.

Jika dalam keseharian kita bisa menghilangkan rasa iri dan dengki ataupun kekhawatiran dan rasa sakit hati, maka perjalanan hidup pun bisa dinikmati dengan tenang. Apalagi bila kita mampu mengendalikan berbagai keinginan alias nafsu yang mengganggu.

Ajaran Meditasi Hening-nya Pak Harintha, nyaris tidak ada bedanya dengan ajaran Tasawuf dalam Islam ataupun ajaran Teosofi di kalangan Kristiani. Pun, sejalan dengan ajaran Buddhisme. Dan, seperti meditasi pada umumnya, Meditasi Hening merupakan ritual lintas-agama. Beberapa anggota Lions Club Jakarta, yang kebetulan beragama Islam dan pernah dilatih meditasi oleh Pak Harintha, sempat mengaku, sholat mereka menjadi semakin khusyu setelah berlatih Meditasi Hening.

Billy Soemawisastra.

Resensi Buku: “Sihir AGAPE”


Inilah era komunitas pedagang. Di tiap sudut negeri terhampar mulai dari Mal sampai Kios atau Lapak. Beginilah kurun masa sebentang ideologi dunia, yang secara digjaya berhala pada neoliberalisme.

“Pada dasarnya neoliberalisme mengubah manusia menjadi komoditi.” Demikian diktum utama kelumpuhan dunia menurut buku Alternative Globalization Addressing Peoples and Earth (AGAPE) atau “Globalisasi Alternatif Mengutamakan Rakyat dan Bumi”. Sebuah buku yang diramu secara apik dan bergizi dari berlembar dokumen hasil temuan beberapa konsultasi dan studi yang digelar Dewan Gereja-Gereja Sedunia (World Council of Churches) dan beberapa organisasi ekumenis lain pasca Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia 1988 di Harare.

Bentuk saji penulisan buku ini adalah rambahan kontemporer pemaknaan teks alkitab, yang diracik dalam bahasan aktual dengan realitas dunia yang centang-perenang. Di tengahnya disisip secara cerdas analisa tajam atas berbagai penyebab masalah sekaligus solusi kongkrit mengatasinya.

Mata kita akan enggan beralih sejenak pun meninggalkan topik bahasan yang bagai menari di benak. Sementara nurani kita bagai ditohok berulang-ulang merasakan pahitnya hidup dunia yang sedang jungkir-balik diketengahkan buku ini.

Simak bagaimana hardikan nabi Yesaya, “Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman…” untuk membahas kajian dengan topik Perdagangan yang Adil. Atau kutipan Injil, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan, tapi Aku datang supaya mereka mempunyai hidup…” untuk menegaskan 1,5 penduduk dunia – kebanyakan perempuan, anak-anak dan penduduk asli – hidup kurang dari 1 dolar per hari, saat 20% kaum kaya menggenggam 86% konsumsi global barang dan jasa.

Di tiap topik bahasannya dilampirkan juga refleksi berupa berbagai pertanyaan yang sejatinya adalah sejenis “pintu masuk”, menjawab tantangan zaman.

Gagasan-gagasan baru yang bernas dibentangkan buku ini nyaris tanpa jeda. Antara realitas sosial global dan solusi-solusi aktual hadir tanpa memakai sistematisasi tulisan yang runut dan berstruktur. Semua kajian realitas global seperti kawin-mawin dengan rambahan pikiran-pikiran yang memukau. Sungguh sebuah ikhtiar menyajikan isi topikal yang bermutu dengan pembahasaan yang populis dan cair.

Lihatlah betapa gagasan gemilang seperti Keadilan Transformatif di sajikan dengan kelugasan dalam balutan kata yang renyah,

“Setiap bentuk kekuasaan tergoda untuk mengangkat dirinya sebagai yang absolut, tanpa akuntabilas terhadap mereka yang dikenainya dan pengingkaran bermacam hubungan yang membentuk jaringan kehidupan serta kebutuhan untuk dihargai dan diakui.”

Kelemahan buku ini – kalaupun penilaian itu harus dihadirkan di sini, demi azas obyektivitas – adalah pada tampilan muka, yang teramat miskin gaya. Beban tema buku yang dahsyat itu, tidak tervisualisasi menawan, baik secara asosiatif maupun imajinatif.

Selebihnya, buku ini adalah sihir spiritual bagi armada inspirator, yang terkuak dari jutaan pengalaman mencengangkan, karena keajaiban pengamatan sublim. Dan selayaknyalah dibaca oleh mereka yang tergelitik untuk mencipta gagasan baru.

Glorius Bawengan

di Lembayung me Rekah

[Foto sampul buku diambil dari: www.wcc-coe.org]

Di Sebuah Tajug


Di tajug ini

Tak lagi kudengar suara bedug

Hanya suara-suara tanpa suara

Menghiba Sang Maha Empunya


Di tajug ini

Tak lagi kudengar dengusan nafas

Degupan jantung, ketukan nadi

Hanya bisikan ruh selangit penuh

Memuja Sang Maha Ruh

Seraya bersimpuh


Di tajug ini

Kucoba menyatu dengan angin

Dengan malam

Dengan gemawan

Dengan bintang

Dengan pepohonan

Dengan segala

Yang bermakna kesunyian

Agar aku sampai padaNya


Di tajug ini

Hanya Dia Yang Ada

Tetapi tak sanggup aku

MenjangkauNya


Billy Soemawisastra

[Foto-foto: i23.photobucket.com, i270.photobucket.com, www.seedsiceland.org]