Terima Kasih, Tuhan. Kau Telah Memberiku Indonesia

Deretan Sang Merah Putih (Dari: Tempo Interaktif).

Tanpa terasa, negeri saya yang bernama Republik Indonesia ini, telah berusia 63 tahun, dan saya telah berada di atasnya selama puluhan tahun. Selama itu pula saya selalu bermimpi, berpikir, berbicara dan berdo’a dalam bahasa Indonesia. Saya merasa menjadi orang Indonesia, sepenuhnya. Begitu pula anak-anak saya, dan mungkin kelak cucu-cucu saya.

Saya bersyukur bahwa Tuhan telah menempatkan saya di negeri Indonesia. Sebuah negeri yang penuh keragaman. Negeri tempat bernaung berbagai suku bangsa, budaya dan agama. Negeri tempat ratusan juta manusia menyembah Tuhan dalam damai, dengan cara dan keyakinannya masing-masing.

Pada setiap tanggal 17 Agustus, negeri ini selalu dipenuhi dengan warna merah dan putih. Hanya merah dan putih, karena pada tanggal tersebut, seluruh bangsa Indonesia dengan rela melupakan warna asalnya. Melupakan perbedaan-perbedaan yang ada. Semua larut dalam gairah kemerdekaan. Kemerdekaan bagi semua. Kemerdekaan dalam kebhinekaan.

Upacara proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Tidak pernah habis kekaguman saya kepada para perintis kemerdekaan, para pendiri republik dan para pejuang kemerdekaan, yang sebagian besar hidupnya dibaktikan untuk tegaknya suatu negara merdeka bernama Republik Indonesia. Mereka lupakan sejenak kepentingan pribadi dan kelompoknya, kepentingan suku dan agamanya, untuk mendirikan sebuah negara yang dapat menaungi beragam suku, agama dan budaya. Maka jadilah Indonesia, sebuah negeri yang pluralistik, yang menghargai berbagai perbedaan dan menghormati keberagaman.

Derap langkah para pejuang kemerdekaan RI.

Berkat jasa para pejuang ini, Rendy, anak saya yang beragama Islam, bisa bersahabat karib dengan Theopilus calon Pendeta Kristen, dan Eddy “Jackie Chan” yang beragama Buddha. Ketiganya telah menyatakan diri sebagai “Tiga Sekawan” yang akan selalu saling tolong-menolong setiap kali dibutuhkan.

Tiga Sekawan ini sepakat bahwa agama mereka sebenarnya memiliki kesamaan. Kesamaan itu antara lain terletak pada keharusan berbuat baik bagi sesama manusia, tanpa membeda-bedakan bangsa dan agamanya. Tetapi mereka juga sepakat bahwa kesamaan itu bukan berarti mereka harus melebur atau menyatukan agama mereka. Justeru sebaliknya, mereka harus memperkuat keyakinannya pada agama masing-masing, agar menjadi individu-individu yang kuat, sehingga persahabatan mereka pun akan semakin kokoh.

Theo tak akan segan-segan mempelajari Islam melalui Rendy. Rendy juga sering bertanya tentang ajaran Kristen kepada Theo. Sementara Eddy, lebih suka menyimak diskusi Rendy dan Theo. Dan, begitu ada kesempatan, Eddy akan mengajak kedua temannya itu untuk bermeditasi.

Theo, sang calon pendeta, sering mengingatkan Rendy agar tidak melalaikan sholat. Rendy pun selalu mendo’akan Theo agar dapat segera menyelesaikan sekolah pendetanya. Sehingga bisa secepatnya  memberikan pengabdian kepada umat. Rendy dan Theo sering mengingatkan Eddy agar rajin bersembahyang di Vihara. Kata Eddy, “Aku selalu membawa ‘Vihara’ ke mana-mana, dan aku ingin membangun ‘Vihara’ untuk kita bertiga.”

Itulah Indonesia. Tempat anak saya dan teman-temannya menyembah Tuhan yang sama, dengan cara dan keyakinannya masing-masing.

Saya tak akan pernah berhenti bersyukur dan bersyukur bahwa Tuhan telah memberi saya Indonesia.

Billy Soemawisastra.

[Foto-foto: kolomsejarah.wordpress.com]

This entry was posted in Refleksi, Sejarah and tagged , , , , , by Billy Soemawisastra. Bookmark the permalink.

Tentang Billy Soemawisastra

Blog Jagat Alit mulai dipublikasikan di jagat maya pada 23 November 2007, dan hampir setahun kemudian, 7 Juli 2008, blog Alun-Alun (http://www.jagatalun.com) menyusul sebagai "penyeimbang" Jagat Alit. Ketika kedua blog ini diterbitkan, saya masih bekerja di Liputan 6 SCTV, sebagai Kepala Departemen Pendidikan & Pelatihan Pemberitaan (Head of News Training Department). Saya bergabung di stasiun televisi swasta terkemuka ini, sejak 1995, dengan posisi awal: produser, kemudian produser eksekutif. Di manajemen, saya pernah menduduki posisi Manajer Pemrosesan dan Penayangan (News Processing & Broadcast Manager), dan Senior Manager Program Khusus dan Mingguan (Senior Manager for Current Affairs & Special Programmes). Sebelum bergabung dengan SCTV, saya pernah menjadi produser pemberitaan di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia); Redaktur Pelaksana beberapa majalah keluarga; dan penyiar, reporter, redaktur Radio Arief Rachman Hakim (ARH). Pendidikan terakhir saya: Fakultas Ushuluddin (Theology) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) "Syarif Hidayatullah" Jakarta, dan pernah "nyantri" di Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Sejak 1 November 2009, saya resmi pensiun dari SCTV. Tetapi tentu saja saya tidak akan pernah pensiun dari pekerjaan saya sebagai jurnalis, penulis dan pengajar, selama Allah masih mengijinkan saya untuk melakukan semua itu. Sejak 2010, saya bersama isteri saya, mendirikan suatu lembaga training yang kami beri nama: BE Training (Beyond Expectation Training). Untuk mengetahui lebih jauh lembaga ini, silakan klik http://www.be-training.org.

4 thoughts on “Terima Kasih, Tuhan. Kau Telah Memberiku Indonesia

  1. Seharusnya seluruh bangsa bisa bersikap seperti itu, Bung Johanes. Bukankah para pendiri republik telah sepakat membuat negeri ini sebagai negeri yang “bhineka tunggal ika”? Dan, saya yakin, masih banyak saudara-saudara kita yang memiliki semangat toleransi dan pluralisme seperti yang dipraktekan anak saya dan teman-temannya itu. Hanya saja belakangan ini memang muncul orang-orang yang cenderung sektarian, merasa paling benar sendiri dan tidak mau menghargai keberagaman.

  2. betul Pak Billy. Saya juga masih menemui banyak saudara2 kita yang punya sikap toleransi tinggi seperti itu. Memang harus memulai dari diri kita sendiri dulu sepertinya, syukur2 menjadi contoh agar bangsa ini lebih maju.

  3. betul sekali. saya pun terenyuh membaca kisah persahabatan tiga sekawan tersebut. semoga ini menjadi tetes embun di padang sahara bumi Indonesia yang rindu akan kedamaian, persahabatan, toleransi dan gotong royong

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s