Memaafkan dan Mengampuni
Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya?
Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, dan menyengsarakan kita lahir batin.
Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa mengatakan pada saya, bahwa beban hidup yang amat berat (nyaris tak tertanggungkan) akan dialami oleh orang yang tidak mampu memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Seorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, biasanya ia juga akan mudah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan sekecil apa pun. Beban berat orang yang tidak mampu memberikan maaf dan pengampunan, akan menjadi beban jiwa. Beban jiwa yang berat akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Baik raga, mental, maupun pikiran. Sedikit demi sedikit, kesehatan fisik dan mental pun akan terganggu tergerogoti.
“Jika kamu mampu meminta maaf, memberikan maaf, dan pengampunan secara tulus, maka hidup dan beban jiwamu akan ringan seringan kapas” katanya kala itu.
Mengapa orang harus meminta dan memberikan maaf?
Atau mengapa orang harus meminta ampun dan memberikan pengampunan?
Memaafkan dan mengampuni, memiliki substansi makna yang kurang lebih sama. Keduanya sama-sama merupakan wujud ekspresi rohani manusia beradab ber-Ketuhanan.
Meminta dan memberi maaf, mohon ampun dan memberikan pengampunan, adalah refleksi ungkapan kerendahan hati manusia beriman yang siap mengakui kelemahan diri di hadapan manusia dan SANG PENCIPTA. Di dalamnya terkandung keinginan tobat memperbaiki diri. Manusia pun menjadi putih bersih laksana terlahir kembali seperti sediakala sebagai CITRA YANG MAHAKUASA.
Kesadaran rohani inilah yang membedakan tingkat keimanan seseorang. Kesadaran spiritual ini seharusnya terus dipupuk dan dibangun setiap detik, setiap saat, setiap waktu, terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari diri.
Meminta maaf dan memberikan permaafan – juga meminta ampun dan memberikan pengampunan tanpa syarat, membutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan kesiapan mental luar biasa. Untuk meminta maaf, orang harus merelakan dirinya dalam posisi lebih rendah dari orang lain. Demikian pula ketika orang memberikan pengampunan. Ia dalam posisi amat berkuasa.
Godaan amat besar ada pada posisi orang yang mempunyai kekuasaan besar dan posisi lebih tinggi. Tak semua orang mampu melaksanakannya! Kemampuan meminta dan memberikan maaf, dan juga pengampunan, merupakan simbol perwujudan keimanan kepada SANG HYANG PEMBERI HIDUP yang terdalam.
Permaafan dan pengampunan sejati tidak membutuhkan syarat. Jadi tidak berlaku istilah: “Minta maaf saja tidak cukup!” atau “Ok. Kali ini saya maafkan tapi besok lagi tidak!” dan banyak lagi ungkapan pemberian maaf disertai dengan syarat-syarat dan kata-kata negasi. “Saya maafkan tetapi….”
Meminta maaf, memberikan maaf dan pengampunan adalah final tanpa syarat. Permaafan dan pengampunan mestinya selebar dan seluas samudera tanpa batas.
Dendam Seolah Menjadi Tren Hidup.
Di lingkungan masyarakat kita, dendam seperti membudaya. Konflik sosial begitu mudahnya berkobar. Tawuran anak sekolah, mahasiswa, antarwarga desa, antarkelompok yang mengatas namakan agama. Ada juga pelayan dendam kepada majikan. Atau juragan enggan meminta maaf kepada pembantu. Istri memendam dendam kepada suami. Sampai-sampai ada istilah: cacian dibalas dengan makian, mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti darah, atau nyawa ganti nyawa. Suatu kebiasaan hidup gaya barbar, cerminan manusia tak berbudaya, tak beradab, dan tak ber-Tuhan.
Ajaran antikekerasan dan prinsip ajaran welas asih berumur ribuan tahun lampau yang menyatakan bahwa jika kamu ditampar pipi kirimu, berikanlah juga pipi kananmu jadi terasa amat ekstrim mengada-ada. Mana mungkin itu dilakukan. Hari gini, gitu loh?
Tapi itulah welas asih yang penuh dengan bangunan keharmonisan hidup. Tindakan kekerasan yang dulu sering digambarkan sebagai jalan pedang hanya akan menimbulkan dendam dan kekerasan baru.
Tradisi saling maaf-memaafkan dan saling mengampuni diajarkan oleh semua agama dan ajaran-ajaran kebijaksanaan tentang hidup modern yang berkeadaban. Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, memberikan maaf, mohon ampun, dan memberikan pengampunan.
Sudahkah Anda meminta maaf, memberikan maaf, dan memberikan pengampunan pada musuh Anda sekarang?
Mohon maaf jika ada kesalahan.
Vincent Hakim Roosadhy
Memberi dan Menerima
Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis. Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur, tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung, 21 nyawa melayang sekaligus, akibat terinjak-injak dan kehabisan oksigen, karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.
Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat 20 ribu rupiah amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita.
Ketika orang-orang pintar, para pejabat publik dan politik, pakar statistik dan lain sebagainya berdebat soal apa itu kemiskinan, tentang jumlah orang miskin, dan masalah kriteria orang miskin-kemiskinan, sejatinya kaum miskin tidak peduli! Orang miskin lebih peduli memikirkan
Juga ketika para calon presiden yang gencar berkampanye dan presiden yang sedang berkuasa “ribut” soal jumlah orang miskin dan kriteria orang miskin. Orang-orang miskin tetap saja nggak mau tahu! Orang miskin lebih peduli memikirkan bagaimana hari ini bisa membeli sembako murah, beli minyak tanah murah, dan bisa membayar sekolah anak-anak (syukur-syukur sekolah gratis). Biaya pendidikan sekarang sudah nggak masuk akal! Nggak usah yang sekolah unggulan, sekolah standar saja mahal – duit lagi, duit lagi.
Jangan dikira wong cilik bisa terus menerus dibodohi! Meski masih banyak juga yang bodoh dan mudah dibodohi (kebanyakan karena tuntutan kondisi). Orang miskin yang “normal” akan malu jika harus mengemis, meminta, mengantri bantuan pada orang lain. Bahkan untuk sekadar meminjam uang pun, rasanya malu. Tapi kondisi yang benar-benar miskin sering memaksa orang harus melakukan sesuatu (agak mengabaikan perasaan malu).
Kini sebagian kaum miskin sudah mulai sadar politik, dan sadar informasi. Maka mereka tahu, bahwa golongan “wong kere” – wong cilik hanya dijadikan objek massa politik atau sasaran untuk mendongkrak popularitas diri orang berkuasa dan berduit agar dipandang orang lain.
Memberi dan menerima. Apa itu? Saya teringat kata-kata bijak yang telah berumur ribuan tahun, tapi masih sangat relevan untuk masa kini (terlebih di masa Ramadhan ini): “Jika engkau memberikan sesuatu kepada orang lain (dengan tangan kananmu), jangan sampai tangan kirimu tahu. Biarkan Yang Maha Kuasa saja yang layak mengetahuinya”
Memberi memiliki dimensi personal, sosial, dan spiritual (vertikal-horisontal). Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa belas kasihan dan penuh keikhlasan. Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain karena tuntutan dari dalam diri, bahwa ia memang harus memberi. Tindakan memberi bagi manusia pemberi sejati, adalah refleksi keimanan pada SANG PENCIPTA yang juga adalah SANG PEMBERI SEJATI tanpa pamrih.
Jadi tak ada motivasi secuil pun bagi seorang pemberi sejati, bahwa tindakannya itu agar mendapatkan balasan, imbalan, dilihat orang, atau pujian orang. Maka janganlah heran, jika ada seorang pemberi sejati harus bersusah payah agar bisa memberikan dirinya kepada orang lain tanpa pamrih. Bahkan kadang harus melawan arus, dibenci orang, dan kadang berhadapan dengan maut.
Ada kepuasan batin yang mendalam bagi seorang pemberi sejati, ketika ia bisa memberikan sesuatu bagi orang lain yang membutuhkan. Inilah perwujudan aktualisasi diri seorang pemberi sejati. Bagi seorang pemberi sejati, ketika ia memberikan sesuatu sebenarnya ia pun telah menerima sesuatu. Manusia pemberi sejati memiliki tingkat spiritual lebih tinggi dari pada manusia penerima.
Bagaimana dengan manusia penerima? Seorang penerima memiliki tanggung jawab untuk berterima kasih dan bersyukur. Berterima kasih dan bersyukur itu tidak mudah. Tak banyak orang yang bisa berterima kasih dan bersyukur dengan tulus dan bertanggung jawab. Kita tahu, banyak orang terlibat korupsi. Kita tahu, banyak orang penting yang dulu bukan siapa-siapa tapi sekarang berlagak jadi penguasa tanpa tanding. Kita tahu banyak orang suka mengeluh hidupnya susah, padahal banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih susah.
Seorang penerima pada saatnya nanti harus pula menjadi manusia pemberi sejati. Salah satu contoh manusia penerima yang kemudian menjadi sang pemberi sejati adalah tokoh spiritual dunia Siddharta Gautama. Setelah menerima pencerahan dari Yang MahaKuasa, Sidharta Gautama pun menjadi manusia Buddha (Yang Tercerahkan) dan memberikan diri sepenuhnya bagi orang lain.
Eyangnya musik jazz yang baru saja manggung duet dengan George Benson di Jakarta (14/9/08) Al Jarreau berujar, “Jika kamu memberikan apa pun yang kamu miliki (sesuai dengan profesi dan keahlian masing-masing) secara tulus dan total, maka kamu akan menerima kebahagiaan.” Al Jarreau dan George Benson telah puluhan kali menerima berbagai penghargaan bergengsi di bidang musik jazz, pop-soul R&B dan kemarin mereka memberikan hiburan dan kebahagiaan bagi para penggemar jazz.
Jadi sudahkah kita menjadi seorang pemberi sejati hari ini?
Vincent Hakim Roosadhy
Kesucian Ramadhan Dinodai Aksi Kekerasan
Ramadhan adalah bulan suci, bulan penuh kasih (rahmat) dan ampunan (maghfirah). Bulan yang harus diisi dengan kasih-sayang dan saling memaafkan. Bulan yang disediakan bagi umat Islam untuk berlatih menahan diri, lahir dan batin. Bukan hanya berlatih menahan lapar, haus dan nafsu syahwat. Tetapi juga berlatih menahan kemarahan, mengusir kebencian, meningkatkan toleransi, menghargai keberagaman, melenyapkan dendam dan menghapuskan permusuhan. Yang tersisa di bulan Ramadhan ini seharusnya adalah rasa saling kasih-mengasihi antar-sesama manusia, meningkatnya kepedulian terhadap masyarakat miskin, yang lemah, yang tertindas, yang tidak punya daya-upaya untuk menolong dirinya. Semua penganut agama Islam tahu itu, karena tuntunan Ramadhan begitu jelas dan gamblang terurai dalam Al-Quran dan Sunnah.
Tetapi apa yang terjadi di bulan Ramadhan 1429 Hijriyah ini? Dua kelompok masyarakat yang sama-sama mengatasnamakan Islam, yakni AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) dengan bantuan Banser Gus Nuril, berhadap-hadapan dengan FPI (Front Pembebasan Islam) dalam kondisi sama-sama penuh kebencian. Kedua kelompok ini saling melempar batu di tengah keramaian jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk Jakarta Pusat. Aksi kekerasan ini tidak hanya disaksikan oleh para karyawan yang bekerja di berbagai perkantoran di kawasan tersebut, tetapi juga dimonitor oleh jutaan pemirsa televisi di seluruh Indonesia, setelah peristiwa itu ditayangkan melalui stasiun-stasiun televisi nasional.

Korban bentrokan FPI-AKKBB, 25/9/08. (Detiknews.com)
Aksi kekerasan ini merupakan “lanjutan” dari tragedi monas bulan Juni lalu. Dan, ini merupakan aksi kekerasan atas nama Islam, yang untuk kesekian kalinya berlangsung di negeri kita. Wajah Islam pun semakin coreng-moreng, sehingga sulit untuk menghapus kesan bahwa Islam identik dengan kekerasan. Ironisnya, aksi kekerasan kali ini justru terjadi di bulan Ramadhan, saat seluruh kaum Muslimin semestinya larut dalam kegiatan ibadah. Ibadah ritual maupun ibadah sosial.
Ibadah ritual adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah, melalui ritual-ritual keagamaan seperti shalat, zikir dan i’tiqaf. Sedangkan ibadah sosial, selain berupa kegiatan mencari nafkah yang halal untuk keluarga, adalah juga menolong fakir miskin. Anda tentu belum lupa dengan peristiwa di Pasuruan, di bulan Ramadhan ini juga, ketika puluhan orang miskin tewas terinjak-injak sesamanya, hanya untuk memperoleh pembagian zakat dari seorang “dermawan” sebanyak 20 ribu rupiah per orang. Ini menandakan bahwa jumlah orang yang sangat miskin di negeri ini, masih teramat banyak.
Kalau saja para pemimpin ormas islam menyadari hal ini, seyogianya mereka menggerakkan kekuatan massanya yang kelebihan energi itu, untuk mendatangi perkampungan-perkampungan orang miskin guna membantu mereka meningkatkan kesejahteraan, menolong mereka dari ancaman kelaparan. Bukan untuk saling melempar batu di tengah kota, tanpa rasa malu sedikit pun. Mungkin akan lebih baik bila ormas-ormas Islam yang tengah saling berseteru itu, melakukan “gencatan senjata” sebulan saja di bulan penuh kasih ini, untuk saling bahu-membahu membantu saudara-saudaranya yang masih dililit kemiskinan. Lalu di mana rasa hormat mereka terhadap bulan Ramadhan, yang (mereka pun tahu) merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan?
Kekerasan demi kekerasan atas nama agama Islam akan terus terjadi di negeri ini, bila para pemimpin umat tidak mampu menahan diri. Tidak mampu untuk duduk bermusyawarah, dengan mengedepankan persamaan-persamaan yang mereka miliki. Bukan semakin mempertajam perbedaan yang ada, dengan menonjokan keberingasan. Kekerasan alias keberingasan tidak akan menyelesaikan persoalan dan tidak akan mampu menghapuskan perbedaan, karena melalui kekerasan masing-masing pihak akan memaksanakan pendapat dan keyakinannya.
Yang juga sangat disayangkan adalah peran pemerintah dan para penegak hukum di negeri ini, yang kurang bersikap tegas terhadap para pelaku kekerasan. Berulangnya peristiwa kekerasan antara lain disebabkan tindakan “setengah hati” dari penguasa negeri ini, yang terkesan membiarkan saja kekerasan demi kekerasan ini berlangsung. Sehingga seolah-olah memberi angin bagi para pencinta kekerasan untuk terus melaksanakan kegemarannya.
Lihat saja, bentrokan yang terjadi depan gedung pengadilan negeri Jakarta Pusat hari ini, dipicu oleh peristiwa saling ejek dan saling melecehkan (bahkan pemukulan) di depan majelis hakim yang sedang memimpin sidang dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab. Tindakan yang bisa dikategorikan menghina pengadilan (contempt of court) ini, dibiarkan terjadi berulangkali. Di mana wibawa pengadilan? Di mana wibawa hukum? Para pencinta kekerasan semakin merasa berada di atas angin, karena ulah mereka dibiarkan begitu saja.
Billy Soemawisastra
Ada Sepotong Surga di Gunung Patuha

Seperti inikah Surga? Hening. Berkabut. Ada cahaya putih yang sangat kuat, menelusup ke dalam dada. Namun susah ditembus pandangan mata. Berdiri di tepiannya, yang terasa hanyalah kebesaran Sang Pencipta. Dia tampaknya sengaja, menurunkan sepotong surga ke pojok semesta, agar kita bisa sedikit merasakan kenikmatannya, di atas dunia.
Surga ini terletak di ketinggian 2300 meter di atas permukaan laut. Tepatnya di puncak Gunung Patuha, sebelah selatan Bandung, Jawa Barat. Adalah Dr. Franz Wilhelm Junghun, seorang pengusaha perkebunan di zaman Hindia-Belanda, yang menemukan tempat ini pada tahun 1837. Sebelumnya, tak ada yang berani menjamah kawasan puncak Gunung Patuha, karena masyarakat setempat pun menyebutnya sebagai leuweung ganggong-simagonggong (hutan yang mustahil didatangi manusia); tempat para karuhun dari kahyangan mengadakan pertemuan.
Penasaran dengan misteri yang menyelimuti “hutan terlarang” itu, dengan penuh keberanian Junghun menerobos hutan lebat Gunung Patuha, menyibak belukar membabat ilalang. Hingga akhirnya, ia temukan sebuah telaga berair putih, dengan kabut kelabu menari-nari di atasnya. Belakangan, Junghun, peranakan Jerman-Belanda itu, juga dikenal sebagai ahli lingkungan, karena kepeduliannya yang sangat tinggi akan kelestarian alam.
Telaga berair putih, yang kemudian disebut Kawah Putih itu, hakikatnya merupakan bekas kawah gunung berapi, yang muncul akibat letusan Gunung Patuha, sekitar abad 10-12. Meski telah ditemukan sejak 1837, namun masyarakat luas baru mengenalnya mulai tahun 1987, setelah PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten, mengelola kawasan ini sebagai salah satu obyek wisata di wilayah Kabupaten Bandung.
Obyek wisata ini selalu ramai dikunjungi orang, terutama di akhir pekan. Bukan cuma untuk menikmati keindahan Kawah Putih, tetapi juga untuk mandi air panas belerang, yang dialirkan dari salah satu kawah yang ada di kawasan ini. Bukan. Air panas itu bukan dari Kawah Putih, karena air di telaga Kawah Putih teramat dingin tatkala kita sentuh. Sedingin udara di sekitarnya, yang hanya beberapa derajat di atas nol. Sesekali ada angin yang sangat keras menerpa tubuh, memercikkan butiran-butiran es, bagaikan hujan salju.
Jika Anda berkunjung ke Kawah Putih, yang terletak di kawasan Ciwidey, sekitar 46 kilometer dari pusat kota Bandung, cobalah berdiri sejenak di tepi kawah. Tebarkan pandangan mata Anda ke arah kabut yang nyaris menutupi seluruh tepian telaga. Rasakan keindahannya. Anda akan menyaksikan sebuah lukisan alam yang sangat indah, yang keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Lukisan Sang Murbeng Alam, yang terbentang begitu luas, seakan tak berbatas cakrawala. Tanpa terasa kita akan menyebut namaNya dengan penuh kekaguman. Pada saat itu pula kita akan semakin sadar bahwa manusia ini teramat kerdil di tengah kebesaranNya.
Hanya beberapa detik, kita akan merasakan keheningan yang amat sangat. Keheningan yang penuh kedamaian. Di tengah kedamaian itu, kita seakan tidak merasakan keinginan apapun. Yang ada hanya rasa syukur tak terhingga kepada Sang Pencipta. Seperti inikah Surga? Kita pun merasa bukan apa-apa, karena kita hanyalah milikNya.
“Dan milik Allah-lah segala sesuatu yang terdapat di seantero langit dan bumi, dan Allah-lah Yang Menguasai segalanya. Sesungguhnya, dalam proses penciptaan langit dan bumi, serta dalam proses pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal. Orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring, seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, tidak sia-sialah segala sesuatu yang telah Engkau Ciptakan. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari siksa neraka’.” (Al-Quran, Surat Ali-Imran [3] ayat 189-191).
Billy Soemawisastra
[Foto di atas adalah foto saya sendiri, hasil "jepretan" keponakan saya, Budi, yang hobi fotografi]
{Bila ingin membaca informasi lebih lengkap tentang Kawah Putih, silakan kunjungi: www.pbase.com, www.bandungtotal.com, www.kapanlagi.com, www.bandungtourism.com}
Mengingat Kematian di Hari Ulang Tahun
Sebuah acara perayaan ulang tahun yang cukup unik baru saja berlangsung. Perayaan itu terjadi pada hari Jum’at dinihari, 29 Agustus 2008, pukul nol-nol lewat sekian menit, di sebuah pelataran vila di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Yang merayakannya adalah seorang ulama modern pejuang pluralisme, pembela hak-hak kaum tertindas dan minoritas, pencinta kaum papa alias para mustadh’afin.
Dia juga seorang ilmuwan, yang memiliki kompetensi tinggi di bidang ilmu komunikasi dan psikologi. Pengajar di berbagai perguruan tinggi terkemuka, dan pimpinan sekaligus pemilik sekolah untuk orang-orang miskin yang berlokasi di Bandung Jawa Barat. Ulama itu adalah K.H. Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat, yang dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 29 Agustus 1949.
KH. Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat.
Di tengah dinginnya udara pegunungan yang nyaris “menusuk tulang”, Kang Jalal (demikian ia akrab dipanggil) memperoleh ucapan selamat dari para muridnya yang berdatangan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (termasuk beberapa orang Kiyai). Kebetulan atau tidak kebetulan, di tempat itu juga sedang berlangsung in house training untuk para pengurus IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia).
Ucapan selamat serta hadiah ulang tahun yang diberikan para muridnya, cukup beragam. Ada yang memberikan hadiah berupa pembacaan puisi yang ditulisnya sendiri. Ada yang melantunkan nyanyian gubahan Kang jalal, tanpa musik (namun bukan berarti antimusik, melainkan lantaran panitia, agaknya, lupa mempersiapkan alat musik). Ada juga yang memberikan hadiah berupa jas berbahan tenun ikat tradisional (yang langsung dikenakan Kang Jalal). Tetapi yang terbanyak adalah yang tidak memberikan hadiah apapun, kecuali sekedar ucapan selamat. Salah satu di antaranya, saya.
Setelah memotong kue ulang tahun.
Mendapat ucapan selamat dari sobat seperjuangan
Lalu shalawat pun dilantunkan oleh hadirin, dengan suara rendah, penuh khidmat dan rasa hormat. Shalawat bagi pimpinan umat, Rasulullah Muhammad SAWW. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa-aali Muhammad (Ya Allah, limpahkanlah shalawat bagi Muhammad, dan keluarga Muhammad). Dan, beberapa saat menjelang acara tiupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun, hadirin menyanyikan lagu Happy Birthday, bersama-sama.
Acara belum berakhir sampai di situ, karena masih ada ceramah atau renungan ulang tahun, yang disampaikan sang empunya hajat, K.H. Jalaluddin Rakhmat. Ceramahnya adalah tentang makna kematian, dan tentang bagaimana kita menghadapi dan mempersiapkan kematian. Ulang tahun, menurut Kang jalal, sebenarnya merupakan pertanda bahwa kita semakin mendekati kematian. Karena usia kita, hakikatnya, semakin berkurang, bukan bertambah.
Kematian adalah sesuatu yang sangat pasti akan ditemui makhluk hidup, sebagai bagian dari kehidupannya. Itu sebabnya, kata Kang Jalal, manusia sebagai makhluk hidup harus senantiasa mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, kita semakin menghormati kehidupan. Kalimat terakhir itu dikutipnya dari ucapan salah seorang filsuf eksistensialis Jerman, Martin Heidegger.
Berceramah tentang makna kematian.
Mengutip Martin Heidegger.
Jalaluddin Rakhmat, yang pernah menulis buku: Memaknai Kematian (terbitan: Pustaka Iman), lalu melanjutkan bahwa lantaran kematian itu sesuatu yang pasti, kita tidak hanya dituntut mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Tetapi juga, kalau bisa, memilih cara kematian itu terjadi. Cara kematian yang terhormat, punya makna bagi kehidupan orang lain. Bukan kematian yang sia-sia dan tidak bermakna, seperti kematian seorang pengecut. “Berani menghadapi kematian, sama artinya dengan berani menantang kehidupan,” ujar Kang Jalal.
Puasa sebagai Latihan Memaknai Kematian.
Kang Jalal tak lupa mengaitkan makna kematian dengan ibadah puasa Ramadhan, karena ulang tahunnya kali ini hanya selang beberapa hari menjelang Ramadhan. Ibadah puasa, menurut Kiyai Pluralis ini, bisa menjadi sarana untuk mengingat kematian, baik kematian kita sendiri maupun kematian orang lain.
Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama beribadah puasa, akan mengingatkan kita betapa menderitanya orang-orang yang kelaparan di sekitar kita. Di antara para penderita kelaparan itu, tak sedikit yang akhirnya menemui kematian, lantaran lapar yang tak tertahankan. Dengan demikian, kita semakin menyadari betapa berharganya kehidupan yang sedang kita jalani. Kita pun lalu tergerak untuk menolong orang-orang lapar, fakir-miskin, anak-anak yatim, para mustadh’afin. Menolong mereka dari kematian yang sia-sia.
K.H. Jalaluddin Rakhmat, yang sebagian besar kesibukannya dibaktikan untuk mendampingi kaum mustadh’afin itu, mengajak hadirin yang ikut merayakan ulang-tahunnya, agar mengisi bulan Ramadhan dengan menolong fakir-miskin dan anak yatim. Meskipun hanya sekedar memberi mereka makan, membebaskan mereka dari kelaparan.
Bersama seorang kiyai dari Jawa Timur.
Acara ulang tahun Kang Jalal ke-59 itu, kemudian diakhiri dengan membagi-bagi kue ulang tahun kepada seluruh hadirin. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 3:00 menjelang subuh. Udara dingin semakin merasuk tulang. Untungnya ada kambing guling yang bisa sedikit menghangatkan tubuh, yang disantap hadirin sambil mengitari seonggok api unggun.
Selamat ulang tahun, Kang Jalal. Semoga panjang usia dan sehat senantiasa. Umat masih membutuhkan Anda. Semoga tahun depan dan tahun depannya lagi kita masih bisa merayakan ulang tahun Anda bersama-sama. Seraya mempersiapkan hari-hari kematian kita. Seraya menjalani proses penyucian dosa, dengan menolong kaum papa yang tak punya daya. Semoga.
Billy Soemawisastra
Ramadhan
Ramadhan itu datang lagi. Bulan kesembilan dalam hitungan tahun Qomariyah (Hijriyah), yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu sebagian besar umat Islam, terutama para sufi dan orang-orang shaleh yang ikhlas beragama. Orang-orang inilah yang sangat bersukacita menyambut Ramadhan, dan menangis di kala bulan suci itu berakhir, karena khawatir tak jumpa lagi dengan Ramadhan.
Bulan Ramadhan, merupakan momentum teramat penting bagi setiap Muslim, untuk “sejenak” menghindarkan diri dari berbagai keinginan duniawi, dan beramal shaleh sebanyak-banyaknya baik secara vertikal (mendekatkan diri kepada Allah) maupun secara horisontal (berbuat baik kepada sesama manusia). Tetapi mengapa harus menunggu Ramadhan untuk melakukan itu semua?
Tentu saja, upaya untuk meningkatkan ketaqwaan atau memperbanyak amal shaleh, bisa dilakukan setiap hari, bahkan setiap detik, tanpa harus menunggu Ramadhan. Tetapi manusia tampaknya membutuhkan terapi, atau semacam dorongan semangat khusus — yang dalam hal puasa Ramadhan — diberikan langsung oleh Tuhan. “Hai orang-orang beriman, telah tiba untukmu masa berpuasa, seperti yang pernah dialami orang-orang sebelummu, agar kalian bertaqwa,” demikian Firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 183.
Ayat suci tersebut menyiratkan bahwa tradisi berpuasa (yang diperintahkan Tuhan), bukan semata-mata milik orang Muslim. Manusia-manusia sebelumnya (seperti Yahudi dan Nasrani) juga memiliki tradisi berpuasa, sesuai tuntunan Kitab Suci mereka masing-masing. Itu artinya bahwa praktek berpuasa memang dibutuhkan manusia, untuk memelihara keseimbangan hidupnya. Puasa menjadi semacam oase tempat mengistirahatkan tubuh, hati dan pikiran manusia dari berbagai keinginan duniawi, setidaknya selama sebulan dalam setahun.
Dalam sebulan itu, tentunya bukan hanya rasa lapar dan haus yang harus dilatih. Bukan hanya nafsu syahwat yang harus dihindari. Tetapi juga rasa iri, dengki, benci, tamak, merasa diri paling benar, itu yang harus dikikis dari dalam diri. Sehingga yang tertinggal hanyalah rasa ikhlas, keinginan untuk saling berbagi dan saling menghargai, termasuk kebiasaan menghormati pendapat dan keyakinan orang lain.
Ramadhan adalah momentum yang paling baik untuk mengembangkan rasa cinta kepada sesama manusia, tanpa melihat asal-muasalnya, seraya mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh cintaNya. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Maafkan segala kesalahan.
Billy Soemawisastra
[Tulisan ini bisa dilihat pula di www.liputan6.com]












