Ramadhan
Ramadhan itu datang lagi. Bulan kesembilan dalam hitungan tahun Qomariyah (Hijriyah), yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu sebagian besar umat Islam, terutama para sufi dan orang-orang shaleh yang ikhlas beragama. Orang-orang inilah yang sangat bersukacita menyambut Ramadhan, dan menangis di kala bulan suci itu berakhir, karena khawatir tak jumpa lagi dengan Ramadhan.
Bulan Ramadhan, merupakan momentum teramat penting bagi setiap Muslim, untuk “sejenak” menghindarkan diri dari berbagai keinginan duniawi, dan beramal shaleh sebanyak-banyaknya baik secara vertikal (mendekatkan diri kepada Allah) maupun secara horisontal (berbuat baik kepada sesama manusia). Tetapi mengapa harus menunggu Ramadhan untuk melakukan itu semua?
Tentu saja, upaya untuk meningkatkan ketaqwaan atau memperbanyak amal shaleh, bisa dilakukan setiap hari, bahkan setiap detik, tanpa harus menunggu Ramadhan. Tetapi manusia tampaknya membutuhkan terapi, atau semacam dorongan semangat khusus — yang dalam hal puasa Ramadhan — diberikan langsung oleh Tuhan. “Hai orang-orang beriman, telah tiba untukmu masa berpuasa, seperti yang pernah dialami orang-orang sebelummu, agar kalian bertaqwa,” demikian Firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 183.
Ayat suci tersebut menyiratkan bahwa tradisi berpuasa (yang diperintahkan Tuhan), bukan semata-mata milik orang Muslim. Manusia-manusia sebelumnya (seperti Yahudi dan Nasrani) juga memiliki tradisi berpuasa, sesuai tuntunan Kitab Suci mereka masing-masing. Itu artinya bahwa praktek berpuasa memang dibutuhkan manusia, untuk memelihara keseimbangan hidupnya. Puasa menjadi semacam oase tempat mengistirahatkan tubuh, hati dan pikiran manusia dari berbagai keinginan duniawi, setidaknya selama sebulan dalam setahun.
Dalam sebulan itu, tentunya bukan hanya rasa lapar dan haus yang harus dilatih. Bukan hanya nafsu syahwat yang harus dihindari. Tetapi juga rasa iri, dengki, benci, tamak, merasa diri paling benar, itu yang harus dikikis dari dalam diri. Sehingga yang tertinggal hanyalah rasa ikhlas, keinginan untuk saling berbagi dan saling menghargai, termasuk kebiasaan menghormati pendapat dan keyakinan orang lain.
Ramadhan adalah momentum yang paling baik untuk mengembangkan rasa cinta kepada sesama manusia, tanpa melihat asal-muasalnya, seraya mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh cintaNya. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Maafkan segala kesalahan.
Billy Soemawisastra
[Tulisan ini bisa dilihat pula di www.liputan6.com]






