Sebuah acara perayaan ulang tahun yang cukup unik baru saja berlangsung. Perayaan itu terjadi pada hari Jum’at dinihari, 29 Agustus 2008, pukul nol-nol lewat sekian menit, di sebuah pelataran vila di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Yang merayakannya adalah seorang ulama modern pejuang pluralisme, pembela hak-hak kaum tertindas dan minoritas, pencinta kaum papa alias para mustadh’afin.
Dia juga seorang ilmuwan, yang memiliki kompetensi tinggi di bidang ilmu komunikasi dan psikologi. Pengajar di berbagai perguruan tinggi terkemuka, dan pimpinan sekaligus pemilik sekolah untuk orang-orang miskin yang berlokasi di Bandung Jawa Barat. Ulama itu adalah K.H. Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat, yang dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 29 Agustus 1949.
KH. Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat.
Di tengah dinginnya udara pegunungan yang nyaris “menusuk tulang”, Kang Jalal (demikian ia akrab dipanggil) memperoleh ucapan selamat dari para muridnya yang berdatangan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (termasuk beberapa orang Kiyai). Kebetulan atau tidak kebetulan, di tempat itu juga sedang berlangsung in house training untuk para pengurus IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia).
Ucapan selamat serta hadiah ulang tahun yang diberikan para muridnya, cukup beragam. Ada yang memberikan hadiah berupa pembacaan puisi yang ditulisnya sendiri. Ada yang melantunkan nyanyian gubahan Kang jalal, tanpa musik (namun bukan berarti antimusik, melainkan lantaran panitia, agaknya, lupa mempersiapkan alat musik). Ada juga yang memberikan hadiah berupa jas berbahan tenun ikat tradisional (yang langsung dikenakan Kang Jalal). Tetapi yang terbanyak adalah yang tidak memberikan hadiah apapun, kecuali sekedar ucapan selamat. Salah satu di antaranya, saya.
Setelah memotong kue ulang tahun.
Mendapat ucapan selamat dari sobat seperjuangan
Lalu shalawat pun dilantunkan oleh hadirin, dengan suara rendah, penuh khidmat dan rasa hormat. Shalawat bagi pimpinan umat, Rasulullah Muhammad SAWW. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa-aali Muhammad (Ya Allah, limpahkanlah shalawat bagi Muhammad, dan keluarga Muhammad). Dan, beberapa saat menjelang acara tiupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun, hadirin menyanyikan lagu Happy Birthday, bersama-sama.
Acara belum berakhir sampai di situ, karena masih ada ceramah atau renungan ulang tahun, yang disampaikan sang empunya hajat, K.H. Jalaluddin Rakhmat. Ceramahnya adalah tentang makna kematian, dan tentang bagaimana kita menghadapi dan mempersiapkan kematian. Ulang tahun, menurut Kang jalal, sebenarnya merupakan pertanda bahwa kita semakin mendekati kematian. Karena usia kita, hakikatnya, semakin berkurang, bukan bertambah.
Kematian adalah sesuatu yang sangat pasti akan ditemui makhluk hidup, sebagai bagian dari kehidupannya. Itu sebabnya, kata Kang Jalal, manusia sebagai makhluk hidup harus senantiasa mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, kita semakin menghormati kehidupan. Kalimat terakhir itu dikutipnya dari ucapan salah seorang filsuf eksistensialis Jerman, Martin Heidegger.
Berceramah tentang makna kematian.
Mengutip Martin Heidegger.
Jalaluddin Rakhmat, yang pernah menulis buku: Memaknai Kematian (terbitan: Pustaka Iman), lalu melanjutkan bahwa lantaran kematian itu sesuatu yang pasti, kita tidak hanya dituntut mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Tetapi juga, kalau bisa, memilih cara kematian itu terjadi. Cara kematian yang terhormat, punya makna bagi kehidupan orang lain. Bukan kematian yang sia-sia dan tidak bermakna, seperti kematian seorang pengecut. “Berani menghadapi kematian, sama artinya dengan berani menantang kehidupan,” ujar Kang Jalal.
Puasa sebagai Latihan Memaknai Kematian.
Kang Jalal tak lupa mengaitkan makna kematian dengan ibadah puasa Ramadhan, karena ulang tahunnya kali ini hanya selang beberapa hari menjelang Ramadhan. Ibadah puasa, menurut Kiyai Pluralis ini, bisa menjadi sarana untuk mengingat kematian, baik kematian kita sendiri maupun kematian orang lain.
Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama beribadah puasa, akan mengingatkan kita betapa menderitanya orang-orang yang kelaparan di sekitar kita. Di antara para penderita kelaparan itu, tak sedikit yang akhirnya menemui kematian, lantaran lapar yang tak tertahankan. Dengan demikian, kita semakin menyadari betapa berharganya kehidupan yang sedang kita jalani. Kita pun lalu tergerak untuk menolong orang-orang lapar, fakir-miskin, anak-anak yatim, para mustadh’afin. Menolong mereka dari kematian yang sia-sia.
K.H. Jalaluddin Rakhmat, yang sebagian besar kesibukannya dibaktikan untuk mendampingi kaum mustadh’afin itu, mengajak hadirin yang ikut merayakan ulang-tahunnya, agar mengisi bulan Ramadhan dengan menolong fakir-miskin dan anak yatim. Meskipun hanya sekedar memberi mereka makan, membebaskan mereka dari kelaparan.
Bersama seorang kiyai dari Jawa Timur.
Acara ulang tahun Kang Jalal ke-59 itu, kemudian diakhiri dengan membagi-bagi kue ulang tahun kepada seluruh hadirin. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 3:00 menjelang subuh. Udara dingin semakin merasuk tulang. Untungnya ada kambing guling yang bisa sedikit menghangatkan tubuh, yang disantap hadirin sambil mengitari seonggok api unggun.
Selamat ulang tahun, Kang Jalal. Semoga panjang usia dan sehat senantiasa. Umat masih membutuhkan Anda. Semoga tahun depan dan tahun depannya lagi kita masih bisa merayakan ulang tahun Anda bersama-sama. Seraya mempersiapkan hari-hari kematian kita. Seraya menjalani proses penyucian dosa, dengan menolong kaum papa yang tak punya daya. Semoga.
Billy Soemawisastra






Selamat ultah. Semoga keberkahan senantiasa Allah curahkan hingga bisa terus membimbing umat di jalanNya. Amien. Thx juga Abah Kuncen buat liputan eksklusifnya.
Pak Billy, saya ingin sedikit mengabarkan bahwa putera kedua saya telah lahir, laki laki, sehat, dengan nama Galang Wisesa Putro. Terima kasih pak atas bantuan dan nasehatnya soal nama.
Mas Handaru, selamat ya atas kelahiran putera keduanya. Semoga Galang Wisesa Putro akan menjadi anak laki-laki yang gagah perkasa, sesuai nama yang diberikan ayahnya. Karena wisesa, juga berarti gagah perkasa. Jika digabungkan dengan nama ayahnya: Galang Wisesa Putro Handaru, maka artinya menjadi(kira-kira): laki-laki pemimpin gagah perkasa yang sangat berpengaruh. Menurut kamus bahasa Sunda, handaru itu merupakan sifat angin dan guntur yang sangat dahsyat, sehingga bisa diartikan sebagai “sangat berpengaruh”. Mudah-mudahan Galang Wisesa akan menjadi salah satu pemimpin bangsa Indonesia masa mendatang, untuk menggantikan pemimpin-pemimpin sekarang yang “miskin leadership”. Kata para ulama, pemberian nama dari orangtua untuk anaknya, adalah do’a. Maka Mas Handaru pun telah memberikan do’a yang sangat baik untuk sang putra. Sekali lagi selamat untuk Anda sekeluarga. Saya ikut berbahagia.
AMIN PAK BILLY. SUKSES BUAT BAPAK. KALO MAU MAIN KE JOGJA KONTAK SAYA YA PAK.