Ada Sepotong Surga di Gunung Patuha

Seperti inikah Surga? Hening. Berkabut. Ada cahaya putih yang sangat kuat, menelusup ke dalam dada. Namun susah ditembus pandangan mata. Berdiri di tepiannya, yang terasa hanyalah kebesaran Sang Pencipta. Dia tampaknya sengaja, menurunkan sepotong surga ke pojok semesta, agar kita bisa sedikit merasakan kenikmatannya, di atas dunia.

Surga ini terletak di ketinggian 2300 meter di atas permukaan laut. Tepatnya di puncak Gunung Patuha, sebelah selatan Bandung, Jawa Barat. Adalah Dr. Franz Wilhelm Junghun, seorang pengusaha perkebunan di zaman Hindia-Belanda, yang menemukan tempat ini pada tahun 1837. Sebelumnya, tak ada yang berani menjamah kawasan puncak Gunung Patuha, karena masyarakat setempat pun menyebutnya sebagai leuweung ganggong-simagonggong (hutan yang mustahil didatangi manusia); tempat para karuhun dari kahyangan mengadakan pertemuan.

Penasaran dengan misteri yang menyelimuti “hutan terlarang” itu, dengan penuh keberanian Junghun menerobos hutan lebat Gunung Patuha, menyibak belukar membabat ilalang. Hingga akhirnya, ia temukan sebuah telaga berair putih, dengan kabut kelabu menari-nari di atasnya. Belakangan, Junghun, peranakan Jerman-Belanda itu, juga dikenal sebagai ahli lingkungan, karena kepeduliannya yang sangat tinggi akan kelestarian alam.

Telaga berair putih, yang kemudian disebut Kawah Putih itu, hakikatnya merupakan bekas kawah gunung berapi, yang muncul akibat letusan Gunung Patuha, sekitar abad 10-12. Meski telah ditemukan sejak 1837, namun masyarakat luas baru mengenalnya mulai tahun 1987, setelah PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten, mengelola kawasan ini sebagai salah satu obyek wisata di wilayah Kabupaten Bandung.

Obyek wisata ini selalu ramai dikunjungi orang, terutama di akhir pekan. Bukan cuma untuk menikmati keindahan Kawah Putih, tetapi juga untuk mandi air panas belerang, yang dialirkan dari salah satu kawah yang ada di kawasan ini. Bukan. Air panas itu bukan dari Kawah Putih, karena air di telaga Kawah Putih teramat dingin tatkala kita sentuh. Sedingin udara di sekitarnya, yang hanya beberapa derajat di atas nol. Sesekali ada angin yang sangat keras menerpa tubuh, memercikkan butiran-butiran es, bagaikan hujan salju.

Jika Anda berkunjung ke Kawah Putih, yang terletak di kawasan Ciwidey, sekitar 46 kilometer dari pusat kota Bandung, cobalah berdiri sejenak di tepi kawah. Tebarkan pandangan mata Anda ke arah kabut yang nyaris menutupi seluruh tepian telaga. Rasakan keindahannya. Anda akan menyaksikan sebuah lukisan alam yang sangat indah, yang keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Lukisan Sang Murbeng Alam, yang terbentang begitu luas, seakan tak berbatas cakrawala. Tanpa terasa kita akan menyebut namaNya dengan penuh kekaguman. Pada saat itu pula kita akan semakin sadar bahwa manusia ini teramat kerdil di tengah kebesaranNya.

Hanya beberapa detik, kita akan merasakan keheningan yang amat sangat. Keheningan yang penuh kedamaian. Di tengah kedamaian itu, kita seakan tidak merasakan keinginan apapun. Yang ada hanya rasa syukur tak terhingga kepada Sang Pencipta. Seperti inikah Surga? Kita pun merasa bukan apa-apa, karena kita hanyalah milikNya.

“Dan milik Allah-lah segala sesuatu yang terdapat di seantero langit dan bumi, dan Allah-lah Yang Menguasai segalanya. Sesungguhnya, dalam proses penciptaan langit dan bumi, serta dalam proses pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal. Orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring, seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, tidak sia-sialah segala sesuatu yang telah Engkau Ciptakan. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari siksa neraka’.” (Al-Quran, Surat Ali-Imran [3] ayat 189-191).

Billy Soemawisastra

[Foto di atas adalah foto saya sendiri, hasil "jepretan" keponakan saya, Budi, yang hobi fotografi]

{Bila ingin membaca informasi lebih lengkap tentang Kawah Putih, silakan kunjungi: www.pbase.com, www.bandungtotal.com, www.kapanlagi.com, www.bandungtourism.com}

This entry was posted in Meditasi, Wisata Sukma and tagged , , , , , , , , , by Billy Soemawisastra. Bookmark the permalink.

Tentang Billy Soemawisastra

Blog Jagat Alit mulai dipublikasikan di jagat maya pada 23 November 2007, dan hampir setahun kemudian, 7 Juli 2008, blog Alun-Alun (http://www.jagatalun.com) menyusul sebagai "penyeimbang" Jagat Alit. Ketika kedua blog ini diterbitkan, saya masih bekerja di Liputan 6 SCTV, sebagai Kepala Departemen Pendidikan & Pelatihan Pemberitaan (Head of News Training Department). Saya bergabung di stasiun televisi swasta terkemuka ini, sejak 1995, dengan posisi awal: produser, kemudian produser eksekutif. Di manajemen, saya pernah menduduki posisi Manajer Pemrosesan dan Penayangan (News Processing & Broadcast Manager), dan Senior Manager Program Khusus dan Mingguan (Senior Manager for Current Affairs & Special Programmes). Sebelum bergabung dengan SCTV, saya pernah menjadi produser pemberitaan di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia); Redaktur Pelaksana beberapa majalah keluarga; dan penyiar, reporter, redaktur Radio Arief Rachman Hakim (ARH). Pendidikan terakhir saya: Fakultas Ushuluddin (Theology) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) "Syarif Hidayatullah" Jakarta, dan pernah "nyantri" di Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Sejak 1 November 2009, saya resmi pensiun dari SCTV. Tetapi tentu saja saya tidak akan pernah pensiun dari pekerjaan saya sebagai jurnalis, penulis dan pengajar, selama Allah masih mengijinkan saya untuk melakukan semua itu. Sejak 2010, saya bersama isteri saya, mendirikan suatu lembaga training yang kami beri nama: BE Training (Beyond Expectation Training). Untuk mengetahui lebih jauh lembaga ini, silakan klik http://www.be-training.org.

7 thoughts on “Ada Sepotong Surga di Gunung Patuha

  1. Membaca posting Pak Billy aja saya udah merasa damai dan seakan2 ada di tempat itu langsung. Jadi tertarik banget buat ke sana. Mudah2an suatu saat diberi kesempatan oleh Nya buat berkunjung ke potongan surga itu. Amin.

  2. “Sebelumnya, tak ada yang berani menjamah kawasan puncak Gunung Patuha, karena masyarakat setempat pun menyebutnya sebagai leuweung ganggong-simagonggong (hutan yang mustahil didatangi manusia); tempat para karuhun dari kahyangan mengadakan pertemuan.”

    Saya sangat tertarik dengan tulisan diatas mengenai karuhun tetapi saya memaknai sebagai bagian pelestarian lingkungan hidup. Kita bisa lihat bagaimana kondisi tempat itu sekarang setelah mulai banyak dikunjungi orang dimana mulailah manusia yang berkunjung menambah kerusakan alam disana dengan berbagai macam sampah.

    Saya mencoba membandingkan antara pantai utara dengan pantai selatan Jawa. Pantai utara Jawa sudah banyak mengalami kerusakan lingkungan bahkan sudah parah karena sudah kurangnya perhatian terhadap lingkungan dan sudah tidak ada yang ditakuti dalam arti secara adat/budaya. Beda dengan pantai selatan yang terkenal dengan Ratu Kidul terlihat masih asri dan lingkungannya terjaga karena mitos yang mendalam tentang sosok Ratu Kidul , jadi mereka takut untuk berbuat macam-macam apalagi mencoba-coba merusaknya.

    Sudah pernah ke Pameungpeuk (Garut Selatan) terutama hutan Sancang 21 atau 9, disana juga masih asri karena masyarakat disana juga takut/menghormati budaya karuhun dimana tempat itu banyak ditinggali oleh karuhun dengan komunitas maungnya. Terima Kasih pak Billy atas tulisannya.

  3. Kang Erwin, terima kasih atas kunjungannya ke Jagat Alit. Saya setuju, mitos-mitos masyarakat di berbagai tempat secara tidak langsung berdampak positif pada upaya pelestarian lingkungan. Karena mitos-mitos itu sendiri, muncul sebagai bagian dari kearifan lokal, yang memang dimaklumatkan para karuhun agar masyarakat tidak merusak alam sekitar. Saya tertarik dengan cerita Anda tentang hutan Sancang di Pameungpeuk. Saya ingin tahu ceritanya lebih jauh. Bagaimana kalau Anda menuliskannya di blog Anda atau di Facebook. Waktu kecil, kakek saya sering cerita bahwa di hutan Sancang itulah Prabu Siliwangi ngahiang. Konon kalau “kawenehan”, masyarakat setempat bisa bertemu dengan Sang Prabu dalam ujud maung putih.

  4. Senang sekali membaca “surga” gunung patuha. Kalau ada waktu
    cukup (12 Okt saya mendarat) saya ingin berkunjung ke Ciwidey. Sang Pencipta Alam memberikan keindahan di mana mana termasuk kawah putih.Terima kasih atas informasinya.

  5. Allah telah menyingkapkan “betis” indahnya di Gunung patuha.
    Subhanallah.

    Selamat berkontemplasi Pak/akang Billy, semoga Bapak menemukan jalan pulang dengan selamat dan aman dari “para perampok di jalan Tuhan”

  6. Amin. Insyaallah saya akan selalu waspada terhadap “para perampok di jalan Tuhan”. Yang saya lakukan di Kawah Putih Gunung Patuha hanyalah bertafakur atas keindahan alam ciptaan Allah, sehingga saya pun merasakan “getar-getar” keagungan dan kesucianNya. Bukankah begitu banyak ayat suci dalam Al-Quran, yang mengimbau manusia agar selalu merenungkan semesta ciptaan Tuhan dan segala isinya, agar kita selalu ingat padaNya? Terima kasih atas komentarnya, Mas Ahmad.

  7. Mencerahkan sekali membaca catatan perjalanan pak billy, benar-benar saya merasakan langsung gejolak perasaan syukur yang tak mungkin dapat dibendung.

    walaupun sebenarnya saya sedikit kecewa. Kenapa selalu orang asing-lah yang berhasil menemukan daerah-daerah lokal dengan kemegahanNya yang luar biasa itu. Semoga kelak generasi muda di masa mendatanglah yang menjadi pionernya bahkan menjaga kelestariannya. amien

    akhir kata, mohon ijin tukar link, betapa bahagianya saya bisa menemukan penulis pluralitas dengan ketinggian pengalaman spiritual seperti anda.

    salam hangat dari saya
    -ibnu trisna-

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s