Kesucian Ramadhan Dinodai Aksi Kekerasan


Ramadhan adalah bulan suci, bulan penuh kasih (rahmat) dan ampunan (maghfirah). Bulan yang harus diisi dengan kasih-sayang dan saling memaafkan. Bulan yang disediakan bagi umat Islam untuk berlatih menahan diri, lahir dan batin. Bukan hanya berlatih menahan lapar, haus dan nafsu syahwat. Tetapi juga berlatih menahan kemarahan, mengusir kebencian, meningkatkan toleransi, menghargai keberagaman, melenyapkan dendam dan menghapuskan permusuhan. Yang tersisa di bulan Ramadhan ini seharusnya adalah rasa saling kasih-mengasihi antar-sesama manusia, meningkatnya kepedulian terhadap masyarakat miskin, yang lemah, yang tertindas, yang tidak punya daya-upaya untuk menolong dirinya. Semua penganut agama Islam tahu itu, karena tuntunan Ramadhan begitu jelas dan gamblang terurai dalam Al-Quran dan Sunnah.

Tetapi apa yang terjadi di bulan Ramadhan 1429 Hijriyah ini? Dua kelompok masyarakat yang sama-sama mengatasnamakan Islam, yakni AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) dengan bantuan Banser Gus Nuril, berhadap-hadapan dengan FPI (Front Pembebasan Islam) dalam kondisi sama-sama penuh kebencian. Kedua kelompok ini saling melempar batu di tengah keramaian jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk Jakarta Pusat. Aksi kekerasan ini tidak hanya disaksikan oleh para karyawan yang bekerja di berbagai perkantoran di kawasan tersebut, tetapi juga dimonitor oleh jutaan pemirsa televisi di seluruh Indonesia, setelah peristiwa itu ditayangkan melalui stasiun-stasiun televisi nasional.

Korban bentrokan FPI-AKKBB, 25/9/08. (Detiknews.com)

Aksi kekerasan ini merupakan “lanjutan” dari tragedi monas bulan Juni lalu. Dan, ini merupakan aksi kekerasan atas nama Islam, yang untuk kesekian kalinya berlangsung di negeri kita. Wajah Islam pun semakin coreng-moreng, sehingga sulit untuk menghapus kesan bahwa Islam identik dengan kekerasan. Ironisnya, aksi kekerasan kali ini justru terjadi di bulan Ramadhan, saat seluruh kaum Muslimin semestinya larut dalam kegiatan ibadah. Ibadah ritual maupun ibadah sosial.

Ibadah ritual adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah, melalui ritual-ritual keagamaan seperti shalat, zikir dan i’tiqaf. Sedangkan ibadah sosial, selain berupa kegiatan mencari nafkah yang halal untuk keluarga, adalah juga menolong fakir miskin. Anda tentu belum lupa dengan peristiwa di Pasuruan, di bulan Ramadhan ini juga, ketika puluhan orang miskin tewas terinjak-injak sesamanya, hanya untuk memperoleh pembagian zakat dari seorang “dermawan” sebanyak 20 ribu rupiah per orang. Ini menandakan bahwa jumlah orang yang sangat miskin di negeri ini, masih teramat banyak.

Kalau saja para pemimpin ormas islam menyadari hal ini, seyogianya mereka menggerakkan kekuatan massanya yang kelebihan energi itu, untuk mendatangi perkampungan-perkampungan orang miskin guna membantu mereka meningkatkan kesejahteraan, menolong mereka dari ancaman kelaparan. Bukan untuk saling melempar batu di tengah kota, tanpa rasa malu sedikit pun. Mungkin akan lebih baik bila ormas-ormas Islam yang tengah saling berseteru itu, melakukan “gencatan senjata” sebulan saja di bulan penuh kasih ini, untuk saling bahu-membahu membantu saudara-saudaranya yang masih dililit kemiskinan. Lalu di mana rasa hormat mereka terhadap bulan Ramadhan, yang (mereka pun tahu) merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan?

Kekerasan demi kekerasan atas nama agama Islam akan terus terjadi di negeri ini, bila para pemimpin umat tidak mampu menahan diri. Tidak mampu untuk duduk bermusyawarah, dengan mengedepankan persamaan-persamaan yang mereka miliki. Bukan semakin mempertajam perbedaan yang ada, dengan menonjokan keberingasan. Kekerasan alias keberingasan tidak akan menyelesaikan persoalan dan tidak akan mampu menghapuskan perbedaan, karena melalui kekerasan masing-masing pihak akan memaksanakan pendapat dan keyakinannya.

Yang juga sangat disayangkan adalah peran pemerintah dan para penegak hukum di negeri ini, yang kurang bersikap tegas terhadap para pelaku kekerasan. Berulangnya peristiwa kekerasan antara lain disebabkan tindakan “setengah hati” dari penguasa negeri ini, yang terkesan membiarkan saja kekerasan demi kekerasan ini berlangsung. Sehingga seolah-olah memberi angin bagi para pencinta kekerasan untuk terus melaksanakan kegemarannya.

Lihat saja, bentrokan yang terjadi depan gedung pengadilan negeri Jakarta Pusat hari ini, dipicu oleh peristiwa saling ejek dan saling melecehkan (bahkan pemukulan) di depan majelis hakim yang sedang memimpin sidang dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab. Tindakan yang bisa dikategorikan menghina pengadilan (contempt of court) ini, dibiarkan terjadi berulangkali. Di mana wibawa pengadilan? Di mana wibawa hukum? Para pencinta kekerasan semakin merasa berada di atas angin, karena ulah mereka dibiarkan begitu saja.

Billy Soemawisastra

About these ads

4 responses to “Kesucian Ramadhan Dinodai Aksi Kekerasan

  1. Seandainya Allah pada saat memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk melakukan puasa bulan Ramadhan itu disertai dengan puasa berbicara (bisu) selama 3 kali saja (1 kali dalam 10 hari pertama, kedua dan ketiga) supaya umat Islam untuk bertafakur/berbicara dengan hati nuraninya sendiri, mungkin akan berkurang terjadinya ketersinggungan, kemarahan, ketidaksukaan dan kebencian yang berakibat kepada kekerasan sesama umat Islam maupun umat manusia. Maka perlu dipertanyakan kembali kepada kita semua yang beragama Islam : Apa yang saya dapat selama melakukan puasa di bulan Ramadhan? Seandainya surga/neraka tidak diciptakan oleh Allah apakah mereka yang merasa paling benar tetap akan melakukan jihad seperti yang dibayangkan mereka? Dan perlu diingat Arab itu tidak identik dengan Islam. Seandainya nabi/rasul turun di Sunda/Jawa Barat. Pasti mereka akan bergaya/berbahasa Sunda……??? Ironis

  2. Lebih ironis lagi yang saling ejek dan “perang” tersebut menyandang nama organisasinya sebagai pembela sebuah agama dan kebebasan untuk berkeyakinan.jelaslah mereka belum “agamis’ baru merasa mempunyai agama.Tragisnya para pentolannya tidak mampu untuk “menceramahi” pengikutnya supaya tidak anarkis dan mengikuti petunjuk yang benar sesuai ajaran yang yang dimiliki. Dengan kata lain para sesepuhnya tidaak berhasil menjelaskan apa sebetulnya esensi dari agama yang dianutnya.Dramatisnya hal-hal seperti ini selalu terjadi dan terjadi, sepertinya ada’ pembenaran” karena ada apa ya?

  3. Maaf, kami tidak mengomentari topik. Cuma mau konfirmasi, apakah Billy Soemawisastra penulis Bloger ini pernah bertugas di SCTV ?? Maaf dan terima kasih ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s