Memaafkan dan Mengampuni
Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya?
Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, dan menyengsarakan kita lahir batin.
Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa mengatakan pada saya, bahwa beban hidup yang amat berat (nyaris tak tertanggungkan) akan dialami oleh orang yang tidak mampu memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Seorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, biasanya ia juga akan mudah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan sekecil apa pun. Beban berat orang yang tidak mampu memberikan maaf dan pengampunan, akan menjadi beban jiwa. Beban jiwa yang berat akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Baik raga, mental, maupun pikiran. Sedikit demi sedikit, kesehatan fisik dan mental pun akan terganggu tergerogoti.
“Jika kamu mampu meminta maaf, memberikan maaf, dan pengampunan secara tulus, maka hidup dan beban jiwamu akan ringan seringan kapas” katanya kala itu.
Mengapa orang harus meminta dan memberikan maaf?
Atau mengapa orang harus meminta ampun dan memberikan pengampunan?
Memaafkan dan mengampuni, memiliki substansi makna yang kurang lebih sama. Keduanya sama-sama merupakan wujud ekspresi rohani manusia beradab ber-Ketuhanan.
Meminta dan memberi maaf, mohon ampun dan memberikan pengampunan, adalah refleksi ungkapan kerendahan hati manusia beriman yang siap mengakui kelemahan diri di hadapan manusia dan SANG PENCIPTA. Di dalamnya terkandung keinginan tobat memperbaiki diri. Manusia pun menjadi putih bersih laksana terlahir kembali seperti sediakala sebagai CITRA YANG MAHAKUASA.
Kesadaran rohani inilah yang membedakan tingkat keimanan seseorang. Kesadaran spiritual ini seharusnya terus dipupuk dan dibangun setiap detik, setiap saat, setiap waktu, terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari diri.
Meminta maaf dan memberikan permaafan – juga meminta ampun dan memberikan pengampunan tanpa syarat, membutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan kesiapan mental luar biasa. Untuk meminta maaf, orang harus merelakan dirinya dalam posisi lebih rendah dari orang lain. Demikian pula ketika orang memberikan pengampunan. Ia dalam posisi amat berkuasa.
Godaan amat besar ada pada posisi orang yang mempunyai kekuasaan besar dan posisi lebih tinggi. Tak semua orang mampu melaksanakannya! Kemampuan meminta dan memberikan maaf, dan juga pengampunan, merupakan simbol perwujudan keimanan kepada SANG HYANG PEMBERI HIDUP yang terdalam.
Permaafan dan pengampunan sejati tidak membutuhkan syarat. Jadi tidak berlaku istilah: “Minta maaf saja tidak cukup!” atau “Ok. Kali ini saya maafkan tapi besok lagi tidak!” dan banyak lagi ungkapan pemberian maaf disertai dengan syarat-syarat dan kata-kata negasi. “Saya maafkan tetapi….”
Meminta maaf, memberikan maaf dan pengampunan adalah final tanpa syarat. Permaafan dan pengampunan mestinya selebar dan seluas samudera tanpa batas.
Dendam Seolah Menjadi Tren Hidup.
Di lingkungan masyarakat kita, dendam seperti membudaya. Konflik sosial begitu mudahnya berkobar. Tawuran anak sekolah, mahasiswa, antarwarga desa, antarkelompok yang mengatas namakan agama. Ada juga pelayan dendam kepada majikan. Atau juragan enggan meminta maaf kepada pembantu. Istri memendam dendam kepada suami. Sampai-sampai ada istilah: cacian dibalas dengan makian, mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti darah, atau nyawa ganti nyawa. Suatu kebiasaan hidup gaya barbar, cerminan manusia tak berbudaya, tak beradab, dan tak ber-Tuhan.
Ajaran antikekerasan dan prinsip ajaran welas asih berumur ribuan tahun lampau yang menyatakan bahwa jika kamu ditampar pipi kirimu, berikanlah juga pipi kananmu jadi terasa amat ekstrim mengada-ada. Mana mungkin itu dilakukan. Hari gini, gitu loh?
Tapi itulah welas asih yang penuh dengan bangunan keharmonisan hidup. Tindakan kekerasan yang dulu sering digambarkan sebagai jalan pedang hanya akan menimbulkan dendam dan kekerasan baru.
Tradisi saling maaf-memaafkan dan saling mengampuni diajarkan oleh semua agama dan ajaran-ajaran kebijaksanaan tentang hidup modern yang berkeadaban. Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, memberikan maaf, mohon ampun, dan memberikan pengampunan.
Sudahkah Anda meminta maaf, memberikan maaf, dan memberikan pengampunan pada musuh Anda sekarang?
Mohon maaf jika ada kesalahan.
Vincent Hakim Roosadhy
Memberi dan Menerima
Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis. Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur, tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung, 21 nyawa melayang sekaligus, akibat terinjak-injak dan kehabisan oksigen, karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.
Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat 20 ribu rupiah amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita.
Ketika orang-orang pintar, para pejabat publik dan politik, pakar statistik dan lain sebagainya berdebat soal apa itu kemiskinan, tentang jumlah orang miskin, dan masalah kriteria orang miskin-kemiskinan, sejatinya kaum miskin tidak peduli! Orang miskin lebih peduli memikirkan
Juga ketika para calon presiden yang gencar berkampanye dan presiden yang sedang berkuasa “ribut” soal jumlah orang miskin dan kriteria orang miskin. Orang-orang miskin tetap saja nggak mau tahu! Orang miskin lebih peduli memikirkan bagaimana hari ini bisa membeli sembako murah, beli minyak tanah murah, dan bisa membayar sekolah anak-anak (syukur-syukur sekolah gratis). Biaya pendidikan sekarang sudah nggak masuk akal! Nggak usah yang sekolah unggulan, sekolah standar saja mahal – duit lagi, duit lagi.
Jangan dikira wong cilik bisa terus menerus dibodohi! Meski masih banyak juga yang bodoh dan mudah dibodohi (kebanyakan karena tuntutan kondisi). Orang miskin yang “normal” akan malu jika harus mengemis, meminta, mengantri bantuan pada orang lain. Bahkan untuk sekadar meminjam uang pun, rasanya malu. Tapi kondisi yang benar-benar miskin sering memaksa orang harus melakukan sesuatu (agak mengabaikan perasaan malu).
Kini sebagian kaum miskin sudah mulai sadar politik, dan sadar informasi. Maka mereka tahu, bahwa golongan “wong kere” – wong cilik hanya dijadikan objek massa politik atau sasaran untuk mendongkrak popularitas diri orang berkuasa dan berduit agar dipandang orang lain.
Memberi dan menerima. Apa itu? Saya teringat kata-kata bijak yang telah berumur ribuan tahun, tapi masih sangat relevan untuk masa kini (terlebih di masa Ramadhan ini): “Jika engkau memberikan sesuatu kepada orang lain (dengan tangan kananmu), jangan sampai tangan kirimu tahu. Biarkan Yang Maha Kuasa saja yang layak mengetahuinya”
Memberi memiliki dimensi personal, sosial, dan spiritual (vertikal-horisontal). Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa belas kasihan dan penuh keikhlasan. Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain karena tuntutan dari dalam diri, bahwa ia memang harus memberi. Tindakan memberi bagi manusia pemberi sejati, adalah refleksi keimanan pada SANG PENCIPTA yang juga adalah SANG PEMBERI SEJATI tanpa pamrih.
Jadi tak ada motivasi secuil pun bagi seorang pemberi sejati, bahwa tindakannya itu agar mendapatkan balasan, imbalan, dilihat orang, atau pujian orang. Maka janganlah heran, jika ada seorang pemberi sejati harus bersusah payah agar bisa memberikan dirinya kepada orang lain tanpa pamrih. Bahkan kadang harus melawan arus, dibenci orang, dan kadang berhadapan dengan maut.
Ada kepuasan batin yang mendalam bagi seorang pemberi sejati, ketika ia bisa memberikan sesuatu bagi orang lain yang membutuhkan. Inilah perwujudan aktualisasi diri seorang pemberi sejati. Bagi seorang pemberi sejati, ketika ia memberikan sesuatu sebenarnya ia pun telah menerima sesuatu. Manusia pemberi sejati memiliki tingkat spiritual lebih tinggi dari pada manusia penerima.
Bagaimana dengan manusia penerima? Seorang penerima memiliki tanggung jawab untuk berterima kasih dan bersyukur. Berterima kasih dan bersyukur itu tidak mudah. Tak banyak orang yang bisa berterima kasih dan bersyukur dengan tulus dan bertanggung jawab. Kita tahu, banyak orang terlibat korupsi. Kita tahu, banyak orang penting yang dulu bukan siapa-siapa tapi sekarang berlagak jadi penguasa tanpa tanding. Kita tahu banyak orang suka mengeluh hidupnya susah, padahal banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih susah.
Seorang penerima pada saatnya nanti harus pula menjadi manusia pemberi sejati. Salah satu contoh manusia penerima yang kemudian menjadi sang pemberi sejati adalah tokoh spiritual dunia Siddharta Gautama. Setelah menerima pencerahan dari Yang MahaKuasa, Sidharta Gautama pun menjadi manusia Buddha (Yang Tercerahkan) dan memberikan diri sepenuhnya bagi orang lain.
Eyangnya musik jazz yang baru saja manggung duet dengan George Benson di Jakarta (14/9/08) Al Jarreau berujar, “Jika kamu memberikan apa pun yang kamu miliki (sesuai dengan profesi dan keahlian masing-masing) secara tulus dan total, maka kamu akan menerima kebahagiaan.” Al Jarreau dan George Benson telah puluhan kali menerima berbagai penghargaan bergengsi di bidang musik jazz, pop-soul R&B dan kemarin mereka memberikan hiburan dan kebahagiaan bagi para penggemar jazz.
Jadi sudahkah kita menjadi seorang pemberi sejati hari ini?
Vincent Hakim Roosadhy






