Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1430 Hijriyah

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 Hijriyah, kali ini diapit dua hari besar internasional, yakni Hari Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tentu saja ini merupakan fenomena alam yang lumrah, mengingat perhitungan tarikh Hijriyah dengan tarikh Masehi, memiliki selisih sebelas hari setiap tahunnya. Ini lantaran masing-masing tarikh, menggunakan patokan yang berbeda. Tahun Masehi dihitung berdasarkan peredaran matahari (solar system) sedangkan tahun Hijriyah diukur berdasarkan peredaran bulan (lunar system).
Peredaran matahari dan bulan yang tidak berbarengan, menyebabkan jumlah hari dalam tahun Masehi dan Hijriyah, memiliki perbedaan. Tahun Masehi berjumlah 365 hari, tahun Hijriyah 354 hari. Itu pula sebabnya, pada kurun-kurun tertentu, tahun baru Hijriyah akan berdekatan dengan tahun baru Masehi. Bahkan pada tahun 2008 ini, kita mengalami dua kali tahun baru Hijriyah. Sebelumnya tanggal 10 Januari lalu, dan kini 29 Desember.
Sekali lagi, ini adalah fenomena alam yang lumrah. Tetapi di balik fenomena alam yang lazim ini, kita bisa menyibak hikmah. Diapitnya Tahun Baru Hijriyah, oleh Hari Natal dan Tahun Baru Masehi, semakin mengingatkan kita bahwa kehidupan di atas semesta, tidak bisa dilepaskan dari kemajemukan alias keberagaman. Seperti majemuknya unsur-unsur alam yang kita tempati ini. Ada matahari, bulan, bintang, awan, angin, hujan, laut, daratan, pepohonan, rerumputan, hewan dan manusia, yang masing-masing memiliki ciri khas berbeda. Namun kerjasama atau kebersamaan semua unsur alam ini, akan membuat alam ciptaan Tuhan berada dalam keseimbangan alias harmoni. Jika satu saja unsur alam tersebut berjalan sendiri dan tidak mau berbagi, maka semesta ini akan dilanda disharmoni.
Celakanya, mausialah yang terkadang tidak mau berbagi dengan sesama manusia lainnya. Seakan lupa bahwa manusia itu terdiri atas berbagai ragam, baik secara fisik maupun pikiran. Secara fisik, muncul rasisme. Dari segi pikiran, muncul orang-orang yang menganggap pendapat dan keyakinannyalah yang paling benar. Pendapat dan keyakinan yang berbeda dianggap sesat dan perlu diberantas. Fenomena seperti ini sangat menggejala di tahun 1429 Hijriyah atau tahun 2008 Masehi.
Padahal, jika kita simak kembali perjalanan Hijrah Rasulullah Muhammad SAW, yang menjadi “titimangsa” diletakkannya penghitungan tarikh Hijriyah oleh Khalifah Umar ibnu Khattab, kita bisa menemukan banyak sekali keteladanan Rasulullah dalam menghargai dan menghormati keberagaman. Di Madinah, tempat Sang Nabi dan para pengikutnya berhijrah, Nabi mengakui keberadaan semua unsur masyarakat yang telah lama hidup di kota yang sebelumnya bernama Yastrib itu. Ada kelompok suku Aus dan Khajraj. Ada kaum Yahudi. Ada umat Nasrani. Belum lagi para pendatang dari Makkah yang disebut Muhajirin (orang-orang yang berhijrah) dan penduduk asli yang masuk Islam atau kaum Anshor (para penolong orang-orang yang berhijrah).
Kesemua unsur masyarakat Madinah tersebut, memperoleh hak yang sama. Nabi memerintahkan agar semua kelompok saling menghargai dan menghormati asal-usul serta keyakinan masing-masing. Ada salah satu peristiwa, yang mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana Rasulullah sangat menghormati kemajemukan itu. Pada suatu hari lewatlah serombongan pengantar jenazah di hadapan beliau, yang ketika itu tengah duduk berbincang dengan beberapa sahabatnya. Jenazah dan para pengantarnya itu adalah orang-orang Yahudi. Seketika Sang Nabi berdiri dengan takzim, menghormati jenazah yang lewat.
“Mengapa Anda melakukan itu Ya Rasul. Bukankah itu jenazah orang Yahudi? Haruskah Anda menghormatinya?” Tanya salah seorang sahabat. “Dia adalah manusia juga, seperti kita, yang berpulang ke Rahmatullah. Kita pun akan kembali padaNya,” ujar Rasulullah. Serempak para sahabat itu pun berdiri, mengikuti Sang Nabi, menghormati jenazah orang Yahudi.
Pun, jangan lupa. Sebelum berhijrah ke Madinah, para pengikut Rasulullah pernah pula berhijrah dalam dua gelombang ke sebuah negeri bernama Abessinia (Ethiopia). Penguasa negeri itu, Kaisar Najasyi (Negus) adalah seorang penganut Kristen. Begitu pula sebagian besar rakyatnya. Orang-orang Muslim yang berhijrah ke Abessinia mendapat perlindungan keamanan dari Sang Kaisar, sehingga terbebas dari orang-orang Quraisy yang berniat membunuh mereka.
Rasulullah sangat berterima kasih kepada Sang Kaisar, yang telah memberikan tempat terhormat dan melindungi para penganut ajaran Islam. Sehingga bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, ketika Nabi Muhammad SAW mendengar kabar duka bahwa Kaisar Negus telah mangkat, beliau menangis. Lalu mendo’akan arwah Sang Kaisar, agar diterima di sisiNya.
Tarikh Hijriyah, kini telah mencapai bilangan 1430 tahun. Ini berarti sudah hampir 15 abad, secara turun temurun, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Hijrah Rasulullah. Peristiwa yang mengandung banyak hikmah, terutama yang berhubungan dengan interaksi antar-manusia (hablumminannas). Dan, tahun ini, secara kebetulan tanggal 1 Muharram 1430 Hijriyah, berada sangat berdekatan dengan Hari Natal dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tidakkah ini mengingatkan kita akan kemajemukan kita yang merupakan fitrah atau sunnatullah? Tidakkah kita ingat akan keteladanan Rasululah dalam menghargai keberagaman dan perbedaan? Bahkan Sang Kekasih Allah itu selalu menganggap perbedaan sebagai hikmah.
Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriyah. Mari kita berhijrah meninggalkan ketertutupan (eksklusivisme) menuju keterbukaan (inklusivisme). Meninggalkan kesempitan pikiran menuju keluasan pandangan. Sehingga kita pun tidak selalu merasa diri kita paling benar, karena kebenaran ada di mana-mana.
Billy Soemawisastra
[Foto diambil dari: www.aslowerpace.com, dan tulisan ini dapat dilihat pula di www.liputan6.com]
Andaikan Tak Ada Pesta Natal
Oleh: Arthur J. Horoni
Lebih baik, berusahalah supaya keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah kering.
(Amos 5: 21-24)
Oleh krisis global yang melanda dunia saat ini, rakyat Indonesia semakin sengsara. Harga produk pertanian merayap, padahal pupuk mahal, bahkan jadi ajang perselingkuhan pejabat dengan distributor yang tentu mencekik petani. Bayangkan bagaimana nasib petani tak bertanah? Padahal pemerintah menjagokan program ”Ketahanan Pangan”.

Di sektor industri, bencana tengah menggempur industri tekstil. Permintaan dari Amerika dan Eropa menurun 30-40 %, sekitar 100 ribu dari 1,2 juta buruh di sektor ini akan dirumahkan dan tahun 2009, konon 50% buruh Indonesia atau sekitar 45,5 juta orang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Akan halnya, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias buruh migran lebih menyedihkan lagi. Gelombang PHK telah dimulai di Hongkong, Taiwan, Korea, menyusul Singapura dan Malaysia. Itulah kutuk neoliberalisme yang menjagokan keperkasaan pasar bebas.
Jadi kata kunci adalah: jatuh. Rupiah jatuh, sawit, karet, minyak jatuh. Padi, apalagi dilibas banjir, jatuh. Jagung bibit unggul karena tak ada pupuk jatuh. Alhasil, sokoguru bangsa: petani, buruh dan nelayan (yang tak bisa beli solar mahal), berguguran bagai daun kering terjerembab tak berdaya di tanah tandus. Jatuh sudah. Ajaib memang, pemerintah tak jatuh-jatuh, padahal Semakin Banyak Yang Jadi Korban.

Maka Sempurnalah Penderitaan Rakyat …
Kendati penderitaan rakyat semakin sempurna, renovasi gedung DPR dan rumah pejabat di pusat dan daerah jalan terus. Mobil mewah laku terus. Di sebuah kabupaten di timur nusantara, mobil Rangers Double Cabin, jadi angkutan lapangan eksekutif dan legislatif. Di kelas ini, rasa-rasanya tak ada krisis. Untuk apa pusing-pusing memikirkan rakyat yang selalu diguncang pertanyaan: apa bisa makan hari ini?
Bagi para birokrat, anggota DPR/DPRD, pimpinan parpol dan sebangsanya pertanyaan itu berubah: makan di mana hari ini? Yang serem para investor rakus: makan siapa hari ini? Jadi, sempurnalah penderitaan rakyatmu, tuan dan nyonya besar…
Suara Nabi di Tengah Gurun
Di tengah gurun ketidakadilan ini, di kubangan penderitaan rakyat, umat rindu suara nabi. Kutipan teks dari Nabi Amos di awal tadi kurang digunakan birokrat gereja, namun sungguh popular di kalangan umat yang sengsara. Amos, nabi pertama dalam Alkitab, yang pesannya dicatat secara terperinci. Ia mengritik pejabat kerajaan dan pemuka agama Yahudi yang tak peka atas ketidakadilan. Ia membentak bangsa yang menjadikan ibadah sebagai perayaan-perayaan atau pesta semata tanpa kepedulian atas nasib rakyat. Ibadah seperti itu kata Amos, bakal ditolak Tuhan. Allah, tutur Amos, menghendaki keadilan bergulung-gulung seperti air.
Dari Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja se Dunia (DGD-WCC) di Porto Alegre, Brazil, 2006, terbit sebuah dokumen latar belakang yang “membentak” globalisasi ekonomi yang menjujung neoliberalisme, ekonomi pasar bebas. Dokumen itu berjudul Alternative Globalization Addressing People and Earth. Akronimnya adalah AGAPE, kata dari bahasa Yunani yang berarti Kasih. Dokumen ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia di bawah judul, “Globalisasi Alternatif mengutamakan Rakyat dan Bumi.” Diktum neoliberalisme menurut dokumen ini, “pada dasarnya neoliberalisme mengubah segala sesuatu dan manusia menjadi komoditi. “
Penguasaan neoliberalisme terhadap kekayaan material yang melebihi penghargaan akan harkat dan martabat manusia, membuat manusia diperlakukan tidak selayaknya, mengorbankan kehidupan manusia dan alam demi ketamakan. Buahnya adalah ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan, kelaparan, pengangguran yang melanda bagian terbesar penduduk dunia dan berakibat kepada kematian. Seiring dengan itu masalah-masalah lingkungan hidup semakin meruyak: pemanasan global, penipisan sumber daya alam, terbentuknya gurun hijau (perkebunan sawit yang terlantar karena sawit jatuh) serta hilangnya keanekaragaman hayati.
Di sisi itu, pemerintah dan pengusaha kita adalah birokrat dan kapitalis yang menjadi agen neoliberalisme atau neolib itu. Ada bangunan yang seragam dari Banda Aceh sampai Jayapura sebagai wajah gemilang neolib: mal, ruko dan Swiss Bell Hotel …
Keberanian Melawan Arus
Bagaimana tanggapan gereja-gereja di Indonesia terhadap situasi ini? Pada 1-5 Desember 2008 di Wisma Samadi, Klender, Jakarta, 80 orang pimpinan gereja anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), utusan kaum perempuan dan pemuda, para pelaku ekonomi, politik dan budaya, yang prihatin atas situasi itu terlibat dalam konsultasi Nasional Gereja dan Ágape. Tema Konsultasi, “Tuhan, dalam Rahmat-Mu, Ubahlah Dunia”, dengan subtema, “ AGAPE dari Deklarasi Menjadi Aksi”.
Peserta Konsutasi Nasional Gereja dan AGAPE, berpose bersama Presiden DGD, Pdt. Dr. SAE Nababan.“Bagi Allah tidak ada yang mustahil”.
(Foto: Dok. Arthur JH/PKM)
Presiden DGD (Dewan Gereja-gereja se-Dunia), Pdt. Dr. SAE Nababan, dalam renungan pada pembukaan konsultasi mengritik gereja yang tidak peduli terhadap ketidakadilan yang berlangsung di tengah masyarakat. Ia menguraikan, ada tiga penyebab sikap ketidakpedulian itu, (1) pengejaran keselamatan jiwa (kesalehan pribadi sebagai warisan pietisme), (2) kuasa tradisi gereja yang membentuk pola pikir dan pola hidup manusia, yang hampir bersifat mutlak, dan (3) keterbatasan pergumulan yang terus-menerus dengan Firman Tuhan di tengah perjalanan hidup. Karena ketidakpedulian ini, kita cenderung menjauhkan diri dari ketidakadilan yang mendera rakyat, tidak berani bersama rakyat menghadapinya dan secara tegas memberitakan, mengusahakan dan menegakkan keadilan bagi semua orang, sebagai kehendak Allah.
Dr. Nababan menegaskan, kerinduan mendalam setiap manusia dan setiap komunitas manusia bahkan setiap bangsa adalah memperoleh keadilan dan perdamaian. Karena hanya dengan adanya keadilan dan perdamaian, kehidupan manusia dapat berkembang sejahtera. “Keduanya tak terpisahkan”, ujarnya. Ia menyatakan kegembiraannya dengan kehadiran peserta konsultasi, walau hanya kelompok kecil. Namun kelompok yang peduli, dan di hadapan Tuhan, kelompok-kelompok kecil ini juga mewakili gereja. Kehadiran dalam konsultasi ini, menurut Nababan, adalah keberanian melawan arus, pada saat kebanyakan orang terpukau, terlena bahkan terbenam arus globalisasi.
Melalui diskusi, penggalian pengalaman, analisis sosial, Ibadah, refleksi teologis, peserta bergumul, menafsirkan ulang teks Alkitab sesuai dengan konteks, membaca kembali secara kritis. Kesadaran yang muncul adalah, gereja sejatinya menjadi komunitas yang transformatif dengan mengembangkan teologi yang berpihak kepada rakyat dan bumi. Untuk itu perlu upaya terus-menerus memampukan gereja menjadi gerakan ketimbang institusi yang berpihak kepada rakyat dan bumi.
Andaikan Tak Ada Pesta Natal
Konsultasi tak bermakna bila tak disusul aksi. Tentu, gereja-gereja atau komunitas Kristiani di negeri ini mampu merumuskan aksi sesuai konteks masing-masing. Kendati begitu, ada sesuatu yang sangat konkret yang dapat dilakukan bersama-sama, kalau mau.
Di pekan-pekan advent, menyongsong natal ini, sebaiknya kita membebaskan diri dari jerat neolib. Misalnya, tak perlu membeli pohon natal serta segala perniknya di mal-mal. Yesus yang lahir dalam kemiskinan kenapa mesti dirayakan dalam kegemerlapan? Kita toh tidak meracik sendiri tema natal dan segala perniknya di rumah kita dengan apa yang ada pada kita. Ada kembang, ada pohon hidup di rumah, dan terutama mempersiapkan hati yang penuh shalom (damai sejahtera).
Pesta Santa Claus atau sinterklas itu sihir neolib, boikot saja. Tak ada gunanya buat kita. Dan coba Anda hitung ongkos pesta natal di negeri ini secara total. Konon orang Kristen anggota jemaat gereja-gereja anggota PGI yang ada 87 sinode itu sekitar 10 juta. Kita hitung secara sederhana, ada sekitar 20 ribu komunitas atau jemaat yang masing-masing 500 orang anggotanya. Biasanya pesta natal setiap jemaat paling sedikit Rp 20 juta misalnya. Berapa uang terkumpul setiap pesta natal? Tak kurang dari Rp 400.000.000.000 (400 milyar rupiah).
Belum lagi natal marga, keluarga, polisi, DPR/D, Parpol, dan seterusnya dan seterusnya. Berapa trilyun uang yang dibuang sia-sia untuk pesta, yang menurut nabi Amos, tak disukai Tuhan? Berapa sekolah dan rumah sakit untuk rakyat bisa dibangun?
Andaikan gereja-gereja bersatu mengembalikan pesta natal kepada situasi natal yang pertama, kita tidak perlu berpesta di tengah semakin sempurnanya penderitaan petani, nelayan dan buruh. Dan kita akan mampu mengatasi neolib …
[Foto-foto: Suara Pembaruan dan Associated Press]
Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya

The warrior knows
that the most important words in all languages
are the small words.
Yes. Love. God.
(Paulo Coelho)
Sudah lama saya ingin menulis tentang Paulo Coelho. Tetapi saya tak pernah bisa menentukan, dengan kalimat apa saya harus memulainya. Orang ini “terlalu besar” buat saya. Di usianya yang sudah tergolong tua — dilahirkan di Rio de Janeiro, Brazil, 1947 – ia justru semakin produktif. Sudah belasan novel spiritual yang ditulisnya, dan novel-novel itu telah diterjemahkan ke sekitar 56 bahasa di dunia. Beberapa novel hasil karyanya menjadi best sellers internasional, dan terjual dalam puluhan juta copy.
Jumlah penggemarnya mencapai puluhan juta orang, tersebar di sekitar 150 negara. Novel-novel yang ditulisnya telah memberikan inspirasi bagi puluhan juta pembacanya, karena umumnya berisi renungan tentang kehidupan. Renungan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup, menyiasati takdir, dan berhubungan dengan sesama manusia dengan landasan Cinta. Bahkan lebih jauh dari itu, dalam berbagai novelnya, Paulo Coelho selalu menyiratkan bahwa hidup yang dianugrahkan Tuhan harus senantiasa disyukuri, dengan cara menjalani hidup secara ikhlas dan sebaik-baiknya.
Nuansa spiritual yang diwarnai ajaran berbagai agama (terutama agama-agama Timur Tengah), terasa sangat kental dalam novel-novelnya seperti The Alchemist, The Pilgrimage, The Zahir, dan The Fifth Mountain. Ada juga novel-novel psikologis seperti Brida, Veronika Dicides to Die, Eleven Minutes, The Devil and Miss Prym, atau By the River Piedra I Sat Down and Wept. Kesemua novelnya berisi renungan tentang kehidupan, meski masing-masing novelnya ditulis dengan gaya penuturan dan angle yang berbeda.


Tetapi Paulo Coelho bukan “hanya” seorang novelis. Ia juga seorang penutur kebijakan atau pendakwah lintas agama. Dakwah-dakwahnya bisa dilihat melalui berbagai situs online yang ia miliki, seperti paulocoelhoblog.com dan www.warriorofthelight.com. Berikut, salah satu renungan spiritualnya, pada http://paulocoelhoblog.com:
Pilgrimage is a duty in Muslim and Christian religions, do you think that’s the plan of God for human beings to actually travel in their souls? We are all on a pilgrimage whether we like it or not and the target, or goal, the real Santiago, if you like, is going from birth to death. You must get as much as you can from the journey, because – in the end – the journey is all you have. It doesn’t matter what you accumulate in terms of material wealth, because you are going to die anyway, so why not live? When you realize that you can be brave and that is the first tenant of any spiritual quest – to take risks.
Jika Paulo Coelho Blog berisi renungan harian yang di-update setiap hari dengan berbagai isu keseharian, Warrior of the Light berisi renungan yang lebih mendalam dan di-update secara bulanan. Renungan-renungan itu biasanya dilengkapi kutipan ajaran-ajaran sipiritual, yang berasal dari khasanah berbagai agama dan kebudayaan, termasuk kata-kata bijak dari para Sufi. Sesuai dengan nama situsnya — Warrior of the Light atau Pendekar Cahaya — melalui situs ini Coelho bermaksud mengajak semua orang untuk selalu mencari Cahaya Kebenaran dalam hidupnya. Dan, Cahaya Kebenaran itu, sudah ada tuntunannya dalam berbagai kebudayaan dan agama.


Melalui Warrior of the Light maupun Paulo Coelho Blog, sang mestro ini seakan ingin mengatakan bahwa semua agama hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni mengagungkan Tuhan dan menghormati kehidupan (baik kehidupan diri kita sendiri maupun kehidupan orang lain). Sehingga agama tidak perlu saling dipertentangkan, karena masing-masing memiliki kebenaran (yang hakikatnya, sama). Berikut, salah satu postingan Paulo Coelho, dalam Warrior of the Light, dengan topik The Languanges that God Speaks:
Below are some of those prayers:
Dhammapada (attributed to Buddha)
Instead of a thousand words,
Better just one,
One that brings peace.
Instead of a thousand verses,
Better just one,
One that shows beauty.
Instead of a thousand songs,
Better just one,
One that spreads joy.
Mevlana Jelaluddin Rumi, 13th century
Out there, besides what is right and what is wrong, there is an enormous field.
That is where we will meet.
Prophet Mohammed, 7th century
Oh Allah! I come to you because you know all, even what is hidden.
If what I am doing is good for me and my religion, for my life now and later, then let the task be easy and blessed.
If what I am doing now is bad for me and my religion, for my life now and later, then keep me far from this task.
Jesus of Nazareth, Matthew 7;7-8
Ask, and it shall be given you;
seek and you shall find;
knock, and it shall be opened unto you:
For every one that asks receives;
and he that seeks finds:
And to him that knocks,
it shall be opened.
Jewish prayer for peace
We shall go the mountain of the Lord, where we shall walk with Him. We shall change our swords into plows and our spears into baskets for harvesting fruit.
Let no nation raise its sword against another, and let us never learn the art of war. And no-one should fear his neighbor, because thus spoke the Lord.
Lao Tsu, China – 6th century B.C.
For there to be peace in the world, the nations must live in peace.
For there to be peace among nations, cities must not rise up against one another. For there to be peace in the cities, neighbors must get on well with one another. For there to be peace among neighbors, harmony must reign in the home. For there to be harmony at home, it must be found in your own heart.

Paulo Coelho, tampaknya sangat menyadari keampuhan media internet. Sehingga ia pun memanfaatkan jaringan sosial online seperti Facebook. Di Facebook, ia bisa ditemui melalui Paulo Coelho Fans Club, halaman khusus Paulo Coelho dan The Best of Paulo Coelho. Meski jaringan ini dikelola oleh para penggemarnya, Coelho sering pula menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan para penggemarnya melalui Facebook. Induk dari semua situs milik Paulo Coelho, adalah www.paulocoelho.com. Tentu saja Coelho tidak sendirian mengelola situs-situsnya. Ada pekerja khusus yang menanganinya.
Melalui situs-situs tersebut, kita juga bisa mengetahui kegiatan harian sang maestro. Jadwalnya sangat padat. Hampir setiap hari, Coelho memberikan ceramah di berbagai negara. Ceramah-ceramahnya bisa diakses melalui You Tube, dan foto-fotonya bisa diunduh melalui www.flickr.com. Termasuk kata-kata bijaknya yang dikemas dalam format JPEG. Selain dalam bahasa Inggris, situs-situs ini tersedia dalam bahasa-bahasa lainnya seperti Portugis, Spanyol, Itali, Prancis, Belanda, Jerman, Polandia, Arab, Rusia, Cina, Persia. Sayangnya, belum ada yang berbahasa Indonesia.

Paulo Coelho, tidak hanya bicara soal cinta dan kemanusiaan. Anjuran-anjurannya kepada semua orang agar peduli pada nasib sesama, juga diwujudkan dalam bentuk kongkret. Pada 1996, ia mendirikan Paulo Coelho Intitute. Sebuah lembaga nirlaba yang juga bernama Creche Escola Meninos da Luz, Lar Paulo de Tarso. Lembaga sosial yang berpusat di Rio de Janeiro, Brazil, itu menampung dan menghidupi ratusan anak terlantar dan orang-orang lanjut usia, hingga sekarang. Biaya pengelolaannya berasal dari royalties buku-buku yang ditulis Paulo Coelho.

Dalam usianya yang semakin tua, Paulo Coelho tampaknya tak pernah kehabisan gagasan. Semangat hidupnya semakin tinggi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang selalu diajaknya untuk menjadi pendekar cahaya, pencari kebenaran. Sementara bagi orang-orang yang tidak mampu, Coelho berupaya membantu mereka agar dapat melihat cahaya kehidupan. Cahaya yang dianugerahkan Sang Pencipta. Berlebihankah saya, bila saya mengatakan bahwa Paulo Coelho adalah seorang Sufi modern?
Billy Soemawisastra
[Sumber tulisan dan foto: www.paulocoelho.com, www.warriorofthelight.com, paulocoelhoblog.com]
Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya
Brazil, negeri bekas jajahan Portugis di Amerika Selatan itu, hanyalah sebuah negara berkembang. Dan, sebagaimana umumnya negara berkembang, kegiatan tulis-menulis alias kesastraan, taklah mampu menopang hidup para sastrawannya. Apatah lagi membuat seorang sastrawan menjadi kaya raya dari hasil karyanya.
Puluhan tahun lalu, masyarakat Brazil pun bahkan mungkin tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang sastrawan yang tersohor ke seantero jagat, dan ikut mengharumkan nama negerinya. Apalagi sastrawan yang namanya kini mendunia itu, pernah dikenal sebagai “anak nakal” pencandu mariyuana dan anggota kaum urakan alias hippies. Ia pun pernah dipenjara karena dianggap menentang pemerintah.
Anak nakal itu bernama Paulo Coelho, yang sempat dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena dikira terkena ganguan mental. Padahal di dalam diri anak itu, terpendam bakat yang sangat kuat. Bakat seni yang menuntunnya menjadi penyair, pemain teater dan penulis lirik lagu. Ia pun mencoba menulis novel, namun novel-novel awal yang ditulisnya tidak mendapat sambutan masyarakat, hingga ia pun sempat frustrasi. Barulah setelah novelnya, The Alchemist, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjadi novel terlaris, nama Paulo Coelho melejit menjadi salah seorang novelis paling terkenal di tingkat dunia, dan membuat bangga masyarakat Brazil.

Paulo Coelho dilahirkan di tengah sebuah keluarga kelas menengah, di Rio de Janeiro, Brazil, 1947. Ayahnya, Pedro, adalah seorang insiyur, dan ibunya, Lygia, seorang ibu rumah tangga. Pada usia 7 tahun, Paulo dimasukkan ke sekolah Jesuit San Ignacio, Rio de Janeiro. Bakat menulisnya sudah terlihat di sekolah ini. Ia sering menulis puisi dan esei sastra, hingga ia pun memenangkan juara pertama dalam lomba penulisan puisi di sekolahnya.
Pedro dan Lygia tidak begitu bergembira dengan prestasi Paulo di bidang tulis-menulis. Kedua orangtua ini mencita-citakan anaknya menjadi insinyur, mengikuti jejak sang ayah. Melihat perilaku Paulo yang berbeda dari anak-anak lainnya, Pedro dan Lygia khawatir putranya terkena gangguan mental. Pada usia 17 tahun, dua kali ia dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa untuk mendapatkan terapi psikiatri. Hasilnya, ia dinyatakan sehat secara mental.
Tidak lama kemudian ia aktif di teater, dan bekerja sebagai wartawan. Lagi-lagi orangtua Paulo gundah. Di kalangan masyarakat kelas menengah Brazil, ketika itu, teater dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bermoral. Untuk ketiga kalinya, Pedro dan Lygia membawa Paulo ke dokter jiwa, dan psikiater yang memeriksanya, dengan tegas mengatakan bahwa Paulo Coelho tidak menderita gangguan mental.

Apa yang dilakukan orangtuanya justru membuat Paulo depresi. Ia merasa kehidupan pribadinya terlalu jauh dicampuri. Pengalaman batinnya ini ia tuangkan 13 tahun kemudian, ke dalam sebuah novel yang diterbitkan di Brazil, 1988, Veronika Decides to Die. “Saya mendapatkan lebih dari 12.000 email,” ujar Coelho. “Berisi pengakuan bahwa apa yang saya tuangkan dalam novel itu, punya banyak kemiripan dengan pengalaman mereka.”
Tahun 1960-an, adalah era flower generation. Kehidupan hippies mewabah di seluruh dunia. Termasuk di Brazil. Paulo, yang baru menginjak usia 20-an dan gemar bertualang itu menyemplungkan diri ke dalam kehidupan kaum hippies. Ia memanjangkan rambutnya, dan sempat pula menjadi pencandu obat terlarang. Kegiatan berteaternya semakin meningkat, dan hobi menulisnya semakin menjadi-jadi. Pernah ia mencoba menerbitkan majalah, namun hanya tahan dua terbitan. Sementara itu, ia drop out dari sekolah.
Awal 1970-an, atas ajakan Raul Seixas, seorang musisi dan composer Brazil, Paulo menulis lirik lagu. Lagu-lagu yang liriknya dibuat oleh Paulo Coelho, banyak yang menjadi top hit di Brazil. Bahkan salah satu album rekaman lagu-lagunya, terjual sebanyak 500 ribu keping piringan hitam. Itulah awal dirinya mengenal uang dalam jumlah besar.
Kerja sama Paulo Coelho dengan Raul Seixas berlanjut hingga 1976. Selama itu lebih dari 60 lagu ditulisnya bersama Raul. Pada masa itu pula Paulo dan Raul aktif dalam pergerakan memperjuangkan kebebasan berpendapat. Di antaranya dengan menerbitkan buku-buku komik berjudul Kring-ha, sebagai sindiran atas tindakan represif pemerintah Brazil terhadap rakyatnya. Akibatnya Paulo dan Raul pun dipenjara dengan tuduhan subversif.
Selepas dari penjara, Paulo Coelho mendapatkan pekerjaan tetap di perusahaan rekaman Polygram, dan menikah dengan isteri pertamanya. Tahun 1977, ia pindah ke London, mencoba mengadu nasib sebagai penulis, namun tak banyak mendatangkan hasil. Ia pun kembali ke Brazil, dan bekerja di perusahaan rekaman lainnya, CBS. Namun kehidupan rumah tangganya porak-poranda. Ia pun bercerai dari isteri pertamanya.
Tahun 1979, ia berjumpa teman lamanya, Christina Oiticica, yang kemudian dinikahinya hingga sekarang. Setelah menikah, pasangan suami-isteri ini mengadakan perjalanan keliling Eropa. Singgah di berbagai negara. Di Jerman, ketika ia berkunjung ke bekas kamp konsentrasi di Dachau, Paulo mengaku bertemu dengan orang misterius yang menyampaikan visi tentang masa depannya.
Dua bulan kemudian, di sebuah café di Amsterdam, ia berjumpa orang yang sama. Kali ini ia mengobrol cukup lama dengan orang yang tidak disebutkan jatidirinya itu. Orang itu menganjurkan agar Paulo kembali memperdalam Katolikisme, dan mempelajari simbol-simbol Kristiani. Orang itu juga menganjurkan agar perjalanan Paulo Coelho dilanjutkan dengan menelusuri Road to Santiago (rute perjalanan ziarah abad pertengahan, yang membentang antara Prancis dan Spanyol).
Paulo pun mengikuti anjuran orang tersebut. Ia melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago, pada 1986. Setahun kemudian, pengalamannya itu ia tuangkan dalam novel berjudul, The Pilgrimage. Buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit kecil di Brazil, dan tidak banyak memperoleh sambutan. Tahun 1988, ia mencoba menulis novel yang sama sekali berbeda dari novel sebelumnya, The Alchemist. Sebuah novel yang penuh metapora dan simbol-simbol kehidupan, dipadu dengan pengetahuannya tentang ilmu kimia, yang pernah ia pelajari selama 11 tahun. Buku ini pun ternyata tidak memperoleh sambutan yang memuaskan. Edisi pertamanya hanya terjual 900 eksemplar, dan penerbitnya tidak mau lagi mencetak ulang.

Tetapi ternyata masih ada kesempatan kedua. Tahun 1990, sebuah penerbit buku yang cukup besar, Rocco, menerbitkan novelnya, Brida. Sebuah novel tentang cinta dan pengorbanan, yang kemudian laris terjual. Kesuksesan Coelho dengan Brida, membuat para pembaca melirik kembali dua novel yang pernah terbit sebelumnya, The Alchemist dan The Pilgrimage. Tak dinyana, kedua novel itu berhasil menjadi best sellers, dan justru mengalahkan popularitas Brida.
Sambutan terhadap The Alchemist, tidak hanya terbatas pada pembaca Brazil. Beberapa penerbit dari negara lain tertarik untuk menerjemahkan dan menerbitkannya di negara masing-masing. Novel yang semula ditulis dalam bahasa Portugis itu, kemudian muncul dalam berbagai bahasa. The Alchemist dan The Pilgrimage menjadi buku yang paling banyak dicetak ulang di Brazil dan Portugis, dan bahkan kemudian di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Guinnes Book of Records pun mencatat The Alchemist, sebagai buku yang paling laris di dunia dan buku yang paling banyak diterjemahkan.
The Alchemist, yang kemudian menjadi maskotnya Paulo Coelho, sedikitnya telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa, dan dibaca di 150 negara. Kesuksesan Paulo Coelho dengan The Alchemist-nya, terus berlanjut pada buku-buku novel berikutnya, yang juga diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan dibaca di banyak negara. Di Indonesia, kini bahkan dengan mudah kita bisa menemukan karya-karya Paulo Coelho versi bahasa Indonesia di berbagai toko buku, yang umumnya diterbitkan oleh penerbit Gramedia.
Bukan hanya The Alchemist, yang semakin laris. Tetapi juga buku-buku Paulo Coelho lainnya seperti The Zahir, Fifth Mountain, Eleven Minutes, By The River Piedra I Cry and I swept, The Devil and Miss Prym, serta buku-buku lainnya. Ada juga The Warrior of The Light, sebuah buku berisi esei tentang kehidupan, cinta dan Tuhan. Sayangnya buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan versi cetak dari website www.warriorofthelight.com.





Tahun 2000, Paulo Coelho berkunjung ke Iran. Ia merupakan penulis non-Muslim pertama sejak 1979, yang melakukan kunjungan resmi ke Iran. Ia datang ke negeri itu atas undangan The International for Dialogue Among Civilizations. Semula ia merasa pesimis dan khawatir bahwa masyarakat Iran akan menyambutnya dengan sikap dingin, karena ia seorang penulis non-Muslim.
Tetapi kenyataan yang ditemuinya, justru sebaliknya. Ia tak hanya disambut dengan penuh kehangatan, namun juga memperoleh royalties yang cukup besar dari pemerintah Iran, atas buku-bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan dibaca secara luas oleh masyarakat Iran. Paulo Coelho pun menjadi pengarang non-Muslim pertama, yang mendapatkan royalties hak cipta dari pemerintah Iran.

Ribuan penggemarnya di Iran berbondong-bondong untuk memperoleh tanda tangan Paulo Coelho, dan mendengarkan ceramahnya. Paulo Coelho tidak pernah membayangkan dirinya akan memperoleh sambutan yang luar biasa, di negeri berpenduduk mayoritas Muslim itu. “Saya telah memperoleh banyak penghargaan. Saya telah memperoleh banyak cinta. Tetapi di atas semua itu, saya memperoleh banyak pengertian dari Anda semua atas karya-karya saya, dan semua ini sangat menyentuh lubuk hati saya terdalam,” ujar Coelho, dengan penuh haru.
“Sungguh merupakan kejutan yang sangat besar bagi saya,” lanjut Coelho. “Jiwa saya telah datang ke sini sebelum diri saya. Buku-buku saya telah dipersembahkan dan saya menemukan teman-teman lama di antara orang-orang yang tidak pernah saya kenal sebelum ini. Sehingga saya pun tidak merasa menjadi orang asing di negeri ini. Saya merasakan kebahagiaan yang amat sangat, dan kini saya percaya bahwa dialog antar-manusia, dari hati ke hati, bisa dilakukan di mana pun. Iran telah membuktikan hal itu.”


Penghargaan pemerintah dan masyarakat Iran terhadap Paulo Coelho, membuktikan bahwa penulis besar ini bisa diterima semua kalangan, karena karya-karyanya yang universal dan menyuarakan kemanusiaan. Terutama juga karena spirit pluralisme yang dimilikinya, yang memandang dunia ini sebagai dunia yang penuh keragaman. Ini tercermin dari tulisan-tulisannya yang sering mengacu pada berbagai ajaran agama dan kebudayaan.
Cukup banyak penghargaan yang telah didapatkan Paulo Coelho, dari berbagai lembaga di dunia. Dan, jutaan dollar telah diraihnya dari hasil penjualan buku-bukunya, sehingga ia pun berada dalam jajaran para penulis terkaya di dunia. Tetapi sebagian harta yang didapatnya, ia hibahkan untuk membantu masyarakat miskin di negerinya. Ia juga tak pernah berhenti mengajak semua orang untuk terus menjalin saling pengertian, agar tercipta dunia yang damai bagi semua. Itu sebabnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun memintanya menjadi Duta PBB untuk perdamaian.
Billy Soemawisastra
















