<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Andaikan Tak Ada Pesta Natal</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/2008/12/11/andaikan-tak-ada-pesta-natal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com/2008/12/11/andaikan-tak-ada-pesta-natal/</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 02:24:25 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Pambudi Nugroho</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/12/11/andaikan-tak-ada-pesta-natal/#comment-110</link>
		<dc:creator><![CDATA[Pambudi Nugroho]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 11:22:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=746#comment-110</guid>
		<description><![CDATA[&quot; Seorang siswi kelas dua Sekolah Menengah Kejuruan Kimia Dharma Bakti di Bandung, Jawa Barat, Rabu (10/12), nekat gantung diri. Eva Septiani diduga bunuh diri , lantaran malu menunggak uang SPP sebesar Rp 470 ribu ( liputan6) &quot;

Menyimak berita diatas , benar kata penulis ini , bahwa Rakyat semakin tertindas dan menderita. Dan sungguh heran banyak Parpol menggalang dana lantas berdiri berkotbah justru atas nama rakyat. Pemerintah sendiri ?? Jangankan masalah &quot; uang SPP &quot; Korban Lapindo brantaspun tetap lahan empuk komoditas politik sebagai kebohongan publik.

Andaikan kita ( Baca :  agama KTP ) segera melakukan refleksi dan aksi menjelang akhir tahun ini bersatu untuk membebaskan rakyat dari penindasan, dan tak lagi sibuk merias dan membangun kerajaan agama sendiri sendiri, barangkali nasib &quot; Eva &quot;  lainnya yang justru berlabel sang penerus bangsa , tak perlu malu lagi menunggak uang SPP. Kalau perlu berhentilah sekolah yang penuh dengan hafalan itu , lebih baik menjadi seorang demonstran seperti Chun Tae-il? buruh yang dibayar amat rendah, tukang potong pakaian di pabrik garmen di Pasar Damai, Seoul, Korea Selatan ketika keadilan tidak berpihak.

Entah berapa ratus &quot; Eva &quot; yang lahir dinegri ini justru harus menjadi korban dari ketidakadilan dan sistem perekonomian yang didominasi oleh kolusi dan nepotisme penguasa dan pejabat korup. Jika Gereja berdiam diri , dan Natal harus tetap dirayakan sebagai pesta berarti sudah
menjadi &quot;sutradara senior&quot; didalam penindasan sesama.

Pambudi Nugroho
INRI POUK Depok]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221; Seorang siswi kelas dua Sekolah Menengah Kejuruan Kimia Dharma Bakti di Bandung, Jawa Barat, Rabu (10/12), nekat gantung diri. Eva Septiani diduga bunuh diri , lantaran malu menunggak uang SPP sebesar Rp 470 ribu ( liputan6) &#8221;</p>
<p>Menyimak berita diatas , benar kata penulis ini , bahwa Rakyat semakin tertindas dan menderita. Dan sungguh heran banyak Parpol menggalang dana lantas berdiri berkotbah justru atas nama rakyat. Pemerintah sendiri ?? Jangankan masalah &#8221; uang SPP &#8221; Korban Lapindo brantaspun tetap lahan empuk komoditas politik sebagai kebohongan publik.</p>
<p>Andaikan kita ( Baca :  agama KTP ) segera melakukan refleksi dan aksi menjelang akhir tahun ini bersatu untuk membebaskan rakyat dari penindasan, dan tak lagi sibuk merias dan membangun kerajaan agama sendiri sendiri, barangkali nasib &#8221; Eva &#8221;  lainnya yang justru berlabel sang penerus bangsa , tak perlu malu lagi menunggak uang SPP. Kalau perlu berhentilah sekolah yang penuh dengan hafalan itu , lebih baik menjadi seorang demonstran seperti Chun Tae-il? buruh yang dibayar amat rendah, tukang potong pakaian di pabrik garmen di Pasar Damai, Seoul, Korea Selatan ketika keadilan tidak berpihak.</p>
<p>Entah berapa ratus &#8221; Eva &#8221; yang lahir dinegri ini justru harus menjadi korban dari ketidakadilan dan sistem perekonomian yang didominasi oleh kolusi dan nepotisme penguasa dan pejabat korup. Jika Gereja berdiam diri , dan Natal harus tetap dirayakan sebagai pesta berarti sudah<br />
menjadi &#8220;sutradara senior&#8221; didalam penindasan sesama.</p>
<p>Pambudi Nugroho<br />
INRI POUK Depok</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

