So Help Me God
Sudah berlangsung sepekan, Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Hussein Obama, berkantor di Gedung Putih Washington. Tetapi saya masih terkesan dengan rangkaian upacara pelantikan Presiden AS berkulit hitam itu, pada tanggal 20 Januari lalu. Pada hari tersebut, tak bosan-bosannya saya memelototi layar CNN, yang menyiarkan langsung acara inaugurasi Presiden AS, mulai pukul sebelas malam hingga jam lima pagi (WIB).
Rangkaian acara inaugurasi Presiden AS itu memang berjalan sangat lambat. Nyaris bertele-tele, seakan tidak mau kehilangan detail sedikit pun. Tetapi itu merupakan kepatuhan warga Amerika terhadap prosedur operasional standar (SOP) yang mereka sepakati, sejak zaman George Washington.
Apa yang dilakukan warga Amerika dalam acara pelantikan Presiden Barack Hussein Obama, tempo hari, sebenarnya hanya merupakan pengulangan empat tahun sekali. Bedanya, acara tersebut, kali ini mencatat rekor tertinggi dalam sejarah Amerika, dalam hal jumlah orang yang hadir untuk menyaksikan acara pelantikan itu secara langsung di seputar gedung Capitol Hill.
Hampir dua juta orang hadir di lokasi acara, dan mungkin mencapai milyaran pasang mata menyaksikannya melalui layar televisi. Itu tak lain lantaran Barack Hussein Obama adalah Presiden AS paling fenomenal dalam sejarah. Selain untuk pertama kalinya Amerika Serikat mempunyai presiden berkulit hitam, juga karena Obama berhasil “menyihir” Amerika dan dunia, dengan janji-janjinya tentang “perubahan”.

Jutaan warga AS, simak pidato Presiden Obama.
Masih terlalu dini untuk dibuktikan, apakah janji-janji Obama itu benar-benar dilaksanakan. Maklum, baru seminggu ia berkantor di istana presiden. Tetapi Amerika dan dunia memang membutuhkan obat mujarab, untuk menyembuhkan perekonomian global yang sedang sakit (dan wabah penyakit itu berawal dari Paman Sam).
Selain pemulihan ekonomi, Amerika juga perlu memulihkan citranya di mata dunia. Sejak George Walker Bush, presiden sebelumnya, mencanangkan dan melaksanakan kebijakan War against Terrorism pasca tragedi WTC 11 September 2001, citra Amerika kian memburuk.
Ratusan ribu masyarakat sipil terbunuh, dalam perang yang konon dilancarkan untuk memberantas para teroris itu. Afghanistan dan Irak, menjadi ladang pembantaian masyarakat sipil yang dilakukan tentara Amerika. Belum lagi ratusan atau bahkan ribuan warga sipil lainnya, disiksa dan dianiaya di penjara-penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan penjara lainnya, dengan tuduhan melakukan serangan teror terhadap Amerika. Banyak di antara mereka yang terbukti tidak bersalah, namun sudah terlanjur disiksa dan dihina martabat kemanusiaannya.
Dukungan pemerintah Amerika Serikat terhadap Israel, yang meluluhlantakkan Gaza City dan membunuh ratusan ribu warga Palestina belum lama ini, semakin membuat wajah Paman Sam coreng-moreng di mata warga dunia. Wajar, jika kemudian masyarakat Amerika dan dunia berharap banyak pada Barack Hussein Obama, yang telah berjanji melakukan berbagai perubahan untuk memperbaiki situasi negerinya dan dunia.
Kembali pada acara pelantikan Presiden Barack Hussein Obama. Setidaknya ada tiga hal yang membuat saya terkesan pada acara pelantikan tersebut. Pertama, disiplin yang tinggi masyarakat Amerika ketika menyaksikan acara bersejarah itu.
Jutaan massa yang memadati lapangan dan jalan-jalan di seputar Capitol Hill dan White House, tampak mampu mengatur diri. Tak ada kerusuhan ataupun keriuhan yang tidak perlu. Mereka hanya bersorak dan berteriak histeris pada saat-saat yang tepat. Misalnya sebelum dan sesudah Obama dilantik, dan sebelum serta sesudah Presiden AS ke-44 itu berpidato. Tetapi sewaktu upacara pengucapan sumpah presiden berlangsung, dan saat sang presiden berpidato selama sekitar 18 menit, massa yang membludak itu diam, mendengarkan dengan khidmat. Hanya sesekali mereka bertepuk tangan, pada kalimat-kalimat tertentu dalam pidato Presiden Obama, yang mengena di hati mereka.
Mereka juga diam mendengarkan dalam hening, sewaktu Aretha Franklin menyanyikan lagu My Country Tis of Thee. Begitu pula tatkala para pemusik senior seperti Itzhak Perlman, Yo-Yo Ma, Gabriela Montero dan Anthony McGill, memainkan sebuah komposisi musik hasil karya John William, Air and Simple Gift. Ketika lagu ini dimainkan secara instrumental beberapa saat menjelang pengucapan sumpah Presiden Obama, kerumunan massa yang berjumlah hampir dua juta orang itu mendengarkan dengan sabar, dan baru bertepuk tangan setelah pertunjukan selesai.

Aretha Franklin, ketika beraksi di Capitoll Hill.
Kesan kedua adalah penampilan egaliter Presiden Barack Hussein Obama dan Wakil Presiden Joe Biden, dalam seluruh rangkaian acara inaugurasi. Terutama sewaktu mereka berparade di sepanjang jalan 15th Street dan Pennsylvania Avenue, yang membentang sepanjang tiga kilometer antara Capitol Hill dan White House.
Semula, kedua pemimpin AS ini berada dalam limousine-nya masing-masing, yang berjalan sangat lambat, sambil melambai-lambaikan tangan ke arah kerumunan massa yang memadat di kedua sisi jalan. Tetapi 15 menit kemudian, Presiden Obama dan isterinya Michelle Obama, keluar dari mobil kepresidenan berplat nomor USA 1, lalu berjalan kaki, diikuti Joe dan Jill Biden.
Hanya sesekali Obama dan isterinya kembali masuk ke dalam mobil, untuk kemudian keluar lagi guna menyapa rakyatnya sambil berjalan kaki. Joe dan Jill Biden bahkan terus berjalan kaki hingga memasuki White House. Presiden Obama dan Wakil Presiden Joe Biden serta para isterinya, tampak tidak merasa takut apapun. Mereka melambai-lambaikan tangan dengan riang sambil melangkah santai. Padahal para pengawal presiden, Secret Service, telah menyediakan mobil yang mereka juluki The Beast, mobil yang sistem pengamanannya sangat canggih. Mobil yang konon tak bakal mempan ditembak roket sekalipun.




“Aksi jalan kaki” Presiden Obama dan Wapres Biden.
Penampilan egaliter, santai, terkesan informal, juga diperlihatkan para mantan Presiden AS yang ikut menghadiri acara inaugurasi untuk Barack Obama. George Bush Senior, Bill Clinton, Jimmy Carter, dan bahkan George Walker Bush yang oleh sebagian masyarakat dunia dinilai sebagai Presiden AS paling arogan, dalam acara ini tampil sebagai tokoh-tokoh yang tampak egalitarian. Semua ini tentu hanya kesan saya pribadi. Anda berhak tidak setuju.
US Presidential Oath
Kesan ketiga — dan ini yang paling membenam dalam ingatan saya — adalah sikap rendah hati masyarakat Amerika di hadapan Tuhan. Sikap ini tercermin dalam kalimat terakhir Sumpah Presiden Amerika Serikat (US Presidential Oath), yakni: So Help Me God. Terjemahan bebasnya: ” Semoga Tuhan membantu/menolong saya.” Bisa juga diartikan, “Oleh karena itu Ya Tuhan, tolonglah/bantulah saya.”
So Help Me God, adalah sebuah pengakuan di hadapan Tuhan bahwa sehebat apapun manusia, termasuk manusia yang beruntung menjadi Presiden Terpilih Amerika Serikat, hakikatnya hanyalah seorang manusia biasa yang selalu membutuhkan pertolongan Tuhan. Termasuk pertolongan dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin negara adidaya yang sangat berpengaruh di dunia.
So Help Me God, mengandung arti bahwa seorang presiden sekalipun sangatlah kecil di hadapan Tuhan, dan segala daya upaya yang dilakukannya hanya akan berhasil bila memperoleh bantuan/pertolongan Tuhan. Kalimat selengkapnya sumpah Presiden AS, atau United States Presidential Oath itu, adalah sebagai berikut:
I — sang tersumpah menyebutkan namanya – solemnly swear (or affirm) that I will faithfully execute the Office of President of the United States, and will to do the best of my ability, preserve, protect and defend the Constitution of the United States. So help me God. (Saya bersumpah dengan sesungguh-sungguhnya — atau menegaskan — bahwa saya akan melaksanakan tugas-tugas sebagai Presiden Amerika Serikat dengan penuh pengabdian, dan akan memberikan kemampuan saya yang terbaik (guna) menjaga, melindungi dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat. Oleh karena itu, Ya Tuhan, tolonglah/bantulah saya).

Obama mengucapkan sumpah di Capitol Hill.
Lalu bandingkan dengan kalimat-kalimat Sumpah Presiden (Wakil Presiden) Republik Indonesia: “Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”

Ketika Presiden SBY membacakan sumpah.
Secara keseluruhan, Sumpah Presiden AS dan Sumpah Presiden (Wakil Presiden) RI, memiliki kesamaan arti, hanya redaksionalnya saja yang berbeda. Tetapi ada perbedaan makna yang sangat jauh antara kalimat “Demi Allah” yang diucapkan Presiden (Wakil Presiden) RI dengan kalimat “So help me God” yang diucapkan Presiden AS.
Kalimat “Demi Allah” adalah sebuah kalimat yang bisa diartikan sebagai “mengatasnamakan Allah”. Seolah-olah Presiden (dan Wakil Presiden) RI adalah “wakil Tuhan” di bumi Indonesia. Sehingga semua tindak-tanduknya, seakan telah mendapat restu Allah. Kalimat “Demi Allah” sama sekali tidak mencerminkan kerendah-hatian seorang manusia (termasuk seorang Presiden/Wakil Presiden) di hadapan Tuhan.
Sebenarnya tidak mengherankan bila seorang Presiden (Wakil Presiden) RI, merasa dirinya wakil Tuhan, seperti tercermin dalam sumpah yang diucapkannya pada saat pelantikan. Ini merupakan warisan zaman kerajaan-kerajaan di nusantara, yang para rajanya selalu mendaulat diri sebagai wakil Tuhan, sehingga tanpa malu-malu mereka pun menjuluki diri mereka dengan gelar-gelar seperti Khalifatullah, atau Sayyidin Panatagama.
Sedangkan Presiden AS, akan selalu diingatkan (sesuai sumpahnya) bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa, yang kebetulan terpilih menjadi presiden. Mereka menjadi presiden karena dipilih oleh mayoritas warga AS yang terdaftar sebagai pemilih, bukan karena diangkat oleh Tuhan.
Memang Presiden RI pun (sejak Soesilo Bambang Yudhoyono) adalah presiden yang dipilih oleh mayoritas rakyat Indonesia yang ikut memilih. Oleh karenanya, tak perlu lagi mengatasnamakan Allah, dengan mengucapkan “Demi Allah” ketika membacakan sumpah.
Sumpah Presiden (Wakil Presiden) RI dan Sumpah Presiden AS, termaktub dalam konstitusi negara masing-masing. Tetapi tidak ada konstitusi buatan manusia yang tidak bisa diamandemen. Seperti juga konstitusi AS yang seringkali diamandemen, dan juga Undang-Undang Dasar NKRI yang beberapa bagian di antaranya telah diamandemen.
Jadi, tidak ada salahnya, bila suatu saat nanti, dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), para wakil rakyat (DPR dan DPD) yang terpilih lewat Pemilu, mengamandemen Sumpah Presiden (Wakil Presiden) RI, dengan mengganti kalimat “Demi Allah” dengan kalimat yang lebih manusiawi, yang lebih mencerminkan kerendah-hatian seorang manusia di hadapan Allah. Kalimat “Demi Allah” itu bisa diganti dengan kalimat, misalnya, “Semoga Allah Berkenan”, “Semoga Allah Memberkati”, atau “Ya Allah, Restuilah”, “Ya Allah, Saksikanlah”.
Yang juga perlu diubah adalah cara membacakan sumpah. Presiden (Wakil Presiden RI, mengucapkan sumpahnya dengan membacakan teks. Sedangkan Presiden (dan Wakil Presiden AS) mengucapkannya dengan menghafalnya terlebih dulu, dipandu oleh seorang Hakim Agung atau Ketua Mahkamah Agung.
Mengucapkan sumpah dengan membacakan teks, terasa datar dan kurang membangkitkan emosi bagi yang membaca dan menyaksikannya. Sedangkan bila mengucapkannya tanpa teks, akan terasa sangat emosional. Meskipun memang resikonya cukup tinggi, yakni lupa dengan apa yang harus diucapkan. Seperti yang dialami Presiden Barack Hussein Obama, dan Ketua Mahkamah Agung AS John G. Roberts. Keduanya sempat lupa dengan kalimat-kalimat sumpah yang harus diucapkan di hadapan jutaan khalayak di Capitol Hill, sehingga pengucapan sumpah Presiden Barack Hussein Obama harus diulang esok harinya di Gedung Putih, dengan hanya disaksikan kalangan terbatas.

Mengulang pengucapan sumpah di White House.
Yang juga cukup menarik (berbeda dengan tradisi pelantikan Presiden/Wakil Presiden RI), kalimat-kalimat sumpah yang diucapkan Presiden AS dan Wakil Presiden AS, tidaklah sama. Sumpah Wakil Presiden AS, lebih panjang dibandingkan dengan sumpah presidennya. Berikut, petikannya:
I do solemnly swear (or affirm) that I will support and defend the Constitution of the United States against all enemies, foreign and domestic; that I will bear true faith and allegiance to the same; that I take this obligation freely, without any mental reservation or purpose of evasion; and that I will well and faithfully discharge the duties of the office on which I am about to enter: So help me God.
Walau bagaimana pun, ruang lingkup kekuasaan seorang presiden, berbeda dengan wakil presiden. Begitu pula beban tanggung jawabnya. Tugas seorang wakil presiden hanyalah memberikan support (bantuan) kepada presiden, sesuai kapasitasnya. Sehingga wajarlah bila kalimat-kalimat sumpah yang mereka ucapkan pun berbeda. Bila kalimat-kalimat sumpah yang diucapkan presiden dan wakil presiden (seperti yang selama ini dilakukan di Indonesia), sama bunyinya, tidak menutup kemungkinan sang wakil presiden merasa sama kedudukannya dengan presiden. Meskipun memang kalimat-kalimat sumpah, bukan satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan hal itu.
Sekali lagi, Anda boleh setuju, boleh juga tidak dengan apa yang saya uraikan dalam tulisan ini. Tetapi jika Anda telah selesai membaca tulisan ini, mari kita bersama-sama mendengarkan sebuah lagu dari 50 Stars, yang tersimpan di situs You Tube, dengan mengklik: So Help Me God, a Tribute to President Obama.
Billy Soemawisastra
[Foto-foto: www.washingtonpost.com, www.goblogmedia.com, www.gatewaync.com, huffingtonpost.com, www.usatoday.net, swamppolitics.com]
Senin, 26 Januari 2009 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Inspirasi, Politik, Refleksi, Wacana | Amerika Serikat, Barack Hussein Obama, Sumpah Presiden | 2 Komentar
Kiprah Jagat Alit dalam Keriuhan Semesta (Sebuah Kredo)
Jagat Alit. Begitulah masyarakat tradisional Jawa dan Sunda menamakan mikrokosmos yang kehadirannya berfungsi sebagai penyeimbang dan pelengkap makrokosmos alias Jagat Gede atau Jagat Ageng (Sunda: Jagat Ageung). Jika Jagat Gede adalah semesta (universe) maka Jagat Alit merupakan inti atau ruh semesta. Letaknya di dalam diri setiap manusia.
Secara lahiriah, Jagat Alit memang merupakan bagian dari Jagat Gede. Tetapi sesungguhnya, Jagat Alit-lah yang “merangkum” Jagat Gede. Semua sifat semesta berkumpul dan bersemai di Jagat Alit, sehingga Jagat Alit pun sering disebut sebagai miniatur Jagat Gede.
Jagat Alit dan Jagat Gede selalu saling memengaruhi. Seperti bumi dan langit. Seperti laut dan rembulan. Seperti angin dan pepohonan. Seperti kebaikan dan keburukan. Seperti kesengsaraan dan kebahagiaan. Seperti cahaya dan kegelapan. Seperti Yin dan Yang.
Setiap gejolak yang terjadi di Jagat Alit, akan memengaruhi perjalanan makrokosmos. Pun, begitu sebaliknya, segala sesuatu yang terjadi di Jagat Gede, akan berpengaruh terhadap eksistensi Jagat Alit.
Akan tetapi, Jagat Alit-lah yang paling bertanggung jawab untuk menjaga agar saling pengaruh-memengaruhi antara makromosmos dan mikrokosmos itu tidak menjelma menjadi bencana. Melainkan justru kebahagiaan.
Tugas memelihara keseimbangan (harmoni) semesta, terletak di pundak Jagat Alit, karena Jagat Gede lebih cenderung bersikap pasif. Sehingga Jagat Alit-lah, yang harus senantiasa aktif. Jagat Gede “hanyalah” hardware (perangkat keras). Jagat Alit, software-nya (perangkat lunak).
Jagat Alit, yang secara harfiah berarti “dunia kecil” itu, hakikatnya merupakan dunia yang tak berbatas cakrawala, karena seluruh penghuninya melulu ide, gagasan, inspirasi, yang tak pernah mengenal batas. Tentu saja bila manusia yang “dititipinya” tidak membuat batas-batas. Tidak melakukan pembelengguan terhadap ide, gagasan dan inspirasi yang mencuat dari Jagat Alit-nya.
Dengan membebaskan pikiran (gagasan) dari berbagai batasan, maka sebenarnya kita sedang mensyukuri nikmat Tuhan, yang telah menciptakan pikiran kita tanpa bingkai sedikit pun. Kitalah yang terkadang — sadar atau tak sadar — membuat bingkai-bingkai itu, sehingga kita pun takut berpikir. Bukankah Tuhan selalu memerintahkan manusia, untuk tak henti-hentinya berpikir, karena Tuhan sendiri adalah Sang Maha Pemikir?
Dengan membingkai pikiran, kita akan terjebak pada kekalutan, seperti yang pernah dialami Bimasena, ketika mencari Dewaruci hingga ke dasar samudera. Padahal Dewaruci yang akhirnya ditemukan putera pandawa itu, letaknya di dasar diri.
Dewaruci adalah diri kita sendiri, yang harus terus menerus dieksplorasi, agar kita benar-benar mengenal diri kita yang sesungguhnya. Diri kita yang merupakan Jagat Alit. “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu – Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.” begitu sabda Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa-alihi Wassalam (SAW).
Atas dasar pemikiran semacam itulah, blog ini saya namakan “Jagat Alit”. Sebuah jagat kecil tempat menyemai segala gagasan yang bermunculan di atas semesta (atau bahkan di luar semesta). Gagasan yang berasal dari kemurahan Tuhan, Sang Pencipta, Sang Pemelihara dan Sang Penguasa jagat raya.
Maka segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, Ar-Rahman, Ar-Rahim, Az-Zahir, Al-Batin, Al-Ghafur, Al-Halim. Gusti Yang Maha Suci, Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Tunggal, Sang Murba Wisesa, Hyang Murbeng Alam, Debata Mulajadi Na Bolon. Yahweh, Elohim, Adonai, El Elyon, El Olam, El Gibbor, El Shaddai.
Tuhan Yang Maha Dahsyat. Tuhan Yang Mempunyai Banyak Nama. Tuhan Yang Hanya Satu-Satunya. Tuhan yang Itu-Itu juga. Tuhan Yang Tidak Bisa Diserupakan dengan segala sesuatu.
Tuhan Yang Mencintai seluruh makhluk ciptaanNya, tanpa terkecuali: apapun bentuknya, apapun jenisnya, apapun bangsanya, apapun bahasanya, apapun budayanya, apapun warna kulitnya, apapun agama dan keyakinannya.
Dengan segala kerendahan hati dan berserah diri, saya mohon kesediaan Paduka, untuk selalu membimbing saya pada setiap langkah yang saya tempuh, pada setiap oksigen yang saya hirup, pada setiap lintasan pikiran dan getaran perasaan yang beragam, serta pada setiap ucap yang saya lisankan dalam keseharian, ataupun saya tuliskan melalui blog yang amat sederhana ini.
Hanya kepada Paduka saya menyembah, meminta pertolongan dan perlindungan. Hanya kepada Paduka saya memohon ampunan atas segala dosa yang selalu saja saya lakukan.
Hanya kepada Paduka saya ucapkan terima kasih yang tiada terhingga atas segala karunia yang senantiasa Paduka limpahkan di Jagat Gede. Paduka telah melengkapi hidup saya yang amat indah ini, dengan Jagat Alit yang sangat subur dan luas.
Amin.
Billy Soemawisastra
Kuncen Jagat Alit
Maklumat buat Para Sobat
Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: http://www.jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.
-
Tulisan Terlaris
-
Para Sobat yang Sempat Melawat
- 34,844 Lawatan
Peta Pengunjung
Situs Para Sobat
Alun-Alun, Tempat Para Bocah Berkiprah dan Para Mbah Tetirah- Adegan Seks Berbalut Film HororBetulkah film Indonesia bangkit kembali? Jika menilik jumlah film Indonesia yang dibuat setiap tahun, angka-angkanya memang terlihat meningkat dengan cukup meyakinkan. Jika di tahun 2007 sekitar 53 film Indonesia diproduksi, di tahun 2008 angkanya sudah menjadi 87 film. Jumlah 100 film yang diproduksi dalam waktu 1 tahun, bahkan sudah terlampaui di tahun 20 […]Indriati Yulistiani
- Justeru Dalam Hujan, Panasnya Kian MenyengatCiater selalu membuat saya dan Indri (isteri saya) rindu. Jika dalam tiga bulan saja kami tidak berkunjung ke Ciater, sudah bisa dipastikan Indri akan merengek-rengek minta diajak ke sana, barang satu hingga dua hari. Ciater memang ngangenin. Setidaknya ada tiga hal yang membuat kami selalu kangen Ciater. Pertama, udaranya yang sejuk dan masih bersih alias [ […]Billy Soemawisastra
- Papan Penunjuk Jalan atau Reklame?Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu, Bandung dikenal sebagai kota yang semrawut. Jalan-jalan kota yang hancur, banyak berlubang. Sampah bertebaran di berbagai tempat. Dan, di kota yang pernah dikenal sebagai Parijs van Java itu, sangat jarang ditemukan papan penunjuk jalan. Sehingga, orang-orang yang tidak begitu akrab dengan “kota kembang” — yang s […]Billy Soemawisastra
- Industri Besar Penguasa Industri BudayaIndustri media di dunia tidak bisa dipungkiri terus mencatat perkembangan pesat. Lingkup globalisasi di masa kini membuat perkembangan di tingkat internasional pasti bergaung di tingkat nasional sebuah negara. Tidak hanya dalam bentuk karya tapi juga industrinya. Menurut pengamatan Edward S. Herman dan Robert W. McChesney, dalam tulisan mereka yang berjudul […]Indriati Yulistiani
- ”Major Label” Penguasa Industri Musik DuniaPembagian kue industri musik dunia dari tahun ke tahun sebetulnya tidak memperlihatkan perbedaan yang mencolok. Menurut data Nielsen SoundScan International (salah satu pencatat angka penjualan musik dunia), jika di tahun 2005, 81,7% pasar industri rekaman dunia dikuasai label-label utama dunia, di tahun 2007 angkanya berada pada kisaran 86,37%. Karena itu, […]Indriati Yulistiani
- Kearifan Lokal dalam Pesan Sebuah FilmKeberhasilan film Australia dalam memperlihatkan kekuatan local wisdom atau kearifan lokal, membuat saya teringat pada beberapa film lain dengan konteks yang sama. Konteks budaya lokal saat harus berhadapan dengan budaya modern (budaya Barat/western). Salah satunya, yang paling fenomenal, adalah film The Gods Must Be Crazy. Jika film Australia (meskipun sed […]Indriati Yulistiani
- Benton Junction dalam Dimensi WaktuMengapa “perjalanan waktu” bisa berbeda di suatu tempat dan tempat lainnya? Di berbagai kota besar, terutama kota metropolitan Jakarta, detak jam terasa begitu cepat, sehingga sebagian besar warganya selalu merasa kekurangan waktu. Sementara masih banyak kegiatan yang harus diselesaikan. Seorang teman saya yang “sok sibuk” sering meng […]Billy Soemawisastra
- Adegan Seks Berbalut Film Horor
Lawang Kuncen
-
Tulisan Terakhir
- Paskah dan SMS Sejuta Umat
- Dari Perkebunan Kolonial ke Perkebunan Rakyat
- Perkenankan Aku Menghasut
- Amir Sjarifoeddin, Penghianat atau Pejuang?
- Mensyukuri Musibah: Mampukah?
- Surat Terbuka untuk Tuan Presiden: Dengarlah Suara Hatimu
- Peringatan Kemerdekaan dalam Bayang-bayang Terorisme
- Serangan Teroris dan Presiden yang Melodramatik
- Sense of Crisis
- Mi’raj Isa Al-Masih
Pustaka Gagasan
- April 2010 (1)
- Maret 2010 (1)
- Februari 2010 (1)
- Desember 2009 (1)
- November 2009 (2)
- Agustus 2009 (1)
- Juli 2009 (2)
- Mei 2009 (5)
- April 2009 (1)
- Februari 2009 (2)
- Januari 2009 (2)
- Desember 2008 (5)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (4)
- September 2008 (6)
- Agustus 2008 (1)
- Juli 2008 (5)
- Juni 2008 (3)
- Mei 2008 (4)
- April 2008 (5)
- Maret 2008 (1)
- Januari 2008 (3)
- Desember 2007 (4)
- November 2007 (1)
- Agustus 2007 (1)
- Juni 2007 (1)
- Maret 2007 (1)
Rubrikasi
- Agama (24)
- Eksplorasi Diri (9)
- Hukum (2)
- In Memoriam (2)
- Inspirasi (22)
- Mantra Swara (1)
- Meditasi (3)
- Politik (9)
- Prominensia (7)
- Puisi (7)
- Refleksi (39)
- Resensi Buku (4)
- Sejarah (5)
- Wacana (28)
- Wisata Sukma (2)
-
Para Penulis
-
Ujar-Ujar Para Sobat
Aluin Tsang on Kiprah Jagat Alit dalam Keriuh… Billy Soemawisastra on Meditasi Hening, Perjalanan Me… Budi Prayigno on Meditasi Hening, Perjalanan Me… gopril on Kesederhanaan Arthur John Horoni on Dari Perkebunan Kolonial ke Pe… fansmaniac on Dari Perkebunan Kolonial ke Pe… Pambudi Nugroho on Perkenankan Aku Menghasut Arthur John Horoni on Perkenankan Aku Menghasut Leonardus S Neno on Perkenankan Aku Menghasut eugine on Terima Kasihku pada Sang … adwasfa on Umatku … Umatku … soegeng soediro on Haji dan Qurban: Total Bersera… Arthur J. Horoni on Amir Sjarifoeddin, Penghianat … Pambudi Nugroho on Amir Sjarifoeddin, Penghianat … Tarbiyatul banin on Amir Sjarifoeddin, Penghianat … Lacak Kata
AKKBB Al-Quran Amerika Serikat Anshor Barack Hussein Obama Buddha Dalia Mogahed Dewan Gereja-Gereja Sedunia FPI Gallup Gereja Habib Rizieq Shihab Hening Hijrah Hijriyah Ikhlas Islam John L. Esposito Katolik Kekerasan Kematian Korupsi KPK Kristen Muhajirin Muhammad SAW Nasrani Natal Papua Paulo Coelho Pemilu PGI Pluralisme PMK-HKBP Qomariyah Ramadhan SD Harintha Sejarah Islam Siddharta Gautama Soeharto Spiritualisme Terorisme World Council of Churches Yahudi Yesus Kristus






