<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Ketika Agama Dijadikan Alat Politik</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/2009/02/02/ketika-agama-dijadikan-alat-politik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com/2009/02/02/ketika-agama-dijadikan-alat-politik/</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 02:24:25 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Billy Soemawisastra</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/02/02/ketika-agama-dijadikan-alat-politik/#comment-139</link>
		<dc:creator><![CDATA[Billy Soemawisastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 15:09:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=1014#comment-139</guid>
		<description><![CDATA[Bung Pambudi,

Saya juga mengagumi Anda atas luasnya pemahaman Anda tentang pemikiran Islam. Seharusnya seperti itulah kita, saling mempelajari ajaran agama saudara-saudara kita. Yang Muslim mempelajari ajaran dan pemikiran Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi dan lain sebagainya. Pun, begitu sebaliknya. Dengan demikian kita akan menjumpai &quot;titik temu&quot; yang sama. Karena sepanjang pengetahuan saya, ajaran-ajaran semua agama yang ada di dunia ini, lebih banyak persamaannya, ketimbang perbedaannya. Persamaannya justru terletak pada ajaran inti masing-masing agama, yakni: menyembah dan berserah diri kepada Tuhan yang sama, dan menganjurkan berbuat kebaikan pada sesama manusia.

Saya ingat pada salah satu email yang pernah Anda kirimkan, Anda mengutip Kitab Nahjul Bhalaghah karangan Imam Ali bin Abi Thalib. Bukan main. Itu kitab yang sangat bagus, berisi ajaran-ajaran spiritual yang sangat universal. Para pemuda Muslim saja (terutama yang tinggal di Indonesia) masih banyak yang belum membacanya. Tetapi Anda sudah. Teruskan Bung.

Saya senang sekali atas kunjungan Anda yang cukup sering ke Jagat Alit, dan saya juga sangat bergembira dengan keinginan Anda untuk menautkan Jagat Alit ke blog Anda. Saya juga akan menautkan http://rawapada.wordpress.com ke blog saya. 

Jangan kecil hati dengan blog yang Anda katakan &quot;masih kemarin sore&quot;. Segala sesuatu di atas semesta ini selalu ada awalnya. Sekali Anda mulai ngeblog, teruslah ngeblog. Saya yakin orang seperti Anda tidak akan kekurangan inspirasi untuk menulis dan terus menulis guna menyebarkan cinta dan kedamaian bagi seluruh umat.

Semoga Tuhan memberkati Anda, teman-teman Anda, dan seluruh keluarga Anda.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Pambudi,</p>
<p>Saya juga mengagumi Anda atas luasnya pemahaman Anda tentang pemikiran Islam. Seharusnya seperti itulah kita, saling mempelajari ajaran agama saudara-saudara kita. Yang Muslim mempelajari ajaran dan pemikiran Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi dan lain sebagainya. Pun, begitu sebaliknya. Dengan demikian kita akan menjumpai &#8220;titik temu&#8221; yang sama. Karena sepanjang pengetahuan saya, ajaran-ajaran semua agama yang ada di dunia ini, lebih banyak persamaannya, ketimbang perbedaannya. Persamaannya justru terletak pada ajaran inti masing-masing agama, yakni: menyembah dan berserah diri kepada Tuhan yang sama, dan menganjurkan berbuat kebaikan pada sesama manusia.</p>
<p>Saya ingat pada salah satu email yang pernah Anda kirimkan, Anda mengutip Kitab Nahjul Bhalaghah karangan Imam Ali bin Abi Thalib. Bukan main. Itu kitab yang sangat bagus, berisi ajaran-ajaran spiritual yang sangat universal. Para pemuda Muslim saja (terutama yang tinggal di Indonesia) masih banyak yang belum membacanya. Tetapi Anda sudah. Teruskan Bung.</p>
<p>Saya senang sekali atas kunjungan Anda yang cukup sering ke Jagat Alit, dan saya juga sangat bergembira dengan keinginan Anda untuk menautkan Jagat Alit ke blog Anda. Saya juga akan menautkan <a href="http://rawapada.wordpress.com" rel="nofollow">http://rawapada.wordpress.com</a> ke blog saya. </p>
<p>Jangan kecil hati dengan blog yang Anda katakan &#8220;masih kemarin sore&#8221;. Segala sesuatu di atas semesta ini selalu ada awalnya. Sekali Anda mulai ngeblog, teruslah ngeblog. Saya yakin orang seperti Anda tidak akan kekurangan inspirasi untuk menulis dan terus menulis guna menyebarkan cinta dan kedamaian bagi seluruh umat.</p>
<p>Semoga Tuhan memberkati Anda, teman-teman Anda, dan seluruh keluarga Anda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Pambudi Nugroho</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/02/02/ketika-agama-dijadikan-alat-politik/#comment-138</link>
		<dc:creator><![CDATA[Pambudi Nugroho]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 05:41:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=1014#comment-138</guid>
		<description><![CDATA[Salam Sejahtera Bung Billy ,

Saya mengagumi sikap kritis anda terhadap pemuka agama. 
Buat saya, Golput adalah salah satu sikap berdemokrasi.
Jika rakyat tetap tertindas dan menderita, berarti mereka bebas menyatakan ketidakpuasan mereka dengan cara tidak berpartisipasi. namun tanpa “ darah hidup” berupa tindakan, demokrasi akan mulai melemah. Karena kebebasan berbicara dan berpendapat adalah darah hidup setiap demokrasi. Berdebat dan memberikan suara, berserikat dan memprotes serta beribadah akan menjamin keadilan bagi semua. seperti kata Presiden AS ke 16 Abraham Lincoln mengatakan demokrasi adalah suatu pemerintahan “ dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat”

Ulama menurut saya, sebagai pengontrol jalannya pemerintahan yang dikendalikan penguasa.Seperti yang dicontohkan Khalid bin Sa’id, sebagai rakyat setiap Muslim juga punya kewajiban sebagai da’i yang selalu memberikan peringatan kepada pemimpin. Dengan menjalankan peran itu, setiap Muslim, terutama para da’i dan aktivis, akan melengkapi sendi-sendi stabilitas dunia yakni: keberdayaan ulama (dengan ilmunya); keadilan para penguasa; kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana semestinya, maka akan terjadi instabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Seingat saya , keadilanpun merupakan salah satu tugas dan tauladan Rasulullah SAW yang harus ditegakkan. (Al-Baqarah 143). Dalam ajaran kami umat nasrani , Nabi Amos ,
Habakuk , memberikan teladan untuk kritis ketika keadilan tidak berpihak , terutama rakyat jelata. Seperti Khalil Gibran yang menghantam pemuka agama Libanon. Pemeluk agama apapun harus berani menyuarakan kebenaran ( suara nabi ) untuk kritis dan tidak &quot;Mandul&quot; ketika penguasa berbuat tidak adil terhadap rakyatnya. karna konon Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. 

Mohon maaf komentar saya terlalu panjang Bung.Jika bung berkenan blog jagatalit akan saya tautkan kedalam blog saya ( Blog saya masih kemarin sore ,bung ).

Salam dan Tuhan memberkati kesehatan bung dan keluarga. 
Pambudi Nugroho]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Sejahtera Bung Billy ,</p>
<p>Saya mengagumi sikap kritis anda terhadap pemuka agama.<br />
Buat saya, Golput adalah salah satu sikap berdemokrasi.<br />
Jika rakyat tetap tertindas dan menderita, berarti mereka bebas menyatakan ketidakpuasan mereka dengan cara tidak berpartisipasi. namun tanpa “ darah hidup” berupa tindakan, demokrasi akan mulai melemah. Karena kebebasan berbicara dan berpendapat adalah darah hidup setiap demokrasi. Berdebat dan memberikan suara, berserikat dan memprotes serta beribadah akan menjamin keadilan bagi semua. seperti kata Presiden AS ke 16 Abraham Lincoln mengatakan demokrasi adalah suatu pemerintahan “ dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat”</p>
<p>Ulama menurut saya, sebagai pengontrol jalannya pemerintahan yang dikendalikan penguasa.Seperti yang dicontohkan Khalid bin Sa’id, sebagai rakyat setiap Muslim juga punya kewajiban sebagai da’i yang selalu memberikan peringatan kepada pemimpin. Dengan menjalankan peran itu, setiap Muslim, terutama para da’i dan aktivis, akan melengkapi sendi-sendi stabilitas dunia yakni: keberdayaan ulama (dengan ilmunya); keadilan para penguasa; kedermawanan orang-orang kaya dan doa para fuqara. Bila salah satu sendi tak berfungsi sebagaimana semestinya, maka akan terjadi instabilitas dalam berbagai aspek kehidupan manusia.</p>
<p>Seingat saya , keadilanpun merupakan salah satu tugas dan tauladan Rasulullah SAW yang harus ditegakkan. (Al-Baqarah 143). Dalam ajaran kami umat nasrani , Nabi Amos ,<br />
Habakuk , memberikan teladan untuk kritis ketika keadilan tidak berpihak , terutama rakyat jelata. Seperti Khalil Gibran yang menghantam pemuka agama Libanon. Pemeluk agama apapun harus berani menyuarakan kebenaran ( suara nabi ) untuk kritis dan tidak &#8220;Mandul&#8221; ketika penguasa berbuat tidak adil terhadap rakyatnya. karna konon Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. </p>
<p>Mohon maaf komentar saya terlalu panjang Bung.Jika bung berkenan blog jagatalit akan saya tautkan kedalam blog saya ( Blog saya masih kemarin sore ,bung ).</p>
<p>Salam dan Tuhan memberkati kesehatan bung dan keluarga.<br />
Pambudi Nugroho</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: soegeng soediro</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/02/02/ketika-agama-dijadikan-alat-politik/#comment-133</link>
		<dc:creator><![CDATA[soegeng soediro]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 04:37:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=1014#comment-133</guid>
		<description><![CDATA[Terus terang saja, saya meragukan apa yang&quot;mereka&quot; fatwakan itu dimengerti apa tidak.Jangan-jangan latah dan tidak tahu apa-apa.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terus terang saja, saya meragukan apa yang&#8221;mereka&#8221; fatwakan itu dimengerti apa tidak.Jangan-jangan latah dan tidak tahu apa-apa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: racheedus</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/02/02/ketika-agama-dijadikan-alat-politik/#comment-132</link>
		<dc:creator><![CDATA[racheedus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 17:58:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=1014#comment-132</guid>
		<description><![CDATA[Al-Ghazali membedakan ulama jadi dua macam,ulama su&#039;u dan ulama khair. Ulama su&#039;u adalah ulama yang mendekati penguasa. Ulama khair adalah ulama yang bisa menjaga jarak dengan penguasa dan tetap menjaga independinya. Saya hanya berharap, para ulama yang mengeluarkan fatwa itu bukan termasuk kategori ulama su&#039;u seperti yang dikatakan al-Ghazali. 
Meski demikian, Islam juga tidak mengharamkan politik. Bahkan Nabi sendiri seorang politikus handal. Para ulama pun tidak perlu dilarang berpolitik. Dalam kajian Islam sendiri, ada fikih siyasah, fikih politik. Persoalannya adalah bagaimana politik yang dilakukan tetap berwajah santun dan bisa merangkul berbagai kelompok yang ada, bahkan kelompok-kelompok lain di luar Islam, sebagaimana Nabi Muhammad tetap bisa menerima keberadaan kelompok Yahudi dan Nasrani saat di Madinah.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Al-Ghazali membedakan ulama jadi dua macam,ulama su&#8217;u dan ulama khair. Ulama su&#8217;u adalah ulama yang mendekati penguasa. Ulama khair adalah ulama yang bisa menjaga jarak dengan penguasa dan tetap menjaga independinya. Saya hanya berharap, para ulama yang mengeluarkan fatwa itu bukan termasuk kategori ulama su&#8217;u seperti yang dikatakan al-Ghazali.<br />
Meski demikian, Islam juga tidak mengharamkan politik. Bahkan Nabi sendiri seorang politikus handal. Para ulama pun tidak perlu dilarang berpolitik. Dalam kajian Islam sendiri, ada fikih siyasah, fikih politik. Persoalannya adalah bagaimana politik yang dilakukan tetap berwajah santun dan bisa merangkul berbagai kelompok yang ada, bahkan kelompok-kelompok lain di luar Islam, sebagaimana Nabi Muhammad tetap bisa menerima keberadaan kelompok Yahudi dan Nasrani saat di Madinah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

