Jagat Alit

Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan

Serangan Teroris dan Presiden yang Melodramatik

Sehari setelah peristiwa pemboman Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, saya mendapat kiriman SMS dari Habib Rizieq Syihab, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI). Kali ini, saya sepenuhnya setuju dengan apa yang diungkapkan Pak Habib melalui SMS yang cukup panjang itu. Berikut isi SMS tersebut (yang saya bagi ke dalam tiga alinea):

“Pernyataan SBY yang mengaitkan Bom Mega Kuningan dengan Ketidakpuasan hasil Pilpres adalah bentuk kepanikan yang sangat emosional dan tendensius, sekaligus provokatif dan gegabah. Bahkan terlalu bodoh, karena jika SBY bisa berasumsi bahwa Bom tersebut sebagai bentuk ketidakpuasan pihak tertentu terhadap hasil Pilpres, maka pihak lain pun bisa berasumsi sebaliknya bahwa Bom tersebut sebagai upaya pengalihan perhatian untuk menutupi kecurangan Pilpres, sekaligus sebagai upaya beri kesan terzalimi agar dapat simpati rakyat sebagaimana kebiasaan SBY selama ini.

Artinya, jika Bom tersebut dipolitisir, maka siapapun bisa dituduh dengan motifnya masing-masing, termasuk SBY sekalipun. Karena itu, STOP segala bentuk asumsi, dan serahkan saja kepada pengusutan, penyelidikan dan penyidikan yang berwenang. Jalankan proses hukum yang tegas & jelas, serta jujur & adil. Yang jelas kita mengecam keras Bom tersebut siapapun pelakunya dan apapun motif & alasannya. Apalagi dilakukan di bulan Rajab yang merupakan salah satu dari empat bulan suci yang diharamkan terjadi pertumpahan darah.

Pelakunya mesti dicari, ditangkap, diadili & dihukum yang setimpal. Bukan saja karena jatuhnya korban nyawa ataupun luka, serta menebar rasa takut secara meluas di tengah masyarakat, tapi juga di saat suhu politik memanas, maka Bom tersebut bisa menjadi pemantik adu domba antar-anak bangsa sehingga bisa terjadi perang saudara, dan di saat ekonomi negeri sedang ambruk dengan total utang 1700 trilyun rupiah, maka Bom tersebut juga bisa buat negeri collaps. Ayo, STOP TEROR BOM! Lawan segala kejahatan kemanusiaan! Tegakkan hukum dan keadilan!”

Tentu saja bukan hanya saya yang mendapat SMS serupa dari Habib Rizieq Syihab. Mungkin pula bukan hanya saya yang setuju pada isi SMS tersebut, karena apa yang diungkapkan Habib Rizieq, mewakili pikiran banyak orang. Terutama mereka yang menyaksikan pidato Presiden SBY di halaman Istana Negara, pada Jum’at sore, beberapa jam setelah peristiwa pemboman di Mega Kuningan.

Sore itu jutaan pemirsa televisi di Indonesia, disuguhi pertunjukan monolog melodramatik. Seorang aktor teater di podium kenegaraan menghiba-hiba, mengungkapkan bahwa foto dirinya menjadi sasaran latihan tembak para teroris. Lalu menyindir lawan-lawan politiknya yang konon tidak rela jika ia memimpin lagi negeri ini, tidak rela jika ia dilantik. Sesekali ia menengadah ke atas, seolah-olah mengadu kepada Kekuatan Yang Lebih Tinggi. Sering pula ia berhenti sejenak di tengah-tengah pembicaraannya, seperti menahan kesedihan, menahan tangis. Lama sekali monolog yang cenderung monoton itu dipertunjukkan di layar televisi. Tiba-tiba saja, ”Cengeng!” ujar seorang teman di sebelah saya yang sama-sama menonton pertunjukan itu, seraya beranjak pergi.

Saya pun tersentak, seakan disadarkan bahwa aktor yang tengah bermonolog dengan gaya melodramatik itu adalah seorang presiden. Presiden saya, yang berdasarkan penghitungan sementara, berhasil mengumpulkan suara terbanyak dalam pemilihan presiden yang baru saja usai. Presiden yang negerinya sangat luas dan rakyatnya beragam. Presiden yang negerinya sedang dilanda berbagai kesulitan, mulai dari kesulitan ekonomi, hingga kesulitan akibat bencana alam dan penyakit. Presiden yang negerinya memerlukan seorang pemimpin yang sangat kuat untuk menyatukan rakyatnya menghadapi berbagai persoalan. Presiden yang harus kembali berupaya menyatukan bangsanya, setelah dalam Pemilu dan Pilpres yang baru lalu, terbagi-bagi dalam berbagai kelompok.

Dan, tiba-tiba saja, Blar … Blar … Dua bom berdaya-ledak tinggi mengoyak kesunyian pagi, di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott. Sembilan orang tewas dan 53 orang luka-luka. Tentu saja semua orang terkejut dan nyaris tidak percaya dengan peristiwa tersebut, mengingat sudah hampir lima tahun rakyat Indonesia merasa aman dari serangan teroris. Sebelumnya, serangan teroris terjadi setiap tahun: Bom Bali I (tahun 2002); pemboman JW Marriott I (2003); pemboman di depan kedutaan besar Australia (2004); dan Bom Bali II (2005).

Orang-orang yang menyaksikan liputan langsung berbagai TV swasta nasional dari lokasi kejadian, kembali teringat pada kelompok Jemaah Islamiyah (JI) yang diduga berada di balik aksi pemboman tersebut. Apalagi mengingat Noordin M. Top, tersangka dalang di balik semua aksi teror itu hingga kini masih buron. Dari berbagai komentar di layar televisi, termasuk CNN (TV yang paling mumpuni di dunia pemberitaan) tidak ada yang mengaitkan aksi teror di Mega Kuningan jum’at pagi itu, dengan Pemilihan Presiden yang baru saja usai. Karena, Pilpres berlangsung damai, sejak masa kampanye hingga pemungutan suara. Kalaupun ada sejumlah protes atas kemungkinan terjadinya kecurangan, yang dilontarkan para capres yang mendapat suara lebih sedikit dari perolehan suara SBY-Boediono, itu juga dilakukan secara damai. Bahkan tanpa penggalangan massa, atau unjuk rasa di jalan-jalan.

Itu sebabnya, ketika Presiden SBY memulai pidatonya di halaman Istana Negara, Jum’at petang, banyak orang tidak mengira bahwa presiden yang amat ”santun” itu akan mengaitkan pemboman di Mega Kuningan dengan ketidakpuasan atas hasil Pilpres. Banyak orang berharap, presiden yang ahli bertutur itu, akan mengecam sekeras-kerasnya siapapun pelaku aksi teror, tanpa sindir sana, sindir sini. Lalu mengajak semua komponen bangsa, termasuk lawan-lawan politiknya di masa Pilpres berlangsung, untuk bersatu-padu bersama pemerintah guna melawan terorisme, seraya melupakan segala perbedaan yang ada.

Tetapi apa yang kemudian terjadi adalah pertunjukan monolog melodramatik yang mengecewakan, seperti yang telah diungkapkan Habib Rizieq Syihab, melalui SMS-nya di atas. Selain itu, bukankah para teroris akan merasa senang dengan pidato panjang sang presiden di sore itu? Menurut para pengamat terorisme, tujuan para teroris dalam melakukan aksi terornya, antara lain adalah untuk menebar rasa takut dan memperoleh perhatian sebesar-besarnya dari khalayak ramai. Sekarang, tujuan mereka berhasil, karena aksi mereka telah membuat seorang presiden dari negara besar menghiba-hiba di depan rakyatnya dalam keadaan panik, dan membuat rakyatnya saling curiga dan semakin dicekam ketakutan. Betul-betul menyedihkan.

Billy Soemawisastra

Senin, 20 Juli 2009 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Politik, Wacana | , , , , , | & Komentar

Sense of Crisis

Sulit menemukan padanan kalimat sense of crisis yang tepat, singkat, padat, dalam bahasa Indonesia, kecuali mungkin: “Kepekaan menghadapi krisis”. Wah, terlalu panjang kalimat itu rasanya, jika dibandingkan dengan sense of crisis yang hanya terdiri atas empat suku kata. Selain juga, padanan itu masih kurang tepat. Kata sense dalam frasa sense of crisis, tidak hanya berarti kepekaan. Tetapi juga kewaspadaan, ketergesaan, kesegeraan dan pada akhirnya kesigapan dalam menghadapi krisis, karena krisis adalah krisis, permasalahaan yang sangat mendesak untuk segera diselesaikan, ditanggulangi.

Bahasa Indonesia memang tergolong masih berusia muda, pun kosakatanya  masih terbilang miskin, jika dibandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa-bahasa “tua” lainnya, yang sudah berabad-abad digunakan berbagai bangsa di dunia.  Tetapi bukan soal itu yang ingin saya diskusikan. Melainkan “ruh” dari frasa sense of crisis itu sendiri (tanpa harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) yang ternyata tidak dimiliki para pengelola republik ini.

Sebagai contoh, krisis flu babi alias flu A-H1N1, yang beberapa bulan lalu mulai didengung-dengungkan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) sebagai penyakit berbahaya dan mematikan, ditanggapi pemerintah Indonesia secara adem ayem. Bahkan ada pejabat tinggi di bidang kesehatan yang justru berkomentar bahwa WHO terlalu membesar-besarkan masalah. Ada pula pejabat yang mengatakan, flu babi tidak akan pernah bisa menyebar di Indonesia, karena virusnya tidak akan kuat bertahan di negara tropika. Untungnya, belum ada yang berani mengatakan Indonesia bebas flu babi.

Kini coba kita simak. Berdasarkan data-data yang dihimpun berbagai media, di negeri kita dalam tiga hari terakhir ini terjadi lonjakan kasus positif flu A-H1N1 sebanyak 60 kasus, sehingga seluruhnya menjadi 112 kasus positif. Dua pasien terduga influenza A-H1N1 meninggal dunia, yakni di Padang, Sumatera Barat dan Denpasar, Bali, walau belum bisa dipastikan apakah flu A-H1N1 yang menjadi penyebab kematian mereka. Ini belum termasuk beberapa warga negara Indonesia yang mau tak mau dirawat di rumah sakit mancanegara, karena diduga terpapar virus flu babi. Dengan kata lain, virus A-H1N1 terbukti bukan hanya “milik” orang asing. Orang Indonesia juga bisa terkena.

Apakah kita akan menunggu jatuhnya puluhan atau ratusan korban tewas akibat penyakit ini, untuk membuat pemerintah bertindak sigap dan menganggap krisis flu babi ini sebagai krisis yang berbahaya bagi rakyat kita? Memang, sejumlah rumah sakit sudah disiagakan dan alat pemantau suhu tubuh pun tersedia di bandara-bandara internasional, namun itu saja rasanya belum cukup, karena penularan virus A-H1N1 bisa terjadi di mana saja.

Sampai saat ini kita masih belum melihat adanya pusat-pusat pemantau krisis flu A-H1N1 di tengah masyarakat. Pejabat kesehatan yang berwenang pun hanya mampu mengimbau masyarakat untuk waspada, melalui keterangan pers, bukan dengan turun langsung ke tengah masyarakat. Walhasil, masih sangat banyak anggota masyarakat yang belum faham betul mengenai sejauh mana tingkat bahaya virus influenza yang satu ini, dan bagaimana menanggulanginya.

Pemerintah Indonesia sangat jauh ketinggalan dibandingkan pemerintah negara lain, dalam mengelola kasus flu babi. Pemerintah Thailand saja sudah menyetujui tambahan anggaran 25 juta dolar Amerika, untuk memproduksi vaksin dan obat-obatan antivirus, karena jumlah korban meninggal dunia akibat virus ini semakin bertambah di Thailand. Di negeri Gajah Putih itu jumlah korban meninggal sudah mencapai 24 orang dari 4.057 kasus positif influenza A-H1N1.

Tentu saja tidak perlu menunggu jatuhnya korban sebanyak itu, untuk membuat pemerintah Indonesia tergesa-gesa melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan. Jangan pula memandang remeh kasus flu babi ini, sebelum segalanya terlambat, seperti yang sering kita alami dalam kasus penyakit lainnya seperti Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sudah terlalu sering kita menyaksikan riuh rendahnya jerit tangis anggota keluarga yang ditinggalkan penderita DBD yang meninggal dunia, dan banyak penderita yang tidak kebagian ruangan perawatan di banyak rumah sakit. Padahal DBD adalah penyakit musiman yang bisa diantisipasi sejak jauh hari. Jangan sampai itu terjadi pada kasus flu A-H1N1. Tapi masihkah pemerintah Indonesia memiliki sense of crisis?

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini juga dapat dilihat di www.liputan6.com]

Rabu, 15 Juli 2009 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Refleksi, Wacana | , | Belum Ada Tanggapan