<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Surat Terbuka untuk Tuan Presiden: Dengarlah Suara Hatimu</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 17:22:26 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Billy Soemawisastra</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/#comment-241</link>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 07:01:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1260#comment-241</guid>
		<description>Salam jumpa kembali, Mas Handaru. Terima kasih atas komentar Anda.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam jumpa kembali, Mas Handaru. Terima kasih atas komentar Anda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: handaru</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/#comment-239</link>
		<dc:creator>handaru</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 04:30:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1260#comment-239</guid>
		<description>Halo Pak Bill, Wah lam juga saya tidak berselancar di blognya pak BIll yang penuh pencerahan ini. SEhat sehat saja kan Pak ? mencermati Presiden kita ini hati serasa gregetan...banyak informasi bertebaran bahwa presiden kita ini sangat strategis dan licik, namun jika kita melihat pola pikir yang tersirat dalam pidatonya kok serasa beliau ini seperti dewa saja ya bijak dan tenang...
Facebook : handaru suryo putro</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Pak Bill, Wah lam juga saya tidak berselancar di blognya pak BIll yang penuh pencerahan ini. SEhat sehat saja kan Pak ? mencermati Presiden kita ini hati serasa gregetan&#8230;banyak informasi bertebaran bahwa presiden kita ini sangat strategis dan licik, namun jika kita melihat pola pikir yang tersirat dalam pidatonya kok serasa beliau ini seperti dewa saja ya bijak dan tenang&#8230;<br />
Facebook : handaru suryo putro</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Pambudi Nugroho</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/#comment-235</link>
		<dc:creator>Pambudi Nugroho</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 10:11:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1260#comment-235</guid>
		<description>Sependapat bung...
Bagi saya masalah ini bukanlah masalah bencana nasional atau masalah institusi seperti yang ada berita. Cicak &amp; buaya ini adalah masalah individu, yang memang publik kita, sudah terlanjur &quot; menggenerasikan&quot; persoalan ini ke lembaga, padahal ini hanya ulah seekor Tikus yg sudah lama piawai dalam lakon menjadi &quot; pawang Buaya&quot; untuk menjinakkan buaya dan sekarang tertawa sambil tetap melirik ke arah lumbung padi milik Rakyat.

Jadi Presiden harus keluar jurus seperti cerita sebastian tito wiro sableng, Sakti namun tetap Jujur,lugu dan bijaksana.

Terima kasih bung Billy, salam sejahtera</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sependapat bung&#8230;<br />
Bagi saya masalah ini bukanlah masalah bencana nasional atau masalah institusi seperti yang ada berita. Cicak &amp; buaya ini adalah masalah individu, yang memang publik kita, sudah terlanjur &#8221; menggenerasikan&#8221; persoalan ini ke lembaga, padahal ini hanya ulah seekor Tikus yg sudah lama piawai dalam lakon menjadi &#8221; pawang Buaya&#8221; untuk menjinakkan buaya dan sekarang tertawa sambil tetap melirik ke arah lumbung padi milik Rakyat.</p>
<p>Jadi Presiden harus keluar jurus seperti cerita sebastian tito wiro sableng, Sakti namun tetap Jujur,lugu dan bijaksana.</p>
<p>Terima kasih bung Billy, salam sejahtera</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: pargodungan™</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/#comment-234</link>
		<dc:creator>pargodungan™</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 05:33:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1260#comment-234</guid>
		<description>salam...
mudah-mudahan pak presiden sby mendengar keluhan ini..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam&#8230;<br />
mudah-mudahan pak presiden sby mendengar keluhan ini..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
