Mensyukuri Musibah: Mampukah?

“Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,” kata Adhi dengan wajah berseri. “Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?”

“Adhi, itu bukan ceritaku.” Begitu timpalku. “Tapi itu ‘kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para Wali Allah atau para Kekasih Allah sesungguhnya tidak pernah merasa takut, khawatir ataupun berduka cita sepanjang hidupnya, lantaran mereka selalu berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khalik.”

“Saya tahu itu. Dan, seperti para beliau,  saya juga telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah,” ujar Adhi dengan wajah yang tetap sumringah.

Sudah biasa saya mendengarkan celoteh Adhi tentang berbagai keresahan religiusitasnya. Tentang gugatannya terhadap Tuhan, yang menurutnya tidak pernah adil. Tentang berbagai ajaran agama, yang menurutnya tidak pernah memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Tentang berbagai kisah para Nabi yang menurutnya hanya dongeng pengantar tidur belaka.

Saya selalu mendengarkan celotehnya dengan sabar, dan saya tidak pernah mendebatnya. Buat apa? Dia pernah mengecap pendidikan pesantren seperti saya, dan bahkan di pesantren yang sama. Dia pernah mengenyam pendidikan di sebuah fakultas teologi, yang — ndilalah — merupakan fakultas saya juga, dulu.

Saya merasa hanya buang-buang waktu saja kalau saya berdebat dengannya, karena dia tahu betul argumen yang akan saya bangun untuk mendebatnya. Kata para dukun, seguru seilmu janganlah saling ganggu. Jadi, saya pun tidak pernah “mengganggu” pikiran-pikirannya.

Tetapi kedatangannya hari itu benar-benar berbeda. Wajahnya tidak sekusut biasanya. Tidak ada gugatan terhadap Tuhan, seperti yang biasa disampaikannya. Adhi kelihatan sangat gembira. Padahal, ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah sekitar dua pekan menginap di sana.  Dua pekan sebelumnya, ia menjalani operasi usus tahap pertama. Ada kanker ganas dalam stadium lanjut menggerogoti ususnya. Kata dokter, Adhi tinggal “menunggu waktu”.

“Saya sudah siap,” kata Adhi. “Saya sudah berterimakasih padaNya. Saya berterimakasih atas kanker yang diberikanNya kepada saya. Saya berterimakasih karena sayalah yang telah dipilihNya untuk menikmati penderitaan ini. Saya berterimakasih karena saya telah diajariNya untuk bersyukur. Bersyukur tidak hanya karena kenikmatan hidup yang telah dilimpahkanNya kepada saya. Tetapi juga karena penyakit yang kini menggerogoti tubuh saya.”

Seperti biasa, saya terdiam mendengarkan celotehnya. Ternyata itu merupakan celotehnya terakhir. Sepekan setelah itu, Adhi berpulang tanpa pamit. Dan, ia memang tidak perlu pamit kepada siapapun.

Tentu saja saya tidak pernah bertemu lagi dengan Adhi, bahkan dalam mimpi. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pada pelajaran konkret yang disampaikannya sebelum pergi: berterimakasihlah selalu padaNya, termasuk atas musibah yang diberikanNya. Mampukah saya? Rasanya, tidak.

Billy Soemawisastra

This entry was posted in Agama, Eksplorasi Diri, Inspirasi, Refleksi, Wisata Sukma and tagged , by Billy Soemawisastra. Bookmark the permalink.

Tentang Billy Soemawisastra

Blog Jagat Alit mulai dipublikasikan di jagat maya pada 23 November 2007, dan hampir setahun kemudian, 7 Juli 2008, blog Alun-Alun (http://www.jagatalun.com) menyusul sebagai "penyeimbang" Jagat Alit. Ketika kedua blog ini diterbitkan, saya masih bekerja di Liputan 6 SCTV, sebagai Kepala Departemen Pendidikan & Pelatihan Pemberitaan (Head of News Training Department). Saya bergabung di stasiun televisi swasta terkemuka ini, sejak 1995, dengan posisi awal: produser, kemudian produser eksekutif. Di manajemen, saya pernah menduduki posisi Manajer Pemrosesan dan Penayangan (News Processing & Broadcast Manager), dan Senior Manager Program Khusus dan Mingguan (Senior Manager for Current Affairs & Special Programmes). Sebelum bergabung dengan SCTV, saya pernah menjadi produser pemberitaan di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia); Redaktur Pelaksana beberapa majalah keluarga; dan penyiar, reporter, redaktur Radio Arief Rachman Hakim (ARH). Pendidikan terakhir saya: Fakultas Ushuluddin (Theology) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) "Syarif Hidayatullah" Jakarta, dan pernah "nyantri" di Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Sejak 1 November 2009, saya resmi pensiun dari SCTV. Tetapi tentu saja saya tidak akan pernah pensiun dari pekerjaan saya sebagai jurnalis, penulis dan pengajar, selama Allah masih mengijinkan saya untuk melakukan semua itu. Sejak 2010, saya bersama isteri saya, mendirikan suatu lembaga training yang kami beri nama: BE Training (Beyond Expectation Training). Untuk mengetahui lebih jauh lembaga ini, silakan klik http://www.be-training.org.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s