<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Perkenankan Aku Menghasut</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 15:49:23 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Pambudi Nugroho</title>
		<link>http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/#comment-278</link>
		<dc:creator><![CDATA[Pambudi Nugroho]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 05:25:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1295#comment-278</guid>
		<description><![CDATA[Saya sepakat catatannya bung Arthur. SDM yg bung Leonardus katakan masih belum mencapai standar untuk dapat berkompetisi itu akibat dari ketidakbecusan pemerintah. Bahkan alam kekayaan papua yg kaya itu pun disikat habis, bagaimana mungkin untuk memberikan pendidikan,pelatihan, dll. Jika bangunan sekolah saja banyak yg tdk layak. Berarti, kita bicara ketidakadilan disitu.

Persoalannya menjadi dasar, mampukah kita peka melihat penindasan yg ada disekitar kita. 32 tahun, rezim soeharto memang membungkam mulut rakyat,sehingga kata Menghasut, suversif, revolusì, sayap kiri, amat menakutkan, seolah bernada pengkhianatan thd negara. Padahal pengkhianat sebenarnya adalah para penguasa yg Korup, yg memakan uang pajak rakyatnya. Dan penguasa kita hanya mengurusi soal bank Century karna ada kepentingan, ketimbang daerah2 kita yg miskin.

Bagi saya menghasut, sayap kiri itu adalah media proses penyadaran kritis sbg praksis pembebasan dari sebuah penindasan, sama seperti jejak para nabi.

Salam sejahtera,]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sepakat catatannya bung Arthur. SDM yg bung Leonardus katakan masih belum mencapai standar untuk dapat berkompetisi itu akibat dari ketidakbecusan pemerintah. Bahkan alam kekayaan papua yg kaya itu pun disikat habis, bagaimana mungkin untuk memberikan pendidikan,pelatihan, dll. Jika bangunan sekolah saja banyak yg tdk layak. Berarti, kita bicara ketidakadilan disitu.</p>
<p>Persoalannya menjadi dasar, mampukah kita peka melihat penindasan yg ada disekitar kita. 32 tahun, rezim soeharto memang membungkam mulut rakyat,sehingga kata Menghasut, suversif, revolusì, sayap kiri, amat menakutkan, seolah bernada pengkhianatan thd negara. Padahal pengkhianat sebenarnya adalah para penguasa yg Korup, yg memakan uang pajak rakyatnya. Dan penguasa kita hanya mengurusi soal bank Century karna ada kepentingan, ketimbang daerah2 kita yg miskin.</p>
<p>Bagi saya menghasut, sayap kiri itu adalah media proses penyadaran kritis sbg praksis pembebasan dari sebuah penindasan, sama seperti jejak para nabi.</p>
<p>Salam sejahtera,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Arthur John Horoni</title>
		<link>http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/#comment-266</link>
		<dc:creator><![CDATA[Arthur John Horoni]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 08:31:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1295#comment-266</guid>
		<description><![CDATA[Baik sekali antitesis semacam ìni. Ada dialog yang terbangun. Di negeri ini terlalu banyak kata yang ditakuti, sehingga berkonotasi negatif. Mungkin kita terjebak pada formalìsme. Menghasut, suversif, revolusì, sayap kiri, untuk menyebut beberapa contoh, sering dimaknai miring. Padahal pelopor perubahan, bahkan para nabi, suka juga menghasut tatkaka keadilan diputarbalikkan. Pesan mereka subversif bermakna perlawanan. Masalah republik yang cedera ini, hari ìni, bukan soal SDM. Tapi ketidakadikan. Begitu.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Baik sekali antitesis semacam ìni. Ada dialog yang terbangun. Di negeri ini terlalu banyak kata yang ditakuti, sehingga berkonotasi negatif. Mungkin kita terjebak pada formalìsme. Menghasut, suversif, revolusì, sayap kiri, untuk menyebut beberapa contoh, sering dimaknai miring. Padahal pelopor perubahan, bahkan para nabi, suka juga menghasut tatkaka keadilan diputarbalikkan. Pesan mereka subversif bermakna perlawanan. Masalah republik yang cedera ini, hari ìni, bukan soal SDM. Tapi ketidakadikan. Begitu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Leonardus S Neno</title>
		<link>http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/#comment-265</link>
		<dc:creator><![CDATA[Leonardus S Neno]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 10:30:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1295#comment-265</guid>
		<description><![CDATA[Menghasut tindakan melawan nurani dasar karena akan tercipta permusuhan diantara kita sesama. Hendaknya kita menghindari hasut mengasut, namun membangun budaya yang beretika saling menghargai. Mengapa yang lolos saringan pengngkatan pegawai negeri lebih banyak warga dari luar Papua? Ini harus menjadi refleksi kita bersama. Mungkin SDM kita masih belum mencapai standar untuk dapat berkompetisi ditingkat nasional.Kita perlu merubah pola pikir bahwa kita tidak dilahirkan harus menjadi PNS. Dan PNS bukanlah segala-galanya, dan bukan puncak dari kesuksesan hidup. Kita bisa membangun masa depan pertama-tama : belajar baik formal, informal, mengikuti pelatihan ketrampilan di bidang apa saja seperti  pertanian, perkebunan, pertukungan, peternakan, perikanan, perdagangan, dll yang dapat memberikan penghasilan untuk kesejahteraan. Bila sejahtera tidak peluang untuk hasut-menghasut, dan damailah hidup kebesamaan kita sebagai warga bangsa yang Bhineka Tunggal Ika.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menghasut tindakan melawan nurani dasar karena akan tercipta permusuhan diantara kita sesama. Hendaknya kita menghindari hasut mengasut, namun membangun budaya yang beretika saling menghargai. Mengapa yang lolos saringan pengngkatan pegawai negeri lebih banyak warga dari luar Papua? Ini harus menjadi refleksi kita bersama. Mungkin SDM kita masih belum mencapai standar untuk dapat berkompetisi ditingkat nasional.Kita perlu merubah pola pikir bahwa kita tidak dilahirkan harus menjadi PNS. Dan PNS bukanlah segala-galanya, dan bukan puncak dari kesuksesan hidup. Kita bisa membangun masa depan pertama-tama : belajar baik formal, informal, mengikuti pelatihan ketrampilan di bidang apa saja seperti  pertanian, perkebunan, pertukungan, peternakan, perikanan, perdagangan, dll yang dapat memberikan penghasilan untuk kesejahteraan. Bila sejahtera tidak peluang untuk hasut-menghasut, dan damailah hidup kebesamaan kita sebagai warga bangsa yang Bhineka Tunggal Ika.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

