<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jagat Alit &#187; Arthur John Horoni</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/author/bungarthur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 02:27:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jagatalit.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5b9d7a5193b11aa3dcc0a9dd2fd8c982?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Jagat Alit &#187; Arthur John Horoni</title>
		<link>http://jagatalit.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jagatalit.com/osd.xml" title="Jagat Alit" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jagatalit.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hai Rakyat,  Gunakan Hak Revolusionermu</title>
		<link>http://jagatalit.com/2010/08/05/hai-rakyat-gunakan-hak-revolusionermu/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2010/08/05/hai-rakyat-gunakan-hak-revolusionermu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 10:56:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[Revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1324</guid>
		<description><![CDATA[“Negeri ini dan segala institusinya adalah milik rakyat yang menghuninya. Manakala jenuh dan muak terhadap pemerintah, mereka dapat menggunakan hak konstitusionalnya untuk mengubah atau hak revolusionernya untuk meruntuhkannya.” Ungkapan paten dari Abraham Lincoln 150 tahun silam dalam pidato pertamanya sebagai &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2010/08/05/hai-rakyat-gunakan-hak-revolusionermu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1324&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">“Negeri ini dan segala institusinya adalah milik rakyat yang menghuninya. Manakala jenuh dan muak terhadap pemerintah, mereka dapat menggunakan hak konstitusionalnya untuk mengubah atau hak revolusionernya untuk meruntuhkannya.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ungkapan paten dari Abraham Lincoln 150 tahun silam dalam pidato pertamanya sebagai Presiden Amerika Serikat itu, dikutip Indera Nababan sebagai contoh bagaimana hubungan rakyat dengan pemerintah. Karena hampir seluruh aspek kehidupan rakyat di negeri ini carut-marut akibat semua institusi yang ada telah gagal melakukan tugas yang diembannya, rakyat perlu bertindak berdasarkan hak revolusionernya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Revolusi Rakyat. Itulah topik bahasan yang dikemukakan Indera Nababan dari PMK HKBP Jakarta, dalam kegiatan Urban Community Leadership Formation Training Programme, yang diselenggarakan oleh INDEMO dan PMK HKBP Jakarta, 24 – 28 Mei 2010 di Vila Baladegana, Bogor. Partisipan pelatihan adalah 23 orang pemimpin kelompok-kelompok aksi mahasiswa Jakarta, pemimpin serikat buruh, serta pergerakan kaum “cacat”. Ada beberapa mantan aktivis gerakan reformasi tahun 1998. Tujuan kegiatan, berefleksi atas 12 tahun perjalanan reformasi dan bagaimana upaya memperkuat rakyat untuk melakukan perubahan yang cepat dan mendasar, agar sesuai dengan cita-cita dan harapan rakyat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bagi Indera, situasi Indonesia hari ini benar-benar sudah amburadul.  Perubahan lewat “demokrasi prosedural” yang dianut selama 12 tahun di bawah bendera “reformasi” sudah tidak menjanjikan. Nyaris tak ada lagi yang dapat dibanggakan di republik ini. Mana bisa di negeri yang memiliki tanah yang begini luas, jutaan petani justeru tak bertanah, karena pemerintah tak pernah tegas menjalankan reforma agraria. Korupsi merajalela, hutan lindung dijual ke orang asing, jutaan orang jadi buruh dengan upah murah atau jadi budak di negeri seberang. “Kalau republik ini mau selamat, dapat disejajarkan dengan bangsa yang bermartabat, dibutuhkan sebuah perubahan cepat di segala bidang kehidupan bernegara. Perubahan cepat itu namanya revolusi,” tegas Indera Nababan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ada partisipan bertanya, “Aktivis-aktivis selalu mendengungkan revolusi. Persoalannya ketika perubahan terjadi, teman-teman aktivis justeru tidak siap.  Pola apa yang harus dipakai?”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1329" href="http://jagatalit.com/2010/08/05/hai-rakyat-gunakan-hak-revolusionermu/arthur2-2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1329" title="Menggerakkan Rakyat" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2010/08/arthur2.jpg?w=300&#038;h=218" alt="" width="300" height="218" /></a></span><span style="color:#003366;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">“Tanpa partisipasi rakyat, tak ada guna jadi aktivis,” sergah Indera. Pola apa yang harus dipakai teman-teman, lanjutnya, akan Anda temukan di lapangan. Yang penting ada kesatuan visi dan misi. Ia memberi contoh, karena kekuatan buruh terkotak-kotak, padahal isunya sama, maka kaum buruh tetap tak bisa sejahtera. Karena itu, katanya lagi, membangun kesadaran rakyat adalah kerja yang maha penting. “Tanpa rakyat, kita tidak bisa apa-apa,” tegasnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Pembicara lain dalam pelatihan itu adalah Edicio dela Torre, mantan pastor dan mantan pemberontak dari Filipina. Dia bicara tentang Globalisasi, Neoliberalisme dan Negara Bangsa. Persoalan dunia sekarang, tutur Ed (sapaan akrabnya), adalah penggiringan keuangan dan ekonomi yang menguntungkan negara kaya. Dua pertiga dari populasi masyarakat di negara kaya (utara) menikmati keuntungan dari globalisasi ekonomi ini, dibandingkan dengan hanya sepertiga populasi negara selatan yang menikmatinya. Tantangan di Filipina dan Indonesia tentang dampak globalisasi adalah  pengaruh global terhadap pemerintahan. Pemerintah di negara-negara ini sudah tunduk tak berdaya menghadapi neoliberalisme alias tekanan pasar bebas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Karena itu, urai Ed lebih lanjut, kita tak mungkin mengatasi situasi ini secara sendiri-sendiri. Rakyat harus terorganisasikan di tingkat lokal, beraliansi secara nasional dan berjaringan secara internasional. Kekuatan rakyat adalah kunci, namun bermain di pentas lokal tak cukup. Harus ada sekutu secara nasional dan didukung jaringan internasional. Untuk itu rakyat perlu memanfaatkan keuntungan dari teknologi informasi dan komunikasi. Inilah peran penting kaum muda tertidik di era globalisasi: memampukan organisasi-organisasi rakyat memanfaatkan perkembangan teknologi dak komunikasi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ada isu yang sama antara Indonesia dan Filipina terhadap globalisasi menurut Ed, yakni pemerintah negara kita tidak berpihak kepada rakyat. Ini justeru ancaman sekaligus peluang. Kita harus mengelola tujuan perjuangan kita. Karena itu, kata Ed: “Teman-teman harus berjuang dan jangan membuang banyak energi untuk persoalan-persoalan  sepele. Kita harus punya banyak tenaga untuk berjuang secara berkesinambungan. Cita-cita kita tentang negara sejahtera adalah menimbun jurang antara si kaya dan si miskin. Untuk perlu mengakumulasi setiap kekuatan. Globalisasi akan membuat jurang yang lebar dan dalam, akan disambut oleh gerakan protes rakyat, dan kita perlu munculnya pemimpin-pemimpin baru. Karena itu pelatihan seperti ini sangat penting. Ketika momentum datang, kita siap untuk mengambil alih.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di samping kedua pembicara senior, hadir juga dalam diskusi-diskusi, Beator Suryadi, Ray Rangkuti dan Eggi Sujana. Ray memaparkan topik Dialektika Demokrasi. Apa yang terjadi di negeri ini sekarang, ungkap   Ray, adalah kekacauan politik dan kesemrawutan. Ini karena orang mengukur demokrasi hanya secara teknis, prosedural dan menafikan substansi. Akibatnya yang paling mengerikan adalah perselingkuhan atawa kartel politik. Adapun fasilitator pelatihan adalah Amir Daulay dari INDEMO dan Henry Darungo dari PMK HKBP. Henry membagi pengalamannya ikhwal kiat-kiat membangun dan memperkuat organisasi rakyat, sedangkan Bung Amir menekankan pentingnya ketrampilan bicara di depan umum (<em>public speaking</em>) dan pemanfaatan media dalam perjuangan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dan inilah syair  yang muncul dalam pelatihan:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Acungkan tinju kita</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Satu cita</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Memperkuat pergerakan rakyat</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Kokoh,  berdaulat</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Rapatkan barisan</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Dengan satu tekad bulat</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Jalan revolusi rakyat</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Menegakkan keadilan</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">Merdeka!</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Arthur John Horoni</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;"><br />
</span></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1324&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2010/08/05/hai-rakyat-gunakan-hak-revolusionermu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2010/08/arthur2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Menggerakkan Rakyat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paskah dan SMS Sejuta Umat</title>
		<link>http://jagatalit.com/2010/04/05/paskah-dan-sms-sejuta-umat/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2010/04/05/paskah-dan-sms-sejuta-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 11:17:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Kristiani]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[Paskah]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus Kristus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1310</guid>
		<description><![CDATA[Dan, teknologi komunikasi mutakhir menunjukkan kedigjayaannya: produksi pesan pendek melalui sms maupun facebook di sekitar perayaan umat Kristiani dari Jumat Agung hingga Paskah 2010. Jumat Agung adalah perayaan wafatnya Jesus Kristus sedangkan Paskah menandai KebangkitanNya. Melalui teknologi komunikasi mutakhir dengan &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2010/04/05/paskah-dan-sms-sejuta-umat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1310&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dan, teknologi komunikasi mutakhir menunjukkan kedigjayaannya: produksi pesan pendek melalui sms maupun facebook di sekitar perayaan umat Kristiani dari Jumat Agung hingga Paskah 2010. Jumat Agung adalah perayaan wafatnya Jesus Kristus sedangkan Paskah menandai KebangkitanNya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Melalui teknologi komunikasi mutakhir dengan PC, laptop ataupun ponsel, segala kegaduhan penyampaian ucapan menjadi serba cepat dan tak repot. Dulu orang mesti memilah-milah kartu ucapan  yang cocok, mengirim jauh hari sebelum waktunya agar tak telat tiba di alamat. Sekarang tinggal ketik, tekan tombol atau klik dan beres. Balasan dapat tiba dalam hitungan detik atau menit.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Wah. Kita tengah menikmati keajaiban <em><span style="text-decoration:underline;">global village</span></em> (Desa Dunia).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Toh ada yang hilang, sapaan-sapaan lewat surat atau kartu pos jaman dulu (jadul) rasanya lebih asli atau orisinal. Dan otentik. Sekarang ini bahasa TI bisa menyesatkan. Maklumlah media adalah pesan itu sendiri (Marshal Mc Luhan; <em><span style="text-decoration:underline;">The Media is the message</span></em>).  Cobalah gimana kita bisa menikmati:  ”Met Paskah”.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sebagai ekstrim yang lain, mesti pakai bahasa asing, Inggris, misalnya, “Happy Easter” atau latin (mungkin kesannya lebih kudus) seperti, “Christo Anesti Allisto Anesti” (bangkit, tegak, tegar bersama Tuhan). Ini agak “menyesatkan” karena seolah-olah supaya lebih kristiani pakailah bahasa asing.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Namun yang lebih celaka adalah ucapan-ucapan yang diproduksi oleh kelompok-kelompok tertentu, boleh jadi bekerjasama dengan operator pelayanan  jaringan yang kemudian diserap begitu saja oleh umat dan disebar-luaskan,  seolah-olah ini paling paten.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;">Ada contoh</span>:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Saudaraku…</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Jika ada 1000 orang yang rindu padamu, aku turut di dalamnya.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Jika ada 100 orang yang MENYAYANGIMU</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>pasti aku termasuk …</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Jika ada 10 orang yang peduli padamu,</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Percayalah salah satunya pasti.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Aku…</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Tetapi jika ada 1 orang yang mau MATI untukmu,</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>tunggu dulu</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>itu pasti bukan aku</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>HANYA DIA yang RELA MATI</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Untukmu…</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em> &#8230;&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Happy Great Friday</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Selamat Merayakan Hari Jumat Agung</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Hari wafatnya Jesus Kristus di kayu salib</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em> &#8230;..</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;">Atau:</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>SELAMAT !!!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Anda mendapat Pemenang GEBYAR PASKAH BERHADIAH…</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Anda berhak atas satu set perangkat SUKACITA</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>dan  satu unit DAMAI SEJAHTERA</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>dan BUAH-BUAH ROH</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>hadiah bisa Anda miliki cukup dengan mentransfer IMAN dan PENGHARAPAN</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>kepada JESUS KRISTUS serta mengirim KASIH kepada sesama.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Awas Penipuan!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>dst…dst…dst…</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Nah yang seperti ini yang saya bilang tadi, pesan untuk sejuta umat. Satu orang bisa mendapat pesan yang sama dari 3 orang. Artinya orang yang melanjutkan pesan itu tak sadar telah menjadi agen “perdagangan bebas” pesan-pesan perayaan keagamaan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Neoliberalisme telah berhasil juga teologi menjadi sekadar komoditi He… he… he…,  saya juga melanjutkan pesan semacam itu ternyata.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Padahal dalam buku-buku kumpulan cerita humor tentang para pemuka agama Kristen mula-mula sekitar abad 2 Masehi, banyak cerita yang bermakna bila disebarluaskan di abad globalisasi ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;">Saya kutip saja</span> :</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Konon ketika Jesus Kristus turun ke “kerajaan maut” atawa neraka  usai mengalami penyaliban, Ia menemui pendosa, tak melihat dari bangsa mana, sekte agama apa, mengampuni dan membebaskan mereka.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Melihat itu , Iblis, sang raja kegelapan menangis, karena neraka telah kosong.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Alkitab , Jesus membujuk Iblis:</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>“Tak perlu menangis, nanti akan ku masukkan ke sini jadi pemimpin dunia yang kejam, para koruptor, para pegiat perang, para penindas rakyat dan para pemimpin agama yang lebih suka berkolaborasi dengan penguasa jahat, ketimbang membela umatnya yang diperlakukan tidak adil, miksin dan tertindas.  Sabarlah”.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kenapa kita tidak belajar menulis perumpamaan-perumpamaan baru dengan memanfaatkan kedigjayaan teknologi komunikasi ?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Selamat Paskah!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Arthur John Horoni</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1310&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2010/04/05/paskah-dan-sms-sejuta-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Perkebunan Kolonial ke Perkebunan Rakyat</title>
		<link>http://jagatalit.com/2010/03/05/dari-perkebunan-kolonial-ke-perkebunan-rakyat/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2010/03/05/dari-perkebunan-kolonial-ke-perkebunan-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 05:46:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Agraria]]></category>
		<category><![CDATA[Kolonial]]></category>
		<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[PMK-HKBP]]></category>
		<category><![CDATA[Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1302</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar 20 kelompok petani di Sumatera Utara, antara lain Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI), Forum Tani Sejahtera Indonesia (FUTASI), Perjuangan Petani Asahan (PETA), Politik Rakyat Miskin (PRM), Kelompok Tani Bandar Rejo (KTBR), Kelompok Tani Labuhan Batu Utara (Labura), Kelompok &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2010/03/05/dari-perkebunan-kolonial-ke-perkebunan-rakyat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1302&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#003366;"><strong> </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sekitar 20 kelompok petani di Sumatera Utara, antara lain Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI), Forum Tani Sejahtera Indonesia (FUTASI), Perjuangan Petani Asahan (PETA), Politik Rakyat Miskin (PRM), Kelompok Tani Bandar Rejo (KTBR), Kelompok Tani Labuhan Batu Utara (Labura), Kelompok Tani Dolok Sagala, Kelompok Tani Paya Bagas Sergei, Serikat Tani Nasional Sumut (STN), Kelompok Tani Pandumaan Humbahas, membentuk  Forum Reforma Agraria (FRA), Kamis 14 Januari 2010 di Aula Senat Universitas Darma Agung, Medan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1303" href="http://jagatalit.com/2010/03/05/dari-perkebunan-kolonial-ke-perkebunan-rakyat/arthur1/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1303" title="Dari Perkebunan Kolonial ke Perkebunan Rakyat (1)" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2010/03/arthur1.jpg?w=300&#038;h=206" alt="" width="300" height="206" /></a></span><span style="color:#003366;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">FRA bermaksud menyatukan perjuangan kelompok-kelompok tani untuk memenangkan sengketa tanah yang mereka hadapi. Sengketa tanah itu terjadi antara lain di Kabupaten Langkat, Deliserdang, Serdang Bedagei, Simalungun, Kota Pematangsiantar, Kabupaten Asahan, Kabupaten Labuhan Batu, dan Kabupaten Labuhan Batu Utara.  Rakyat berhadapan dengan perkebunan milik swasta maupun BUMN.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Forum ini merupakan tindak lanjut seusai seminar sehari “Reforma Agraria &amp; Kedaulatan Pangan” yang diikuti sekitar 130 orang petani dan diselenggarakan oleh PMK HKBP Jakarta, CPE Medan, FUTASI Pematangsiantar bekerjasama dengan Universitas Darma Agung (UDA) Medan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dalam seminar ini 3 pembicara telah tampil yakni Idham Arsyad, Sekretaris Jendral Konsorsium Pembaruan Agraria, Agustiana, Sekjen Serikat Petani Pasundan dan anggota Dewan Nasional KPA, serta Marihot Gultom, Ketua FUTASI. Idham Arsyad menekankan perjuangan menggulirkan pembaharuan agrarian adalah perjuangan rakyat untuk menguasai alat produksi pertanian sehingga mampu mengubah kebijakan yang tidak pro rakyat. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Menurut dia, kebijakan-kebijakan pro rakyat akan semakin banyak diterbitkan oleh Kabinet Indonesia Bersatu II, antara lain menyangkut penguasaan lahan untuk kepentingan umum yang akan merugikan petani. Kebijakan-kebijakan itu akan lebih memihak pengusaha-pengusaha perkebunan swasta maupun BUMN. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Untuk itu rakyat harus menduduki tanah, memperkuat organisasi rakyat, melakukan perlawanan terus menerus. KPA akan membantu memfasilitasi organisasi-organisasi rakyat dalam melakukan advokasi untuk memenangkan sengketa pertanahan. Namun rakyat yang terorganisasikan yang mampu memperjuangkan cita-citanya. Kalau perlu jangan menggunakan jalur hukum karena rakyat akan selalu kalah. Tujuan utama dari pembaruan agrarian adalah agar wajah perkebunan kita berubah 180 derajat: dari perkebunan kolonial ke perkebunan rakyat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Reforma agraria, menurut Agustiana adalah perjuangan kaum tani yang bertujuan meningkatkan harkat derajat kehidupan dan penghidupan rakyat tani Indonesia pedesaan untuk bersama-sama dengan sektor lain untuk membangun masyarakat yang berkeadilan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tanah menjadi sumber dan sebagai tiang untuk kehidupan dan penghidupan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat terutama yang sebagian besar tinggal di kampung-kampung, namun yang terjadi sampai hari ini keberpihakan Negara masih jauh dari harapan petani penggarap untuk memperoleh keadilan yang merata. Tujuan pembaruan agrarian adalah untuk membangun susunan masyarakat  yang lebih adil dan memberikan manfaat yang nyata dan menjadikan reforma agraria kebijakan sosial (pemerataan) dan bukan kebijakan ekonomi (produksi).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Seiring dengan itu, Marihot Gultom berujar, apa yang disampaikan Idham Arsyad dan Agustiana hanya akan menjadi wacana yang menggetarkan hati tapi tidak ada hasilnya kalau petani tidak bersatu untuk berjuang bersama-sama. Tidak ada pilihan lain, konsolidasi organisasi petani yang berdaulat dan demokratis,  membentuk jaringan, baik di daerah, secara nasional kalau perlu secara internasional, dan terus menerus melakukan perlawanan terhadap perkebunan yang selalu merugi. Duduki lahan, tanami dan pertahankan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Aksi Petani Tak Bertanah 2010</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Pada 14 Februari 2010, jaringan Forum Reforma Agraria (FRA) melanjutkan melakukan pertemuan bulanan sebagai hasil dari pertemuan 14 Januari 2010. Pertemuan diselenggarakan di Markas Besar BPRPI di  Kampung Secanggang,  Stabat,  Kabupaten Langkat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di tempat ini salah satu kelompok tani dari BPRPI sejumlah <span style="text-decoration:underline;">+</span> 100 KK menguasai 125 ha tanah eks perkebunan PTP. Hadir dalam pertemuan jaringan yang berlangsung di Aula Petani bertingkat dua (Rumah Panggung Melayu) sekitar lebih 100 orang petani tak bertanah laki-laki dan perempuan dari beberapa daerah di Sumatera Utara antara lain, Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Labuhan Batu Utara dan Kota Pematangsiantar. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Mereka merencanakan aksi-aksi yang dapat dilakukan oleh petani tak bertanah secara sendirian maupun berjaringan dengan masyarakat sipil lainnya seperti masyarakat adat, nelayan pesisir pantai dan buruh sepanjang tahun 2010.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Aksi-aksi itu antara lain, pada 17 Maret 2010 petani tak bertanah akan bergabung dengan Aliansi Masyarakat Adat  Nasional (AMAN) memperingati Hari Ulang Tahun AMAN. Mereka akan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat atas kelangsungan kehidupan penguasaan tanah, kebebasan berpendapat, kesempatan kerja dan keamanan sebagai hak-hak manusia. Sementara itu, sejak 17 Februari 2010, Kelompok Petani Tak Bertanah di Desa Sukarame Dalam, Kab Labuhan Batu Utara telah menduduki kembali tanah mereka yang dikuasai secara illegal oleh PT Sawita Leidong Jaya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1304" href="http://jagatalit.com/2010/03/05/dari-perkebunan-kolonial-ke-perkebunan-rakyat/arthur2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1304" title="Dari Perkebunan Kolonial ke Perkebunan Rakyat (2)" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2010/03/arthur2.jpg?w=300&#038;h=194" alt="" width="300" height="194" /></a></span><span style="color:#003366;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sekitar 100 kk petani tak bertanah Labura didukung oleh Forum Tani Sejahtera Indonesia (FUTASI) Pematangsiantar menduduki 250 ha tanah di kawasan itu. Mereka membangun gubuk-gubuk/tenda plastik sebagai pemukiman sementara. Pada 27 Maret 2010 kelompok ini mempersiapkan diri sebagai tuan rumah pertemuan berbagai kelompok petani tak bertanah yang tergabung dalam Forum Reforma Agraria Sumatera Utara.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">FRA juga berencana akan bergabung dalam aksi buruh menyambut 1 Mei 2010 sebagai Hari Buruh Internasional. Diusulkan juga dalam pertemuan agar kelompok-kelompok petani tak bertanah segera mengajak buruh perkebunan untuk bergabung dalam perjuangan pembaharuan agrarian. Agar buruh tidak pensiun sebagai kuli saja dengan pendapatan yang tidak layak tetapi dapat memiliki tanah sendiri.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Direncanakan aksi-aksi Petani Tak Bertanah Sumatera Utara akan bermuara dalam Aksi Samudra (Besar) pada peringatan hari ulang Tahun UUPA ke 50, 24 September 2010. Harun bin Afnawi Nuh dan Marihot Gultom sebagai inisiator FRA menjelaskan forum ini juga akan segera menerbitkan media komunikasi sebagai perekat kerjasama.</span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong>Arthur John Horoni &amp; Setyawati Oetama</strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><strong> </strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1302/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1302/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1302/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1302&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2010/03/05/dari-perkebunan-kolonial-ke-perkebunan-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2010/03/arthur1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dari Perkebunan Kolonial ke Perkebunan Rakyat (1)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2010/03/arthur2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dari Perkebunan Kolonial ke Perkebunan Rakyat (2)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkenankan Aku Menghasut</title>
		<link>http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 03:36:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[CPNS]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[PLN]]></category>
		<category><![CDATA[PNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1295</guid>
		<description><![CDATA[Tahun silam di Manokwari, Papua Barat, seorang ibu PNS (Pegawai Negeri Sipil) mengomel ikhwal diskriminasi terhadap suku Papua di kantor-kantor pemerintah. Orang pendatang menguasai posisi penting, bangsa Papua cuma embel-embel. Dalam seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) orang Papua tersìsih. &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1295&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tahun silam di Manokwari, Papua Barat, seorang ibu PNS (Pegawai Negeri Sipil) mengomel ikhwal diskriminasi terhadap suku Papua di kantor-kantor pemerintah. Orang pendatang menguasai posisi penting, bangsa Papua cuma embel-embel. Dalam seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) orang Papua tersìsih. Maka aku hasut ibu itu, kalau mau jadi kehebohan, ibu organisir seluruh orang Papua yang PNS, mundur dari pegawai negeri. Pasti gaduh. Sayang ibu itu tak berani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1299" href="http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/tes-cpns/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1299" title="tes cpns http://prasetya.brawijaya.ac.id/" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2010/02/tes-cpns.jpg?w=300&#038;h=198" alt="" width="300" height="198" /></a></span><span style="color:#003366;"><em>Tes untuk CPNS</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tatkala aliran listrik di Medan dan sekitarnya mati-hidup tak beraturan, orang berang. Mereka menghujat PLN (Perusahaan Listrik Negara). Aku pun menghasut, “Jangan bicara melulu, para pejabat itu sudah tuli. Kalau berani, ayo satu kelurahan kita stop bayar listrik. Pasti ribut.”<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tapi rakyat belum berani membangkang. Cuma demo atau melempari kantor dengan benda-benda keras. Itu tak ada gunanya bagi birokrat yang tak punya hati. Mereka tak paham soal pelayanan publik. Mereka canggih menipu dan memecah belah. Mereka tak pernah merasa salah.</p>
<p>Jadi mereka harus dilawan. Perkenankan aku menghasut: Andaikan ada satu persen saja dari 230 juta rakyat tolak bayar pajak kecuali bila para koruptor dilibas habis, bagaimana? Hanya bila rakyat yang penuh derita ini membangkang secara serempak, mungkin ada harapan. Berani?<br />
</span> <!--[if !supportLineBreakNewLine]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#003366;">Arthur John Horoni</span></strong></p>
<h5 style="text-align:center;"><span style="color:#003366;">[Foto: prasetya.brawijaya.ac.id]</span></h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1295/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1295&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2010/02/18/perkenankan-aku-menghasut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2010/02/tes-cpns.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tes cpns http://prasetya.brawijaya.ac.id/</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amir Sjarifoeddin, Penghianat atau Pejuang?</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/12/25/amir-sjarifoeddin-penghianat-atau-pejuang/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/12/25/amir-sjarifoeddin-penghianat-atau-pejuang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 17:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[In Memoriam]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Prominensia]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Amir Sjarifoeddin]]></category>
		<category><![CDATA[Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[Komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Syahrir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[Amir Sjarifoeddin, Perdana Menteri RI 1947–1948, yang pada 19 Desember 1948 ditembak mati oleh tentara karena terlibat Peristiwa Madiun, apakah seorang penghianat atau pejuang? Itulah pertanyaan yang berkembang dalam kegiatan Bedah Buku: Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, Tempatnya dalam Kekristenan dan &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2009/12/25/amir-sjarifoeddin-penghianat-atau-pejuang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1266&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1276" href="http://jagatalit.com/2009/12/25/amir-sjarifoeddin-penghianat-atau-pejuang/buku-amir-sjarifoeddin/"><img class="alignleft size-large wp-image-1276" title="buku amir sjarifoeddin" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/12/buku-amir-sjarifoeddin.jpg?w=207&#038;h=275" alt="" width="207" height="275" /></a>Amir Sjarifoeddin, Perdana Menteri RI 1947–1948, yang pada 19 Desember 1948 ditembak mati oleh tentara karena terlibat Peristiwa Madiun, apakah seorang penghianat atau pejuang?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Itulah pertanyaan yang berkembang dalam kegiatan Bedah Buku: <em>Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia</em>. Bedah buku itu berlangsung di Medan, 19 Desember 2009, dihadiri lebih 100 orang partisipan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Buku yang diperbincangkan adalah karya Pendeta Frederik Djara  Wellem yang bentuk awalnya adalah tesis seorang pendeta untuk meraih magister teologia di STT (Sekolah Tinggi Teologia) Jakarta. Karya ini pernah dicetak dan diterbitkan pada tahun 1984, namun dilarang beredar oleh rejim Soeharto dan dimusnahkan. Penerbitan tahun 2009 dilakukan oleh Omnes Unum Sint Institute, Center dor Popular Education (CPE) Medan dan Jala Permata Aksara.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">“Pembedahan”  buku mengemuka melalui tiga topik: <em>Tinjauan Kritis dalam Perpektif Konstruksi Sejarah</em>, oleh sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), Budi Agustono, <em>Peranan Amir Sjarifoeddin dalam Perjuangan Kemerdekaan</em>, oleh Budiman Sudjatmiko, anggota DPR-RI, dan <em>Amir Sjarifoeddin dan &#8216;Kekristenan Pembebasan&#8217;</em>, oleh Arthur John Horoni, Koordinator Center for Popular Education .</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1277" href="http://jagatalit.com/2009/12/25/amir-sjarifoeddin-penghianat-atau-pejuang/narasumber-as/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1277" title="narasumber AS" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/12/narasumber-as.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Petikan dari pokok-pokok pikiran pembicara dalam bedah buku itu kiranya dapat menjawab, apakah Amir Sjarifoeddin seorang penghianat atau pejuang. Budiman Sudjatmiko menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan yang sulit dijawab:  siapakah yang lebih cocok disebut penghianat, Amir Sjarifoeddin atau Soeharto? Bagi Budiman, &#8220;Bung Amir adalah tokoh yang hampir ideal.” Politikus, pencinta seni, menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Belanda, Latin, Yunani dan lain sebagainya). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dia tidak keberatan kalau Amir disebut marxis atau sosialis. Apa masalahnya? Sebagian besar bapak bangsa menurut Budiman adalah Marxis. Dia  menyebut antara lain Sjahrir, Soekarno, Tan Malaka dan seterusnya. &#8220;Kalau tak ada orang-orang kiri, bagaimana rupanya keadaan bangsa ini?&#8221; tanya Budiman. Bagi anggota DPR-RI ini, Amir Sjarifoeddin adalah 100% Kristen, 100% Marxis, 100% Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Budi Agustono, sejarawan dari USU (Universitas Sumatera Utara) berpendapat, di antara  bapak bangsa yang mengabdikan diri untuk kemerdekaan terdapat tokoh-tokoh bangsa yang menjulang namanya dan selalu dijadikan rujukan, tetapi ada pula politikus yang memainkan peranan penting dalam masa pergerakan sampai awal pembentukan negara bangsa, tetapi amat jarang menjadi referensi bangsa, misalnya Amir Sjarifoeddin (AS). Nama AS tentulah tidak sebesar dan sesering disebut-sebut seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir atau Tan Malaka. Meski demikian, karena aktivitas politiknya sejak masa kolonial sampai ia memegang jabatan penting dalam pemerintahan, AS mempunyai tempat tersendiri dalam perjalanan bangsa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Seperti kaum pergerakan lainnya, semasa kolonial Belanda, AS berkecimpung dalam berbagai kepartaian. Pada tahun 1935, AS telah bertemu dengan Muso dan hubungan politik antara keduanya sangat dekat. Pada 1937, AS mendirikan Gerindo dan melalui organisasi inilah ia membangun dan memperkuat pengaruhnya di kalangan kaum pergerakan. Setelah itu, AS membentuk Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang bersifat kooperatif untuk melawan fasisme. Pada masa itu, AS menjadi salah seorang aktivis pergerakan yang dikenal luas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ketika Jepang menggantikan Belanda, para kaum pergerakan ada yang memilih bekerja sama atau menolak bekerja sama dengan Jepang. Soekarno dan Hatta memilih bekerja sama dengan Jepang, sedangkan AS dan Sjahrir berjuang lewat gerakan bawah tanah melawan Jepang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jepang menggulung kegiatan politik bawah tanah. Satu demi satu kaum pergerakan diinterogasi, ditangkap dan dibunuh. Karena Jepang berhasil menggulung jaringan bawah tanah, penangkapan tertuju ke diri AS. Jepang menangkap AS dan menjatuhi hukuman mati kepadanya. Ketika diinterogasi, AS sering mentertawakan tentara Jepang sampai akhirnya membuat mereka marah. Kabar AS akan dihukum mati sampai ke Soekarno–Hatta yang saat itu menjadi pemimpin pergerakan paling terkemuka. Melalui campur tangan mereka berdua, nyawa AS diselamatkan, hukumannya menjadi seumur hidup dan baru bebas setelah kemerdekaan Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Setelah proklamasi, dalam kabinet presidensil, AS diangkat menjadi Menteri Penerangan. Ketika diangkat menjadi anggota kabinet, AS tidak bisa dilantik karena masih berada di penjara. Selang beberapa lama AS dijemput dan dikeluarkan dari penjara dengan bercelana pendek untuk dilantik menjadi Menteri Penerangan (19 Agustus 1945–14 November 1945). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Setelah tidak lagi menjabat Menteri Penerangan, sepanjang hampir tiga tahun lamanya AS menduduki poisisi strategis dalam kabinet, yaitu Menteri Pertahanan. Dalam kabinet Sjahriri I (14 November 1945 – 12 Maret 1946) ia menjabat Menteri Keamanan Rakyat dan Menteri Penerangan. Dalam Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946 – 2 Oktober 1946) menduduki pos Menteri Pertahanan, dan diangkat kembali sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 3 Juli 1947). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sama seperti dua kabinet  terdahulu, akibat pecah krisis politik Kabinet Sjahrir III tidak bertahan lama dan akhirnya jatuh. Setelah Sjahrir mengundurkan diri, AS terpilih menjadi Perdana Menteri yang dikenal sebagai Kabinet Amir Sjarifoeddin (3 Juli 1947 – 29 Januari 1948).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sejak terbentuknya kabinet presidensil sampai naik dan jatuhnya kabinet AS bandul kabinet bergoyang ke kiri di mana AS dan kelompok politiknya memainkan peranan penting dalam mengisi bangunan rumah kemerdekaan. Di tengah bandul kekuasaan yang bergerak ke kiri, situasi politik terus memanas karena perseteruan antara diplomasi dan perjuangan tiada hentinya berkobar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kabinet AS sendiri pada mulanya menyetujui perjanjian Renville, kemudian karena terjadi perubahan kebijakan politik Amerika Serikat membuat Amir Sjarifoeddin sangat kecewa, lebih-lebih sesudah kebijakan politiknya kabinetnya tidak disokong Masyumi dan PNI, membuat dirinya bertambah kecewa yang berujung dengan diserahkan mandat kabinetnya kepada Soekarno. Kemudian kabinet AS diganti dengan Kabinet Hatta.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Setelah Hatta menjalankan pemerintahan menggantikan AS, yang terakhir ini membentuk oposisi sayap kiri yang tergabung dalam Front Demokratik Rayat (FDR). FDR terus melancarkan kecaman-kecaman terhadap kebijakan pemerintah dan menuntut agar kabinet Hatta dibubarkan dan menuntut agar AS ditempatkan kembali sebagai Menteri Pertahanan. Permintaan ini ditolak Hatta. Tentu saja AS dianggap sebagai musuh negara. AS, Musso dan FDR semakin berseberangan dengan Hatta. Aksi kekerasan dan pertempuran antar batalion yang pro FDR dan republik di wilayah Solo dan Madiun semakin menambah ketegangan politik. Pada September 1948, ketika AS dan Musso sedang melakukan “safari” politik, pecah peristiwa Madiun 1948.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Pemerintahan Hatta mengambil tindakan tegas. Pasukan Siliwangi menggempur kekuatan FDR dan pasukannya. Jika di masa Jepang, Soekarno dan Hatta menyelamatkan nyawa AS, dalam peristiwa Madiun Soekarno Hatta tidak bisa menyelamatkan AS yang ditembak mati pasukan tentara. Sebelum ditembak mati, AS yang menenteng Injil di tangannya maju ke depan lalu meminta dirinya lebih dulu ditembak. Permintaan ini dikabulkan dan ia pun tewas ditembak mati. Soekarno dan Hatta tidak bisa menyelamatkan AS karena politikus ini dimusuhi negara. Apakah AS mati sebagai komunis?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Usia AS memang tidak panjang, 41 tahun. Tetapi sosok politikus ini penuh kontroversi, dan sampai sekarang ini sisi kehidupan politiknya belum banyak terungkap. Dalam kaitannya dengan politikus kontroversial ini, terlepas dari kelemahannya, kehadiran buku <em>Amir Sjarifoeddin Tempatnya Dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia</em> menjadi penting untuk menambah tidak saja perbendaharaan pemikiran politik sang politikus, tetapi juga dapat membentangkan sisi lain dari kehidupannya yang masih belum banyak disingkap dalam mengisi bangunan rumah Indonesia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya ingin menyitir Kata Sambutan mantan Menteri Penerangan RI, Mei 1947 – Desember 1947, Ir Setiadi Reksoprojo dalam buku Amir Sjarifoeddin,  “Di saat kekristenan dikuasai &#8216;kekristenan kesalehan&#8217;, yang diajarkan gereja kolonial dan didukung oleh penguasa penjajah, Bung Amir malah memperkenalkan kesadaran kekristenan yang lebih mendekati sifat aslinya, &#8216;kekristenan pembebasan&#8217;. Pergerakan nasional beruntung dengan adanya visi Amir Sjarifoeddin. Orang Kristen sejati tidak terlepas dari perjuangan pembebasan bangsanya yang ditindas oleh penjajah”.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Berdasarkan buku ini, benih-benih pemaknaan “kekristenan pembebasan” sudah mulai bersemi tatkala Amir muda terlibat dalam diskusi-diskusi dengan para aktivis <em>Christen Studenten Vereeniging </em></span><span style="color:#003366;">(CSV). Organisasi ini didirikan oleh Dr. C.L. van Doorn pada 1926. Peranan van Doorn dalam kalangan mahasiswa Kristen (CSV), sebagai salah satu tokoh yang membangkitkan rasa tanggungjawab pemuda Kristen Indonesia terhadap bangsanya. Ia berusaha meyakinkan pemuda atau mahasiswa Kristen Indonesia:  mereka dapat menjadi Kristen dan sekaligus juga nasionalis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jelaslah kekristenan Bung Amir bukanlah kekristenan yang pasif, yang dalam bahasa Bung Amir, “hanya memikirkan alam baka”, namun kekristenan yang terlibat dalam persoalan, dalam situasi pergolakan di mana dia berada. Para teolog sekarang menyebutnya kekristenan yang kontekstual, kekristenan yang membangun kesadaran akan situasi penindasan yang dialami, dan bangkit berjuang untuk mengubah situasi itu. Bukankah ini mengisyaratkan mekarnya benih-benih dari apa yang sekarang kesohor disebut sebagai teologi pembebasan?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Butir-butir pemikiran “kekristenan pembebasan” Amir dalam buku ini dapat ditelisik melalui sedikitnya tiga peristiwa: pertama, keterlibatannya dalam Konferensi Perhimpunan Pekabaran Injil Hindia Belanda (NIZB), di Karangpandan, 20-24 Oktober 1941, kedua, perayaaan natal oikumenis yang pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Persiapan Persatoean Kaoem Kristen (BPPKK), pada Desember 1942 di awal penjajahan Jepang, dan ketiga , selama di penjara di zaman Jepang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dalam Konferensi Karangpandan, Amir Sjarifoeddin menegaskan, orang Kristen Indonesia merupakan bagian integral dari bangsa Indonesia sehingga ia harus bersama-sama dengan golongan lainnya berjuang guna kemerdekaan Indonesia. Ia berseru kepada “gereja yang sudah tua” untuk turut berusaha memecahkan pesoalan-persoalan yang sudah ada dan yang akan dihadapi orang Kristen Indonesia. Gereja harus memberikan penjelasan-penjelasan mengenai masalah seperti kebebasan beragama, demokrasi yang sejati dan masalah sosial lainnya. Singkatnya, Bung Amir Sjarifoeddin minta gereja menyampaikan suara-suara nabiah, agar memihak pejuangan rakyat Indonesia untuk bebas dari penindasan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dalam Perayaan Natal Oikumenis yang diselenggarakan Badan Persiapan Persatoen Kaoem  Kristen, di Kebun Binatang Jakarta (kini, Taman Ismail Marzuki), Amir yang Ketoea Oemoem BPPKK menyampaikan pidatonya. Ia menganjurkan agar umat Kriten jangan hanya mengingat alam baka saja. Orang Kristen harus berdiri dengan kedua kakinya di tengah masyarakat yang sedang bergejolak, seperti halnya Musa yang memimpin umat Israel dari Mesir tanah perhambaan menuju tanah yang dijanjikan. Buku perayaan natal BPPKK itu diberi judul: <em>Menoejoe ke Djemaat Indonesia Aseli</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di dalam penjara pada era penjajahan Jepang, Amir Sjarifoeddin banyak membaca dan meneliti Alkitab. Ia terkesan oleh Kitab para Nabi. Hal itu diungkapkannya kepada Dr. H. Verkuil tatkala sudah bebas dari tahanan di awal  era kemedekaan Indonesia: “Di penjara untuk pertama kali saya membaca dan menyelidiki kitab para nabi, Amos, Yeremia dan Yesaya. Dahulu kitab-kitab itu tertutup bagi saya. Dulu saya hanya membaca Perjanjian Baru. Sekarang saya mengerti berita Alkitab bagi perjuangan sosial, ekonomi dan politik”.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dari beberapa kutipan tadi, jelas pemaknaan, “kekristenan pembebasan” bukanlah sesuatu yang mengada-ada. <em>Best practice</em> yang diperoleh Ir. Setiadi Reksoprojo terhadap tokoh Amir Sjarifoeddin yang “memperkenalkan kesadaran kekristenan yang lebih mendekati sifat aslinya, “kekristenan pembebasan”, tentulah terpancar dari aktualisasi diri sang tokoh. Boleh jadi Amir membaca Alkitab dengan matanya sendiri, artinya mata umat, lantas menemukan berita Injil yakni berita pembebasan seperti termaktub dalam Lukas 4: 18-19, yang merupakan petikan dari Yesaya 61: 1-2, yang dibaca Yesus di rumah ibadah di Nazaret :</span></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">Roh Tuhan ada pada-Ku,</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">oleh sebab Ia telah mengurapi Aku,</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">untuk menyampaikan kabar baik</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">kepada orang-orang miskin;</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">dan Ia telah mengutus Aku</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">untuk memberitakan</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">pembebasan kepada orang-orang tawanan,</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">dan penglihatan bagi orang-orang buta,</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan</span></em></p>
<p style="text-align:center;"><em><span style="color:#003366;">telah datang.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kiprahnya dalam perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia yang dekat dengan rakyat jelata, adalah wujud dari spiritualitas “kekristenan pembebasan” itu. Bila kemudian, nyaris menjadi “takdir” setiap orang atau komunitas ynag memihak rakyat, yang berjuang bagi pembebasan orang tertindas disebut kaum kiri, jangan takut, Yesus dari Nazaret juga sayap kiri.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jadi, saudara, Selamat Natal 2009. Semoga kita tidak takut berjuang untuk mewujudkan keadilan, karena Allah berkenan bagi semua orang yang berkehendak baik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;">Arthur John Horoni</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1266&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/12/25/amir-sjarifoeddin-penghianat-atau-pejuang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/12/buku-amir-sjarifoeddin.jpg?w=262" medium="image">
			<media:title type="html">buku amir sjarifoeddin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/12/narasumber-as.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">narasumber AS</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Terbuka untuk Tuan Presiden: Dengarlah Suara Hatimu</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 15:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1260</guid>
		<description><![CDATA[Tuan Presiden, Saya cuma seorang rakyat jelata, usia 62 tahun, tak punya perusahaan (asli wong deso), tak dapat pensiun (bukan pns, non-serdadu dan non-polisi), cuma punya rumah di Perumnas Depok. Pernah jadi penyiar radio swasta tahun 70-80-an (jadul), pernah menjadi &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1260&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tuan Presiden,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya cuma seorang rakyat jelata, usia 62 tahun, tak punya perusahaan (asli <em>wong deso</em>), tak dapat pensiun (bukan pns, non-serdadu dan non-polisi), cuma punya rumah di Perumnas Depok. Pernah jadi penyiar radio swasta tahun 70-80-an (<em>jadul</em>), pernah menjadi seolah-olah wartawan karena tak dapat Kartu PWI, dan sekarang belajar di tengah rakyat di desa dan kota, bagaimana caranya agar rakyat mampu mengurus dirinya sendiri.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tuan Presiden yang menawan (senyumnya …)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Anda sungguh beruntung di awal masa pemerintahan kedua ini. Partai Anda memenangkan pemilu dan Anda sendiri (dan wakil Anda juga tentunya) memenangkan pilpres dengan lebih dari 60% suara, artinya lebih dari 60 juta pemilih mencontreng gambar Anda dan wakil. Anda punya barisan koalisi partai pendukung lebih dari 70% di DPR-RI. Sejatinya Anda tinggal melenggang dengan citra penyelamat negeri berpenduduk 200 juta lebih kawula ini. Tapi ternyata (mengutip sastrawan besar Rusia, Boris Pasternak dalam <em>Dr. Zivago</em>): “Hidup tak segampang menyeberangi air kali”.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Entah kenapa, masih pada hari-hari awal “bulan madu” kekuasaan paruh II, mulai terjadi gonjang-ganjing atawa ontran-ontran. Hanya karena seorang petinggi polisi menggunakan ungkapan provokatif  “cicak melawan buaya”, tiba-tiba peta sosial negeri ini jungkir balik. Orang-orang yang tidak berdaya, mendadak saja mengidentifikasikan dirinya sama dengan KPK; menjadi kelas cicak. Yang tidak termasuk kelas cicak langsung saja dianggap front kelas buaya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tuan Presiden yang anteng,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tampaknya Anda perlu siaga. Soalnya “buaya” dalam berbagai pemahaman cerita rakyat Indonesia adalah binatang buas yang keahliannya bengis, menaklukan dan memusnahkan. Tak ada cerita baik untuk hewan pemangsa ini. Gelar yang agak romantis berhubungan dengan buaya adalah “buaya darat” yang menunjukkan seorang lelaki hidung belang. Kalau ada seorang koruptor  menangis berurai airmata maka dibilang, “airmata buaya”. Saya percaya 1000% Anda pastilah tak mau menyandang salah satu dari gelar itu bukan ?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sungguh, Tuan Presiden,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dengan was-was saya berharap Anda mulai memasang jurus. Kenapa? Sang cicak sekarang telah menunjukkan kebolehannya dalam berjaringan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Oleh kesamaan nasib sebagai masyarakat yang sering “dianiaya” para buaya, sang cicak mengorganisir diri dan menjelma menjadi barisan orang-orang yang tersadarkan: bahwa kecurangan, kebohongan, pencurian harta negara, penganiayaan terhadap rakyat (yang sering diatasnamakan) tak boleh dilanjutkan lagi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sang cicak, dari oknum yang tampaknya bloon, tak berdaya, tertindas, telah bermetamorfosis menjadi mahluk yang tercerahkan, sadar akan kekuatannya dan menginginkan perubahan menyeluruh agar hidup rakyat menjadi lebih baik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Akan halnya kelas buaya, tidak bakal mengalah begitu saja. Kendati telah dipermalukan saban hari, kelas penindas ini tebal muka, setebal kulit buaya. Inilah jenis mahluk yang tak pernah memiliki rasa bersalah. Kesalahan selalu berada pada pihak lain. Mereka akan ngotot pada soal-soal tata cara normatif dan bukan kepada rasa keadilan. Mereka menomorsatukan akal-akalan dan menafikan hati nurani.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kelas buaya adalah persekongkolan para bajingan yang mengambil untung dari kesengsaraan rakyat. Apa boleh buat, melalui jaringan media hari-hari ini, para buaya banyak terdapat di institusi-institusi yang seharusnya membela nasib para cicak.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tuan Presiden yang semoga bijak,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya sungguh-sungguh was-was, bila Anda bungkam dan tak segera bertindak. Anda jangan menganggap sepele 1 juta facebookers dibanding lebih dari 60 juta pemilih Anda. Satu juta itu puncak sebuah gunung es, maka jumlah rakyat yang menyanggah puncak itu bisa saya 1 juta x 100 orang = 100 juta orang. Dan itu suara orang-orang yang terluka, yang selama ini dilecehkan oleh para buaya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jadi, Tuan Presiden,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Silakan pasang jurus yang tepat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Karena itu dengarkanlah suara hatimu</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Salam,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Arthur J. Horoni</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1260&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/11/09/surat-terbuka-untuk-tuan-presiden-dengarlah-suara-hatimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mi&#8217;raj Isa Al-Masih</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/05/20/miraj-isa-al-masih/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/05/20/miraj-isa-al-masih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 12:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Golput]]></category>
		<category><![CDATA[Isa Al-Masih]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus Kristus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1221</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tanggal 21 Mei, umat Nasrani merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus, seperti juga 21 Mei 2009 ini. Dalam salah satu Kamus Alkitab terbitan tahun 60-70-an, ada padanan Kenaikan Yesus Kristus, yaitu Mi’raj Isa Al-Masih. Sebelas tahun yang lalu, juga pada &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2009/05/20/miraj-isa-al-masih/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1221&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Setiap tanggal 21 Mei, umat Nasrani merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus, seperti juga 21 Mei 2009 ini. </span><span style="font-family:Verdana;">Dalam salah satu Kamus Alkitab terbitan tahun 60-70-an, ada padanan Kenaikan Yesus Kristus, yaitu Mi’raj Isa Al-Masih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;">Sebelas tahun yang lalu, juga pada bulan Mei, pada saat umat Nasrani khusuk berdoa merayakan Kenaikan Yesus Kristus, Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden  RI. Saat itu ada seloroh: Yesus naik, Soeharto turun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;">Saat ini, hanya berselang sehari, dua hari raya dengan dua istilah penuh harapan, melintas di sejarah negeri ini: Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei) dan Hari Kenaikan Yesus Kristus (21 Mei). Para mistikus atau peramal boleh-boleh saja mengotak-atik istilah kebangkitan dan kenaikan ini dengan berbagai fenomena. Boleh duniawi ataupun samawi, silakan saja.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;">Bagi saya, dihubungkan dengan agenda nasional pemilihan umum (legislatif dan eksekutif) yang sedang bergulir di negeri ”ratapan pulau kelapa” ini, makna kebangkitan dan kenaikan jadi menggoda.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Apa yang betul-betul bangkit saat ini?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Bila melirik data pemilu legilatif, yang bangkit adalah kelompok rakyat yang tak memilih (orang bilang golput). Coba, sekitar 49% betul-betul memilih tak menggunakan hak pilih. Sementara sekitar 12% karena tidak tercantum di daftar pemilih tetap.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Makna 49%, Sobat, mengandung arti, kelompok inilah pemenang pemilu legislatif yang sebenarnya. Lebih jauh, kelompok ini memiliki kesadaran kritis menolak <strong><em>gombalisasi</em></strong> dari partai-partai yang dikuasai orang-orang haus kuasa, serta para birokrat yang takabur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Yesus Kristus atau Isa Al-Masih, lebih 2000 tahun silam melawan gombalisasi dari para pemimpin (termasuk pemimpin agama) Yahudi yang lebih mementingkan kekuasaan, mengubah pesan kitab suci menjadi doktrin yang justru menindas rakyat kecil.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Karena itu, di satu kesempatan membaca Kitab Suci di Synagoge (rumah ibadah agama Yahudi), Yesus membaca gulungan Kitab Nabi Yesaya (60:1-2), seperti yang dilaporkan penulis Injil Lukas (4 : 18-19); ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab itu, Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan Tahun Rahmat Tuhan telah datang?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Begitu. Jadi Yesus berpihak pada seluruh rakyat yang terpinggirkan. Dari sana Ia menyampaikan kabar baik (Injil) sebagai berita pembebasan atau perubahan total. Tentu saja para pemimpin agama Yahudi yang sudah berkolaborasi dengan raja boneka Herodes dan Gubernur Romawi (sang penjajah) Pontius Pilatus, tersinggung berat, akhirnya marah besar dan menyalibkan Yesus. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Umat Kristiani mengimani Yesus yang disalibkan, mati dan dikuburkan itu, bangkit pada hari ketiga, yang kemudian di rayakan sebagai Hari Raya Paskah. Hari Kenaikan berlangsung 40 hari setelah Hari Raya Paskah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Pada masa 40 hari itu, menurut beberapa tafsiran teolog, Yesus melakukan pengorganisasian kembali murid-murid-Nya yang porak poranda pada saat Ia disalibkan. Kalau istilah partai sekarang, Ia memantapkan kaderisasi, agar para murid tetap setia kepada Injil, Kabar Baik tentang Pembebasan dari ketidakadilan, karena itu selalu berpihak kepada rakyat kecil.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Para murid harus memiliki bela rasa kepada kaum tertindas dan berjuang untuk perubahan ke arah lebih baik seiring dengan kehendak Allah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Jika dilirik dari sistem politik kiwari, sikap Yesus seperti ini adalah sikap anti mapan, sikap kiri. Karena ia menentang pemimpin agama yang senang jadi nabi istana.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Nah, bila saat ini, di sini, di Indonesia kita berefleksi di mana sebenarnya posisi institusi agama dan para pemimpinnya?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Apakah di pihak rakyat tertindas seperti sikap Yesus, atau memilih tempat aman di pihak kaum penindas (pada era Yesus, Kaum Farisi).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Yang jelas, rakyat sudah bangkit dari nina bobo para politisi, yang mengumbar janji-janji muluk setiap pemilu. Dan rakyat pasti naik kelas, menjadi lebih jeli untuk memilih pemimpin yang benar-benar memiliki bela rasa kepada penderitaan rakyat. Kalau golput semakin naik pada pemilihan presiden, jangan salahkan rakyat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Itu berarti, belum ada pemimpin yang cocok dengan hati rakyat, atau karena sistem politik ini tidak memberi peluang majunya kaum muda untuk memimpin bangsa. Jangan lupa, Sobat, Yesus yang historis lebih 2000 tahun silam, adalah orang muda yang penuh semangat namun bijak. Usianya sekitar 30-an tahun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Selamat merayakan Mi’raj Isa Al-Masih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Shalom.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Arthur J. Horoni</span></span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1221/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1221/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1221/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1221&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/05/20/miraj-isa-al-masih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanah Papua Zona Darurat (1)</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/05/15/tanah-papua-zona-darurat-1/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/05/15/tanah-papua-zona-darurat-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 08:27:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[BP Tangguh]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[PMK-HKBP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1197</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Arthur J. Horoni, yang pada pertengahan hingga penghujung Maret 2009, berkunjung ke Provinsi Papua Barat, khususnya Kabupaten Teluk Bintuni. Kunjungan Arthur ke wilayah ini, sebenarnya hanya untuk menemui para alumni pelatihan rakyat. Pelatihan yang sering &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2009/05/15/tanah-papua-zona-darurat-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1197&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><em><span style="font-family:Verdana;">Tulisan ini merupakan catatan perjalanan <strong>Arthur J. Horoni</strong>, yang pada pertengahan hingga penghujung Maret 2009, berkunjung ke Provinsi Papua Barat, khususnya Kabupaten Teluk Bintuni. Kunjungan Arthur ke wilayah ini, sebenarnya hanya untuk menemui para alumni pelatihan rakyat. Pelatihan yang sering diselenggarakan oleh Pelayanan Masyarakat Kota – Huria Kristen Batak Protestan (PMK-HKBP) Jakarta di berbagai daerah. Namun Arthur ternyata “disambut” Papua yang tengah (kembali) bergejolak, menuntut keadilan. Catatan perjalanan yang cukup panjang ini, kami bagi menjadi dua bagian.</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003300;"><em><span style="font-family:Verdana;"> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Verdana;">Tanah Papua Zona Darurat, Bebaskan Rakyat Papua Barat dari Ancaman Militerisme</span></em><span style="font-family:Verdana;">, itulah bunyi spanduk yang diusung Komite Nasional Papua Barat (KNPB) ketika berdemo di Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), di Jayapura, Selasa, 10 Maret 2009. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Spanduk lainnya yang dihiasi gambar bendera Bintang Kejora bertuliskan: <em>Tuntut Kemerdekaan Bangsa Papua Barat</em>. Tak pelak, di saat RI sibuk menghadapi pemilihan umum 2009, rakyat Papua melontarkan berbagai gugatan kritis atas ketidakadilan yang menimpa mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1207" title="papua1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/papua1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="papua1" width="300" height="225" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Spanduk-spanduk para demonstran itu juga berbunyi: <em>Bebaskan Tahanan Politik dan Narapidana Politik, Otsus Makar dan Segera Referendum.</em>Salah seorang orator dalam demo berseru, ”Indonesia adalah pelanggar HAM terbesar. Karena itu, rakyat Papua harus merdeka!” Hal itu dilaporkan koran <em>Radar Sorong</em>, Rabu, 11 Maret 2009.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di Manokwari, ibukota Provinsi Papua Barat, keinginan polisi untuk berdialog dengan massa dari Dewan Adat Papua (DAP) wilayah Kepala Burung yang beberapa waktu lalu menggelar demo, ditanggapi positif. Yan Christian Warinussy, SH, pengacara dari Ketua DAP Barnabas Mandacan dan Ketua Komite Nasional Pemuda Papua, Jhon Waijo, yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan makar menyatakan, dialog yang bertujuan memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait penetapan tersangka sah-sah saja. Itu penting dilakukan agar tak terjadi kesalahpahaman (<em>Radar Sorong</em>, Rabu 11 Maret 2009).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Namun, dalam perkembangan kasus itu, Ketua DAP telah membantah 10 barang bukti yang disodorkan polisi (<em>Cahaya Papua</em>, Jum’at, 13 Maret 2009). Barnabas Mandacan mengaku tak mengenali 10 barang bukti yang dimaksud, antara lain, surat pemberitahuan kegiatan perayaan HUT Bangsa Papua Barat 1 Desember 2008, seruan dari Komite Nasional Pemuda Papua (KNPP), dan surat Deklarasi Papua Barat. Di sisi lain, John Warijo cuma mengakui tiga dari sepuluh barang bukti. Oleh kenyataan tersebut, Yan Christian Warinussy meminta ketegasan pihak kepolisian untuk serius menyelesaikan kasus ini sampai ke pengadilan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di tengah situasi itu, KSU Teresa, kelompok perempuan di kawasan Sanggeng, Manokwari yang dipimpin Merry Warinussy SH, masih menggeliat. Bertemu sang ketua di warung kelontong di Sanggeng itu, ada kisah tentang kampanye terselubung partai tertentu di antara ibu-ibu anggota kelompok. Di tengah pertemuan para tetangga bisa saya membonceng pesan sponsor.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1209" title="masy-bintuni" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/masy-bintuni.jpg?w=303&#038;h=228" alt="masy-bintuni" width="303" height="228" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Merry telah menyelesaikan kuliah hukumnya di Malang dan kini bermaksud melanjutkan ke bidang studi notaris. Kelompok KSU Teresa pernah terlibat dalam Lokakarya Capacity Building Organisasi Perempuan Papua yang diselenggarakan oleh PMK HKBP Jakarta bekerjasama dengan Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKI-TP) pada Oktober 2006 dan Desember 2007, atas dukungan Kairos, Canada.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Kabupaten Teluk Bintuni: Rakyat Sebyar Menggugat BP Tangguh</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Kabupaten Teluk Bintuni berdiri sejak 2003, luas wilayah 18.658 km², berpenduduk sekitar 40 ribu jiwa. Kabupaten ini terbagi atas 10 distrik (kecamatan), 2 kelurahan dan 95 kampung (setingkat desa).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Kawasan itu kini telah menjadi wilayah eksploitasi sumber daya alam. Dari berbagai sumber yang dapat dilacak melalui internet, saat ini setidaknya terdapat 11 HPH (Hak Pengusahaan Hutan), 2 HTI (Hutan Tanaman Industri), dan 2 perusahaan tambang. Ironisnya, meskipun ada investasi asing dan domestik di industri kehutanan, perkebunan, perikanan juga eksplorasi minyak dan gas, kehidupan rakyat setempat tidak beranjak baik, bahkan hampir tak memiliki akses pada semua investasi tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Gas alam cair (<em>Liquified Natural Oil -LNG)</em> yang melimpah di bagian utara Teluk Bintuni adalah alasan utama pembangunan proyek Tangguh. Gas alam ini diperkirakan akan menjadi sumber bagi kebutuhan LNG global terpenting dengan sasaran pasar Korea, China dan Amerika Utara. Pemerintah Indonesia menetapkan BP Indonesia sebagai pengelola LNG ini dengan nama Proyek Tangguh. Oleh kehadiran proyek ini, sembilan desa (kampung) di wilayah Teluk Bintuni terkena dampak secara langsung (<em>Direct Affected Village –DAV)</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1210" title="peta_bintuni" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/peta_bintuni.jpg?w=300&#038;h=202" alt="peta_bintuni" width="300" height="202" /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Kampung-kampung itu antara lain Tanah Merah, Saengga dan Onar. Kampung Tanah Merah dibeli proyek menjadi wilayah produksi, penduduknya di relokasi ke Tanah Merah Baru (TMB) dan sebagian lagi kembali ke kampung di Saengga dan Onar. Kendati BP mengklaim dirinya memiliki tanggung jawab terpadu terhadap manajemen lingkungan di seantero proyeknya seraya menggandeng komunitas lokal sebagai partner dalam pengembangan proyeknya, dampak negatif kehadiran proyek ini mulai terungkap di kawasan DAV.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dampak itu antara lain, degradasi lingkungan oleh pembabatan hutan mangrove yang dengan sendirinya mengancam keanekaragaman hayati, ketidaksiapan warga yang direlokasi menyusun kehidupan baru, yang walau menghuni rumah cantik dari kayu seharga lebih dari Rp, 300 juta per unit, namun kehilangan mata pencaharian (petani dan nelayan), serta persoalan ganti rugi tanah yang merugikan rakyat setempat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">BP Tangguh yang konon memiliki falsafah tanggung jawab sosial, dalam pelaksanaan Proyek LNG Tangguh dengan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial, terkesan pongah. Posisi rakyat dalam proyek ini tak jelas, apakah sebagai komponen pelaku utama, atau sebatas menikmati tetesan hasil atau sekedar menjadi penonton saja. Yang jelas sebagian telah menjadi pelengkap penderita, misalnya warga kampung Tanah Merah Baru yang dijanjikan berbagai fasilitas seperti pendidikan, kesehatan, pelatihan ketrampilan, penataan mata pencaharian sesuai rencana Program Sosial Terpadu BP Tangguh, namun kini hidup mereka merana, karena janji dicederai dusta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1211" title="bp tangguh" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/bp-tangguh.jpg?w=300&#038;h=225" alt="bp tangguh" width="300" height="225" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di sisi lain, proyek yang merambah kawasan daratan (<em>onshore</em>) di Distrik Sumuri, ternyata menyedot hasil lepas pantai (<em>offshore</em>) di Distrik Aranday, tanah adat suku Sebyar. Kabupaten Teluk Bintuni adalah kawasan hak adat dari tujuh suku, yakni, Sumiri, Irarotu, Wamesa, Kuri, Sebyar, Moskona dan Soug. Kenyataan ini mengisyaratkan kepada siapa seharusnya BP Tangguh membangun relasi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Ikhwal sepak terjang BP Tangguh ini, terungkap tatkala tokoh-tokoh masyarakat Sebyar, Wamesa, pemuda Bintuni, perempuan dan warga gereja menjadi partisipan Lokakarya Penguatan Organisasi Rakyat, 22-25 November 2008 silam. Sekitar 18 partisipan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sebagai kerjasama PMK-HKBP Jakarta dengan Sinode GKI di Tanah Papua, di gedung Gereja Sion, Sibena, Bintuni. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dalam diskusi yang berlangsung hangat saat itu, tokoh perempuan dari Sebyar, menggugat BP Tangguh yang brelaku tidak adil kepada komunitas mereka. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="ES-MX">Padahal 6 sumur gas proyek itu berada di kawasan adat suku mereka. Salah satu hasil lokakarya adalah, penguatan masyarakat adat mulai dari basis masing-masing, agar mampu memperjuangkan hak-hak mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="ES-MX"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1218" title="kepala burung" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/kepala-burung1.jpg?w=300&#038;h=203" alt="kepala burung" width="300" height="203" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="ES-MX"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="ES-MX">Masyarakat Sebyar yang dipimpin antara lain oleh tokoh perempuan, Anny M. Bauw, melakukan aksi secara bertahap, dimulai dengan pembenahan kelompok, mengumpulkan informasi tentang apa yang seharusnya menjadi hak masyarakat adat 7 suku, antara lain uang <em>toki</em> (ketuk) pintu Rp 60 M, sampai kepada demonstrasi pada 10 Maret 2009. Saat itu mereka menyegel Kantor BP Tangguh di Bintuni. Berbarengan dengan penyegelan itu, kelompok lain naik <em>longboat </em> ke pusat LNG Tangguh. Mereka tak sempat berorasi di LNG Tangguh untuk menyampaikan aspirasi: karena dihempang aparat keamanan dengan alasan, aspirasi itu telah dibacakan oleh Ketua LMA Sebyar, Djamaluddin di Bintuni. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="ES-MX"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Tindakan Ketua LMA itu menggusarkan gerakan rakyat Sebyar, karena di luar skenario. Anny Bauw yang akrab disapa Mama Anny, menceritakan gerakan rakyat Sebyar ketika bertemu utusan PMK-HKBP Jakarta, di Bintuni, 15 maret 2009. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Saat itu Mama Anny ditemani oleh Sogare, Agnes serta Octo.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Tuntutan Rakyat Sebyar terhadap BP Tangguh antara lain terungkap dalam pernyataan sikap mereka sebagai berikut: 1) </span><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">Pemerintah<strong><em> </em></strong>dan pihak BP TANGGUH, BP INDONESIA, BP MIGAS harus menghormati dan menghargai Hak Adat kami orang SEBYAR/ Masyarakat Adat Suku Besar SEBYAR KEMBERANO DAMBANDO selaku pemilik Sumber Daya Alam Gas Bumi; 2) BP TANGGUH. segera pastikan pembayaran uang KETUK PINTU sebesar Rp. 60.000.000.000,-, dan bukan enam milyar yang dibayarkan sebelum  produksi PERDANA dilakukan; </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">3) Hasil 10% kotor/hari dalam triwulan dan  30 % royalty/ tahun agar setiap bulan disalurkan melalui rekening masyarakat masing-masing;4) Sebelum produksi perdana dilaksanakan, maka  10 % kotor/hari dalam triwulan dan 30 % ROYALTY/tahun haru sudah terhitung  mulai tanggal pelaksanannya; 5) Kami minta  BP TANGGUH, BP MIGAS BP INDONESIA segera menjawab atau menyetujui pembagian  10 % Royalti bersih/hari dalam/triwulan dengan pernyataan hitam diatas putih  bermeterai sebelum produksi perdana dilakukan; </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">6) BP TANGGUH BP INDONESIA BP MIGAS segera merubah dan memperbaiki nama  SUMUR <span style="text-decoration:underline;">FURUWATA</span> dikembalikan menjadi  nama sumur  <span style="text-decoration:underline;">NAMBUMBI</span> dI Wilayah SEBYAR. dilihat secara fotografi daerah, wilayah FURAWATA berada dipertengahan antara diskrik  BABO dan  Kabupaten KAIMANA; 7) BP TANGGUH, BP MIGAS BP INDONESIA segera merevisi kembali AMDAL. dan membuat kontruksi kerja baru sama halnya dengan kontruksi yang ada di wilayah Pantai Selatan Kampung Tanah Merah Distrik Sumur Kabupaten TELUK BINTUNI;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">8) Secara transparan, kami minta kepada BP INDONESIA, BP TANGGUH BP MIGAS serta PEMERINTAH PUSAT, PEMERINTAH PROVINSI, PEMERINTAH DAERAH untuk meninjau kembali  Penandatanganan MoU yang dibuat persetujuannya di BALI; 9) Pembangunan TRAIN TIGA DAN EMPAT harus dibangun di wilayah Tanah Adat SUKU BESAR SEBYAR KEMBARANO DAMBANDO; </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN">10) </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Perekrutan  Tenaga Kerja  secara transparan dan diutamakan Putra Putri asli SEBYAR . <span style="text-decoration:underline;">Sebagai Tenaga OPERATOR KILANG, STAF (Admin), dan tempat-tempat penting di perusahaan; 11) </span>Kami mina kepada Pihak BP TANGGUH untuk menggunakan <span style="text-decoration:underline;">Kontraktor Lokal atau Sub Kontraktor yang berada di Kabupaten </span>TELUK BINTUNI di dalam Project BP LNG SITE; </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">12) BP TANGGUH segera memfasilitasi biaya Pendidikan khususnya Putra/Putri Suku BESAR SEBYAR Nama dan Marga/Kerek (jelas) untuk di sekolahkan di <span style="text-decoration:underline;">SMK MIGAS, AK MIGAS dan Program Jenjang S1, S2, dan S3 ,di dalam Negeri maupun di Luar negeri; 13) S</span>emua Kegiatan BP TANGGUH segera dihentikan mengenai  PBM untuk sementara waktu, di LIMA KAMPUNG yang terkena dampak langsung(DAV), sebelum ada realisasi yang helas antara pihak perusahaan dengan masyarakat adat  SUKU BESAR KEMBERANO DAMBANDO; </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">14) Poin 1 sampai poin 3 harus dinyatakan dengan Perjanjian/ Pengakuan  Hitam di atas PUTIH (Tertulis/Bermeterai) sebelum Produksi PERDANA dilakukan; 15) Pernyataan ini dibuat dan dijawab dalam hati ini saat  Pembacaan Surat Pernyataan ini; 16) Kami Masyarakat Adat SUKU SEBYAR menyatakan dengan TEGAS segera Menghapus <span style="text-decoration:underline;">NAMA YAYASAN BINTUNI BERSAMA</span>, karena tidak sesuai dengan hasil keputusan Gelar Alas Tikat Adat dI Ibu Kota Distrik ARANDAY Kabupaten TELUK BINTUNI.</span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="ES-MX"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="ES-MX"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="IN"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.7pt;text-indent:-27.35pt;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.7pt;text-indent:-27.35pt;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.7pt;text-indent:-27.35pt;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.7pt;text-indent:-27.35pt;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:72.7pt;text-align:justify;text-indent:-27.35pt;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Belajar dari kasus BP Tangguh itu, Pak Menci, tokoh dari suku Moskona, yang kini menjadi pelaksana ketua LMA 7 suku di Kabupaten Teluk Bintuni, menjadi lebih waspada berhadapan dengan investor yang ingin mengelola pertambangan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:9pt;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di wilayah tanah ulayat Suku Muskona terdapat kawasan yang menyimpan batu bara. Terhadap investor yang tertarik kepada pertambangan batu bara itu, Suku Muskona menurut Bapak Menci menetapkan berbagai persyaratan, antara lain: rakyat harus mendapatkan pembagian saham, terlibat dalam manajemen pengelolaan serta pembagian keuntungan yang jelas. Ia juga menuntut AMDAL yang baik dan benar, serta penandatanganan MOU harus di Bintuni, bukan di Jakarta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Arthur J. Horoni</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong></strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1197&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/05/15/tanah-papua-zona-darurat-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/papua1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">papua1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/masy-bintuni.jpg?w=299" medium="image">
			<media:title type="html">masy-bintuni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/peta_bintuni.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">peta_bintuni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/bp-tangguh.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bp tangguh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/kepala-burung1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kepala burung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanah Papua Zona Darurat (2)</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/05/15/tanah-papua-zona-darurat-2/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/05/15/tanah-papua-zona-darurat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 07:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[BP Tangguh]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[PMK-HKBP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1195</guid>
		<description><![CDATA[Tanah Merah Baru: Mama-mama tak Bisa lagi Menjaring Udang Bila rakyat Sebyar telah bergerak menggugat BP Tangguh, komunitas Tanah Merah Baru yang hanya dibatasi pagar dengan proyek, seolah terbuang tak berdaya. Kampung Tanah Merah Baru (TMB), dibangun BP Tangguh untuk &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2009/05/15/tanah-papua-zona-darurat-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1195&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#003300;">Tanah Merah Baru:  Mama-mama tak Bisa lagi Menjaring Udang</span> </strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bila rakyat Sebyar telah bergerak menggugat BP Tangguh, komunitas Tanah Merah Baru yang hanya dibatasi pagar dengan proyek, seolah terbuang tak berdaya. Kampung Tanah Merah Baru (TMB), dibangun BP Tangguh untuk relokasi penduduk Tanah Merah Lama yang areanya dibeli Proyek LNG Tangguh. Sekitar 101 rumah dibangun di Tanah Merah Baru, kawasan yang dibeli BP dari marga Simuna, Suku Sumuri, sedangkan sebahagian lagi dibangun di Saengga (90an rumah) serta di Onar Lama dan Onar Baru (sekitar 60an rumah).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1214" title="tanah merah baru" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/tanah-merah-baru.jpg?w=241&#038;h=225" alt="tanah merah baru" width="241" height="225" /> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Pembangunan rumah di Saengga dan Onar atas permintaan rakyat sendiri yang lebih suka bermukim di tanah ulayat marga mereka.  Tak heran bila warga Kampung TMB merasa sebagai komunitas terbuang. Mereka tak punya tanah ulayat untuk berladang, sedangkan mama-mama yang biasa menjaring udang di pantai tak bisa melakukan itu, karena dilarang oleh sekuriti proyek. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Para nelayan dan petani dalam kondisi seperti itu ibarat mati mata pencaharian. Apalagi fasilitas umum seperti air bersih yang dulu melimpah kini sering tak mengalir. Listrik juga begitu, hanya untuk malam hari.   Pusat Kesehatan Masyarakat Terpadu (Pustu), lebih banyak tutup ketimbang buka, karena dokter dan paramedis lebih sering berada di Bintuni. Program Sosial Terpadu seperti yang dijanjikan BP Tangguh belum terwujud sebagaimana yang direncanakan. Yang paling mengesalkan rakyat, kesempatan kerja bagi rakyat Papua sangat terbatas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kebanyakan pemuda Papua hanya menjadi sekuriti.  Seorang pemuda Papua yang pernah bekerja di proyek namun kini telah di-PHK berkisah, sistem perekrutan tenaga kerja sangat tidak adil. Bila orang dari suku tertentu di luar Papua menempati suatu jabatan maka ia akan mengajak komunitasnya untuk bekerja. Alasan orang Papua tak punya skill pun dibantah pemuda ini. Orang Papua juga mampu. ”Masa orang cungkel tanah saja mesti bawa dari Jawa,” katanya kesal.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1215" title="masy-TMB" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/masy-tmb.jpg?w=300&#038;h=224" alt="masy-TMB" width="300" height="224" /> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ibu Eva yang hadir dalam diskusi bersama PMK-HKBP di TMB, 19 Maret 2009, menyatakan, kendati TMB termasuk kawasan yang ditimpa dampak langsung LNG Tangguh (DAV), namun masyarakatnya tidak mendapatkan kesempatan bekerja di proyek itu. Apalagi kaum perempuan. ”Kami cari pekerjaan setengah mati tapi kalau speed masuk, itu pasti membawa rombongan dari luar, masuk kerja,” tutur ibu Eva, gusar. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ada masalah lain menurut cerita seorang pemuda. BP tak boleh mendirikan rumah ibadah di dalam kompleks proyek. Karena itu rumah ibadah yang bagus: mesjid, gereja katolik dan gereja protestan dibangun di TMB. Diharapkan karyawan beribadah di TMB agar terjadi interaksi dengan masyarakat. Ternyata BP menyelenggarakan persekutuan Oikoumene di LNG Tangguh. Sudah begitu, kisah sang pemuda, tak jelas ke mana kolekte (uang yang dikumpulkan saat ibadah) disetor. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Persekutuan ini juga lebih suka mengundang pendeta dari luar Papua untuk berkhotbah di LNG Tangguh, konon dengan honorarium yang besar sampai jutaan rupiah sedangkan kalau pendeta setempat paling Rp 300 ribu. ” Entah kenapa, firman Tuhan dari Jawa dengan firman Tuhan dari Papua, beda harganya, ” tutur si pemuda. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Seorang ibu memrotes keberadaan koperasi kampung yang dikelola oleh staf BP. ”Ini koperasi masyarakat atau milik LNG. Kenapa orang BP yang mengelola koperasi itu,” protes sang ibu. Ibu Eva, sang guru, bernostalgia saat pertama jadi penghuni TMB, ”Pertama kali kami pindah dari kampung lama ke kampung baru sungguh senang. Makan dikasih, air mengalir siang dan malam. Lampu menyala dua puluh empat jam. Itu cuma berlangsung hampir dua tahun.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"> ”Jadi pertama kali kami manja, karena semua tersedia. Ada pelatihan untuk ekonomi, pertanian, perikanan. Tapi cuma sampai di situ, bentuk pelatihan saja, tak ada kelanjutannya,” kata Pak Gerardus Sabandafa, Guru Jemaat, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) dan anggota Komite Perjuangan Rakyat untuk Hak Rakyat. Pendeknya, rakyat sekarang mulai sadar, apa yang disediakan oleh BP dulu itu, hanyalah upaya untuk menunjukkan mereka telah melaksanakan program sosial sesuai kepentingan perusahaan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Masalahnya apakah rakyat di TMB mau menerima nasib keterpurukan mereka sebagai takdir? Atau ingin melakukan upaya-upaya untuk perubahan. Para sobat yang berkumpul dalam diskusi di rumah Ibu Eva jelas inginkan ada perubahan. Bagi Pdt. F Kawab, dari GKI-TP jemaat TMB, rakyat perlu duduk bersama, memahami situasi yang tengah mereka hadapi, selanjutnya membangun kesadaran bersama untuk bertindak. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ada banyak masalah yang dihadapi: kesiapan warga masuk dalam situasi yang berbeda sama sekali antara suasana kehidupan  lama dan baru, yang tak pelak mengundang berbagai kejutan. Lantas keadaan dari mayoritas warga yang dulu petani dan nelayan yang kehilangan mata pencaharian, ketertinggalan warga setempat bersaing dengan pendatang yang lebih trampil dalam mengembangkan usaha-usaha dagang, tak adanya lahan untuk berladang, sampai kepada gejala konsumerisme yang melanda. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Untuk itu, Pak Kawab senantiasa mengingatkan warga melalui pertemuan-pertemuan ibadah agar persoalan bersama dibicarakan beradasarkan kearifan lokal: musyawarah tiga tungku. Itulah dialog antara pemuka adat, agama dan pemerintah. Dimulai dari komunitas kampung, sampai ke tingkat atas. Musyawarah harus dimulai dari rakyat. Kesadaran untuk berubah harus menjadi gerak dari rakyat sendiri, bukan datang dari kepentingan pihak luar, misalnya para aktivis LSM. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Banyak aktivis LSM yang datang ke TMB, menurutnya, ujung-ujungnya menjadi mitra LNG Tangguh. Karena itu Pdt. Kawab mendukung upaya bagi penguatan masyarakat adat, agar mereka mampu mengurus dirinya sendiri.  Petrus Simuna, warga Saengga sepakat dengan upaya penguatan rakyat. Ia kagum atas perjuangan rakyat Sebyar dan berharap akan menular kepada suku-suku yang lain. Ia merindukan adanya gerakan bersama di Teluk Bintuni untuk menanggapi masuknya berbagai investor ke kawasan yang kaya SDA itu. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Adapun Pdt. Buce Corlinus dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), mendukung kegiatan penguatan masyarakat adat, agar mampu berperan memperjuangkan hak-haknya. Ia prihatin mengamati nasib buruh di perusahaan-perusahaan di kawasan T.Bintuni yang di PHK secara sepihak. Sudah begitu upah mereka rendah, jaminan sosial nihil. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ia juga gusar oleh ulah BP Tangguh yang membuat pagar memisahkan area perusahaan dengan Kampung TMB. Padahal, menurut Corlinus, kalau pagar dibuka, akan terjadi pergaulan dan hubungan yang saling menguntungkan antara karyawan dengan masyarakat. “Kalau karyawan berbelanja di pasar kampung, ekonomi rakyat akan berkembang,” katanya yakin. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Mengamati ulah BP Tangguh yang nampaknya kurang memperdulikan rakyat TMB, Pak Sabandafa, Pak Kawab serta warga setempat, mulai memperbincangkan pilihan terobosan : transmigrasi lokal ke kampung yang berupa tanah ulayat di dekat Tofoi (Kelapa Dua). Menurut Ketua Jemaat GKI-TP Tanah Merah Baru itu, masyarakat menyediakan tanah ulayat menjadi kampung, sedangkan Pemda memfasilitasi pembangunan rumah. Rumah-rumah di TMB bisa saja dikontrakkan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di tanah yang baru itu, lahan untuk berladang terhampar luas dan laut tak dibatasi jembatan BP Tangguh. Jadi, para mama yang trampil menjaring udang dan kepiting di bibir pantai, bisa menunjukkan kebolehannya lagi.  Jadi, belajar dari catatan ini, terasa lebih yakin untuk menyatakan, Tanah Papua sebagai Zona Darurat. Wah !! </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;">Arthur J. Horoni</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1195&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/05/15/tanah-papua-zona-darurat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/tanah-merah-baru.jpg?w=241" medium="image">
			<media:title type="html">tanah merah baru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/05/masy-tmb.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">masy-TMB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rakyat dan Pergaulan Antar-Iman</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/05/07/rakyat-dan-pergaulan-antar-iman/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/05/07/rakyat-dan-pergaulan-antar-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 10:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Etnis]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kaharingan]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[Saya bertumbuh menjadi remaja di tengah komunitas majemuk (etnis dan agama) di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Seingat saya, di tahun 50-60-an itu, tak ada persoalan menyangkut pergaulan antar-etnis maupun antar-iman. Waktu itu, sejoli yang ”terlibat” percintaan dan memilih berumah tangga &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2009/05/07/rakyat-dan-pergaulan-antar-iman/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1188&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;">Saya bertumbuh menjadi remaja di tengah komunitas majemuk (etnis dan agama) di Kota Bitung, Sulawesi Utara. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Seingat saya, di tahun 50-60-an itu, tak ada persoalan menyangkut pergaulan antar-etnis maupun antar-iman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Waktu itu, sejoli yang ”terlibat” percintaan dan memilih berumah tangga tak begitu pusing dengan urusan beda agama atau beda suku. Mereka bisa menikah di Kantor Catatan Sipil. Urusan perkawinan secara agama, belakangan. Malah ada yang memberi nama semacam ”sekte baru”, ”Krislam”, untuk pasangan yang beragama Kristen dan Islam. Tentu saja itu cuma ungkapan permainan kata tidak serius. Di dalam pergaulan rakyat jelata, pergaulan teramat manusiawi, tak ada sekat yang jadi beban.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dari awal 90-an hingga era 2000-an, saya sering berkunjung ke Kalimantan: Selatan, Tengah, Barat dan Timur. Di beberapa kelompok Suku Dayak, terutama di pedalaman Kalteng dan Kalbar, masih kokoh <em>rumah betang</em>, rumah panjang yang dihuni satu kekerabatan tertentu. Di rumah besar itu beberapa keluarga hidup bersama, rukun, sekalipun berbeda agama atau iman. Ada Kaharingan (agama suku), Islam, maupun Kristen. Nilai-nilai ini dipraktekkan dan dijalankan dengan khusuk, dan ternyata hal itu tidak menganggu hubungan kekerabatan manusiawi, malah memperkaya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di lingkungan etnis Karo, Sumatera Utara, perbedaan agama tidak merusak hubungan kekeluargaan atau ikatan marga. Saling berkunjung dan mengucapkan selamat hari raya selalu diwarnai oleh makan bersama. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Tersebutlah di Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat, suku besar Sebyar. Di lingkungan etnis ini hadir dua agama: Islam dan Kristen. Kalau Anda berkunjung ke rumah penduduk dari suku ini, hubungan saling menghargai dalam pergaulan antar-iman dapat ditemukan secara terang. Ini berhubungan dengan urusan makanan. Di dapur rumah tangga suku Sebyar selalu disediakan kuali, belanga, pokoknya alat masak yang diberi ”label” atau ditulis: kuali/belanga Islam dan Kristen. Ini tentu saja kearifan setempat dalam menjaga jangan ada saudaranya yang kena pencobaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Sungguh membahagiakan pergaulan antar-iman di kalangan rakyat jelata: tulus dan kaya spiritualitas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Alhamdulillah. Haleluya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Arthur J.Horoni </span></strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=1188&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/05/07/rakyat-dan-pergaulan-antar-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan Natal yang Tersisa: Spiritualitas Natal dalam SMS</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/01/05/kenangan-natal-yang-tersisa-spiritualitas-natal-dalam-sms/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/01/05/kenangan-natal-yang-tersisa-spiritualitas-natal-dalam-sms/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 17:32:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Betlehem]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus Kristus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=904</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Arthur J. Horoni Saya    mendapat 47 SMS ucapan selamat Natal di penghujung Desember 2008 yang baru saja kita lewati. Pesan paling awal, tiba 24 Desember 2008, dari sobatku &#8212; tapi kami lebih dekat dan saling menyapa dengan sebutan “saudaraku” &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2009/01/05/kenangan-natal-yang-tersisa-spiritualitas-natal-dalam-sms/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=904&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><img class="alignleft size-full wp-image-905" title="foto-arthur1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/01/foto-arthur1.jpg?w=584" alt="foto-arthur1"   />Oleh: Arthur J. Horoni</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya    mendapat 47 SMS ucapan selamat Natal di penghujung Desember 2008 yang baru saja kita lewati. Pesan paling awal, tiba 24 Desember 2008, dari sobatku &#8212; tapi kami lebih dekat dan saling menyapa dengan sebutan “saudaraku” &#8212; seorang Muslim. Ia menulis,  “Saudaraku, Sang Mesias tak ke mana-mana. Dia senantiasa ada dalam hati manusia. Sang Mesias menghapus dosa para gembalaannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya terhenyak. Saudaraku ini paham betul spirit <em>atawa</em> roh Natal: <strong>penebusan dan pembebasan dosa umat oleh Sang Mesias</strong>. Roh Natal bukan pesta-pora gemerlap rekayasa manusia, namun karya pembebasan umat manusia dari belenggu dosa karena Allah mengasihi manusia dan alam ciptaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tentu saja saya berterimakasih sungguh atas sapaan saudaraku itu, dan saya jawab dengan mengutip baris-baris puisi Natal Sitor Situmorang: “Menyambut Kristus kita menyambut revolusi, menyambut Kristus kita membangun dunia baru.” Penyair ini melukiskan dengan tepat spirit Natal: perubahan total yang cepat. Seratus delapan puluh  derajat, menuju pemulihan: hubungan kasih dengan Allah dan kasih terhadap sesama untuk membangun dunia baru. Tentu yang lebih berkeadilan, yang membuahkan perdamaian sejati, seraya menghargai alam ciptaan Sang Khalik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perdamaian sejati sebagai spirit Natal juga dipesankan saudaraku Muslim yang lain:  ”Selamat Hari Natal.  Semoga kedamaian Natal yang bersemayam di hati kita,  menyebar ke seluruh semesta.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ada lagi sobat dari Aceh menulis,  ”Semoga kasih sayang dan karunia Tuhan mengiringi hari-hari bahagia kita semua.” Luar biasa roh Natal yang sejati ini. Ia melintas batas. Ia memperkenankan manusia sebagai ciptaan Allah, untuk menegakkan kasih sayang yang membuahkan keadilan dan perdamaian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ada juga petuah yang saya rasakan lebih bernas dari khotbah pendeta yang sudah rutin. Datang dari saudaraku yang anak  Sukabumi.  “Tanpa kita sadari, dalam kepenuhan Allah, segala sesuatu akan menjadi baik dan menjadikan engkau tenang. Alangkah indahnya ketika Kristus masuk dalam hidupmu, melenyapkan semua kekhawatiran.  Semoga Damai Natal mewarnai kehidupan kita dalam menjalankan tugas dan aktivitas sehari-hari.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dari sobat-sobat saya yang Kristen, banyak petatah-petitih tentu saja. Syukurlah bukan khotbah. Terasa sebagai cermin akhir tahun yang menyemangati kerja. ”Saat itu Dia lahir di Betlehem. Saat ini Dia lahir di hati kita, untuk Keadilan, Perdamaian  bagi Rakyat dan Bumi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Juga ada yang berkelakar nakal, namun menyentuh untuk introspeksi: “Yang membuatmu mahal bukan dari penampilanmu, bukan dari harta yang kamu punya, tapi kamu mahal karena dalam hati dan pikiranmu ada Kristus. <em>Met Natal Yauwww</em>…&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em>Hahaha</em> … Tentu ini membuat saya tergelak sukacita. Ini spirit  Natal, kabar sukacita yang menumbuhkan pengharapan akan hari depan yang lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Spirit Natal ikhwal penebusan, pembebasan, perubahan, kasih, keadilan, perdamaian, belarasa, keutuhan ciptaan dan hari depan, sungguh melintas batas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Andaikan kita mau mulai mempraktekkan semua itu secara sederhana, kecil-kecilan saja, dengan tidak larut dalam pesta-pora akhir tahun, tidak mabuk belanja, tidak merugikan apalagi merampas milik orang lain, mau berbagi kasih dan keprihatinan, berdamai dengan diri sendiri, mungkin kita mampu menggulirkan perubahan ke arah hari depan yang lebih berpengharapan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Medan</strong><strong>, Awal Januari 2009</strong>.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/904/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/904/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/904/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/904/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/904/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/904/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/904/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/904/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/904/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/904/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/904/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/904/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/904/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/904/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=904&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/01/05/kenangan-natal-yang-tersisa-spiritualitas-natal-dalam-sms/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2009/01/foto-arthur1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto-arthur1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Andaikan Tak Ada Pesta Natal</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/12/11/andaikan-tak-ada-pesta-natal/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/12/11/andaikan-tak-ada-pesta-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Dec 2008 05:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[Amos]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Gereja-Gereja Sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[Gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Kristiani]]></category>
		<category><![CDATA[Natal]]></category>
		<category><![CDATA[PGI]]></category>
		<category><![CDATA[World Council of Churches]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus Kristus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Arthur J. Horoni Lebih baik, berusahalah supaya keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah kering. (Amos 5: 21-24) Oleh krisis global yang melanda dunia saat ini, rakyat Indonesia semakin sengsara. Harga produk pertanian merayap, padahal &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2008/12/11/andaikan-tak-ada-pesta-natal/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=746&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#003366;"><span lang="SV"><strong>Oleh: Arthur J. Horoni</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:225pt;text-align:right;"><span style="color:#003300;"><em><span lang="SV">Lebih baik, berusahalah supaya keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah kering. </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:225pt;text-align:right;"><span style="color:#003300;"><em><strong>(Amos 5: 21-24)</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="FI">Oleh krisis global yang melanda dunia saat ini, rakyat Indonesia semakin sengsara. Harga produk pertanian merayap, padahal pupuk mahal, bahkan jadi ajang perselingkuhan pejabat dengan distributor yang tentu mencekik petani. Bayangkan bagaimana nasib petani tak bertanah? Padahal pemerintah menjagokan program ”Ketahanan Pangan”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span lang="SV"><img class="size-medium wp-image-752 aligncenter" title="petani-di-sawah-kering1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/petani-di-sawah-kering1.jpg?w=463&#038;h=296" alt="petani-di-sawah-kering1" width="463" height="296" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="SV">Di sektor industri, bencana tengah menggempur industri tekstil. Permintaan dari Amerika dan Eropa menurun 30-40 %, sekitar 100 ribu dari 1,2 juta buruh di sektor ini akan dirumahkan dan tahun 2009, konon 50% buruh Indonesia atau sekitar 45,5 juta orang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Akan halnya, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias buruh migran lebih menyedihkan lagi. Gelombang PHK telah dimulai di Hongkong, Taiwan, Korea, menyusul Singapura dan Malaysia. </span>Itulah kutuk neoliberalisme yang menjagokan keperkasaan pasar bebas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="FI">Jadi kata kunci adalah: jatuh. Rupiah jatuh, sawit, karet, minyak jatuh. Padi, apalagi dilibas banjir, jatuh. Jagung bibit unggul karena tak ada pupuk jatuh. Alhasil, sokoguru bangsa: petani, buruh dan nelayan (yang tak bisa beli solar mahal), berguguran bagai daun kering terjerembab tak berdaya di tanah tandus. Jatuh sudah. Ajaib memang, pemerintah tak jatuh-jatuh, padahal <strong><span style="text-decoration:underline;">S</span></strong>emakin <strong><span style="text-decoration:underline;">B</span></strong>anyak <strong><span style="text-decoration:underline;">Y</span></strong>ang <strong><span style="text-decoration:underline;">J</span></strong>adi <strong><span style="text-decoration:underline;">K</span></strong>orban.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span lang="FI"><img class="size-medium wp-image-750 aligncenter" title="buruh-migran-perempuan" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/buruh-migran-perempuan.gif?w=462&#038;h=332" alt="buruh-migran-perempuan" width="462" height="332" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="FI">Maka Sempurnalah Penderitaan Rakyat &#8230;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="FI">Kendati penderitaan rakyat semakin sempurna, renovasi gedung DPR dan rumah pejabat di pusat dan daerah jalan terus. Mobil mewah laku terus. Di sebuah kabupaten di timur nusantara, mobil <em>Rangers Double Cabin, </em>jadi angkutan lapangan eksekutif dan legislatif. Di kelas ini, rasa-rasanya tak ada krisis. Untuk apa pusing-pusing memikirkan rakyat yang selalu diguncang pertanyaan: apa bisa makan hari ini?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="FI">Bagi para birokrat, anggota DPR/DPRD, pimpinan parpol dan sebangsanya pertanyaan itu berubah: makan di mana hari ini? Yang <em>serem</em> para investor rakus: makan siapa hari ini? Jadi, sempurnalah penderitaan rakyatmu, tuan dan nyonya besar…</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span lang="FI">Suara Nabi di Tengah Gurun</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="FI">Di tengah gurun ketidakadilan ini, di kubangan penderitaan rakyat, umat rindu suara nabi. Kutipan teks dari Nabi Amos di awal tadi kurang digunakan birokrat gereja, namun sungguh popular di kalangan umat yang sengsara. </span><span lang="ES-MX">Amos, nabi pertama dalam Alkitab, yang pesannya dicatat secara terperinci. Ia mengritik pejabat kerajaan dan pemuka agama Yahudi yang tak peka atas ketidakadilan. Ia membentak bangsa yang menjadikan ibadah sebagai perayaan-perayaan atau pesta semata tanpa kepedulian atas nasib rakyat. Ibadah seperti itu kata Amos, bakal ditolak Tuhan. Allah, tutur Amos, menghendaki keadilan bergulung-gulung seperti air.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Dari Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja se Dunia (DGD-WCC) di Porto Alegre, Brazil, 2006, terbit sebuah dokumen latar belakang yang &#8220;membentak&#8221; globalisasi ekonomi yang menjujung neoliberalisme, ekonomi pasar bebas. Dokumen itu berjudul <em>Alternative Globalization Addressing People and Earth</em>. Akronimnya adalah AGAPE, kata dari bahasa Yunani yang berarti Kasih. Dokumen ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia di bawah judul, “Globalisasi Alternatif mengutamakan Rakyat dan Bumi.” Diktum neoliberalisme menurut dokumen ini, “pada dasarnya neoliberalisme mengubah segala sesuatu dan manusia menjadi komoditi. “ </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Penguasaan neoliberalisme terhadap kekayaan material yang melebihi penghargaan akan harkat dan martabat manusia, membuat manusia diperlakukan tidak selayaknya, mengorbankan kehidupan manusia dan alam demi ketamakan. Buahnya adalah ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan, kelaparan, pengangguran yang melanda bagian terbesar penduduk dunia dan berakibat kepada kematian. Seiring dengan itu masalah-masalah lingkungan hidup semakin meruyak: pemanasan global, penipisan sumber daya alam, terbentuknya gurun hijau (perkebunan sawit yang terlantar karena sawit jatuh) serta hilangnya keanekaragaman hayati. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Di sisi itu, pemerintah dan pengusaha kita adalah birokrat dan kapitalis yang menjadi agen neoliberalisme atau neolib itu. Ada bangunan yang seragam dari Banda Aceh sampai Jayapura sebagai wajah gemilang neolib: mal, ruko dan Swiss Bell Hotel …</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span lang="ES-MX">Keberanian Melawan Arus</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Bagaimana tanggapan gereja-gereja di Indonesia terhadap situasi ini? Pada 1-5 Desember 2008 di Wisma Samadi, Klender, Jakarta, 80 orang pimpinan gereja anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), utusan kaum perempuan dan pemuda, para pelaku ekonomi, politik dan budaya, yang prihatin atas situasi itu terlibat dalam konsultasi Nasional Gereja dan Ágape. Tema Konsultasi, “Tuhan, dalam Rahmat-Mu, Ubahlah Dunia”, dengan subtema, “ AGAPE dari Deklarasi Menjadi Aksi”.</span></span></p>
<address class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX"><img class="aligncenter size-medium wp-image-758" title="sae-nababan" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/sae-nababan.jpg?w=502&#038;h=361" alt="sae-nababan" width="502" height="361" /></span></span></address>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Peserta Konsutasi Nasional Gereja dan AGAPE, berpose bersama Presiden DGD, Pdt. Dr. SAE Nababan.“Bagi Allah tidak ada yang mustahil”.</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><em>(Foto: Dok. Arthur JH/PKM)</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Presiden DGD (Dewan Gereja-gereja se-Dunia), Pdt. Dr. SAE Nababan, dalam renungan pada pembukaan konsultasi mengritik gereja yang tidak peduli terhadap ketidakadilan yang berlangsung di tengah masyarakat. Ia menguraikan, ada tiga penyebab sikap ketidakpedulian itu, (1) pengejaran keselamatan jiwa (kesalehan pribadi sebagai warisan pietisme), (2) kuasa tradisi gereja yang membentuk pola pikir dan pola hidup manusia, yang hampir bersifat mutlak, dan (3) keterbatasan pergumulan yang terus-menerus dengan Firman Tuhan di tengah perjalanan hidup. Karena ketidakpedulian ini, kita cenderung menjauhkan diri dari ketidakadilan yang mendera rakyat, tidak berani bersama rakyat menghadapinya dan secara tegas memberitakan, mengusahakan dan menegakkan keadilan bagi semua orang, sebagai kehendak Allah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Dr. Nababan menegaskan, kerinduan mendalam setiap manusia dan setiap komunitas manusia bahkan setiap bangsa adalah memperoleh keadilan dan perdamaian. Karena hanya dengan adanya keadilan dan perdamaian, kehidupan manusia dapat berkembang sejahtera. “Keduanya tak terpisahkan”, ujarnya. Ia menyatakan kegembiraannya dengan kehadiran peserta konsultasi, walau hanya kelompok kecil. Namun kelompok yang peduli, dan di hadapan Tuhan, kelompok-kelompok kecil ini juga mewakili gereja. Kehadiran dalam konsultasi ini, menurut Nababan, adalah keberanian melawan arus, pada saat kebanyakan orang terpukau, terlena bahkan terbenam arus globalisasi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Melalui diskusi, penggalian pengalaman, analisis sosial, Ibadah, refleksi teologis, peserta bergumul, menafsirkan ulang teks Alkitab sesuai dengan konteks, membaca kembali secara kritis. Kesadaran yang muncul adalah, gereja sejatinya menjadi komunitas yang transformatif dengan mengembangkan teologi yang berpihak kepada rakyat dan bumi. Untuk itu perlu upaya terus-menerus memampukan gereja menjadi gerakan ketimbang institusi yang berpihak kepada rakyat dan bumi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span lang="SV">Andaikan Tak Ada Pesta Natal</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="SV">Konsultasi tak bermakna bila tak disusul aksi. Tentu, gereja-gereja atau komunitas Kristiani di negeri ini mampu merumuskan aksi sesuai konteks masing-masing. Kendati begitu, ada sesuatu yang sangat konkret yang dapat dilakukan bersama-sama, kalau mau.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="SV">Di pekan-pekan advent, menyongsong natal ini, sebaiknya kita membebaskan diri dari jerat neolib. Misalnya, tak perlu membeli pohon natal serta segala perniknya di mal-mal. Yesus yang lahir dalam kemiskinan kenapa mesti dirayakan dalam kegemerlapan? </span><span lang="ES-MX">Kita toh tidak meracik sendiri tema natal dan segala perniknya di rumah kita dengan apa yang ada pada kita. Ada kembang, ada pohon hidup di rumah, dan terutama mempersiapkan hati yang penuh shalom (damai sejahtera).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Pesta <em>Santa Claus</em> atau sinterklas itu sihir neolib, boikot saja. Tak ada gunanya buat kita. Dan coba Anda hitung ongkos pesta natal di negeri ini secara total. Konon orang Kristen anggota jemaat gereja-gereja anggota PGI yang ada 87 sinode itu sekitar 10 juta. Kita hitung secara sederhana, ada sekitar 20 ribu komunitas atau jemaat yang masing-masing 500 orang anggotanya. Biasanya pesta natal setiap jemaat paling sedikit Rp 20 juta misalnya. Berapa uang terkumpul setiap pesta natal? Tak kurang dari Rp 400.000.000.000 (400 milyar rupiah).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="ES-MX">Belum lagi natal marga, keluarga, polisi, DPR/D, Parpol, dan seterusnya dan seterusnya. Berapa trilyun uang yang dibuang sia-sia untuk pesta, yang menurut nabi Amos, tak disukai Tuhan? </span><span lang="SV">Berapa sekolah dan rumah sakit untuk rakyat bisa dibangun?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span lang="SV">Andaikan gereja-gereja bersatu mengembalikan pesta natal kepada situasi natal yang pertama, kita tidak perlu berpesta di tengah semakin sempurnanya penderitaan petani, nelayan dan buruh. Dan kita akan mampu mengatasi neolib &#8230; </span></span></p>
<h5 style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span lang="SV">[Foto-foto: Suara Pembaruan dan Associated Press]<br />
</span></span></h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/746/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/746/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/746/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=746&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/12/11/andaikan-tak-ada-pesta-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/petani-di-sawah-kering1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">petani-di-sawah-kering1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/buruh-migran-perempuan.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">buruh-migran-perempuan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/sae-nababan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sae-nababan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memperingati 1 Mei: Mengenang Chun Tae-il</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/05/01/memperingati-1-mei-mengenang-chun-tae-il/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/05/01/memperingati-1-mei-mengenang-chun-tae-il/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 17:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh]]></category>
		<category><![CDATA[Chun Tae-il]]></category>
		<category><![CDATA[Korea Selatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah gerangan Chun Tae-il? Waktu itu, 13 November 1970, ia cuma seorang lelaki muda, buruh yang dibayar amat rendah, tukang potong pakaian di pabrik garmen di Pasar Damai, Seoul, Korea Selatan. Namun hari itu, buruh muda 22 tahun itu menorehkan &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2008/05/01/memperingati-1-mei-mengenang-chun-tae-il/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=127&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Siapakah gerangan Chun Tae-il? Waktu itu, 13 November 1970, ia cuma seorang lelaki muda, buruh yang dibayar amat rendah, tukang potong pakaian<span> </span>di pabrik garmen di Pasar Damai, Seoul, Korea Selatan. Namun hari itu, buruh muda 22 tahun itu menorehkan tragedi yang mengguncang tidak saja Semenanjung Korea, namun dunia: ia membakar dirinya sampai mati, agar nasib buruh Korea berubah menjadi lebih manusiawi. Orang menyebut peristiwa itu sebagai sebuah bentuk deklarasi hak-hak manusia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/cun-tae-ill.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-135 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/cun-tae-ill.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Cho Young-rae, penulis biografi Chun Tae-il mencatat: buruh melarat itu meninggal untuk menyingkapkan penderitaan para buruh pabrik yang miskin, sakit, kurang pendidikan, yang bekerja 16 jam sehari di lorong kecil berdebu. Mereka diperas tanpa rasa malu oleh para pengusaha. Tae-il menyatakan, manusia itu sama harganya, apakah ia buruh melarat ataupun majikan yang kaya-raya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>“Di zaman komodifikasi ini,” seru Tae-il, “zaman yang mengerikan, tatkala seseorang bisa merampas segalanya dari orang lain, aku tidak akan berkompromi dengan ketidakadilan seperti apapun, ataupun tinggal diam. Aku mau berjuang maksimal demi keadilan.” Dia berjuang dan mati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Kaum buruh Indonesia yang selama 10 tahun reformasi ini juga berjuang bagi kehidupan yang lebih baik: ”Buruh berjuang! Delapan jam kerja sehari, 40 jam seminggu, buruh hidup berkecukupan.”<span> </span>Namun jauh panggang dari api. Upah buruh Indonesia masih rendah, jam kerja panjang, jaminan keselamatan kerja buruk, lembur paksa, <em>out sourcing</em>, pemberangusan serikat buruh dan ancaman PHK alias pemutusan hubungan kerja, membayang-bayangi mereka. Bahkan banyak aturan pemerintah termasuk undang-undang yang seharusnya memayungi buruh, diprotes oleh gelombang demonstrasi buruh karena justeru tidak pro buruh.<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Kenapa nasib buruh seolah tak putus dirundung malang? Ibarat ujar-ujar pepatah-petitih nenek moyang: sudah jatuh ditimpa tangga lantas digigit anjing gila? Apakah petinggi negara ini lebih berpihak kepada para saudagar ketimbang ralyatnya? Apakah kaum kapitalis birokrat bukan cuma kelas yang hadir di <em>jadul (jaman dulu)</em> orde lama, namun muncul dalam bentuk yang lebih canggih hari ini? Boleh jadi. Namun kaum buruh juga perlu melakukan otokritik: apakah organisasi buruh yang ada cukup kokoh dan tahan uji?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Rasanya belum terlambat untuk belajar dari riwayat Chun Tae-il, pahlawan buruh Korea.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Catatan rinci Cho Young –rae ikhwal kisah hidup Chun Tae-il, perjuangan dan kematiannya dalam biografi ini, membangkitkan kembali hidupnya sebagai cahaya pemandu bagi gerakan buruh. Suara Chun Tae-il membangunkan kesadaran masyarakat yang terlelap dan acuh tak acuh terhadap penderitaan buruh. “Jangan biarkan kematianku sia-sia,” teriaknya saat api menjilat tubuhnya..</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Presiden Chun Tae-il Trust, Moon Ik-whan menulis, “cerita sang buruh muda Chun Tae-il telah mencucurkan airmata 60 juta rakyat Korea. Airmata itu membentuk sebuah anak sungai yang mengalir sepanjang sejarah kita, sebuah sungai yang menghanyutkan dinding kematian.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Saya ingin mengutip butir-butir filsafat perjuangan Chun Tae-il, uraian yang tidak ditulis oleh sarjana di “akademi menara gading”, tetapi oleh pemuda yang tidak tamat sekolah menengah, yang tinggal di gubuk di kawasan pemukiman liar di pinggiran kota Seoul. Melalui butir-butir permenungannya kita mendengar suara manusia yang hidup, berjuang penuh semangat walau sangat menderit</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#003366;"><span dir="ltr"><span>Kita adalah kaum yang tersingkir. Karena itu harus sadar, bangun dari kebisuan.</span></span></span></li>
<li><span style="color:#003366;"><span dir="ltr"><span>Kita harus menjadi manusia merdeka yang merasakan sendiri, berpikir sendiri dan melihat dunia dengan mata sendiri, berdasarkan pengalaman sendiri.</span></span></span></li>
<li><span style="color:#003366;"><span dir="ltr"><span>Kita adalah <em>minjung,</em> rakyat jelata yang harus mengubah rasa rendah diri menjadi percaya diri. Rasa malu menjadi kebanggaan, ketakutan dan pengecut menjadi kemarahan dan keberanian, kebisuan dan pasrah diri menjadi kritis dan setia berjuang. Inilah filsafat yang mengubah budak untuk lahir kembali sebagai manusia.</span></span></span></li>
<li><span style="color:#003366;"><span dir="ltr"><span>Perubahan total dalam nilai-nilai kaum tertindas merupakan momentum yang memiliki arti yang dalam terutama ketika ia memilih jalan perlawanan dan perjuangan.</span></span></span></li>
<li><span style="color:#003366;"><span dir="ltr"><span>Kita harus bertindak secara revolusioner, menjungkirbalikkan nilai-nilai mapan yang menindas dan berorientasi pada aksi. Berjuang menciptakan tatanan sosial yang saling menghormati sesama manusia. Sebuah masyarakat di mana tidak ada orang yang disingkirkan separti remah-remah yang terbuang, sebuah masyarakat di mana semua<span> </span>orang menjadi satu.</span></span></span></li>
<li><span style="color:#003366;"><span dir="ltr"><span>Kelemahan manusia adalah kurangnya harapan. Hakekat hidup adalah perjuangan, membuat hari esok lebih baik dari hari ini. Kebenaran adalah suara yang muncul dari hati nurani.</span></span></span></li>
<li><span style="color:#003366;"><span dir="ltr"><span>Perjuangan kita adalah demi mereka yang diinjak-injak, dilecehkan dan dihina. Semua akan melihat kemarahan yang tak terbendung kepada kelas mapan dan cinta kasih yang membara kepada saudara-saudara yang menderita, dari seorang yang lemah, yang bisa menghancurkan setiap benteng perbudakan.</span></span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Pengorbanan Chun Tae-il tidak sia-sia. Karena ia percaya, hanya perjuangan <em>minjung</em>-rakyat yang kompak bersatu dapat membawa kehidupan yang manusiawi. Hanya perjuangan kaum <em>minjung</em> yang dapat mengubah masyarakat. Karena itu, <em>minjung-</em>rakyat harus menjadi tokoh sentral dalam perjuangan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Hari ini, memperingati 1 Mei, kita mengenang Chun Tae-il, yang di Korea diakui sebagai bapak serikat buruh demokratis. Kini gerakan buruh yang paling kuat di Asia adalah Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU) yang sudah memiliki wakil di parlemen Korea Selatan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Buruh Indonesia tak perlu malu belajar dari Chun Tae-il.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Medan, 1 Mei 2008</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Arthur John Horoni</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">[Tulisan ini juga dapat dilihat pada <a href="http://bungdaktur-arh.blogspot.com" target="_blank">Blog Bung Daktur ARH</a>]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jagatalit.wordpress.com/127/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jagatalit.wordpress.com/127/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=127&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/05/01/memperingati-1-mei-mengenang-chun-tae-il/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/cun-tae-ill.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dari Penyadaran ke Refleksi</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/04/25/dari-penyadaran-ke-refleksi/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/04/25/dari-penyadaran-ke-refleksi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 02:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[George Ninan]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Freire]]></category>
		<category><![CDATA[PGI]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Rural Mission]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Jalan untuk Memperkuat Rakyat Sebuah goresan pengalaman. Urban Rural Mission (URM) menjunjung tinggi rakyat sebagai tokoh dari perubahan dan sejarah. (Rev. Dr.A. George Ninan, Bishop Nasik, India) Pada mulanya arti kata “rakyat” bagi saya tak berbeda dengan pemahaman umum, yakni &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2008/04/25/dari-penyadaran-ke-refleksi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=111&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong><span>Jalan untuk Memperkuat Rakyat<br />
Sebuah goresan pengalaman.</span></strong></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><em><span> Urban Rural Mission (URM) menjunjung tinggi rakyat sebagai</span></em></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><em><span>tokoh dari perubahan dan sejarah.</span></em></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><em><span> (<a href="http://www.cca.org.hk/info/history.htm" target="_blank">Rev. Dr.A. George Ninan, Bishop Nasik, India</a>)</span></em></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Pada mulanya arti kata “rakyat” bagi saya tak berbeda dengan pemahaman umum, yakni kumpulan orang-orang (individu). Ia sama saja artinya dengan kata “masyarakat”. Tahun 1972, di Surabaya tatkala bersama sekelompok kaum muda saya diringkus serdadu karena berdemo soal beras mahal, maka arti kata “rakyat” mulai sedikit khas: orang-orang yang kelaparan, bukan pejabat, serdadu dan tentu saja bukan pengusaha. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Selama bekerja sebagai “penyiar” di radio ARH Jakarta, lagu-lagu rakyat – saat itu, era 70 – 80 an, berarti nyanyian protes menjadi kesukaan saya. Konser rakyat Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Remy Sylado Company dan The Gang of Harry Rusli menjadi kegemaran lantaran syair-syair mereka mengemukakan sindiran, ironi atau paradoks tentang Indonesia. Dalam salah satu lagunya, dengan mengharukan Leo Imam Sukarno Kristi menyenandungkan nasib rakyat.</span><em></em></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><em><span> Hari itu di empat lima</span></em></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><em><span> Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI</span></em></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><em><span> &#8230;&#8230;&#8230;</span></em></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><em><span> Hari ini di kaki lima</span></em></span></p>
<p><span style="color:#003366;"><em><span> Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Pada periode ini, saya – sebenarnya agak malu mengakui ini – seperti seorang romantikus bulan purnama, bersimpati kepada nasib rakyat yang menderita&#8230; (He, he,he&#8230; sepertinya saya tak menderita ya ?).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Adalah Majalah Berita Mingguan FOKUS tempat saya bekerja sebagai redaktur, pada 1984 menurunkan laporan sampul 200 Orang Kaya Indonesia. Laporan ini sebenarnya hanya semacam paparan sederhana siapa saja yang menjadi kaya raya sejak Soeharto berkuasa tahun 1966. Ada di sana nama Liem Soei Liong, Bob Hasan, Prayogo Pangestu dan seterusnya. Eh, tahu-tahu majalah yang terbit sejak 1982 itu dibredel Harmoko, menteri penerangan saat itu. Alhasil, saya merasa menjadi bagian dari rakyat yang menderita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Namun rakyat sebagaimana dipahami gerakan URM (Urban Rural Mission), barulah mulai sungguh-sungguh saya pelajari tatkala bergaul dengan teman-teman yang bekerja di tengah-tengah rakyat, antara lain Indera Nababan. Sejak 1985, Indera Nababan mulai mengorganisir kembali jaringan gerakan URM Indonesia di tengah-tengah kesibukannya sebagai Kepala Biro Informasi PGI dan Koordinator Pelayanan Buruh Jakarta (PBJ), bagian dari Pelayanan Masyarakat Kota – Huria Kristen Batak Protestan (PMK – HKBP) Jakarta. Saya bergabung bekerja di Majalah Berita OIKOUMENE (sampai 1992) kemudian di YAKOMA PGI (sejak 1992).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Bagi gerakan URM, rakyat adalah orang-orang tertindas, terpinggirkan, tereksploitasi, termiskin. Mereka itu bisa orang miskin kota, petani yang tidak memiliki tanah, nelayan tradisional yang diterjang pukat harimau, buruh pabrik, buruh migran, kaum perempuan yang dinomorduakan. Mereka tersingkir karena alasan-alasan sejarah oleh kelompok masyarakat yang dominan. Nah, rakyat inilah menurut Rev. George Ninan, salah satu tokoh gerakan URM di Asia, yang semestinya menjadi tokoh dari perubahan dan sejarah. Pertanyaannya, bagaimana memampukan rakyat menjadi tokoh?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Dalam pertemuan-pertemuan nasional URM Indonesia sejak 1985 hingga 2000 disepakati berbagai upaya penguatan rakyat, antara lain Pelatihan Community Workers, pelatihan rakyat, perkunjungan (Exposure Program), seminar rakyat dan dialog publik. Kendati begitu, fokus kegiatan lebih menajam kepada pendidikan rakyat. Sejak dini Indera Nababan berulang-ulang menekankan, perubahan di Indonesia tidak mungkin terjadi bila tanpa keikutsertaan rakyat. Karena itu rakyat harus ”dibangunkan”, ”terjaga”, dari situasi pingsan karena penindasan yang dialaminya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Di dunia ini, menurut <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paulo_Freire" target="_blank">Paulo Freire</a>, terdapat dua jenis manusia. Jenis pertama, yakni, bagian terbesar, menderita karena ketidakadilan, sedang jenis yang kedua, yakni sebagian kecil, menikmati jerih payah orang lain secara tidak adil. Itulah situasi penindasan, situasi yang tidak manusiawi (dehumanisasi). URM Indonesia begitu yakin situasi penindasan terhadap rakyat Indonesia bukanlah takdir yang mesti diterima secara pasrah, namun suatu realitas yang bisa diubah. Rakyat memiliki naluri, kesadaran, kepribadian dan ungkapan diri. Ia mampu memahami keberadaan dirinya dan dunianya, dengan bekal pikiran dan tindakan ia mampu mengubah realitas dunianya. Untuk itu diperlukan pendidikan rakyat, yang merupakan proses berkeseimbangan dari penyadaran, dilanjutkan dengan pendidikan, pengorganisasian, aksi, sampai kepada refleksi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Penyadaran.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Dari pengalaman pendidikan rakyat yang diselenggarakan URM Indonesia, ada dua bentuk ”permainan penyadaran” yang bisa membantu menjelaskan makna penyadaran: <strong>permainan</strong> ”orang buta dituntun orang melek”, dan permainan mencipta ”patung orang yang dibenci dan orang-orang yang disayangi”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Permainan pertama bermakna</span></strong><span>, proses penyadaran adalah memampukan orang dari situasi tidak melihat (buta) menjadi mampu melihat (celik). Bila kita buta, kita akan sangat tergantung kepada yang menuntun (tidak buta). Dia memperlakukan kita sesuka-sukanya. Orang yang sadar adalah orang yang berjuang mengubah situasi dari buta menjadi tidak buta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Permainan kedua, </span></strong><em><span>mengajak rakyat memahami realitas, ada orang-orang yang kita ”sayangi”, boleh jadi karena keprihatinan kita terhadap nasibnya (yang buta sejarah, buta hukum, dan seterusnya), yang sebenarnya disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”.</span></em><span> Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”. Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh kesewenang-wenangan segelintir orang, yang mendapatkan peluang dari sebuah sistem atau struktur yang menindas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Melalui dua permainan yang sejujurnya diinspirasi oleh permainan anak-anak, rakyat menyadari bahwa manusia terbagi dalam dua kelas: kelas penindas dan tertindas. Ia menjadi sadar, kebutaannya bukanlah nasib buruk, namun buah dari kesewenang-wenangan kaum ”berpenglihatan” yang suka menindas. Alhasil, langkah pertama dalam upaya memperkuat rakyat adalah penyadaran akan situasi penindasan sebagai realitas. Apakah ia menerima saja realitas itu sebagai takdir, atau mau mengubahnya. Andai ia mau mengubahnya, maka perjalanan atau pengembaraan dapat dilanjutkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Pendidikan.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Pendidikan popular atau pendidikan rakyat jelas berbeda dengan pendidikan di sekolah (formal). Pendidikan sekolah membelenggu murid, menempatkan murid sebagai objek dalam sistem pendidikan yang menyebabkan manusia menjadi komoditi bagi keperluan<strong> pembangunanisme. </strong>Sebaliknya pendidikan popular menempatkan rakyat menjadi subyek yang membebaskan dirinya dari belenggu ketertindasan. Paulo Freire, tokoh pendidikan rakyat asal Brasil menyebutnya sebagai pendidikan hadap masalah: rakyat diajak menggali pengalamannya. Belajar dari pengalaman itu rakyat menyadari situasi penindasan yang menyengsarakan, menggerakkan mereka untuk berjuang mengubah realitas (kenyataan) sesuai harapan dan cita-cita rakyat. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Pendidikan rakyat mengenal tiga tahap pengembangan. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Pengembangan sikap (<em>attitude</em>): rakyat diajak menggali dan menghargai pengalamannya, rakyat memahami realitas, dan pemahaman ini pada dirinya membangkitkan kreasi untuk mengubah realitas sesuai dengan harapannya. Pengalaman adalah sejarah rakyat. Ia tidak bisa dinafikan atau dihujat kendati penuh kepahitan. Ia perlu dipahami, dihargai kemudian diubah menjadi kenyataan baru. Rakyat hanya akan mampu mengubah kenyataan itu bila sikapnya juga berubah: dari tertutup menjadi terbuka, dari buta menjadi celik. Bila ia mampu menghadirkan dirinya atau mengaktualisasikan dirinya secara baru. Ia pada ujungnya menjadi percaya diri. Topik Aktualisasi Diri dan Spiritualitas memampukan rakyat mengekspresikan dirinya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Pengembangan keterampilan (<em>skill</em>): rakyat dimampukan untuk terampil pertama-tama menganalisis ketertindasan yang dialaminya (analisis sosial). Kenapa situasi seperti ini terjadi? Apa sebab? Siapa penyebab? Kenapa rakyat selalu kalah? Apa sebenarnya akar permasalahan yang mengharu biru rakyat? Keterampilan kedua adalah tindak lanjut atas jawaban terhadap segudang pertanyaan analisis tadi. Yakni kalau rakyat sudah paham akan situasi, apakah dia mau berjuang untuk mengubah situasi itu agar menjadi realitas yang berbeda? Untuk itu ia memerlukan alat perjuangan, yaitu organisasi rakyat, organisasi dari, oleh dan untuk rakyat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Pengembangan pengetahuan (<em>knowledge</em>), rakyat dimampukan mengembangkan pengetahuan sehubungan dengan upaya-upaya memperkuat dirinya. Topik bervariasi, dari politik, ekonomi, gender, budaya, sosial, komunikasi, demokrasi, HAM, lingkungan hidup, dan seterusnya. Tentu saja ini harus sesuai dengan kebutuhan dan disepakati rakyat. Ia tidak ditentukan oleh segelintir orang yang mengaku pintar. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Organisasi.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Langkah penyadaran dan pendidikan menggulirkan rakyat pada kebutuhan menggalang kekuatannya dalam upaya mengubah realitas atau ”dunia”. Dan <strong>kekuatan rakyat adalah organisasi</strong>. Inilah <strong>langkah ketiga</strong> <em>penguatan rakyat</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Organisasi rakyat bukanlah <em>organisasi yang dibentuk</em> dengan mengacu kepada bentuk-bentuk mapan. Sekali lagi perlu disimak, ia lahir berdasarkan kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang konkret. Organisasi rakyat berorientasi kepada masalah (isu) yang dihadapi rakyat. Karena itu ia harus (<strong>1) sederhana, (2) partisipatif dan (3)</strong> <strong>terawasi (terkontrol).</strong> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Organisasi rakyat akan berkembang menjadi kekuatan besar tatkala berbagai organisasi dengan isu yang sama bergabung (koalisi, aliansi) menjadi gerakan yang dahsyat. Jadi organisasi adalah <em>kekuatan rakyat</em>, <em>yang memampukan kaum tertindas mengubah kenyataan (realitas) penindasan, menjadi dunia baru yang sesuai dengan harapan atau cita-cita rakyat.</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Fungsi organisasi rakyat adalah untuk (1) memperjuangkan hak-hak rakyat, (2) melindungi kepentingan rakyat, dan (3) menggulirkan perubahan bagi terwujudnya cita-cita rakyat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Aksi.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Hanya bila rakyat mampu menggalang kekuatan melalui organisasi rakyat yang berdaulat, ia bisa maju lagi dalam perjalanannya. Kali ini ia mengubah kehendak menjadi tindakan bagi mewujudkan harapan atau cita-citanya. Itulah langkah keempat, yakni aksi. Ini adalah muara dari perjalanan panjang sejak penyadaran tadi. Perjalanan itu harus ditempuh secara sistematis. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Dengan begitu rakyat tahu persis akan posisinya dan mampu memainkan perannya dengan baik dan benar. Banyak aksi rakyat gagal karena kegenitan aktivis yang tak mampu belajar bersama rakyat, lebih suka mendikte rakyat sesuai<em> </em>kepentingan sendiri. Tanpa melalui proses yang sistematis, aksi-aksi rakyat hanya akan menyenangkan para aktivis, menyebabkan frustasi di kalangan rakyat (karena lebih banyak kalahnya ketimbang menangnya). Aksi seperti itu hanya melahirkan aktivisme. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Aksi rakyat lahir dari perjalanan penyadaran, pendidikan dan penggalangan kekuatan. Aksi itu harus menghasilkan kemenangan-kemenangan bagi rakyat. Ia bermula dari kemenangan kecil yang kemudian berakibat besar, yakni mengubah potensi (modal) rakyat dan menghargainya. Aksi rakyat yang sistematis juga memungkinkan tampilnya pemimpin-pemimpin baru dari rakyat sendiri. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Pemimpin-pemimpin yang lahir karena kebutuhan perjuangan, bukan karena dititipkan dari ”atas”. Karena itu organsisasi rakyat harus benar-benar berangkat dari masalah-masalah (isu) rakyat dalam menyusun agenda aksinya, sehingga memungkinkan berlangsungnya formasi kepemimpinan sesuai kebutuhan dan kesepakatan bersama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Refleksi.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Ada</span><span> saat untuk bertindak (aksi), ada saat berdiam diri seraya bercermin. Itulah saat-saat refleksi. <em>Refleksi terjadi hanya apabila ada aksi. Refleksi tanpa aksi melahirkan demagog atau pembual, cuma jago bicara, debat, diskusi, namun tak mampu melakukan apa-apa untuk perubahan. </em>Sebaliknya <em>aksi tanpa refleksi hanya menghadirkan para aktivis yang memang gegap gempita, namun sering jadi pecundang.</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Tak dapat ditawar, usai melakukan perjalanan dari penyadaran, pendidikan, organisasi sampai kepada aksi, kita harus sejenak berhenti, melepas lelah, berdiam diri, merenung, bercermin dari semua proses perjalanan pengamatan tadi. <em>Apa yang sudah dicapai? Adakah yang tercecer? Apa yang positif dan negatifnya? Pelajaran apa yang kita peroleh dari sana? Apa yang perlu kita kerjakan selanjutnya?</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Langkah-langkah atau jalan penguatan rakyat secara sistematis, merupakan proses aksi – refleksi. Setia pada proses ini berarti memampukan rakyat mengembangkan dialog. Dan dialog yang dialektis, menurut Paulo Freire, senantiasa memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi perubahan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>Rakyat yang menjadi partisipan pelatihan-pelatihan URM Indonesia mempunyai kesan khas setelah mengikuti proses kegiatan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Beberapa Kutipan dari Sejumlah Peserta Pelatihan URM.</span></strong></span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Latihan ini sangat      bermanfaat karena dari tidak tahu berorganisasi menjadi tahu, kemudian      lebih paham pagi masalah hukum perburuhan. Ada nilai tambah dalam pelatihan,      disamping saya menjadi semakin berani juga mengerti bahwa hak-hak manusia      sangat besar nilainya. (<strong>Latihan Organisasi Buruh, Jetun Silangit,      Siborong-borong, 19 – 22 Maret 2000</strong>). </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Pendidikan ini perlu      untuk para pemimpin organisasi. Rasanya mereka belum pernah mempelajari      dan merasa sombong menjadi pemimpin. Latihan ini juga perlu bagi golongan      atas. Setelah ikut latihan ada percaya diri dan ternyata tingkat      pendidikan bukanlah menjadi penentu dan pedoman utama. Selama ini ada      rapat di kampung, dan saya tidak bisa bicara seperti ini, namun sekarang      saya bisa mengungkapkan keinginan saya dan semakin berani.(<strong>Lokakarya      Pengembangan Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5      Februari 2000</strong>).</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Saya termasuk anak      nelayan yang sudah ikut pelatihan kemana-mana. Saya menemukan bahwa sistem      yang sangat terorganisir dan sistematis dilakukan dalam lokakarya ini,      Sangat terkesan dan ada spirit untuk menambah wawasan yang tidak bisa      diungkapkan saat ini. (<strong>Lokakarya Pengembangan Kepemimpinan Rakyat,      Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5 Februari 2000</strong>).</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Apa yang saya dapat dari      pelatihan ini akan dikembangkan di tempat lain. Saya juga mendapat arti      jati diri sehingga arti kehidupan di dapat di sini, terutama dapat      berkenalan dan bertekad untuk berjuang. (<strong>Pendidikan Organisasi Rakyat      III, Tasikmalaya, 25 – 28 Mei 2000</strong>).</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Terkesan dengan metode      pelatihan dan belum pernah mengikuti pelatihan seperti yang diberikan.      Materi yang diberikan berbobot dengan penyajian yang sederhana dan mudah      diikuti, santai namun memberi arti. (<strong>Latihan Organisasi Rakyat I di      Garut, 6-8 Desember 1999</strong>).</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Pelatihan ini mempunyai      nilai tersendiri atau istimewa. Melalui latihan ini bisa menjembatani      konflik, menerobos jarak diantara kita dan akhirnya menjalin komunikasi,      dan mendidik untuk bersama/bersatu. (<strong>Pelatihan Pengorganisasian Dasar      Buruh, Pematang Siantar, 6-9 Juli 2000</strong>). </span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Fenomena baru yang selama      ini tidak ada, saya temukan di pelatihan ini, Permainan orang buta dan      peragaan dalam materi sangat bekaitan dan memberikan penyadaran bagi kita.      Saya menemukan rasa peduli dan daya kritis yang semakin berkembang. Semoga      dalam proses belajar, mengerti, mendalami diikuti pula dengan      pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Tekad kita dalam pelatihan ini      agar dilaksanakan dan dibuktikan setalah kita kembali ke tempat      masing-masing. (<strong>Pelatihan Pengorganisasian Dasar Buruh, Pematang      Siantar, 6 – 9 Juli 2000</strong>)</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Terimakasih atas      pelatihan ini dan satu kemampuan yang tidak disadari adalah mengaktualisasikan      diri untuk mampu menjadi pelaku dari program/tujuan. (<strong>Pelatihan      Pengorganisasian Petani di Bidang Pemasaran, Pematang Siantar, 1-4 Juli      2000</strong>).</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Selama ini saya melihat      perempuan selalu tampil tidak percaya diri, mulai sekarang saya akan      menanamkan perempuan sama haknya dengan laki-laki dan mulai melatih diri      sejak dini. (<strong>Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender II di Tapanuli      Utara, 12 – 15 Maret 2001</strong>)</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Tekad saya untuk      menerapkan demokrasi, transparansi di desa semakin kuat dan saya memohon      kekuatan dari Tuhan untuk menjalankannya. Permintaan saya, di samping      kepala desa perlu juga pelatihan untuk rakyat kecil seperti pedagang dan      petani karena merekalah teman saya di kampung untuk diajak kerjasama. (<strong>Lokakarya      Pimpinan Desa II di Tapanuli Utara, Tarutung, 4-8 Februari 2001</strong>).</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Ada</span><span> perintah dari kepala sekolah untuk      mengikutinya. Kami awalnya mengelak, untuk ada gender. Setelah      mengikutinya kami jadi menyesal dan merasa puas. Selama ini perempuan      selalu merendahkan diri karena dikatakan perempuan hanya sebagai      pendamping. Kami menjadi percaya diri setelah mengikuti lokakarya. (<strong>Lokakarya      Kepekaan dan Kesetaraan gender IV di Tapanuli Utara, Tarutung, 14-17 Mei      2001</strong>).</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span>Bangga kepada fasilitator      yang mau mengangkat derajat perempuan. Selama ini perempuan direndahkan      dan hanya sebagai bahan pelengkap dalam adat. Setelah mengikuti lokakarya      ini jadi mengerti apa itu kesetaraan gender. Jadi jangan hanya di sini      saja melaksanakan lokakarya ini. Akan lebih baik diadakan di desa yang      masih merendahkan perempuan. (<strong>Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender      IV di Tapanuli Utara, Tarutung, 14-7 Mei 2001</strong>).</span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Medan</span></strong><strong><span>, 25 April 2008</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span>Arthur John Horoni</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span>[Tulisan ini juga dapat dilihat pada <a href="http://bungdaktur-arh.blogspot.com" target="_blank">Blog Bung Daktur ARH</a>]</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><span> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jagatalit.wordpress.com/111/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jagatalit.wordpress.com/111/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=111&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/04/25/dari-penyadaran-ke-refleksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yesus dan Petani Andalas Utara</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/04/09/yesus-dan-petani-andalas-utara/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/04/09/yesus-dan-petani-andalas-utara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 04:34:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arthur John Horoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Deli Serdang]]></category>
		<category><![CDATA[Gereja]]></category>
		<category><![CDATA[Golgota]]></category>
		<category><![CDATA[Kahlil Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[Nazareth]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[Salib]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus Kristus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Adakah masih kami disebut petani bila cuma punya tubuh golok dan pacul? &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Tak elok, kawan tak elok orang bilang kau penggarap penunggu kuli tani &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Kau siapa? &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Kita sama sobat petani tak bertanah karena tanah petani dari abad &#8230; <a href="http://jagatalit.com/2008/04/09/yesus-dan-petani-andalas-utara/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=91&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="color:#003366;"><span>Adakah masih kami disebut petani </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>bila cuma punya tubuh</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>golok dan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>pacul?</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Tak elok, kawan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tak elok</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>orang bilang kau penggarap</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>penunggu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kuli tani</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kau siapa?</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kita sama sobat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>petani tak bertanah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>karena tanah petani</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dari abad ke abad dijarah </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>para raja, tuan tanah, penjajah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>bertukar jadi tanah negara</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>perkebunan swasta</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>perkebunan negara </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan kita melarat</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Ya, ya, aku mulai celik</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>bapakku jadi buruh perkebunan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>miskin seumur-umur</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>pensiun tak bertanah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tak berumah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>padahal para birokrat kebun</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>punya berhektar tanah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan pesangon milyaran</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>saat usai masa bakti</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>para anak juragan </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>sekolah di negeri manca</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>sialan!</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Tapi, siapa kau kawan?</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Serigala punya liang</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>burung punya sarang </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tapi Anak Manusia tak punya </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tempat untuk meletakkan kepalaNya &#8230;</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Ha ha ha, Kau rupanya</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Sang pengembara dari segala abad </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>di segala tempat </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tentu sebagai sesama orang menderita </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>aku cepat kenal Kau</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Sang Yesus, sobat jelata dari Nazareth<br />
</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Tapi kenapa Kau ke sini</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>ini lahan sengketa Bos</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kau bisa dapat bencana</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>belum kapok disalib kaum petinggi</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>agama Yahudi di Golgota dulu?</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Menyingkirkah Kawan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tak tega bila Kau disakiti lagi </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kini giliran kami </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>petani tak bertanah </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>merebut kembali milik kami </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tempatMu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>di Gereja yang mentereng di kota-kota </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>jangan kotorkan diriMu </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>di kubangan para miskin ini</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Nah, nah, kau salah Marihot</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Astaga, Kau tahu namaku</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Ya, ya, karena kau tak pasrah pada nasib</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kau masih berjuang bersama sesama </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>petani tak bertanah </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>di Simalungun, Pematangsiantar, </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Serdang Bedagai, Deli Serdang</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Batu Bara</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Asahan, Labuhan Batu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>di Lampung</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Tanah Pasundan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Jawa Timur</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan seterusnya </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>merebut tanah untuk petani </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>menegakkan harkat dan martabat rakyat </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tertindas,</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Maka kau saudaraku</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Namamu di hatiku</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Tapi kenapa Kau bilang aku salah? </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>bukankah tempatMu memang di gereja? </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Apalagi ini hari Minggu</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Sobatku, </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>BagiKu, setiap hari hari Minggu </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>artinya, setiap hari itu ibadah </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan ibadah yang sesunguhnya </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>adalah mengunjungi para jelata </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>melawat yang sakit</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>memberi makan yang lapar </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>membebaskan yang terbelenggu </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>memaklumkan Kabar Baik bagi </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>petani tak bertanah </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>untuk berjuang mendapatkan tanah </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>mewujudkan perubahan </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Ibadah yang sesungguhnya </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>bukan pamer baju baru</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>sepatu model mutakhir</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>anting dan kalung mas</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>lantas melamun terkantuk-kantuk</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>lantaran khotbah pendeta tak menyentuh</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>persoalan umat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>hapal peta Yerusalem, Betlehem</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan Yerikho</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>namun tak paham</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>bahwa di desa Durin Tonggal,</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Pancur Batu, Deli Serdang</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>petani yang berkeringat menanami tanah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dianiaya preman dan oknum polisi</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kaum miskin itu dituduh menjarah tanah perkebunan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Padahal perkebunan merugi terus</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>walau birokratnya kaya raya</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>korupsi sudah jadi budaya</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan gereja dibangun dari hasil curian pejabat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Tidak, kawan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Aku pengembara</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kau belum baca Yesus Putera Manusia</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>yang ditulis sobatku Kahlil Gibran</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>penyair pemberang yang juga menghajar</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tingkah laku pemuka agama di Lebanon</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>yang sok saleh namun korup?</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Dia tulis, yang di gereja itu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Yesusnya orang Kristen</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>yang jadi Kristus Sang Raja</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kau bisa mengerti kalau belajar teologi</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>namun Aku,</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Yesus orang Nazaret</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Sobat para jelata</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kau tak perlu repot belajar teologi</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>untuk memahami Aku</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>cukup baca Alkitab dengan matamu sendiri</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>jangan pakai rumus para teolog</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>atau petinggi gereja</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>yang kebanyakannya sudah jadi</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>nabi istana</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>maka kau akan paham</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Injil</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kabar Gembira</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>artinya berubah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>buta – melihat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>lumpuh – berjalan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tawanan &#8211; merdeka</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>mampukah gereja melakukan itu?</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Sobatku Orang Nazaret</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tolong jangan bikin aku bingung</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>jadi apa sesungguhnya gereja itu?</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Salahkah bila kubilang</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>gereja itu bukan gedung dari batu </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>besi dan kayu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>ditambah struktur yang kaku</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>namun persekutuan orang yang</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>sehati sepikir untuk mengubah </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>nasibnya menjadi manusia yang bermartabat?</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Dan jalan perubahan yang dipilih</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Adalah jalan kasih </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>aktif tanpa kekerasan?</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kau benar Marihot</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kitab suci tidak lagi rumus</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kesalehan bagimu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>ia telah mewujud menjadi</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>perbuatan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tidak seperti gaya</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>banyak pemimpin gereja</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>yang pintar bikin manifes</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>narasi natal</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>narasi paskah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>namun tak pernah jadi tindakan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>yang membebaskan rakyat dari kemiskinan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kekerasan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan ketidakadilan</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Bos</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Jangan marah ya</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>aku pernah menggunakan namaMu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>semoga aku tak menyebut dengan sia- sia</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>waktu itu, dalam perjuangan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>merebut tanah bersama rakyat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>polisi menghardik kami</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>hei siapa yang menyuruh kalian</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>menduduki lahan perkebunan ini?</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>menyingkir atau kutembak</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Kujawab</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>hati nurani kami yang menyuruh kami</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kami petani tak bertanah berjuang</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>melaksanakan reforma agraria</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tanah untuk rakyat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tatkala Gus Dur masih presiden</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dia bilang 40% tanah perkebunan mesti</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dibagi untuk rakyat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>belum lama Presiden SBY bilang</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>lebih 8 juta hektar lahan harus</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dibagi kepada rakyat tak bertanah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>karena ujar-ujar yang bagus ini </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>belum dilaksanakan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kami membantu para pemimpin itu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>mulai menduduki tanah perkebunan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>yang HGU-nya telah tamat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Pintar kau ya</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kata komandan polisi</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kalau tanah ini milik kalian</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>mana alas haknya</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>sertifikatnya</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kujawab begini:</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Yesus saja tak pernah memberi sertifikat</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>kau baru jadi polisi sudah belagak</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Mati langkah polisi itu Bos</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tapi ampunlah kalau caraku itu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>telah memanfaatkan namaMu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>secara sia-sia</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Ha ha ha dasar Batak</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Mantap juga tipu kau itu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>lanjutkan perjuangan kalian</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>petani tak bertanah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>sampai semua memperoleh</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>tanah</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan mengelola tanah itu</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>sebagai sumber pendapatan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>jangan dijual</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>agar kalian dapat hidup dari tanah itu</span></span></h3>
<h3>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span> </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Sobatku Yesus</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>terima kasih</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>pesanmu selalu kuingat:</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>Aku datang, supaya mereka</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>mempunyai hidup, </span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>dan mempunyainya dalam</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><span>segala kelimpahan</span></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><strong><span> </span></strong></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><strong><span>Medan, 9 April 2008</span></strong></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><strong><span>Arthur John Horoni </span></strong></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/petani31.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-146" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/petani31.jpg?w=300&#038;h=204" alt="" width="300" height="204" /></a></span></h3>
<h3><span style="color:#003366;">[Foto:<a href="http://www.daylife.com" target="_blank"> www.daylife.com</a>]</span></h3>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jagatalit.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jagatalit.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&amp;blog=2185836&amp;post=91&amp;subd=jagatalit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/04/09/yesus-dan-petani-andalas-utara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e8b14fc3737f265bc1958d40bb615cb3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Arthur J. Horoni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/petani31.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
