Memaafkan dan Mengampuni
Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya?
Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, dan menyengsarakan kita lahir batin.
Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa mengatakan pada saya, bahwa beban hidup yang amat berat (nyaris tak tertanggungkan) akan dialami oleh orang yang tidak mampu memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Seorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, biasanya ia juga akan mudah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan sekecil apa pun. Beban berat orang yang tidak mampu memberikan maaf dan pengampunan, akan menjadi beban jiwa. Beban jiwa yang berat akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Baik raga, mental, maupun pikiran. Sedikit demi sedikit, kesehatan fisik dan mental pun akan terganggu tergerogoti.
“Jika kamu mampu meminta maaf, memberikan maaf, dan pengampunan secara tulus, maka hidup dan beban jiwamu akan ringan seringan kapas” katanya kala itu.
Mengapa orang harus meminta dan memberikan maaf?
Atau mengapa orang harus meminta ampun dan memberikan pengampunan?
Memaafkan dan mengampuni, memiliki substansi makna yang kurang lebih sama. Keduanya sama-sama merupakan wujud ekspresi rohani manusia beradab ber-Ketuhanan.
Meminta dan memberi maaf, mohon ampun dan memberikan pengampunan, adalah refleksi ungkapan kerendahan hati manusia beriman yang siap mengakui kelemahan diri di hadapan manusia dan SANG PENCIPTA. Di dalamnya terkandung keinginan tobat memperbaiki diri. Manusia pun menjadi putih bersih laksana terlahir kembali seperti sediakala sebagai CITRA YANG MAHAKUASA.
Kesadaran rohani inilah yang membedakan tingkat keimanan seseorang. Kesadaran spiritual ini seharusnya terus dipupuk dan dibangun setiap detik, setiap saat, setiap waktu, terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari diri.
Meminta maaf dan memberikan permaafan – juga meminta ampun dan memberikan pengampunan tanpa syarat, membutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan kesiapan mental luar biasa. Untuk meminta maaf, orang harus merelakan dirinya dalam posisi lebih rendah dari orang lain. Demikian pula ketika orang memberikan pengampunan. Ia dalam posisi amat berkuasa.
Godaan amat besar ada pada posisi orang yang mempunyai kekuasaan besar dan posisi lebih tinggi. Tak semua orang mampu melaksanakannya! Kemampuan meminta dan memberikan maaf, dan juga pengampunan, merupakan simbol perwujudan keimanan kepada SANG HYANG PEMBERI HIDUP yang terdalam.
Permaafan dan pengampunan sejati tidak membutuhkan syarat. Jadi tidak berlaku istilah: “Minta maaf saja tidak cukup!” atau “Ok. Kali ini saya maafkan tapi besok lagi tidak!” dan banyak lagi ungkapan pemberian maaf disertai dengan syarat-syarat dan kata-kata negasi. “Saya maafkan tetapi….”
Meminta maaf, memberikan maaf dan pengampunan adalah final tanpa syarat. Permaafan dan pengampunan mestinya selebar dan seluas samudera tanpa batas.
Dendam Seolah Menjadi Tren Hidup.
Di lingkungan masyarakat kita, dendam seperti membudaya. Konflik sosial begitu mudahnya berkobar. Tawuran anak sekolah, mahasiswa, antarwarga desa, antarkelompok yang mengatas namakan agama. Ada juga pelayan dendam kepada majikan. Atau juragan enggan meminta maaf kepada pembantu. Istri memendam dendam kepada suami. Sampai-sampai ada istilah: cacian dibalas dengan makian, mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti darah, atau nyawa ganti nyawa. Suatu kebiasaan hidup gaya barbar, cerminan manusia tak berbudaya, tak beradab, dan tak ber-Tuhan.
Ajaran antikekerasan dan prinsip ajaran welas asih berumur ribuan tahun lampau yang menyatakan bahwa jika kamu ditampar pipi kirimu, berikanlah juga pipi kananmu jadi terasa amat ekstrim mengada-ada. Mana mungkin itu dilakukan. Hari gini, gitu loh?
Tapi itulah welas asih yang penuh dengan bangunan keharmonisan hidup. Tindakan kekerasan yang dulu sering digambarkan sebagai jalan pedang hanya akan menimbulkan dendam dan kekerasan baru.
Tradisi saling maaf-memaafkan dan saling mengampuni diajarkan oleh semua agama dan ajaran-ajaran kebijaksanaan tentang hidup modern yang berkeadaban. Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, memberikan maaf, mohon ampun, dan memberikan pengampunan.
Sudahkah Anda meminta maaf, memberikan maaf, dan memberikan pengampunan pada musuh Anda sekarang?
Mohon maaf jika ada kesalahan.
Vincent Hakim Roosadhy
Memberi dan Menerima
Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis. Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur, tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung, 21 nyawa melayang sekaligus, akibat terinjak-injak dan kehabisan oksigen, karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.
Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat 20 ribu rupiah amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita.
Ketika orang-orang pintar, para pejabat publik dan politik, pakar statistik dan lain sebagainya berdebat soal apa itu kemiskinan, tentang jumlah orang miskin, dan masalah kriteria orang miskin-kemiskinan, sejatinya kaum miskin tidak peduli! Orang miskin lebih peduli memikirkan
Juga ketika para calon presiden yang gencar berkampanye dan presiden yang sedang berkuasa “ribut” soal jumlah orang miskin dan kriteria orang miskin. Orang-orang miskin tetap saja nggak mau tahu! Orang miskin lebih peduli memikirkan bagaimana hari ini bisa membeli sembako murah, beli minyak tanah murah, dan bisa membayar sekolah anak-anak (syukur-syukur sekolah gratis). Biaya pendidikan sekarang sudah nggak masuk akal! Nggak usah yang sekolah unggulan, sekolah standar saja mahal – duit lagi, duit lagi.
Jangan dikira wong cilik bisa terus menerus dibodohi! Meski masih banyak juga yang bodoh dan mudah dibodohi (kebanyakan karena tuntutan kondisi). Orang miskin yang “normal” akan malu jika harus mengemis, meminta, mengantri bantuan pada orang lain. Bahkan untuk sekadar meminjam uang pun, rasanya malu. Tapi kondisi yang benar-benar miskin sering memaksa orang harus melakukan sesuatu (agak mengabaikan perasaan malu).
Kini sebagian kaum miskin sudah mulai sadar politik, dan sadar informasi. Maka mereka tahu, bahwa golongan “wong kere” – wong cilik hanya dijadikan objek massa politik atau sasaran untuk mendongkrak popularitas diri orang berkuasa dan berduit agar dipandang orang lain.
Memberi dan menerima. Apa itu? Saya teringat kata-kata bijak yang telah berumur ribuan tahun, tapi masih sangat relevan untuk masa kini (terlebih di masa Ramadhan ini): “Jika engkau memberikan sesuatu kepada orang lain (dengan tangan kananmu), jangan sampai tangan kirimu tahu. Biarkan Yang Maha Kuasa saja yang layak mengetahuinya”
Memberi memiliki dimensi personal, sosial, dan spiritual (vertikal-horisontal). Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa belas kasihan dan penuh keikhlasan. Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain karena tuntutan dari dalam diri, bahwa ia memang harus memberi. Tindakan memberi bagi manusia pemberi sejati, adalah refleksi keimanan pada SANG PENCIPTA yang juga adalah SANG PEMBERI SEJATI tanpa pamrih.
Jadi tak ada motivasi secuil pun bagi seorang pemberi sejati, bahwa tindakannya itu agar mendapatkan balasan, imbalan, dilihat orang, atau pujian orang. Maka janganlah heran, jika ada seorang pemberi sejati harus bersusah payah agar bisa memberikan dirinya kepada orang lain tanpa pamrih. Bahkan kadang harus melawan arus, dibenci orang, dan kadang berhadapan dengan maut.
Ada kepuasan batin yang mendalam bagi seorang pemberi sejati, ketika ia bisa memberikan sesuatu bagi orang lain yang membutuhkan. Inilah perwujudan aktualisasi diri seorang pemberi sejati. Bagi seorang pemberi sejati, ketika ia memberikan sesuatu sebenarnya ia pun telah menerima sesuatu. Manusia pemberi sejati memiliki tingkat spiritual lebih tinggi dari pada manusia penerima.
Bagaimana dengan manusia penerima? Seorang penerima memiliki tanggung jawab untuk berterima kasih dan bersyukur. Berterima kasih dan bersyukur itu tidak mudah. Tak banyak orang yang bisa berterima kasih dan bersyukur dengan tulus dan bertanggung jawab. Kita tahu, banyak orang terlibat korupsi. Kita tahu, banyak orang penting yang dulu bukan siapa-siapa tapi sekarang berlagak jadi penguasa tanpa tanding. Kita tahu banyak orang suka mengeluh hidupnya susah, padahal banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih susah.
Seorang penerima pada saatnya nanti harus pula menjadi manusia pemberi sejati. Salah satu contoh manusia penerima yang kemudian menjadi sang pemberi sejati adalah tokoh spiritual dunia Siddharta Gautama. Setelah menerima pencerahan dari Yang MahaKuasa, Sidharta Gautama pun menjadi manusia Buddha (Yang Tercerahkan) dan memberikan diri sepenuhnya bagi orang lain.
Eyangnya musik jazz yang baru saja manggung duet dengan George Benson di Jakarta (14/9/08) Al Jarreau berujar, “Jika kamu memberikan apa pun yang kamu miliki (sesuai dengan profesi dan keahlian masing-masing) secara tulus dan total, maka kamu akan menerima kebahagiaan.” Al Jarreau dan George Benson telah puluhan kali menerima berbagai penghargaan bergengsi di bidang musik jazz, pop-soul R&B dan kemarin mereka memberikan hiburan dan kebahagiaan bagi para penggemar jazz.
Jadi sudahkah kita menjadi seorang pemberi sejati hari ini?
Vincent Hakim Roosadhy
Cinta dan Kesetiaan
Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori ‘cengeng atau bermutu’ menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkarakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.
Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif.
Jutaan bahkan mungkin miliaran karya seni dari abad ke abad menyenandungkan cinta dan kesetiaan. Cinta dan kesetiaan melahirkan hidup dan kehidupan baru.
Orang gembel – kaya, butuh cinta dan kesetiaan.
Orang kasar – romantis, juga mendambakan cinta-kesetiaan
Orang jahat (menurut penilaian umum) – dan kaum agamawan pun menginginkan cinta-kesetiaan. Manusia dan alam semesta menyenandungkan harmoni cinta dan kesetiaan secara universal – bebas dari SARA.
Cinta dan Kesetiaan – dua sisi dalam satu mata keping yang tidak terpisahkan. Cinta menjadi landasan sebuah Kesetiaan. Di dalam kesetiaan terkandung nilai cinta yang mempersatukan. Sulit membayangkan ada cinta berdiri sendiri tanpa disertai kesetiaan. Demikian pula sulit memahami, ada sebuah kesetiaan tanpa landasan cinta di dalamnya. Cinta tanpa kesetiaan adalah kosong. Dan kesetiaan tanpa didasari cinta adalah kepura-puraan. Dalam kesetiaan ada komitmen melayani tanpa pamrih tulus ikhlas apa adanya berlandaskan welas asih.
Cinta bermakna amat luas sebebas kesetiaan. Para pemikir barat klasik bahkan sampai memilah-milah arti dan perwujudan cinta ke dalam beberapa istilah. Ada eros untuk cinta bernuansa erotis dan romantis lebih bersifat fisik. Ada philia – sebuah cinta bernuansa kasih persaudaraan persahabatan. Dan ada pula agape untuk cinta yang bersifat spiritual – cinta kepada Sang Pencipta Mahakuasa dan sesama. Dan inilah level cinta tertinggi.
Masih ada banyak wujud cinta dan kesetiaan. Sebut saja, cinta kepada tanah air, cinta diri sendiri atau narsisstorge cinta pada keluarga. dan ada
Ada apa dengan cinta dan kesetiaan?
Cinta dan Kesetiaan tak selalu dipahami secara utuh dewasa. Makna cinta dan kesetiaan yang harmonis indah, kerap diseret ke dalam pemahaman yang sempit gelap demi kepentingan pribadi.
Dunia sosial politik kekuasaan dengan para aktornya sering menyeret cinta dan kesetiaan yang suci tulus ke dunia yang sempit dangkal. Maka lahirlah kaum penjilat dan loyalis semu. Kelompok ini ada dan hidup di mana-mana – di sekitar kita hingga detik ini.
Banyak contoh di mana penguasa dan kaum loyalis suatu ideologi (parpol) yang sedang berkuasa menindas yang lemah mengabaikan makna cinta dan kesetiaan. Bahkan lebih jauh, telah membawa cinta dan kesetiaan ke dalam lahan tindak anarkis kriminal. Penyelewengan terhadap makna cinta dan kesetiaan, akan melahirkan ketidakadilan bahkan pengkhianatan terhadap nilai inti kehidupan: welas asih yang harmonis.
Dulu di daratan Eropa, sejarah cinta mencatat Kaisar Claudius II telah membunuh energi cinta kaum muda. Para pemuda (pasangan muda) dilarang melakukan perkawinan. Sang Kaisar bertitah, kaum muda dengan energinya yang perkasa lebih tepat jadi tentara untuk kepentingan perang. Pasangan kaum muda dilarang keras melakukan perkawinan.
Seorang filsuf humanis yang juga rohaniwan, Valentine menentang kebijakan kaisar dengan menikahkan pasangan-pasangan muda yang sedang mabuk cinta. Valentine pun lalu dihukum mati karena dianggap melawan titah kaisar.
Di negeri ini banyak kelompok orang yang cepat “emosi” ngamuk bergaya barbar ketika ada kelompok lain yang berbeda, tidak sewarna, sepaham – sealiran – seideologi. Saling serang secara fisik dan saling menyakiti. Yang lebih mengerikan lagi jika membawa-bawa dan mengatasnamakan TUHAN – Sang Maha Kuasa – Pencipta – Maha Pengampun dan Sang Maha Welas Asih untuk merusak, menyakiti, dan membunuh sesama hanya karena berbeda. Memangnya, siapa manusia? Di ruang yang lebih kecil, di kantor misalnya, orang yang tidak senada seirama ditekan, diadu domba, dan disingkirkan bahkan dibunuh karakternya.
Negeri ini sejatinya bukan hanya sedang dilanda sakit kemiskinan dan kebodohan yang parah, tapi juga sedang mengidap sakit pengkhianatan cinta dan kesetiaan terhadap hidup harmonis dan welas asih.
Salam Cinta dan Kesetiaan.
Jakarta, 6 Mei 2008
Vincent Hakim Roosadhy
[Foto: www.celticattic.com]
Kesederhanaan
Sederhana tidak sesederhana makna kata-katanya.
Keserderhanaan. Sebuah kata yang amat sulit dipahami arti sebenarnya. Mungkin karena biasa dipakai orang untuk “menipu” makna sesungguhnya hingga sering bias. Banyak orang bersembunyi di balik arti kata sederhana. Arti kesederhanaan merangkul pikiran, memeluk erat kata-kata dan perilaku. Dan yang pasti, menyatu dalam kemesraan kedalaman penghayatan hidup spiritual penuh ketulusan. Dalam bahasa Jawa ada kata bermakna filosofis SUMELEH. Artinya: lepas, tulus ikhlas, tanpa beban, tidak ada pretensi negatif apa pun di belakangnya. Ada makna “kepasrahan diri” di sana.
Alkisah ada seorang duda tua miskin yang hidup bersama dua anak. Setelah istrinya meninggal, ia seorang diri mengasuh dua anaknya. Seorang anak laki-lakinya gagah dan tampan. Adiknya seorang perempuan cantik dan cerdas. Kemiskinan Pak Tua dan kondisi kedua anaknya sering jadi perbincangan warga desa. Pak Tua tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai omongan orang. Dia tetap hidup sederhana dan rajin bekerja sebagai buruh tani di sawah.
Suatu ketika anak lelakinya tertimpa musibah jatuh dari kuda yang dipercayakan orang untuk digembalakan. Salah satu kakinya patah dan akhirnya si pemuda tampan pun menjadi cacat permanen. Para tetangga datang dan ikut menyatakan keprihatinannya.
“Pak, saya ikut prihatin atas musibah dan kemalangan ini,” kata seorang tetangganya.
“Terima kasih. Saya tidak tahu, apakah ini musibah atau keberuntungan,” jawab Pak Tua dengan lugu.
Tak lama berselang. Pemerintah merekrut seluruh pemuda desa untuk wajib militer menghadapi konflik di perbatasan. Para pemuda dan orang tua pun resah. Beberapa warga desa menjadi teringat pada anak Pak Tua yang cacat.
“Pak Tua. Kamu beruntung ya. Anak laki-lakimu tidak dikirim berperang di perbatasan. Anak-anak kami semua berangkat …”, kata seorang wanita tetangganya.
“Bu. Saya tidak tahu, apakah saya sedang beruntung atau tidak beruntung.” Jawab Pak Tua, tetap dengan kesederhanaan berpikirnya.
Suatu waktu datanglah seorang pemandu bakat di desa ini. Ketika melihat, bertemu, dan ngobrol panjang lebar dengan keluarga Pak Tua, sang pemandu bakat pun amat terkesan. Sang pemandu bakat, bukan hanya terkesan pada Pak Tua yang bijak, namun juga terpesona atas ketampanan, kecantikan, dan kecerdasan anak-anak dari seorang buruh tani miskin ini.
“Pak. Bolehkah saya mengajak kedua anak bapak ke kota untuk menjadi pemeran film yang sedang saya buat?” pinta sang pemandu bakat dengan amat sopan dan tulus penuh harap.
Pak Tua pun mempertimbangkan dan akhirnya luluh hati mengizinkan kedua anaknya dibawa sang pemandu bakat. Orang-orang di desa ini pun heboh mempergunjingkannya.
“Pak. Kamu akan kehilangan anak-anakmu. Kamu rugi karena tidak ada lagi orang yang bisa mengurusi dan membantumu di rumah,” kata seorang pejabat desa.
“Ya. Terima kasih atas perhatian bapak. Tapi sesungguhnya saya tidak tahu, apakah saya sedang rugi atau akan beruntung,” jawab Pak Tua dengan tenang.
Satu setengah tahun kemudian tersiar kabar, ada dua orang muda dari desa ini menjadi bintang film yang amat berbakat dan mulai diidolakan para kawula muda kota. Warga desa pun kembali heboh. Silih berganti mereka mendatangi rumah Pak Tua, memberikan ucapan selamat dan menjadi amat ramah penuh perhatian
“Wah. Selamat ya pak. Anak-anakmu hebat. Dan pasti, kamu akan ikut menjadi kaya dan terkenal,” kata beberapa warga desa.
Pak Tua menerima segala ucapan para tetangganya dengan sikap tetap lugu sederhana. Tidak ada yang berubah pada ekspresi Pak Tua.
“Terima kasih. Tapi sesungguhnya saya tidak tahu. Apakah saya sedang beruntung atau sedang rugi. Saya juga tidak tahu, apakah saya akan menjadi kaya dan terkenal atau tidak. Saya pun tidak tahu, apakah kami hebat?”
Ahh … siapa yang tahu, apa yang akan terjadi nanti. Data-data, angka-angka statistik, hitungan-hitungan ramalan, hidup, nasib, dan keberuntungan-kerugian. Semua itu kosong kehampaan – kata orang bijak. Kenyataan, banyak orang lebih memuja kehampaan. Atau cepat menilai orang berdasarkan tampilan fisik aksesoris semata. Dan banyak pula, orang yang begitu bangga dengan atribut, aksesoris, dan membalur diri dengan puja puji agar dipuji khalayak. Program-program televisi … cermin mini kehidupan kita yang penuh dengan atribut-atribut, kegaduhan, dan impian.
Ya … Tapi biarlah semuanya berjalan dengan apa adanya.
Siapa yang tahu esok akan terjadi apa?
Vincent Hakim Roosadhy
Kematian
Amat beragam perilaku orang menghadapi dan menerima kenyataan kematian. Juga dalam hal memahami makna kematian.
Banyak orang menghadapi kematian dengan duka dan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan cenderung menjadi berlebihan dalam menerima kedukaan, ketika ajal itu datang menjemput pada waktunya.
Peristiwa meninggalnya Soeharto misalnya.
Publikasi meninggalnya Pak Harto menjadi berlebihan ketika media massa setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap hari mendaraskan kesedihan. Bahkan masih ditambah lagi ajakan SBY untuk berkabung secara nasional selama 7 hari. Luar biasa! Kedukaan yang jadi terkesan terlalu didramatisir.
Sangat sedikit orang yang mampu menghadapi kematian dengan senyum ikhlas.
Apakah itu kematian diri sendiri, atau kematian yang dialami oleh orang dekat kerabat keluarga. Suami atau istri, atau anak, cucu, sahabat, teman, dsb.
Demikian sedikitnya orang yang mampu menghadapi kematian dengan senyum, hingga kadang orang semacam ini dikategorikan “aneh”.
Terlepas dari makna spiritual kematian yang tetap menjadi misteri bagi manusia, bukankah kematian sebenarnya merupakan hal yang alamiah – biasa saja. Setiap hari selalu ada orang mati (dan di sisi lain ada pula bayi lahir).
Seorang sahabat sempat di-“tegur” oleh keluarganya ketika sang ibunda meninggal. Pasalnya dia tidak terlihat sedih. Malah dia sangat tenang dan tetap tersenyum. Raut wajahnya amat tenang ketika mendengar kabar bahwa ibundanya meninggal dunia.
Saat berhadapan dengan jenazah sang ibu, mukanya tampak kalem. Sementara anggota keluarga yang lain dan para sahabat terlihat amat berduka.
Saya pun penasaran ingin tahu, mengapa dia bisa menghadapi kematian ibundanya dengan tersenyum. Padahal saya tahu, hubungan sang sahabat ini dengan ibundanya begitu dekat. Bisa dibilang dia anak kesayangan – anak mama.
“Kematian itu hal yang biasa saja, alamiah. Semuanya sudah ada yang mengatur,” katanya.
“Aku tahu, ibuku ada di sana. Kehadiran tidak selalu berwujud fisik bukan? Dan kematian tidak berarti meniadakan kehadiran kan?” katanya menambahkan. Tetap dengan wajah tenang dan tersenyum.
Pandangannya tentang hidup, membuat sahabat saya ini selalu tersenyum dalam menghadapi hidup. Termasuk ketika menghadapi kenyataan ibunda tercintanya meninggal dunia.
Segala puja-puji (apalagi sampai setinggi langit), perlukah diungkapkan ketika seseorang meninggal?
Segala hal perbuatan baik memang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap orang sesuai kodrat. Bukan karena supaya dilihat dan dinilai orang, atau agar dikenang dan dipuja puji setinggi langit ketika meninggal kelak, atau agar dapat pahala dari Sang Pencipta. Jelas bukan itu!
Konsep bahwa manusia adalah Citra Sang Pencipta (Sang Pencipta adalah sumber segala Kebaikan dan KEBAIKAN itu sendiri) – itulah yang mengharuskan orang berbuat baik kepada orang lain dan segala sesuatu ciptaan-Nya. Dan inilah tugas utama hidup manusia: menyebarkan dan mengamalkan KEBAIKAN Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan tak perlu digembar-gemborkan dengan maksud agar dilihat orang atau dinilai hebat oleh orang lain. Apalagi agar terbebas dari jerat hukum bagi ahli warisnya atau para pengikut orang yang telah meninggal. (Dalam konteks wafatnya Pak Harto – ini jelas tidak relevan!). Bukankah “kebaikan” dalam dunia politik selalu bersayap? Tidak ada yang gratis di dunia politik. “Kebaikan” dalam konteks politik tidak bisa disejajarkan dengan kebaikan sejati yang tulus.
Setiap peran dalam hidup mempunyai tanggung jawab menyebarluaskan dan mewujudkan KEBAIKAN-Nya. Pak Harto misalnya, ketika menjadi penguasa berkewajiban melayani dan menyejahterakan seluruh rakyat, tak terkecuali. Apakah yang seideologi atau pun tidak! Jadi tidak ada hak sama sekali dari seorang pengemban kekuasaan untuk menelantarkan rakyat, untuk tidak berbagi kebaikan. Diminta atau pun tidak. Dalam hal ini kebaikan ada, bukan berkat kemurahan hati. Tapi itulah mandat dari SANG KEBAIKAN sejati.
Mengapa kita harus tersenyum saat menghadapi kematian?
Ketika kita mendapatkan kelahiran seorang bayi, senyum dan suka cita itu muncul dari hati sebagai ungkapan syukur. Selayaknya pula saat kematian itu tiba waktunya, senyum dan suka citalah yang mestinya mengembang di diri kita. Suka cita bukan berarti harus berpesta pora riuh rendah. Namun suka cita dalam wujudnya yang hakiki ucapan syukur dan keikhlasan hati.
Jadi tidak perlu berlebihan menghadapi kematian. Apalagi dengan puja puji setinggi langit. Hadapi saja semuanya secara wajar dengan senyum.
Vincent Hakim Roosadhy
[Tulisan ini juga bisa dilihat pada http://blog.liputan6.com]
Jati Diri
Dalam suatu kesempatan liputan ke luar negeri, saya pernah dipanggil petugas imigrasi dan diingatkan agar form tentang data diri diisi lengkap.
“Maaf, ini belum Anda isi,” kata perempuan petugas sambil menunjuk kolom agama.
“Apakah harus diisi?” saya bertanya dengan gaya santai sambil agak cengengesan.
“Ya. Harus Anda isi,” kata si petugas paruh baya yang manis itu sambil memandang saya dengan senyum simpatik. Saya suka senyumnya.
“Harus? Kenapa?”
Petugas itu tidak menjawab, tapi langsung menyodorkan form itu kembali. Sebenarnya saya memang agak kesal. Bagi saya urusan keimanan – hubungan pribadi dengan Sang Khalik pencipta alam semesta – Yahwe – Allah – Bapa yang bersemayam di surga – Tuhan – Gusti ingkang murbeng ing dumadi adalah sangat pribadi.
Ahh. Ya sudahlah. Sambil menggerutu dalam hati, form itu pun saya isi.
“Dagelan nggak lucu. Katanya negeri kebebasan. Negeri sekuler, lha kok…”
“Ok! Finish!” form itu segera saya serahkan ke petugas. Saya pun cepat berlalu dari situ.
Saya tidak perhatikan lagi bagaimana ekspresi petugas itu. Di form itu saya tuliskan “Soccer” alias Sepakbola – pada kolom agama. Yang pasti setelah saya isi dan serahkan form itu, saya tidak dipanggil lagi.
“Syukurlah. Agama sepakbola sudah diakui dunia,” pikir saya sambil ketawa dalam hati. Kenyataan, bahwa saya memang gila nonton bola. (Tapi maaf, bukan sepakbola Indonesia – yang hanya bikin emosi dan capek hati jika ditonton).
Di negeri kita, ada banyak pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang tumpang tindih – salah kaprah – tipu menipu membodohi publik berkaitan dengan soal hak dan kewajiban, fungsi, kepentingan, dan tanggung jawab. Kepentingan pribadi, golongan, atau partai meminjam “kendaraan kepentingan” seolah-olah menjadi kepentingan publik. Ada yang semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah, penguasa, atau negara namun tidak dijalankan. Atau seharusnya menjadi tanggung jawab pribadi tapi justru “merepotkan” pemerintah. Lihat saja kasus Lumpur Lapindo yang tidak juga selesai itu.
Yang paling berat memang hak pribadi namun diintervensi seolah-olah menjadi hak publik. Lucunya, pemerintah ikut-ikutan ngurusi. Soal kehidupan ber-Tuhan misalnya. Di form KTP, Paspor, Ijazah, Lamaran Pekerjaan, atau apalah. Ada kolom isian tentang agama yang wajib diisi. Haruskah orang lain atau publik tahu warna keimanan keyakinan seseorang itu apa? Atau perlukah publik tahu, seseorang beretnis keturunan apa (Cina, Arab, Jawa, Batak, Sunda, atau warga keturunan apa, dll)? Seberapa penting?
Ada banyak kasus, karena warna keimanan, lamaran kerja diterima, tender menang, orang naik pangkat jabatan, atau mungkin lamaran nikah diterima sang calon mertua. Namun jamak pula, karena sebuah warna keimanan, orang mati. Terbunuh secara kharakter, karier mandek, tidak naik pangkat, dibenci orang, putus cinta, dan bahkan batal menikah. Banyak juga rumah orang yang dirusak, tempat ibadah diporak-porandakan, sampai nyawa melayang karena beda warna keimanan, cara memahami, dan menjalankan ritual keyakinan.
Apa agamamu? Kamu orang apa? Apakah kamu sudah menikah? Kapan kamu akan menikah? Atau, istrimu sudah mengandung belum? Kapan mau punya anak? Anakmu berapa? Dst. Pertanyaan-pertanyaan sejenis setiap saat kita dengar dan menjadi sangat “biasa” terlontar. Sadarkah itu artinya telah memasuki wilayah yang sangat personal? Nama. Agama. Suku. Kebangsaan. Status. Pekerjaan. Ciri-ciri fisik. Warna kulit. Pendidikan. Menikah-tidak menikah. Inikah jati diri? Jika tidak bernama, apakah berarti tidak memiliki jati diri? Jika tidak memiliki agama, apakah berarti tak berjati diri? Tak berstatus berarti tak berjati diri? Dan seterusnya, dan sebagainya?
Apa itu Jati Diri?
Apakah jati diri setara jika disejajarkan dengan nama (yang setiap saat bisa berganti dengan macam-macam alias dari a sampai z)? Apakah jati diri sejajar dengan warna keimanan seseorang? (yang bisa saja karena alasan-alasan tertentu, orang berpindah agama, keyakinan, atau ideologi). Apakah bisa disepadankan dengan kesukuan, kebangsaan, atau status kewarganegaraan, profesi, hobi, dan sebagainya? Saya sering mendengar pernyataan pejabat negara – petinggi pemerintahan atau kelompok elite politik yang mengatakan bahwa bangsa kita nyaris kehilangan “jati diri”-nya.
Jati diri bukanlah kata-kata. Bukan warna kulit. Bukan bentuk mata. Bukan pula KTP atau ID card yang bisa dicetak dalam hitungan menit. Jati diri – sebuah pribadi – realitas pada diri yang melekat erat menyatu tak terpisahkan. Kematian tak menghilangkan jati diri. Setiap individu memiliki pribadi jati diri yang selalu khas unik. Kekhasan jati diri adalah karena membawa Citra Sang Pencipta – Sang Pribadi Maha Unik. Setiap orang berhak menjadi pribadi. Menjadi jati diri. Hak yang juga melekat erat dalam setiap pribadi. Setiap orang wajib – harus menghormati dan menghargai pribadi-pribadi. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Keyakinan dan warna keimanan (serta lembaganya) mestinya menjaga dan mengarahkan pribadi-pribadi, agar menjadi pribadi sejati menuju jati diri mencapai keabadian Sang Pribadi.
Saya terkesan dengan iklan : MAY BE YES, MAY BE NO. Iklan ini menurut saya cerdas, lucu, ringan, berani, dan menampilkan pesan pemberontakan terhadap kebiasaan sebagian orang Indonesia yang suka sok mau tahu urusan pribadi dan memaksakan kehendak atau kebenaran pribadi/kelompok kepada orang lain. Pas banget dengan kondisi negeri ini sampai detik ini.
Apakah saya juga suka ingin tahu dan mencampuri urusan orang? Atau memaksakan kehendak kebenaran pribadi? Ahh… MAY BE YES, MAY BE NO!
Vincent Hakim Roosadhy
[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: http://blog.liputan6.com]
Kehadiran
Di saat-saat yang amat genting, orang sering membutuhkan kehadiran sosok yang bisa dipercaya, mau mendengarkan, membantu, dan mampu mengayomi. Syukur-syukur mampu memberikan kepastian dan mencarikan jalan keluar. Para korban lumpur Lapindo sampai detik ini butuh semuanya itu. Masyarakat lemah tergusur, juga sama, memerlukan sosok itu. Demikian juga para pedagang di pinggir-pinggir jalan yang acap kali diusir polisi pamong praja. Atau orang-orang kecil yang tertindas oleh kaum penguasa dan dipermainkan para penegak hukum yang tidak adil. Rakyat amat rindu kehadiran sang sosok.
Kehadiran menjadi sebuah peristiwa bermakna di kala tak ada lagi jarak antara AKU dengan ENGKAU.
Gabriel Marcel – seorang filsuf Perancis (1889-1973) sangat cermat memberikan gambaran tentang hubungan sosial AKU dan ENGKAU yang penuh arti. Para pejabat pusat dan daerah juga para anggota parlemen memang sering datang mengunjungi rakyat yang sedang terkena musibah beramai-ramai – berombongan. Namun kedatangan mereka belumlah merupakan “kehadiran” sesungguhnya. Dan barangkali tak pernah ada maknanya sama sekali. Baik bagi para pengunjung maupun bagi orang-orang yang dikunjungi. Yang terjadi kemudian adalah realitas “seolah-olah” yang semu – kosong.
Apa itu kehadiran?
Hadir tidak berarti harus selalu secara objektif dalam lingkup ruang dan waktu yang sama. Bisa terjadi saya berada di dalam ruang dan waktu yang sama, namun tidak berarti saya “hadir” di situ. Kehadiran saya belum tentu dirasakan dan berarti bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya. Mungkin bisa terjadi ada komunikasi (satu memancarkan – yang lainnya menerima, seperti radio). Namun tidak ada kontak.
Kehadiran baru bisa dirasakan bila AKU berjumpa dengan ENGKAU. Dalam relasi AKU dan ENGKAU terkandung makna sesama. Persona dengan persona. Individu dengan individu. Kehadiran ini dapat diwujudkan, meski dalam ruang dan waktu yang berbeda.
Secara istimewa kehadiran terealisasi konkrit dalam makna cinta. AKU dan ENGKAU mencapai level KITA. Keberadaan AKU bukan berdiri sendiri secara terpisah, demikian pula ENGKAU. Level AKU dan ENGKAU adalah satu kesatuan bagian tak terpisahkan. Dalam istilah filsafat antara AKU dan ENGKAU mewujud dalam satu kesatuan secara ontologis menjadi KITA. Sebuah kehadiran dalam bentuknya yang sempurna melebihi eksistensi memasuki strata “Ada”.
Mencintai selalu mengandung keinginan (permohonan) kepada sesama. Di dalam cinta AKU memohon kepada ENGKAU dan ENGKAU kepada AKU. Jadi dari kedua belah pihak harus ada kebersediaan. Baik untuk mendengarkan maupun menjawab. Ada posisi setara saling menghormati. AKU harus mau keluar dari egoisme dan membuka diri terhadap kehadiran ENGKAU. Begitu pula sebaliknya.
Kehadiran dalam konteks hubungan AKU dan ENGKAU yang terwujud dalam cinta, jika dipahami secara benar akan membawa kepada kesetiaan abadi. Kematian pun tidak berarti akan menghilangkan salah satu. Ikatan kesetiaan yang telah mewujud dalam KITA tidak berarti meniadakan AKU atau ENGKAU, meski maut menjemput. Kehadiran berlangsung terus-menerus melampaui ruang dan waktu.
Jadi apa yang bisa melukai makna kehadiran?
Egoisme, amat menodai arti kehadiran – cinta atau makna KITA. Itu juga berarti kembali kepada AKU dan DIA (bahwa orang lain di luar kita adalah objek dan bukan subjek) bukan AKU dan ENGKAU.
Dalam kehidupan sehari-hari yang kita alami, di rumah, di kantor, atau dalam kehidupan sosial masyarakat, kita bisa merasakan – apakah kehadiran kita sudah efektif atau belum. Sudah me-manusia-kan manusia ataukah meng-objek-an manusia? Secara jujur, masing-masing diri kita bisa mengukur. Apakah kita sebagai penonton, pengamat, komentator, atau pemain. Ketika jarak mulai membentang, meski hanya serambut, kehadiran – AKU dan ENGKAU – belumlah menjadi KITA. A friend in need is a friend indeed. Teman sejati adalah teman yang selalu hadir di saat kita sedang dalam kesusahan. Tak mudah mencari teman sejati.
Vincent Hakim Roosadhy
17 Desember 2007







