Jagat Alit

Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan

Mensyukuri Musibah: Mampukah?

“Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,” kata Adhi dengan wajah berseri. “Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?”

“Adhi, itu bukan ceritaku.” Begitu timpalku. “Tapi itu ‘kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para Wali Allah atau para Kekasih Allah sesungguhnya tidak pernah merasa takut, khawatir ataupun berduka cita sepanjang hidupnya, lantaran mereka selalu berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khalik.”

“Saya tahu itu. Dan, seperti para beliau,  saya juga telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah,” ujar Adhi dengan wajah yang tetap sumringah.

Sudah biasa saya mendengarkan celoteh Adhi tentang berbagai keresahan religiusitasnya. Tentang gugatannya terhadap Tuhan, yang menurutnya tidak pernah adil. Tentang berbagai ajaran agama, yang menurutnya tidak pernah memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Tentang berbagai kisah para Nabi yang menurutnya hanya dongeng pengantar tidur belaka.

Saya selalu mendengarkan celotehnya dengan sabar, dan saya tidak pernah mendebatnya. Buat apa? Dia pernah mengecap pendidikan pesantren seperti saya, dan bahkan di pesantren yang sama. Dia pernah mengenyam pendidikan di sebuah fakultas teologi, yang — ndilalah — merupakan fakultas saya juga, dulu.

Saya merasa hanya buang-buang waktu saja kalau saya berdebat dengannya, karena dia tahu betul argumen yang akan saya bangun untuk mendebatnya. Kata para dukun, seguru seilmu janganlah saling ganggu. Jadi, saya pun tidak pernah “mengganggu” pikiran-pikirannya.

Tetapi kedatangannya hari itu benar-benar berbeda. Wajahnya tidak sekusut biasanya. Tidak ada gugatan terhadap Tuhan, seperti yang biasa disampaikannya. Adhi kelihatan sangat gembira. Padahal, ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah sekitar dua pekan menginap di sana.  Dua pekan sebelumnya, ia menjalani operasi usus tahap pertama. Ada kanker ganas dalam stadium lanjut menggerogoti ususnya. Kata dokter, Adhi tinggal “menunggu waktu”.

“Saya sudah siap,” kata Adhi. “Saya sudah berterimakasih padaNya. Saya berterimakasih atas kanker yang diberikanNya kepada saya. Saya berterimakasih karena sayalah yang telah dipilihNya untuk menikmati penderitaan ini. Saya berterimakasih karena saya telah diajariNya untuk bersyukur. Bersyukur tidak hanya karena kenikmatan hidup yang telah dilimpahkanNya kepada saya. Tetapi juga karena penyakit yang kini menggerogoti tubuh saya.”

Seperti biasa, saya terdiam mendengarkan celotehnya. Ternyata itu merupakan celotehnya terakhir. Sepekan setelah itu, Adhi berpulang tanpa pamit. Dan, ia memang tidak perlu pamit kepada siapapun.

Tentu saja saya tidak pernah bertemu lagi dengan Adhi, bahkan dalam mimpi. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pada pelajaran konkret yang disampaikannya sebelum pergi: berterimakasihlah selalu padaNya, termasuk atas musibah yang diberikanNya. Mampukah saya? Rasanya, tidak.

Billy Soemawisastra

Senin, 30 November 2009 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Eksplorasi Diri, Inspirasi, Refleksi, Wisata Sukma | , | Tinggalkan sebuah Komentar

Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya

paulo-coelho-desert-in-the-gulf

The warrior knows

that the most important words in all languages

are the small words.

Yes. Love. God.

(Paulo Coelho)

Sudah lama saya ingin menulis tentang Paulo Coelho. Tetapi saya tak pernah bisa menentukan, dengan kalimat apa saya harus memulainya. Orang ini “terlalu besar” buat saya. Di usianya yang sudah tergolong tua — dilahirkan di Rio de Janeiro, Brazil, 1947 – ia justru semakin produktif. Sudah belasan novel spiritual yang ditulisnya, dan novel-novel itu telah diterjemahkan ke sekitar 56 bahasa di dunia. Beberapa novel hasil karyanya menjadi best sellers internasional, dan terjual dalam puluhan juta copy.

Jumlah penggemarnya mencapai puluhan juta orang, tersebar di sekitar 150 negara. Novel-novel yang ditulisnya telah memberikan inspirasi bagi puluhan juta pembacanya, karena umumnya berisi renungan tentang kehidupan. Renungan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup, menyiasati takdir, dan berhubungan dengan sesama manusia dengan landasan Cinta. Bahkan lebih jauh dari itu, dalam berbagai novelnya, Paulo Coelho selalu menyiratkan bahwa hidup yang dianugrahkan Tuhan harus senantiasa disyukuri, dengan cara menjalani hidup secara ikhlas dan sebaik-baiknya.

Nuansa spiritual yang diwarnai ajaran berbagai agama (terutama agama-agama Timur Tengah), terasa sangat kental dalam novel-novelnya seperti The Alchemist, The Pilgrimage, The Zahir, dan The Fifth Mountain. Ada juga novel-novel psikologis seperti Brida, Veronika Dicides to Die, Eleven Minutes, The Devil and Miss Prym, atau By the River Piedra I Sat Down and Wept. Kesemua novelnya berisi renungan tentang kehidupan, meski masing-masing novelnya ditulis dengan gaya penuturan dan angle yang berbeda.

coelho-lagi3paulo-coelho-memanah

Tetapi Paulo Coelho bukan “hanya” seorang novelis. Ia juga seorang penutur kebijakan atau pendakwah lintas agama. Dakwah-dakwahnya bisa dilihat melalui berbagai situs online yang ia miliki, seperti paulocoelhoblog.com dan www.warriorofthelight.com. Berikut, salah satu renungan spiritualnya, pada http://paulocoelhoblog.com:

Pilgrimage is a duty in Muslim and Christian religions, do you think that’s the plan of God for human beings to actually travel in their souls? We are all on a pilgrimage whether we like it or not and the target, or goal, the real Santiago, if you like, is going from birth to death. You must get as much as you can from the journey, because – in the end – the journey is all you have. It doesn’t matter what you accumulate in terms of material wealth, because you are going to die anyway, so why not live? When you realize that you can be brave and that is the first tenant of any spiritual quest – to take risks.

Jika Paulo Coelho Blog berisi renungan harian yang di-update setiap hari dengan berbagai isu keseharian, Warrior of the Light berisi renungan yang lebih mendalam dan di-update secara bulanan. Renungan-renungan itu biasanya dilengkapi kutipan ajaran-ajaran sipiritual, yang berasal dari khasanah berbagai agama dan kebudayaan, termasuk kata-kata bijak dari para Sufi. Sesuai dengan nama situsnya — Warrior of the Light atau Pendekar Cahaya — melalui situs ini Coelho bermaksud mengajak semua orang untuk selalu mencari Cahaya Kebenaran dalam hidupnya. Dan, Cahaya Kebenaran itu, sudah ada tuntunannya dalam berbagai kebudayaan dan agama.

coelho1coelho3

Melalui Warrior of the Light maupun Paulo Coelho Blog, sang mestro ini seakan ingin mengatakan bahwa semua agama hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni mengagungkan Tuhan dan menghormati kehidupan (baik kehidupan diri kita sendiri maupun kehidupan orang lain). Sehingga agama tidak perlu saling dipertentangkan, karena masing-masing memiliki kebenaran (yang hakikatnya, sama). Berikut, salah satu postingan Paulo Coelho, dalam Warrior of the Light, dengan topik The Languanges that God Speaks:

Below are some of those prayers:
Dhammapada (attributed to Buddha)
Instead of a thousand words,
Better just one,
One that brings peace.
Instead of a thousand verses,
Better just one,
One that shows beauty.
Instead of a thousand songs,
Better just one,
One that spreads joy.

Mevlana Jelaluddin Rumi, 13th century
Out there, besides what is right and what is wrong, there is an enormous field.
That is where we will meet.

Prophet Mohammed, 7th century
Oh Allah! I come to you because you know all, even what is hidden.
If what I am doing is good for me and my religion, for my life now and later, then let the task be easy and blessed.
If what I am doing now is bad for me and my religion, for my life now and later, then keep me far from this task.

Jesus of Nazareth, Matthew 7;7-8
Ask, and it shall be given you;
seek and you shall find;
knock, and it shall be opened unto you:
For every one that asks receives;
and he that seeks finds:
And to him that knocks,
it shall be opened.

Jewish prayer for peace
We shall go the mountain of the Lord, where we shall walk with Him. We shall change our swords into plows and our spears into baskets for harvesting fruit.
Let no nation raise its sword against another, and let us never learn the art of war. And no-one should fear his neighbor, because thus spoke the Lord.

Lao Tsu, China – 6th century B.C.
For there to be peace in the world, the nations must live in peace.
For there to be peace among nations, cities must not rise up against one another. For there to be peace in the cities, neighbors must get on well with one another. For there to be peace among neighbors, harmony must reign in the home. For there to be harmony at home, it must be found in your own heart.

warrior-of-the-light-online

Paulo Coelho, tampaknya sangat menyadari keampuhan media internet. Sehingga ia pun memanfaatkan jaringan sosial online seperti Facebook. Di Facebook, ia bisa ditemui melalui Paulo Coelho Fans Club, halaman khusus Paulo Coelho dan The Best of Paulo Coelho. Meski jaringan ini dikelola oleh para penggemarnya, Coelho sering pula menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan para penggemarnya melalui Facebook. Induk dari semua situs milik Paulo Coelho, adalah www.paulocoelho.com. Tentu saja Coelho tidak sendirian mengelola situs-situsnya. Ada pekerja khusus yang menanganinya.

Melalui situs-situs tersebut, kita juga bisa mengetahui kegiatan harian sang maestro. Jadwalnya sangat padat. Hampir setiap hari, Coelho memberikan ceramah di berbagai negara. Ceramah-ceramahnya bisa diakses melalui You Tube, dan foto-fotonya bisa diunduh melalui www.flickr.com. Termasuk kata-kata bijaknya yang dikemas dalam format JPEG. Selain dalam bahasa Inggris, situs-situs ini tersedia dalam bahasa-bahasa lainnya seperti Portugis, Spanyol, Itali, Prancis, Belanda, Jerman, Polandia, Arab, Rusia, Cina, Persia. Sayangnya, belum ada yang berbahasa Indonesia.

coelho-lagi1

Paulo Coelho, tidak hanya bicara soal cinta dan kemanusiaan. Anjuran-anjurannya kepada semua orang agar peduli pada nasib sesama, juga diwujudkan dalam bentuk kongkret. Pada 1996, ia mendirikan Paulo Coelho Intitute. Sebuah lembaga nirlaba yang juga bernama Creche Escola Meninos da Luz, Lar Paulo de Tarso. Lembaga sosial yang berpusat di Rio de Janeiro, Brazil, itu menampung dan menghidupi ratusan anak terlantar dan orang-orang lanjut usia, hingga sekarang. Biaya pengelolaannya berasal dari royalties buku-buku yang ditulis Paulo Coelho.

coelho-institute2

Dalam usianya yang semakin tua, Paulo Coelho tampaknya tak pernah kehabisan gagasan. Semangat hidupnya semakin tinggi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang selalu diajaknya untuk menjadi pendekar cahaya, pencari kebenaran. Sementara bagi orang-orang yang tidak mampu, Coelho berupaya membantu mereka agar dapat melihat cahaya kehidupan. Cahaya yang dianugerahkan Sang Pencipta. Berlebihankah saya, bila saya mengatakan bahwa Paulo Coelho adalah seorang Sufi modern?

Billy Soemawisastra

[Sumber tulisan dan foto: www.paulocoelho.com, www.warriorofthelight.com, paulocoelhoblog.com]

Selasa, 9 Desember 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Eksplorasi Diri, Inspirasi, Prominensia | , , | 9 Komentar

Beberapa Renungan Paulo Coelho

coelho-lagi5

renungan-coelho11

renungan-coelho2renungan-coelho3paulo-coelho2renungan-coelho4renungan-coelho5renungan-coelho61renungan-coelho7paulo-coelho1

Selasa, 9 Desember 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Eksplorasi Diri, Inspirasi, Refleksi | , | Tinggalkan sebuah Komentar

Memaafkan dan Mengampuni

Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya?

Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, dan menyengsarakan kita lahir batin.

Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa mengatakan pada saya, bahwa beban hidup yang amat berat (nyaris tak tertanggungkan) akan dialami oleh orang yang tidak mampu memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Seorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, biasanya ia juga akan mudah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan sekecil apa pun. Beban berat orang yang tidak mampu memberikan maaf dan pengampunan, akan menjadi beban jiwa. Beban jiwa yang berat akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Baik raga, mental, maupun pikiran. Sedikit demi sedikit, kesehatan fisik dan mental pun akan terganggu tergerogoti.

“Jika kamu mampu meminta maaf, memberikan maaf, dan pengampunan secara tulus, maka hidup dan beban jiwamu akan ringan seringan kapas” katanya kala itu.

Mengapa orang harus meminta dan memberikan maaf?

Atau mengapa orang harus meminta ampun dan memberikan pengampunan?

Memaafkan dan mengampuni, memiliki substansi makna yang kurang lebih sama. Keduanya sama-sama merupakan wujud ekspresi rohani manusia beradab ber-Ketuhanan.

Meminta dan memberi maaf, mohon ampun dan memberikan pengampunan, adalah refleksi ungkapan kerendahan hati manusia beriman yang siap mengakui kelemahan diri di hadapan manusia dan SANG PENCIPTA. Di dalamnya terkandung keinginan tobat memperbaiki diri. Manusia pun menjadi putih bersih laksana terlahir kembali seperti sediakala sebagai CITRA YANG MAHAKUASA.

Kesadaran rohani inilah yang membedakan tingkat keimanan seseorang. Kesadaran spiritual ini seharusnya terus dipupuk dan dibangun setiap detik, setiap saat, setiap waktu, terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari diri.

Meminta maaf dan memberikan permaafan – juga meminta ampun dan memberikan pengampunan tanpa syarat, membutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan kesiapan mental luar biasa. Untuk meminta maaf, orang harus merelakan dirinya dalam posisi lebih rendah dari orang lain. Demikian pula ketika orang memberikan pengampunan. Ia dalam posisi amat berkuasa.

Godaan amat besar ada pada posisi orang yang mempunyai kekuasaan besar dan posisi lebih tinggi. Tak semua orang mampu melaksanakannya! Kemampuan meminta dan memberikan maaf, dan juga pengampunan, merupakan simbol perwujudan keimanan kepada SANG HYANG PEMBERI HIDUP yang terdalam.

Permaafan dan pengampunan sejati tidak membutuhkan syarat. Jadi tidak berlaku istilah: “Minta maaf saja tidak cukup!” atau “Ok. Kali ini saya maafkan tapi besok lagi tidak!” dan banyak lagi ungkapan pemberian maaf disertai dengan syarat-syarat dan kata-kata negasi. “Saya maafkan tetapi….”

Meminta maaf, memberikan maaf dan pengampunan adalah final tanpa syarat. Permaafan dan pengampunan mestinya selebar dan seluas samudera tanpa batas.

Dendam Seolah Menjadi Tren Hidup.

Di lingkungan masyarakat kita, dendam seperti membudaya. Konflik sosial begitu mudahnya berkobar. Tawuran anak sekolah, mahasiswa, antarwarga desa, antarkelompok yang mengatas namakan agama. Ada juga pelayan dendam kepada majikan. Atau juragan enggan meminta maaf kepada pembantu. Istri memendam dendam kepada suami. Sampai-sampai ada istilah: cacian dibalas dengan makian, mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti darah, atau nyawa ganti nyawa. Suatu kebiasaan hidup gaya barbar, cerminan manusia tak berbudaya, tak beradab, dan tak ber-Tuhan.

Ajaran antikekerasan dan prinsip ajaran welas asih berumur ribuan tahun lampau yang menyatakan bahwa jika kamu ditampar pipi kirimu, berikanlah juga pipi kananmu jadi terasa amat ekstrim mengada-ada. Mana mungkin itu dilakukan. Hari gini, gitu loh?

Tapi itulah welas asih yang penuh dengan bangunan keharmonisan hidup. Tindakan kekerasan yang dulu sering digambarkan sebagai jalan pedang hanya akan menimbulkan dendam dan kekerasan baru.

Tradisi saling maaf-memaafkan dan saling mengampuni diajarkan oleh semua agama dan ajaran-ajaran kebijaksanaan tentang hidup modern yang berkeadaban. Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, memberikan maaf, mohon ampun, dan memberikan pengampunan.

Sudahkah Anda meminta maaf, memberikan maaf, dan memberikan pengampunan pada musuh Anda sekarang?

Mohon maaf jika ada kesalahan.

Vincent Hakim Roosadhy

Selasa, 30 September 2008 Ditulis oleh Vincent Hakim Roosadhy | Eksplorasi Diri, Inspirasi, Refleksi | | 1 Komentar

Memberi dan Menerima

Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis. Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur,  tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung, 21 nyawa melayang sekaligus, akibat terinjak-injak dan kehabisan oksigen, karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.

Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat 20 ribu rupiah amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita.

Ketika orang-orang pintar, para pejabat publik dan politik, pakar statistik dan lain sebagainya berdebat soal apa itu kemiskinan, tentang jumlah orang miskin, dan masalah kriteria orang miskin-kemiskinan, sejatinya kaum miskin tidak peduli! Orang miskin lebih peduli memikirkan

Juga ketika para calon presiden yang gencar berkampanye dan presiden yang sedang berkuasa “ribut” soal jumlah orang miskin dan kriteria orang miskin. Orang-orang miskin tetap saja nggak mau tahu! Orang miskin lebih peduli memikirkan bagaimana hari ini bisa membeli sembako murah, beli minyak tanah murah, dan bisa membayar sekolah anak-anak (syukur-syukur sekolah gratis). Biaya pendidikan sekarang sudah nggak masuk akal! Nggak usah yang sekolah unggulan, sekolah standar saja mahal – duit lagi, duit lagi.

Jangan dikira wong cilik bisa terus menerus dibodohi! Meski masih banyak juga yang bodoh dan mudah dibodohi (kebanyakan karena tuntutan kondisi). Orang miskin yang “normal” akan malu jika harus mengemis, meminta, mengantri bantuan pada orang lain. Bahkan untuk sekadar meminjam uang pun, rasanya malu. Tapi kondisi yang benar-benar miskin sering memaksa orang harus melakukan sesuatu (agak mengabaikan perasaan malu).

Kini sebagian kaum miskin sudah mulai sadar politik, dan sadar informasi. Maka mereka tahu, bahwa golongan “wong kere” – wong cilik hanya dijadikan objek massa politik atau sasaran untuk mendongkrak popularitas diri orang berkuasa dan berduit agar dipandang orang lain.

Memberi dan menerima. Apa itu? Saya teringat kata-kata bijak yang telah berumur ribuan tahun, tapi masih sangat relevan untuk masa kini (terlebih di masa Ramadhan ini): “Jika engkau memberikan sesuatu kepada orang lain (dengan tangan kananmu), jangan sampai tangan kirimu tahu. Biarkan Yang Maha Kuasa saja yang layak mengetahuinya”

Memberi memiliki dimensi personal, sosial, dan spiritual (vertikal-horisontal). Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa belas kasihan dan penuh keikhlasan. Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain karena tuntutan dari dalam diri, bahwa ia memang harus memberi. Tindakan memberi bagi manusia pemberi sejati, adalah refleksi keimanan pada SANG PENCIPTA yang juga adalah SANG PEMBERI SEJATI tanpa pamrih.

Jadi tak ada motivasi secuil pun bagi seorang pemberi sejati, bahwa tindakannya itu agar mendapatkan balasan, imbalan, dilihat orang, atau pujian orang. Maka janganlah heran, jika ada seorang pemberi sejati harus bersusah payah agar bisa memberikan dirinya kepada orang lain tanpa pamrih. Bahkan kadang harus melawan arus, dibenci orang, dan kadang berhadapan dengan maut.

Ada kepuasan batin yang mendalam bagi seorang pemberi sejati, ketika ia bisa memberikan sesuatu bagi orang lain yang membutuhkan. Inilah perwujudan aktualisasi diri seorang pemberi sejati. Bagi seorang pemberi sejati, ketika ia memberikan sesuatu sebenarnya ia pun telah menerima sesuatu. Manusia pemberi sejati memiliki tingkat spiritual lebih tinggi dari pada manusia penerima.

Bagaimana dengan manusia penerima? Seorang penerima memiliki tanggung jawab untuk berterima kasih dan bersyukur. Berterima kasih dan bersyukur itu tidak mudah. Tak banyak orang yang bisa berterima kasih dan bersyukur dengan tulus dan bertanggung jawab. Kita tahu, banyak orang terlibat korupsi. Kita tahu, banyak orang penting yang dulu bukan siapa-siapa tapi sekarang berlagak jadi penguasa tanpa tanding. Kita tahu banyak orang suka mengeluh hidupnya susah, padahal banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih susah.

Seorang penerima pada saatnya nanti harus pula menjadi manusia pemberi sejati. Salah satu contoh manusia penerima yang kemudian menjadi sang pemberi sejati adalah tokoh spiritual dunia Siddharta Gautama. Setelah menerima pencerahan dari Yang MahaKuasa, Sidharta Gautama pun menjadi manusia Buddha (Yang Tercerahkan) dan memberikan diri sepenuhnya bagi orang lain.

Eyangnya musik jazz yang baru saja manggung duet dengan George Benson di Jakarta (14/9/08) Al Jarreau berujar, “Jika kamu memberikan apa pun yang kamu miliki (sesuai dengan profesi dan keahlian masing-masing) secara tulus dan total, maka kamu akan menerima kebahagiaan.” Al Jarreau dan George Benson telah puluhan kali menerima berbagai penghargaan bergengsi di bidang musik jazz, pop-soul R&B dan kemarin mereka memberikan hiburan dan kebahagiaan bagi para penggemar jazz.

Jadi sudahkah kita menjadi seorang pemberi sejati hari ini?

Vincent Hakim Roosadhy

Selasa, 30 September 2008 Ditulis oleh Vincent Hakim Roosadhy | Eksplorasi Diri, Inspirasi, Refleksi | , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Mengingat Kematian di Hari Ulang Tahun

Sebuah acara perayaan ulang tahun yang cukup unik baru saja berlangsung. Perayaan itu terjadi pada hari Jum’at dinihari, 29 Agustus 2008, pukul nol-nol lewat sekian menit, di sebuah pelataran vila di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Yang merayakannya adalah seorang ulama modern pejuang pluralisme, pembela hak-hak kaum tertindas dan minoritas, pencinta kaum papa alias para mustadh’afin.

Dia juga seorang ilmuwan, yang memiliki kompetensi tinggi di bidang ilmu komunikasi dan psikologi. Pengajar di berbagai perguruan tinggi terkemuka, dan pimpinan sekaligus pemilik sekolah untuk orang-orang miskin yang berlokasi di Bandung Jawa Barat. Ulama itu adalah K.H. Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat, yang dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 29 Agustus 1949.

KH. Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat.

Di tengah dinginnya udara pegunungan yang nyaris “menusuk tulang”, Kang Jalal (demikian ia akrab dipanggil) memperoleh ucapan selamat dari para muridnya yang berdatangan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (termasuk beberapa orang Kiyai). Kebetulan atau tidak kebetulan, di tempat itu juga sedang berlangsung in house training untuk para pengurus IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia).

Ucapan selamat serta hadiah ulang tahun yang diberikan para muridnya, cukup beragam. Ada yang memberikan hadiah berupa pembacaan puisi yang ditulisnya sendiri. Ada yang melantunkan nyanyian gubahan Kang jalal, tanpa musik (namun bukan berarti antimusik, melainkan lantaran panitia, agaknya, lupa mempersiapkan alat musik). Ada juga yang memberikan hadiah berupa jas berbahan tenun ikat tradisional (yang langsung dikenakan Kang Jalal). Tetapi yang terbanyak adalah yang tidak memberikan hadiah apapun, kecuali sekedar ucapan selamat. Salah satu di antaranya, saya.

Setelah memotong kue ulang tahun.

Mendapat ucapan selamat dari sobat seperjuangan

Lalu shalawat pun dilantunkan oleh hadirin, dengan suara rendah, penuh khidmat dan rasa hormat. Shalawat bagi pimpinan umat, Rasulullah Muhammad SAWW. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad, wa-aali  Muhammad (Ya Allah, limpahkanlah shalawat bagi Muhammad, dan keluarga Muhammad). Dan, beberapa saat menjelang acara tiupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun, hadirin menyanyikan lagu Happy Birthday, bersama-sama.

Acara belum berakhir sampai di situ, karena masih ada ceramah atau renungan ulang tahun, yang disampaikan sang empunya hajat, K.H. Jalaluddin Rakhmat. Ceramahnya adalah tentang makna kematian, dan tentang bagaimana kita menghadapi dan mempersiapkan kematian. Ulang tahun, menurut Kang jalal, sebenarnya merupakan pertanda bahwa kita semakin mendekati kematian. Karena usia kita, hakikatnya, semakin berkurang, bukan bertambah.

Kematian adalah sesuatu yang sangat pasti akan ditemui makhluk hidup, sebagai bagian dari kehidupannya. Itu sebabnya, kata Kang Jalal, manusia sebagai makhluk hidup harus senantiasa mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, kita semakin menghormati kehidupan. Kalimat terakhir itu dikutipnya dari ucapan salah seorang filsuf eksistensialis Jerman, Martin Heidegger.

Berceramah tentang makna kematian.

Mengutip Martin Heidegger.

Jalaluddin Rakhmat, yang pernah menulis buku: Memaknai Kematian (terbitan: Pustaka Iman), lalu melanjutkan bahwa lantaran kematian itu sesuatu yang pasti, kita tidak hanya dituntut mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Tetapi juga, kalau bisa, memilih cara kematian itu terjadi. Cara kematian yang terhormat, punya makna bagi kehidupan orang lain. Bukan kematian yang sia-sia dan tidak bermakna, seperti kematian seorang pengecut. “Berani menghadapi kematian, sama artinya dengan berani menantang kehidupan,” ujar Kang Jalal.

Puasa sebagai Latihan Memaknai Kematian.

Kang Jalal tak lupa mengaitkan makna kematian dengan ibadah puasa Ramadhan, karena ulang tahunnya kali ini hanya selang beberapa hari menjelang Ramadhan. Ibadah puasa, menurut Kiyai Pluralis ini, bisa menjadi sarana untuk mengingat kematian, baik kematian kita sendiri maupun kematian orang lain.

Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama beribadah puasa, akan mengingatkan kita betapa menderitanya orang-orang yang kelaparan di sekitar kita. Di antara para penderita kelaparan itu, tak sedikit yang akhirnya menemui kematian, lantaran lapar yang tak tertahankan. Dengan demikian, kita semakin menyadari betapa berharganya kehidupan yang sedang kita jalani. Kita pun lalu tergerak untuk menolong orang-orang lapar, fakir-miskin, anak-anak yatim, para mustadh’afin. Menolong mereka dari kematian yang sia-sia.

K.H. Jalaluddin Rakhmat, yang sebagian besar kesibukannya dibaktikan untuk mendampingi kaum mustadh’afin itu, mengajak hadirin yang ikut merayakan ulang-tahunnya, agar mengisi bulan Ramadhan dengan menolong fakir-miskin dan anak yatim. Meskipun hanya sekedar memberi mereka makan, membebaskan mereka dari kelaparan.

Bersama seorang kiyai dari Jawa Timur.

Acara ulang tahun Kang Jalal ke-59 itu, kemudian diakhiri dengan membagi-bagi kue ulang tahun kepada seluruh hadirin. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 3:00 menjelang subuh. Udara dingin semakin merasuk tulang. Untungnya ada kambing guling yang bisa sedikit menghangatkan tubuh, yang disantap hadirin sambil mengitari seonggok api unggun.

Selamat ulang tahun, Kang Jalal. Semoga panjang usia dan sehat senantiasa. Umat masih membutuhkan Anda. Semoga tahun depan dan tahun depannya lagi kita masih bisa merayakan ulang tahun Anda bersama-sama. Seraya mempersiapkan hari-hari kematian kita. Seraya menjalani proses penyucian dosa, dengan menolong kaum papa yang tak punya daya. Semoga.

Billy Soemawisastra

Selasa, 2 September 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Eksplorasi Diri, Inspirasi, Prominensia, Refleksi | , , , , , | 4 Komentar

SD Harintha, Pencetus Meditasi Hening

Guru meditasi itu telah berpindah ke lain dimensi. Pada dimensi sebelumnya, dimensi fana, Sang Guru hidup dalam kondisi yang serba kekurangan. Berpindah-pindah dari satu rumah petak ke rumah petak lainnya, yang biaya sewanya lebih murah. Tetapi tak pernah sedikit pun Sang Guru mengeluhkan nasibnya. Bahkan sebaliknya, ia selalu mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta, dan menerima segalanya dengan penuh keikhlasan. “Maturnuwun, Gusti. Sumonggo Kerso,” begitu ucapnya selalu.

Berpindah ke lain dimensi, seperti itulah Sang Guru memaknai kematian. Perpindahan Sang Ruh dari alam fana yang diliputi berbagai keinginan, menuju alam baqa yang suwung, bebas dari segala keinginan. Di alam suwung itu yang ada hanya keheningan. Tanpa bentuk. Tanpa rupa. Tanpa warna. “Itulah frekuensi Illahi, yang sebenarnya bisa kita capai selagi kita berada di alam fana, melalui latihan meditasi tanpa henti,” ujarnya.

SD Harintha (1932-2007)

Sang Guru itu bernama Suratno Dharmo Harintha (ia lebih suka menyingkat namanya sebagai SD Harintha). Lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 13 Januari 1932. Dialah yang pertama kali mencetuskan Meditasi Hening, praktek meditasi dengan metode dekonsentrasi. Meditasi tersebut, konon merupakan warisan leluluhurnya: Pangeran Sambernyawa, pendiri Dinasti Mangkunegaran.

Pertama kali saya mengenalnya sekitar tahun 1989. Waktu itu saya masih bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Majalah SARTIKA, majalah kesehatan jantung yang diterbitkan oleh Grup Bustanil Arifin (mantan Kabulog di zaman Soeharto). Salah seorang wartawan saya, Iskandar Sultoni, menyodorkan tulisannya tentang Meditasi Hening, yang menurutnya, bisa dijadikan sebagai alternatif cara mengendalikan stres.

Sebagai pengelola majalah kesehatan jantung, tentu saja saya menilai tulisan semacam itu memang layak dimuat. Terutama karena stres, merupakan salah satu faktor resiko utama serangan jantung koroner. Tetapi secara pribadi, saat itu saya tidak tertarik dengan Meditasi Hening. Meski saya pun sependapat dengan Iskandar Sultoni bahwa tulisannya akan sangat bermanfaat bagi para pembaca, yang sebagian besar adalah anggota Klub Jantung Sehat Yayasan Jantung Indonesia.

Sekitar setahun kemudian, ketika saya tengah membolak-balik nomor-nomor majalah yang pernah kami terbitkan, saya tertumbuk pada tulisan Iskandar Sultoni tentang Meditasi Hening. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin berkenalan dengan SD Harintha, pencetus Meditasi Hening, yang amat dikagumi teman saya itu. Saya pun mengajak Iskandar untuk berkunjung ke rumah orang tua tersebut.

Dengan sangat antusias, Iskandar mengantarkan saya ke tempat kediaman sekaligus tempat praktek Pak Harintha, di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Di sana saya menemukan orang tua yang sangat sederhana. Penuh kebapakan. Tutur katanya lemah lembut, dan sorot matanya memancarkan semangat hidup yang amat tinggi.

Sejak itu terjadilah dialog intens antara saya dengan beliau, tentang konsep Meditasi Hening. Konsep meditasi yang digalinya dari budaya Jawa, yang selalu menekankan inward looking, dan upaya mengendalikan keinginan.

Banyak kesamaan antara konsep Meditasi Hening yang diajarkan Pak Harintha, dengan konsep tasawufnya Al-Ghazali. Kebetulan, sedikit banyak saya pernah mengaji kitab-kitab Al-Ghazali, tatkala masih menjadi santri di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Sehingga, tentu saja, obrolan saya dengan Pak Harintha terasa semakin menarik.

Saya pun menjadi salah seorang murid Pak Harintha, hingga bertahun-tahun kemudian. Dan, ia tak pernah berubah. Meskipun kesulitan hidup menimpanya bertubi-tubi, ia tetap terlihat cerah, penuh semangat, tetapi juga penuh kepasrahan.

Dari Tanah Kusir ia pindah ke daerah Rawa Buaya, Cengkareng, lalu pindah lagi ke kawasan Pamulang, Tangerang, sampai akhir hayatnya. Semua itu ia lakukan karena Sang Guru Meditasi ini tidak memiliki rumah. Ia harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, untuk memperoleh rumah kontrakan yang lebih murah. Dan, tampaknya tidak pernah terpikir oleh Pak Harintha, untuk meminta bantuan para muridnya (yang sebagian besar orang kaya).

April 2007, Sang Guru jatuh sakit, dan sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa pekan, sampai akhirnya meninggal dunia. Meninggalkan tiga orang putra dan dua orang putri, yang kesemuanya sudah berkeluarga. Hanya keluarga inti dan salah seorang muridnya paling setia, Ibu Rossalia, yang mengantar jenazah beliau menuju peristirahatan terakhirnya di Wonogiri.

Lalu ke mana murid-muridnya yang lain? Banyak yang tidak tahu bahwa Sang Guru telah berpulang. Mungkin karena masih disibukkan untuk mengejar berbagai keinginan. Seperti saya, yang tidak pernah ada puasnya mengejar keinginan, sehingga sering lupa pada Pak Harintha yang telah mengajarri saya Meditasi Hening. Mengajari saya untuk mengendalikan keinginan. Saya pun, tidak menghadiri upacara pemakamannya.

Mungkin saya termasuk murid yang tidak peduli pada nasib Sang guru, terutama pada hari-hari terakhirnya. Tetapi sesungguhnya, rasa terima kasih saya kepada beliau, begitu besar dan tak ada habisnya hingga kini. Begitu banyak pencerahan yang beliau berikan kepada saya, Beliaulah yang mengajari saya secara konkret, cara-cara pengendalian diri. Beliaulah yang selalu mengingatkan saya akan keagungan Sang Pencipta, dan betapa kecilnya manusia di hadapanNya.

Saya tidak akan mengucapkan selamat jalan kepada beliau, karena beliau tidak pergi ke mana pun. Beliau, masih ada di sini. Hanya saja di lain dimensi.

Billy Soemawisastra.

[Foto SD Harintha: Iskandar Sultoni]

Minggu, 27 Juli 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Eksplorasi Diri, In Memoriam, Inspirasi, Meditasi, Refleksi | , , , | 11 Komentar