<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jagat Alit &#187; Eksplorasi Diri</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/category/eksplorasi-diri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 15:49:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jagatalit.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5b9d7a5193b11aa3dcc0a9dd2fd8c982?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Jagat Alit &#187; Eksplorasi Diri</title>
		<link>http://jagatalit.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jagatalit.com/osd.xml" title="Jagat Alit" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jagatalit.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ziarah ke Dasar Diri</title>
		<link>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 17:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Falsafah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Sukma]]></category>
		<category><![CDATA[Brasil]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Ksatria Templar]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[Santiago]]></category>
		<category><![CDATA[Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[The Pilgrimage]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1357</guid>
		<description><![CDATA[Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya, serta Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya). Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, The Pilgrimage, dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1357&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya <em>The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain</em>, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: </span><a href="http://jagatalit.com/?s=Paulo+Coelho+dan+Perjalanan+Hidupnya" target="_blank"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya</span></a><span style="color:#003366;">, serta </span><a href="http://jagatalit.com/?s=Paulo+Coelho%2C+Sang+Pendekar+Cahaya" target="_blank"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya</span></a><span style="color:#003366;">).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1381" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/coelho-pilgrimage02-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1381" title="coelho-pilgrimage02" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/coelho-pilgrimage021.jpg?w=149&h=225" alt="" width="149" height="225" /></a>Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, <em>The Pilgrimage</em>, dengan judul bahasa Indonesia:  <em>Ziarah</em>. Di negeri asalnya, buku ini diterbitkan pada 1987, bahkan mendahului <em>The Alchemist</em> yang telah lebih dulu populer di Indonesia. <a rel="attachment wp-att-1405" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/ziarah-gramedia-6/"><img class="alignright size-medium wp-image-1405" title="ziarah gramedia" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/ziarah-gramedia5.jpg?w=149&h=225" alt="" width="149" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ketika Paulo Coelho menerbitkan <em>The Pilgrimage</em> dan <em>The Alchemist</em>, ia nyaris putus asa karena buku-buku tersebut hanya dibaca sedikit orang. Namun setelah terbit novelnya berjudul <em>Brida</em> (yang langsung meledak di pasaran) pada 1990, <em>The Pilgrimage</em> dan <em>The Alchemist</em> ikut terdongkrak, bahkan popularitasnya mengalahkan <em>Brida</em>. Dalam bahasa aslinya (Portugis) novel <em>The Pilgrimage</em> menggunakan judul: <em>O Diario de Um Mago</em> (Catatan Harian Seorang Pesulap).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1384" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/pilgrimage-original/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1384" title="Pilgrimage-original" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/pilgrimage-original.jpg?w=144&h=225" alt="" width="144" height="225" /></a>Meski ada jarak waktu yang cukup jauh (24 tahun) antara penerbitannya dalam bahasa Portugis dengan penerbitannya dalam bahasa Indonesia, pesan-pesan yang disampaikan Paulo Coelho melalui novel <em>The Pilgrimage</em> (<em>Ziarah</em>) masih tetap relevan dengan  kondisi masa kini. Terutama bagi peminat spiritualisme lintas agama, yang dengan sadar meniadakan batas-batas antar-agama walau tetap memeluk agama yang diyakininya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bagi Paulo Coelho sendiri, <em>The Pilgrimage</em> mempunyai arti yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Novel ini merupakan pengalaman pribadinya yang ia tulis setahun setelah melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago. Seperti juga novelnya <em>The Zahir</em>, <em>The Pilgrimage</em> mengungkapkan pencerahan-pencerahan yang ia peroleh pada awal-awal karirnya sebagai penulis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;">Road to Santiago</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Road to Santiago atau Perjalanan Menuju Santiago adalah perjalanan ziarah yang biasa dilakukan umat Kristiani, khususnya penganut Katolik, sejak awal Masehi. Seperti Islam yang mewajibkan segenap umatnya untuk mengikuti Rasulullah Muhammad SAW yang berziarah dari Mekah ke Medinah &#8212; setidaknya sekali dalam seumur hidup, dalam ibadah haji &#8212; umat Kristiani sejak abad pertama Masehi juga dianjurkan menempuh tiga rute peziarahan yang dianggap suci. &#8220;Setiap rute,&#8221; tulis Coelho dalam <em>The Pilgrimage</em>, &#8220;memiliki berkah dan keuntungan tersendiri bagi mereka yang berjalan menempuhnya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1391" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago-map/"><img class="aligncenter size-large wp-image-1391" title="road to santiago map" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-map.jpg?w=350&h=350" alt="" width="350" height="350" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Peta Perjalanan Ziarah menuju Santiago.</em><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan ziarah pertama yang dianjurkan itu adalah perjalanan menuju pusara Santo Petrus di Roma (Vatikan). Para peziarah ke Roma disebut sebagai Pengembara, bersimbolkan salib. Yang kedua, ziarah ke makam suci Yesus Kristus di Yerusalem. Para peziarahnya disebut sebagai Pembawa Daun Palem, karena mereka membawa daun palem yang dulu digunakan orang untuk menyambut Yesus saat memasuki Yerusalem. Dan, yang ketiga, adalah perjalanan ziarah ke makam San Tiago. Orang yang menempuh jalan ini disebut sebagai Peziarah, dengan simbol kulit kerang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">San Tiago adalah salah seorang dari tiga murid Yesus (dua lainnya: Saint Peter dan Saint John) yang menjadi saksi kebangkitan Kristus. Di Inggris, San Tiago dikenal dengan nama Saint James, di Prancis Jacques, di Italia Giacomo, bahasa Latinnya Jacob, dan nama aslinya (dalam bahasa Aramaic) Yaakov ben Zehdi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">San Tiago dimakamkan di suatu tempat di Tanjung Iberia, di daerah Galicia, Barat Daya Spanyol. Menurut legenda, bukan hanya San Tiago yang dimakamkan di sana, tetapi juga Maria Sang Perawan kudus, yang pergi ke sana sesaat setelah kematian Yesus, dan mengajak orang-orang di tempat tersebut untuk bergabung dalam kerajaan Allah. Tempat itu kini dikenal sebagai Compostela, dan makam San Tiago berada di di Katedral Santiago de Compostela. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, dilakukan Paulo Coelho atas saran seseorang yang misterius, yang pertama kali bertemu dengannya di Dachau, di luar kota Munich, Bayern, Jerman, saat ia bersama isterinya, Christina Oiticica, mengadakan tur keliling Eropa. Orang itu bertemu lagi dengannya di suatu tempat di Amsterdam, dan pada saat itulah orang yang oleh Coelho hanya disebut Jean itu, menganjurkan agar Coelho kembali memperdalam Katolikisme, dan melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, untuk memperoleh pencerahan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1387" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1387" title="Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica</em>.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Namun berbeda dengan latar belakang yang ia ungkapkan dalam kisah sesungguhnya, di dalam novel <em>The Pilgrimage</em>, Coelho menguraikan bahwa keputusannya melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, adalah lantaran perintah dari Sang Guru. Sang Guru meminta Coelho melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, guna menemukan kembali pedangnya, yang sebenarnya nyaris diperolehnya dalam suatu ritual di salah satu puncak gunung di Brasil.</span></p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/"><img src="http://img.youtube.com/vi/diI2AFjy5BM/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Cuplikan video Paulo Coelho tentang perjalanannya ke Santiago.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Ordo Tradisi</strong><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Cerita diawali dengan upacara inisiasi di sebuah ordo esoterik, yang oleh Coelho disebut sebagai Ordo Tradisi, di suatu tempat bernama Itatiaia, di ketinggian puncak gunung Serra do Mar, yang termasuk dalam rangkaian pegunungan Agulhas Negras (Jarum Hitam) Brasilia. Upacara berlangsung malam hari, 2 Januari 1986.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Upacara itu, selain dihadiri isterinya dan empat orang lainnya (salah satunya  disebut Sang Guru) merupakan upacara penobatan Paulo Coelho untuk menjadi Guru Ordo RAM. Upacara diawali dengan penguburan benda pusaka, sebuah pedang yang sudah lama dimiliki Coelho dan sering digunakannya untuk berbagai ritual gaib.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Usai penguburan pedangnya yang lama, Paulo Coelho dihampiri Sang Guru seraya meletakkan pedang baru di atas tanah tempat pedang lama terkubur. Sang Guru kemudian menghunus pedangnya sendiri lalu menyentuhkan pedang itu ke dahi dan bahu Coelho, sambil berkata, &#8220;Dengan cinta dan kekuatan RAM, aku menahbiskanmu sebagai Guru Kesatria Ordo, sekarang hingga sepanjang hayatmu.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;R untuk <em>Rigor </em>(ketetapan),&#8221; lanjut Sang Guru. &#8220;A untuk <em>Adoration</em> (penyembahan) dan M untuk <em>Mercy </em>(welas asih); R untuk <em>Regnum</em>, A untuk <em>Agnus</em>, dan M untuk <em>Mundi</em>. Jangan biarkan pedangmu lama tersimpan dalam sarungnya, agar tidak berkarat. Dan saat kau menghunus pedangmu, janganlah kau memasukkannya kembali tanpa terlebih dulu menggunakannya untuk kebaikan, membuka jalan baru, atau menumpahkan darah musuh.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho pun kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang baru yang terletak di hadapannya. Namun ketika Coelho menyentuh sarung pedang dan bersiap menggenggamnya, tiba-tiba saja Sang guru menginjak jemarinya, dan dengan nada marah mengatakan bahwa ia belum berhak memiliki pedang itu karena ia sedang diliputi kesombongan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sang Guru meminta Coelho untuk berjuang kembali melakukan pencarian pedang tersebut mulai dari awal. Dan, melalui isterinya, Sang Guru berpesan agar Coelho membuka peta Spanyol, dan mencari rute perjalanan dari abad pertengahan, yang dikenal dengan Jalan Misterius menuju Santiago.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Masa Pencarian</strong><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Atas desakan isterinya, setelah cukup lama Coelho mempertimbangkan perintah Sang Guru, langkah pencarian pun dimulai. Jalan Misterius menuju Santiago itu terbentang sekitar 700 kilometer, dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga ke Katedral Santiago de Compostela di Spanyol. Perjalanan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, seperti yang dilakukan para peziarah di masa lalu. Tak tanggung-tanggung, ada sejumlah orang besar yang pernah melakukan perjalanan ziarah dengan rute tersebut, di antaranya Karel Agung, Santo Fransiskus dari Asisi, Isabella dari Castille, dan Paus Johannes Paulus XXIII.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1388" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago1/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1388" title="Road-to-Santiago1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago1.jpg?w=300&h=210" alt="" width="300" height="210" /></a><a rel="attachment wp-att-1389" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1389" title="road to santiago2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago2.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><a rel="attachment wp-att-1390" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago3/"><br />
</a><em>Para peziarah berjalan kaki menuju Santiago.</em><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dengan berjalan kaki, tentu saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu bagi para peziarah untuk sampai di tujuan. Kalau sempat, bisa menginap di desa-desa atau kota-kota kecil yang dilewati. Tetapi juga bukan tak mungkin para peziarah kemalaman di tengah hutan, di tengah gurun, bahkan di puncak gunung (karena ada beberapa gunung yang harus dilewati) bila tidak sempat mencapai desa terdekat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho pun berangkat menuju Saint-Jean-Pied-de-Port, dan menemui Mme Lourdes, seorang perempuan setengah baya, kuncen pintu gerbang menuju rute peziarahan. Dari Mme Lourdes, Coelho memperoleh kulit kerang, sebagai simbol para peziarah menuju Santiago. Namun Coelho bukanlah peziarah biasa yang akan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pemandu.  Coelho, harus ditemani seorang pemandu yang akan menemuinya di suatu tempat. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Singkat cerita, Coelho bertemu dengan sang pemandu, yang belakangan diketahui ternyata seorang disainer ternama dan termasuk orang terkaya di Italia. Ia juga seorang anggota partai komunis Italia dan &#8212; anehnya &#8212; seorang penganut Katolik yang &#8212; tentu saja &#8212; sangat taat. Pemandu itu, yang disebutnya Petrus (untuk menyamarkan nama aslinya) tak hanya bertugas memandu (menunjukkan) rute perjalanan, tetapi juga berfungsi sebagai guru spiritual Coelho, yang akan mengajari Coelho berbagai hal yang bersifat batiniah. Mengarahkan Coelho untuk memandang hidup ini dengan penuh kasih tanpa batas. Penuh optimisme. Tanpa kekhawatiran dan ketakutan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho harus menjalani serangkaian latihan fisik. Terutama tahapan-tahapan latihan RAM, semacam latihan olah nafas dan olah tubuh, guna mengajari tubuh dan jiwa menyatu dengan semesta. Ia bahkan harus menyelam di sungai yang dalam, kemudian naik ke atas air terjun yang sangat membahayakan jiwanya. Coelho tidak boleh membantah perintah sang pemandu, meskipun berlawanan dengan akal sehat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di perjalanan, berkali-kali Coelho bertemu dengan seekor anjing hitam, yang menurut Petrus, adalah jelmaan iblis bernama Legiun. Coelho harus mengalahkan sang iblis yang ada dalam diri anjing itu, sehingga terjadilah pertempuran fisik antar-keduanya. Pertempuran itu dimenangkan Coelho walaupun dengan tubuh yang penuh luka akibat gigitan dan cakaran anjing. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Namun setelah berhasil mengalahkan anjing, iblis Legiun yang semula berada di tubuh binatang tersebut berpindah ke tubuh Coelho. Untungnya Coelho berhasil mengusir iblis itu dari tubuhnya, dan Coelho pun terbebas dari pengaruh iblis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho melukiskan perjalanan menuju Santiago itu dengan sangat detail. Para pembaca diajaknya menyusuri tempat-tempat yang indah. Ladang-ladang gandum yang membentang sepanjang mata memandang, padang-padang pasir yang berdebu, hutan sabana dan stepa, menyusuri pegunungan Pyrenees, mendaki dan menuruni tebing dan lembah. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1392" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago-5/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1392" title="road to santiago 5" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-5.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Ladang gandum sepanjang mata memandang</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di sepanjang jalan, Petrus sang pemandu selalu mengajaknya berdiskusi tentang segala hal. Mulai dari obrolan-obrolan teologis sampai hubungan antar-manusia. Dalam setiap diskusi yang dilakukannya, Petrus selalu menekankan agar Paulo Coelho berupaya mencapai <em>agape</em>, yakni cinta kasih kepada seluruh manusia, tanpa batas cakrawala.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Berbagai desa disinggahinya, seperti desa Roncesvalles, tempat gereja Collegiate yang didirikan oleh Kaisar Karel Agung berabad-abad silam, atas sumbangan para raja Jerman, Spanyol, Portugal dan Prancis. Kemudian desa Puente de la Rena, tempat sejumlah biarawan Katolik mengabdikan diri. Adapun kota-kota yang dilewatinya antara lain Logrono, Pamplona, Santo Domingo de la Calzada, dan Ponferrada, kota tempat Petrus sang pemandu, akhirnya meninggalkan Coelho.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1394" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/santiago_de_compostela-2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1394" title="santiago_de_compostela" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/santiago_de_compostela1.jpg?w=300&h=198" alt="" width="300" height="198" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Kathedral Santiago de Compostela</em>.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di Ponferrada, menjelang perpisahannya dengan Coelho, Petrus mengajaknya berbincang-bincang untuk terakhir kali di sebuah stasiun kereta api yang penuh lokomotif dan oli. Mengapa harus di stasiun kereta api? &#8220;Jalan menuju Santiago akan segera berakhir,&#8221; ujar sang pemandu, &#8220;dan karena kehidupan nyata kita lebih mirip jalur kereta api ini, yang berbau oli, daripada pedesaan yang kita jumpai sepanjang perjalanan, lebih baik kita berbincang di sini.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Petrus pun kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai hal yang telah dilalui Paulo Coelho sepanjang perjalanan, dan makna-makna kehidupan yang berada di baliknya. &#8220;Jika kau berhasil mendapatkan pedangmu, kau harus mengajarkan Jalan menuju Santiago ini kepada orang lain. Dan jika hal ini terjadi &#8212; saat kau menerima peranmu sebagai Guru &#8212; kau baru akan menemukan jawaban yang terdapat di hatimu.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Semua orang sebenarnya tahu jawabannya,&#8221; lanjut Petrus, &#8220;bahkan saat belum ada orang memberitahukannya kepada kita. Kehidupan memberikan pengetahuan kepada kita setiap waktu, dan rahasianya adalah menerima bahwa hanya dalam kehidupan sehari-hari saja kita akan mampu sebijak Sulaiman dan seperkasa Iskandar Agung. Namun kita baru akan menyadari hal ini hanya saat kita terpaksa mengajari orang lain dan terlibat dalam petualangan luar biasa seperti sekarang.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tak lama kemudian Petrus pun pergi meninggalkan Paulo Coelho. Ia hanya sekali saja bertemu lagi untuk terakhir kalinya, di Kastil Ksatria Templar di kota Ponferrada, dalam sebuah ritual. Namun tanpa bertegur sapa. Sejak itu, Coelho melanjutkan perjalanannya sendiri menuju Katedral Santiago de Compostela untuk menemukan pedangnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dalam kesendirian, di sebuah puncak gunung bernama El Cebrero, Coelho semakin menyadari bahwa Perjalanan Ziarah menuju Santiago yang hampir diselesaikannya itu, tak semata untuk mencari pedang. Melainkan untuk merasakan penderitaan dan sekaligus kebahagiaan umat manusia sekecil apapun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Latihan-latihan fisik yang dilaluinya, seperti memindahkan kayu salib yang sangat berat dengan tangan penuh luka. Kemudian mengubur hidup-hidup dirinya di pegunungan dalam kegelapan malam, tak lain untuk merasakan betapa beratnya kehidupan sebagian besar umat manusia, dan betapa dekatnya kematian dalam hidup kita.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di tengah penderitaan itu, betapa banyak manusia yang tetap bersyukur meskipun kebahagiaan yang didapatnya sangat sedikit. Sebagai seorang calon Guru dari Ordo Tradisi, ia mempunyai tugas untuk mengajarkan makna kehidupan dan bagaimana kehidupan itu harus dijalani tanpa ketakutan, seraya menebarkan <em>agape</em>, cinta kasih kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kehidupan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di keheningan puncak gunung El Cebrero, Paulo Coelho bersimpuh dan berbicara kepada Sang Pencipta: &#8220;Aku berjalan ribuan kilometer untuk menemukan hal yang sebenarnya telah kuketahui jawabannya, hal yang kita semua tahu tapi sangat sulit menerimanya. Apakah ada hal yang lebih sulit, oh Tuhan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan kekuatan itu? Rasa sakit yang kini mendera dadaku, yang membuat aku tersedu dan anak domba itu ketakutan, sesungguhnya telah dirasakan sejak pertama kali manusia ada di dunia.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Hanya beberapa yang mampu menahan beban kemenangan ini,&#8221; lanjut Coelho, &#8220;kebanyakan merelakan impian mereka saat mereka merasa impian itu dapat terwujud. Mereka menolak untuk bertempur sepenuh tenaga karena mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan kebahagiaan yang mereka raih; mereka terpenjara dalam benda-benda material di dunia. Seperti aku dulu, yang ingin mendapatkan pedangku tanpa tahu apa yang akan kulakukan dengannya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Usai berdo&#8217;a, Coelho bergerak perlahan menuruni lereng menuju sebuah dusun yang juga bernama El Cebrero, bersama anak domba yang sejak tadi menemaninya. Di sana ada sebuah kapel yang kemudian dimasukinya. Di kapel itu, ternyata Sang Guru telah menunggunya di depan altar dengan sebilah pedang di tangan, sambil berseri penuh kebanggaan. Pedang itu, diserahkannya kepada Paulo Coelho, dengan penuh keikhlasan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan Coelho sudah selesai dengan diterimanya kembali pedang tersebut. Ia hanya tinggal melaksanakan ritual terakhir yakni berziarah ke makam San Tiago di Katedral Santiago de Compostela. Perjalanan Ziarah menuju Santiago, hakikatnya merupakan perjalanan ziarah ke dasar diri, dan Coelho, telah melakukannya dengan baik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bagi para penggemar novel-novel <em>thriller</em>, novel-novel Paulo Coelho, termasuk <em>The Pilgrimage</em>, memang akan terasa membosankan, karena isinya merupakan renungan demi renungan. Tetapi bagi para peminat spiritualisme, novel-novel Coelho akan terasa seperti oase di tengah kegersangan padang pasir. Menyejukkan dan melegakan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dan, para peminat spiritualisme ini ternyata semakin meningkat jumlahnya. Terbukti dari selalu larisnya novel-novel spiritual Paulo Coelho. Para penggemarnya berada di seantero dunia, dengan beragam agama.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1357&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/coelho-pilgrimage021.jpg?w=149" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-pilgrimage02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/ziarah-gramedia5.jpg?w=149" medium="image">
			<media:title type="html">ziarah gramedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/pilgrimage-original.jpg?w=144" medium="image">
			<media:title type="html">Pilgrimage-original</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-map.jpg?w=350" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago map</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Road-to-Santiago1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/santiago_de_compostela1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">santiago_de_compostela</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mensyukuri Musibah: Mampukah?</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/11/30/mensyukuri-musibah-mampukah/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/11/30/mensyukuri-musibah-mampukah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Sukma]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,&#8221; kata Adhi dengan wajah berseri. &#8220;Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?&#8221; &#8220;Adhi, itu bukan ceritaku.&#8221; Begitu timpalku. &#8220;Tapi itu &#8216;kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1143&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,&#8221; kata Adhi dengan wajah berseri. &#8220;Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Adhi, itu bukan ceritaku.&#8221; Begitu timpalku. &#8220;Tapi itu &#8216;kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para Wali Allah atau para Kekasih Allah sesungguhnya tidak pernah merasa takut, khawatir ataupun berduka cita sepanjang hidupnya, lantaran mereka selalu berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khalik.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Saya tahu itu. Dan, seperti para beliau,  saya juga telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah,&#8221; ujar Adhi dengan wajah yang tetap sumringah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sudah biasa saya mendengarkan celoteh Adhi tentang berbagai keresahan religiusitasnya. Tentang gugatannya terhadap Tuhan, yang menurutnya tidak pernah adil. Tentang berbagai ajaran agama, yang menurutnya tidak pernah memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Tentang berbagai kisah para Nabi yang menurutnya hanya dongeng pengantar tidur belaka. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya selalu mendengarkan celotehnya dengan sabar, dan saya tidak pernah mendebatnya. Buat apa? Dia pernah mengecap pendidikan pesantren seperti saya, dan bahkan di pesantren yang sama. Dia pernah mengenyam pendidikan di sebuah fakultas teologi, yang &#8212; <em>ndilalah</em> &#8212; merupakan fakultas saya juga, dulu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya merasa hanya buang-buang waktu saja kalau saya berdebat dengannya, karena dia tahu betul argumen yang akan saya bangun untuk mendebatnya. Kata para dukun, seguru seilmu janganlah saling ganggu. Jadi, saya pun tidak pernah &#8220;mengganggu&#8221; pikiran-pikirannya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tetapi kedatangannya hari itu benar-benar berbeda. Wajahnya tidak sekusut biasanya. Tidak ada gugatan terhadap Tuhan, seperti yang biasa disampaikannya. Adhi kelihatan sangat gembira. Padahal, ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah sekitar dua pekan menginap di sana.  Dua pekan sebelumnya, ia menjalani operasi usus tahap pertama. Ada kanker ganas dalam stadium lanjut menggerogoti ususnya. Kata dokter, Adhi tinggal &#8220;menunggu waktu&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Saya sudah siap,&#8221; kata Adhi. &#8220;Saya sudah berterimakasih padaNya. Saya berterimakasih atas kanker yang diberikanNya kepada saya. Saya berterimakasih karena sayalah yang telah dipilihNya untuk menikmati penderitaan ini. Saya berterimakasih karena saya telah diajariNya untuk bersyukur. Bersyukur tidak hanya karena kenikmatan hidup yang telah dilimpahkanNya kepada saya. Tetapi juga karena penyakit yang kini menggerogoti tubuh saya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Seperti biasa, saya terdiam mendengarkan celotehnya. Ternyata itu merupakan celotehnya terakhir. Sepekan setelah itu, Adhi berpulang tanpa pamit. Dan, ia memang tidak perlu pamit kepada siapapun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tentu saja saya tidak pernah bertemu lagi dengan Adhi, bahkan dalam mimpi. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pada pelajaran konkret yang disampaikannya sebelum pergi: berterimakasihlah selalu padaNya, termasuk atas musibah yang diberikanNya. Mampukah saya? Rasanya, tidak.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1143&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/11/30/mensyukuri-musibah-mampukah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-sang-pendekar-cahaya/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-sang-pendekar-cahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:35:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Prominensia]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[The warrior knows that the most important words in all languages are the small words. Yes. Love. God. (Paulo Coelho) Sudah lama saya ingin menulis tentang Paulo Coelho. Tetapi saya tak pernah bisa menentukan, dengan kalimat apa saya harus memulainya. Orang ini “terlalu besar” buat saya. Di usianya yang sudah tergolong tua &#8212; dilahirkan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=519&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-737" title="paulo-coelho-desert-in-the-gulf" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho-desert-in-the-gulf.jpg?w=300&h=225" alt="paulo-coelho-desert-in-the-gulf" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">The warrior knows </span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">that the most important words in all languages</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;"> are the small words. </span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">Yes. Love. God. </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em></em><strong><span style="font-family:Georgia;">(</span><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho</span></strong><strong><span style="font-family:Georgia;">)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Sudah lama saya ingin menulis tentang Paulo Coelho. Tetapi saya tak pernah bisa menentukan, dengan kalimat apa saya harus memulainya. Orang ini “terlalu besar” buat saya. Di usianya yang sudah tergolong tua &#8212; dilahirkan di Rio de Janeiro, Brazil, 1947 – ia justru semakin produktif. Sudah belasan novel spiritual yang ditulisnya, dan novel-novel itu telah diterjemahkan ke sekitar 56 bahasa di dunia. Beberapa novel hasil karyanya menjadi <em>best seller</em>s internasional, dan terjual dalam puluhan juta <em>copy</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Jumlah penggemarnya mencapai puluhan juta orang, tersebar di sekitar 150 negara. Novel-novel yang ditulisnya telah memberikan inspirasi bagi puluhan juta pembacanya, karena umumnya berisi renungan tentang kehidupan. Renungan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup, menyiasati takdir, dan berhubungan dengan sesama manusia dengan landasan Cinta. Bahkan lebih jauh dari itu, dalam berbagai novelnya, Paulo Coelho selalu menyiratkan bahwa hidup yang dianugrahkan Tuhan harus senantiasa disyukuri, dengan cara menjalani hidup secara ikhlas dan sebaik-baiknya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Nuansa spiritual yang diwarnai ajaran berbagai agama (terutama agama-agama Timur Tengah), terasa sangat kental dalam novel-novelnya seperti </span></span><em><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">The Alchemist, The </span></span><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> Pilgrimage, The Zahi</span></span></em><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><em>r</em>, dan <em>The Fifth Mountain</em>. Ada juga novel-novel psikologis seperti <em>Brida, Veronika Dicides to Die, Eleven Minutes, The Devil and Miss Prym</em>, atau <em>By the River Piedra I Sat Down and Wept. </em>Kesemua novelnya berisi renungan tentang kehidupan, meski masing-masing novelnya ditulis dengan gaya penuturan dan <em>angle</em> yang berbeda.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="size-medium wp-image-688 aligncenter" title="coelho-lagi3" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi3.jpg?w=300&h=210" alt="coelho-lagi3" width="300" height="210" /><img class="alignnone size-medium wp-image-689" title="paulo-coelho-memanah" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho-memanah.jpg?w=300&h=199" alt="paulo-coelho-memanah" width="300" height="199" /><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tetapi Paulo Coelho bukan “hanya” seorang novelis. Ia juga seorang penutur kebijakan atau pendakwah lintas agama. Dakwah-dakwahnya bisa dilihat melalui berbagai situs <em>online</em> yang ia miliki, seperti </span><span style="font-family:Georgia;"><a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">paulocoelhoblog.com</a> dan <a href="http://www.warriorofthelight.com/">www.warriorofthelight.com.</a> Berikut, salah satu renungan spiritualnya, pada <a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">http://paulocoelhoblog.com</a>:<br />
</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Pilgrimage is a duty in Muslim and Christian religions, do you think that’s the plan of God for human beings to actually travel in their souls? </span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;">We are all on a pilgrimage whether we like it or not and the target, or goal, the real Santiago, if you like, is going from birth to death. You must get as much as you can from the journey, because &#8211; in the end &#8211; the journey is all you have. It doesn’t matter what you accumulate in terms of material wealth, because you are going to die anyway, so why not live? When you realize that you can be brave and that is the first tenant of any spiritual quest &#8211; to take risks.</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Jika Paulo Coelho Blog berisi renungan harian yang di-<em>update</em> setiap hari dengan berbagai isu keseharian, Warrior of the Light berisi renungan yang lebih mendalam dan di-<em>update</em> secara bulanan. Renungan-renungan itu biasanya dilengkapi kutipan ajaran-ajaran spiritual, yang berasal dari khasanah berbagai agama dan kebudayaan, termasuk kata-kata bijak dari para Sufi. Sesuai dengan nama situsnya &#8212; Warrior of the Light atau Pendekar Cahaya &#8212; melalui situs ini Coelho bermaksud mengajak semua orang untuk selalu mencari Cahaya Kebenaran dalam hidupnya. Dan, Cahaya Kebenaran itu, sudah ada tuntunannya dalam berbagai kebudayaan dan agama.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-690" title="coelho1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho1.jpg?w=300&h=200" alt="coelho1" width="300" height="200" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-691" title="coelho3" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho3.jpg?w=300&h=200" alt="coelho3" width="300" height="200" /></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Melalui Warrior of the Light maupun Paulo Coelho Blog, sang mestro ini seakan ingin mengatakan bahwa semua agama hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni mengagungkan Tuhan dan menghormati kehidupan (baik kehidupan diri kita sendiri maupun kehidupan orang lain). Sehingga agama tidak perlu saling dipertentangkan, karena masing-masing memiliki kebenaran (yang hakikatnya, sama). Berikut, salah satu <em>postingan</em> Paulo Coelho, dalam Warrior of the Light, dengan topik <em>The Languanges that God Speaks</em>:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Below are some of those prayers:</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
<strong><span style="font-family:Georgia;">Dhammapada (attributed to Buddha)</span></strong><strong><br />
</strong><strong></strong>Instead of a thousand words,<br />
Better just one,<br />
One that brings peace.<br />
Instead of a thousand verses,<br />
Better just one,<br />
One that shows beauty.<br />
Instead of a thousand songs,<br />
Better just one,<br />
One that spreads joy.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Mevlana Jelaluddin Rumi, 13th century</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
Out there, besides what is right and what is wrong, there is an enormous field.<br />
That is where we will meet.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Prophet Mohammed, 7th century</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
<strong></strong></span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;">Oh Allah! I come to you because you know all, even what is hidden.<br />
If what I am doing is good for me and my religion, for my life now and later, then let the task be easy and blessed.<br />
If what I am doing now is bad for me and my religion, for my life now and later, then keep me far from this task.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Jesus of Nazareth, Matthew 7;7-8</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
Ask, and it shall be given you;<br />
seek and you shall find;<br />
knock, and it shall be opened unto you:<br />
For every one that asks receives;<br />
and he that seeks finds:<br />
And to him that knocks,<br />
it shall be opened.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Jewish prayer for peace</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"> We shall go the mountain of the Lord, where we shall walk with Him. We shall change our swords into plows and our spears into baskets for harvesting fruit.<br />
Let no nation raise its sword against another, and let us never learn the art of war. And no-one should fear his neighbor, because thus spoke the Lord.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Lao Tsu, China – 6th century B.C.</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
For there to be peace in the world, the nations must live in peace.<br />
For there to be peace among nations, cities must not rise up against one another. For there to be peace in the cities, neighbors must get on well with one another. For there to be peace among neighbors, harmony must reign in the home. For there to be harmony at home, it must be found in your own heart.</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-full wp-image-686" title="warrior-of-the-light-online" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/warrior-of-the-light-online.jpg?w=470" alt="warrior-of-the-light-online"   /></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho, tampaknya sangat menyadari keampuhan media internet. Sehingga ia pun memanfaatkan jaringan sosial <em>online</em> seperti Facebook. Di Facebook, ia bisa ditemui melalui <a href="http://www.facebook.com/home.php?#/group.php?gid=2391842607" target="_blank">Paulo Coelho Fans Club</a>, halaman khusus <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=5383259567#/pages/Paulo-Coelho/11777366210" target="_blank">Paulo Coelho</a> dan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=5383259567" target="_blank">The Best of Paulo Coelho</a>. Meski jaringan ini dikelola oleh para penggemarnya, Coelho sering pula menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan para penggemarnya melalui Facebook. Induk dari semua situs milik Paulo Coelho, adalah <a href="http://www.paulocoelho.com/">www.paulocoelho.com</a>. Tentu saja Coelho tidak sendirian mengelola situs-situsnya. Ada pekerja khusus yang menanganinya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Melalui situs-situs tersebut, kita juga bisa mengetahui kegiatan harian sang maestro. Jadwalnya sangat padat. Hampir setiap hari, Coelho memberikan ceramah di berbagai negara. Ceramah-ceramahnya bisa diakses melalui <a href="http://www.paulocoelho.com.br/engl/index.html" target="_blank">You Tube</a>, dan foto-fotonya bisa diunduh melalui <a href="http://www.paulocoelho.com.br/engl/index.htm" target="_blank">www.flickr.com</a>. Termasuk kata-kata bijaknya yang dikemas dalam format JPEG. Selain dalam bahasa Inggris, situs-situs ini tersedia dalam bahasa-bahasa lainnya seperti Portugis, Spanyol, Itali, Prancis, Belanda, Jerman, Polandia, Arab, Rusia, Cina, Persia. Sayangnya, belum ada yang berbahasa Indonesia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-741" title="coelho-lagi1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi1.jpg?w=470" alt="coelho-lagi1"   /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho, tidak hanya bicara soal cinta dan kemanusiaan. Anjuran-anjurannya kepada semua orang agar peduli pada nasib sesama, juga diwujudkan dalam bentuk kongkret. Pada 1996, ia mendirikan Paulo Coelho Intitute. Sebuah lembaga nirlaba yang juga bernama Creche Escola Meninos da Luz, Lar Paulo de Tarso. Lembaga sosial yang berpusat di Rio de Janeiro, Brazil, itu menampung dan menghidupi ratusan anak terlantar dan orang-orang lanjut usia, hingga sekarang. Biaya pengelolaannya berasal dari <em>royalties</em> buku-buku yang ditulis Paulo Coelho. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-full wp-image-694" title="coelho-institute2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-institute2.jpg?w=470" alt="coelho-institute2"   /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Dalam usianya yang semakin tua, Paulo Coelho tampaknya tak pernah kehabisan gagasan. Semangat hidupnya semakin tinggi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang selalu diajaknya untuk menjadi pendekar cahaya, pencari kebenaran. Sementara bagi orang-orang yang tidak mampu, Coelho berupaya membantu mereka agar dapat melihat cahaya kehidupan. Cahaya yang dianugerahkan Sang Pencipta. Berlebihankah saya, bila saya mengatakan bahwa Paulo Coelho adalah seorang Sufi modern?</span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;">Billy Soemawisastra</span></strong></span></p>
<h5 style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;"><span style="color:#003366;"><em>[Sumber tulisan dan foto:<a href="http://www.paulocoelho.com/" target="_blank"> www.paulocoelho.com</a>, <a href="http://www.warriorofthelight.com/" target="_blank">www.warriorofthelight.com</a>, <a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">paulocoelhoblog.com</a>]</em></span></span></strong></span></h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=519&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-sang-pendekar-cahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho-desert-in-the-gulf.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-coelho-desert-in-the-gulf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-lagi3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho-memanah.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-coelho-memanah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/warrior-of-the-light-online.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">warrior-of-the-light-online</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-lagi1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-institute2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-institute2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Renungan Paulo Coelho</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/12/09/beberapa-renungan-paulo-coelho/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/12/09/beberapa-renungan-paulo-coelho/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:13:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=696</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=696&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-697 aligncenter" title="coelho-lagi5" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi5.jpg?w=470" alt="coelho-lagi5"   /></p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-698" title="renungan-coelho11" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho11.jpg?w=301&h=301" alt="renungan-coelho11" width="301" height="301" /></p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-699 aligncenter" title="renungan-coelho2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho2.jpg?w=303&h=303" alt="renungan-coelho2" width="303" height="303" /><img class="size-medium wp-image-700 aligncenter" title="renungan-coelho3" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho3.jpg?w=301&h=301" alt="renungan-coelho3" width="301" height="301" /><img class="size-medium wp-image-701 aligncenter" title="paulo-coelho2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho2.jpg?w=301&h=414" alt="paulo-coelho2" width="301" height="414" /><img class="size-medium wp-image-702 aligncenter" title="renungan-coelho4" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho4.jpg?w=301&h=301" alt="renungan-coelho4" width="301" height="301" /><img class="aligncenter size-full wp-image-703" title="renungan-coelho5" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho5.jpg?w=470" alt="renungan-coelho5"   /><img class="size-full wp-image-705 alignnone" title="renungan-coelho61" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho61.jpg?w=470" alt="renungan-coelho61"   /><img class="aligncenter size-full wp-image-706" title="renungan-coelho7" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho7.jpg?w=470" alt="renungan-coelho7"   /><img class="aligncenter size-medium wp-image-707" title="paulo-coelho1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho1.jpg?w=301&h=406" alt="paulo-coelho1" width="301" height="406" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=696&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/12/09/beberapa-renungan-paulo-coelho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-lagi5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho2.jpg?w=219" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-coelho2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho61.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho61</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho1.jpg?w=222" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-coelho1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaafkan dan Mengampuni</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/09/30/memaafkan-dan-mengampuni/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/09/30/memaafkan-dan-mengampuni/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 07:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vincent Hakim Roosadhy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengampunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya? Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, dan menyengsarakan kita lahir batin. Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa mengatakan pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=467&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, dan menyengsarakan kita lahir batin.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa mengatakan pada saya, bahwa beban hidup yang amat berat (nyaris tak tertanggungkan) akan dialami oleh orang yang tidak mampu memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Seorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, biasanya ia juga akan mudah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan sekecil apa pun. Beban berat orang yang tidak mampu memberikan maaf dan pengampunan, akan menjadi beban jiwa. Beban jiwa yang berat akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Baik raga, mental, maupun pikiran. Sedikit demi sedikit, kesehatan fisik dan mental pun akan terganggu tergerogoti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">“Jika kamu mampu meminta maaf, memberikan maaf, dan pengampunan secara tulus, maka hidup dan beban jiwamu akan ringan seringan kapas” katanya kala itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Mengapa orang harus meminta dan memberikan maaf?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Atau mengapa orang harus meminta ampun dan memberikan pengampunan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Memaafkan dan mengampuni, memiliki substansi makna yang kurang lebih sama. Keduanya sama-sama merupakan wujud ekspresi rohani manusia beradab ber-Ketuhanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Meminta dan memberi maaf, mohon ampun dan memberikan pengampunan, adalah refleksi ungkapan kerendahan hati manusia beriman yang siap mengakui kelemahan diri di hadapan manusia dan SANG PENCIPTA. Di dalamnya terkandung keinginan tobat memperbaiki diri. Manusia pun menjadi putih bersih laksana terlahir kembali seperti sediakala sebagai CITRA YANG MAHAKUASA. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Kesadaran rohani inilah yang membedakan tingkat keimanan seseorang. Kesadaran spiritual ini seharusnya terus dipupuk dan dibangun setiap detik, setiap saat, setiap waktu, terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari diri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Meminta maaf dan memberikan permaafan – juga meminta ampun dan memberikan pengampunan tanpa syarat, membutuhkan kecerdasan spiritual yang tinggi dan kesiapan mental luar biasa. Untuk meminta maaf, orang harus merelakan dirinya dalam posisi lebih rendah dari orang lain. Demikian pula ketika orang memberikan pengampunan. Ia dalam posisi amat berkuasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Godaan amat besar ada pada posisi orang yang mempunyai kekuasaan besar dan posisi lebih tinggi. Tak semua orang mampu melaksanakannya! Kemampuan meminta dan memberikan maaf, dan juga pengampunan, merupakan simbol perwujudan keimanan kepada SANG HYANG PEMBERI HIDUP yang terdalam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Permaafan dan pengampunan sejati tidak membutuhkan syarat. Jadi tidak berlaku istilah: “Minta maaf saja tidak cukup!” atau “Ok. Kali ini saya maafkan tapi besok lagi tidak!”<span> </span>dan banyak lagi ungkapan pemberian maaf disertai dengan syarat-syarat dan kata-kata negasi. “Saya maafkan tetapi….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Meminta maaf, memberikan maaf dan pengampunan adalah final tanpa syarat. Permaafan dan pengampunan mestinya selebar dan seluas samudera tanpa batas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;">Dendam Seolah Menjadi Tren Hidup. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Di lingkungan masyarakat kita, dendam seperti membudaya. Konflik sosial begitu mudahnya berkobar. Tawuran anak sekolah, mahasiswa, antarwarga desa, antarkelompok yang mengatas namakan agama. Ada juga pelayan dendam kepada majikan. Atau juragan enggan meminta maaf kepada pembantu. Istri memendam dendam kepada suami. Sampai-sampai ada istilah: cacian dibalas dengan makian, mata ganti mata, gigi ganti gigi, darah ganti darah, atau nyawa ganti nyawa. Suatu kebiasaan hidup gaya barbar, cerminan manusia tak berbudaya, tak beradab, dan tak ber-Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Ajaran antikekerasan dan prinsip ajaran welas asih berumur ribuan tahun lampau yang menyatakan bahwa jika kamu ditampar pipi kirimu, berikanlah juga pipi kananmu jadi terasa amat ekstrim mengada-ada. Mana mungkin itu dilakukan. <em>Hari gini, gitu loh</em>? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Tapi itulah welas asih yang penuh dengan bangunan keharmonisan hidup. Tindakan kekerasan yang dulu sering digambarkan sebagai jalan pedang hanya akan menimbulkan dendam dan kekerasan baru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Tradisi saling maaf-memaafkan dan saling mengampuni diajarkan oleh semua agama dan ajaran-ajaran kebijaksanaan tentang hidup modern yang berkeadaban. Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, memberikan maaf, mohon ampun, dan memberikan pengampunan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Sudahkah Anda meminta maaf, memberikan maaf, dan memberikan pengampunan pada musuh Anda sekarang? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Mohon maaf jika ada kesalahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;">Vincent Hakim Roosadhy</span></strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/467/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/467/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/467/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=467&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/09/30/memaafkan-dan-mengampuni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/078822361b892becb2cfc31426075a38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Vincent Hakim Roosadhy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memberi dan Menerima</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/09/30/memberi-dan-menerima/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/09/30/memberi-dan-menerima/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 07:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vincent Hakim Roosadhy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Al Jarreau]]></category>
		<category><![CDATA[Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[George Benson]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Pasuruan]]></category>
		<category><![CDATA[Siddharta Gautama]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis. Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur,  tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung, 21 nyawa melayang sekaligus, akibat terinjak-injak dan kehabisan oksigen, karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat. Tewasnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=462&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis. Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur,  tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung, 21 nyawa melayang sekaligus, akibat terinjak-injak dan kehabisan oksigen, karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat 20 ribu rupiah amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Ketika orang-orang pintar, para pejabat publik dan politik, pakar statistik dan lain sebagainya berdebat soal apa itu kemiskinan, tentang jumlah orang miskin, dan masalah kriteria orang miskin-kemiskinan, sejatinya kaum miskin tidak peduli! Orang miskin lebih peduli memikirkan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Juga ketika para calon presiden yang gencar berkampanye dan presiden yang sedang berkuasa “ribut” soal jumlah orang miskin dan kriteria orang miskin. Orang-orang miskin tetap saja <em>nggak</em> mau tahu! Orang miskin lebih peduli memikirkan bagaimana hari ini bisa membeli sembako murah, beli minyak tanah murah, dan bisa membayar sekolah anak-anak (syukur-syukur sekolah gratis). Biaya pendidikan sekarang sudah <em>nggak </em>masuk akal! <em>Nggak</em> usah yang sekolah unggulan, sekolah standar saja mahal – <em>duit lagi, duit lagi. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Jangan dikira wong cilik bisa terus menerus dibodohi! Meski masih banyak juga yang bodoh dan mudah dibodohi (kebanyakan karena tuntutan kondisi). Orang miskin yang “normal” akan malu jika harus mengemis, meminta, mengantri bantuan pada orang lain. Bahkan untuk sekadar meminjam uang pun, rasanya malu. Tapi kondisi yang benar-benar miskin sering memaksa orang harus melakukan sesuatu (agak mengabaikan perasaan malu). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Kini sebagian kaum miskin sudah mulai sadar politik, dan sadar informasi. Maka mereka tahu, bahwa golongan “wong kere” – wong cilik hanya dijadikan objek massa politik atau sasaran untuk mendongkrak popularitas diri orang berkuasa dan berduit agar dipandang orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Memberi dan menerima. Apa itu? Saya teringat kata-kata bijak yang telah berumur ribuan tahun, tapi masih sangat relevan untuk masa kini (terlebih di masa Ramadhan ini): “Jika engkau memberikan sesuatu kepada orang lain (dengan tangan kananmu), jangan sampai tangan kirimu tahu. Biarkan Yang Maha Kuasa saja yang layak mengetahuinya”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Memberi memiliki dimensi personal, sosial, dan spiritual (vertikal-horisontal). Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa belas kasihan dan penuh keikhlasan. Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain karena tuntutan dari dalam diri, bahwa ia memang harus memberi. Tindakan memberi bagi manusia pemberi sejati, adalah refleksi keimanan pada SANG PENCIPTA yang juga adalah SANG PEMBERI SEJATI tanpa pamrih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;"> Jadi tak ada motivasi secuil pun bagi seorang pemberi sejati, bahwa tindakannya itu agar mendapatkan balasan, imbalan, dilihat orang, atau pujian orang. Maka janganlah heran, jika ada seorang pemberi sejati harus bersusah payah agar bisa memberikan dirinya kepada orang lain tanpa pamrih. Bahkan kadang harus melawan arus, dibenci orang, dan kadang berhadapan dengan maut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Ada kepuasan batin yang mendalam bagi seorang pemberi sejati, ketika ia bisa memberikan sesuatu bagi orang lain yang membutuhkan. Inilah perwujudan aktualisasi diri seorang pemberi sejati. Bagi seorang pemberi sejati, ketika ia memberikan sesuatu sebenarnya ia pun telah menerima sesuatu. Manusia pemberi sejati memiliki tingkat spiritual lebih tinggi dari pada manusia penerima. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Bagaimana dengan manusia penerima? Seorang penerima memiliki tanggung jawab untuk berterima kasih dan bersyukur. Berterima kasih dan bersyukur itu tidak mudah. Tak banyak orang yang bisa berterima kasih dan bersyukur dengan tulus dan bertanggung jawab. Kita tahu, banyak orang terlibat korupsi. Kita tahu, banyak orang penting yang dulu bukan siapa-siapa tapi sekarang berlagak jadi penguasa tanpa tanding. Kita tahu banyak orang suka mengeluh hidupnya susah, padahal banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih susah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Seorang penerima pada saatnya nanti harus pula menjadi manusia pemberi sejati. Salah satu contoh manusia penerima yang kemudian menjadi sang pemberi sejati adalah tokoh spiritual dunia Siddharta Gautama. Setelah menerima pencerahan dari Yang MahaKuasa, Sidharta Gautama pun menjadi manusia Buddha (Yang Tercerahkan) dan memberikan diri sepenuhnya bagi orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Eyangnya musik jazz yang baru saja manggung duet dengan George Benson di Jakarta (14/9/08) Al Jarreau berujar, “Jika kamu memberikan apa pun yang kamu miliki (sesuai dengan profesi dan keahlian masing-masing) secara tulus dan total, maka kamu akan menerima kebahagiaan.&#8221; Al Jarreau dan George Benson telah puluhan kali menerima berbagai penghargaan bergengsi di bidang musik jazz, pop-soul R&amp;B dan kemarin mereka memberikan hiburan dan kebahagiaan bagi para penggemar jazz.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;">Jadi sudahkah kita menjadi seorang pemberi sejati hari ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;color:#003366;"><strong>Vincent Hakim Roosadhy</strong> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/462/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=462&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/09/30/memberi-dan-menerima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/078822361b892becb2cfc31426075a38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Vincent Hakim Roosadhy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengingat Kematian di Hari Ulang Tahun</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/09/02/mengingat-kematian-di-hari-ulang-tahun/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/09/02/mengingat-kematian-di-hari-ulang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:35:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Prominensia]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Heidegger]]></category>
		<category><![CDATA[IJABI]]></category>
		<category><![CDATA[Jalaluddin Rakhmat]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Mustadh'afin]]></category>
		<category><![CDATA[Shalawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah acara perayaan ulang tahun yang cukup unik baru saja berlangsung. Perayaan itu terjadi pada hari Jum&#8217;at dinihari, 29 Agustus 2008, pukul nol-nol lewat sekian menit, di sebuah pelataran vila di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Yang merayakannya adalah seorang ulama modern pejuang pluralisme, pembela hak-hak kaum tertindas dan minoritas, pencinta kaum papa alias para mustadh&#8217;afin. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=346&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sebuah acara perayaan ulang tahun yang cukup unik baru saja berlangsung. Perayaan itu terjadi pada hari Jum&#8217;at dinihari, 29 Agustus 2008, pukul nol-nol lewat sekian menit, di sebuah pelataran vila di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Yang merayakannya adalah seorang ulama modern pejuang pluralisme, pembela hak-hak kaum tertindas dan minoritas, pencinta kaum papa alias para mustadh&#8217;afin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dia juga seorang ilmuwan, yang memiliki kompetensi tinggi di bidang ilmu komunikasi dan psikologi. Pengajar di berbagai perguruan tinggi terkemuka, dan pimpinan sekaligus pemilik sekolah untuk orang-orang miskin yang berlokasi di Bandung Jawa Barat. Ulama itu adalah K.H. Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat, yang dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 29 Agustus 1949.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/kh-prof-dr-jalaluddin-rahmat.jpg"><img class="size-medium wp-image-352 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/kh-prof-dr-jalaluddin-rahmat.jpg?w=300&h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="text-decoration:underline;">KH. Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat</span></em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di tengah dinginnya udara pegunungan yang nyaris &#8220;menusuk tulang&#8221;, Kang Jalal (demikian ia akrab dipanggil) memperoleh ucapan selamat dari para muridnya yang berdatangan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (termasuk beberapa orang Kiyai). Kebetulan atau tidak kebetulan, di tempat itu juga sedang berlangsung <em>in house training</em> untuk para pengurus IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ucapan selamat serta hadiah ulang tahun yang diberikan para muridnya, cukup beragam. Ada yang memberikan hadiah berupa pembacaan puisi yang ditulisnya sendiri. Ada yang melantunkan nyanyian gubahan Kang jalal, tanpa musik (namun bukan berarti antimusik, melainkan lantaran panitia, agaknya,  lupa mempersiapkan alat musik). Ada juga yang memberikan hadiah berupa jas berbahan tenun ikat tradisional (yang langsung dikenakan Kang Jalal). Tetapi yang terbanyak adalah yang tidak memberikan hadiah apapun, kecuali sekedar ucapan selamat. Salah satu di antaranya, saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/membagikan-kue-ulang-tahun.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-353" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/membagikan-kue-ulang-tahun.jpg?w=300&h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Setelah memotong kue ulang tahun</em></span>.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/mendapat-ucapan-selamat-dari-salah-seorang-kiyai-madura.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-354" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/mendapat-ucapan-selamat-dari-salah-seorang-kiyai-madura.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Mendapat ucapan selamat dari sobat seperjuangan</em></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Lalu shalawat pun dilantunkan oleh hadirin, dengan suara rendah, penuh khidmat dan rasa hormat. Shalawat bagi pimpinan umat, Rasulullah Muhammad SAWW. <em>Allahumma shalli &#8216;alaa Muhammad, wa-aali  Muhammad</em> (Ya Allah, limpahkanlah shalawat bagi Muhammad, dan keluarga Muhammad). Dan, beberapa saat menjelang acara tiupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun, hadirin menyanyikan lagu <em>Happy Birthday</em>, bersama-sama.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Acara belum berakhir sampai di situ, karena masih ada ceramah atau renungan ulang tahun, yang disampaikan sang empunya hajat, K.H. Jalaluddin Rakhmat. Ceramahnya adalah tentang makna kematian, dan tentang bagaimana kita menghadapi dan mempersiapkan kematian. Ulang tahun, menurut Kang jalal, sebenarnya merupakan pertanda bahwa kita semakin mendekati kematian. Karena usia kita, hakikatnya, semakin berkurang, bukan bertambah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kematian adalah sesuatu yang sangat pasti akan ditemui makhluk hidup, sebagai bagian dari kehidupannya. Itu sebabnya, kata Kang Jalal, manusia sebagai makhluk hidup harus senantiasa mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, kita semakin menghormati kehidupan. Kalimat terakhir itu dikutipnya dari ucapan salah seorang filsuf eksistensialis Jerman, Martin Heidegger.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/berceramah-ttg-kematian.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-355" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/berceramah-ttg-kematian.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Berceramah tentang makna kematian</em></span>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/re-exposure-of-ceramah.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-361" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/re-exposure-of-ceramah.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Mengutip Martin Heidegger</em></span>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jalaluddin Rakhmat, yang pernah menulis buku: <em>Memaknai Kematian</em> (terbitan: Pustaka Iman), lalu melanjutkan bahwa lantaran kematian itu sesuatu yang pasti, kita tidak hanya dituntut mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Tetapi juga, kalau bisa, memilih cara kematian itu terjadi. Cara kematian yang terhormat, punya makna bagi kehidupan orang lain. Bukan kematian yang sia-sia dan tidak bermakna, seperti kematian seorang pengecut. &#8220;Berani menghadapi kematian, sama artinya dengan berani menantang kehidupan,&#8221; ujar Kang Jalal.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Puasa sebagai Latihan Memaknai Kematian.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kang Jalal tak lupa mengaitkan makna kematian dengan ibadah puasa Ramadhan, karena ulang tahunnya kali ini hanya selang beberapa hari menjelang Ramadhan. Ibadah puasa, menurut Kiyai Pluralis ini, bisa menjadi sarana untuk mengingat kematian, baik kematian kita sendiri maupun kematian orang lain.</span></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama beribadah puasa, akan mengingatkan kita betapa menderitanya orang-orang yang kelaparan di sekitar kita. Di antara para penderita kelaparan itu, tak sedikit yang akhirnya menemui kematian, lantaran lapar yang tak tertahankan. Dengan demikian,  kita semakin menyadari betapa berharganya kehidupan yang sedang kita jalani. Kita pun lalu tergerak untuk menolong orang-orang lapar, fakir-miskin, anak-anak yatim, para mustadh&#8217;afin. Menolong mereka dari kematian yang sia-sia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">K.H. Jalaluddin Rakhmat, yang sebagian besar kesibukannya dibaktikan untuk mendampingi kaum mustadh&#8217;afin itu, mengajak hadirin yang ikut merayakan ulang-tahunnya, agar mengisi bulan Ramadhan dengan menolong fakir-miskin dan anak yatim. Meskipun hanya sekedar memberi mereka makan, membebaskan mereka dari kelaparan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/bersama-seorang-kiyai-dari-jawa-timur1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-358" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/bersama-seorang-kiyai-dari-jawa-timur1.jpg?w=300&h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="text-decoration:underline;"><em>Bersama seorang kiyai dari Jawa Timur</em></span>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Acara ulang tahun Kang Jalal ke-59 itu, kemudian diakhiri dengan membagi-bagi kue ulang tahun kepada seluruh hadirin. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 3:00 menjelang subuh. Udara dingin semakin merasuk tulang. Untungnya ada kambing guling yang bisa sedikit menghangatkan tubuh, yang disantap hadirin sambil mengitari seonggok api unggun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Selamat ulang tahun, Kang Jalal. Semoga panjang usia dan sehat senantiasa. Umat masih membutuhkan Anda. Semoga tahun depan dan tahun depannya lagi kita masih bisa merayakan ulang tahun Anda bersama-sama. Seraya mempersiapkan hari-hari kematian kita. Seraya menjalani proses penyucian dosa, dengan menolong kaum papa yang tak punya daya. Semoga.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra</strong></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jagatalit.wordpress.com/346/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jagatalit.wordpress.com/346/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/346/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=346&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/09/02/mengingat-kematian-di-hari-ulang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/kh-prof-dr-jalaluddin-rahmat.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/membagikan-kue-ulang-tahun.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/mendapat-ucapan-selamat-dari-salah-seorang-kiyai-madura.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/berceramah-ttg-kematian.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/re-exposure-of-ceramah.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/bersama-seorang-kiyai-dari-jawa-timur1.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SD Harintha, Pencetus Meditasi Hening</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/07/27/sd-harintha-pencetus-meditasi-hening-2/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/07/27/sd-harintha-pencetus-meditasi-hening-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 10:29:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[In Memoriam]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hening]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[SD Harintha]]></category>
		<category><![CDATA[Syukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Guru meditasi itu telah berpindah ke lain dimensi. Pada dimensi sebelumnya, dimensi fana, Sang Guru hidup dalam kondisi yang serba kekurangan. Berpindah-pindah dari satu rumah petak ke rumah petak lainnya, yang biaya sewanya lebih murah. Tetapi tak pernah sedikit pun Sang Guru mengeluhkan nasibnya. Bahkan sebaliknya, ia selalu mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=235&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Guru meditasi itu telah berpindah ke lain dimensi. Pada dimensi sebelumnya, dimensi fana, Sang Guru hidup dalam kondisi yang serba kekurangan. Berpindah-pindah dari satu rumah petak ke rumah petak lainnya, yang biaya sewanya lebih murah. Tetapi tak pernah sedikit pun Sang Guru mengeluhkan nasibnya. Bahkan sebaliknya, ia selalu mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta, dan menerima segalanya dengan penuh keikhlasan. “<em>Maturnuwun, Gusti. Sumonggo Kerso</em>,” begitu ucapnya selalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Berpindah ke lain dimensi, seperti itulah Sang Guru memaknai kematian. Perpindahan Sang Ruh dari alam fana yang diliputi berbagai keinginan, menuju alam baqa yang suwung, bebas dari segala keinginan. Di alam suwung itu yang ada hanya keheningan. Tanpa bentuk. Tanpa rupa. Tanpa warna. “Itulah frekuensi Illahi, yang sebenarnya bisa kita capai selagi kita berada di alam fana, melalui latihan meditasi tanpa henti,” ujarnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><img class="size-full wp-image-241 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/harintha2.jpg?w=470" alt="" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><em>SD Harintha (1932-2007)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sang Guru itu bernama Suratno Dharmo Harintha (ia lebih suka menyingkat namanya sebagai SD Harintha). Lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 13 Januari 1932. Dialah yang pertama kali mencetuskan Meditasi Hening, praktek meditasi dengan metode dekonsentrasi.<span> </span>Meditasi tersebut, konon merupakan warisan leluluhurnya: Pangeran Sambernyawa, pendiri Dinasti Mangkunegaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Pertama kali saya mengenalnya sekitar tahun 1989. Waktu itu saya masih bekerja sebagai Redaktur Pelaksana Majalah SARTIKA, majalah kesehatan jantung yang diterbitkan oleh Grup Bustanil Arifin (mantan Kabulog di zaman Soeharto). Salah seorang wartawan saya, Iskandar Sultoni, menyodorkan tulisannya tentang Meditasi Hening, yang menurutnya, bisa dijadikan sebagai alternatif cara mengendalikan stres.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sebagai pengelola majalah kesehatan jantung, tentu saja saya menilai tulisan semacam itu memang layak dimuat. Terutama karena stres, merupakan salah satu faktor resiko utama serangan jantung koroner. Tetapi secara pribadi, saat itu saya tidak tertarik dengan Meditasi Hening. Meski saya pun sependapat dengan Iskandar Sultoni bahwa tulisannya akan sangat bermanfaat bagi para pembaca, yang sebagian besar adalah anggota Klub Jantung Sehat Yayasan Jantung Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sekitar setahun kemudian, ketika saya tengah membolak-balik nomor-nomor majalah yang pernah kami terbitkan, saya tertumbuk pada tulisan Iskandar Sultoni tentang Meditasi Hening. Entah kenapa tiba-tiba saya ingin berkenalan dengan SD Harintha, pencetus Meditasi Hening, yang amat dikagumi teman saya itu. Saya pun mengajak Iskandar untuk berkunjung ke rumah orang tua tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dengan sangat antusias, Iskandar mengantarkan saya ke tempat kediaman sekaligus tempat praktek Pak Harintha, di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Di sana saya menemukan orang tua yang sangat sederhana. Penuh kebapakan. Tutur katanya lemah lembut, dan sorot matanya memancarkan semangat hidup yang amat tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sejak itu terjadilah dialog intens antara saya dengan beliau, tentang konsep Meditasi Hening. Konsep meditasi yang digalinya dari budaya Jawa, yang selalu menekankan inward looking, dan upaya mengendalikan keinginan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Banyak kesamaan antara konsep Meditasi Hening yang diajarkan Pak Harintha, dengan konsep tasawufnya Al-Ghazali. Kebetulan, sedikit banyak saya pernah mengaji kitab-kitab Al-Ghazali, tatkala masih menjadi santri di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Sehingga, tentu saja, obrolan saya dengan Pak Harintha terasa semakin menarik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya pun menjadi salah seorang murid Pak Harintha, hingga bertahun-tahun kemudian. Dan, ia tak pernah berubah. Meskipun kesulitan hidup menimpanya bertubi-tubi, ia tetap terlihat cerah, penuh semangat, tetapi juga penuh kepasrahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dari Tanah Kusir ia pindah ke daerah Rawa Buaya, Cengkareng, lalu pindah lagi ke kawasan Pamulang, Tangerang, sampai akhir hayatnya. Semua itu ia lakukan karena Sang Guru Meditasi ini tidak memiliki rumah. Ia harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, untuk memperoleh rumah kontrakan yang lebih murah. Dan, tampaknya tidak pernah terpikir oleh Pak Harintha, untuk meminta bantuan para muridnya (yang sebagian besar orang kaya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">April 2007, Sang Guru jatuh sakit, dan sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa pekan, sampai akhirnya meninggal dunia. Meninggalkan tiga orang putra dan dua orang putri, yang kesemuanya sudah berkeluarga. Hanya keluarga inti dan salah seorang muridnya paling setia, Ibu Rossalia, yang mengantar jenazah beliau menuju peristirahatan terakhirnya di Wonogiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Lalu ke mana murid-muridnya yang lain? Banyak yang</span><span style="color:#003366;"> tidak tahu bahwa Sang Guru telah berpulang. Mungkin karena masih disibukkan untuk mengejar berbagai keinginan. Seperti saya, yang tidak pernah ada puasnya mengejar keinginan, sehingga sering lupa pada Pak Harintha yang telah mengajarri saya Meditasi Hening. Mengajari saya untuk mengendalikan keinginan. Saya pun, tidak menghadiri upacara pemakamannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Mungkin saya termasuk murid yang tidak peduli pada nasib Sang guru, terutama pada hari-hari terakhirnya. Tetapi sesungguhnya, rasa terima kasih saya kepada beliau, begitu besar dan tak ada habisnya hingga kini. Begitu banyak pencerahan yang beliau berikan kepada saya, Beliaulah yang mengajari saya secara konkret, cara-cara pengendalian diri. Beliaulah yang selalu mengingatkan saya akan keagungan Sang Pencipta, dan betapa kecilnya manusia di hadapanNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya tidak akan mengucapkan selamat jalan kepada beliau, karena beliau tidak pergi ke mana pun. Beliau, masih ada di sini. Hanya saja di lain dimensi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:#003366;">[Foto SD Harintha: Iskandar Sultoni]</span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jagatalit.wordpress.com/235/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jagatalit.wordpress.com/235/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/235/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/235/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/235/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=235&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/07/27/sd-harintha-pencetus-meditasi-hening-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/harintha2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Meditasi Hening, Perjalanan Menuju Alam Suwung</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/07/25/sd-harintha-pencetus-meditasi-hening/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/07/25/sd-harintha-pencetus-meditasi-hening/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 13:56:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Hening]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Reiki]]></category>
		<category><![CDATA[SD Harintha]]></category>
		<category><![CDATA[Suwung]]></category>
		<category><![CDATA[Yoga]]></category>
		<category><![CDATA[Zen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Banyak &#8220;orang pintar&#8221; yang mengklaim dirinya sebagai penemu Meditasi Hening. Tetapi sepanjang pengetahuan saya, Meditasi Hening ini pertama kali diperkenalkan oleh guru saya: Bapak Suratno Dharmo Harintha, pada sekitar tahun 1980-an. Meditasi Hening adalah suatu meditasi yang menggunakan metode dekonsentrasi. Dalam arti, Anda tidak perlu memusatkan pikiran ke suatu titik atau obyek tertentu ketika bermeditasi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=188&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><!--[if !mso]&gt;--><span style="color:#003366;">Banyak &#8220;orang pintar&#8221; yang mengklaim dirinya sebagai penemu Meditasi Hening.  Tetapi sepanjang pengetahuan saya, Meditasi Hening ini pertama kali diperkenalkan oleh guru saya: Bapak Suratno Dharmo Harintha, pada sekitar tahun 1980-an.  Meditasi Hening adalah suatu meditasi yang menggunakan metode dekonsentrasi. Dalam arti, Anda tidak perlu memusatkan pikiran ke suatu titik atau obyek tertentu ketika bermeditasi. Hanya saja, pikiran Anda tidak boleh dibiarkan menerawang atau mengembara ke berbagai tempat dan waktu, tetapi harus dialihkan secara bersangsur-angsur ke tempat dan waktu Anda bermeditasi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Meditasi Hening, memang bukan satu-satunya meditasi yang menggunakan metode dekonsentrasi. Meditasi Reiki, Zen, Yoga, juga merupakan meditasi dekonsentrasi. Tetapi tidaklah berlebihan kiranya, jika dikatakan bahwa Meditasi Hening yang diperkenalkan laki-laki asal Wonogiri ini, merupakan meditasi yang paling sederhana tata-caranya. Anda tidak perlu duduk bersila dengan melipat kedua kaki Anda ketika bermeditasi. Anda juga tidak perlu menyilangkan tangan di dada dengan posisi tubuh yang tegak dan punggung lurus. Anda cukup duduk di kursi dengan posisi sesantai mungkin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Mengapa disebut Meditasi Hening? Karena “terminal terakhir” dari perjalanan med</span><span style="color:#003366;">itasi yang diajarkan Pak Harintha, Sang Guru, adalah Alam Hening.  Bila Anda bermeditasi bersama Pak Harintha, dalam posisi duduk di kursi atau sofa, pertama kali beliau akan meminta Anda melepaskan segala beban pikiran, dan tidak membiarkan pikiran melanglangbuana. Seluruh pikiran harus dihadirkan di tempat mana sang pelaku meditasi berada. Tetapi tak perlu berkonsentrasi pada satu titik tertentu. Seluruh pendengaran harus tetap dibuka, sambil memelihara sikap waspada.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk71.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-225" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk71.jpg?w=214&h=300" alt="" width="214" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bila Anda sudah terlihat bersikap relaks, Sang Guru akan meminta Anda untuk menutup mata perlahan. Otot-otot yang tegang di seluruh bagian tubuh secara berangsur harus dikendorkan. Nafas tidak perlu diatur, biarkan berjalan secara natural. Lalu imajinasikan diri Anda sedang mengalirkan segala beban pikiran atau stres dari kepala menuju dada. Simpan sejenak, lalu alirkan lagi secara perlahan menuju ujung kaki, seolah sedang membuang semua energi negatif melalui telapak kaki. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sekali lagi, jangan biarkan pikiran Anda melalangbuana. Bila merasa kesulitan mengendalikan pikiran, resapi dan dengarkan saja nafas Anda yang keluar masuk tubuh Anda, sampai pada tahap nafas itu terasa semakin halus dan tidak terdengar lagi desahnya. Lalu rasakan dan dengarkan degup jantung Anda, hingga mencapai tahap Anda tidak lagi mendengar detak jantung.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk61.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-227" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk61.jpg?w=214&h=300" alt="" width="214" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">“Loosss,” kata Sang Guru. “Jangan berpikir tentang masa lalu dan jangan pikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pikiran Anda hanya berada pada detik ini. Sadari detik demi detik. Batin dan pikiran hanya diisi dengan rasa terima kasih, rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan berbagai kenikmatan, seraya berserah diri secara total kepadaNya. <em>Maturnuwun, Gusti. Sumonggo Kerso</em>. Terima kasih, Tuhan. Apapun yang Kau berikan padaku, kuterima dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jika Anda telah berada dalam kondisi penuh rasa terima kasih dan berserah diri secara total kepada Sang Pencipta, serta tidak terdengar lagi alunan nafas dan detak jantung, berarti Anda telah sampai di gelombang alpha. Pak Harintha yang telah sangat terlatih bermeditasi itu bisa mendeteksi, apakah muridnya sudah sampai pada gelombang alpha, atau masih di gelombang beta, atau justru meluncur ke gelombang  delta (gelombang tidur). Tetapi para peserta setidaknya bisa menandai sendiri, sudah sampaikah dia ke alpha atau belum?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk23.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-229" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk23.jpg?w=209&h=253" alt="" width="209" height="253" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bila dalam meditasi itu Anda sudah tidak merasakan lagi kegelisahan, kekhawatiran, sakit hati, iri dan dengki, dan batin hanya dipenuhi dengan rasa terima kasih dan kepasrahan total kepada Tuhan, berarti Anda sudah sampai di gelombang alpha. Bila kondisi ini dapat Anda pelihara secara konstan, hanya dalam beberapa detik lagi Anda bisa sampai di alam hening, atau alam suwung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sulit menggambarkan seperti apa itu alam suwung atau alam hening, karena kondisi alamnya tak berbentuk, tak berwarna, tak berupa. Hanya saja bisa ditandai dengan rasa sejuk yang luar biasa mengaliri seluruh tubuh. Rasa sejuk itu sendiri berasal dari dalam tubuh. Dan, pada saat itu, si pelaku meditasi benar-benar berada dalam kondisi “tidak mempunyai keinginan apapun”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk32.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-231" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk32.jpg?w=470" alt=""   /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Biasanya hanya beberapa detik saja si pelaku berada di alam suwung. Sang Guru akan meminta peserta untuk menandai kondisi tersebut, dan membuka mata secara perlahan. Kembali pada kondisi pra-meditasi. Tetapi keheningan yang sudah berhasil diraih dalam meditasi, harus terus dipelihara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tidak semua peserta meditasi berhasil dengan cepat berpijak di alam suwung, ataupun sampai ke gelombang alpha. Ada yang berbulan-bulan bahkan tak sampai-sampai ke alpha. Tetapi ada juga yang dengan segera menemukan hening. Tahap-tahap keberhasilan meditasi ini sangat bergantung pada pribadi setiap orang. Kuncinya, sekali lagi, adalah kepasrahan total kepada Sang Pencipta, dan rasa syukur yang tak pernah henti, atas sekecil apapun karunia (baik berupa anugrah maupun musibah) yang diberikan Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk51.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-233" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk51.gif?w=470" alt=""   /></a><span style="color:#003366;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Itu sebabnya, dalam persiapan menjelang meditasi, terlebih dulu Pak Harintha akan memberikan <em>conditioning</em>, dengan bercerita tentang nikmat-nikmat Tuhan yang diberikan kepada manusia. Tentang perlunya mengendalikan berbagai keinginan, dan mengeliminasi rasa iri dan dengki. Mengusir segala kekhawatiran dan membangkitkan optimisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;">Meditasi dalam Keseharian.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Yang ingin dicapai Meditasi Hening-nya Pak Harintha, bukan meditasinya itu sendiri. Meditasi hanyalah alat untuk melatih pengendalian diri. Bila Sang Guru menilai Anda sudah trampil bermeditasi dengan mata tertutup, pada hari-hari berikutnya beliau akan mengajak Anda bermeditasi dengan mata terbuka. Bermeditasi sambil berbincang-bincang mengenai makna kehidupan, dan tentang berbagai tugas yang kita emban sebagai manusia di atas bumi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tahap-tahap yang berhasil dicapai dan dirasakan dalam praktek meditasi, baik dalam kondisi mata tertutup maupun terbuka, sebaiknya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam keseharian kita dilanda kegelisahan, usir segera kegelisahan itu dan menggantinya dengan kepasrahan. Tetapi bukan pasrah tanpa usaha. Melainkan pasrah dalam arti berserah diri kepadaNya. Pasrah pada apapun (bencana maupun keberuntungan) yang sedang kita alami detik demi detik, sambil berusaha dan berdo&#8217;a meminta kekuatanNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jika dalam keseharian kita bisa menghilangkan rasa iri dan dengki ataupun kekhawatiran dan rasa sakit hati, maka perjalanan hidup pun bisa dinikmati dengan tenang. Apalagi bila kita mampu mengendalikan berbagai keinginan alias nafsu yang mengganggu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ajaran Meditasi Hening-nya Pak Harintha, nyaris tidak ada bedanya dengan ajaran Tasawuf dalam Islam ataupun ajaran Teosofi di kalangan Kristiani. Pun, sejalan dengan ajaran Buddhisme. Dan, seperti meditasi pada umumnya, Meditasi Hening merupakan ritual lintas-agama. Beberapa anggota Lions Club Jakarta, yang kebetulan beragama Islam dan pernah dilatih meditasi oleh Pak Harintha, sempat mengaku, sholat mereka menjadi semakin khusyu setelah berlatih Meditasi Hening.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;">Billy Soemawisastra.</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jagatalit.wordpress.com/188/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jagatalit.wordpress.com/188/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=188&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/07/25/sd-harintha-pencetus-meditasi-hening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk71.jpg?w=214" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk61.jpg?w=214" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk23.jpg?w=200" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk32.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk51.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mantra Swara, Menggali Kekuatan Suara</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/05/26/mantra-swara-menggali-%e2%80%9ckekuatan%e2%80%9d-suara/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/05/26/mantra-swara-menggali-%e2%80%9ckekuatan%e2%80%9d-suara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 May 2008 17:48:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Mantra Swara]]></category>
		<category><![CDATA[Bhiksu]]></category>
		<category><![CDATA[Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Diafragma]]></category>
		<category><![CDATA[Ghadir Qum]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Kiyai]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Musa]]></category>
		<category><![CDATA[Pastor]]></category>
		<category><![CDATA[Pendeta]]></category>
		<category><![CDATA[Siddharta Gautama]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[Yesus Kristus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Betapa hangatnya suara Muhammad SAW, sewaktu berkhotbah pada ibadah hajinya yang terakhir, atau ketika menyampaikan pesan-pesan pamungkasnya di sebuah bukit di Ghadir Qum. Pun, betapa lembutnya suara Siddharta Gautama, tatkala menyampaikan inti ajaran Buddha di sebuah taman di Bodhgaya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=150&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Pernahkah Anda perhatikan, mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Bagus, dalam arti jernih, bulat, berdiafragma, dan menimbulkan getar-getar kewibawaan, meskipun disampaikan dengan nada rendah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Atau, pernahkah Anda membayangkan, betapa merdunya suara Yesus atau Isa Al-Masih, ketika berkhotbah di atas bukit. Betapa membahananya suara Musa, sewaktu menyampaikan sepuluh perintah Tuhan, sekembalinya dari Thursina (Gunung Sinai). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Betapa hangatnya suara Muhammad SAW, sewaktu berkhotbah pada ibadah hajinya yang terakhir, atau ketika menyampaikan pesan-pesan pamungkasnya di sebuah bukit di Ghadir Khum. Pun, betapa lembutnya suara Siddharta Gautama, tatkala menyampaikan inti ajaran Buddha di sebuah taman di Bodhgaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Itulah suara-suara yang penuh keagungan, yang menyeruak dari kedalaman diri, yang bergetar dilingkupi frekuensi Illahi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sejarah agama-agama mencatat, manusia-manusia agung itu (Musa, Yesus, Muhammad, Buddha Gautama) telah berhasil memberikan pencerahan kepada sejumlah umat pada zamannya, melalui suara mereka yang penuh wibawa. Tidak ada catatan dalam sejarah bahwa mereka pernah bersuara serak, atau melengking memekakkan telinga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Justeru sebaliknya, catatan-catatan para ahli sejarah menyebutkan bahwa suara para pembawa ajaran Tuhan itu, mampu membuat para pendengarnya terhenyak, dan menikmati kata demi kata yang mereka sampaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Mungkin Anda akan mengatakan, lumrah saja bila Musa, Yesus, Muhammad dan Buddha Gautama mempunyai suara-suara yang bagus, karena mereka memang disiapkan untuk menyampaikan ajaranNya. Sehingga dibekali suara yang bagus-bagus, tanpa harus dilatih terlebih dulu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tidakkah Anda membayangkan, apa yang dilakukan para Kekasih Tuhan itu ketika berada dalam kesendirian? Mereka bermunajat. Berkomunikasi dengan Tuhan, seraya menyebut nama Tuhan dengan penuh keagungan. Dalam nada rendah dengan tarikan nafas yang halus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Berulang-ulang mereka ucapkan nama Tuhan dengan penuh rasa cinta, melalui getaran-getaran diafragma. Itu yang menyebabkan suara mereka semakin merdu, melengkapi kemerduan yang memang telah dianugrahkan Tuhan kepada mereka.<br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Suara, merupakan anugrah Tuhan. Sang Pencipta Yang Maha Baik itu telah membekali manusia dengan berbagai jenis atau warna suara yang bagus-bagus, yang oleh manusia kemudian didefinisikan atau dipilah-pilah sebagai Bas, Bariton, Tenor, Sopran dan lain sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jenis atau warna suara yang bagus-bagus ini adalah fitriah, alias tidak bisa diubah oleh manusia. Yang dapat diubah hanyalah “power”nya, lalu intonasi, artikulasi dan diksinya. Semua itu perlu dilatih secara intensif, sehingga menghasilkan suara yang berkualitas, bisa dinikmati oleh semua orang, termasuk si empunya suara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bagusnya ciptaan Tuhan berupa suara itu, dapat kita poles atau kita perbagus lagi dengan modal yang juga diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu napas dan energi. Dengan demikian, semua pemberian Tuhan kita manfaatkan, dan dengan memanfaatkan semua pemberian Tuhan, berarti kita telah mensyukuri nikmat Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tulisan ini saya buat sebagai sumbangan bagi dunia Olah Suara. Semoga dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, yang dalam profesinya sangat berkaitan urusan “tarik suara”. Baik itu penyanyi, presenter radio dan televisi, para politisi dan pejabat yang sering tampil berbicara di depan khalayak, para pengajar atau bahkan para penyebar ajaran keagamaan dan spiritualisme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai penyiar radio, pelatih teater dan instruktur <em>voice training</em> untuk para presenter televisi, ditambah pengamatan intens terhadap para pelaku atau pekerja tarik suara, saya menyodorkan cara yang sangat ampuh, guna mengeksplorasi <em>power</em> (kekuatan) suara. Yaitu dengan melafalkan Mantra Swara secara rutin, dengan teknik yang tepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Pernapasan Perut</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Suara yang kita keluarkan melalui mulut, pada hakikatnya didorong oleh napas yang kita hembuskan dari dalam rongga tubuh kita. Kualitas napas yang kita hembuskan (<em>exhale</em>) sangat bergantung dari cara kita memasukkan atau menarik napas (<em>inhale</em>) melalui hidung. Napas yang pendek akan menghasilkan suara yang pecah, terengah-engah dan volume yang tidak konstan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system8.gif"><img class="size-medium wp-image-157 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system8.gif?w=263&h=300" alt="" width="263" height="300" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Panjang pendeknya napas ini, ditentukan oleh teknik pengambilan napas yang benar. Bila napas yang kita hirup, kita simpan di dalam rongga dada, maka hasilnya adalah napas yang pendek. Tetapi bila kita terbiasa menarik napas lalu menyimpannya di dalam perut, niscaya napas kita pun akan panjang dan teratur. Ini yang disebut teknik pernapasan perut, dan merupakan cara yang lumrah digunakan dalam dunia olah suara. Cara yang juga diterapkan oleh para pelaku yoga dan meditasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system1.jpg"><img class="size-medium wp-image-151 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system1.jpg?w=221&h=387" alt="" width="221" height="387" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Mengapa kita harus membiasakan diri menggunakan teknik pernapasan perut? Karena sebenarnya, secara naluriah, kita bernapas dengan teknik pernapasan perut. Coba saja perhatikan orang yang sedang tidur terlentang, perutnya akan tampak turun-naik seiring <em>inhale</em> dan <em>exhale</em> yang dilakukannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Begitu pula bila seseorang sedang mengalami stres, biasanya tanpa sadar ia akan menarik napas panjang dengan teknik pernapasan perut. Kondisi di bawah sadar ini merupakan kondisi naluriah atau instinktif. Jadi, melatih pernapasan perut, sama saja dengan mengembalikan naluri kita, refleks kita. Coba lagi perhatikan bila Anda bangun tidur (dengan tidur yang berkualitas tentunya), Anda akan merasakan suara Anda lebih berat, lebih bulat.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><img class="size-medium wp-image-152 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system2.gif?w=223&h=172" alt="" width="223" height="172" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sekarang, terlentanglah di atas alas yang datar tanpa bantal. Badan lurus mulai dari kepala hingga ujung kaki. Tangan terlentang. Tutup mata perlahan, lalu tarik napas pelan-pelan melalui mulut, simpan sejenak di dalam rongga perut. Setelah itu hembuskan melalui mulut, juga pelan-pelan. Lakukan itu berkali-kali, seraya berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan oksigen gratis untuk menopang hidup kita dan memberikan energi bagi ruh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system3.jpg"><img class="size-medium wp-image-153 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system3.jpg?w=300&h=101" alt="" width="300" height="101" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Cara ini juga dapat Anda lakukan sambil berdiri, atau duduk santai dengan punggung lurus. Bila teknik pernapasan perut ini Anda nikmati sepenuhnya, secara berangsur akan Anda rasakan otot-otot tubuh Anda mengendur. Sehingga stres pun tereliminasi. Efek sampingnya, Anda akan mengantuk. Tidak apa-apa. Tidur saja. Tidur juga anugrah Tuhan yang dapat membuat kita segar. Tetapi kalau bisa, jangan dulu tidur, karena Anda sedang berlatih teknik pernapasan.<br />
</span>
</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><img class="size-medium wp-image-155 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system4.jpg?w=221&h=283" alt="" width="221" height="283" /></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><img class="size-medium wp-image-154 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system5.jpg?w=228&h=335" alt="" width="228" height="335" /></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jangan sekali-kali menyimpan napas di dalam dada, karena cara itu hanya akan menyebabkan paru-paru Anda bekerja ekstra keras. Fungsi paru-paru hanya sebagai respirator atau pemompa napas. Biarkan rongga dada hanya menjadi jalur yang dilewati <em>inhale</em> dan <em>exhale. </em>Tugas menyimpan dan mendorong napas kita berikan kepada perut, rongga terbesar dalam tubuh manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk12.jpg"><img class="size-medium wp-image-257 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk12.jpg?w=470" alt="" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a href="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system7.jpg"><img class="size-medium wp-image-156 aligncenter" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system7.jpg?w=224&h=291" alt="" width="224" height="291" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bila Anda telah berhasil melatih diri Anda dengan sistem pernapasan perut (<em>abdominal/belly breathing system</em>), kini coba hembuskan napas yang tersimpan di dalam perut itu dibarengi dengan suara <strong>A</strong>, <strong>O</strong>, <strong>U </strong>atau <strong>I </strong>sepanjang-panjangnya, sampai cadangan napas di dalam perut Anda habis. Jangan berteriak. Ucapkan<span> </span>huruf-huruf vokal itu dengan nada dasar <strong>do, </strong>dalam satu hembusan napas. Lakukan berulang-ulang. Tarik napas melalui hidung sepanjang-panjangnya. Simpan sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan sambil bersuara seperti di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Melafalkan Mantra Swara Secara Berirama.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Kini tiba saatnya Anda melafalkan Mantra Swara. Ini adalah istilah saya sendiri, untuk menyebut puji-pujian kepada Tuhan, yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi diafragma. Cobalah Anda perhatikan para Bhiksu Buddha yang sedang membacakan puji-pujian. Mereka menyampaikannya dengan nada rendah dan panjang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tirulah irama yang disenandungkan para Bhiksu ketika melafalkan puji-pujian tersebut. Tariklah napas sedalam-dalamnya melalui hidung. Simpan napas itu sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan napas Anda melalui mulut sambil mengucapkan setiap kalimat di bawah ini dengan nada yang konstan dan dengan satu tarikan napas: </span></p>
<ul style="margin-top:0;text-align:justify;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Namo Sanghyang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya.</strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Namo Sanghyang Avalokitesvara Bodhisatva Mahasatva.</strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Namo Sanghyang Maitreya Buddhaya.</strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Namo Amitabha Buddhaya.</strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.</strong></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sambil mengucapkan kalimat-kalimat ini, coba rasakan getaran-getaran diafragma di sekujur punggung, dengan menempekan salah satu telapak tangan Anda ke daerah punggung. Bila punggung Anda belum terasa bergetar, berarti masih ada yang salah dalam cara Anda menarik napas. Atau karena Anda “mencuri” napas di tengah kalimat yang Anda ucapkan. Jadi, berusahalah jujur pada diri sendiri dengan tidak mencuri napas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Apakah hanya puji-pujian dalam agama Buddha saja yang bisa digunakan sebagai Mantra Swara? Tentu saja tidak. Puji-pujian dalam agama apa pun, bisa Anda gunakan sebagai Mantra Swara. Bila Anda seorang Muslim, misalnya, Anda dapat mengucapkan kalimat-kalimat dzikir dan do’a di bawah ini, dengan satu tarikan napas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Caranya sama. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, simpan sejenak di dalam perut, lalu hembuskan napas Anda melalui mulut seraya melantunkan kalimat-kalimat ini sampai cadangan napas di dalam perut terkuras habis:</span></p>
<ul style="margin-top:0;text-align:justify;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Subhanallah Walhamdulillah Walailaha ilallah Wallahu Akbar.<br />
</strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Lailaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minaddzalimin.</strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Subbuhun Quddusun Rabbuna Warabbul Malaikati Warruh.</strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Allahumma Nawwir Qulubana Binuri Hidayatika Kama Nawwartal Ardlo Binuri Syamsika Abada.</strong></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong>Rabbana La Tuzigh Qulubana Ba’da Idz Hadaitana Wahablana Min-Ladunka Rahtaman innaka Antal Wahhab.</strong></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jika Anda seorang penganut Hindu, ucapkan Mantra Gayatri dengan teknik seperti di atas:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Om</strong><strong> bhur bhuvah svah tat savitur varenyam </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tentu terlalu berat bila Anda mengucapkannya mulai dari <strong>Om</strong> hingga <strong>pracodayat</strong> dengan hanya satu tarikan napas. Bagi dua saja. Satu tarikan napas mulai dari <strong>Om</strong> hingga <strong>varenyam</strong>. Lalu satu tarikan napas lagi mulai dari <strong>bhargo devasya</strong> hingga <strong>pracodayat</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bila Anda seorang Katholik, lantunkan <strong>Gloria in Excelsis Deo</strong> dengan irama yang biasa Anda gunakan, berulang-ulang, dengan satu tarikan napas, setiap ulangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jika Anda seorang penganut Yahudi (Judaisme), ucapkan: <span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><strong>Barukh ata Adonai, Eloheinu Melekh ha-Olam</strong>, dan kalimat-kalimat do&#8217;a lainnya dengan teknik yang sama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ini hanya beberapa contoh saja dari berbagai Mantra Swara yang dapat Anda gunakan untuk mengeksplorasi <em>power</em> atau kekuatan suara Anda. Anda bisa menambahnya dengan puji-pujian yang lain, sesuai keyakinan agama Anda.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Namun berdasarkan uraian ini, terjawablah pertanyaan di awal tulisan: mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Mengapa Musa, Yesus, Muhammad, Buddha ,memiliki suara-suara yang penuh keagungan? Karena mereka rajin memuji Tuhan dengan penuh cinta, penuh rasa hormat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Mereka lantunkan puji-pujian itu dengan suara rendah, khidmat dan dengan napas teratur. Mengapa tidak kita tiru mereka? Melatih suara kita, sambil memuji Tuhan. Dan, Tuhan pun, akan melimpahkan energi positif yang takkan pernah ada habisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="color:#003366;">[Gambar-gambar diambil dari: <a href="http://lifenspirit-prabhu.blogspot.com" target="_blank">lifenspirit-prabhu.blogspot.com</a>; <a href="http://cache.eb.com/eb/image?id=62651&amp;rendTypeId=4" target="_blank">cache.eb.com</a>; <a href="http://emzr.com/images/yoga-detoxification-10.jpg" target="_blank">emzr.com</a>;<a href="http://www.think-aboutit.com/images/Breathing.jpg">www.think-aboutit.com</a>]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jagatalit.wordpress.com/150/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jagatalit.wordpress.com/150/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=150&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/05/26/mantra-swara-menggali-%e2%80%9ckekuatan%e2%80%9d-suara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system8.gif?w=263" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system1.jpg?w=172" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system2.gif?w=208" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system3.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system5.jpg?w=205" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/07/meditasi-duduk12.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/05/breathing_system7.jpg?w=200" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
