Ziarah ke Dasar Diri

Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya, serta Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya).

Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, The Pilgrimage, dengan judul bahasa Indonesia:  Ziarah. Di negeri asalnya, buku ini diterbitkan pada 1987, bahkan mendahului The Alchemist yang telah lebih dulu populer di Indonesia.

Ketika Paulo Coelho menerbitkan The Pilgrimage dan The Alchemist, ia nyaris putus asa karena buku-buku tersebut hanya dibaca sedikit orang. Namun setelah terbit novelnya berjudul Brida (yang langsung meledak di pasaran) pada 1990, The Pilgrimage dan The Alchemist ikut terdongkrak, bahkan popularitasnya mengalahkan Brida. Dalam bahasa aslinya (Portugis) novel The Pilgrimage menggunakan judul: O Diario de Um Mago (Catatan Harian Seorang Pesulap).

Meski ada jarak waktu yang cukup jauh (24 tahun) antara penerbitannya dalam bahasa Portugis dengan penerbitannya dalam bahasa Indonesia, pesan-pesan yang disampaikan Paulo Coelho melalui novel The Pilgrimage (Ziarah) masih tetap relevan dengan  kondisi masa kini. Terutama bagi peminat spiritualisme lintas agama, yang dengan sadar meniadakan batas-batas antar-agama walau tetap memeluk agama yang diyakininya.

Bagi Paulo Coelho sendiri, The Pilgrimage mempunyai arti yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Novel ini merupakan pengalaman pribadinya yang ia tulis setahun setelah melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago. Seperti juga novelnya The Zahir, The Pilgrimage mengungkapkan pencerahan-pencerahan yang ia peroleh pada awal-awal karirnya sebagai penulis.

Road to Santiago

Road to Santiago atau Perjalanan Menuju Santiago adalah perjalanan ziarah yang biasa dilakukan umat Kristiani, khususnya penganut Katolik, sejak awal Masehi. Seperti Islam yang mewajibkan segenap umatnya untuk mengikuti Rasulullah Muhammad SAW yang berziarah dari Mekah ke Medinah — setidaknya sekali dalam seumur hidup, dalam ibadah haji — umat Kristiani sejak abad pertama Masehi juga dianjurkan menempuh tiga rute peziarahan yang dianggap suci. “Setiap rute,” tulis Coelho dalam The Pilgrimage, “memiliki berkah dan keuntungan tersendiri bagi mereka yang berjalan menempuhnya.”

Peta Perjalanan Ziarah menuju Santiago.

Perjalanan ziarah pertama yang dianjurkan itu adalah perjalanan menuju pusara Santo Petrus di Roma (Vatikan). Para peziarah ke Roma disebut sebagai Pengembara, bersimbolkan salib. Yang kedua, ziarah ke makam suci Yesus Kristus di Yerusalem. Para peziarahnya disebut sebagai Pembawa Daun Palem, karena mereka membawa daun palem yang dulu digunakan orang untuk menyambut Yesus saat memasuki Yerusalem. Dan, yang ketiga, adalah perjalanan ziarah ke makam San Tiago. Orang yang menempuh jalan ini disebut sebagai Peziarah, dengan simbol kulit kerang.

San Tiago adalah salah seorang dari tiga murid Yesus (dua lainnya: Saint Peter dan Saint John) yang menjadi saksi kebangkitan Kristus. Di Inggris, San Tiago dikenal dengan nama Saint James, di Prancis Jacques, di Italia Giacomo, bahasa Latinnya Jacob, dan nama aslinya (dalam bahasa Aramaic) Yaakov ben Zehdi.

San Tiago dimakamkan di suatu tempat di Tanjung Iberia, di daerah Galicia, Barat Daya Spanyol. Menurut legenda, bukan hanya San Tiago yang dimakamkan di sana, tetapi juga Maria Sang Perawan kudus, yang pergi ke sana sesaat setelah kematian Yesus, dan mengajak orang-orang di tempat tersebut untuk bergabung dalam kerajaan Allah. Tempat itu kini dikenal sebagai Compostela, dan makam San Tiago berada di di Katedral Santiago de Compostela.

Perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, dilakukan Paulo Coelho atas saran seseorang yang misterius, yang pertama kali bertemu dengannya di Dachau, di luar kota Munich, Bayern, Jerman, saat ia bersama isterinya, Christina Oiticica, mengadakan tur keliling Eropa. Orang itu bertemu lagi dengannya di suatu tempat di Amsterdam, dan pada saat itulah orang yang oleh Coelho hanya disebut Jean itu, menganjurkan agar Coelho kembali memperdalam Katolikisme, dan melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, untuk memperoleh pencerahan.

Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica.

Namun berbeda dengan latar belakang yang ia ungkapkan dalam kisah sesungguhnya, di dalam novel The Pilgrimage, Coelho menguraikan bahwa keputusannya melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, adalah lantaran perintah dari Sang Guru. Sang Guru meminta Coelho melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, guna menemukan kembali pedangnya, yang sebenarnya nyaris diperolehnya dalam suatu ritual di salah satu puncak gunung di Brasil.

Cuplikan video Paulo Coelho tentang perjalanannya ke Santiago.

Ordo Tradisi

Cerita diawali dengan upacara inisiasi di sebuah ordo esoterik, yang oleh Coelho disebut sebagai Ordo Tradisi, di suatu tempat bernama Itatiaia, di ketinggian puncak gunung Serra do Mar, yang termasuk dalam rangkaian pegunungan Agulhas Negras (Jarum Hitam) Brasilia. Upacara berlangsung malam hari, 2 Januari 1986.

Upacara itu, selain dihadiri isterinya dan empat orang lainnya (salah satunya  disebut Sang Guru) merupakan upacara penobatan Paulo Coelho untuk menjadi Guru Ordo RAM. Upacara diawali dengan penguburan benda pusaka, sebuah pedang yang sudah lama dimiliki Coelho dan sering digunakannya untuk berbagai ritual gaib.

Usai penguburan pedangnya yang lama, Paulo Coelho dihampiri Sang Guru seraya meletakkan pedang baru di atas tanah tempat pedang lama terkubur. Sang Guru kemudian menghunus pedangnya sendiri lalu menyentuhkan pedang itu ke dahi dan bahu Coelho, sambil berkata, “Dengan cinta dan kekuatan RAM, aku menahbiskanmu sebagai Guru Kesatria Ordo, sekarang hingga sepanjang hayatmu.”

“R untuk Rigor (ketetapan),” lanjut Sang Guru. “A untuk Adoration (penyembahan) dan M untuk Mercy (welas asih); R untuk Regnum, A untuk Agnus, dan M untuk Mundi. Jangan biarkan pedangmu lama tersimpan dalam sarungnya, agar tidak berkarat. Dan saat kau menghunus pedangmu, janganlah kau memasukkannya kembali tanpa terlebih dulu menggunakannya untuk kebaikan, membuka jalan baru, atau menumpahkan darah musuh.”

Coelho pun kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang baru yang terletak di hadapannya. Namun ketika Coelho menyentuh sarung pedang dan bersiap menggenggamnya, tiba-tiba saja Sang guru menginjak jemarinya, dan dengan nada marah mengatakan bahwa ia belum berhak memiliki pedang itu karena ia sedang diliputi kesombongan.

Sang Guru meminta Coelho untuk berjuang kembali melakukan pencarian pedang tersebut mulai dari awal. Dan, melalui isterinya, Sang Guru berpesan agar Coelho membuka peta Spanyol, dan mencari rute perjalanan dari abad pertengahan, yang dikenal dengan Jalan Misterius menuju Santiago.

Masa Pencarian

Atas desakan isterinya, setelah cukup lama Coelho mempertimbangkan perintah Sang Guru, langkah pencarian pun dimulai. Jalan Misterius menuju Santiago itu terbentang sekitar 700 kilometer, dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga ke Katedral Santiago de Compostela di Spanyol. Perjalanan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, seperti yang dilakukan para peziarah di masa lalu. Tak tanggung-tanggung, ada sejumlah orang besar yang pernah melakukan perjalanan ziarah dengan rute tersebut, di antaranya Karel Agung, Santo Fransiskus dari Asisi, Isabella dari Castille, dan Paus Johannes Paulus XXIII.


Para peziarah berjalan kaki menuju Santiago.

Dengan berjalan kaki, tentu saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu bagi para peziarah untuk sampai di tujuan. Kalau sempat, bisa menginap di desa-desa atau kota-kota kecil yang dilewati. Tetapi juga bukan tak mungkin para peziarah kemalaman di tengah hutan, di tengah gurun, bahkan di puncak gunung (karena ada beberapa gunung yang harus dilewati) bila tidak sempat mencapai desa terdekat.

Paulo Coelho pun berangkat menuju Saint-Jean-Pied-de-Port, dan menemui Mme Lourdes, seorang perempuan setengah baya, kuncen pintu gerbang menuju rute peziarahan. Dari Mme Lourdes, Coelho memperoleh kulit kerang, sebagai simbol para peziarah menuju Santiago. Namun Coelho bukanlah peziarah biasa yang akan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pemandu.  Coelho, harus ditemani seorang pemandu yang akan menemuinya di suatu tempat.

Singkat cerita, Coelho bertemu dengan sang pemandu, yang belakangan diketahui ternyata seorang disainer ternama dan termasuk orang terkaya di Italia. Ia juga seorang anggota partai komunis Italia dan — anehnya — seorang penganut Katolik yang — tentu saja — sangat taat. Pemandu itu, yang disebutnya Petrus (untuk menyamarkan nama aslinya) tak hanya bertugas memandu (menunjukkan) rute perjalanan, tetapi juga berfungsi sebagai guru spiritual Coelho, yang akan mengajari Coelho berbagai hal yang bersifat batiniah. Mengarahkan Coelho untuk memandang hidup ini dengan penuh kasih tanpa batas. Penuh optimisme. Tanpa kekhawatiran dan ketakutan.

Coelho harus menjalani serangkaian latihan fisik. Terutama tahapan-tahapan latihan RAM, semacam latihan olah nafas dan olah tubuh, guna mengajari tubuh dan jiwa menyatu dengan semesta. Ia bahkan harus menyelam di sungai yang dalam, kemudian naik ke atas air terjun yang sangat membahayakan jiwanya. Coelho tidak boleh membantah perintah sang pemandu, meskipun berlawanan dengan akal sehat.

Di perjalanan, berkali-kali Coelho bertemu dengan seekor anjing hitam, yang menurut Petrus, adalah jelmaan iblis bernama Legiun. Coelho harus mengalahkan sang iblis yang ada dalam diri anjing itu, sehingga terjadilah pertempuran fisik antar-keduanya. Pertempuran itu dimenangkan Coelho walaupun dengan tubuh yang penuh luka akibat gigitan dan cakaran anjing.

Namun setelah berhasil mengalahkan anjing, iblis Legiun yang semula berada di tubuh binatang tersebut berpindah ke tubuh Coelho. Untungnya Coelho berhasil mengusir iblis itu dari tubuhnya, dan Coelho pun terbebas dari pengaruh iblis.

Coelho melukiskan perjalanan menuju Santiago itu dengan sangat detail. Para pembaca diajaknya menyusuri tempat-tempat yang indah. Ladang-ladang gandum yang membentang sepanjang mata memandang, padang-padang pasir yang berdebu, hutan sabana dan stepa, menyusuri pegunungan Pyrenees, mendaki dan menuruni tebing dan lembah.

Ladang gandum sepanjang mata memandang.

Di sepanjang jalan, Petrus sang pemandu selalu mengajaknya berdiskusi tentang segala hal. Mulai dari obrolan-obrolan teologis sampai hubungan antar-manusia. Dalam setiap diskusi yang dilakukannya, Petrus selalu menekankan agar Paulo Coelho berupaya mencapai agape, yakni cinta kasih kepada seluruh manusia, tanpa batas cakrawala.

Berbagai desa disinggahinya, seperti desa Roncesvalles, tempat gereja Collegiate yang didirikan oleh Kaisar Karel Agung berabad-abad silam, atas sumbangan para raja Jerman, Spanyol, Portugal dan Prancis. Kemudian desa Puente de la Rena, tempat sejumlah biarawan Katolik mengabdikan diri. Adapun kota-kota yang dilewatinya antara lain Logrono, Pamplona, Santo Domingo de la Calzada, dan Ponferrada, kota tempat Petrus sang pemandu, akhirnya meninggalkan Coelho.

Kathedral Santiago de Compostela.

Di Ponferrada, menjelang perpisahannya dengan Coelho, Petrus mengajaknya berbincang-bincang untuk terakhir kali di sebuah stasiun kereta api yang penuh lokomotif dan oli. Mengapa harus di stasiun kereta api? “Jalan menuju Santiago akan segera berakhir,” ujar sang pemandu, “dan karena kehidupan nyata kita lebih mirip jalur kereta api ini, yang berbau oli, daripada pedesaan yang kita jumpai sepanjang perjalanan, lebih baik kita berbincang di sini.”

Petrus pun kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai hal yang telah dilalui Paulo Coelho sepanjang perjalanan, dan makna-makna kehidupan yang berada di baliknya. “Jika kau berhasil mendapatkan pedangmu, kau harus mengajarkan Jalan menuju Santiago ini kepada orang lain. Dan jika hal ini terjadi — saat kau menerima peranmu sebagai Guru — kau baru akan menemukan jawaban yang terdapat di hatimu.”

“Semua orang sebenarnya tahu jawabannya,” lanjut Petrus, “bahkan saat belum ada orang memberitahukannya kepada kita. Kehidupan memberikan pengetahuan kepada kita setiap waktu, dan rahasianya adalah menerima bahwa hanya dalam kehidupan sehari-hari saja kita akan mampu sebijak Sulaiman dan seperkasa Iskandar Agung. Namun kita baru akan menyadari hal ini hanya saat kita terpaksa mengajari orang lain dan terlibat dalam petualangan luar biasa seperti sekarang.”

Tak lama kemudian Petrus pun pergi meninggalkan Paulo Coelho. Ia hanya sekali saja bertemu lagi untuk terakhir kalinya, di Kastil Ksatria Templar di kota Ponferrada, dalam sebuah ritual. Namun tanpa bertegur sapa. Sejak itu, Coelho melanjutkan perjalanannya sendiri menuju Katedral Santiago de Compostela untuk menemukan pedangnya.

Dalam kesendirian, di sebuah puncak gunung bernama El Cebrero, Coelho semakin menyadari bahwa Perjalanan Ziarah menuju Santiago yang hampir diselesaikannya itu, tak semata untuk mencari pedang. Melainkan untuk merasakan penderitaan dan sekaligus kebahagiaan umat manusia sekecil apapun.

Latihan-latihan fisik yang dilaluinya, seperti memindahkan kayu salib yang sangat berat dengan tangan penuh luka. Kemudian mengubur hidup-hidup dirinya di pegunungan dalam kegelapan malam, tak lain untuk merasakan betapa beratnya kehidupan sebagian besar umat manusia, dan betapa dekatnya kematian dalam hidup kita.

Di tengah penderitaan itu, betapa banyak manusia yang tetap bersyukur meskipun kebahagiaan yang didapatnya sangat sedikit. Sebagai seorang calon Guru dari Ordo Tradisi, ia mempunyai tugas untuk mengajarkan makna kehidupan dan bagaimana kehidupan itu harus dijalani tanpa ketakutan, seraya menebarkan agape, cinta kasih kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kehidupan.

Di keheningan puncak gunung El Cebrero, Paulo Coelho bersimpuh dan berbicara kepada Sang Pencipta: “Aku berjalan ribuan kilometer untuk menemukan hal yang sebenarnya telah kuketahui jawabannya, hal yang kita semua tahu tapi sangat sulit menerimanya. Apakah ada hal yang lebih sulit, oh Tuhan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan kekuatan itu? Rasa sakit yang kini mendera dadaku, yang membuat aku tersedu dan anak domba itu ketakutan, sesungguhnya telah dirasakan sejak pertama kali manusia ada di dunia.”

“Hanya beberapa yang mampu menahan beban kemenangan ini,” lanjut Coelho, “kebanyakan merelakan impian mereka saat mereka merasa impian itu dapat terwujud. Mereka menolak untuk bertempur sepenuh tenaga karena mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan kebahagiaan yang mereka raih; mereka terpenjara dalam benda-benda material di dunia. Seperti aku dulu, yang ingin mendapatkan pedangku tanpa tahu apa yang akan kulakukan dengannya.”

Usai berdo’a, Coelho bergerak perlahan menuruni lereng menuju sebuah dusun yang juga bernama El Cebrero, bersama anak domba yang sejak tadi menemaninya. Di sana ada sebuah kapel yang kemudian dimasukinya. Di kapel itu, ternyata Sang Guru telah menunggunya di depan altar dengan sebilah pedang di tangan, sambil berseri penuh kebanggaan. Pedang itu, diserahkannya kepada Paulo Coelho, dengan penuh keikhlasan.

Perjalanan Coelho sudah selesai dengan diterimanya kembali pedang tersebut. Ia hanya tinggal melaksanakan ritual terakhir yakni berziarah ke makam San Tiago di Katedral Santiago de Compostela. Perjalanan Ziarah menuju Santiago, hakikatnya merupakan perjalanan ziarah ke dasar diri, dan Coelho, telah melakukannya dengan baik.

Bagi para penggemar novel-novel thriller, novel-novel Paulo Coelho, termasuk The Pilgrimage, memang akan terasa membosankan, karena isinya merupakan renungan demi renungan. Tetapi bagi para peminat spiritualisme, novel-novel Coelho akan terasa seperti oase di tengah kegersangan padang pasir. Menyejukkan dan melegakan.

Dan, para peminat spiritualisme ini ternyata semakin meningkat jumlahnya. Terbukti dari selalu larisnya novel-novel spiritual Paulo Coelho. Para penggemarnya berada di seantero dunia, dengan beragam agama.

Billy Soemawisastra

Paskah dan SMS Sejuta Umat

Dan, teknologi komunikasi mutakhir menunjukkan kedigjayaannya: produksi pesan pendek melalui sms maupun facebook di sekitar perayaan umat Kristiani dari Jumat Agung hingga Paskah 2010. Jumat Agung adalah perayaan wafatnya Jesus Kristus sedangkan Paskah menandai KebangkitanNya.

Melalui teknologi komunikasi mutakhir dengan PC, laptop ataupun ponsel, segala kegaduhan penyampaian ucapan menjadi serba cepat dan tak repot. Dulu orang mesti memilah-milah kartu ucapan  yang cocok, mengirim jauh hari sebelum waktunya agar tak telat tiba di alamat. Sekarang tinggal ketik, tekan tombol atau klik dan beres. Balasan dapat tiba dalam hitungan detik atau menit.

Wah. Kita tengah menikmati keajaiban global village (Desa Dunia).

Toh ada yang hilang, sapaan-sapaan lewat surat atau kartu pos jaman dulu (jadul) rasanya lebih asli atau orisinal. Dan otentik. Sekarang ini bahasa TI bisa menyesatkan. Maklumlah media adalah pesan itu sendiri (Marshal Mc Luhan; The Media is the message).  Cobalah gimana kita bisa menikmati:  ”Met Paskah”.

Sebagai ekstrim yang lain, mesti pakai bahasa asing, Inggris, misalnya, “Happy Easter” atau latin (mungkin kesannya lebih kudus) seperti, “Christo Anesti Allisto Anesti” (bangkit, tegak, tegar bersama Tuhan). Ini agak “menyesatkan” karena seolah-olah supaya lebih kristiani pakailah bahasa asing.

Namun yang lebih celaka adalah ucapan-ucapan yang diproduksi oleh kelompok-kelompok tertentu, boleh jadi bekerjasama dengan operator pelayanan  jaringan yang kemudian diserap begitu saja oleh umat dan disebar-luaskan,  seolah-olah ini paling paten.

Ada contoh:

Saudaraku…

Jika ada 1000 orang yang rindu padamu, aku turut di dalamnya.

Jika ada 100 orang yang MENYAYANGIMU

pasti aku termasuk …

Jika ada 10 orang yang peduli padamu,

Percayalah salah satunya pasti.

Aku…

Tetapi jika ada 1 orang yang mau MATI untukmu,

tunggu dulu

itu pasti bukan aku

HANYA DIA yang RELA MATI

Untukmu…

……

Happy Great Friday

Selamat Merayakan Hari Jumat Agung

Hari wafatnya Jesus Kristus di kayu salib

…..

Atau:

SELAMAT !!!

Anda mendapat Pemenang GEBYAR PASKAH BERHADIAH…

Anda berhak atas satu set perangkat SUKACITA

dan  satu unit DAMAI SEJAHTERA

dan BUAH-BUAH ROH

hadiah bisa Anda miliki cukup dengan mentransfer IMAN dan PENGHARAPAN

kepada JESUS KRISTUS serta mengirim KASIH kepada sesama.

Awas Penipuan!

dst…dst…dst…

Nah yang seperti ini yang saya bilang tadi, pesan untuk sejuta umat. Satu orang bisa mendapat pesan yang sama dari 3 orang. Artinya orang yang melanjutkan pesan itu tak sadar telah menjadi agen “perdagangan bebas” pesan-pesan perayaan keagamaan.

Neoliberalisme telah berhasil juga teologi menjadi sekadar komoditi He… he… he…,  saya juga melanjutkan pesan semacam itu ternyata.

Padahal dalam buku-buku kumpulan cerita humor tentang para pemuka agama Kristen mula-mula sekitar abad 2 Masehi, banyak cerita yang bermakna bila disebarluaskan di abad globalisasi ini.

Saya kutip saja :

Konon ketika Jesus Kristus turun ke “kerajaan maut” atawa neraka  usai mengalami penyaliban, Ia menemui pendosa, tak melihat dari bangsa mana, sekte agama apa, mengampuni dan membebaskan mereka.

Melihat itu , Iblis, sang raja kegelapan menangis, karena neraka telah kosong.

Alkitab , Jesus membujuk Iblis:

“Tak perlu menangis, nanti akan ku masukkan ke sini jadi pemimpin dunia yang kejam, para koruptor, para pegiat perang, para penindas rakyat dan para pemimpin agama yang lebih suka berkolaborasi dengan penguasa jahat, ketimbang membela umatnya yang diperlakukan tidak adil, miksin dan tertindas.  Sabarlah”.

Kenapa kita tidak belajar menulis perumpamaan-perumpamaan baru dengan memanfaatkan kedigjayaan teknologi komunikasi ?

Selamat Paskah!

Arthur John Horoni

Mensyukuri Musibah: Mampukah?

“Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,” kata Adhi dengan wajah berseri. “Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?”

“Adhi, itu bukan ceritaku.” Begitu timpalku. “Tapi itu ‘kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para Wali Allah atau para Kekasih Allah sesungguhnya tidak pernah merasa takut, khawatir ataupun berduka cita sepanjang hidupnya, lantaran mereka selalu berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khalik.”

“Saya tahu itu. Dan, seperti para beliau,  saya juga telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah,” ujar Adhi dengan wajah yang tetap sumringah.

Sudah biasa saya mendengarkan celoteh Adhi tentang berbagai keresahan religiusitasnya. Tentang gugatannya terhadap Tuhan, yang menurutnya tidak pernah adil. Tentang berbagai ajaran agama, yang menurutnya tidak pernah memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Tentang berbagai kisah para Nabi yang menurutnya hanya dongeng pengantar tidur belaka.

Saya selalu mendengarkan celotehnya dengan sabar, dan saya tidak pernah mendebatnya. Buat apa? Dia pernah mengecap pendidikan pesantren seperti saya, dan bahkan di pesantren yang sama. Dia pernah mengenyam pendidikan di sebuah fakultas teologi, yang — ndilalah — merupakan fakultas saya juga, dulu.

Saya merasa hanya buang-buang waktu saja kalau saya berdebat dengannya, karena dia tahu betul argumen yang akan saya bangun untuk mendebatnya. Kata para dukun, seguru seilmu janganlah saling ganggu. Jadi, saya pun tidak pernah “mengganggu” pikiran-pikirannya.

Tetapi kedatangannya hari itu benar-benar berbeda. Wajahnya tidak sekusut biasanya. Tidak ada gugatan terhadap Tuhan, seperti yang biasa disampaikannya. Adhi kelihatan sangat gembira. Padahal, ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah sekitar dua pekan menginap di sana.  Dua pekan sebelumnya, ia menjalani operasi usus tahap pertama. Ada kanker ganas dalam stadium lanjut menggerogoti ususnya. Kata dokter, Adhi tinggal “menunggu waktu”.

“Saya sudah siap,” kata Adhi. “Saya sudah berterimakasih padaNya. Saya berterimakasih atas kanker yang diberikanNya kepada saya. Saya berterimakasih karena sayalah yang telah dipilihNya untuk menikmati penderitaan ini. Saya berterimakasih karena saya telah diajariNya untuk bersyukur. Bersyukur tidak hanya karena kenikmatan hidup yang telah dilimpahkanNya kepada saya. Tetapi juga karena penyakit yang kini menggerogoti tubuh saya.”

Seperti biasa, saya terdiam mendengarkan celotehnya. Ternyata itu merupakan celotehnya terakhir. Sepekan setelah itu, Adhi berpulang tanpa pamit. Dan, ia memang tidak perlu pamit kepada siapapun.

Tentu saja saya tidak pernah bertemu lagi dengan Adhi, bahkan dalam mimpi. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pada pelajaran konkret yang disampaikannya sebelum pergi: berterimakasihlah selalu padaNya, termasuk atas musibah yang diberikanNya. Mampukah saya? Rasanya, tidak.

Billy Soemawisastra

Mi’raj Isa Al-Masih

Setiap tanggal 21 Mei, umat Nasrani merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus, seperti juga 21 Mei 2009 ini. Dalam salah satu Kamus Alkitab terbitan tahun 60-70-an, ada padanan Kenaikan Yesus Kristus, yaitu Mi’raj Isa Al-Masih.

Sebelas tahun yang lalu, juga pada bulan Mei, pada saat umat Nasrani khusuk berdoa merayakan Kenaikan Yesus Kristus, Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden RI. Saat itu ada seloroh: Yesus naik, Soeharto turun.

Saat ini, hanya berselang sehari, dua hari raya dengan dua istilah penuh harapan, melintas di sejarah negeri ini: Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei) dan Hari Kenaikan Yesus Kristus (21 Mei). Para mistikus atau peramal boleh-boleh saja mengotak-atik istilah kebangkitan dan kenaikan ini dengan berbagai fenomena. Boleh duniawi ataupun samawi, silakan saja.

Bagi saya, dihubungkan dengan agenda nasional pemilihan umum (legislatif dan eksekutif) yang sedang bergulir di negeri ”ratapan pulau kelapa” ini, makna kebangkitan dan kenaikan jadi menggoda.

Apa yang betul-betul bangkit saat ini?

Bila melirik data pemilu legilatif, yang bangkit adalah kelompok rakyat yang tak memilih (orang bilang golput). Coba, sekitar 49% betul-betul memilih tak menggunakan hak pilih. Sementara sekitar 12% karena tidak tercantum di daftar pemilih tetap.

Makna 49%, Sobat, mengandung arti, kelompok inilah pemenang pemilu legislatif yang sebenarnya. Lebih jauh, kelompok ini memiliki kesadaran kritis menolak gombalisasi dari partai-partai yang dikuasai orang-orang haus kuasa, serta para birokrat yang takabur.

Yesus Kristus atau Isa Al-Masih, lebih 2000 tahun silam melawan gombalisasi dari para pemimpin (termasuk pemimpin agama) Yahudi yang lebih mementingkan kekuasaan, mengubah pesan kitab suci menjadi doktrin yang justru menindas rakyat kecil.

Karena itu, di satu kesempatan membaca Kitab Suci di Synagoge (rumah ibadah agama Yahudi), Yesus membaca gulungan Kitab Nabi Yesaya (60:1-2), seperti yang dilaporkan penulis Injil Lukas (4 : 18-19); ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab itu, Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan Tahun Rahmat Tuhan telah datang?”

Begitu. Jadi Yesus berpihak pada seluruh rakyat yang terpinggirkan. Dari sana Ia menyampaikan kabar baik (Injil) sebagai berita pembebasan atau perubahan total. Tentu saja para pemimpin agama Yahudi yang sudah berkolaborasi dengan raja boneka Herodes dan Gubernur Romawi (sang penjajah) Pontius Pilatus, tersinggung berat, akhirnya marah besar dan menyalibkan Yesus.

Umat Kristiani mengimani Yesus yang disalibkan, mati dan dikuburkan itu, bangkit pada hari ketiga, yang kemudian di rayakan sebagai Hari Raya Paskah. Hari Kenaikan berlangsung 40 hari setelah Hari Raya Paskah.

Pada masa 40 hari itu, menurut beberapa tafsiran teolog, Yesus melakukan pengorganisasian kembali murid-murid-Nya yang porak poranda pada saat Ia disalibkan. Kalau istilah partai sekarang, Ia memantapkan kaderisasi, agar para murid tetap setia kepada Injil, Kabar Baik tentang Pembebasan dari ketidakadilan, karena itu selalu berpihak kepada rakyat kecil.

Para murid harus memiliki bela rasa kepada kaum tertindas dan berjuang untuk perubahan ke arah lebih baik seiring dengan kehendak Allah.

Jika dilirik dari sistem politik kiwari, sikap Yesus seperti ini adalah sikap anti mapan, sikap kiri. Karena ia menentang pemimpin agama yang senang jadi nabi istana.

Nah, bila saat ini, di sini, di Indonesia kita berefleksi di mana sebenarnya posisi institusi agama dan para pemimpinnya?

Apakah di pihak rakyat tertindas seperti sikap Yesus, atau memilih tempat aman di pihak kaum penindas (pada era Yesus, Kaum Farisi).

Yang jelas, rakyat sudah bangkit dari nina bobo para politisi, yang mengumbar janji-janji muluk setiap pemilu. Dan rakyat pasti naik kelas, menjadi lebih jeli untuk memilih pemimpin yang benar-benar memiliki bela rasa kepada penderitaan rakyat. Kalau golput semakin naik pada pemilihan presiden, jangan salahkan rakyat.

Itu berarti, belum ada pemimpin yang cocok dengan hati rakyat, atau karena sistem politik ini tidak memberi peluang majunya kaum muda untuk memimpin bangsa. Jangan lupa, Sobat, Yesus yang historis lebih 2000 tahun silam, adalah orang muda yang penuh semangat namun bijak. Usianya sekitar 30-an tahun.

Selamat merayakan Mi’raj Isa Al-Masih.

Shalom.

Arthur J. Horoni

Rakyat dan Pergaulan Antar-Iman

Saya bertumbuh menjadi remaja di tengah komunitas majemuk (etnis dan agama) di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Seingat saya, di tahun 50-60-an itu, tak ada persoalan menyangkut pergaulan antar-etnis maupun antar-iman.

Waktu itu, sejoli yang ”terlibat” percintaan dan memilih berumah tangga tak begitu pusing dengan urusan beda agama atau beda suku. Mereka bisa menikah di Kantor Catatan Sipil. Urusan perkawinan secara agama, belakangan. Malah ada yang memberi nama semacam ”sekte baru”, ”Krislam”, untuk pasangan yang beragama Kristen dan Islam. Tentu saja itu cuma ungkapan permainan kata tidak serius. Di dalam pergaulan rakyat jelata, pergaulan teramat manusiawi, tak ada sekat yang jadi beban.

Dari awal 90-an hingga era 2000-an, saya sering berkunjung ke Kalimantan: Selatan, Tengah, Barat dan Timur. Di beberapa kelompok Suku Dayak, terutama di pedalaman Kalteng dan Kalbar, masih kokoh rumah betang, rumah panjang yang dihuni satu kekerabatan tertentu. Di rumah besar itu beberapa keluarga hidup bersama, rukun, sekalipun berbeda agama atau iman. Ada Kaharingan (agama suku), Islam, maupun Kristen. Nilai-nilai ini dipraktekkan dan dijalankan dengan khusuk, dan ternyata hal itu tidak menganggu hubungan kekerabatan manusiawi, malah memperkaya.

Di lingkungan etnis Karo, Sumatera Utara, perbedaan agama tidak merusak hubungan kekeluargaan atau ikatan marga. Saling berkunjung dan mengucapkan selamat hari raya selalu diwarnai oleh makan bersama.

Tersebutlah di Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat, suku besar Sebyar. Di lingkungan etnis ini hadir dua agama: Islam dan Kristen. Kalau Anda berkunjung ke rumah penduduk dari suku ini, hubungan saling menghargai dalam pergaulan antar-iman dapat ditemukan secara terang. Ini berhubungan dengan urusan makanan. Di dapur rumah tangga suku Sebyar selalu disediakan kuali, belanga, pokoknya alat masak yang diberi ”label” atau ditulis: kuali/belanga Islam dan Kristen. Ini tentu saja kearifan setempat dalam menjaga jangan ada saudaranya yang kena pencobaan.

Sungguh membahagiakan pergaulan antar-iman di kalangan rakyat jelata: tulus dan kaya spiritualitas.

Alhamdulillah. Haleluya.

Arthur J.Horoni

So Help Me God

Sudah berlangsung sepekan, Presiden Amerika Serikat ke-44,  Barack Hussein Obama, berkantor di Gedung Putih Washington. Tetapi saya masih terkesan dengan rangkaian upacara pelantikan Presiden AS berkulit hitam itu,  pada tanggal 20 Januari lalu. Pada hari tersebut, tak bosan-bosannya saya memelototi layar CNN, yang menyiarkan langsung acara inaugurasi Presiden AS, mulai pukul sebelas malam hingga jam lima pagi (WIB).

Rangkaian acara inaugurasi Presiden AS  itu memang berjalan sangat lambat. Nyaris bertele-tele, seakan tidak mau kehilangan detail sedikit pun. Tetapi itu merupakan kepatuhan warga Amerika terhadap prosedur operasional standar (SOP) yang mereka sepakati, sejak zaman George Washington.

Apa yang dilakukan warga Amerika dalam acara pelantikan Presiden Barack Hussein Obama, tempo hari, sebenarnya hanya merupakan pengulangan empat tahun sekali. Bedanya, acara tersebut, kali ini mencatat rekor tertinggi dalam sejarah Amerika, dalam hal jumlah orang yang hadir untuk menyaksikan acara pelantikan itu secara langsung di seputar gedung Capitol Hill.

Hampir dua juta orang hadir di lokasi acara, dan mungkin mencapai milyaran pasang mata menyaksikannya melalui layar televisi. Itu tak lain lantaran Barack Hussein Obama adalah Presiden AS paling fenomenal dalam sejarah. Selain untuk pertama kalinya Amerika Serikat mempunyai presiden berkulit hitam, juga karena Obama berhasil “menyihir” Amerika dan dunia, dengan janji-janjinya tentang “perubahan”.

pidato-presiden-obama-dan-crowd

Jutaan warga AS, simak pidato Presiden Obama.

Masih terlalu dini untuk dibuktikan, apakah janji-janji Obama itu benar-benar dilaksanakan. Maklum, baru seminggu ia berkantor di istana presiden. Tetapi Amerika dan dunia memang membutuhkan obat mujarab, untuk menyembuhkan perekonomian global yang sedang sakit (dan wabah penyakit itu berawal dari Paman Sam).

Selain pemulihan ekonomi, Amerika juga perlu memulihkan citranya di mata dunia. Sejak George Walker Bush, presiden sebelumnya, mencanangkan dan melaksanakan kebijakan War against Terrorism pasca tragedi WTC 11 September 2001, citra Amerika kian memburuk.

Ratusan ribu masyarakat sipil terbunuh, dalam perang yang konon dilancarkan untuk memberantas para teroris itu. Afghanistan dan Irak, menjadi ladang pembantaian masyarakat sipil yang dilakukan tentara Amerika. Belum lagi ratusan atau bahkan ribuan warga sipil lainnya, disiksa dan dianiaya di penjara-penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan penjara lainnya, dengan tuduhan melakukan serangan teror terhadap Amerika. Banyak di antara mereka yang terbukti tidak bersalah, namun sudah terlanjur disiksa dan dihina martabat kemanusiaannya.

Dukungan pemerintah Amerika Serikat terhadap Israel, yang meluluhlantakkan Gaza City dan membunuh ratusan ribu warga Palestina belum lama ini, semakin membuat wajah Paman Sam coreng-moreng di mata warga dunia. Wajar, jika kemudian masyarakat Amerika dan dunia berharap banyak pada Barack Hussein Obama, yang telah berjanji melakukan berbagai perubahan untuk memperbaiki situasi negerinya dan dunia.

Kembali pada acara pelantikan Presiden Barack Hussein Obama. Setidaknya ada tiga hal yang membuat saya terkesan pada acara pelantikan tersebut. Pertama, disiplin yang tinggi masyarakat Amerika ketika menyaksikan acara bersejarah itu.

Jutaan massa yang memadati lapangan dan jalan-jalan di seputar Capitol Hill dan White House, tampak mampu mengatur diri. Tak ada kerusuhan ataupun keriuhan yang tidak perlu. Mereka hanya bersorak dan berteriak histeris pada saat-saat yang tepat. Misalnya sebelum dan sesudah Obama dilantik, dan sebelum serta sesudah Presiden AS ke-44 itu berpidato. Tetapi sewaktu upacara pengucapan sumpah presiden berlangsung, dan saat sang presiden berpidato selama sekitar 18 menit, massa yang membludak itu diam, mendengarkan dengan khidmat. Hanya sesekali mereka bertepuk tangan, pada kalimat-kalimat tertentu dalam pidato Presiden Obama, yang mengena di hati mereka.

Mereka juga diam mendengarkan dalam hening, sewaktu Aretha Franklin menyanyikan lagu My Country Tis of Thee. Begitu pula tatkala para pemusik senior seperti Itzhak Perlman, Yo-Yo Ma, Gabriela Montero dan Anthony McGill, memainkan sebuah komposisi musik hasil karya John William, Air and Simple Gift.  Ketika lagu ini dimainkan secara instrumental beberapa saat menjelang pengucapan sumpah Presiden Obama, kerumunan massa yang berjumlah hampir dua juta orang itu mendengarkan dengan sabar, dan baru bertepuk tangan setelah pertunjukan selesai.

aretha-franklin

Aretha Franklin, ketika beraksi di Capitoll Hill.

Kesan kedua adalah penampilan egaliter Presiden Barack Hussein Obama dan Wakil Presiden Joe Biden, dalam seluruh rangkaian acara inaugurasi.  Terutama sewaktu mereka berparade di sepanjang jalan 15th Street dan Pennsylvania Avenue, yang membentang sepanjang tiga kilometer antara Capitol Hill dan White House.

Semula, kedua pemimpin AS ini berada dalam limousine-nya masing-masing, yang berjalan sangat lambat, sambil melambai-lambaikan tangan ke arah kerumunan massa yang memadat di kedua sisi jalan. Tetapi 15 menit kemudian, Presiden Obama dan isterinya Michelle Obama, keluar dari mobil kepresidenan berplat nomor USA 1, lalu berjalan kaki, diikuti Joe dan Jill Biden.

Hanya sesekali Obama dan isterinya kembali masuk ke dalam mobil, untuk kemudian keluar lagi guna menyapa rakyatnya sambil berjalan kaki. Joe dan Jill Biden bahkan terus berjalan kaki hingga memasuki White House. Presiden Obama dan Wakil Presiden Joe Biden serta para isterinya, tampak tidak merasa takut apapun. Mereka melambai-lambaikan tangan dengan riang sambil melangkah santai. Padahal para pengawal presiden, Secret Service, telah menyediakan mobil yang mereka juluki The Beast, mobil yang sistem pengamanannya sangat canggih. Mobil yang konon tak bakal mempan ditembak roket sekalipun.

iring-iringan-obamaobama-walkingobama-michelle-jalan-kakijoe-jill-biden

“Aksi jalan kaki” Presiden Obama dan Wapres Biden.

Penampilan egaliter, santai, terkesan informal, juga diperlihatkan para mantan Presiden AS yang ikut menghadiri acara inaugurasi untuk Barack Obama. George Bush Senior, Bill Clinton, Jimmy Carter, dan bahkan George Walker Bush yang oleh sebagian masyarakat dunia dinilai sebagai Presiden AS paling arogan, dalam acara ini tampil sebagai tokoh-tokoh yang tampak egalitarian.  Semua ini tentu hanya kesan saya pribadi. Anda berhak tidak setuju.

US Presidential Oath

Kesan ketiga — dan ini yang paling membenam dalam ingatan saya — adalah sikap rendah hati masyarakat Amerika di hadapan Tuhan. Sikap ini tercermin dalam kalimat terakhir Sumpah Presiden Amerika Serikat (US Presidential Oath), yakni:  So Help Me God. Terjemahan bebasnya: ” Semoga Tuhan membantu/menolong saya.” Bisa juga diartikan, “Oleh karena itu Ya Tuhan, tolonglah/bantulah saya.”

So Help Me God, adalah sebuah pengakuan di hadapan Tuhan bahwa sehebat apapun manusia, termasuk manusia yang beruntung menjadi Presiden Terpilih Amerika Serikat, hakikatnya hanyalah seorang manusia biasa yang selalu membutuhkan pertolongan Tuhan. Termasuk pertolongan dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin negara adidaya yang sangat berpengaruh di dunia.

So Help Me God, mengandung arti bahwa seorang presiden sekalipun sangatlah kecil di hadapan Tuhan, dan segala daya upaya yang dilakukannya hanya akan berhasil bila memperoleh bantuan/pertolongan Tuhan. Kalimat selengkapnya sumpah Presiden AS, atau United States Presidential Oath itu, adalah sebagai berikut:

I — sang tersumpah menyebutkan namanya –  solemnly swear (or affirm) that I will faithfully execute the Office of President of the United States, and will to do the best of my ability, preserve, protect and defend the Constitution of the United States. So help me God. (Saya bersumpah dengan sesungguh-sungguhnya — atau menegaskan — bahwa saya akan melaksanakan tugas-tugas sebagai Presiden Amerika Serikat dengan penuh pengabdian, dan akan memberikan kemampuan saya yang terbaik (guna) menjaga, melindungi dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat. Oleh karena itu, Ya Tuhan, tolonglah/bantulah saya).

president-obamas-oath

Obama mengucapkan sumpah di Capitol Hill.

Lalu bandingkan dengan kalimat-kalimat Sumpah Presiden (Wakil Presiden) Republik Indonesia: “Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”

sumpah-presiden-sby

Ketika Presiden SBY membacakan sumpah.

Secara keseluruhan, Sumpah Presiden AS dan Sumpah Presiden (Wakil Presiden) RI, memiliki kesamaan arti, hanya redaksionalnya saja yang berbeda. Tetapi ada perbedaan makna yang sangat jauh antara kalimat “Demi Allah” yang diucapkan Presiden (Wakil Presiden) RI dengan kalimat “So help me God” yang diucapkan Presiden AS.

Kalimat “Demi Allah” adalah sebuah kalimat yang bisa diartikan sebagai “mengatasnamakan Allah”. Seolah-olah Presiden (dan Wakil Presiden) RI adalah “wakil Tuhan” di bumi Indonesia. Sehingga semua tindak-tanduknya, seakan telah mendapat restu Allah. Kalimat “Demi Allah” sama sekali tidak mencerminkan kerendah-hatian seorang manusia (termasuk seorang Presiden/Wakil Presiden) di hadapan Tuhan.

Sebenarnya tidak mengherankan bila seorang Presiden (Wakil Presiden) RI, merasa dirinya wakil Tuhan, seperti tercermin dalam sumpah yang diucapkannya pada saat pelantikan. Ini merupakan warisan zaman kerajaan-kerajaan di nusantara, yang para rajanya selalu mendaulat diri sebagai wakil Tuhan, sehingga tanpa malu-malu mereka pun menjuluki diri mereka dengan gelar-gelar seperti Khalifatullah, atau Sayyidin Panatagama.

Sedangkan Presiden AS, akan selalu diingatkan (sesuai sumpahnya) bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa, yang kebetulan terpilih menjadi presiden. Mereka menjadi presiden karena dipilih oleh mayoritas warga AS yang terdaftar sebagai pemilih, bukan karena diangkat oleh Tuhan.

Memang Presiden RI pun (sejak Soesilo Bambang Yudhoyono) adalah presiden yang dipilih oleh mayoritas rakyat Indonesia yang ikut memilih. Oleh karenanya, tak perlu lagi mengatasnamakan Allah, dengan mengucapkan “Demi Allah” ketika membacakan  sumpah.

Sumpah Presiden (Wakil Presiden) RI dan Sumpah Presiden AS, termaktub dalam konstitusi negara masing-masing. Tetapi tidak ada konstitusi buatan manusia yang tidak bisa diamandemen. Seperti juga konstitusi AS yang seringkali diamandemen, dan juga Undang-Undang Dasar NKRI yang beberapa bagian di antaranya telah diamandemen.

Jadi, tidak ada salahnya, bila suatu saat nanti, dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), para wakil rakyat (DPR dan DPD) yang terpilih lewat Pemilu, mengamandemen Sumpah Presiden (Wakil Presiden) RI, dengan mengganti kalimat “Demi Allah” dengan kalimat yang lebih manusiawi, yang lebih mencerminkan kerendah-hatian seorang manusia di hadapan Allah. Kalimat “Demi Allah” itu bisa diganti dengan kalimat, misalnya, “Semoga Allah Berkenan”,  “Semoga Allah Memberkati”, atau “Ya Allah, Restuilah”, “Ya Allah, Saksikanlah”.

Yang juga perlu diubah adalah cara membacakan sumpah. Presiden (Wakil Presiden RI, mengucapkan sumpahnya dengan membacakan teks. Sedangkan Presiden (dan Wakil Presiden AS) mengucapkannya dengan menghafalnya terlebih dulu, dipandu oleh seorang Hakim Agung atau Ketua Mahkamah Agung.

Mengucapkan sumpah dengan membacakan teks, terasa datar dan kurang membangkitkan emosi bagi yang membaca dan menyaksikannya. Sedangkan bila mengucapkannya tanpa teks, akan terasa sangat emosional. Meskipun memang resikonya cukup tinggi, yakni lupa dengan apa yang harus diucapkan. Seperti yang dialami Presiden Barack Hussein Obama, dan Ketua Mahkamah Agung AS John G. Roberts. Keduanya sempat lupa dengan kalimat-kalimat sumpah yang harus diucapkan di hadapan jutaan khalayak di Capitol Hill, sehingga pengucapan sumpah Presiden Barack Hussein Obama harus diulang esok harinya di Gedung Putih, dengan hanya disaksikan kalangan terbatas.

US-POLITICS-OBAMA

Mengulang pengucapan sumpah di White House.

Yang juga cukup menarik (berbeda dengan tradisi pelantikan Presiden/Wakil Presiden RI), kalimat-kalimat sumpah yang diucapkan Presiden AS dan Wakil Presiden AS, tidaklah sama. Sumpah Wakil Presiden AS, lebih panjang dibandingkan dengan sumpah presidennya. Berikut, petikannya:

I do solemnly swear (or affirm) that I will support and defend the Constitution of the United States against all enemies, foreign and domestic; that I will bear true faith and allegiance to the same; that I take this obligation freely, without any mental reservation or purpose of evasion; and that I will well and faithfully discharge the duties of the office on which I am about to enter: So help me God.

Walau bagaimana pun, ruang lingkup kekuasaan seorang presiden, berbeda dengan wakil presiden. Begitu pula beban tanggung jawabnya. Tugas seorang wakil presiden hanyalah memberikan support (bantuan) kepada presiden, sesuai kapasitasnya. Sehingga wajarlah bila kalimat-kalimat sumpah yang mereka ucapkan pun berbeda. Bila kalimat-kalimat sumpah yang diucapkan presiden dan wakil presiden (seperti yang selama ini dilakukan di Indonesia), sama bunyinya, tidak menutup kemungkinan sang wakil presiden merasa sama kedudukannya dengan presiden. Meskipun memang kalimat-kalimat sumpah, bukan satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan hal itu.

Sekali lagi, Anda boleh setuju, boleh juga tidak dengan apa yang saya uraikan dalam tulisan ini. Tetapi jika Anda telah selesai membaca tulisan ini, mari kita bersama-sama mendengarkan sebuah lagu dari 50 Stars, yang tersimpan di situs You Tube, dengan mengklik: So Help Me God, a Tribute to President Obama.

Billy Soemawisastra

[Foto-foto: www.washingtonpost.com, www.goblogmedia.com, www.gatewaync.com, huffingtonpost.com, www.usatoday.net, swamppolitics.com]

Kenangan Natal yang Tersisa: Spiritualitas Natal dalam SMS

foto-arthur1Oleh: Arthur J. Horoni

Saya    mendapat 47 SMS ucapan selamat Natal di penghujung Desember 2008 yang baru saja kita lewati. Pesan paling awal, tiba 24 Desember 2008, dari sobatku — tapi kami lebih dekat dan saling menyapa dengan sebutan “saudaraku” — seorang Muslim. Ia menulis,  “Saudaraku, Sang Mesias tak ke mana-mana. Dia senantiasa ada dalam hati manusia. Sang Mesias menghapus dosa para gembalaannya.”

Saya terhenyak. Saudaraku ini paham betul spirit atawa roh Natal: penebusan dan pembebasan dosa umat oleh Sang Mesias. Roh Natal bukan pesta-pora gemerlap rekayasa manusia, namun karya pembebasan umat manusia dari belenggu dosa karena Allah mengasihi manusia dan alam ciptaannya.

Tentu saja saya berterimakasih sungguh atas sapaan saudaraku itu, dan saya jawab dengan mengutip baris-baris puisi Natal Sitor Situmorang: “Menyambut Kristus kita menyambut revolusi, menyambut Kristus kita membangun dunia baru.” Penyair ini melukiskan dengan tepat spirit Natal: perubahan total yang cepat. Seratus delapan puluh  derajat, menuju pemulihan: hubungan kasih dengan Allah dan kasih terhadap sesama untuk membangun dunia baru. Tentu yang lebih berkeadilan, yang membuahkan perdamaian sejati, seraya menghargai alam ciptaan Sang Khalik.

Perdamaian sejati sebagai spirit Natal juga dipesankan saudaraku Muslim yang lain:  ”Selamat Hari Natal.  Semoga kedamaian Natal yang bersemayam di hati kita,  menyebar ke seluruh semesta.”

Ada lagi sobat dari Aceh menulis,  ”Semoga kasih sayang dan karunia Tuhan mengiringi hari-hari bahagia kita semua.” Luar biasa roh Natal yang sejati ini. Ia melintas batas. Ia memperkenankan manusia sebagai ciptaan Allah, untuk menegakkan kasih sayang yang membuahkan keadilan dan perdamaian.

Ada juga petuah yang saya rasakan lebih bernas dari khotbah pendeta yang sudah rutin. Datang dari saudaraku yang anak  Sukabumi.  “Tanpa kita sadari, dalam kepenuhan Allah, segala sesuatu akan menjadi baik dan menjadikan engkau tenang. Alangkah indahnya ketika Kristus masuk dalam hidupmu, melenyapkan semua kekhawatiran.  Semoga Damai Natal mewarnai kehidupan kita dalam menjalankan tugas dan aktivitas sehari-hari.”

Dari sobat-sobat saya yang Kristen, banyak petatah-petitih tentu saja. Syukurlah bukan khotbah. Terasa sebagai cermin akhir tahun yang menyemangati kerja. ”Saat itu Dia lahir di Betlehem. Saat ini Dia lahir di hati kita, untuk Keadilan, Perdamaian  bagi Rakyat dan Bumi.”

Juga ada yang berkelakar nakal, namun menyentuh untuk introspeksi: “Yang membuatmu mahal bukan dari penampilanmu, bukan dari harta yang kamu punya, tapi kamu mahal karena dalam hati dan pikiranmu ada Kristus. Met Natal Yauwww…”

Hahaha … Tentu ini membuat saya tergelak sukacita. Ini spirit  Natal, kabar sukacita yang menumbuhkan pengharapan akan hari depan yang lebih baik.

Spirit Natal ikhwal penebusan, pembebasan, perubahan, kasih, keadilan, perdamaian, belarasa, keutuhan ciptaan dan hari depan, sungguh melintas batas.

Andaikan kita mau mulai mempraktekkan semua itu secara sederhana, kecil-kecilan saja, dengan tidak larut dalam pesta-pora akhir tahun, tidak mabuk belanja, tidak merugikan apalagi merampas milik orang lain, mau berbagi kasih dan keprihatinan, berdamai dengan diri sendiri, mungkin kita mampu menggulirkan perubahan ke arah hari depan yang lebih berpengharapan.

Medan, Awal Januari 2009.