Di Sebuah Tajug
Di tajug ini
Tak lagi kudengar suara bedug
Hanya suara-suara tanpa suara
Menghiba Sang Maha Empunya
Di tajug ini
Tak lagi kudengar dengusan nafas
Degupan jantung, ketukan nadi
Hanya bisikan ruh selangit penuh
Memuja Sang Maha Ruh
Seraya bersimpuh
Di tajug ini
Kucoba menyatu dengan angin
Dengan malam
Dengan gemawan
Dengan bintang
Dengan pepohonan
Dengan segala
Yang bermakna kesunyian
Agar aku sampai padaNya
Di tajug ini
Hanya Dia Yang Ada
Tetapi tak sanggup aku
MenjangkauNya
Billy Soemawisastra



[Foto-foto: i23.photobucket.com, i270.photobucket.com, www.seedsiceland.org]
Yesus dan Petani Andalas Utara
Adakah masih kami disebut petani
bila cuma punya tubuh
golok dan
pacul?
……………………………………….
Tak elok, kawan
tak elok
orang bilang kau penggarap
penunggu
kuli tani
…………………………………….
Kau siapa?
…………………………………….
Kita sama sobat
petani tak bertanah
karena tanah petani
dari abad ke abad dijarah
para raja, tuan tanah, penjajah
bertukar jadi tanah negara
perkebunan swasta
perkebunan negara
dan kita melarat
………………………………………
Ya, ya, aku mulai celik
bapakku jadi buruh perkebunan
miskin seumur-umur
pensiun tak bertanah
tak berumah
padahal para birokrat kebun
punya berhektar tanah
dan pesangon milyaran
saat usai masa bakti
para anak juragan
sekolah di negeri manca
sialan!
…………………………………..
Tapi, siapa kau kawan?
………………………………….
Serigala punya liang
burung punya sarang
tapi Anak Manusia tak punya
tempat untuk meletakkan kepalaNya …
……………………………………
Ha ha ha, Kau rupanya
Sang pengembara dari segala abad
di segala tempat
tentu sebagai sesama orang menderita
aku cepat kenal Kau
Sang Yesus, sobat jelata dari Nazareth
Tapi kenapa Kau ke sini
ini lahan sengketa Bos
Kau bisa dapat bencana
belum kapok disalib kaum petinggi
agama Yahudi di Golgota dulu?
Menyingkirkah Kawan
tak tega bila Kau disakiti lagi
kini giliran kami
petani tak bertanah
merebut kembali milik kami
tempatMu
di Gereja yang mentereng di kota-kota
jangan kotorkan diriMu
di kubangan para miskin ini
……………………………………….
Nah, nah, kau salah Marihot
……………………………………….
Astaga, Kau tahu namaku
……………………………………….
Ya, ya, karena kau tak pasrah pada nasib
kau masih berjuang bersama sesama
petani tak bertanah
di Simalungun, Pematangsiantar,
Serdang Bedagai, Deli Serdang
Batu Bara
Asahan, Labuhan Batu
di Lampung
Tanah Pasundan
Jawa Timur
dan seterusnya
merebut tanah untuk petani
menegakkan harkat dan martabat rakyat
tertindas,
Maka kau saudaraku
Namamu di hatiku
…………………………………………..
Tapi kenapa Kau bilang aku salah?
bukankah tempatMu memang di gereja?
Apalagi ini hari Minggu
……………………………………………
Sobatku,
BagiKu, setiap hari hari Minggu
artinya, setiap hari itu ibadah
dan ibadah yang sesunguhnya
adalah mengunjungi para jelata
melawat yang sakit
memberi makan yang lapar
membebaskan yang terbelenggu
memaklumkan Kabar Baik bagi
petani tak bertanah
untuk berjuang mendapatkan tanah
mewujudkan perubahan
Ibadah yang sesungguhnya
bukan pamer baju baru
sepatu model mutakhir
anting dan kalung mas
lantas melamun terkantuk-kantuk
lantaran khotbah pendeta tak menyentuh
persoalan umat
hapal peta Yerusalem, Betlehem
dan Yerikho
namun tak paham
bahwa di desa Durin Tonggal,
Pancur Batu, Deli Serdang
petani yang berkeringat menanami tanah
dianiaya preman dan oknum polisi
Kaum miskin itu dituduh menjarah tanah perkebunan
Padahal perkebunan merugi terus
walau birokratnya kaya raya
korupsi sudah jadi budaya
dan gereja dibangun dari hasil curian pejabat
Tidak, kawan
Aku pengembara
Kau belum baca Yesus Putera Manusia
yang ditulis sobatku Kahlil Gibran
penyair pemberang yang juga menghajar
tingkah laku pemuka agama di Lebanon
yang sok saleh namun korup?
Dia tulis, yang di gereja itu
Yesusnya orang Kristen
yang jadi Kristus Sang Raja
kau bisa mengerti kalau belajar teologi
namun Aku,
Yesus orang Nazaret
Sobat para jelata
kau tak perlu repot belajar teologi
untuk memahami Aku
cukup baca Alkitab dengan matamu sendiri
jangan pakai rumus para teolog
atau petinggi gereja
yang kebanyakannya sudah jadi
nabi istana
maka kau akan paham
Injil
Kabar Gembira
artinya berubah
buta – melihat
lumpuh – berjalan
tawanan – merdeka
mampukah gereja melakukan itu?
…………………………………………….
Sobatku Orang Nazaret
tolong jangan bikin aku bingung
jadi apa sesungguhnya gereja itu?
Salahkah bila kubilang
gereja itu bukan gedung dari batu
besi dan kayu
ditambah struktur yang kaku
namun persekutuan orang yang
sehati sepikir untuk mengubah
nasibnya menjadi manusia yang bermartabat?
Dan jalan perubahan yang dipilih
Adalah jalan kasih
aktif tanpa kekerasan?
……………………………………………
Kau benar Marihot
Kitab suci tidak lagi rumus
kesalehan bagimu
ia telah mewujud menjadi
perbuatan
tidak seperti gaya
banyak pemimpin gereja
yang pintar bikin manifes
narasi natal
narasi paskah
namun tak pernah jadi tindakan
yang membebaskan rakyat dari kemiskinan
kekerasan
dan ketidakadilan
………………………………………
Bos
Jangan marah ya
aku pernah menggunakan namaMu
semoga aku tak menyebut dengan sia- sia
waktu itu, dalam perjuangan
merebut tanah bersama rakyat
polisi menghardik kami
hei siapa yang menyuruh kalian
menduduki lahan perkebunan ini?
menyingkir atau kutembak
Kujawab
hati nurani kami yang menyuruh kami
kami petani tak bertanah berjuang
melaksanakan reforma agraria
tanah untuk rakyat
tatkala Gus Dur masih presiden
dia bilang 40% tanah perkebunan mesti
dibagi untuk rakyat
belum lama Presiden SBY bilang
lebih 8 juta hektar lahan harus
dibagi kepada rakyat tak bertanah
karena ujar-ujar yang bagus ini
belum dilaksanakan
kami membantu para pemimpin itu
mulai menduduki tanah perkebunan
yang HGU-nya telah tamat
Pintar kau ya
kata komandan polisi
kalau tanah ini milik kalian
mana alas haknya
sertifikatnya
kujawab begini:
Yesus saja tak pernah memberi sertifikat
kau baru jadi polisi sudah belagak
Mati langkah polisi itu Bos
tapi ampunlah kalau caraku itu
telah memanfaatkan namaMu
secara sia-sia
…………………………………………….
Ha ha ha dasar Batak
Mantap juga tipu kau itu
lanjutkan perjuangan kalian
petani tak bertanah
sampai semua memperoleh
tanah
dan mengelola tanah itu
sebagai sumber pendapatan
jangan dijual
agar kalian dapat hidup dari tanah itu
……………………………………………..
Sobatku Yesus
terima kasih
pesanmu selalu kuingat:
Aku datang, supaya mereka
mempunyai hidup,
dan mempunyainya dalam
segala kelimpahan
Medan, 9 April 2008
Arthur John Horoni
[Foto: www.daylife.com]
Dalam Rengkuhan Stupa
Dalam rengkuhan stupa
kurasakan lirih angin berderai
membelai tubuh Sang Buddha.
Dan Kau pun tersenyum
menyapa Sanghyang Maitreya.
Dalam rengkuhan stupa
kudengar suara azan
menghablur, merasuki
celah-celah candi.
Dan, stupa-stupa pun
bergumam, menyebut
namaMu.
Dalam rengkuhan stupa
tak terasa kusapa diriMu.
Dalam diam, dalam hening.
Dalam kelengangan semesta.
Tuhanku, begitu banyak
rumahMu.
Dalam rengkuhan stupa
kubertanya, masihkah
tersisa surga, buatku
Paduka?
Dan Kau pun, memberiku
berlimpah surga.
Dalam rengkuhan stupa
aku merasa dekat
denganMu.
Dan, Kau biarkan aku
memujaMu.
Billy Soemawisastra
Borobudur, 2005.
[Foto-foto: Indriati Yulistiani, Noud. Wieland, Oliver Ruhn, Mloparez; www.flickr.com]
Nestapa Biarkan Sirna, Gadisku
(Bones of my bones, flesh of my flesh, blood of my blood)
Riuh rendah tangismu ketika kau terjebak di rimba alam fana
Anganku menjelma nyata saat kusaksikan tingkahmu nan gempita
November tanggal sebelas, hari yang penuh kegembiraan itu
Tahun 1988 menjadi titimangsa sejarah kelahiranmu
Yang berjalan tanpa terasa hingga kau pun menjelma seorang dara
Lakon kehidupan memang penuh adegan yang tak pernah kita duga
Adakalanya kita menangis sedih, adakalanya kita tertawa gembira
Riang dan duka silih berganti seperti rembulan dan matahari
Angan dan kenyataan tak selalu berjalan beriringan
Selaraskan saja hidupmu dengan harmoni semesta
Kau kini berada di masa penuh pancaroba layaknya seorang remaja
Ingin rasanya kuulang lagi masa kecilmu, agar aku selalu bersamamu
Namun waktu terlalu cepat berlalu, seiring langkahmu yang ceria
Ah, masih panjang jalan membentang di hadapanmu, puteriku
Nestapa biarkan sirna bersama senja usia Papa
Tetapkan hatimu, mantapkan langkahmu
Illahi takkan pernah meninggalkanmu
Billy Soemawisastra.
(Untuk Purnama Papa: Ranty Laras Kinanti,
dari Papa yang selalu rindu celotehmu)
Keterangan Tambahan:
Foto-foto Ranty dari blog ini terpaksa dihapus, karena ada orang-orang iseng yang memanfaatkan foto-foto tersebut untuk kepentingan pribadinya. Di antaranya dengan membuat account facebook atas nama Ranty (dengan ejaan nama yang salah) dan mencantumkan foto Ranty yang semula termuat di blog ini. Saya mengimbau orang-orang tersebut (entah siapa) untuk segera menghapus account facebook palsu tersebut, dan menghapus foto-fotonya yang diambil tanpa izin itu.
Mantra Gayatri
Om bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat.
Ketika kau baca Mantra Gayatri
tak ada lagi batas antara sukma dan surya
seperti sungai Gangga dan Jamuna
yang menyatu, menuju samudera.
![]()
Sirami aku dengan cahaya, katamu
biarkan jantungku bercahaya
biarkan darahku bercahaya
biarkan peparuku bercahaya
biarkan napasku menghembuskan cahaya
biarkan ragaku berselimut cahaya
biarkan atmaku menjadi cahaya.
Om, sumber dari segala sumber cahaya.
Cahaya yang telah melahirkan semua loka
sinarilah budi kami, setiap kala.
(Di sebuah masjid, dekat puramu
sekumpulan bocah melantunkan do’a
dalam bahasa Arab:
Allahumma nawwir kuluubanaa
binuuri hidayatiKa
kamaa nawwartal ardlo
binuuri syamsika abadaa.
Ya Tuhan kami, sinarilah hati kami
dengan cahaya hidayahMu
seperti telah Kau sinari seluruh bumi
dengan suryaMu, selama ini.)
Berapa milyar cahaya
yang Kau punya, Paduka?
Bahkan dalam pekat pun
masih Kau beri aku
Cahaya.
Billy Soemawisastra
Jakarta, 12 Agustus 2007.
[Foto-foto diambil dari www.flickr.com, www.google.com]










