Jagat Alit

Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan

Di Sebuah Tajug

Di tajug ini

Tak lagi kudengar suara bedug

Hanya suara-suara tanpa suara

Menghiba Sang Maha Empunya


Di tajug ini

Tak lagi kudengar dengusan nafas

Degupan jantung, ketukan nadi

Hanya bisikan ruh selangit penuh

Memuja Sang Maha Ruh

Seraya bersimpuh


Di tajug ini

Kucoba menyatu dengan angin

Dengan malam

Dengan gemawan

Dengan bintang

Dengan pepohonan

Dengan segala

Yang bermakna kesunyian

Agar aku sampai padaNya


Di tajug ini

Hanya Dia Yang Ada

Tetapi tak sanggup aku

MenjangkauNya


Billy Soemawisastra

[Foto-foto: i23.photobucket.com, i270.photobucket.com, www.seedsiceland.org]

Senin, 7 Juli 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Puisi | , | Tinggalkan sebuah Komentar

Yesus dan Petani Andalas Utara

Adakah masih kami disebut petani

bila cuma punya tubuh

golok dan

pacul?

……………………………………….

Tak elok, kawan

tak elok

orang bilang kau penggarap

penunggu

kuli tani

…………………………………….

Kau siapa?

…………………………………….

Kita sama sobat

petani tak bertanah

karena tanah petani

dari abad ke abad dijarah

para raja, tuan tanah, penjajah

bertukar jadi tanah negara

perkebunan swasta

perkebunan negara

dan kita melarat

………………………………………

Ya, ya, aku mulai celik

bapakku jadi buruh perkebunan

miskin seumur-umur

pensiun tak bertanah

tak berumah

padahal para birokrat kebun

punya berhektar tanah

dan pesangon milyaran

saat usai masa bakti

para anak juragan

sekolah di negeri manca

sialan!

…………………………………..

Tapi, siapa kau kawan?

………………………………….

Serigala punya liang

burung punya sarang

tapi Anak Manusia tak punya

tempat untuk meletakkan kepalaNya …

……………………………………

Ha ha ha, Kau rupanya

Sang pengembara dari segala abad

di segala tempat

tentu sebagai sesama orang menderita

aku cepat kenal Kau

Sang Yesus, sobat jelata dari Nazareth

Tapi kenapa Kau ke sini

ini lahan sengketa Bos

Kau bisa dapat bencana

belum kapok disalib kaum petinggi

agama Yahudi di Golgota dulu?

Menyingkirkah Kawan

tak tega bila Kau disakiti lagi

kini giliran kami

petani tak bertanah

merebut kembali milik kami

tempatMu

di Gereja yang mentereng di kota-kota

jangan kotorkan diriMu

di kubangan para miskin ini

……………………………………….

Nah, nah, kau salah Marihot

……………………………………….

Astaga, Kau tahu namaku

……………………………………….

Ya, ya, karena kau tak pasrah pada nasib

kau masih berjuang bersama sesama

petani tak bertanah

di Simalungun, Pematangsiantar,

Serdang Bedagai, Deli Serdang

Batu Bara

Asahan, Labuhan Batu

di Lampung

Tanah Pasundan

Jawa Timur

dan seterusnya

merebut tanah untuk petani

menegakkan harkat dan martabat rakyat

tertindas,

Maka kau saudaraku

Namamu di hatiku

…………………………………………..

Tapi kenapa Kau bilang aku salah?

bukankah tempatMu memang di gereja?

Apalagi ini hari Minggu

……………………………………………

Sobatku,

BagiKu, setiap hari hari Minggu

artinya, setiap hari itu ibadah

dan ibadah yang sesunguhnya

adalah mengunjungi para jelata

melawat yang sakit

memberi makan yang lapar

membebaskan yang terbelenggu

memaklumkan Kabar Baik bagi

petani tak bertanah

untuk berjuang mendapatkan tanah

mewujudkan perubahan

Ibadah yang sesungguhnya

bukan pamer baju baru

sepatu model mutakhir

anting dan kalung mas

lantas melamun terkantuk-kantuk

lantaran khotbah pendeta tak menyentuh

persoalan umat

hapal peta Yerusalem, Betlehem

dan Yerikho

namun tak paham

bahwa di desa Durin Tonggal,

Pancur Batu, Deli Serdang

petani yang berkeringat menanami tanah

dianiaya preman dan oknum polisi

Kaum miskin itu dituduh menjarah tanah perkebunan

Padahal perkebunan merugi terus

walau birokratnya kaya raya

korupsi sudah jadi budaya

dan gereja dibangun dari hasil curian pejabat

Tidak, kawan

Aku pengembara

Kau belum baca Yesus Putera Manusia

yang ditulis sobatku Kahlil Gibran

penyair pemberang yang juga menghajar

tingkah laku pemuka agama di Lebanon

yang sok saleh namun korup?

Dia tulis, yang di gereja itu

Yesusnya orang Kristen

yang jadi Kristus Sang Raja

kau bisa mengerti kalau belajar teologi

namun Aku,

Yesus orang Nazaret

Sobat para jelata

kau tak perlu repot belajar teologi

untuk memahami Aku

cukup baca Alkitab dengan matamu sendiri

jangan pakai rumus para teolog

atau petinggi gereja

yang kebanyakannya sudah jadi

nabi istana

maka kau akan paham

Injil

Kabar Gembira

artinya berubah

buta – melihat

lumpuh – berjalan

tawanan – merdeka

mampukah gereja melakukan itu?

…………………………………………….

Sobatku Orang Nazaret

tolong jangan bikin aku bingung

jadi apa sesungguhnya gereja itu?

Salahkah bila kubilang

gereja itu bukan gedung dari batu

besi dan kayu

ditambah struktur yang kaku

namun persekutuan orang yang

sehati sepikir untuk mengubah

nasibnya menjadi manusia yang bermartabat?

Dan jalan perubahan yang dipilih

Adalah jalan kasih

aktif tanpa kekerasan?

……………………………………………

Kau benar Marihot

Kitab suci tidak lagi rumus

kesalehan bagimu

ia telah mewujud menjadi

perbuatan

tidak seperti gaya

banyak pemimpin gereja

yang pintar bikin manifes

narasi natal

narasi paskah

namun tak pernah jadi tindakan

yang membebaskan rakyat dari kemiskinan

kekerasan

dan ketidakadilan

………………………………………

Bos

Jangan marah ya

aku pernah menggunakan namaMu

semoga aku tak menyebut dengan sia- sia

waktu itu, dalam perjuangan

merebut tanah bersama rakyat

polisi menghardik kami

hei siapa yang menyuruh kalian

menduduki lahan perkebunan ini?

menyingkir atau kutembak

Kujawab

hati nurani kami yang menyuruh kami

kami petani tak bertanah berjuang

melaksanakan reforma agraria

tanah untuk rakyat

tatkala Gus Dur masih presiden

dia bilang 40% tanah perkebunan mesti

dibagi untuk rakyat

belum lama Presiden SBY bilang

lebih 8 juta hektar lahan harus

dibagi kepada rakyat tak bertanah

karena ujar-ujar yang bagus ini

belum dilaksanakan

kami membantu para pemimpin itu

mulai menduduki tanah perkebunan

yang HGU-nya telah tamat

Pintar kau ya

kata komandan polisi

kalau tanah ini milik kalian

mana alas haknya

sertifikatnya

kujawab begini:

Yesus saja tak pernah memberi sertifikat

kau baru jadi polisi sudah belagak

Mati langkah polisi itu Bos

tapi ampunlah kalau caraku itu

telah memanfaatkan namaMu

secara sia-sia

…………………………………………….

Ha ha ha dasar Batak

Mantap juga tipu kau itu

lanjutkan perjuangan kalian

petani tak bertanah

sampai semua memperoleh

tanah

dan mengelola tanah itu

sebagai sumber pendapatan

jangan dijual

agar kalian dapat hidup dari tanah itu

……………………………………………..

Sobatku Yesus

terima kasih

pesanmu selalu kuingat:

Aku datang, supaya mereka

mempunyai hidup,

dan mempunyainya dalam

segala kelimpahan

Medan, 9 April 2008

Arthur John Horoni

[Foto: www.daylife.com]

Rabu, 9 April 2008 Ditulis oleh Arthur John Horoni | Puisi | , , , , , , , | 1 Komentar

Dalam Rengkuhan Stupa

Dalam rengkuhan stupa

kurasakan lirih angin berderai

membelai tubuh Sang Buddha.

Dan Kau pun tersenyum

menyapa Sanghyang Maitreya.

borobudur3.jpg

Dalam rengkuhan stupa

kudengar suara azan

menghablur, merasuki

celah-celah candi.

Dan, stupa-stupa pun

bergumam, menyebut

namaMu.

borobudur1.jpg

Dalam rengkuhan stupa

tak terasa kusapa diriMu.

Dalam diam, dalam hening.

Dalam kelengangan semesta.

Tuhanku, begitu banyak

rumahMu.

Dalam rengkuhan stupa

kubertanya, masihkah

tersisa surga, buatku

Paduka?

Dan Kau pun, memberiku

berlimpah surga.

borobudur6.jpg

Dalam rengkuhan stupa

aku merasa dekat

denganMu.

Dan, Kau biarkan aku

memujaMu.

Billy Soemawisastra

Borobudur, 2005.

[Foto-foto: Indriati Yulistiani, Noud. Wieland, Oliver Ruhn, Mloparez; www.flickr.com]

Selasa, 18 Desember 2007 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Puisi | , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Nestapa Biarkan Sirna, Gadisku

(Bones of my bones, flesh of my flesh, blood of my blood)

Riuh rendah tangismu ketika kau terjebak di rimba alam fana
Anganku menjelma nyata saat kusaksikan tingkahmu nan gempita
November tanggal sebelas, hari yang penuh kegembiraan itu
Tahun 1988 menjadi titimangsa sejarah kelahiranmu
Yang berjalan tanpa terasa hingga kau pun menjelma seorang dara

Lakon kehidupan memang penuh adegan yang tak pernah kita duga
Adakalanya kita menangis sedih, adakalanya kita tertawa gembira
Riang dan duka silih berganti seperti rembulan dan matahari
Angan dan kenyataan tak selalu berjalan beriringan
Selaraskan saja hidupmu dengan harmoni semesta

Kau kini berada di masa penuh pancaroba layaknya seorang remaja
Ingin rasanya kuulang lagi masa kecilmu, agar aku selalu bersamamu
Namun waktu terlalu cepat berlalu, seiring langkahmu yang ceria
Ah, masih panjang jalan membentang di hadapanmu, puteriku
Nestapa biarkan sirna bersama senja usia Papa
Tetapkan hatimu, mantapkan langkahmu
I
llahi takkan pernah meninggalkanmu

Billy Soemawisastra.

(Untuk Purnama Papa: Ranty Laras Kinanti,

dari Papa yang selalu rindu celotehmu)

Keterangan Tambahan:

Foto-foto Ranty dari blog ini terpaksa dihapus, karena ada orang-orang iseng yang memanfaatkan foto-foto tersebut untuk kepentingan pribadinya. Di antaranya dengan membuat account facebook atas nama Ranty (dengan ejaan nama yang salah)  dan mencantumkan foto Ranty yang semula termuat di blog ini.  Saya mengimbau orang-orang tersebut (entah siapa) untuk segera menghapus account facebook palsu tersebut, dan menghapus foto-fotonya yang diambil tanpa izin itu.

Minggu, 11 November 2007 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Puisi | 11 Komentar

Mantra Gayatri

Om bhur bhuvah svah

tat savitur varenyam

bhargo devasya dhimahi

dhiyo yo nah pracodayat.


gayatri.jpg

Ketika kau baca Mantra Gayatri

tak ada lagi batas antara sukma dan surya

seperti sungai Gangga dan Jamuna

yang menyatu, menuju samudera.


mantraswara15 gayatri1

Sirami aku dengan cahaya, katamu

biarkan jantungku bercahaya

biarkan darahku bercahaya

biarkan peparuku bercahaya

biarkan napasku menghembuskan cahaya

biarkan ragaku berselimut cahaya

biarkan atmaku menjadi cahaya.


mantraswara3.jpgmantraswara5.jpg

Om, sumber dari segala sumber cahaya.

Cahaya yang telah melahirkan semua loka

sinarilah budi kami, setiap kala.

(Di sebuah masjid, dekat puramu

sekumpulan bocah melantunkan do’a

dalam bahasa Arab:

Allahumma nawwir kuluubanaa

binuuri hidayatiKa

kamaa nawwartal ardlo

binuuri syamsika abadaa.

Ya Tuhan kami, sinarilah hati kami

dengan cahaya hidayahMu

seperti telah Kau sinari seluruh bumi

dengan suryaMu, selama ini.)


mantraswara10.jpgbuddhist-meditation.jpg

Berapa milyar cahaya

yang Kau punya, Paduka?

Bahkan dalam pekat pun

masih Kau beri aku

Cahaya.


Billy Soemawisastra

Jakarta, 12 Agustus 2007.

[Foto-foto diambil dari www.flickr.com, www.google.com]

Minggu, 12 Agustus 2007 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Puisi | , , , , | 1 Komentar

Sieun Mulang

Sagara kahuripan geus lila dikojayan
Bari neuleuman kadorakaan
Poho yen kuring kungsi jangji
Ka Gusti

Jangji moal hilap ka Anjeunna
Jangji bakal asih ka sasama

Tapi duh Gusti
Kuring teu wasa nyinglar gogoda
Hirup bolokot ku dosa

Gusti, ulah baeud
Wanci kuring mulang ka Anjeun

Billy Soemawisastra
Jakarta, 13 Juni 2007

Rabu, 13 Juni 2007 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar

Bangkitlah Kau, Anakku

(Tempora muntatur, nos et muntatur in ilis)

Riang jenaka, itu yang selalu ingin kulihat dalam dirimu
E
nyahkan segala duka, biarkan terbang bersama debu
N
ur Illahi tak akan pernah henti menerangi relung-relung hatimu
Di hadapanmu terbentang luas samudera kehidupanmu
H
adapi segalanya dengan semangat berkobar di dadamu
Ilalang bukan penghalang, sibaklah tanpa sedikit pun ragu
Kendalikan perasaanmu
Angkat dagumu

Dulu, kita sering berkunjung ke Taman Suropati di sore hari
Eh, itu rahasia kita, mengapa kita sering ke sana
L
angkah kakimu yang mungil masih penuh keriangan
L
ayaknya seorang bocah, dulu kau tak pernah susah
Y
ang ada hanya celoteh ceria dan suka-cita
A
ndaikan suasana itu kau hadirkan lagi di saat dewasa
R
iak telaga akan kembali menghangatkan sukma
Ah, kuyakin kau bisa

Yogaswara, itulah nama akhirmu
O
h, suara dalam keheningan, itu artinya
G
erakan dalam ketenangan, itu maksudnya
Allah sangat mengasihi orang-orang yang tenang
S
ebutlah namaNya sepanjang waktu
W
aktu adalah milikNya, sepenuhNya
A
jarkan kebijaksanaanNya pada semua
R
ingankan hati ketika mengingatNya.
Allah akan selalu melindungimu

Billy Soemawisastra

_________

Untuk Putra Mahkota Papa: Rendhika Dellyara Yogaswara.

Papa selalu bangga padamu.

___________

Selasa, 27 Maret 2007 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Puisi | Tinggalkan sebuah Komentar