Ziarah ke Dasar Diri

Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya, serta Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya).

Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, The Pilgrimage, dengan judul bahasa Indonesia:  Ziarah. Di negeri asalnya, buku ini diterbitkan pada 1987, bahkan mendahului The Alchemist yang telah lebih dulu populer di Indonesia.

Ketika Paulo Coelho menerbitkan The Pilgrimage dan The Alchemist, ia nyaris putus asa karena buku-buku tersebut hanya dibaca sedikit orang. Namun setelah terbit novelnya berjudul Brida (yang langsung meledak di pasaran) pada 1990, The Pilgrimage dan The Alchemist ikut terdongkrak, bahkan popularitasnya mengalahkan Brida. Dalam bahasa aslinya (Portugis) novel The Pilgrimage menggunakan judul: O Diario de Um Mago (Catatan Harian Seorang Pesulap).

Meski ada jarak waktu yang cukup jauh (24 tahun) antara penerbitannya dalam bahasa Portugis dengan penerbitannya dalam bahasa Indonesia, pesan-pesan yang disampaikan Paulo Coelho melalui novel The Pilgrimage (Ziarah) masih tetap relevan dengan  kondisi masa kini. Terutama bagi peminat spiritualisme lintas agama, yang dengan sadar meniadakan batas-batas antar-agama walau tetap memeluk agama yang diyakininya.

Bagi Paulo Coelho sendiri, The Pilgrimage mempunyai arti yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Novel ini merupakan pengalaman pribadinya yang ia tulis setahun setelah melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago. Seperti juga novelnya The Zahir, The Pilgrimage mengungkapkan pencerahan-pencerahan yang ia peroleh pada awal-awal karirnya sebagai penulis.

Road to Santiago

Road to Santiago atau Perjalanan Menuju Santiago adalah perjalanan ziarah yang biasa dilakukan umat Kristiani, khususnya penganut Katolik, sejak awal Masehi. Seperti Islam yang mewajibkan segenap umatnya untuk mengikuti Rasulullah Muhammad SAW yang berziarah dari Mekah ke Medinah — setidaknya sekali dalam seumur hidup, dalam ibadah haji — umat Kristiani sejak abad pertama Masehi juga dianjurkan menempuh tiga rute peziarahan yang dianggap suci. “Setiap rute,” tulis Coelho dalam The Pilgrimage, “memiliki berkah dan keuntungan tersendiri bagi mereka yang berjalan menempuhnya.”

Peta Perjalanan Ziarah menuju Santiago.

Perjalanan ziarah pertama yang dianjurkan itu adalah perjalanan menuju pusara Santo Petrus di Roma (Vatikan). Para peziarah ke Roma disebut sebagai Pengembara, bersimbolkan salib. Yang kedua, ziarah ke makam suci Yesus Kristus di Yerusalem. Para peziarahnya disebut sebagai Pembawa Daun Palem, karena mereka membawa daun palem yang dulu digunakan orang untuk menyambut Yesus saat memasuki Yerusalem. Dan, yang ketiga, adalah perjalanan ziarah ke makam San Tiago. Orang yang menempuh jalan ini disebut sebagai Peziarah, dengan simbol kulit kerang.

San Tiago adalah salah seorang dari tiga murid Yesus (dua lainnya: Saint Peter dan Saint John) yang menjadi saksi kebangkitan Kristus. Di Inggris, San Tiago dikenal dengan nama Saint James, di Prancis Jacques, di Italia Giacomo, bahasa Latinnya Jacob, dan nama aslinya (dalam bahasa Aramaic) Yaakov ben Zehdi.

San Tiago dimakamkan di suatu tempat di Tanjung Iberia, di daerah Galicia, Barat Daya Spanyol. Menurut legenda, bukan hanya San Tiago yang dimakamkan di sana, tetapi juga Maria Sang Perawan kudus, yang pergi ke sana sesaat setelah kematian Yesus, dan mengajak orang-orang di tempat tersebut untuk bergabung dalam kerajaan Allah. Tempat itu kini dikenal sebagai Compostela, dan makam San Tiago berada di di Katedral Santiago de Compostela.

Perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, dilakukan Paulo Coelho atas saran seseorang yang misterius, yang pertama kali bertemu dengannya di Dachau, di luar kota Munich, Bayern, Jerman, saat ia bersama isterinya, Christina Oiticica, mengadakan tur keliling Eropa. Orang itu bertemu lagi dengannya di suatu tempat di Amsterdam, dan pada saat itulah orang yang oleh Coelho hanya disebut Jean itu, menganjurkan agar Coelho kembali memperdalam Katolikisme, dan melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, untuk memperoleh pencerahan.

Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica.

Namun berbeda dengan latar belakang yang ia ungkapkan dalam kisah sesungguhnya, di dalam novel The Pilgrimage, Coelho menguraikan bahwa keputusannya melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, adalah lantaran perintah dari Sang Guru. Sang Guru meminta Coelho melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, guna menemukan kembali pedangnya, yang sebenarnya nyaris diperolehnya dalam suatu ritual di salah satu puncak gunung di Brasil.

Cuplikan video Paulo Coelho tentang perjalanannya ke Santiago.

Ordo Tradisi

Cerita diawali dengan upacara inisiasi di sebuah ordo esoterik, yang oleh Coelho disebut sebagai Ordo Tradisi, di suatu tempat bernama Itatiaia, di ketinggian puncak gunung Serra do Mar, yang termasuk dalam rangkaian pegunungan Agulhas Negras (Jarum Hitam) Brasilia. Upacara berlangsung malam hari, 2 Januari 1986.

Upacara itu, selain dihadiri isterinya dan empat orang lainnya (salah satunya  disebut Sang Guru) merupakan upacara penobatan Paulo Coelho untuk menjadi Guru Ordo RAM. Upacara diawali dengan penguburan benda pusaka, sebuah pedang yang sudah lama dimiliki Coelho dan sering digunakannya untuk berbagai ritual gaib.

Usai penguburan pedangnya yang lama, Paulo Coelho dihampiri Sang Guru seraya meletakkan pedang baru di atas tanah tempat pedang lama terkubur. Sang Guru kemudian menghunus pedangnya sendiri lalu menyentuhkan pedang itu ke dahi dan bahu Coelho, sambil berkata, “Dengan cinta dan kekuatan RAM, aku menahbiskanmu sebagai Guru Kesatria Ordo, sekarang hingga sepanjang hayatmu.”

“R untuk Rigor (ketetapan),” lanjut Sang Guru. “A untuk Adoration (penyembahan) dan M untuk Mercy (welas asih); R untuk Regnum, A untuk Agnus, dan M untuk Mundi. Jangan biarkan pedangmu lama tersimpan dalam sarungnya, agar tidak berkarat. Dan saat kau menghunus pedangmu, janganlah kau memasukkannya kembali tanpa terlebih dulu menggunakannya untuk kebaikan, membuka jalan baru, atau menumpahkan darah musuh.”

Coelho pun kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang baru yang terletak di hadapannya. Namun ketika Coelho menyentuh sarung pedang dan bersiap menggenggamnya, tiba-tiba saja Sang guru menginjak jemarinya, dan dengan nada marah mengatakan bahwa ia belum berhak memiliki pedang itu karena ia sedang diliputi kesombongan.

Sang Guru meminta Coelho untuk berjuang kembali melakukan pencarian pedang tersebut mulai dari awal. Dan, melalui isterinya, Sang Guru berpesan agar Coelho membuka peta Spanyol, dan mencari rute perjalanan dari abad pertengahan, yang dikenal dengan Jalan Misterius menuju Santiago.

Masa Pencarian

Atas desakan isterinya, setelah cukup lama Coelho mempertimbangkan perintah Sang Guru, langkah pencarian pun dimulai. Jalan Misterius menuju Santiago itu terbentang sekitar 700 kilometer, dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga ke Katedral Santiago de Compostela di Spanyol. Perjalanan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, seperti yang dilakukan para peziarah di masa lalu. Tak tanggung-tanggung, ada sejumlah orang besar yang pernah melakukan perjalanan ziarah dengan rute tersebut, di antaranya Karel Agung, Santo Fransiskus dari Asisi, Isabella dari Castille, dan Paus Johannes Paulus XXIII.


Para peziarah berjalan kaki menuju Santiago.

Dengan berjalan kaki, tentu saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu bagi para peziarah untuk sampai di tujuan. Kalau sempat, bisa menginap di desa-desa atau kota-kota kecil yang dilewati. Tetapi juga bukan tak mungkin para peziarah kemalaman di tengah hutan, di tengah gurun, bahkan di puncak gunung (karena ada beberapa gunung yang harus dilewati) bila tidak sempat mencapai desa terdekat.

Paulo Coelho pun berangkat menuju Saint-Jean-Pied-de-Port, dan menemui Mme Lourdes, seorang perempuan setengah baya, kuncen pintu gerbang menuju rute peziarahan. Dari Mme Lourdes, Coelho memperoleh kulit kerang, sebagai simbol para peziarah menuju Santiago. Namun Coelho bukanlah peziarah biasa yang akan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pemandu.  Coelho, harus ditemani seorang pemandu yang akan menemuinya di suatu tempat.

Singkat cerita, Coelho bertemu dengan sang pemandu, yang belakangan diketahui ternyata seorang disainer ternama dan termasuk orang terkaya di Italia. Ia juga seorang anggota partai komunis Italia dan — anehnya — seorang penganut Katolik yang — tentu saja — sangat taat. Pemandu itu, yang disebutnya Petrus (untuk menyamarkan nama aslinya) tak hanya bertugas memandu (menunjukkan) rute perjalanan, tetapi juga berfungsi sebagai guru spiritual Coelho, yang akan mengajari Coelho berbagai hal yang bersifat batiniah. Mengarahkan Coelho untuk memandang hidup ini dengan penuh kasih tanpa batas. Penuh optimisme. Tanpa kekhawatiran dan ketakutan.

Coelho harus menjalani serangkaian latihan fisik. Terutama tahapan-tahapan latihan RAM, semacam latihan olah nafas dan olah tubuh, guna mengajari tubuh dan jiwa menyatu dengan semesta. Ia bahkan harus menyelam di sungai yang dalam, kemudian naik ke atas air terjun yang sangat membahayakan jiwanya. Coelho tidak boleh membantah perintah sang pemandu, meskipun berlawanan dengan akal sehat.

Di perjalanan, berkali-kali Coelho bertemu dengan seekor anjing hitam, yang menurut Petrus, adalah jelmaan iblis bernama Legiun. Coelho harus mengalahkan sang iblis yang ada dalam diri anjing itu, sehingga terjadilah pertempuran fisik antar-keduanya. Pertempuran itu dimenangkan Coelho walaupun dengan tubuh yang penuh luka akibat gigitan dan cakaran anjing.

Namun setelah berhasil mengalahkan anjing, iblis Legiun yang semula berada di tubuh binatang tersebut berpindah ke tubuh Coelho. Untungnya Coelho berhasil mengusir iblis itu dari tubuhnya, dan Coelho pun terbebas dari pengaruh iblis.

Coelho melukiskan perjalanan menuju Santiago itu dengan sangat detail. Para pembaca diajaknya menyusuri tempat-tempat yang indah. Ladang-ladang gandum yang membentang sepanjang mata memandang, padang-padang pasir yang berdebu, hutan sabana dan stepa, menyusuri pegunungan Pyrenees, mendaki dan menuruni tebing dan lembah.

Ladang gandum sepanjang mata memandang.

Di sepanjang jalan, Petrus sang pemandu selalu mengajaknya berdiskusi tentang segala hal. Mulai dari obrolan-obrolan teologis sampai hubungan antar-manusia. Dalam setiap diskusi yang dilakukannya, Petrus selalu menekankan agar Paulo Coelho berupaya mencapai agape, yakni cinta kasih kepada seluruh manusia, tanpa batas cakrawala.

Berbagai desa disinggahinya, seperti desa Roncesvalles, tempat gereja Collegiate yang didirikan oleh Kaisar Karel Agung berabad-abad silam, atas sumbangan para raja Jerman, Spanyol, Portugal dan Prancis. Kemudian desa Puente de la Rena, tempat sejumlah biarawan Katolik mengabdikan diri. Adapun kota-kota yang dilewatinya antara lain Logrono, Pamplona, Santo Domingo de la Calzada, dan Ponferrada, kota tempat Petrus sang pemandu, akhirnya meninggalkan Coelho.

Kathedral Santiago de Compostela.

Di Ponferrada, menjelang perpisahannya dengan Coelho, Petrus mengajaknya berbincang-bincang untuk terakhir kali di sebuah stasiun kereta api yang penuh lokomotif dan oli. Mengapa harus di stasiun kereta api? “Jalan menuju Santiago akan segera berakhir,” ujar sang pemandu, “dan karena kehidupan nyata kita lebih mirip jalur kereta api ini, yang berbau oli, daripada pedesaan yang kita jumpai sepanjang perjalanan, lebih baik kita berbincang di sini.”

Petrus pun kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai hal yang telah dilalui Paulo Coelho sepanjang perjalanan, dan makna-makna kehidupan yang berada di baliknya. “Jika kau berhasil mendapatkan pedangmu, kau harus mengajarkan Jalan menuju Santiago ini kepada orang lain. Dan jika hal ini terjadi — saat kau menerima peranmu sebagai Guru — kau baru akan menemukan jawaban yang terdapat di hatimu.”

“Semua orang sebenarnya tahu jawabannya,” lanjut Petrus, “bahkan saat belum ada orang memberitahukannya kepada kita. Kehidupan memberikan pengetahuan kepada kita setiap waktu, dan rahasianya adalah menerima bahwa hanya dalam kehidupan sehari-hari saja kita akan mampu sebijak Sulaiman dan seperkasa Iskandar Agung. Namun kita baru akan menyadari hal ini hanya saat kita terpaksa mengajari orang lain dan terlibat dalam petualangan luar biasa seperti sekarang.”

Tak lama kemudian Petrus pun pergi meninggalkan Paulo Coelho. Ia hanya sekali saja bertemu lagi untuk terakhir kalinya, di Kastil Ksatria Templar di kota Ponferrada, dalam sebuah ritual. Namun tanpa bertegur sapa. Sejak itu, Coelho melanjutkan perjalanannya sendiri menuju Katedral Santiago de Compostela untuk menemukan pedangnya.

Dalam kesendirian, di sebuah puncak gunung bernama El Cebrero, Coelho semakin menyadari bahwa Perjalanan Ziarah menuju Santiago yang hampir diselesaikannya itu, tak semata untuk mencari pedang. Melainkan untuk merasakan penderitaan dan sekaligus kebahagiaan umat manusia sekecil apapun.

Latihan-latihan fisik yang dilaluinya, seperti memindahkan kayu salib yang sangat berat dengan tangan penuh luka. Kemudian mengubur hidup-hidup dirinya di pegunungan dalam kegelapan malam, tak lain untuk merasakan betapa beratnya kehidupan sebagian besar umat manusia, dan betapa dekatnya kematian dalam hidup kita.

Di tengah penderitaan itu, betapa banyak manusia yang tetap bersyukur meskipun kebahagiaan yang didapatnya sangat sedikit. Sebagai seorang calon Guru dari Ordo Tradisi, ia mempunyai tugas untuk mengajarkan makna kehidupan dan bagaimana kehidupan itu harus dijalani tanpa ketakutan, seraya menebarkan agape, cinta kasih kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kehidupan.

Di keheningan puncak gunung El Cebrero, Paulo Coelho bersimpuh dan berbicara kepada Sang Pencipta: “Aku berjalan ribuan kilometer untuk menemukan hal yang sebenarnya telah kuketahui jawabannya, hal yang kita semua tahu tapi sangat sulit menerimanya. Apakah ada hal yang lebih sulit, oh Tuhan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan kekuatan itu? Rasa sakit yang kini mendera dadaku, yang membuat aku tersedu dan anak domba itu ketakutan, sesungguhnya telah dirasakan sejak pertama kali manusia ada di dunia.”

“Hanya beberapa yang mampu menahan beban kemenangan ini,” lanjut Coelho, “kebanyakan merelakan impian mereka saat mereka merasa impian itu dapat terwujud. Mereka menolak untuk bertempur sepenuh tenaga karena mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan kebahagiaan yang mereka raih; mereka terpenjara dalam benda-benda material di dunia. Seperti aku dulu, yang ingin mendapatkan pedangku tanpa tahu apa yang akan kulakukan dengannya.”

Usai berdo’a, Coelho bergerak perlahan menuruni lereng menuju sebuah dusun yang juga bernama El Cebrero, bersama anak domba yang sejak tadi menemaninya. Di sana ada sebuah kapel yang kemudian dimasukinya. Di kapel itu, ternyata Sang Guru telah menunggunya di depan altar dengan sebilah pedang di tangan, sambil berseri penuh kebanggaan. Pedang itu, diserahkannya kepada Paulo Coelho, dengan penuh keikhlasan.

Perjalanan Coelho sudah selesai dengan diterimanya kembali pedang tersebut. Ia hanya tinggal melaksanakan ritual terakhir yakni berziarah ke makam San Tiago di Katedral Santiago de Compostela. Perjalanan Ziarah menuju Santiago, hakikatnya merupakan perjalanan ziarah ke dasar diri, dan Coelho, telah melakukannya dengan baik.

Bagi para penggemar novel-novel thriller, novel-novel Paulo Coelho, termasuk The Pilgrimage, memang akan terasa membosankan, karena isinya merupakan renungan demi renungan. Tetapi bagi para peminat spiritualisme, novel-novel Coelho akan terasa seperti oase di tengah kegersangan padang pasir. Menyejukkan dan melegakan.

Dan, para peminat spiritualisme ini ternyata semakin meningkat jumlahnya. Terbukti dari selalu larisnya novel-novel spiritual Paulo Coelho. Para penggemarnya berada di seantero dunia, dengan beragam agama.

Billy Soemawisastra

Paskah dan SMS Sejuta Umat

Dan, teknologi komunikasi mutakhir menunjukkan kedigjayaannya: produksi pesan pendek melalui sms maupun facebook di sekitar perayaan umat Kristiani dari Jumat Agung hingga Paskah 2010. Jumat Agung adalah perayaan wafatnya Jesus Kristus sedangkan Paskah menandai KebangkitanNya.

Melalui teknologi komunikasi mutakhir dengan PC, laptop ataupun ponsel, segala kegaduhan penyampaian ucapan menjadi serba cepat dan tak repot. Dulu orang mesti memilah-milah kartu ucapan  yang cocok, mengirim jauh hari sebelum waktunya agar tak telat tiba di alamat. Sekarang tinggal ketik, tekan tombol atau klik dan beres. Balasan dapat tiba dalam hitungan detik atau menit.

Wah. Kita tengah menikmati keajaiban global village (Desa Dunia).

Toh ada yang hilang, sapaan-sapaan lewat surat atau kartu pos jaman dulu (jadul) rasanya lebih asli atau orisinal. Dan otentik. Sekarang ini bahasa TI bisa menyesatkan. Maklumlah media adalah pesan itu sendiri (Marshal Mc Luhan; The Media is the message).  Cobalah gimana kita bisa menikmati:  ”Met Paskah”.

Sebagai ekstrim yang lain, mesti pakai bahasa asing, Inggris, misalnya, “Happy Easter” atau latin (mungkin kesannya lebih kudus) seperti, “Christo Anesti Allisto Anesti” (bangkit, tegak, tegar bersama Tuhan). Ini agak “menyesatkan” karena seolah-olah supaya lebih kristiani pakailah bahasa asing.

Namun yang lebih celaka adalah ucapan-ucapan yang diproduksi oleh kelompok-kelompok tertentu, boleh jadi bekerjasama dengan operator pelayanan  jaringan yang kemudian diserap begitu saja oleh umat dan disebar-luaskan,  seolah-olah ini paling paten.

Ada contoh:

Saudaraku…

Jika ada 1000 orang yang rindu padamu, aku turut di dalamnya.

Jika ada 100 orang yang MENYAYANGIMU

pasti aku termasuk …

Jika ada 10 orang yang peduli padamu,

Percayalah salah satunya pasti.

Aku…

Tetapi jika ada 1 orang yang mau MATI untukmu,

tunggu dulu

itu pasti bukan aku

HANYA DIA yang RELA MATI

Untukmu…

……

Happy Great Friday

Selamat Merayakan Hari Jumat Agung

Hari wafatnya Jesus Kristus di kayu salib

…..

Atau:

SELAMAT !!!

Anda mendapat Pemenang GEBYAR PASKAH BERHADIAH…

Anda berhak atas satu set perangkat SUKACITA

dan  satu unit DAMAI SEJAHTERA

dan BUAH-BUAH ROH

hadiah bisa Anda miliki cukup dengan mentransfer IMAN dan PENGHARAPAN

kepada JESUS KRISTUS serta mengirim KASIH kepada sesama.

Awas Penipuan!

dst…dst…dst…

Nah yang seperti ini yang saya bilang tadi, pesan untuk sejuta umat. Satu orang bisa mendapat pesan yang sama dari 3 orang. Artinya orang yang melanjutkan pesan itu tak sadar telah menjadi agen “perdagangan bebas” pesan-pesan perayaan keagamaan.

Neoliberalisme telah berhasil juga teologi menjadi sekadar komoditi He… he… he…,  saya juga melanjutkan pesan semacam itu ternyata.

Padahal dalam buku-buku kumpulan cerita humor tentang para pemuka agama Kristen mula-mula sekitar abad 2 Masehi, banyak cerita yang bermakna bila disebarluaskan di abad globalisasi ini.

Saya kutip saja :

Konon ketika Jesus Kristus turun ke “kerajaan maut” atawa neraka  usai mengalami penyaliban, Ia menemui pendosa, tak melihat dari bangsa mana, sekte agama apa, mengampuni dan membebaskan mereka.

Melihat itu , Iblis, sang raja kegelapan menangis, karena neraka telah kosong.

Alkitab , Jesus membujuk Iblis:

“Tak perlu menangis, nanti akan ku masukkan ke sini jadi pemimpin dunia yang kejam, para koruptor, para pegiat perang, para penindas rakyat dan para pemimpin agama yang lebih suka berkolaborasi dengan penguasa jahat, ketimbang membela umatnya yang diperlakukan tidak adil, miksin dan tertindas.  Sabarlah”.

Kenapa kita tidak belajar menulis perumpamaan-perumpamaan baru dengan memanfaatkan kedigjayaan teknologi komunikasi ?

Selamat Paskah!

Arthur John Horoni

Perkenankan Aku Menghasut

Tahun silam di Manokwari, Papua Barat, seorang ibu PNS (Pegawai Negeri Sipil) mengomel ikhwal diskriminasi terhadap suku Papua di kantor-kantor pemerintah. Orang pendatang menguasai posisi penting, bangsa Papua cuma embel-embel. Dalam seleksi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) orang Papua tersìsih. Maka aku hasut ibu itu, kalau mau jadi kehebohan, ibu organisir seluruh orang Papua yang PNS, mundur dari pegawai negeri. Pasti gaduh. Sayang ibu itu tak berani.

Tes untuk CPNS

Tatkala aliran listrik di Medan dan sekitarnya mati-hidup tak beraturan, orang berang. Mereka menghujat PLN (Perusahaan Listrik Negara). Aku pun menghasut, “Jangan bicara melulu, para pejabat itu sudah tuli. Kalau berani, ayo satu kelurahan kita stop bayar listrik. Pasti ribut.”

Tapi rakyat belum berani membangkang. Cuma demo atau melempari kantor dengan benda-benda keras. Itu tak ada gunanya bagi birokrat yang tak punya hati. Mereka tak paham soal pelayanan publik. Mereka canggih menipu dan memecah belah. Mereka tak pernah merasa salah.

Jadi mereka harus dilawan. Perkenankan aku menghasut: Andaikan ada satu persen saja dari 230 juta rakyat tolak bayar pajak kecuali bila para koruptor dilibas habis, bagaimana? Hanya bila rakyat yang penuh derita ini membangkang secara serempak, mungkin ada harapan. Berani?

Arthur John Horoni

[Foto: prasetya.brawijaya.ac.id]

Amir Sjarifoeddin, Penghianat atau Pejuang?

Amir Sjarifoeddin, Perdana Menteri RI 1947–1948, yang pada 19 Desember 1948 ditembak mati oleh tentara karena terlibat Peristiwa Madiun, apakah seorang penghianat atau pejuang?

Itulah pertanyaan yang berkembang dalam kegiatan Bedah Buku: Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Bedah buku itu berlangsung di Medan, 19 Desember 2009, dihadiri lebih 100 orang partisipan.

Buku yang diperbincangkan adalah karya Pendeta Frederik Djara  Wellem yang bentuk awalnya adalah tesis seorang pendeta untuk meraih magister teologia di STT (Sekolah Tinggi Teologia) Jakarta. Karya ini pernah dicetak dan diterbitkan pada tahun 1984, namun dilarang beredar oleh rejim Soeharto dan dimusnahkan. Penerbitan tahun 2009 dilakukan oleh Omnes Unum Sint Institute, Center dor Popular Education (CPE) Medan dan Jala Permata Aksara.

“Pembedahan”  buku mengemuka melalui tiga topik: Tinjauan Kritis dalam Perpektif Konstruksi Sejarah, oleh sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), Budi Agustono, Peranan Amir Sjarifoeddin dalam Perjuangan Kemerdekaan, oleh Budiman Sudjatmiko, anggota DPR-RI, dan Amir Sjarifoeddin dan ‘Kekristenan Pembebasan’, oleh Arthur John Horoni, Koordinator Center for Popular Education .

Petikan dari pokok-pokok pikiran pembicara dalam bedah buku itu kiranya dapat menjawab, apakah Amir Sjarifoeddin seorang penghianat atau pejuang. Budiman Sudjatmiko menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan yang sulit dijawab:  siapakah yang lebih cocok disebut penghianat, Amir Sjarifoeddin atau Soeharto? Bagi Budiman, “Bung Amir adalah tokoh yang hampir ideal.” Politikus, pencinta seni, menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Belanda, Latin, Yunani dan lain sebagainya).

Dia tidak keberatan kalau Amir disebut marxis atau sosialis. Apa masalahnya? Sebagian besar bapak bangsa menurut Budiman adalah Marxis. Dia  menyebut antara lain Sjahrir, Soekarno, Tan Malaka dan seterusnya. “Kalau tak ada orang-orang kiri, bagaimana rupanya keadaan bangsa ini?” tanya Budiman. Bagi anggota DPR-RI ini, Amir Sjarifoeddin adalah 100% Kristen, 100% Marxis, 100% Indonesia.

Budi Agustono, sejarawan dari USU (Universitas Sumatera Utara) berpendapat, di antara  bapak bangsa yang mengabdikan diri untuk kemerdekaan terdapat tokoh-tokoh bangsa yang menjulang namanya dan selalu dijadikan rujukan, tetapi ada pula politikus yang memainkan peranan penting dalam masa pergerakan sampai awal pembentukan negara bangsa, tetapi amat jarang menjadi referensi bangsa, misalnya Amir Sjarifoeddin (AS). Nama AS tentulah tidak sebesar dan sesering disebut-sebut seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir atau Tan Malaka. Meski demikian, karena aktivitas politiknya sejak masa kolonial sampai ia memegang jabatan penting dalam pemerintahan, AS mempunyai tempat tersendiri dalam perjalanan bangsa.

Seperti kaum pergerakan lainnya, semasa kolonial Belanda, AS berkecimpung dalam berbagai kepartaian. Pada tahun 1935, AS telah bertemu dengan Muso dan hubungan politik antara keduanya sangat dekat. Pada 1937, AS mendirikan Gerindo dan melalui organisasi inilah ia membangun dan memperkuat pengaruhnya di kalangan kaum pergerakan. Setelah itu, AS membentuk Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang bersifat kooperatif untuk melawan fasisme. Pada masa itu, AS menjadi salah seorang aktivis pergerakan yang dikenal luas.

Ketika Jepang menggantikan Belanda, para kaum pergerakan ada yang memilih bekerja sama atau menolak bekerja sama dengan Jepang. Soekarno dan Hatta memilih bekerja sama dengan Jepang, sedangkan AS dan Sjahrir berjuang lewat gerakan bawah tanah melawan Jepang.

Jepang menggulung kegiatan politik bawah tanah. Satu demi satu kaum pergerakan diinterogasi, ditangkap dan dibunuh. Karena Jepang berhasil menggulung jaringan bawah tanah, penangkapan tertuju ke diri AS. Jepang menangkap AS dan menjatuhi hukuman mati kepadanya. Ketika diinterogasi, AS sering mentertawakan tentara Jepang sampai akhirnya membuat mereka marah. Kabar AS akan dihukum mati sampai ke Soekarno–Hatta yang saat itu menjadi pemimpin pergerakan paling terkemuka. Melalui campur tangan mereka berdua, nyawa AS diselamatkan, hukumannya menjadi seumur hidup dan baru bebas setelah kemerdekaan Indonesia.

Setelah proklamasi, dalam kabinet presidensil, AS diangkat menjadi Menteri Penerangan. Ketika diangkat menjadi anggota kabinet, AS tidak bisa dilantik karena masih berada di penjara. Selang beberapa lama AS dijemput dan dikeluarkan dari penjara dengan bercelana pendek untuk dilantik menjadi Menteri Penerangan (19 Agustus 1945–14 November 1945).

Setelah tidak lagi menjabat Menteri Penerangan, sepanjang hampir tiga tahun lamanya AS menduduki poisisi strategis dalam kabinet, yaitu Menteri Pertahanan. Dalam kabinet Sjahriri I (14 November 1945 – 12 Maret 1946) ia menjabat Menteri Keamanan Rakyat dan Menteri Penerangan. Dalam Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946 – 2 Oktober 1946) menduduki pos Menteri Pertahanan, dan diangkat kembali sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 3 Juli 1947).

Sama seperti dua kabinet  terdahulu, akibat pecah krisis politik Kabinet Sjahrir III tidak bertahan lama dan akhirnya jatuh. Setelah Sjahrir mengundurkan diri, AS terpilih menjadi Perdana Menteri yang dikenal sebagai Kabinet Amir Sjarifoeddin (3 Juli 1947 – 29 Januari 1948).

Sejak terbentuknya kabinet presidensil sampai naik dan jatuhnya kabinet AS bandul kabinet bergoyang ke kiri di mana AS dan kelompok politiknya memainkan peranan penting dalam mengisi bangunan rumah kemerdekaan. Di tengah bandul kekuasaan yang bergerak ke kiri, situasi politik terus memanas karena perseteruan antara diplomasi dan perjuangan tiada hentinya berkobar.

Kabinet AS sendiri pada mulanya menyetujui perjanjian Renville, kemudian karena terjadi perubahan kebijakan politik Amerika Serikat membuat Amir Sjarifoeddin sangat kecewa, lebih-lebih sesudah kebijakan politiknya kabinetnya tidak disokong Masyumi dan PNI, membuat dirinya bertambah kecewa yang berujung dengan diserahkan mandat kabinetnya kepada Soekarno. Kemudian kabinet AS diganti dengan Kabinet Hatta.

Setelah Hatta menjalankan pemerintahan menggantikan AS, yang terakhir ini membentuk oposisi sayap kiri yang tergabung dalam Front Demokratik Rayat (FDR). FDR terus melancarkan kecaman-kecaman terhadap kebijakan pemerintah dan menuntut agar kabinet Hatta dibubarkan dan menuntut agar AS ditempatkan kembali sebagai Menteri Pertahanan. Permintaan ini ditolak Hatta. Tentu saja AS dianggap sebagai musuh negara. AS, Musso dan FDR semakin berseberangan dengan Hatta. Aksi kekerasan dan pertempuran antar batalion yang pro FDR dan republik di wilayah Solo dan Madiun semakin menambah ketegangan politik. Pada September 1948, ketika AS dan Musso sedang melakukan “safari” politik, pecah peristiwa Madiun 1948.

Pemerintahan Hatta mengambil tindakan tegas. Pasukan Siliwangi menggempur kekuatan FDR dan pasukannya. Jika di masa Jepang, Soekarno dan Hatta menyelamatkan nyawa AS, dalam peristiwa Madiun Soekarno Hatta tidak bisa menyelamatkan AS yang ditembak mati pasukan tentara. Sebelum ditembak mati, AS yang menenteng Injil di tangannya maju ke depan lalu meminta dirinya lebih dulu ditembak. Permintaan ini dikabulkan dan ia pun tewas ditembak mati. Soekarno dan Hatta tidak bisa menyelamatkan AS karena politikus ini dimusuhi negara. Apakah AS mati sebagai komunis?

Usia AS memang tidak panjang, 41 tahun. Tetapi sosok politikus ini penuh kontroversi, dan sampai sekarang ini sisi kehidupan politiknya belum banyak terungkap. Dalam kaitannya dengan politikus kontroversial ini, terlepas dari kelemahannya, kehadiran buku Amir Sjarifoeddin Tempatnya Dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia menjadi penting untuk menambah tidak saja perbendaharaan pemikiran politik sang politikus, tetapi juga dapat membentangkan sisi lain dari kehidupannya yang masih belum banyak disingkap dalam mengisi bangunan rumah Indonesia.

Saya ingin menyitir Kata Sambutan mantan Menteri Penerangan RI, Mei 1947 – Desember 1947, Ir Setiadi Reksoprojo dalam buku Amir Sjarifoeddin,  “Di saat kekristenan dikuasai ‘kekristenan kesalehan’, yang diajarkan gereja kolonial dan didukung oleh penguasa penjajah, Bung Amir malah memperkenalkan kesadaran kekristenan yang lebih mendekati sifat aslinya, ‘kekristenan pembebasan’. Pergerakan nasional beruntung dengan adanya visi Amir Sjarifoeddin. Orang Kristen sejati tidak terlepas dari perjuangan pembebasan bangsanya yang ditindas oleh penjajah”.

Berdasarkan buku ini, benih-benih pemaknaan “kekristenan pembebasan” sudah mulai bersemi tatkala Amir muda terlibat dalam diskusi-diskusi dengan para aktivis Christen Studenten Vereeniging (CSV). Organisasi ini didirikan oleh Dr. C.L. van Doorn pada 1926. Peranan van Doorn dalam kalangan mahasiswa Kristen (CSV), sebagai salah satu tokoh yang membangkitkan rasa tanggungjawab pemuda Kristen Indonesia terhadap bangsanya. Ia berusaha meyakinkan pemuda atau mahasiswa Kristen Indonesia:  mereka dapat menjadi Kristen dan sekaligus juga nasionalis.

Jelaslah kekristenan Bung Amir bukanlah kekristenan yang pasif, yang dalam bahasa Bung Amir, “hanya memikirkan alam baka”, namun kekristenan yang terlibat dalam persoalan, dalam situasi pergolakan di mana dia berada. Para teolog sekarang menyebutnya kekristenan yang kontekstual, kekristenan yang membangun kesadaran akan situasi penindasan yang dialami, dan bangkit berjuang untuk mengubah situasi itu. Bukankah ini mengisyaratkan mekarnya benih-benih dari apa yang sekarang kesohor disebut sebagai teologi pembebasan?

Butir-butir pemikiran “kekristenan pembebasan” Amir dalam buku ini dapat ditelisik melalui sedikitnya tiga peristiwa: pertama, keterlibatannya dalam Konferensi Perhimpunan Pekabaran Injil Hindia Belanda (NIZB), di Karangpandan, 20-24 Oktober 1941, kedua, perayaaan natal oikumenis yang pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Persiapan Persatoean Kaoem Kristen (BPPKK), pada Desember 1942 di awal penjajahan Jepang, dan ketiga , selama di penjara di zaman Jepang.

Dalam Konferensi Karangpandan, Amir Sjarifoeddin menegaskan, orang Kristen Indonesia merupakan bagian integral dari bangsa Indonesia sehingga ia harus bersama-sama dengan golongan lainnya berjuang guna kemerdekaan Indonesia. Ia berseru kepada “gereja yang sudah tua” untuk turut berusaha memecahkan pesoalan-persoalan yang sudah ada dan yang akan dihadapi orang Kristen Indonesia. Gereja harus memberikan penjelasan-penjelasan mengenai masalah seperti kebebasan beragama, demokrasi yang sejati dan masalah sosial lainnya. Singkatnya, Bung Amir Sjarifoeddin minta gereja menyampaikan suara-suara nabiah, agar memihak pejuangan rakyat Indonesia untuk bebas dari penindasan.

Dalam Perayaan Natal Oikumenis yang diselenggarakan Badan Persiapan Persatoen Kaoem  Kristen, di Kebun Binatang Jakarta (kini, Taman Ismail Marzuki), Amir yang Ketoea Oemoem BPPKK menyampaikan pidatonya. Ia menganjurkan agar umat Kriten jangan hanya mengingat alam baka saja. Orang Kristen harus berdiri dengan kedua kakinya di tengah masyarakat yang sedang bergejolak, seperti halnya Musa yang memimpin umat Israel dari Mesir tanah perhambaan menuju tanah yang dijanjikan. Buku perayaan natal BPPKK itu diberi judul: Menoejoe ke Djemaat Indonesia Aseli.

Di dalam penjara pada era penjajahan Jepang, Amir Sjarifoeddin banyak membaca dan meneliti Alkitab. Ia terkesan oleh Kitab para Nabi. Hal itu diungkapkannya kepada Dr. H. Verkuil tatkala sudah bebas dari tahanan di awal  era kemedekaan Indonesia: “Di penjara untuk pertama kali saya membaca dan menyelidiki kitab para nabi, Amos, Yeremia dan Yesaya. Dahulu kitab-kitab itu tertutup bagi saya. Dulu saya hanya membaca Perjanjian Baru. Sekarang saya mengerti berita Alkitab bagi perjuangan sosial, ekonomi dan politik”.

Dari beberapa kutipan tadi, jelas pemaknaan, “kekristenan pembebasan” bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Best practice yang diperoleh Ir. Setiadi Reksoprojo terhadap tokoh Amir Sjarifoeddin yang “memperkenalkan kesadaran kekristenan yang lebih mendekati sifat aslinya, “kekristenan pembebasan”, tentulah terpancar dari aktualisasi diri sang tokoh. Boleh jadi Amir membaca Alkitab dengan matanya sendiri, artinya mata umat, lantas menemukan berita Injil yakni berita pembebasan seperti termaktub dalam Lukas 4: 18-19, yang merupakan petikan dari Yesaya 61: 1-2, yang dibaca Yesus di rumah ibadah di Nazaret :

Roh Tuhan ada pada-Ku,

oleh sebab Ia telah mengurapi Aku,

untuk menyampaikan kabar baik

kepada orang-orang miskin;

dan Ia telah mengutus Aku

untuk memberitakan

pembebasan kepada orang-orang tawanan,

dan penglihatan bagi orang-orang buta,

untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,

untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan

telah datang.

Kiprahnya dalam perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia yang dekat dengan rakyat jelata, adalah wujud dari spiritualitas “kekristenan pembebasan” itu. Bila kemudian, nyaris menjadi “takdir” setiap orang atau komunitas ynag memihak rakyat, yang berjuang bagi pembebasan orang tertindas disebut kaum kiri, jangan takut, Yesus dari Nazaret juga sayap kiri.

Jadi, saudara, Selamat Natal 2009. Semoga kita tidak takut berjuang untuk mewujudkan keadilan, karena Allah berkenan bagi semua orang yang berkehendak baik.

Arthur John Horoni

Mensyukuri Musibah: Mampukah?

“Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,” kata Adhi dengan wajah berseri. “Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?”

“Adhi, itu bukan ceritaku.” Begitu timpalku. “Tapi itu ‘kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para Wali Allah atau para Kekasih Allah sesungguhnya tidak pernah merasa takut, khawatir ataupun berduka cita sepanjang hidupnya, lantaran mereka selalu berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khalik.”

“Saya tahu itu. Dan, seperti para beliau,  saya juga telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah,” ujar Adhi dengan wajah yang tetap sumringah.

Sudah biasa saya mendengarkan celoteh Adhi tentang berbagai keresahan religiusitasnya. Tentang gugatannya terhadap Tuhan, yang menurutnya tidak pernah adil. Tentang berbagai ajaran agama, yang menurutnya tidak pernah memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Tentang berbagai kisah para Nabi yang menurutnya hanya dongeng pengantar tidur belaka.

Saya selalu mendengarkan celotehnya dengan sabar, dan saya tidak pernah mendebatnya. Buat apa? Dia pernah mengecap pendidikan pesantren seperti saya, dan bahkan di pesantren yang sama. Dia pernah mengenyam pendidikan di sebuah fakultas teologi, yang — ndilalah — merupakan fakultas saya juga, dulu.

Saya merasa hanya buang-buang waktu saja kalau saya berdebat dengannya, karena dia tahu betul argumen yang akan saya bangun untuk mendebatnya. Kata para dukun, seguru seilmu janganlah saling ganggu. Jadi, saya pun tidak pernah “mengganggu” pikiran-pikirannya.

Tetapi kedatangannya hari itu benar-benar berbeda. Wajahnya tidak sekusut biasanya. Tidak ada gugatan terhadap Tuhan, seperti yang biasa disampaikannya. Adhi kelihatan sangat gembira. Padahal, ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah sekitar dua pekan menginap di sana.  Dua pekan sebelumnya, ia menjalani operasi usus tahap pertama. Ada kanker ganas dalam stadium lanjut menggerogoti ususnya. Kata dokter, Adhi tinggal “menunggu waktu”.

“Saya sudah siap,” kata Adhi. “Saya sudah berterimakasih padaNya. Saya berterimakasih atas kanker yang diberikanNya kepada saya. Saya berterimakasih karena sayalah yang telah dipilihNya untuk menikmati penderitaan ini. Saya berterimakasih karena saya telah diajariNya untuk bersyukur. Bersyukur tidak hanya karena kenikmatan hidup yang telah dilimpahkanNya kepada saya. Tetapi juga karena penyakit yang kini menggerogoti tubuh saya.”

Seperti biasa, saya terdiam mendengarkan celotehnya. Ternyata itu merupakan celotehnya terakhir. Sepekan setelah itu, Adhi berpulang tanpa pamit. Dan, ia memang tidak perlu pamit kepada siapapun.

Tentu saja saya tidak pernah bertemu lagi dengan Adhi, bahkan dalam mimpi. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pada pelajaran konkret yang disampaikannya sebelum pergi: berterimakasihlah selalu padaNya, termasuk atas musibah yang diberikanNya. Mampukah saya? Rasanya, tidak.

Billy Soemawisastra

Surat Terbuka untuk Tuan Presiden: Dengarlah Suara Hatimu

Tuan Presiden,

Saya cuma seorang rakyat jelata, usia 62 tahun, tak punya perusahaan (asli wong deso), tak dapat pensiun (bukan pns, non-serdadu dan non-polisi), cuma punya rumah di Perumnas Depok. Pernah jadi penyiar radio swasta tahun 70-80-an (jadul), pernah menjadi seolah-olah wartawan karena tak dapat Kartu PWI, dan sekarang belajar di tengah rakyat di desa dan kota, bagaimana caranya agar rakyat mampu mengurus dirinya sendiri.

Tuan Presiden yang menawan (senyumnya …)

Anda sungguh beruntung di awal masa pemerintahan kedua ini. Partai Anda memenangkan pemilu dan Anda sendiri (dan wakil Anda juga tentunya) memenangkan pilpres dengan lebih dari 60% suara, artinya lebih dari 60 juta pemilih mencontreng gambar Anda dan wakil. Anda punya barisan koalisi partai pendukung lebih dari 70% di DPR-RI. Sejatinya Anda tinggal melenggang dengan citra penyelamat negeri berpenduduk 200 juta lebih kawula ini. Tapi ternyata (mengutip sastrawan besar Rusia, Boris Pasternak dalam Dr. Zivago): “Hidup tak segampang menyeberangi air kali”.

Entah kenapa, masih pada hari-hari awal “bulan madu” kekuasaan paruh II, mulai terjadi gonjang-ganjing atawa ontran-ontran. Hanya karena seorang petinggi polisi menggunakan ungkapan provokatif  “cicak melawan buaya”, tiba-tiba peta sosial negeri ini jungkir balik. Orang-orang yang tidak berdaya, mendadak saja mengidentifikasikan dirinya sama dengan KPK; menjadi kelas cicak. Yang tidak termasuk kelas cicak langsung saja dianggap front kelas buaya.

Tuan Presiden yang anteng,

Tampaknya Anda perlu siaga. Soalnya “buaya” dalam berbagai pemahaman cerita rakyat Indonesia adalah binatang buas yang keahliannya bengis, menaklukan dan memusnahkan. Tak ada cerita baik untuk hewan pemangsa ini. Gelar yang agak romantis berhubungan dengan buaya adalah “buaya darat” yang menunjukkan seorang lelaki hidung belang. Kalau ada seorang koruptor  menangis berurai airmata maka dibilang, “airmata buaya”. Saya percaya 1000% Anda pastilah tak mau menyandang salah satu dari gelar itu bukan ?

Sungguh, Tuan Presiden,

Dengan was-was saya berharap Anda mulai memasang jurus. Kenapa? Sang cicak sekarang telah menunjukkan kebolehannya dalam berjaringan.

Oleh kesamaan nasib sebagai masyarakat yang sering “dianiaya” para buaya, sang cicak mengorganisir diri dan menjelma menjadi barisan orang-orang yang tersadarkan: bahwa kecurangan, kebohongan, pencurian harta negara, penganiayaan terhadap rakyat (yang sering diatasnamakan) tak boleh dilanjutkan lagi.

Sang cicak, dari oknum yang tampaknya bloon, tak berdaya, tertindas, telah bermetamorfosis menjadi mahluk yang tercerahkan, sadar akan kekuatannya dan menginginkan perubahan menyeluruh agar hidup rakyat menjadi lebih baik.

Akan halnya kelas buaya, tidak bakal mengalah begitu saja. Kendati telah dipermalukan saban hari, kelas penindas ini tebal muka, setebal kulit buaya. Inilah jenis mahluk yang tak pernah memiliki rasa bersalah. Kesalahan selalu berada pada pihak lain. Mereka akan ngotot pada soal-soal tata cara normatif dan bukan kepada rasa keadilan. Mereka menomorsatukan akal-akalan dan menafikan hati nurani.

Kelas buaya adalah persekongkolan para bajingan yang mengambil untung dari kesengsaraan rakyat. Apa boleh buat, melalui jaringan media hari-hari ini, para buaya banyak terdapat di institusi-institusi yang seharusnya membela nasib para cicak.

Tuan Presiden yang semoga bijak,

Saya sungguh-sungguh was-was, bila Anda bungkam dan tak segera bertindak. Anda jangan menganggap sepele 1 juta facebookers dibanding lebih dari 60 juta pemilih Anda. Satu juta itu puncak sebuah gunung es, maka jumlah rakyat yang menyanggah puncak itu bisa saya 1 juta x 100 orang = 100 juta orang. Dan itu suara orang-orang yang terluka, yang selama ini dilecehkan oleh para buaya.

Jadi, Tuan Presiden,

Silakan pasang jurus yang tepat.

Karena itu dengarkanlah suara hatimu

Salam,

Arthur J. Horoni

Peringatan Kemerdekaan dalam Bayang-bayang Terorisme

Keriaan memperingati hari kemerdekaan, usai sudah. Kemarin dan kemarinnya lagi — hampir tiga hari berturut-turut dalam long week end yang baru saja berlalu — di setiap pojok perkampungan miskin dan daerah elite perkotaan, di negeri bernama Republik Indonesia ini, keramaian menyambut hari jadi RI ke-64 berlangsung spontan dan penuh keikhlasan.

Puncaknya, ya kemarin itu, tanggal 17 Agustus 2009. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan mulai dari Istana Negara hingga kantor-kantor gubernur, bupati, camat, lurah, bahkan sampai di kedalaman lautan, puncak gunung dan perut bumi. Alhamdulillah, Indonesia ternyata masih ada. Merah Putih masih berkibar dan dicintai seluruh warga negara. Meski sehari sebelumnya, di sebuah gedung megah di Senayan Jakarta, para wakil rakyat dan kepala negaranya sempat lupa mengumandangkan lagu keramat hasil gubahan almarhum WR Supratman itu, dalam suatu acara kenegaraan.

Kemegahan memperingati hari kemerdekaan, memang selalu berulang setiap tahun. Tetapi peringatan yang berlangsung kemarin, terasa lebih dalam nuansa keharuannya, karena beberapa saat sebelumnya, Bumi Pertiwi dirundung tragedi yang juga selalu datang berulang, mengoyak ketentraman yang ternyata masih impian. Tragedi itu adalah serangan teroris berupa pemboman oleh para pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta.

Tragedi ini bisa terjadi lagi di saat-saat yang tidak terduga, karena jaringan para pelaku pemboman (terutama para perancangnya) masih belum bisa diberangus hingga ke akar-akarnya. Apalagi konon para teroris itu telah berhasil merekrut sejumlah anak muda untuk menjadi ”pengantin” alias pembom bunuh diri, yang bisa meledakkan diri sewaktu-waktu. Kalau itu terjadi lagi, aparat keamanan (lagi-lagi) akan merasa kecolongan.

Jika benar bahwa para pembom bunuh diri itu rela meledakkan diri karena alasan agama: ingin mati syahid agar langsung masuk surga dan langsung pula bertemu dengan Allah, maka yang harus merasa paling kecolongan sebenarnya adalah para ulama Islam, karena tak ada satu ayat pun dalam Al-Quran, dan satu pun Sabda Rasulullah Muhammad SAWW (Al-Hadits), yang membenarkan ataupun memerintahkan tindakan bunuh diri untuk alasan apa pun. Terlebih lagi jika perbuatan tersebut dilakukan untuk mencelakakan orang lain. Itu artinya, tuntunan hakiki agama Islam yang hakikatnya cinta damai, tidak pernah sampai kepada sejumlah anak muda yang rela meledakkan diri untuk mendapatkan liputan media.

Bila tuntunan agama tidak sampai kepada umat, atau tuntunan agama itu disalahartikan oleh sebagian orang, lantas siapa yang pantas disalahkan? Tentunya para ulama. Lalu ke mana para ulama selama ini? Pemboman demi pemboman di bumi Indonesia ini terjadi sejak tahun 2000, diawali dengan peledakkan sejumlah gereja. Waktu itu, masyarakat masih meraba-raba siapa pelakunya. Tetapi sejak bom bali pertama di tahun 2002, kalangan intelejen mulai menjelaskan bahwa para pembom alias para teroris itu berasal dari kelompok Jemaah Islamiyah (JI) yang berpusat di Malaysia dan berafiliasi pada organisasi Al-Qaidah.

Di Indonesia, gerakan JI semakin memperoleh kekuatan karena bersinggungan, bahkan berakrab-ria dengan sempalan gerakan NII (Negara Islam Indonesia). Mengapa kelompok JI akrab dengan gerakan NII? Karena sesungguhnya, para pendiri JI adalah tokoh-tokoh NII yang melarikan diri ke Malaysia, untuk menghindari incaran pemerintah Orde Baru.

Pada peristiwa bom Bali 2002 itu pulalah, masyarakat Indonesia mulai diperkenalkan pada suicide bombers, alias para pembom bunuh diri. Sesuatu yang sebelumnya hanya kita dengar terdapat di Timur Tengah. Maka jelaslah bahwa perilaku pembom bunuh diri, adalah perilaku impor. Bukan perilaku khas Indonesia.

Walau demikian tak pernah kita dengar upaya para ulama untuk mendekati umatnya di berbagai pelosok negeri, guna menjelaskan bahwa tindakan terorisme (termasuk aksi bom bunuh diri) adalah tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam. Yang muncul kemudian hanyalah sikap saling-mencurigai, beredarnya berbagai versi teori konspirasi, dan akhirnya keluhan dari sejumlah tokoh organisasi massa Islam yang mengaku bahwa sebagian mesjid-mesjidnya, sekolah-sekolahnya, pesantren-pesantrennya, mulai disusupi atau diakuisisi oleh kelompok-kelompok Islam garis keras.

Anehnya, meski musuh sudah masuk ke dalam rumah, masih banyak para ulama yang tetap ”berasyik-ma’syuk” dengan partai-partai politik. Ikut dukung-mendukung hingga tahapan pemilihan presiden, dan tanpa malu-malu membawa nama besar organisasi keagamaan untuk kepentingan politik. Ujung-ujungnya tentu saja pembagian kekuasaan. Lalu mereka ikut terperangah ketika bom, lagi-lagi meledak, di Mega Kuningan.

Dulu gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) berhasil diberangus karena kerja sama yang erat antara ulama, umara (pemerintah) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Begitu pula gerakan komunisme. Mengapa sekarang kerja sama itu sulit diwujudkan? Itu lantaran (bahkan) para ulama pun tak lagi bersatu seperti dulu. Kepentingan politik praktis telah membuat mereka semakin berpuak-puak, sehingga lupa pada bahaya laten di sekitarnya, yakni terorisme.

Seperti telah disinggung di atas, gerakan terorisme di Indonesia, sedikit banyak bersinggungan dengan gerakan NII, atau keturunan (baca: kader) para penggerak DI/TII yang – karena organisasinya dinyatakan terlarang – mengendap-endap di ”bawah tanah”. Di antara mereka, kata pengamat gerakan Islam, Al Chaidar, ada yang moderat alias tidak menyetujui jalan kekerasan. Mereka yang moderat ini sebenarnya bisa didekati oleh para ulama, umara dan aparat keamanan, sehingga bisa diajak kerja sama untuk menghambat gerakan sayap radikal, guna mencegah aksi-aksi terorisme.

Walhasil, memang dibutuhkan kesatuan langkah dari semua pihak yang mencintai negeri ini, untuk bahu-membahu mencegah dan memberantas terorisme. Selain gerakan kejar dan tangkap yang dilakukan aparat keamanan terhadap para pelaku terorisme, juga diperlukan gerakan penyadaran masyarakat atas bahaya terorisme, termasuk melakukan persuasi terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang rentan akan ajakan para teroris. Dan, ini merupakan tugas para ulama. Pun, tentu saja, tugas umara.

Semoga pula kemeriahan memperingati hari kemerdekaan RI yang berlangsung kemarin, tidak membuat masyarakat lupa akan ancaman terorisme yang selalu membayang-bayangi ketentraman negeri ini.

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini juga dapat dilihat di www.liputan6.com]