Amir Sjarifoeddin, Penghianat atau Pejuang?
Amir Sjarifoeddin, Perdana Menteri RI 1947–1948, yang pada 19 Desember 1948 ditembak mati oleh tentara karena terlibat Peristiwa Madiun, apakah seorang penghianat atau pejuang?
Itulah pertanyaan yang berkembang dalam kegiatan Bedah Buku: Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin, Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Bedah buku itu berlangsung di Medan, 19 Desember 2009, dihadiri lebih 100 orang partisipan.
Buku yang diperbincangkan adalah karya Pendeta Frederik Djara Wellem yang bentuk awalnya adalah tesis seorang pendeta untuk meraih magister teologia di STT (Sekolah Tinggi Teologia) Jakarta. Karya ini pernah dicetak dan diterbitkan pada tahun 1984, namun dilarang beredar oleh rejim Soeharto dan dimusnahkan. Penerbitan tahun 2009 dilakukan oleh Omnes Unum Sint Institute, Center dor Popular Education (CPE) Medan dan Jala Permata Aksara.
“Pembedahan” buku mengemuka melalui tiga topik: Tinjauan Kritis dalam Perpektif Konstruksi Sejarah, oleh sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), Budi Agustono, Peranan Amir Sjarifoeddin dalam Perjuangan Kemerdekaan, oleh Budiman Sudjatmiko, anggota DPR-RI, dan Amir Sjarifoeddin dan ‘Kekristenan Pembebasan’, oleh Arthur John Horoni, Koordinator Center for Popular Education .
Petikan dari pokok-pokok pikiran pembicara dalam bedah buku itu kiranya dapat menjawab, apakah Amir Sjarifoeddin seorang penghianat atau pejuang. Budiman Sudjatmiko menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan yang sulit dijawab: siapakah yang lebih cocok disebut penghianat, Amir Sjarifoeddin atau Soeharto? Bagi Budiman, “Bung Amir adalah tokoh yang hampir ideal.” Politikus, pencinta seni, menguasai banyak bahasa asing (Inggris, Belanda, Latin, Yunani dan lain sebagainya).
Dia tidak keberatan kalau Amir disebut marxis atau sosialis. Apa masalahnya? Sebagian besar bapak bangsa menurut Budiman adalah Marxis. Dia menyebut antara lain Sjahrir, Soekarno, Tan Malaka dan seterusnya. “Kalau tak ada orang-orang kiri, bagaimana rupanya keadaan bangsa ini?” tanya Budiman. Bagi anggota DPR-RI ini, Amir Sjarifoeddin adalah 100% Kristen, 100% Marxis, 100% Indonesia.
Budi Agustono, sejarawan dari USU (Universitas Sumatera Utara) berpendapat, di antara bapak bangsa yang mengabdikan diri untuk kemerdekaan terdapat tokoh-tokoh bangsa yang menjulang namanya dan selalu dijadikan rujukan, tetapi ada pula politikus yang memainkan peranan penting dalam masa pergerakan sampai awal pembentukan negara bangsa, tetapi amat jarang menjadi referensi bangsa, misalnya Amir Sjarifoeddin (AS). Nama AS tentulah tidak sebesar dan sesering disebut-sebut seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir atau Tan Malaka. Meski demikian, karena aktivitas politiknya sejak masa kolonial sampai ia memegang jabatan penting dalam pemerintahan, AS mempunyai tempat tersendiri dalam perjalanan bangsa.
Seperti kaum pergerakan lainnya, semasa kolonial Belanda, AS berkecimpung dalam berbagai kepartaian. Pada tahun 1935, AS telah bertemu dengan Muso dan hubungan politik antara keduanya sangat dekat. Pada 1937, AS mendirikan Gerindo dan melalui organisasi inilah ia membangun dan memperkuat pengaruhnya di kalangan kaum pergerakan. Setelah itu, AS membentuk Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang bersifat kooperatif untuk melawan fasisme. Pada masa itu, AS menjadi salah seorang aktivis pergerakan yang dikenal luas.
Ketika Jepang menggantikan Belanda, para kaum pergerakan ada yang memilih bekerja sama atau menolak bekerja sama dengan Jepang. Soekarno dan Hatta memilih bekerja sama dengan Jepang, sedangkan AS dan Sjahrir berjuang lewat gerakan bawah tanah melawan Jepang.
Jepang menggulung kegiatan politik bawah tanah. Satu demi satu kaum pergerakan diinterogasi, ditangkap dan dibunuh. Karena Jepang berhasil menggulung jaringan bawah tanah, penangkapan tertuju ke diri AS. Jepang menangkap AS dan menjatuhi hukuman mati kepadanya. Ketika diinterogasi, AS sering mentertawakan tentara Jepang sampai akhirnya membuat mereka marah. Kabar AS akan dihukum mati sampai ke Soekarno–Hatta yang saat itu menjadi pemimpin pergerakan paling terkemuka. Melalui campur tangan mereka berdua, nyawa AS diselamatkan, hukumannya menjadi seumur hidup dan baru bebas setelah kemerdekaan Indonesia.
Setelah proklamasi, dalam kabinet presidensil, AS diangkat menjadi Menteri Penerangan. Ketika diangkat menjadi anggota kabinet, AS tidak bisa dilantik karena masih berada di penjara. Selang beberapa lama AS dijemput dan dikeluarkan dari penjara dengan bercelana pendek untuk dilantik menjadi Menteri Penerangan (19 Agustus 1945–14 November 1945).
Setelah tidak lagi menjabat Menteri Penerangan, sepanjang hampir tiga tahun lamanya AS menduduki poisisi strategis dalam kabinet, yaitu Menteri Pertahanan. Dalam kabinet Sjahriri I (14 November 1945 – 12 Maret 1946) ia menjabat Menteri Keamanan Rakyat dan Menteri Penerangan. Dalam Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946 – 2 Oktober 1946) menduduki pos Menteri Pertahanan, dan diangkat kembali sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 3 Juli 1947).
Sama seperti dua kabinet terdahulu, akibat pecah krisis politik Kabinet Sjahrir III tidak bertahan lama dan akhirnya jatuh. Setelah Sjahrir mengundurkan diri, AS terpilih menjadi Perdana Menteri yang dikenal sebagai Kabinet Amir Sjarifoeddin (3 Juli 1947 – 29 Januari 1948).
Sejak terbentuknya kabinet presidensil sampai naik dan jatuhnya kabinet AS bandul kabinet bergoyang ke kiri di mana AS dan kelompok politiknya memainkan peranan penting dalam mengisi bangunan rumah kemerdekaan. Di tengah bandul kekuasaan yang bergerak ke kiri, situasi politik terus memanas karena perseteruan antara diplomasi dan perjuangan tiada hentinya berkobar.
Kabinet AS sendiri pada mulanya menyetujui perjanjian Renville, kemudian karena terjadi perubahan kebijakan politik Amerika Serikat membuat Amir Sjarifoeddin sangat kecewa, lebih-lebih sesudah kebijakan politiknya kabinetnya tidak disokong Masyumi dan PNI, membuat dirinya bertambah kecewa yang berujung dengan diserahkan mandat kabinetnya kepada Soekarno. Kemudian kabinet AS diganti dengan Kabinet Hatta.
Setelah Hatta menjalankan pemerintahan menggantikan AS, yang terakhir ini membentuk oposisi sayap kiri yang tergabung dalam Front Demokratik Rayat (FDR). FDR terus melancarkan kecaman-kecaman terhadap kebijakan pemerintah dan menuntut agar kabinet Hatta dibubarkan dan menuntut agar AS ditempatkan kembali sebagai Menteri Pertahanan. Permintaan ini ditolak Hatta. Tentu saja AS dianggap sebagai musuh negara. AS, Musso dan FDR semakin berseberangan dengan Hatta. Aksi kekerasan dan pertempuran antar batalion yang pro FDR dan republik di wilayah Solo dan Madiun semakin menambah ketegangan politik. Pada September 1948, ketika AS dan Musso sedang melakukan “safari” politik, pecah peristiwa Madiun 1948.
Pemerintahan Hatta mengambil tindakan tegas. Pasukan Siliwangi menggempur kekuatan FDR dan pasukannya. Jika di masa Jepang, Soekarno dan Hatta menyelamatkan nyawa AS, dalam peristiwa Madiun Soekarno Hatta tidak bisa menyelamatkan AS yang ditembak mati pasukan tentara. Sebelum ditembak mati, AS yang menenteng Injil di tangannya maju ke depan lalu meminta dirinya lebih dulu ditembak. Permintaan ini dikabulkan dan ia pun tewas ditembak mati. Soekarno dan Hatta tidak bisa menyelamatkan AS karena politikus ini dimusuhi negara. Apakah AS mati sebagai komunis?
Usia AS memang tidak panjang, 41 tahun. Tetapi sosok politikus ini penuh kontroversi, dan sampai sekarang ini sisi kehidupan politiknya belum banyak terungkap. Dalam kaitannya dengan politikus kontroversial ini, terlepas dari kelemahannya, kehadiran buku Amir Sjarifoeddin Tempatnya Dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia menjadi penting untuk menambah tidak saja perbendaharaan pemikiran politik sang politikus, tetapi juga dapat membentangkan sisi lain dari kehidupannya yang masih belum banyak disingkap dalam mengisi bangunan rumah Indonesia.
Saya ingin menyitir Kata Sambutan mantan Menteri Penerangan RI, Mei 1947 – Desember 1947, Ir Setiadi Reksoprojo dalam buku Amir Sjarifoeddin, “Di saat kekristenan dikuasai ‘kekristenan kesalehan’, yang diajarkan gereja kolonial dan didukung oleh penguasa penjajah, Bung Amir malah memperkenalkan kesadaran kekristenan yang lebih mendekati sifat aslinya, ‘kekristenan pembebasan’. Pergerakan nasional beruntung dengan adanya visi Amir Sjarifoeddin. Orang Kristen sejati tidak terlepas dari perjuangan pembebasan bangsanya yang ditindas oleh penjajah”.
Berdasarkan buku ini, benih-benih pemaknaan “kekristenan pembebasan” sudah mulai bersemi tatkala Amir muda terlibat dalam diskusi-diskusi dengan para aktivis Christen Studenten Vereeniging (CSV). Organisasi ini didirikan oleh Dr. C.L. van Doorn pada 1926. Peranan van Doorn dalam kalangan mahasiswa Kristen (CSV), sebagai salah satu tokoh yang membangkitkan rasa tanggungjawab pemuda Kristen Indonesia terhadap bangsanya. Ia berusaha meyakinkan pemuda atau mahasiswa Kristen Indonesia: mereka dapat menjadi Kristen dan sekaligus juga nasionalis.
Jelaslah kekristenan Bung Amir bukanlah kekristenan yang pasif, yang dalam bahasa Bung Amir, “hanya memikirkan alam baka”, namun kekristenan yang terlibat dalam persoalan, dalam situasi pergolakan di mana dia berada. Para teolog sekarang menyebutnya kekristenan yang kontekstual, kekristenan yang membangun kesadaran akan situasi penindasan yang dialami, dan bangkit berjuang untuk mengubah situasi itu. Bukankah ini mengisyaratkan mekarnya benih-benih dari apa yang sekarang kesohor disebut sebagai teologi pembebasan?
Butir-butir pemikiran “kekristenan pembebasan” Amir dalam buku ini dapat ditelisik melalui sedikitnya tiga peristiwa: pertama, keterlibatannya dalam Konferensi Perhimpunan Pekabaran Injil Hindia Belanda (NIZB), di Karangpandan, 20-24 Oktober 1941, kedua, perayaaan natal oikumenis yang pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Persiapan Persatoean Kaoem Kristen (BPPKK), pada Desember 1942 di awal penjajahan Jepang, dan ketiga , selama di penjara di zaman Jepang.
Dalam Konferensi Karangpandan, Amir Sjarifoeddin menegaskan, orang Kristen Indonesia merupakan bagian integral dari bangsa Indonesia sehingga ia harus bersama-sama dengan golongan lainnya berjuang guna kemerdekaan Indonesia. Ia berseru kepada “gereja yang sudah tua” untuk turut berusaha memecahkan pesoalan-persoalan yang sudah ada dan yang akan dihadapi orang Kristen Indonesia. Gereja harus memberikan penjelasan-penjelasan mengenai masalah seperti kebebasan beragama, demokrasi yang sejati dan masalah sosial lainnya. Singkatnya, Bung Amir Sjarifoeddin minta gereja menyampaikan suara-suara nabiah, agar memihak pejuangan rakyat Indonesia untuk bebas dari penindasan.
Dalam Perayaan Natal Oikumenis yang diselenggarakan Badan Persiapan Persatoen Kaoem Kristen, di Kebun Binatang Jakarta (kini, Taman Ismail Marzuki), Amir yang Ketoea Oemoem BPPKK menyampaikan pidatonya. Ia menganjurkan agar umat Kriten jangan hanya mengingat alam baka saja. Orang Kristen harus berdiri dengan kedua kakinya di tengah masyarakat yang sedang bergejolak, seperti halnya Musa yang memimpin umat Israel dari Mesir tanah perhambaan menuju tanah yang dijanjikan. Buku perayaan natal BPPKK itu diberi judul: Menoejoe ke Djemaat Indonesia Aseli.
Di dalam penjara pada era penjajahan Jepang, Amir Sjarifoeddin banyak membaca dan meneliti Alkitab. Ia terkesan oleh Kitab para Nabi. Hal itu diungkapkannya kepada Dr. H. Verkuil tatkala sudah bebas dari tahanan di awal era kemedekaan Indonesia: “Di penjara untuk pertama kali saya membaca dan menyelidiki kitab para nabi, Amos, Yeremia dan Yesaya. Dahulu kitab-kitab itu tertutup bagi saya. Dulu saya hanya membaca Perjanjian Baru. Sekarang saya mengerti berita Alkitab bagi perjuangan sosial, ekonomi dan politik”.
Dari beberapa kutipan tadi, jelas pemaknaan, “kekristenan pembebasan” bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Best practice yang diperoleh Ir. Setiadi Reksoprojo terhadap tokoh Amir Sjarifoeddin yang “memperkenalkan kesadaran kekristenan yang lebih mendekati sifat aslinya, “kekristenan pembebasan”, tentulah terpancar dari aktualisasi diri sang tokoh. Boleh jadi Amir membaca Alkitab dengan matanya sendiri, artinya mata umat, lantas menemukan berita Injil yakni berita pembebasan seperti termaktub dalam Lukas 4: 18-19, yang merupakan petikan dari Yesaya 61: 1-2, yang dibaca Yesus di rumah ibadah di Nazaret :
Roh Tuhan ada pada-Ku,
oleh sebab Ia telah mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik
kepada orang-orang miskin;
dan Ia telah mengutus Aku
untuk memberitakan
pembebasan kepada orang-orang tawanan,
dan penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,
untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan
telah datang.
Kiprahnya dalam perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia yang dekat dengan rakyat jelata, adalah wujud dari spiritualitas “kekristenan pembebasan” itu. Bila kemudian, nyaris menjadi “takdir” setiap orang atau komunitas ynag memihak rakyat, yang berjuang bagi pembebasan orang tertindas disebut kaum kiri, jangan takut, Yesus dari Nazaret juga sayap kiri.
Jadi, saudara, Selamat Natal 2009. Semoga kita tidak takut berjuang untuk mewujudkan keadilan, karena Allah berkenan bagi semua orang yang berkehendak baik.
Arthur John Horoni
Who Speaks for Islam?
Judul di atas, merupakan judul buku yang ditulis oleh Profesor John L. Esposito dan Dalia Mogahed. Diterbitkan oleh Gallup Press, akhir 2007. Di Indonesia, buku ini diterjemahkan dengan judul: “Saatnya Muslim Bicara” (PT. Pustaka Mizan, 2008). Isinya merupakan hasil penelitian (jajak pendapat) Gallup World Poll terhadap satu milyar lebih umat Islam di seluruh dunia, mengenai masalah-masalah kekinian seperti demokrasi, hak asasi manusia (HAM), terorisme, anarkisme dan pandangan kaum Muslim terhadap Barat.
Survey ini dilakukan pada akhir 2001, pasca-serangan teroris terhadap gedung kembar World Trade Center (WTC) New York, Amerika Serikat, dan baru selesai pada penghujung 2007. Gagasan untuk membuat survey ini, dipicu oleh semakin tumbuhnya pandangan negatif masyarakat Barat (khususnya AS) terhadap umat Islam, akibat serangan teroris tersebut.

Pasca-tragedi WTC, diskriminasi atau kebencian terhadap kaum Muslim semakin meluas. Hasil jajak pendapat Gallup yang dilakukan pasca tragedi tersebut, menunjukkan, hampir separuh warga AS (44%) berpendapat bahwa kaum Muslim terlalu ekstrim dalam beragama, dan hampir seperempat (22%) penduduk AS tidak ingin bertetangga dengan orang Islam, karena orang Islam dianggap berbahaya. Hampir separuh warga Amerika, meragukan kesetiaan Muslim Amerika, terhadap Negara Amerika Serikat.
Kecaman-kecaman bernada kebencian terhadap Islam (Islamophobia) ini, sering ditunjukkan melalui berbagai media, termasuk wawancara-wawancara televisi. Orang Amerika tampaknya sudah menggeneralisasikan kaum Muslim sebagai umat yang anti-demokrasi, cenderung memusuhi Amerika, sehingga berpotensi menyerang Amerika melalui kegiatan terorisme.
Padahal, survey yang dilakukkan Gallup kemudian membuktikan bahwa sebagian besar umat Islam justru mengutuk terorisme, membenci anarkisme, dan mencintai sistem demokrasi. Adanya ketidaksukaan umat Muslim terhadap Amerika, itu lebih disebabkan standar ganda yang diterapkan Amerika Serikat dalam menghadapi negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, terutama negara-negara Timur Tengah.

Prasangka buruk masyarakat Amerika terhadap umat Islam itu, ditepis oleh John L. Esposito dan Dalia Mogahed, sejak bab pertama buku ini. Diuraikan secara rinci, ajaran Islam yang sebenarnya mencintai kedamaian, sesuai dengan akar kata Islam yang berarti damai, dan bahwa Jihad mempunyai makna yang sangat luas, bukan hanya perjuangan bersenjata, dan tidak identik dengan terorisme. Bahkan dalam peperangan sekalipun, etika Islam melarang penyerangan terhadap warga sipil. Ajaran Islam yang diyakini sebagian besar kaum Muslim itu, tentunya sangat bertolak-belakang dengan tindakan anarkisme dan terorisme yang mengorbankan masyarakat sipil.
Hasil survey Gallup yang dilakukan pasca-tragedi WTC, membuktikan bahwa sebagian besar umat Islam di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim ternyata tidak menyetujui tindakan terorisme atau serangan terhadap penduduk sipil (74% di Indonesia, 86% di Bangladesh, 80% di Iran). Angka ini bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan sikap warga Amerika terhadap serangan terorisme. Hanya 46% masyarakat Amerika yang menganggap pengeboman dan serangan terhadap penduduk sipil tidak dapat dibenarkan. Sementara 24% warga Amerika percaya bahwa serangan semacam itu “sering atau terkadang bisa dibenarkan”.

Di bab pertama buku ini, ditunjukkan pula fakta-fakta bahwa sebagian besar umat Islam yang menyebar di sekitar 57 negara di dunia, justru berada di luar kawasan Arab, dan memiliki budaya lokal yang beragam. Muslim Arab hanya sekitar 20% dari keseluruhan populasi Muslim dunia. Fakta ini tampaknya penting dikemukakan karena masyarakat Barat beranggapan seakan-akan Islam identik dengan Arab, dan bangsa Arab dianggap menyukai kekerasan. Padahal bahkan di negara-negara Arab pun, survey Gallup menunjukkan, sebagian besar umat Islam mengaku “memiliki banyak cinta dalam hidupnya”. (95% responden Mesir dan 92% responden Arab Saudi). Ini berarti, sebagian besar umat Islam di mana pun lebih menyukai kedamaian, dan tidak suka dengan kekerasan.
Pada bab selanjutnya, diuraikan hasil survey mengenai pandangan Muslim terhadap demokrasi. Hasilnya ternyata mengejutkan, mengingat Barat selama ini menilai umat Islam anti-demokrasi. Di hampir semua negara yang disurvey, sebagian besar responden memilih sistem demokrasi, sebagai sistem yang layak menata kehidupan berbangsa dan bernegara mereka (95% di Burkina Faso, 94% persen di Mesir, 93% di Iran, dan 90% di Indonesia). Dukungan atas sistem demokrasi ini, ternyata pula cukup besar di kalangan radikal politik Muslim (50%). Kaum radikal politik Muslim menyatakan bahwa “bergerak menuju demokrasi ke pemerintahan yang lebih baik” akan meningkatkan kemajuan di dunia Arab/Muslim.

Muslimah Palestina.
Para responden di negara-negara yang disurvey, umumnya berpendapat bahwa ajaran Islam tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Bahwa ada negara-negara berpenduduk mayoritas Islam (terutama di kawasan Arab) yang tidak menerapkan demokrasi, tidak berarti bahwa umat Islam anti-demokrasi. Sebaliknya mereka juga tidak percaya bahwa Amerika Serikat yang selalu menggembar-gemborkan diri sebagai pelopor demokrasi itu benar-benar menerapkan demokrasi. Hanya 24% persen responden di Mesir dan Yordania dan 16% di Turki yang percaya bahwa Amerika Serikat serius menegakkan sistem demokrasi. Kelompok terbesar yang tidak percaya atas konsistensi AS dalam berdemokrasi adalah Lebanon (54%), Sierra Leone (68%) dan Afghanistan (53%).
Yang paling tidak percaya bahwa AS benar-benar serius menerapkan demokrasi, adalah kaum radikal politik Muslim (72%). Tetapi kaum Muslim moderat pun sama-sama tidak percaya akan hal itu (52%). Itu lantaran Amerika Serikat memiliki standar ganda dalam hal penegakkan demokrasi dan hak-hak asasi manusia di negara-negara Arab/Muslim. Ketika ditanyakan kepada responden di 10 negara berpenduduk mayoritas Muslim, tentang cara mereka memandang Amerika, sifat paling kuat yang mereka asosiasikan dengan AS adalah: kejam (68%), agresif (66%), angkuh (65%) dan rusak moral (64%). Tetapi mereka juga mengakui bahwa Amerika Serikat maju dalam sains dan teknologi (68%).

Muslimah di Inggris.
Masyarakat Muslim umumnya sangat mengagumi kemajuan teknologi dan kebebasan berpendapat di negara-negara Barat. Bahkan Amerika Serikat, secara khusus dipandang sebagai negara yang mempunyai sistem peradilan yang jujur karena menghargai hak-hak asasi warganya. Tetapi mereka kecewa dengan kekejaman AS terhadap warga Muslim di Abu Ghraib, Guantanamo dan tempat-tempat lainnya. Sehingga Amerika pun dinilai munafik dalam hal penerapan hak-hak asasi manusia. Meskipun Amerika sering menggambarkan dirinya sebagai juara hak-hak asasi manusia di dunia.
Muslim di RR Cina.
Buku ini lebih ditujukan bagi masyarakat Barat, terutama Amerika Serikat, agar mengubah cara pandang mereka terhadap dunia Islam. Ini lantaran orang-orang Barat itu sebenarnya tidak mengenal ajaran Islam dan sikap hidup kaum Muslim yang sebenarnya. Masyarakat Amerika yang disurvey Gallup, umumnya menjawab “tidak tahu” ketika ditanyakan kepada mereka, apakah mereka tahu dan pernah mempelajari agama Islam dan sikap hidup kaum Muslim.
Proyek Raksasa Gallup World Poll untuk Membela Islam.
Apa yang dilakukan Profesor John L. Esposito dan Dalia Mogahed serta seluruh peneliti yang tergabung di lembaga survey tertua dan terbesar di dunia, Gallup World Poll, sehingga menghasilkan buku yang sangat komprehensif ini, benar-benar merupakan proyek raksasa. Survey yang berlangsung selama tujuh tahun itu tidak hanya dilakukan di seluruh negara berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi juga di negara-negara yang penduduk Muslimnya tergolong minoritas, seperti di Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, Cina, Jepang dan India.

John L. Esposito
Di negara-negara besar, yang 80% penduduknya atau lebih memiliki saluran telepon, survey dilakukan dengan menghubungi nomor telepon secara acak (Random Digit Dial, RDD). Situasi khusus ini antara lain dilakukan di Amerika Serikat, Kanada, negara-negara Eropa Barat dan Jepang. Sedangkan di Negara-negara berkembang seperti sebagian besar Amerika Latin, bekas Negara-negara Uni Soviet, hampir semua Negara Asia, Timur Tengah dan Afrika, dipergunakan rancangan berkerangka wilayah, untuk wawancara tatap muka. Wawancara tatap muka berlangsung sekitar satu jam untuk setiap responden, sedangkan wawancara via telepon berlangsung sekitar 30 menit. Populasi target meliputi semua individu berusia 15 tahun ke atas.

Dalia Mogahed
Hasilnya adalah sebuah buku yang sepenuhnya membela dunia Islam. Buku yang mengimbau dunia Barat agar mendekati dunia Islam dengan menaklukan hati kaum Muslim, bukan dengan kekuatan bersenjata. Berdasarkan hasil survey ini, John L. Esposito dan Dalia Mogahed, menyatakan tidak setuju atas teori “benturan peradaban” antara Islam dan Barat, seperti yang pernah dikemukakan Samuel P. Huntington dan para pendukungnya.
Benturan peradaban tidak mungkin terjadi karena sikap kaum Muslim terhadap masalah-masalah kekinian, hakikatnya tidak berbeda dengan sikap masyarakat Barat. Apalagi, berdasarkan hasil survey, mayoritas kaum Muslim di dunia adalah Muslim moderat. Kaum radikal Muslim hanya berkisar tujuh persen, dan mereka pun masih bisa didekati dengan pendekatan kemanusiaan, atau dengan menaklukan hati mereka.
Kaum radikal yang berpotensi melakukan tindakan terorisme jauh lebih sedikit lagi. Tindakan terorisme yang mereka lakukan pun sebenarnya tidak mempunyai relevansi dengan ajaran Islam, tetapi lebih berlatar-belakang politik. Bukti-bukti bahkan menunjukkan bahwa para teroris itu (termasuk yang meledakkan menara kembar WTC) bukanlah Muslim yang taat. Jika Barat mampu menaklukan hati kaum Muslim secara keseluruhan, potensi terorisme yang mengatasnamakan Islam, lambat-laun akan tereliminasi.
Billy Soemawisastra
[Foto-foto Muslim di RR Cina, Muslimah di Inggris dan Palestina, diambil dari: http://5pillar.wordpress.com, http://group.colgate.edu, dan www.theasiannews.co.uk]
Resensi Buku: “Sihir AGAPE”
Inilah era komunitas pedagang. Di tiap sudut negeri terhampar mulai dari Mal sampai Kios atau Lapak. Beginilah kurun masa sebentang ideologi dunia, yang secara digjaya berhala pada neoliberalisme.
“Pada dasarnya neoliberalisme mengubah manusia menjadi komoditi.” Demikian diktum utama kelumpuhan dunia menurut buku Alternative Globalization Addressing Peoples and Earth (AGAPE) atau “Globalisasi Alternatif Mengutamakan Rakyat dan Bumi”. Sebuah buku yang diramu secara apik dan bergizi dari berlembar dokumen hasil temuan beberapa konsultasi dan studi yang digelar Dewan Gereja-Gereja Sedunia (World Council of Churches) dan beberapa organisasi ekumenis lain pasca Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia 1988 di Harare.
Bentuk saji penulisan buku ini adalah rambahan kontemporer pemaknaan teks alkitab, yang diracik dalam bahasan aktual dengan realitas dunia yang centang-perenang. Di tengahnya disisip secara cerdas analisa tajam atas berbagai penyebab masalah sekaligus solusi kongkrit mengatasinya.
Mata kita akan enggan beralih sejenak pun meninggalkan topik bahasan yang bagai menari di benak. Sementara nurani kita bagai ditohok berulang-ulang merasakan pahitnya hidup dunia yang sedang jungkir-balik diketengahkan buku ini.
Simak bagaimana hardikan nabi Yesaya, “Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman…” untuk membahas kajian dengan topik Perdagangan yang Adil. Atau kutipan Injil, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan, tapi Aku datang supaya mereka mempunyai hidup…” untuk menegaskan 1,5 penduduk dunia – kebanyakan perempuan, anak-anak dan penduduk asli – hidup kurang dari 1 dolar per hari, saat 20% kaum kaya menggenggam 86% konsumsi global barang dan jasa.
Di tiap topik bahasannya dilampirkan juga refleksi berupa berbagai pertanyaan yang sejatinya adalah sejenis “pintu masuk”, menjawab tantangan zaman.
Gagasan-gagasan baru yang bernas dibentangkan buku ini nyaris tanpa jeda. Antara realitas sosial global dan solusi-solusi aktual hadir tanpa memakai sistematisasi tulisan yang runut dan berstruktur. Semua kajian realitas global seperti kawin-mawin dengan rambahan pikiran-pikiran yang memukau. Sungguh sebuah ikhtiar menyajikan isi topikal yang bermutu dengan pembahasaan yang populis dan cair.
Lihatlah betapa gagasan gemilang seperti Keadilan Transformatif di sajikan dengan kelugasan dalam balutan kata yang renyah,
“Setiap bentuk kekuasaan tergoda untuk mengangkat dirinya sebagai yang absolut, tanpa akuntabilas terhadap mereka yang dikenainya dan pengingkaran bermacam hubungan yang membentuk jaringan kehidupan serta kebutuhan untuk dihargai dan diakui.”
Kelemahan buku ini – kalaupun penilaian itu harus dihadirkan di sini, demi azas obyektivitas – adalah pada tampilan muka, yang teramat miskin gaya. Beban tema buku yang dahsyat itu, tidak tervisualisasi menawan, baik secara asosiatif maupun imajinatif.
Selebihnya, buku ini adalah sihir spiritual bagi armada inspirator, yang terkuak dari jutaan pengalaman mencengangkan, karena keajaiban pengamatan sublim. Dan selayaknyalah dibaca oleh mereka yang tergelitik untuk mencipta gagasan baru.
Glorius Bawengan
di Lembayung me Rekah
[Foto sampul buku diambil dari: www.wcc-coe.org]
Memperingati 1 Mei: Mengenang Chun Tae-il
Siapakah gerangan Chun Tae-il? Waktu itu, 13 November 1970, ia cuma seorang lelaki muda, buruh yang dibayar amat rendah, tukang potong pakaian di pabrik garmen di Pasar Damai, Seoul, Korea Selatan. Namun hari itu, buruh muda 22 tahun itu menorehkan tragedi yang mengguncang tidak saja Semenanjung Korea, namun dunia: ia membakar dirinya sampai mati, agar nasib buruh Korea berubah menjadi lebih manusiawi. Orang menyebut peristiwa itu sebagai sebuah bentuk deklarasi hak-hak manusia.
Cho Young-rae, penulis biografi Chun Tae-il mencatat: buruh melarat itu meninggal untuk menyingkapkan penderitaan para buruh pabrik yang miskin, sakit, kurang pendidikan, yang bekerja 16 jam sehari di lorong kecil berdebu. Mereka diperas tanpa rasa malu oleh para pengusaha. Tae-il menyatakan, manusia itu sama harganya, apakah ia buruh melarat ataupun majikan yang kaya-raya.
“Di zaman komodifikasi ini,” seru Tae-il, “zaman yang mengerikan, tatkala seseorang bisa merampas segalanya dari orang lain, aku tidak akan berkompromi dengan ketidakadilan seperti apapun, ataupun tinggal diam. Aku mau berjuang maksimal demi keadilan.” Dia berjuang dan mati.
Kaum buruh Indonesia yang selama 10 tahun reformasi ini juga berjuang bagi kehidupan yang lebih baik: ”Buruh berjuang! Delapan jam kerja sehari, 40 jam seminggu, buruh hidup berkecukupan.” Namun jauh panggang dari api. Upah buruh Indonesia masih rendah, jam kerja panjang, jaminan keselamatan kerja buruk, lembur paksa, out sourcing, pemberangusan serikat buruh dan ancaman PHK alias pemutusan hubungan kerja, membayang-bayangi mereka. Bahkan banyak aturan pemerintah termasuk undang-undang yang seharusnya memayungi buruh, diprotes oleh gelombang demonstrasi buruh karena justeru tidak pro buruh.
Kenapa nasib buruh seolah tak putus dirundung malang? Ibarat ujar-ujar pepatah-petitih nenek moyang: sudah jatuh ditimpa tangga lantas digigit anjing gila? Apakah petinggi negara ini lebih berpihak kepada para saudagar ketimbang ralyatnya? Apakah kaum kapitalis birokrat bukan cuma kelas yang hadir di jadul (jaman dulu) orde lama, namun muncul dalam bentuk yang lebih canggih hari ini? Boleh jadi. Namun kaum buruh juga perlu melakukan otokritik: apakah organisasi buruh yang ada cukup kokoh dan tahan uji?
Rasanya belum terlambat untuk belajar dari riwayat Chun Tae-il, pahlawan buruh Korea.
Catatan rinci Cho Young –rae ikhwal kisah hidup Chun Tae-il, perjuangan dan kematiannya dalam biografi ini, membangkitkan kembali hidupnya sebagai cahaya pemandu bagi gerakan buruh. Suara Chun Tae-il membangunkan kesadaran masyarakat yang terlelap dan acuh tak acuh terhadap penderitaan buruh. “Jangan biarkan kematianku sia-sia,” teriaknya saat api menjilat tubuhnya..
Presiden Chun Tae-il Trust, Moon Ik-whan menulis, “cerita sang buruh muda Chun Tae-il telah mencucurkan airmata 60 juta rakyat Korea. Airmata itu membentuk sebuah anak sungai yang mengalir sepanjang sejarah kita, sebuah sungai yang menghanyutkan dinding kematian.”
Saya ingin mengutip butir-butir filsafat perjuangan Chun Tae-il, uraian yang tidak ditulis oleh sarjana di “akademi menara gading”, tetapi oleh pemuda yang tidak tamat sekolah menengah, yang tinggal di gubuk di kawasan pemukiman liar di pinggiran kota Seoul. Melalui butir-butir permenungannya kita mendengar suara manusia yang hidup, berjuang penuh semangat walau sangat menderit
- Kita adalah kaum yang tersingkir. Karena itu harus sadar, bangun dari kebisuan.
- Kita harus menjadi manusia merdeka yang merasakan sendiri, berpikir sendiri dan melihat dunia dengan mata sendiri, berdasarkan pengalaman sendiri.
- Kita adalah minjung, rakyat jelata yang harus mengubah rasa rendah diri menjadi percaya diri. Rasa malu menjadi kebanggaan, ketakutan dan pengecut menjadi kemarahan dan keberanian, kebisuan dan pasrah diri menjadi kritis dan setia berjuang. Inilah filsafat yang mengubah budak untuk lahir kembali sebagai manusia.
- Perubahan total dalam nilai-nilai kaum tertindas merupakan momentum yang memiliki arti yang dalam terutama ketika ia memilih jalan perlawanan dan perjuangan.
- Kita harus bertindak secara revolusioner, menjungkirbalikkan nilai-nilai mapan yang menindas dan berorientasi pada aksi. Berjuang menciptakan tatanan sosial yang saling menghormati sesama manusia. Sebuah masyarakat di mana tidak ada orang yang disingkirkan separti remah-remah yang terbuang, sebuah masyarakat di mana semua orang menjadi satu.
- Kelemahan manusia adalah kurangnya harapan. Hakekat hidup adalah perjuangan, membuat hari esok lebih baik dari hari ini. Kebenaran adalah suara yang muncul dari hati nurani.
- Perjuangan kita adalah demi mereka yang diinjak-injak, dilecehkan dan dihina. Semua akan melihat kemarahan yang tak terbendung kepada kelas mapan dan cinta kasih yang membara kepada saudara-saudara yang menderita, dari seorang yang lemah, yang bisa menghancurkan setiap benteng perbudakan.
Pengorbanan Chun Tae-il tidak sia-sia. Karena ia percaya, hanya perjuangan minjung-rakyat yang kompak bersatu dapat membawa kehidupan yang manusiawi. Hanya perjuangan kaum minjung yang dapat mengubah masyarakat. Karena itu, minjung-rakyat harus menjadi tokoh sentral dalam perjuangan.
Hari ini, memperingati 1 Mei, kita mengenang Chun Tae-il, yang di Korea diakui sebagai bapak serikat buruh demokratis. Kini gerakan buruh yang paling kuat di Asia adalah Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU) yang sudah memiliki wakil di parlemen Korea Selatan.
Buruh Indonesia tak perlu malu belajar dari Chun Tae-il.
Medan, 1 Mei 2008
Arthur John Horoni
[Tulisan ini juga dapat dilihat pada Blog Bung Daktur ARH]










