<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jagat Alit &#187; Wisata Sukma</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/category/wisata-sukma/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 15:49:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jagatalit.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5b9d7a5193b11aa3dcc0a9dd2fd8c982?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Jagat Alit &#187; Wisata Sukma</title>
		<link>http://jagatalit.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jagatalit.com/osd.xml" title="Jagat Alit" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jagatalit.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ziarah ke Dasar Diri</title>
		<link>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 17:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Falsafah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Sukma]]></category>
		<category><![CDATA[Brasil]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Ksatria Templar]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[Santiago]]></category>
		<category><![CDATA[Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[The Pilgrimage]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1357</guid>
		<description><![CDATA[Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya, serta Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya). Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, The Pilgrimage, dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1357&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya <em>The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain</em>, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: </span><a href="http://jagatalit.com/?s=Paulo+Coelho+dan+Perjalanan+Hidupnya" target="_blank"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya</span></a><span style="color:#003366;">, serta </span><a href="http://jagatalit.com/?s=Paulo+Coelho%2C+Sang+Pendekar+Cahaya" target="_blank"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya</span></a><span style="color:#003366;">).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1381" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/coelho-pilgrimage02-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1381" title="coelho-pilgrimage02" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/coelho-pilgrimage021.jpg?w=149&h=225" alt="" width="149" height="225" /></a>Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, <em>The Pilgrimage</em>, dengan judul bahasa Indonesia:  <em>Ziarah</em>. Di negeri asalnya, buku ini diterbitkan pada 1987, bahkan mendahului <em>The Alchemist</em> yang telah lebih dulu populer di Indonesia. <a rel="attachment wp-att-1405" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/ziarah-gramedia-6/"><img class="alignright size-medium wp-image-1405" title="ziarah gramedia" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/ziarah-gramedia5.jpg?w=149&h=225" alt="" width="149" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ketika Paulo Coelho menerbitkan <em>The Pilgrimage</em> dan <em>The Alchemist</em>, ia nyaris putus asa karena buku-buku tersebut hanya dibaca sedikit orang. Namun setelah terbit novelnya berjudul <em>Brida</em> (yang langsung meledak di pasaran) pada 1990, <em>The Pilgrimage</em> dan <em>The Alchemist</em> ikut terdongkrak, bahkan popularitasnya mengalahkan <em>Brida</em>. Dalam bahasa aslinya (Portugis) novel <em>The Pilgrimage</em> menggunakan judul: <em>O Diario de Um Mago</em> (Catatan Harian Seorang Pesulap).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1384" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/pilgrimage-original/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1384" title="Pilgrimage-original" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/pilgrimage-original.jpg?w=144&h=225" alt="" width="144" height="225" /></a>Meski ada jarak waktu yang cukup jauh (24 tahun) antara penerbitannya dalam bahasa Portugis dengan penerbitannya dalam bahasa Indonesia, pesan-pesan yang disampaikan Paulo Coelho melalui novel <em>The Pilgrimage</em> (<em>Ziarah</em>) masih tetap relevan dengan  kondisi masa kini. Terutama bagi peminat spiritualisme lintas agama, yang dengan sadar meniadakan batas-batas antar-agama walau tetap memeluk agama yang diyakininya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bagi Paulo Coelho sendiri, <em>The Pilgrimage</em> mempunyai arti yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Novel ini merupakan pengalaman pribadinya yang ia tulis setahun setelah melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago. Seperti juga novelnya <em>The Zahir</em>, <em>The Pilgrimage</em> mengungkapkan pencerahan-pencerahan yang ia peroleh pada awal-awal karirnya sebagai penulis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;">Road to Santiago</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Road to Santiago atau Perjalanan Menuju Santiago adalah perjalanan ziarah yang biasa dilakukan umat Kristiani, khususnya penganut Katolik, sejak awal Masehi. Seperti Islam yang mewajibkan segenap umatnya untuk mengikuti Rasulullah Muhammad SAW yang berziarah dari Mekah ke Medinah &#8212; setidaknya sekali dalam seumur hidup, dalam ibadah haji &#8212; umat Kristiani sejak abad pertama Masehi juga dianjurkan menempuh tiga rute peziarahan yang dianggap suci. &#8220;Setiap rute,&#8221; tulis Coelho dalam <em>The Pilgrimage</em>, &#8220;memiliki berkah dan keuntungan tersendiri bagi mereka yang berjalan menempuhnya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1391" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago-map/"><img class="aligncenter size-large wp-image-1391" title="road to santiago map" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-map.jpg?w=350&h=350" alt="" width="350" height="350" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Peta Perjalanan Ziarah menuju Santiago.</em><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan ziarah pertama yang dianjurkan itu adalah perjalanan menuju pusara Santo Petrus di Roma (Vatikan). Para peziarah ke Roma disebut sebagai Pengembara, bersimbolkan salib. Yang kedua, ziarah ke makam suci Yesus Kristus di Yerusalem. Para peziarahnya disebut sebagai Pembawa Daun Palem, karena mereka membawa daun palem yang dulu digunakan orang untuk menyambut Yesus saat memasuki Yerusalem. Dan, yang ketiga, adalah perjalanan ziarah ke makam San Tiago. Orang yang menempuh jalan ini disebut sebagai Peziarah, dengan simbol kulit kerang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">San Tiago adalah salah seorang dari tiga murid Yesus (dua lainnya: Saint Peter dan Saint John) yang menjadi saksi kebangkitan Kristus. Di Inggris, San Tiago dikenal dengan nama Saint James, di Prancis Jacques, di Italia Giacomo, bahasa Latinnya Jacob, dan nama aslinya (dalam bahasa Aramaic) Yaakov ben Zehdi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">San Tiago dimakamkan di suatu tempat di Tanjung Iberia, di daerah Galicia, Barat Daya Spanyol. Menurut legenda, bukan hanya San Tiago yang dimakamkan di sana, tetapi juga Maria Sang Perawan kudus, yang pergi ke sana sesaat setelah kematian Yesus, dan mengajak orang-orang di tempat tersebut untuk bergabung dalam kerajaan Allah. Tempat itu kini dikenal sebagai Compostela, dan makam San Tiago berada di di Katedral Santiago de Compostela. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, dilakukan Paulo Coelho atas saran seseorang yang misterius, yang pertama kali bertemu dengannya di Dachau, di luar kota Munich, Bayern, Jerman, saat ia bersama isterinya, Christina Oiticica, mengadakan tur keliling Eropa. Orang itu bertemu lagi dengannya di suatu tempat di Amsterdam, dan pada saat itulah orang yang oleh Coelho hanya disebut Jean itu, menganjurkan agar Coelho kembali memperdalam Katolikisme, dan melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, untuk memperoleh pencerahan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1387" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1387" title="Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica</em>.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Namun berbeda dengan latar belakang yang ia ungkapkan dalam kisah sesungguhnya, di dalam novel <em>The Pilgrimage</em>, Coelho menguraikan bahwa keputusannya melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, adalah lantaran perintah dari Sang Guru. Sang Guru meminta Coelho melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, guna menemukan kembali pedangnya, yang sebenarnya nyaris diperolehnya dalam suatu ritual di salah satu puncak gunung di Brasil.</span></p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/"><img src="http://img.youtube.com/vi/diI2AFjy5BM/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Cuplikan video Paulo Coelho tentang perjalanannya ke Santiago.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Ordo Tradisi</strong><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Cerita diawali dengan upacara inisiasi di sebuah ordo esoterik, yang oleh Coelho disebut sebagai Ordo Tradisi, di suatu tempat bernama Itatiaia, di ketinggian puncak gunung Serra do Mar, yang termasuk dalam rangkaian pegunungan Agulhas Negras (Jarum Hitam) Brasilia. Upacara berlangsung malam hari, 2 Januari 1986.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Upacara itu, selain dihadiri isterinya dan empat orang lainnya (salah satunya  disebut Sang Guru) merupakan upacara penobatan Paulo Coelho untuk menjadi Guru Ordo RAM. Upacara diawali dengan penguburan benda pusaka, sebuah pedang yang sudah lama dimiliki Coelho dan sering digunakannya untuk berbagai ritual gaib.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Usai penguburan pedangnya yang lama, Paulo Coelho dihampiri Sang Guru seraya meletakkan pedang baru di atas tanah tempat pedang lama terkubur. Sang Guru kemudian menghunus pedangnya sendiri lalu menyentuhkan pedang itu ke dahi dan bahu Coelho, sambil berkata, &#8220;Dengan cinta dan kekuatan RAM, aku menahbiskanmu sebagai Guru Kesatria Ordo, sekarang hingga sepanjang hayatmu.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;R untuk <em>Rigor </em>(ketetapan),&#8221; lanjut Sang Guru. &#8220;A untuk <em>Adoration</em> (penyembahan) dan M untuk <em>Mercy </em>(welas asih); R untuk <em>Regnum</em>, A untuk <em>Agnus</em>, dan M untuk <em>Mundi</em>. Jangan biarkan pedangmu lama tersimpan dalam sarungnya, agar tidak berkarat. Dan saat kau menghunus pedangmu, janganlah kau memasukkannya kembali tanpa terlebih dulu menggunakannya untuk kebaikan, membuka jalan baru, atau menumpahkan darah musuh.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho pun kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang baru yang terletak di hadapannya. Namun ketika Coelho menyentuh sarung pedang dan bersiap menggenggamnya, tiba-tiba saja Sang guru menginjak jemarinya, dan dengan nada marah mengatakan bahwa ia belum berhak memiliki pedang itu karena ia sedang diliputi kesombongan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sang Guru meminta Coelho untuk berjuang kembali melakukan pencarian pedang tersebut mulai dari awal. Dan, melalui isterinya, Sang Guru berpesan agar Coelho membuka peta Spanyol, dan mencari rute perjalanan dari abad pertengahan, yang dikenal dengan Jalan Misterius menuju Santiago.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Masa Pencarian</strong><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Atas desakan isterinya, setelah cukup lama Coelho mempertimbangkan perintah Sang Guru, langkah pencarian pun dimulai. Jalan Misterius menuju Santiago itu terbentang sekitar 700 kilometer, dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga ke Katedral Santiago de Compostela di Spanyol. Perjalanan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, seperti yang dilakukan para peziarah di masa lalu. Tak tanggung-tanggung, ada sejumlah orang besar yang pernah melakukan perjalanan ziarah dengan rute tersebut, di antaranya Karel Agung, Santo Fransiskus dari Asisi, Isabella dari Castille, dan Paus Johannes Paulus XXIII.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1388" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago1/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1388" title="Road-to-Santiago1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago1.jpg?w=300&h=210" alt="" width="300" height="210" /></a><a rel="attachment wp-att-1389" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1389" title="road to santiago2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago2.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><a rel="attachment wp-att-1390" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago3/"><br />
</a><em>Para peziarah berjalan kaki menuju Santiago.</em><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dengan berjalan kaki, tentu saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu bagi para peziarah untuk sampai di tujuan. Kalau sempat, bisa menginap di desa-desa atau kota-kota kecil yang dilewati. Tetapi juga bukan tak mungkin para peziarah kemalaman di tengah hutan, di tengah gurun, bahkan di puncak gunung (karena ada beberapa gunung yang harus dilewati) bila tidak sempat mencapai desa terdekat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho pun berangkat menuju Saint-Jean-Pied-de-Port, dan menemui Mme Lourdes, seorang perempuan setengah baya, kuncen pintu gerbang menuju rute peziarahan. Dari Mme Lourdes, Coelho memperoleh kulit kerang, sebagai simbol para peziarah menuju Santiago. Namun Coelho bukanlah peziarah biasa yang akan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pemandu.  Coelho, harus ditemani seorang pemandu yang akan menemuinya di suatu tempat. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Singkat cerita, Coelho bertemu dengan sang pemandu, yang belakangan diketahui ternyata seorang disainer ternama dan termasuk orang terkaya di Italia. Ia juga seorang anggota partai komunis Italia dan &#8212; anehnya &#8212; seorang penganut Katolik yang &#8212; tentu saja &#8212; sangat taat. Pemandu itu, yang disebutnya Petrus (untuk menyamarkan nama aslinya) tak hanya bertugas memandu (menunjukkan) rute perjalanan, tetapi juga berfungsi sebagai guru spiritual Coelho, yang akan mengajari Coelho berbagai hal yang bersifat batiniah. Mengarahkan Coelho untuk memandang hidup ini dengan penuh kasih tanpa batas. Penuh optimisme. Tanpa kekhawatiran dan ketakutan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho harus menjalani serangkaian latihan fisik. Terutama tahapan-tahapan latihan RAM, semacam latihan olah nafas dan olah tubuh, guna mengajari tubuh dan jiwa menyatu dengan semesta. Ia bahkan harus menyelam di sungai yang dalam, kemudian naik ke atas air terjun yang sangat membahayakan jiwanya. Coelho tidak boleh membantah perintah sang pemandu, meskipun berlawanan dengan akal sehat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di perjalanan, berkali-kali Coelho bertemu dengan seekor anjing hitam, yang menurut Petrus, adalah jelmaan iblis bernama Legiun. Coelho harus mengalahkan sang iblis yang ada dalam diri anjing itu, sehingga terjadilah pertempuran fisik antar-keduanya. Pertempuran itu dimenangkan Coelho walaupun dengan tubuh yang penuh luka akibat gigitan dan cakaran anjing. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Namun setelah berhasil mengalahkan anjing, iblis Legiun yang semula berada di tubuh binatang tersebut berpindah ke tubuh Coelho. Untungnya Coelho berhasil mengusir iblis itu dari tubuhnya, dan Coelho pun terbebas dari pengaruh iblis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho melukiskan perjalanan menuju Santiago itu dengan sangat detail. Para pembaca diajaknya menyusuri tempat-tempat yang indah. Ladang-ladang gandum yang membentang sepanjang mata memandang, padang-padang pasir yang berdebu, hutan sabana dan stepa, menyusuri pegunungan Pyrenees, mendaki dan menuruni tebing dan lembah. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1392" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago-5/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1392" title="road to santiago 5" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-5.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Ladang gandum sepanjang mata memandang</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di sepanjang jalan, Petrus sang pemandu selalu mengajaknya berdiskusi tentang segala hal. Mulai dari obrolan-obrolan teologis sampai hubungan antar-manusia. Dalam setiap diskusi yang dilakukannya, Petrus selalu menekankan agar Paulo Coelho berupaya mencapai <em>agape</em>, yakni cinta kasih kepada seluruh manusia, tanpa batas cakrawala.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Berbagai desa disinggahinya, seperti desa Roncesvalles, tempat gereja Collegiate yang didirikan oleh Kaisar Karel Agung berabad-abad silam, atas sumbangan para raja Jerman, Spanyol, Portugal dan Prancis. Kemudian desa Puente de la Rena, tempat sejumlah biarawan Katolik mengabdikan diri. Adapun kota-kota yang dilewatinya antara lain Logrono, Pamplona, Santo Domingo de la Calzada, dan Ponferrada, kota tempat Petrus sang pemandu, akhirnya meninggalkan Coelho.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1394" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/santiago_de_compostela-2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1394" title="santiago_de_compostela" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/santiago_de_compostela1.jpg?w=300&h=198" alt="" width="300" height="198" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Kathedral Santiago de Compostela</em>.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di Ponferrada, menjelang perpisahannya dengan Coelho, Petrus mengajaknya berbincang-bincang untuk terakhir kali di sebuah stasiun kereta api yang penuh lokomotif dan oli. Mengapa harus di stasiun kereta api? &#8220;Jalan menuju Santiago akan segera berakhir,&#8221; ujar sang pemandu, &#8220;dan karena kehidupan nyata kita lebih mirip jalur kereta api ini, yang berbau oli, daripada pedesaan yang kita jumpai sepanjang perjalanan, lebih baik kita berbincang di sini.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Petrus pun kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai hal yang telah dilalui Paulo Coelho sepanjang perjalanan, dan makna-makna kehidupan yang berada di baliknya. &#8220;Jika kau berhasil mendapatkan pedangmu, kau harus mengajarkan Jalan menuju Santiago ini kepada orang lain. Dan jika hal ini terjadi &#8212; saat kau menerima peranmu sebagai Guru &#8212; kau baru akan menemukan jawaban yang terdapat di hatimu.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Semua orang sebenarnya tahu jawabannya,&#8221; lanjut Petrus, &#8220;bahkan saat belum ada orang memberitahukannya kepada kita. Kehidupan memberikan pengetahuan kepada kita setiap waktu, dan rahasianya adalah menerima bahwa hanya dalam kehidupan sehari-hari saja kita akan mampu sebijak Sulaiman dan seperkasa Iskandar Agung. Namun kita baru akan menyadari hal ini hanya saat kita terpaksa mengajari orang lain dan terlibat dalam petualangan luar biasa seperti sekarang.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tak lama kemudian Petrus pun pergi meninggalkan Paulo Coelho. Ia hanya sekali saja bertemu lagi untuk terakhir kalinya, di Kastil Ksatria Templar di kota Ponferrada, dalam sebuah ritual. Namun tanpa bertegur sapa. Sejak itu, Coelho melanjutkan perjalanannya sendiri menuju Katedral Santiago de Compostela untuk menemukan pedangnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dalam kesendirian, di sebuah puncak gunung bernama El Cebrero, Coelho semakin menyadari bahwa Perjalanan Ziarah menuju Santiago yang hampir diselesaikannya itu, tak semata untuk mencari pedang. Melainkan untuk merasakan penderitaan dan sekaligus kebahagiaan umat manusia sekecil apapun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Latihan-latihan fisik yang dilaluinya, seperti memindahkan kayu salib yang sangat berat dengan tangan penuh luka. Kemudian mengubur hidup-hidup dirinya di pegunungan dalam kegelapan malam, tak lain untuk merasakan betapa beratnya kehidupan sebagian besar umat manusia, dan betapa dekatnya kematian dalam hidup kita.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di tengah penderitaan itu, betapa banyak manusia yang tetap bersyukur meskipun kebahagiaan yang didapatnya sangat sedikit. Sebagai seorang calon Guru dari Ordo Tradisi, ia mempunyai tugas untuk mengajarkan makna kehidupan dan bagaimana kehidupan itu harus dijalani tanpa ketakutan, seraya menebarkan <em>agape</em>, cinta kasih kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kehidupan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di keheningan puncak gunung El Cebrero, Paulo Coelho bersimpuh dan berbicara kepada Sang Pencipta: &#8220;Aku berjalan ribuan kilometer untuk menemukan hal yang sebenarnya telah kuketahui jawabannya, hal yang kita semua tahu tapi sangat sulit menerimanya. Apakah ada hal yang lebih sulit, oh Tuhan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan kekuatan itu? Rasa sakit yang kini mendera dadaku, yang membuat aku tersedu dan anak domba itu ketakutan, sesungguhnya telah dirasakan sejak pertama kali manusia ada di dunia.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Hanya beberapa yang mampu menahan beban kemenangan ini,&#8221; lanjut Coelho, &#8220;kebanyakan merelakan impian mereka saat mereka merasa impian itu dapat terwujud. Mereka menolak untuk bertempur sepenuh tenaga karena mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan kebahagiaan yang mereka raih; mereka terpenjara dalam benda-benda material di dunia. Seperti aku dulu, yang ingin mendapatkan pedangku tanpa tahu apa yang akan kulakukan dengannya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Usai berdo&#8217;a, Coelho bergerak perlahan menuruni lereng menuju sebuah dusun yang juga bernama El Cebrero, bersama anak domba yang sejak tadi menemaninya. Di sana ada sebuah kapel yang kemudian dimasukinya. Di kapel itu, ternyata Sang Guru telah menunggunya di depan altar dengan sebilah pedang di tangan, sambil berseri penuh kebanggaan. Pedang itu, diserahkannya kepada Paulo Coelho, dengan penuh keikhlasan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan Coelho sudah selesai dengan diterimanya kembali pedang tersebut. Ia hanya tinggal melaksanakan ritual terakhir yakni berziarah ke makam San Tiago di Katedral Santiago de Compostela. Perjalanan Ziarah menuju Santiago, hakikatnya merupakan perjalanan ziarah ke dasar diri, dan Coelho, telah melakukannya dengan baik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bagi para penggemar novel-novel <em>thriller</em>, novel-novel Paulo Coelho, termasuk <em>The Pilgrimage</em>, memang akan terasa membosankan, karena isinya merupakan renungan demi renungan. Tetapi bagi para peminat spiritualisme, novel-novel Coelho akan terasa seperti oase di tengah kegersangan padang pasir. Menyejukkan dan melegakan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dan, para peminat spiritualisme ini ternyata semakin meningkat jumlahnya. Terbukti dari selalu larisnya novel-novel spiritual Paulo Coelho. Para penggemarnya berada di seantero dunia, dengan beragam agama.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1357&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/coelho-pilgrimage021.jpg?w=149" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-pilgrimage02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/ziarah-gramedia5.jpg?w=149" medium="image">
			<media:title type="html">ziarah gramedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/pilgrimage-original.jpg?w=144" medium="image">
			<media:title type="html">Pilgrimage-original</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-map.jpg?w=350" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago map</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Road-to-Santiago1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/santiago_de_compostela1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">santiago_de_compostela</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mensyukuri Musibah: Mampukah?</title>
		<link>http://jagatalit.com/2009/11/30/mensyukuri-musibah-mampukah/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2009/11/30/mensyukuri-musibah-mampukah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Sukma]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,&#8221; kata Adhi dengan wajah berseri. &#8220;Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?&#8221; &#8220;Adhi, itu bukan ceritaku.&#8221; Begitu timpalku. &#8220;Tapi itu &#8216;kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1143&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,&#8221; kata Adhi dengan wajah berseri. &#8220;Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Adhi, itu bukan ceritaku.&#8221; Begitu timpalku. &#8220;Tapi itu &#8216;kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para Wali Allah atau para Kekasih Allah sesungguhnya tidak pernah merasa takut, khawatir ataupun berduka cita sepanjang hidupnya, lantaran mereka selalu berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khalik.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Saya tahu itu. Dan, seperti para beliau,  saya juga telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah,&#8221; ujar Adhi dengan wajah yang tetap sumringah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sudah biasa saya mendengarkan celoteh Adhi tentang berbagai keresahan religiusitasnya. Tentang gugatannya terhadap Tuhan, yang menurutnya tidak pernah adil. Tentang berbagai ajaran agama, yang menurutnya tidak pernah memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Tentang berbagai kisah para Nabi yang menurutnya hanya dongeng pengantar tidur belaka. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya selalu mendengarkan celotehnya dengan sabar, dan saya tidak pernah mendebatnya. Buat apa? Dia pernah mengecap pendidikan pesantren seperti saya, dan bahkan di pesantren yang sama. Dia pernah mengenyam pendidikan di sebuah fakultas teologi, yang &#8212; <em>ndilalah</em> &#8212; merupakan fakultas saya juga, dulu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Saya merasa hanya buang-buang waktu saja kalau saya berdebat dengannya, karena dia tahu betul argumen yang akan saya bangun untuk mendebatnya. Kata para dukun, seguru seilmu janganlah saling ganggu. Jadi, saya pun tidak pernah &#8220;mengganggu&#8221; pikiran-pikirannya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tetapi kedatangannya hari itu benar-benar berbeda. Wajahnya tidak sekusut biasanya. Tidak ada gugatan terhadap Tuhan, seperti yang biasa disampaikannya. Adhi kelihatan sangat gembira. Padahal, ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah sekitar dua pekan menginap di sana.  Dua pekan sebelumnya, ia menjalani operasi usus tahap pertama. Ada kanker ganas dalam stadium lanjut menggerogoti ususnya. Kata dokter, Adhi tinggal &#8220;menunggu waktu&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Saya sudah siap,&#8221; kata Adhi. &#8220;Saya sudah berterimakasih padaNya. Saya berterimakasih atas kanker yang diberikanNya kepada saya. Saya berterimakasih karena sayalah yang telah dipilihNya untuk menikmati penderitaan ini. Saya berterimakasih karena saya telah diajariNya untuk bersyukur. Bersyukur tidak hanya karena kenikmatan hidup yang telah dilimpahkanNya kepada saya. Tetapi juga karena penyakit yang kini menggerogoti tubuh saya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Seperti biasa, saya terdiam mendengarkan celotehnya. Ternyata itu merupakan celotehnya terakhir. Sepekan setelah itu, Adhi berpulang tanpa pamit. Dan, ia memang tidak perlu pamit kepada siapapun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tentu saja saya tidak pernah bertemu lagi dengan Adhi, bahkan dalam mimpi. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pada pelajaran konkret yang disampaikannya sebelum pergi: berterimakasihlah selalu padaNya, termasuk atas musibah yang diberikanNya. Mampukah saya? Rasanya, tidak.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1143&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2009/11/30/mensyukuri-musibah-mampukah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Sepotong Surga di Gunung Patuha</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/09/12/ada-sepotong-surga-di-gunung-patuha/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/09/12/ada-sepotong-surga-di-gunung-patuha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 20:11:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meditasi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Sukma]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Junghun]]></category>
		<category><![CDATA[Kahyangan]]></category>
		<category><![CDATA[Karuhun]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Objek Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Seperti inikah Surga? Hening. Berkabut. Ada cahaya putih yang sangat kuat, menelusup ke dalam dada. Namun susah ditembus pandangan mata. Berdiri di tepiannya, yang terasa hanyalah kebesaran Sang Pencipta. Dia tampaknya sengaja, menurunkan sepotong surga ke pojok semesta, agar kita bisa sedikit merasakan kenikmatannya, di atas dunia. Surga ini terletak di ketinggian 2300 meter di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=384&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><img class="size-medium wp-image-392 aligncenter" title="billy-di-kawah-putih-11" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/billy-di-kawah-putih-11.jpg?w=526&h=393" alt="" width="526" height="393" /></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Seperti inikah Surga? Hening. Berkabut. Ada cahaya putih yang sangat kuat, menelusup ke dalam dada. Namun susah ditembus pandangan mata. Berdiri di tepiannya, yang terasa hanyalah kebesaran Sang Pencipta. Dia tampaknya sengaja, menurunkan sepotong surga ke pojok semesta, agar kita bisa sedikit merasakan kenikmatannya, di atas dunia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Surga ini terletak di ketinggian 2300 meter di atas permukaan laut. Tepatnya di puncak Gunung Patuha, sebelah selatan Bandung, Jawa Barat. Adalah Dr. Franz Wilhelm Junghun, seorang pengusaha perkebunan di zaman Hindia-Belanda, yang menemukan tempat ini pada tahun 1837. Sebelumnya, tak ada yang berani menjamah kawasan puncak Gunung Patuha, karena masyarakat setempat pun menyebutnya sebagai <em>leuweung ganggong-simagonggong </em>(hutan yang mustahil didatangi manusia); tempat para <em>karuhun</em> dari <em>kahyangan</em> mengadakan pertemuan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Penasaran dengan misteri yang menyelimuti &#8220;hutan terlarang&#8221; itu, dengan penuh keberanian Junghun   menerobos hutan lebat Gunung Patuha, menyibak belukar membabat ilalang. Hingga akhirnya, ia temukan sebuah telaga berair putih, dengan kabut kelabu menari-nari di atasnya. Belakangan, Junghun, peranakan Jerman-Belanda itu, juga dikenal sebagai ahli lingkungan, karena kepeduliannya yang sangat tinggi akan kelestarian alam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Telaga berair putih, yang kemudian disebut Kawah Putih itu, hakikatnya merupakan bekas kawah gunung berapi, yang muncul akibat letusan Gunung Patuha, sekitar abad 10-12. Meski telah ditemukan sejak 1837, namun masyarakat luas baru mengenalnya mulai tahun 1987, setelah PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten, mengelola kawasan ini sebagai salah satu obyek wisata di wilayah Kabupaten Bandung.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Obyek wisata ini selalu ramai dikunjungi orang, terutama di akhir pekan. Bukan cuma untuk menikmati keindahan Kawah Putih, tetapi juga untuk mandi air panas belerang, yang dialirkan dari salah satu kawah yang ada di kawasan ini. Bukan. Air panas itu bukan dari Kawah Putih, karena air di telaga Kawah Putih teramat dingin tatkala kita sentuh. Sedingin udara di sekitarnya, yang hanya beberapa derajat di atas nol. Sesekali ada angin yang sangat keras menerpa tubuh, memercikkan butiran-butiran es, bagaikan hujan salju.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Jika Anda berkunjung ke Kawah Putih, yang terletak di kawasan Ciwidey, sekitar 46 kilometer dari pusat kota Bandung, cobalah berdiri sejenak di tepi kawah. Tebarkan pandangan mata Anda ke arah kabut yang nyaris menutupi seluruh tepian telaga. Rasakan keindahannya. Anda akan menyaksikan sebuah lukisan alam yang sangat indah, yang keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Lukisan Sang Murbeng Alam, yang terbentang begitu luas, seakan tak berbatas cakrawala. Tanpa terasa kita akan menyebut namaNya dengan penuh kekaguman. Pada saat itu pula kita akan semakin sadar bahwa manusia ini teramat kerdil di tengah kebesaranNya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Hanya beberapa detik, kita akan merasakan keheningan yang amat sangat. Keheningan yang penuh kedamaian. Di tengah kedamaian itu, kita seakan tidak merasakan keinginan apapun. Yang ada hanya rasa syukur tak terhingga kepada Sang Pencipta. Seperti inikah Surga? Kita pun merasa bukan apa-apa, karena kita hanyalah milikNya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Dan milik Allah-lah segala sesuatu yang terdapat di seantero langit dan bumi, dan Allah-lah Yang Menguasai segalanya. Sesungguhnya, dalam proses penciptaan langit dan bumi, serta dalam proses pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal. Orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring, seraya berkata: &#8216;Ya Tuhan kami, tidak sia-sialah segala sesuatu yang telah Engkau Ciptakan. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari siksa neraka&#8217;.&#8221; (Al-Quran, Surat Ali-Imran [3] ayat 189-191).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra</strong></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="color:#003366;">[<em>Foto di atas adalah foto saya sendiri, hasil "jepretan" keponakan saya, Budi, yang hobi fotografi]</em></span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><span style="color:#003366;"><em>{Bila ingin membaca informasi lebih lengkap tentang Kawah Putih, silakan kunjungi: <a href="http://www.pbase.com/archiaston/kwah_putih" target="_blank">www.pbase.com</a>, <a href="http://www.bandungtotal.com/wisata/kawah-putih/" target="_blank">www.bandungtotal.com</a>, <a href="http://www.kapanlagi.com/a/0000003086.html" target="_blank">www.kapanlagi.com</a>, <a href="http://www.bandungtourism.com/html/at_sc_cr_KawahPutih.htm" target="_blank">www.bandungtourism.com}<br />
</a></em></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jagatalit.wordpress.com/384/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jagatalit.wordpress.com/384/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/384/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=384&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/09/12/ada-sepotong-surga-di-gunung-patuha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/09/billy-di-kawah-putih-11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">billy-di-kawah-putih-11</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
