Jagat Alit

Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan

Memberi dan Menerima

Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis. Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur,  tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung, 21 nyawa melayang sekaligus, akibat terinjak-injak dan kehabisan oksigen, karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.

Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat 20 ribu rupiah amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita.

Ketika orang-orang pintar, para pejabat publik dan politik, pakar statistik dan lain sebagainya berdebat soal apa itu kemiskinan, tentang jumlah orang miskin, dan masalah kriteria orang miskin-kemiskinan, sejatinya kaum miskin tidak peduli! Orang miskin lebih peduli memikirkan

Juga ketika para calon presiden yang gencar berkampanye dan presiden yang sedang berkuasa “ribut” soal jumlah orang miskin dan kriteria orang miskin. Orang-orang miskin tetap saja nggak mau tahu! Orang miskin lebih peduli memikirkan bagaimana hari ini bisa membeli sembako murah, beli minyak tanah murah, dan bisa membayar sekolah anak-anak (syukur-syukur sekolah gratis). Biaya pendidikan sekarang sudah nggak masuk akal! Nggak usah yang sekolah unggulan, sekolah standar saja mahal – duit lagi, duit lagi.

Jangan dikira wong cilik bisa terus menerus dibodohi! Meski masih banyak juga yang bodoh dan mudah dibodohi (kebanyakan karena tuntutan kondisi). Orang miskin yang “normal” akan malu jika harus mengemis, meminta, mengantri bantuan pada orang lain. Bahkan untuk sekadar meminjam uang pun, rasanya malu. Tapi kondisi yang benar-benar miskin sering memaksa orang harus melakukan sesuatu (agak mengabaikan perasaan malu).

Kini sebagian kaum miskin sudah mulai sadar politik, dan sadar informasi. Maka mereka tahu, bahwa golongan “wong kere” – wong cilik hanya dijadikan objek massa politik atau sasaran untuk mendongkrak popularitas diri orang berkuasa dan berduit agar dipandang orang lain.

Memberi dan menerima. Apa itu? Saya teringat kata-kata bijak yang telah berumur ribuan tahun, tapi masih sangat relevan untuk masa kini (terlebih di masa Ramadhan ini): “Jika engkau memberikan sesuatu kepada orang lain (dengan tangan kananmu), jangan sampai tangan kirimu tahu. Biarkan Yang Maha Kuasa saja yang layak mengetahuinya”

Memberi memiliki dimensi personal, sosial, dan spiritual (vertikal-horisontal). Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa belas kasihan dan penuh keikhlasan. Seorang pemberi sejati memberikan sesuatu kepada orang lain karena tuntutan dari dalam diri, bahwa ia memang harus memberi. Tindakan memberi bagi manusia pemberi sejati, adalah refleksi keimanan pada SANG PENCIPTA yang juga adalah SANG PEMBERI SEJATI tanpa pamrih.

Jadi tak ada motivasi secuil pun bagi seorang pemberi sejati, bahwa tindakannya itu agar mendapatkan balasan, imbalan, dilihat orang, atau pujian orang. Maka janganlah heran, jika ada seorang pemberi sejati harus bersusah payah agar bisa memberikan dirinya kepada orang lain tanpa pamrih. Bahkan kadang harus melawan arus, dibenci orang, dan kadang berhadapan dengan maut.

Ada kepuasan batin yang mendalam bagi seorang pemberi sejati, ketika ia bisa memberikan sesuatu bagi orang lain yang membutuhkan. Inilah perwujudan aktualisasi diri seorang pemberi sejati. Bagi seorang pemberi sejati, ketika ia memberikan sesuatu sebenarnya ia pun telah menerima sesuatu. Manusia pemberi sejati memiliki tingkat spiritual lebih tinggi dari pada manusia penerima.

Bagaimana dengan manusia penerima? Seorang penerima memiliki tanggung jawab untuk berterima kasih dan bersyukur. Berterima kasih dan bersyukur itu tidak mudah. Tak banyak orang yang bisa berterima kasih dan bersyukur dengan tulus dan bertanggung jawab. Kita tahu, banyak orang terlibat korupsi. Kita tahu, banyak orang penting yang dulu bukan siapa-siapa tapi sekarang berlagak jadi penguasa tanpa tanding. Kita tahu banyak orang suka mengeluh hidupnya susah, padahal banyak orang lain yang hidupnya jauh lebih susah.

Seorang penerima pada saatnya nanti harus pula menjadi manusia pemberi sejati. Salah satu contoh manusia penerima yang kemudian menjadi sang pemberi sejati adalah tokoh spiritual dunia Siddharta Gautama. Setelah menerima pencerahan dari Yang MahaKuasa, Sidharta Gautama pun menjadi manusia Buddha (Yang Tercerahkan) dan memberikan diri sepenuhnya bagi orang lain.

Eyangnya musik jazz yang baru saja manggung duet dengan George Benson di Jakarta (14/9/08) Al Jarreau berujar, “Jika kamu memberikan apa pun yang kamu miliki (sesuai dengan profesi dan keahlian masing-masing) secara tulus dan total, maka kamu akan menerima kebahagiaan.” Al Jarreau dan George Benson telah puluhan kali menerima berbagai penghargaan bergengsi di bidang musik jazz, pop-soul R&B dan kemarin mereka memberikan hiburan dan kebahagiaan bagi para penggemar jazz.

Jadi sudahkah kita menjadi seorang pemberi sejati hari ini?

Vincent Hakim Roosadhy

Selasa, 30 September 2008 Ditulis oleh Vincent Hakim Roosadhy | Eksplorasi Diri, Inspirasi, Refleksi | , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Mantra Swara, Menggali Kekuatan Suara

Pernahkah Anda perhatikan, mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Bagus, dalam arti jernih, bulat, berdiafragma, dan menimbulkan getar-getar kewibawaan, meskipun disampaikan dengan nada rendah.

Atau, pernahkah Anda membayangkan, betapa merdunya suara Yesus atau Isa Al-Masih, ketika berkhotbah di atas bukit. Betapa membahananya suara Musa, sewaktu menyampaikan sepuluh perintah Tuhan, sekembalinya dari Thursina (Gunung Sinai).

Betapa hangatnya suara Muhammad SAW, sewaktu berkhotbah pada ibadah hajinya yang terakhir, atau ketika menyampaikan pesan-pesan pamungkasnya di sebuah bukit di Ghadir Khum. Pun, betapa lembutnya suara Siddharta Gautama, tatkala menyampaikan inti ajaran Buddha di sebuah taman di Bodhgaya.

Itulah suara-suara yang penuh keagungan, yang menyeruak dari kedalaman diri, yang bergetar dilingkupi frekuensi Illahi.

Sejarah agama-agama mencatat, manusia-manusia agung itu (Musa, Yesus, Muhammad, Buddha Gautama) telah berhasil memberikan pencerahan kepada sejumlah umat pada zamannya, melalui suara mereka yang penuh wibawa. Tidak ada catatan dalam sejarah bahwa mereka pernah bersuara serak, atau melengking memekakkan telinga.

Justeru sebaliknya, catatan-catatan para ahli sejarah menyebutkan bahwa suara para pembawa ajaran Tuhan itu, mampu membuat para pendengarnya terhenyak, dan menikmati kata demi kata yang mereka sampaikan.

Mungkin Anda akan mengatakan, lumrah saja bila Musa, Yesus, Muhammad dan Buddha Gautama mempunyai suara-suara yang bagus, karena mereka memang disiapkan untuk menyampaikan ajaranNya. Sehingga dibekali suara yang bagus-bagus, tanpa harus dilatih terlebih dulu.

Tidakkah Anda membayangkan, apa yang dilakukan para Kekasih Tuhan itu ketika berada dalam kesendirian? Mereka bermunajat. Berkomunikasi dengan Tuhan, seraya menyebut nama Tuhan dengan penuh keagungan. Dalam nada rendah dengan tarikan nafas yang halus.

Berulang-ulang mereka ucapkan nama Tuhan dengan penuh rasa cinta, melalui getaran-getaran diafragma. Itu yang menyebabkan suara mereka semakin merdu, melengkapi kemerduan yang memang telah dianugrahkan Tuhan kepada mereka.

Suara, merupakan anugrah Tuhan. Sang Pencipta Yang Maha Baik itu telah membekali manusia dengan berbagai jenis atau warna suara yang bagus-bagus, yang oleh manusia kemudian didefinisikan atau dipilah-pilah sebagai Bas, Bariton, Tenor, Sopran dan lain sebagainya.

Jenis atau warna suara yang bagus-bagus ini adalah fitriah, alias tidak bisa diubah oleh manusia. Yang dapat diubah hanyalah “power”nya, lalu intonasi, artikulasi dan diksinya. Semua itu perlu dilatih secara intensif, sehingga menghasilkan suara yang berkualitas, bisa dinikmati oleh semua orang, termasuk si empunya suara.

Bagusnya ciptaan Tuhan berupa suara itu, dapat kita poles atau kita perbagus lagi dengan modal yang juga diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu napas dan energi. Dengan demikian, semua pemberian Tuhan kita manfaatkan, dan dengan memanfaatkan semua pemberian Tuhan, berarti kita telah mensyukuri nikmat Tuhan.

Tulisan ini saya buat sebagai sumbangan bagi dunia Olah Suara. Semoga dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, yang dalam profesinya sangat berkaitan urusan “tarik suara”. Baik itu penyanyi, presenter radio dan televisi, para politisi dan pejabat yang sering tampil berbicara di depan khalayak, para pengajar atau bahkan para penyebar ajaran keagamaan dan spiritualisme.

Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai penyiar radio, pelatih teater dan instruktur voice training untuk para presenter televisi, ditambah pengamatan intens terhadap para pelaku atau pekerja tarik suara, saya menyodorkan cara yang sangat ampuh, guna mengeksplorasi power (kekuatan) suara. Yaitu dengan melafalkan Mantra Swara secara rutin, dengan teknik yang tepat.

Pernapasan Perut.

Suara yang kita keluarkan melalui mulut, pada hakikatnya didorong oleh napas yang kita hembuskan dari dalam rongga tubuh kita. Kualitas napas yang kita hembuskan (exhale) sangat bergantung dari cara kita memasukkan atau menarik napas (inhale) melalui hidung. Napas yang pendek akan menghasilkan suara yang pecah, terengah-engah dan volume yang tidak konstan.

Panjang pendeknya napas ini, ditentukan oleh teknik pengambilan napas yang benar. Bila napas yang kita hirup, kita simpan di dalam rongga dada, maka hasilnya adalah napas yang pendek. Tetapi bila kita terbiasa menarik napas lalu menyimpannya di dalam perut, niscaya napas kita pun akan panjang dan teratur. Ini yang disebut teknik pernapasan perut, dan merupakan cara yang lumrah digunakan dalam dunia olah suara. Cara yang juga diterapkan oleh para pelaku yoga dan meditasi.

Mengapa kita harus membiasakan diri menggunakan teknik pernapasan perut? Karena sebenarnya, secara naluriah, kita bernapas dengan teknik pernapasan perut. Coba saja perhatikan orang yang sedang tidur terlentang, perutnya akan tampak turun-naik seiring inhale dan exhale yang dilakukannya.

Begitu pula bila seseorang sedang mengalami stres, biasanya tanpa sadar ia akan menarik napas panjang dengan teknik pernapasan perut. Kondisi di bawah sadar ini merupakan kondisi naluriah atau instinktif. Jadi, melatih pernapasan perut, sama saja dengan mengembalikan naluri kita, refleks kita. Coba lagi perhatikan bila Anda bangun tidur (dengan tidur yang berkualitas tentunya), Anda akan merasakan suara Anda lebih berat, lebih bulat.

Sekarang, terlentanglah di atas alas yang datar tanpa bantal. Badan lurus mulai dari kepala hingga ujung kaki. Tangan terlentang. Tutup mata perlahan, lalu tarik napas pelan-pelan melalui mulut, simpan sejenak di dalam rongga perut. Setelah itu hembuskan melalui mulut, juga pelan-pelan. Lakukan itu berkali-kali, seraya berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan oksigen gratis untuk menopang hidup kita dan memberikan energi bagi ruh.

Cara ini juga dapat Anda lakukan sambil berdiri, atau duduk santai dengan punggung lurus. Bila teknik pernapasan perut ini Anda nikmati sepenuhnya, secara berangsur akan Anda rasakan otot-otot tubuh Anda mengendur. Sehingga stres pun tereliminasi. Efek sampingnya, Anda akan mengantuk. Tidak apa-apa. Tidur saja. Tidur juga anugrah Tuhan yang dapat membuat kita segar. Tetapi kalau bisa, jangan dulu tidur, karena Anda sedang berlatih teknik pernapasan.

Jangan sekali-kali menyimpan napas di dalam dada, karena cara itu hanya akan menyebabkan paru-paru Anda bekerja ekstra keras. Fungsi paru-paru hanya sebagai respirator atau pemompa napas. Biarkan rongga dada hanya menjadi jalur yang dilewati inhale dan exhale. Tugas menyimpan dan mendorong napas kita berikan kepada perut, rongga terbesar dalam tubuh manusia.

Bila Anda telah berhasil melatih diri Anda dengan sistem pernapasan perut (abdominal/belly breathing system), kini coba hembuskan napas yang tersimpan di dalam perut itu dibarengi dengan suara A, O, U atau I sepanjang-panjangnya, sampai cadangan napas di dalam perut Anda habis. Jangan berteriak. Ucapkan huruf-huruf vokal itu dengan nada dasar do, dalam satu hembusan napas. Lakukan berulang-ulang. Tarik napas melalui hidung sepanjang-panjangnya. Simpan sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan sambil bersuara seperti di atas.

Melafalkan Mantra Swara Secara Berirama.

Kini tiba saatnya Anda melafalkan Mantra Swara. Ini adalah istilah saya sendiri, untuk menyebut puji-pujian kepada Tuhan, yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi diafragma. Cobalah Anda perhatikan para Bhiksu Buddha yang sedang membacakan puji-pujian. Mereka menyampaikannya dengan nada rendah dan panjang.

Tirulah irama yang disenandungkan para Bhiksu ketika melafalkan puji-pujian tersebut. Tariklah napas sedalam-dalamnya melalui hidung. Simpan napas itu sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan napas Anda melalui mulut sambil mengucapkan setiap kalimat di bawah ini dengan nada yang konstan dan dengan satu tarikan napas:

  • Namo Sanghyang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya.
  • Namo Sanghyang Avalokitesvara Bodhisatva Mahasatva.
  • Namo Sanghyang Maitreya Buddhaya.
  • Namo Amitabha Buddhaya.
  • Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.

Sambil mengucapkan kalimat-kalimat ini, coba rasakan getaran-getaran diafragma di sekujur punggung, dengan menempekan salah satu telapak tangan Anda ke daerah punggung. Bila punggung Anda belum terasa bergetar, berarti masih ada yang salah dalam cara Anda menarik napas. Atau karena Anda “mencuri” napas di tengah kalimat yang Anda ucapkan. Jadi, berusahalah jujur pada diri sendiri dengan tidak mencuri napas.

Apakah hanya puji-pujian dalam agama Buddha saja yang bisa digunakan sebagai Mantra Swara? Tentu saja tidak. Puji-pujian dalam agama apa pun, bisa Anda gunakan sebagai Mantra Swara. Bila Anda seorang Muslim, misalnya, Anda dapat mengucapkan kalimat-kalimat dzikir dan do’a di bawah ini, dengan satu tarikan napas.

Caranya sama. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, simpan sejenak di dalam perut, lalu hembuskan napas Anda melalui mulut seraya melantunkan kalimat-kalimat ini sampai cadangan napas di dalam perut terkuras habis:

  • Subhanallah Walhamdulillah Walailaha ilallah Wallahu Akbar.
  • Lailaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minaddzalimin.
  • Subbuhun Quddusun Rabbuna Warabbul Malaikati Warruh.
  • Allahumma Nawwir Qulubana Binuri Hidayatika Kama Nawwartal Ardlo Binuri Syamsika Abada.
  • Rabbana La Tuzigh Qulubana Ba’da Idz Hadaitana Wahablana Min-Ladunka Rahtaman innaka Antal Wahhab.

Jika Anda seorang penganut Hindu, ucapkan Mantra Gayatri dengan teknik seperti di atas:

Om bhur bhuvah svah tat savitur varenyam

bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat.

Tentu terlalu berat bila Anda mengucapkannya mulai dari Om hingga pracodayat dengan hanya satu tarikan napas. Bagi dua saja. Satu tarikan napas mulai dari Om hingga varenyam. Lalu satu tarikan napas lagi mulai dari bhargo devasya hingga pracodayat.

Bila Anda seorang Katholik, lantunkan Gloria in Excelsis Deo dengan irama yang biasa Anda gunakan, berulang-ulang, dengan satu tarikan napas, setiap ulangannya.

Jika Anda seorang penganut Yahudi (Judaisme), ucapkan: Barukh ata Adonai, Eloheinu Melekh ha-Olam, dan kalimat-kalimat do’a lainnya dengan teknik yang sama.

Ini hanya beberapa contoh saja dari berbagai Mantra Swara yang dapat Anda gunakan untuk mengeksplorasi power atau kekuatan suara Anda. Anda bisa menambahnya dengan puji-pujian yang lain, sesuai keyakinan agama Anda.

Namun berdasarkan uraian ini, terjawablah pertanyaan di awal tulisan: mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Mengapa Musa, Yesus, Muhammad, Buddha ,memiliki suara-suara yang penuh keagungan? Karena mereka rajin memuji Tuhan dengan penuh cinta, penuh rasa hormat.

Mereka lantunkan puji-pujian itu dengan suara rendah, khidmat dan dengan napas teratur. Mengapa tidak kita tiru mereka? Melatih suara kita, sambil memuji Tuhan. Dan, Tuhan pun, akan melimpahkan energi positif yang takkan pernah ada habisnya.

Billy Soemawisastra.

[Gambar-gambar diambil dari: lifenspirit-prabhu.blogspot.com; cache.eb.com; emzr.com;www.think-aboutit.com]

Senin, 26 Mei 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Eksplorasi Diri, Mantra Swara | , , , , , , , , , , , , , , | 6 Komentar

Terima Kasihku pada Sang Buddha

Lama saya berpikir, apa yang dapat saya tulis untuk Sang Buddha di Hari Waisak 2552/2008 ini? Sudah terlalu banyak cendekiawan dari berbagai agama menulis tentang Siddharta Gautama. Begitu pula para ilmuwan, budayawan dan filsuf dari zaman ke zaman, yang umumnya memuji kebesaran Sang Buddha — kesederhanaannya, kesuciannya, dan ajaran-ajarannya yang ringkas namun padat membumi.

Kalaupun saya ikut menulis tentang Sang Buddha, tulisan saya tak ubahnya sebutir debu yang mudah hilang diterbangkan angin. Meskipun debu itu sempat singgah di altar Mendut dan Borobudur. Tetapi saya merasa harus menulis, walaupun serba sedikit dan serba dangkal tentang Sang Pangeran yang lahir di Taman Lumbini, 623 SM itu, karena begitu besar rasa terima kasih saya padanya.

Siddharta Gautama, yang memperoleh pencerahan di Bodhgaya, 588 SM, dalam usianya ke-35 tahun, telah banyak memberikan inspirasi tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi banyak orang, sejak dulu hingga sekarang. Siddharta telah meninggalkan segala kemewahannya untuk mencari hakikat hidup, begitu ditengarainya bahwa hidup hanyalah “pertempuran” yang tiada henti antara kebahagiaan dan ketersiksaan, antara musibah dan anugrah, antara bencana dan keberuntungan. Semua itu adalah dukkha (penderitaan) yang melilit hidup manusia.

Lalu di bawah pohon bodhi, di suatu tempat yang kemudian disebut Bodhgaya, Siddharta yang juga bergelar Sang Bodhisatwa itu menemukan arti bahwa kebahagiaan dan ketersiksaan, bukanlah dua hal yang bertentangan dan saling bermusuhan. Melainkan satu rangkaian yang saling melengkapi, dan dapat dinikmati dengan penuh rasa syukur. Asalkan (kita) melaksanakan kebajikan atau berbuat baik pada sesama (Dana); menghindari perbuatan jahat atau berusaha tidak menyakiti sesama (Sila); dan selalu berusaha menyucikan pikiran (samadhi). Itulah inti ajaran Sang Buddha.

Begitu sederhananya ajaran itu, namun melaksanakannya secara konsisten tidaklah mudah. Termasuk melakukan apa yang disebut Samadhi (meditasi). Samadhi bukan hanya berdiam diri dan mengistirahatkan pikiran, melainkan suatu perjalanan ke dasar diri untuk menemukan kondisi “tanpa keinginan”. Kondisi suwung yang tak berbentuk, berwarna atau pun berupa (arupa). Kondisi azali manusia. Kondisi yang harus terus menerus dibentuk bahkan dalam keadaan penuh gerak (berkegiatan sehari-hari). Jika kondisi ini berhasil menyatu dalam diri, kita pun akan terbebas dari rasa iri, dengki dan keserakahan.

Diakui atau tidak, ajaran dan perilaku sang Buddha ini mempengaruhi para pencari kebenaran lintas agama berabad-abad kemudian. Salah satu contohnya adalah Ibrahim bin Adham, seorang Sultan atau Raja yang berkuasa di kerajaan Balkh (kini termasuk wilayah Afghanistan bagian utara). Sultan Ibrahim bin Adham, Bin Mansur al-Balkhi al- Ijli, yang juga dijuluki Abu Ishaq itu, rela meninggalkan kebesaran dan kemewahannya sebagai seorang Sultan, untuk berkelana mencari kebenaran.

Dengan hanya selembar pakaian yang melekat di tubuhnya, Ibrahim bin Adham pun berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya sebagai seorang faqir. Ia tinggalkan segala “keinginannya” sebagai manusia normal, dengan hanya satu cita-cita: mendekatkan diri kepada Allah, sepenuhnya, dan dengan segala kecintaan. Ia pun dikenal sebagai salah seorang sufi besar dalam khazanah sufisme Islam. Wafat pada sekitar 777 Masehi di Suriah.

Tentu masih bisa diperdebatkan apakah betul Ibrahim bin Adham terinspirasi Sang Buddha? Namun mengingat lokasi Afghanistan yang tak jauh dari Nepal dan India, serta pernah berkiprahnya para penganut Buddhisme dalam jumlah besar di Afghanistan, keterpengaruhan itu bukanlah hal yang mustahil.

Hanya sampai di sini tulisan saya untuk memperingati Tri Suci Waisak 2552/2008. Sekedar ungkapan rasa terima kasih saya kepada Sang Buddha, yang wafat pada usia 80 tahun di Kusinara, 543 SM. Terima kasih bahwa engkau pernah hadir di atas Bumi, Sang Buddha. Meski jarak kehidupan Anda dan kehidupan saya dipisahkan ruang dan waktu berbilang milenium, namun perilaku dan ajaran Anda banyak mempengaruhi hidup saya. Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.

Billy Soemawisastra

[Foto: www.snowlion.com, www.wikipedia.org]

Selasa, 20 Mei 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Inspirasi, Refleksi | , , , , | 4 Komentar

Dalam Rengkuhan Stupa

Dalam rengkuhan stupa

kurasakan lirih angin berderai

membelai tubuh Sang Buddha.

Dan Kau pun tersenyum

menyapa Sanghyang Maitreya.

borobudur3.jpg

Dalam rengkuhan stupa

kudengar suara azan

menghablur, merasuki

celah-celah candi.

Dan, stupa-stupa pun

bergumam, menyebut

namaMu.

borobudur1.jpg

Dalam rengkuhan stupa

tak terasa kusapa diriMu.

Dalam diam, dalam hening.

Dalam kelengangan semesta.

Tuhanku, begitu banyak

rumahMu.

Dalam rengkuhan stupa

kubertanya, masihkah

tersisa surga, buatku

Paduka?

Dan Kau pun, memberiku

berlimpah surga.

borobudur6.jpg

Dalam rengkuhan stupa

aku merasa dekat

denganMu.

Dan, Kau biarkan aku

memujaMu.

Billy Soemawisastra

Borobudur, 2005.

[Foto-foto: Indriati Yulistiani, Noud. Wieland, Oliver Ruhn, Mloparez; www.flickr.com]

Selasa, 18 Desember 2007 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Puisi | , , , | Tinggalkan sebuah Komentar