Ziarah ke Dasar Diri

Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya, serta Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya).

Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, The Pilgrimage, dengan judul bahasa Indonesia:  Ziarah. Di negeri asalnya, buku ini diterbitkan pada 1987, bahkan mendahului The Alchemist yang telah lebih dulu populer di Indonesia.

Ketika Paulo Coelho menerbitkan The Pilgrimage dan The Alchemist, ia nyaris putus asa karena buku-buku tersebut hanya dibaca sedikit orang. Namun setelah terbit novelnya berjudul Brida (yang langsung meledak di pasaran) pada 1990, The Pilgrimage dan The Alchemist ikut terdongkrak, bahkan popularitasnya mengalahkan Brida. Dalam bahasa aslinya (Portugis) novel The Pilgrimage menggunakan judul: O Diario de Um Mago (Catatan Harian Seorang Pesulap).

Meski ada jarak waktu yang cukup jauh (24 tahun) antara penerbitannya dalam bahasa Portugis dengan penerbitannya dalam bahasa Indonesia, pesan-pesan yang disampaikan Paulo Coelho melalui novel The Pilgrimage (Ziarah) masih tetap relevan dengan  kondisi masa kini. Terutama bagi peminat spiritualisme lintas agama, yang dengan sadar meniadakan batas-batas antar-agama walau tetap memeluk agama yang diyakininya.

Bagi Paulo Coelho sendiri, The Pilgrimage mempunyai arti yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Novel ini merupakan pengalaman pribadinya yang ia tulis setahun setelah melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago. Seperti juga novelnya The Zahir, The Pilgrimage mengungkapkan pencerahan-pencerahan yang ia peroleh pada awal-awal karirnya sebagai penulis.

Road to Santiago

Road to Santiago atau Perjalanan Menuju Santiago adalah perjalanan ziarah yang biasa dilakukan umat Kristiani, khususnya penganut Katolik, sejak awal Masehi. Seperti Islam yang mewajibkan segenap umatnya untuk mengikuti Rasulullah Muhammad SAW yang berziarah dari Mekah ke Medinah — setidaknya sekali dalam seumur hidup, dalam ibadah haji — umat Kristiani sejak abad pertama Masehi juga dianjurkan menempuh tiga rute peziarahan yang dianggap suci. “Setiap rute,” tulis Coelho dalam The Pilgrimage, “memiliki berkah dan keuntungan tersendiri bagi mereka yang berjalan menempuhnya.”

Peta Perjalanan Ziarah menuju Santiago.

Perjalanan ziarah pertama yang dianjurkan itu adalah perjalanan menuju pusara Santo Petrus di Roma (Vatikan). Para peziarah ke Roma disebut sebagai Pengembara, bersimbolkan salib. Yang kedua, ziarah ke makam suci Yesus Kristus di Yerusalem. Para peziarahnya disebut sebagai Pembawa Daun Palem, karena mereka membawa daun palem yang dulu digunakan orang untuk menyambut Yesus saat memasuki Yerusalem. Dan, yang ketiga, adalah perjalanan ziarah ke makam San Tiago. Orang yang menempuh jalan ini disebut sebagai Peziarah, dengan simbol kulit kerang.

San Tiago adalah salah seorang dari tiga murid Yesus (dua lainnya: Saint Peter dan Saint John) yang menjadi saksi kebangkitan Kristus. Di Inggris, San Tiago dikenal dengan nama Saint James, di Prancis Jacques, di Italia Giacomo, bahasa Latinnya Jacob, dan nama aslinya (dalam bahasa Aramaic) Yaakov ben Zehdi.

San Tiago dimakamkan di suatu tempat di Tanjung Iberia, di daerah Galicia, Barat Daya Spanyol. Menurut legenda, bukan hanya San Tiago yang dimakamkan di sana, tetapi juga Maria Sang Perawan kudus, yang pergi ke sana sesaat setelah kematian Yesus, dan mengajak orang-orang di tempat tersebut untuk bergabung dalam kerajaan Allah. Tempat itu kini dikenal sebagai Compostela, dan makam San Tiago berada di di Katedral Santiago de Compostela.

Perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, dilakukan Paulo Coelho atas saran seseorang yang misterius, yang pertama kali bertemu dengannya di Dachau, di luar kota Munich, Bayern, Jerman, saat ia bersama isterinya, Christina Oiticica, mengadakan tur keliling Eropa. Orang itu bertemu lagi dengannya di suatu tempat di Amsterdam, dan pada saat itulah orang yang oleh Coelho hanya disebut Jean itu, menganjurkan agar Coelho kembali memperdalam Katolikisme, dan melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, untuk memperoleh pencerahan.

Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica.

Namun berbeda dengan latar belakang yang ia ungkapkan dalam kisah sesungguhnya, di dalam novel The Pilgrimage, Coelho menguraikan bahwa keputusannya melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, adalah lantaran perintah dari Sang Guru. Sang Guru meminta Coelho melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, guna menemukan kembali pedangnya, yang sebenarnya nyaris diperolehnya dalam suatu ritual di salah satu puncak gunung di Brasil.

Cuplikan video Paulo Coelho tentang perjalanannya ke Santiago.

Ordo Tradisi

Cerita diawali dengan upacara inisiasi di sebuah ordo esoterik, yang oleh Coelho disebut sebagai Ordo Tradisi, di suatu tempat bernama Itatiaia, di ketinggian puncak gunung Serra do Mar, yang termasuk dalam rangkaian pegunungan Agulhas Negras (Jarum Hitam) Brasilia. Upacara berlangsung malam hari, 2 Januari 1986.

Upacara itu, selain dihadiri isterinya dan empat orang lainnya (salah satunya  disebut Sang Guru) merupakan upacara penobatan Paulo Coelho untuk menjadi Guru Ordo RAM. Upacara diawali dengan penguburan benda pusaka, sebuah pedang yang sudah lama dimiliki Coelho dan sering digunakannya untuk berbagai ritual gaib.

Usai penguburan pedangnya yang lama, Paulo Coelho dihampiri Sang Guru seraya meletakkan pedang baru di atas tanah tempat pedang lama terkubur. Sang Guru kemudian menghunus pedangnya sendiri lalu menyentuhkan pedang itu ke dahi dan bahu Coelho, sambil berkata, “Dengan cinta dan kekuatan RAM, aku menahbiskanmu sebagai Guru Kesatria Ordo, sekarang hingga sepanjang hayatmu.”

“R untuk Rigor (ketetapan),” lanjut Sang Guru. “A untuk Adoration (penyembahan) dan M untuk Mercy (welas asih); R untuk Regnum, A untuk Agnus, dan M untuk Mundi. Jangan biarkan pedangmu lama tersimpan dalam sarungnya, agar tidak berkarat. Dan saat kau menghunus pedangmu, janganlah kau memasukkannya kembali tanpa terlebih dulu menggunakannya untuk kebaikan, membuka jalan baru, atau menumpahkan darah musuh.”

Coelho pun kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang baru yang terletak di hadapannya. Namun ketika Coelho menyentuh sarung pedang dan bersiap menggenggamnya, tiba-tiba saja Sang guru menginjak jemarinya, dan dengan nada marah mengatakan bahwa ia belum berhak memiliki pedang itu karena ia sedang diliputi kesombongan.

Sang Guru meminta Coelho untuk berjuang kembali melakukan pencarian pedang tersebut mulai dari awal. Dan, melalui isterinya, Sang Guru berpesan agar Coelho membuka peta Spanyol, dan mencari rute perjalanan dari abad pertengahan, yang dikenal dengan Jalan Misterius menuju Santiago.

Masa Pencarian

Atas desakan isterinya, setelah cukup lama Coelho mempertimbangkan perintah Sang Guru, langkah pencarian pun dimulai. Jalan Misterius menuju Santiago itu terbentang sekitar 700 kilometer, dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga ke Katedral Santiago de Compostela di Spanyol. Perjalanan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, seperti yang dilakukan para peziarah di masa lalu. Tak tanggung-tanggung, ada sejumlah orang besar yang pernah melakukan perjalanan ziarah dengan rute tersebut, di antaranya Karel Agung, Santo Fransiskus dari Asisi, Isabella dari Castille, dan Paus Johannes Paulus XXIII.


Para peziarah berjalan kaki menuju Santiago.

Dengan berjalan kaki, tentu saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu bagi para peziarah untuk sampai di tujuan. Kalau sempat, bisa menginap di desa-desa atau kota-kota kecil yang dilewati. Tetapi juga bukan tak mungkin para peziarah kemalaman di tengah hutan, di tengah gurun, bahkan di puncak gunung (karena ada beberapa gunung yang harus dilewati) bila tidak sempat mencapai desa terdekat.

Paulo Coelho pun berangkat menuju Saint-Jean-Pied-de-Port, dan menemui Mme Lourdes, seorang perempuan setengah baya, kuncen pintu gerbang menuju rute peziarahan. Dari Mme Lourdes, Coelho memperoleh kulit kerang, sebagai simbol para peziarah menuju Santiago. Namun Coelho bukanlah peziarah biasa yang akan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pemandu.  Coelho, harus ditemani seorang pemandu yang akan menemuinya di suatu tempat.

Singkat cerita, Coelho bertemu dengan sang pemandu, yang belakangan diketahui ternyata seorang disainer ternama dan termasuk orang terkaya di Italia. Ia juga seorang anggota partai komunis Italia dan — anehnya — seorang penganut Katolik yang — tentu saja — sangat taat. Pemandu itu, yang disebutnya Petrus (untuk menyamarkan nama aslinya) tak hanya bertugas memandu (menunjukkan) rute perjalanan, tetapi juga berfungsi sebagai guru spiritual Coelho, yang akan mengajari Coelho berbagai hal yang bersifat batiniah. Mengarahkan Coelho untuk memandang hidup ini dengan penuh kasih tanpa batas. Penuh optimisme. Tanpa kekhawatiran dan ketakutan.

Coelho harus menjalani serangkaian latihan fisik. Terutama tahapan-tahapan latihan RAM, semacam latihan olah nafas dan olah tubuh, guna mengajari tubuh dan jiwa menyatu dengan semesta. Ia bahkan harus menyelam di sungai yang dalam, kemudian naik ke atas air terjun yang sangat membahayakan jiwanya. Coelho tidak boleh membantah perintah sang pemandu, meskipun berlawanan dengan akal sehat.

Di perjalanan, berkali-kali Coelho bertemu dengan seekor anjing hitam, yang menurut Petrus, adalah jelmaan iblis bernama Legiun. Coelho harus mengalahkan sang iblis yang ada dalam diri anjing itu, sehingga terjadilah pertempuran fisik antar-keduanya. Pertempuran itu dimenangkan Coelho walaupun dengan tubuh yang penuh luka akibat gigitan dan cakaran anjing.

Namun setelah berhasil mengalahkan anjing, iblis Legiun yang semula berada di tubuh binatang tersebut berpindah ke tubuh Coelho. Untungnya Coelho berhasil mengusir iblis itu dari tubuhnya, dan Coelho pun terbebas dari pengaruh iblis.

Coelho melukiskan perjalanan menuju Santiago itu dengan sangat detail. Para pembaca diajaknya menyusuri tempat-tempat yang indah. Ladang-ladang gandum yang membentang sepanjang mata memandang, padang-padang pasir yang berdebu, hutan sabana dan stepa, menyusuri pegunungan Pyrenees, mendaki dan menuruni tebing dan lembah.

Ladang gandum sepanjang mata memandang.

Di sepanjang jalan, Petrus sang pemandu selalu mengajaknya berdiskusi tentang segala hal. Mulai dari obrolan-obrolan teologis sampai hubungan antar-manusia. Dalam setiap diskusi yang dilakukannya, Petrus selalu menekankan agar Paulo Coelho berupaya mencapai agape, yakni cinta kasih kepada seluruh manusia, tanpa batas cakrawala.

Berbagai desa disinggahinya, seperti desa Roncesvalles, tempat gereja Collegiate yang didirikan oleh Kaisar Karel Agung berabad-abad silam, atas sumbangan para raja Jerman, Spanyol, Portugal dan Prancis. Kemudian desa Puente de la Rena, tempat sejumlah biarawan Katolik mengabdikan diri. Adapun kota-kota yang dilewatinya antara lain Logrono, Pamplona, Santo Domingo de la Calzada, dan Ponferrada, kota tempat Petrus sang pemandu, akhirnya meninggalkan Coelho.

Kathedral Santiago de Compostela.

Di Ponferrada, menjelang perpisahannya dengan Coelho, Petrus mengajaknya berbincang-bincang untuk terakhir kali di sebuah stasiun kereta api yang penuh lokomotif dan oli. Mengapa harus di stasiun kereta api? “Jalan menuju Santiago akan segera berakhir,” ujar sang pemandu, “dan karena kehidupan nyata kita lebih mirip jalur kereta api ini, yang berbau oli, daripada pedesaan yang kita jumpai sepanjang perjalanan, lebih baik kita berbincang di sini.”

Petrus pun kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai hal yang telah dilalui Paulo Coelho sepanjang perjalanan, dan makna-makna kehidupan yang berada di baliknya. “Jika kau berhasil mendapatkan pedangmu, kau harus mengajarkan Jalan menuju Santiago ini kepada orang lain. Dan jika hal ini terjadi — saat kau menerima peranmu sebagai Guru — kau baru akan menemukan jawaban yang terdapat di hatimu.”

“Semua orang sebenarnya tahu jawabannya,” lanjut Petrus, “bahkan saat belum ada orang memberitahukannya kepada kita. Kehidupan memberikan pengetahuan kepada kita setiap waktu, dan rahasianya adalah menerima bahwa hanya dalam kehidupan sehari-hari saja kita akan mampu sebijak Sulaiman dan seperkasa Iskandar Agung. Namun kita baru akan menyadari hal ini hanya saat kita terpaksa mengajari orang lain dan terlibat dalam petualangan luar biasa seperti sekarang.”

Tak lama kemudian Petrus pun pergi meninggalkan Paulo Coelho. Ia hanya sekali saja bertemu lagi untuk terakhir kalinya, di Kastil Ksatria Templar di kota Ponferrada, dalam sebuah ritual. Namun tanpa bertegur sapa. Sejak itu, Coelho melanjutkan perjalanannya sendiri menuju Katedral Santiago de Compostela untuk menemukan pedangnya.

Dalam kesendirian, di sebuah puncak gunung bernama El Cebrero, Coelho semakin menyadari bahwa Perjalanan Ziarah menuju Santiago yang hampir diselesaikannya itu, tak semata untuk mencari pedang. Melainkan untuk merasakan penderitaan dan sekaligus kebahagiaan umat manusia sekecil apapun.

Latihan-latihan fisik yang dilaluinya, seperti memindahkan kayu salib yang sangat berat dengan tangan penuh luka. Kemudian mengubur hidup-hidup dirinya di pegunungan dalam kegelapan malam, tak lain untuk merasakan betapa beratnya kehidupan sebagian besar umat manusia, dan betapa dekatnya kematian dalam hidup kita.

Di tengah penderitaan itu, betapa banyak manusia yang tetap bersyukur meskipun kebahagiaan yang didapatnya sangat sedikit. Sebagai seorang calon Guru dari Ordo Tradisi, ia mempunyai tugas untuk mengajarkan makna kehidupan dan bagaimana kehidupan itu harus dijalani tanpa ketakutan, seraya menebarkan agape, cinta kasih kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kehidupan.

Di keheningan puncak gunung El Cebrero, Paulo Coelho bersimpuh dan berbicara kepada Sang Pencipta: “Aku berjalan ribuan kilometer untuk menemukan hal yang sebenarnya telah kuketahui jawabannya, hal yang kita semua tahu tapi sangat sulit menerimanya. Apakah ada hal yang lebih sulit, oh Tuhan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan kekuatan itu? Rasa sakit yang kini mendera dadaku, yang membuat aku tersedu dan anak domba itu ketakutan, sesungguhnya telah dirasakan sejak pertama kali manusia ada di dunia.”

“Hanya beberapa yang mampu menahan beban kemenangan ini,” lanjut Coelho, “kebanyakan merelakan impian mereka saat mereka merasa impian itu dapat terwujud. Mereka menolak untuk bertempur sepenuh tenaga karena mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan kebahagiaan yang mereka raih; mereka terpenjara dalam benda-benda material di dunia. Seperti aku dulu, yang ingin mendapatkan pedangku tanpa tahu apa yang akan kulakukan dengannya.”

Usai berdo’a, Coelho bergerak perlahan menuruni lereng menuju sebuah dusun yang juga bernama El Cebrero, bersama anak domba yang sejak tadi menemaninya. Di sana ada sebuah kapel yang kemudian dimasukinya. Di kapel itu, ternyata Sang Guru telah menunggunya di depan altar dengan sebilah pedang di tangan, sambil berseri penuh kebanggaan. Pedang itu, diserahkannya kepada Paulo Coelho, dengan penuh keikhlasan.

Perjalanan Coelho sudah selesai dengan diterimanya kembali pedang tersebut. Ia hanya tinggal melaksanakan ritual terakhir yakni berziarah ke makam San Tiago di Katedral Santiago de Compostela. Perjalanan Ziarah menuju Santiago, hakikatnya merupakan perjalanan ziarah ke dasar diri, dan Coelho, telah melakukannya dengan baik.

Bagi para penggemar novel-novel thriller, novel-novel Paulo Coelho, termasuk The Pilgrimage, memang akan terasa membosankan, karena isinya merupakan renungan demi renungan. Tetapi bagi para peminat spiritualisme, novel-novel Coelho akan terasa seperti oase di tengah kegersangan padang pasir. Menyejukkan dan melegakan.

Dan, para peminat spiritualisme ini ternyata semakin meningkat jumlahnya. Terbukti dari selalu larisnya novel-novel spiritual Paulo Coelho. Para penggemarnya berada di seantero dunia, dengan beragam agama.

Billy Soemawisastra

John L. Esposito, Pembela Islam yang Sesungguhnya

Umat Muslim di berbagai belahan dunia, biasanya memandang sinis para orientalis. Mereka dianggap mempelajari Islam hanya untuk membongkar dan mempublikasikan kelemahan-kelemahannya. Pandangan sinis itu tentunya sangat tidak tepat, bila ditujukan kepada John L. Esposito, karena ia merupakan orientalis yang sangat gigih membela Islam di hadapan masyarakat Barat.

Dalam buku-buku yang ditulisnya, John L. Esposito selalu menonjolkan kelebihan-kelebihan ajaran Islam, serta sikap hidup positif kaum Muslim. Ia, bersama beberapa orientalis lainnya, seperti Karen Armstrong dan Annemarie Schimmel yang juga sering tampil sebagai pembela Islam, tampaknya perlu mendapat ucapan terima kasih dari umat Muslim, lantaran berkat merekalah berbagai sisi positif Islam dikenal di dunia Barat.

John L. Esposito adalah Guru Besar untuk bidang Agama dan Hubungan Internasional, serta Guru Besar untuk bidang Studi Islam di Universitas Georgetown, Amerika Serikat. Ia juga merupakan founding director Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding di Walsh School of Foreign Service. Pernah menjabat sebagai presiden Middle East Studies Association of North America, dan American Council for the Study of Islamic Societies. Pun, konsultan bagi pemerintah berbagai negara dan perusahaan-perusahaan multinasional. Kini ia tinggal di Washington DC, bersama isterinya, Jeanette P. Esposito, Ph.D.

Sejak awal 1980-an hingga sekarang, sedikitnya sudah 35 buku ia hasilkan. Jika dipukul-rata, hampir setiap tahun John L. Esposito menulis buku. Dan, hampir semua buku yang ditulisnya merupakan buku-buku berisi pembelaan John mengenai ajaran Islam dan kaum Muslim, termasuk pembelaannya atas Muslim militan (yang sering juga disebut sebagai Muslim radikal). Selain buku Who Speaks for Islam?, yang ditulisnya bersama Dalia Mogahed, beberapa buku hasil karya John L. Esposito sudah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya buku Islamic Threat: Myth or Reality?, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Ancaman Islam: Mitos atau Realitas?

Tetapi yang paling dikenal masyarakat Indonesia adalah hasil karyanya berupa The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, berisi informasi lengkap tentang Islam hingga abad 20. Edisi bahasa Inggris-nya terdiri atas empat jilid, dan edisi bahasa Indonesia-nya enam jilid. Untuk edisi bahasa Indonesia (terbitan Mizan), John L. Esposito secara khusus menambahkan 2.000 entri tokoh-tokoh Islam Indonesia, berikut kata pengantarnya.

John L. Esposito sangat mengenal Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia. Ia sering datang ke Indonesia untuk melakukan berbagai penelitian, bertemu tokoh-tokoh Islam Indonesia, menjadi pembicara pada berbagai seminar, atau untuk menghadiri peluncuran buku-bukunya yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Termasuk, kedatangannya pada pertengahan tahun ini, untuk menghadiri peluncuran bukunya, Saatnya Muslim Bicara.

Katolik Pluralis dan Abu Thalib dari Barat.

Dilahirkan pada 19 Mei 1940, di Brooklyn, New York, AS. Sebagaimana umumnya keturunan Italia, John dibesarkan di lingkungan keluarga penganut Katolik Roma yang taat. “Saya selalu ingat hari-hari saya berada di gereja sejak pukul enam pagi, dan sepanjang hari saya berada di sana sebagai pelajar dan ‘anak altar’,” ungkap John. Seperti itulah hari-hari yang dilewati John hingga ia beranjak dewasa. Berada di lingkungan gereja Katolik Amerika Serikat, dan tidak pernah mengenal dunia luar, apalagi mengenal Islam dan Timur Tengah. Pengetahuan yang ia peroleh selama itu, hanya pengetahuan yang bersifat domestik.

Setelah lulus dari seminari, ia coba menjadi pengajar di high school, sampai akhirnya memutuskan mengambil kuliah di St. John’s College, dan memilih bidang studi teologi hingga mendapat gelar master. John belum merasa puas dengan tingkat pendidikan yang telah dilaluinya. Ia lalu bergabung dengan Temple University, untuk memperoleh gelar Ph.D. Bidang studi yang dipilihnya adalah Hinduisme dan Buddhisme, sambil mengambil kursus tentang Islam.

Salah satu profesornya, Ismail R. Al-Faruqi, seorang pemikir Islam asal Palestina yang rajin mengajari John tentang pemahaman Islam, menganjurkannya untuk mengambil summer fellowship di Universitas Pennsylvania, guna mendalami bahasa Arab. John pun mengikuti anjuran guru besarnya. “Setelah beberapa minggu saya belajar bahasa Arab, saya pun mulai terkagum-kagum pada Islam,” ujarnya.

Ketertarikannya pada Islam, membawanya ke Lebanon, guna semakin memperdalam Islam dan bahasa Arab di Pusat Studi Timur Tengah untuk kajian Arab, di Shemian, Lebanon. Sekembalinya ke Universitas Temple, ia berjuang keras untuk memperoleh gelar Doktor dalam bidang Studi Islam, dan selesai pada 1974. Perjuangan John L. Esposito untuk mendalami Islam tidak berhenti sampai di situ. Sambil mengajar di Universitas Georgetown, sebagai Guru Besar bidang Studi Islam dan Hubungan Internasional, John melakukan serangkaian penelitian di negara-negara berpenduduk mayoritas Islam.

Hampir seluruh negara berpenduduk mayoritas Muslim, sudah dikunjunginya berkali-kali untuk melakukan penelitian. Berkawan akrab dengan masyarakat Muslim, baik yang moderat maupun yang radikal, dan bersahabat karib dengan tokoh-tokohnya. Islam tampaknya telah mendarah-daging dalam tubuh John L. Esposito, sehingga ia pun sering dikritik sebagai ilmuwan yang terlalu menaruh simpati dan tidak mengambil jarak pada Islam.

Tetapi bagi umat Muslim, John L. Esposito, tampaknya layak dianggap pahlawan. Beberapa tahun lalu, Islamic Society of North America, memberinya penghargaan istimewa atas jasa-jasanya menyebarkan pemahaman tentang Islam di dunia Barat, khususnya Amerika. Sayyid Syeed, sekjen organisasi tersebut, menyamakan John L. Esposito dengan Abu Thalib.

Abu Thalib adalah paman Nabi Muhammad SAW, yang mati-matian membela kemenakannya, dan ikut memperjuangkan tegaknya agama Islam di kota Mekah, hingga akhir hayatnya. Meskipun resiko yang dihadapinya adalah dikucilkan dari kalangan bangsawan Quraisy. Tetapi sang paman sendiri, tidak pernah memeluk Islam. Seperti itulah John L. Esposito. Ia tetap Katolik, tetapi ia menempatkan dirinya di garda depan sebagai Pembela Islam. Dialah Pembela Islam yang sesungguhnya.

Billy Soemawisastra

[Sumber tulisan: www9.georgetown.edu, www.campus-watch.org, www.washingtonpost.com]

Mantra Swara, Menggali Kekuatan Suara

Pernahkah Anda perhatikan, mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Bagus, dalam arti jernih, bulat, berdiafragma, dan menimbulkan getar-getar kewibawaan, meskipun disampaikan dengan nada rendah.

Atau, pernahkah Anda membayangkan, betapa merdunya suara Yesus atau Isa Al-Masih, ketika berkhotbah di atas bukit. Betapa membahananya suara Musa, sewaktu menyampaikan sepuluh perintah Tuhan, sekembalinya dari Thursina (Gunung Sinai).

Betapa hangatnya suara Muhammad SAW, sewaktu berkhotbah pada ibadah hajinya yang terakhir, atau ketika menyampaikan pesan-pesan pamungkasnya di sebuah bukit di Ghadir Khum. Pun, betapa lembutnya suara Siddharta Gautama, tatkala menyampaikan inti ajaran Buddha di sebuah taman di Bodhgaya.

Itulah suara-suara yang penuh keagungan, yang menyeruak dari kedalaman diri, yang bergetar dilingkupi frekuensi Illahi.

Sejarah agama-agama mencatat, manusia-manusia agung itu (Musa, Yesus, Muhammad, Buddha Gautama) telah berhasil memberikan pencerahan kepada sejumlah umat pada zamannya, melalui suara mereka yang penuh wibawa. Tidak ada catatan dalam sejarah bahwa mereka pernah bersuara serak, atau melengking memekakkan telinga.

Justeru sebaliknya, catatan-catatan para ahli sejarah menyebutkan bahwa suara para pembawa ajaran Tuhan itu, mampu membuat para pendengarnya terhenyak, dan menikmati kata demi kata yang mereka sampaikan.

Mungkin Anda akan mengatakan, lumrah saja bila Musa, Yesus, Muhammad dan Buddha Gautama mempunyai suara-suara yang bagus, karena mereka memang disiapkan untuk menyampaikan ajaranNya. Sehingga dibekali suara yang bagus-bagus, tanpa harus dilatih terlebih dulu.

Tidakkah Anda membayangkan, apa yang dilakukan para Kekasih Tuhan itu ketika berada dalam kesendirian? Mereka bermunajat. Berkomunikasi dengan Tuhan, seraya menyebut nama Tuhan dengan penuh keagungan. Dalam nada rendah dengan tarikan nafas yang halus.

Berulang-ulang mereka ucapkan nama Tuhan dengan penuh rasa cinta, melalui getaran-getaran diafragma. Itu yang menyebabkan suara mereka semakin merdu, melengkapi kemerduan yang memang telah dianugrahkan Tuhan kepada mereka.

Suara, merupakan anugrah Tuhan. Sang Pencipta Yang Maha Baik itu telah membekali manusia dengan berbagai jenis atau warna suara yang bagus-bagus, yang oleh manusia kemudian didefinisikan atau dipilah-pilah sebagai Bas, Bariton, Tenor, Sopran dan lain sebagainya.

Jenis atau warna suara yang bagus-bagus ini adalah fitriah, alias tidak bisa diubah oleh manusia. Yang dapat diubah hanyalah “power”nya, lalu intonasi, artikulasi dan diksinya. Semua itu perlu dilatih secara intensif, sehingga menghasilkan suara yang berkualitas, bisa dinikmati oleh semua orang, termasuk si empunya suara.

Bagusnya ciptaan Tuhan berupa suara itu, dapat kita poles atau kita perbagus lagi dengan modal yang juga diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu napas dan energi. Dengan demikian, semua pemberian Tuhan kita manfaatkan, dan dengan memanfaatkan semua pemberian Tuhan, berarti kita telah mensyukuri nikmat Tuhan.

Tulisan ini saya buat sebagai sumbangan bagi dunia Olah Suara. Semoga dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, yang dalam profesinya sangat berkaitan urusan “tarik suara”. Baik itu penyanyi, presenter radio dan televisi, para politisi dan pejabat yang sering tampil berbicara di depan khalayak, para pengajar atau bahkan para penyebar ajaran keagamaan dan spiritualisme.

Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai penyiar radio, pelatih teater dan instruktur voice training untuk para presenter televisi, ditambah pengamatan intens terhadap para pelaku atau pekerja tarik suara, saya menyodorkan cara yang sangat ampuh, guna mengeksplorasi power (kekuatan) suara. Yaitu dengan melafalkan Mantra Swara secara rutin, dengan teknik yang tepat.

Pernapasan Perut.

Suara yang kita keluarkan melalui mulut, pada hakikatnya didorong oleh napas yang kita hembuskan dari dalam rongga tubuh kita. Kualitas napas yang kita hembuskan (exhale) sangat bergantung dari cara kita memasukkan atau menarik napas (inhale) melalui hidung. Napas yang pendek akan menghasilkan suara yang pecah, terengah-engah dan volume yang tidak konstan.

Panjang pendeknya napas ini, ditentukan oleh teknik pengambilan napas yang benar. Bila napas yang kita hirup, kita simpan di dalam rongga dada, maka hasilnya adalah napas yang pendek. Tetapi bila kita terbiasa menarik napas lalu menyimpannya di dalam perut, niscaya napas kita pun akan panjang dan teratur. Ini yang disebut teknik pernapasan perut, dan merupakan cara yang lumrah digunakan dalam dunia olah suara. Cara yang juga diterapkan oleh para pelaku yoga dan meditasi.

Mengapa kita harus membiasakan diri menggunakan teknik pernapasan perut? Karena sebenarnya, secara naluriah, kita bernapas dengan teknik pernapasan perut. Coba saja perhatikan orang yang sedang tidur terlentang, perutnya akan tampak turun-naik seiring inhale dan exhale yang dilakukannya.

Begitu pula bila seseorang sedang mengalami stres, biasanya tanpa sadar ia akan menarik napas panjang dengan teknik pernapasan perut. Kondisi di bawah sadar ini merupakan kondisi naluriah atau instinktif. Jadi, melatih pernapasan perut, sama saja dengan mengembalikan naluri kita, refleks kita. Coba lagi perhatikan bila Anda bangun tidur (dengan tidur yang berkualitas tentunya), Anda akan merasakan suara Anda lebih berat, lebih bulat.

Sekarang, terlentanglah di atas alas yang datar tanpa bantal. Badan lurus mulai dari kepala hingga ujung kaki. Tangan terlentang. Tutup mata perlahan, lalu tarik napas pelan-pelan melalui mulut, simpan sejenak di dalam rongga perut. Setelah itu hembuskan melalui mulut, juga pelan-pelan. Lakukan itu berkali-kali, seraya berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan oksigen gratis untuk menopang hidup kita dan memberikan energi bagi ruh.

Cara ini juga dapat Anda lakukan sambil berdiri, atau duduk santai dengan punggung lurus. Bila teknik pernapasan perut ini Anda nikmati sepenuhnya, secara berangsur akan Anda rasakan otot-otot tubuh Anda mengendur. Sehingga stres pun tereliminasi. Efek sampingnya, Anda akan mengantuk. Tidak apa-apa. Tidur saja. Tidur juga anugrah Tuhan yang dapat membuat kita segar. Tetapi kalau bisa, jangan dulu tidur, karena Anda sedang berlatih teknik pernapasan.

Jangan sekali-kali menyimpan napas di dalam dada, karena cara itu hanya akan menyebabkan paru-paru Anda bekerja ekstra keras. Fungsi paru-paru hanya sebagai respirator atau pemompa napas. Biarkan rongga dada hanya menjadi jalur yang dilewati inhale dan exhale. Tugas menyimpan dan mendorong napas kita berikan kepada perut, rongga terbesar dalam tubuh manusia.

Bila Anda telah berhasil melatih diri Anda dengan sistem pernapasan perut (abdominal/belly breathing system), kini coba hembuskan napas yang tersimpan di dalam perut itu dibarengi dengan suara A, O, U atau I sepanjang-panjangnya, sampai cadangan napas di dalam perut Anda habis. Jangan berteriak. Ucapkan huruf-huruf vokal itu dengan nada dasar do, dalam satu hembusan napas. Lakukan berulang-ulang. Tarik napas melalui hidung sepanjang-panjangnya. Simpan sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan sambil bersuara seperti di atas.

Melafalkan Mantra Swara Secara Berirama.

Kini tiba saatnya Anda melafalkan Mantra Swara. Ini adalah istilah saya sendiri, untuk menyebut puji-pujian kepada Tuhan, yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi diafragma. Cobalah Anda perhatikan para Bhiksu Buddha yang sedang membacakan puji-pujian. Mereka menyampaikannya dengan nada rendah dan panjang.

Tirulah irama yang disenandungkan para Bhiksu ketika melafalkan puji-pujian tersebut. Tariklah napas sedalam-dalamnya melalui hidung. Simpan napas itu sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan napas Anda melalui mulut sambil mengucapkan setiap kalimat di bawah ini dengan nada yang konstan dan dengan satu tarikan napas:

  • Namo Sanghyang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya.
  • Namo Sanghyang Avalokitesvara Bodhisatva Mahasatva.
  • Namo Sanghyang Maitreya Buddhaya.
  • Namo Amitabha Buddhaya.
  • Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.

Sambil mengucapkan kalimat-kalimat ini, coba rasakan getaran-getaran diafragma di sekujur punggung, dengan menempekan salah satu telapak tangan Anda ke daerah punggung. Bila punggung Anda belum terasa bergetar, berarti masih ada yang salah dalam cara Anda menarik napas. Atau karena Anda “mencuri” napas di tengah kalimat yang Anda ucapkan. Jadi, berusahalah jujur pada diri sendiri dengan tidak mencuri napas.

Apakah hanya puji-pujian dalam agama Buddha saja yang bisa digunakan sebagai Mantra Swara? Tentu saja tidak. Puji-pujian dalam agama apa pun, bisa Anda gunakan sebagai Mantra Swara. Bila Anda seorang Muslim, misalnya, Anda dapat mengucapkan kalimat-kalimat dzikir dan do’a di bawah ini, dengan satu tarikan napas.

Caranya sama. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, simpan sejenak di dalam perut, lalu hembuskan napas Anda melalui mulut seraya melantunkan kalimat-kalimat ini sampai cadangan napas di dalam perut terkuras habis:

  • Subhanallah Walhamdulillah Walailaha ilallah Wallahu Akbar.
  • Lailaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minaddzalimin.
  • Subbuhun Quddusun Rabbuna Warabbul Malaikati Warruh.
  • Allahumma Nawwir Qulubana Binuri Hidayatika Kama Nawwartal Ardlo Binuri Syamsika Abada.
  • Rabbana La Tuzigh Qulubana Ba’da Idz Hadaitana Wahablana Min-Ladunka Rahtaman innaka Antal Wahhab.

Jika Anda seorang penganut Hindu, ucapkan Mantra Gayatri dengan teknik seperti di atas:

Om bhur bhuvah svah tat savitur varenyam

bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat.

Tentu terlalu berat bila Anda mengucapkannya mulai dari Om hingga pracodayat dengan hanya satu tarikan napas. Bagi dua saja. Satu tarikan napas mulai dari Om hingga varenyam. Lalu satu tarikan napas lagi mulai dari bhargo devasya hingga pracodayat.

Bila Anda seorang Katholik, lantunkan Gloria in Excelsis Deo dengan irama yang biasa Anda gunakan, berulang-ulang, dengan satu tarikan napas, setiap ulangannya.

Jika Anda seorang penganut Yahudi (Judaisme), ucapkan: Barukh ata Adonai, Eloheinu Melekh ha-Olam, dan kalimat-kalimat do’a lainnya dengan teknik yang sama.

Ini hanya beberapa contoh saja dari berbagai Mantra Swara yang dapat Anda gunakan untuk mengeksplorasi power atau kekuatan suara Anda. Anda bisa menambahnya dengan puji-pujian yang lain, sesuai keyakinan agama Anda.

Namun berdasarkan uraian ini, terjawablah pertanyaan di awal tulisan: mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Mengapa Musa, Yesus, Muhammad, Buddha ,memiliki suara-suara yang penuh keagungan? Karena mereka rajin memuji Tuhan dengan penuh cinta, penuh rasa hormat.

Mereka lantunkan puji-pujian itu dengan suara rendah, khidmat dan dengan napas teratur. Mengapa tidak kita tiru mereka? Melatih suara kita, sambil memuji Tuhan. Dan, Tuhan pun, akan melimpahkan energi positif yang takkan pernah ada habisnya.

Billy Soemawisastra.

[Gambar-gambar diambil dari: lifenspirit-prabhu.blogspot.com; cache.eb.com; emzr.com;www.think-aboutit.com]

Selamat Hari Natal, Saudaraku

Setiap hari natal tiba, saya selalu teringat pada sahabat saya, kakak saya, guru saya, yang puluhan tahun lalu pernah menjadi teman berbincang di malam-malam yang panjang. Topik perbincangan kami umumnya berkisar di seputar sastra, filsafat dan agama. Atau lebih tepatnya, sastra yang berbau filsafat dan agama, bisa juga agama dari sisi filsafat dan sastra.

Tidak ada rambu-rambu yang kami gunakan dalam berbagai perbincangan itu. Segala sesuatunya berlangsung bebas, lepas tanpa batas. Namanya juga obrolan antar-teman. Tanpa moderator. Tanpa batas waktu. Sehingga sering kami lupa bahwa malam sudah berganti pagi, dan akhirnya kami saling berjanji untuk menyambung obrolan di malam lainnya. Hanya ada dua tempat yang selalu kami gunakan untuk mengobrol, yakni Rumah Makan “Roda” di kawasan Matraman, atau di rumah kontrakan sang sahabat, di Gang Manggis (juga di kawasan Matraman Jakarta Pusat).

Pernah suatu ketika, di rumahnya, sahabat saya itu meminta agar kami menghentikan obrolan sejenak, karena ia ingin mendengarkan secara khusyuk: azan subuh yang dikumandangkan Pak Haji, tetangga sebelah rumahnya. Usai azan ia berkomentar, “Pak Haji tetangga saya itu benar-benar orang suci, sehingga saya selalu tergetar setiap kali mendengar beliau azan atau membacakan ayat-ayat suci Al-Quran.” Lalu ia beranjak ke kamarnya, dan kembali dengan selembar sajadah. “Sholatlah kamu sebelum pulang ke rumah, Bill. Minggu depan kita ketemu lagi untuk menyambung obrolan kita.”

Saya bukan orang Muslim yang rajin sholat. Apalagi sholat subuh yang membutuhkan “perjuangan” untuk menahan kantuk itu. Mungkin sudah beratus atau bahkan beribu subuh saya tidak pernah bersujud di atas sajadah. Tapi kali itu, karena malu dan sekaligus terharu dengan anjuran sang sahabat, saya pun sholat.

Tentu saja saya harus malu, karena orang yang mengingatkan keislaman saya itu, justru seorang Katolik. Seorang calon pastor yang memilih mengabdikan hidupnya untuk mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Sahabat saya, guru saya dan juga kakak saya itu, adalah Dami N. Toda, seorang penyair dan kritikus sastra yang cukup flamboyan di tahun 70-an. Seorang Katolik yang taat, putera seorang tokoh Muhammadiyah di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Menurut Dami, ayahnya adalah seorang pluralis. Ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih agama yang mereka yakini. Dami, memilih Katolik, dan sang ayah yang bergelar haji itu justru sering mengingatkan Dami untuk pergi ke gereja setiap Hari Minggu. “Kamu harus konsekuen kalau memilih agama,” kata ayahnya suatu hari. “Karena kamu memilih Katolik, jadilah Katolik yang taat. Sering-seringlah Bunda Maria-mu itu kau kunjungi. Jangan malas beribadah.”

Mungkin karena mewarisi semangat pluralisme sang ayah itulah, Dami N. Toda pun secara tidak langsung mengingatkan saya agar konsekuen dalam beragama. Kalau memilih Islam, jadilah Islam yang taat. Saya jadi ingat ucapan almarhum Romo Dick Hartoko (pendiri majalah Basis), yang seagama dengan Dami N. Toda. “Jadilah kamu orang Indonesia dengan akar Islam-mu, dengan akar Sunda-mu.” Ucapan ini disampaikan Romo Dick, setelah saya mewawancarainya sehubungan dengan buku yang baru diterbitkannya waktu itu: Bianglala Sastra, sekitar awal 80-an.

Saya tidak akan pernah lupa pada Dami N. Toda, yang kini telah berpulang ke haribaanNya. Saya juga tidak akan pernah melupakan ucapan Romo Dick Hartoko, yang hanya sekali saya temui sepanjang hidupnya. Terlebih karena merekalah yang selalu mengingatkan keislaman saya, padahal keduanya Katolik. “Bagi saya, semua orang adalah Katolik, dan kamu juga Katolik, Bill. Semua orang yang menjalani kehidupan berdasarkan kasihNya, adalah Katolik,” ujar Dami N. Toda, suatu hari.

“Bagi saya, Anda juga seorang Islam,” sambut saya. “Islam artinya kedamaian, keselamatan. Islam juga artinya berserah diri kepada Tuhan. Semua orang yang berserah diri padaNya, dan hidup dalam jalan keselamatan dan kedamaian, adalah Islam.” Lalu saya menyitir salah satu ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa Al-Masih beserta para hawariyyun (para rasul pengikut Yesus) adalah orang-orang Islam. Islam dalam ayat ini mengandung arti berserah diri, cinta damai dan selalu mencari jalan keselamatan.

Sahabat Protestan

Saya memang termasuk orang yang paling beruntung, karena saya memiliki sahabat-sahabat Nasrani yang rajin mengingatkan keislaman saya. Selain Dami N. Toda, saya juga punya seorang sahabat Protestan, namanya Arthur John Horoni. Laki-laki kelahiran Sangihe Talaud ini,  pernah menjadi aktivis Yakoma PGI (Yayasan Komunikasi Massa, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) bersama Yapi Tambayong alias Remy Silado. Kini, ia aktif dalam lembaga konsultasi nasional gereja, untuk Dewan Gereja-gereja se-Dunia.

Persahabatan saya dengan Arthur, terjalin sejak saya bergabung dengan Radio ARH (Arief Rachman Hakim) pada tahun 1979. Arthur sudah lebih lama berkiprah di radio perjuangan Angkatan ’66 itu. Jadi dia adalah senior saya, yang mengajari saya banyak hal tentang masalah-masalah broadcasting. Dia juga teman diskusi yang intens mengenai berbagai masalah, termasuk masalah agama.

Arthur cukup rajin mendalami ajaran Islam. Seperti juga saya yang gemar mendalami berbagai ajaran agama di luar agama yang saya anut (karena kebetulan saya pernah bersekolah di fakultas teologi/ushuluddin). Sehingga diskusi-diskusi agama yang berlangsung antara saya dan Arthur, cukup lancar dan mendalam.

Suatu hari saya mengajaknya hadir dalam diskusi agama yang diselenggarakan sebuah organisasi remaja Islam. Dalam diskusi itu terjadi perdebatan fiqhiyyah dan furu’iyyah mengenai rukun wudlu, yang memang berbeda antara mazhab yang satu dengan mazhab lainnya dalam aliran ahlusunnah waljamaah (sunni). Salah satu peserta diskusi yang merasa menjadi pengikut Imam Syafi’i bersikeras bahwa rukun wudlu yang paling benar, adalah rukun wudlu seperti yang diajarkan Mazhab Syafi’i. Perdebatan antara pengikut Syafi’i dengan non-Syafi’i pun semakin tajam dan tak kunjung mencapai titik-temu.

Di tengah diskusi yang sudah berubah menjadi arena debat kusir itu, tiba-tiba saja Arthur, yang non-muslim itu, meminta izin untuk ikut berbicara. Setelah moderator memberinya izin, Arthur pun berujar, “Setahu saya, Imam Syafi’i tidak pernah meminta para pengikutnya untuk taqlid buta terhadap ajaran-ajaran fiqihnya, seperti yang beliau tulis dalam mukadimah Kitab Al-Umm, kitab yang menjadi acuan utama para pengikut mazhab Syafi’i. Di dalam mukadimah itu, Imam Syafi’i meminta agar kita mempelajari kitabnya secara kritis.”

“Bahkan,” lanjut Arthur, “Secara tegas Imam Syafi’i mengatakan, jika isi kitab yang ditulisnya itu lebih banyak mendatangkan mudarat ketimbang manfaat, lemparkan saja kitab itu ke dinding. Jadi mengapa Anda harus bersikeras mengenai hal-hal yang bersifat khilafiyah, bila Imam Syafi’i saja sangat moderat dan terbuka terhadap berbagai pendapat?”

Semua peserta diskusi tertegun. Arthur yang orang Kristen itu ternyata lebih mendalami mazhab Syafi’i ketimbang mereka, yang sebagian besar di antaranya bahkan baru mendengar adanya kitab bernama Al-Umm karangan Imam Syafi’i, sumber hukum fiqh yang dianut sebagian besar Muslim Indonesia.

Satu lagi cerita tentang Arthur, yang tak mungkin saya lupakan. Pada suatu bulan Ramadhan, saya dan beberapa teman yang beragama Islam, menginap di rumahnya. Arthur tahu, kami puasa. Itu sebabnya Arthur mengundang kami untuk berbuka puasa di rumahnya, lalu meminta kami untuk menginap. Waktu itu Arthur masih bujangan, dan sebagai bujangan, ia sering memasak. Tetapi saya tidak tahu kalau malam itu, setelah diskusi panjang hingga tengah malam dan menyuruh kami yang Muslim ini untuk tidur agar tidak kesiangan waktu sahur, Arthur justru sibuk memasak untuk hidangan sahur kami.

Hal itu baru saya ketahui setelah Arthur membangunkan kami sekitar pukul empat dinihari. “Bangunlah, saya sudah menyiapkan makanan sahur untuk kalian, jangan sampai keburu imsak” serunya. Di meja makan, sudah tersedia beberapa jenis makanan hangat, hasil olahan Arthur yang aktivis gereja itu.

Saya bahagia, mempunyai teman-teman Nasrani yang sangat menghormati keislaman saya. Maka saya pun balas menghormati kekristenan mereka. Apalagi setelah saya membaca firman Allah dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 62: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi-in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak satu agama pun yang berhak mengklaim pihaknya paling benar. Bagi Allah, tampaknya tidaklah penting agama apa yang dianut seseorang, karena yang paling penting adalah: beriman (percaya) kepada Allah, percaya akan adanya hari akhir, dan beramal saleh (berbuat kebajikan). Jika kemudian Tuhan “membiarkan” tumbuhnya berbagai agama, tak lain agar semua penganut agama (apapun) saling berlomba berbuat kebaikan, seperti yang termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 148: “Maka berlomba-lombalah kamu dalam (berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Arthur J. Horoni, Dami N. Toda, dan Romo Dick Hartoko, adalah orang-orang saleh, beriman kepada Allah, serta gemar berbuat kebaikan kepada sesama tanpa memandang agama. Yang dilakukan Arthur sekarang, misalnya, aktif dalam gerakan advokasi buruh di Nangroe Aceh Darussalam dan Medan, dan para buruh yang dibelanya, mayoritas beragama Islam.

Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menghargai dan menghormati keyakinan agama mereka, karena mereka pun sangat menghormati keyakinan agama saya. Maka saya pun, selalu mengucapkan Selamat Hari Natal kepada mereka, setiap tanggal 25 Desember. Seperti juga mereka, yang selalu mengucapkan Selamat Idul Fitri, Selamat Idul Adha, dan Selamat  Tahun Baru Hijriyah. Ucapan selamat yang mereka sampaikan kepada saya, bahkan lebih banyak daripada ucapan selamat saya untuk mereka, setiap tahunnya.

Saya pun kecewa, ketika beberapa belas tahun lalu, salah seorang Ulama besar sempat mengeluarkan fatwa yang melarang umat Islam mengucapkan Selamat Hari Natal kepada saudara-saudaranya yang beragama Nasrani, karena khawatir akan mengubah keimanan. Untungnya, tidak begitu banyak umat Islam Indonesia yang mengikuti fatwa tersebut.

Bagi saya, dan mungkin sebagian besar Muslim lainnya, ucapan Selamat Hari Natal  sebenarnya merupakan salah satu manifestasi pelaksanaan seruan untuk berbuat kebaikan kepada sesama, seperti yang diperintahkan Allah, dalam kerangka hablum-minannas (hubungan antar-manusia). Dan, tidak ada satu ayat pun dalam Al-Quran, juga tidak satu pun Hadis Nabi, yang melarang kaum Muslimin mengucapkan Selamat Hari Natal.

Jadi, saya akan selalu mengucapkan Selamat Hari Natal kepada saudara-saudara saya yang beragama Nasrani, disertai do’a: “Semoga cahaya kasih yang ditebarkan Al-Masih, akan selalu menyelimuti Anda sepanjang hayat.”  Atau, “Semoga kedamaian Natal yang bersemayam di hati kita, menyebar ke seluruh semesta.” Mereka pun akan membalas ucapan saya, dengan do’a yang lebih bertuah: “Semoga Anda selalu berada dalam bimbingan dan lindungan Allah (God Bless You).”

Setiap hari Natal tiba, saya selalu kebanjiran do’a.

Akhirulkalam,  Selamat Hari Natal,  Saudaraku.

Billy Soemawisastra

[Foto: www.ourcatholic.com]