Jagat Alit

Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan

Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1430 Hijriyah

moonrise1

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 Hijriyah, kali ini diapit dua hari besar internasional, yakni Hari Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tentu saja ini merupakan fenomena alam yang lumrah, mengingat perhitungan tarikh Hijriyah dengan tarikh Masehi, memiliki selisih sebelas hari setiap tahunnya. Ini lantaran masing-masing tarikh, menggunakan patokan yang berbeda. Tahun Masehi dihitung berdasarkan peredaran matahari (solar system) sedangkan tahun Hijriyah diukur berdasarkan peredaran bulan (lunar system).

Peredaran matahari dan bulan yang tidak berbarengan, menyebabkan jumlah hari dalam tahun Masehi dan Hijriyah, memiliki perbedaan. Tahun Masehi berjumlah 365 hari, tahun Hijriyah 354 hari. Itu pula sebabnya, pada kurun-kurun tertentu, tahun baru Hijriyah  akan berdekatan dengan tahun baru Masehi. Bahkan pada tahun 2008 ini, kita mengalami dua kali tahun baru Hijriyah. Sebelumnya tanggal 10 Januari lalu, dan kini 29 Desember.

Sekali lagi, ini adalah fenomena alam yang lumrah. Tetapi di balik fenomena alam yang lazim ini, kita bisa menyibak hikmah. Diapitnya Tahun Baru Hijriyah, oleh Hari Natal dan Tahun Baru Masehi, semakin mengingatkan kita bahwa kehidupan di atas semesta,  tidak bisa dilepaskan dari kemajemukan alias keberagaman. Seperti majemuknya unsur-unsur alam yang kita tempati ini. Ada matahari, bulan, bintang, awan, angin, hujan, laut, daratan, pepohonan, rerumputan, hewan dan manusia, yang masing-masing memiliki ciri khas berbeda. Namun kerjasama atau kebersamaan semua unsur alam ini, akan membuat alam ciptaan Tuhan berada dalam keseimbangan alias harmoni. Jika satu saja unsur alam tersebut berjalan sendiri dan tidak mau berbagi, maka semesta ini akan dilanda disharmoni.

Celakanya, mausialah yang terkadang tidak mau berbagi dengan sesama manusia lainnya. Seakan lupa bahwa manusia itu terdiri atas berbagai ragam, baik secara fisik maupun pikiran. Secara fisik, muncul rasisme. Dari segi pikiran, muncul orang-orang yang menganggap pendapat dan keyakinannyalah yang paling benar. Pendapat dan keyakinan yang berbeda dianggap sesat dan perlu diberantas. Fenomena seperti ini sangat menggejala di tahun 1429 Hijriyah  atau tahun 2008 Masehi.

Padahal, jika kita simak kembali perjalanan Hijrah Rasulullah Muhammad SAW, yang menjadi “titimangsa” diletakkannya penghitungan tarikh Hijriyah oleh Khalifah Umar ibnu Khattab, kita bisa menemukan banyak sekali keteladanan Rasulullah dalam menghargai dan menghormati keberagaman. Di Madinah, tempat Sang Nabi dan para pengikutnya berhijrah, Nabi mengakui keberadaan semua unsur masyarakat yang telah lama hidup di kota yang sebelumnya bernama Yastrib itu. Ada kelompok suku Aus dan Khajraj. Ada kaum Yahudi. Ada umat Nasrani. Belum lagi para pendatang dari Makkah yang disebut Muhajirin (orang-orang yang berhijrah) dan penduduk asli yang masuk Islam atau kaum Anshor (para penolong orang-orang yang berhijrah).

Kesemua unsur masyarakat Madinah tersebut, memperoleh hak yang sama. Nabi memerintahkan agar semua kelompok saling menghargai dan menghormati asal-usul serta keyakinan masing-masing. Ada salah satu peristiwa, yang mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana Rasulullah sangat menghormati kemajemukan itu. Pada suatu hari lewatlah serombongan pengantar jenazah di hadapan beliau, yang ketika itu tengah duduk berbincang dengan beberapa sahabatnya. Jenazah dan para pengantarnya itu adalah orang-orang Yahudi. Seketika Sang Nabi berdiri dengan takzim, menghormati jenazah yang lewat.

“Mengapa Anda melakukan itu Ya Rasul. Bukankah itu jenazah orang Yahudi? Haruskah Anda menghormatinya?” Tanya salah seorang sahabat. “Dia adalah manusia juga, seperti kita, yang berpulang ke Rahmatullah. Kita pun akan kembali padaNya,” ujar Rasulullah. Serempak para sahabat itu pun berdiri, mengikuti Sang Nabi, menghormati jenazah orang Yahudi.

Pun, jangan lupa. Sebelum berhijrah ke Madinah, para pengikut Rasulullah pernah pula berhijrah dalam dua gelombang ke sebuah negeri bernama Abessinia (Ethiopia). Penguasa negeri itu, Kaisar Najasyi (Negus) adalah seorang penganut Kristen. Begitu pula sebagian besar rakyatnya. Orang-orang Muslim yang berhijrah ke Abessinia mendapat perlindungan keamanan dari Sang Kaisar, sehingga terbebas dari orang-orang Quraisy yang berniat membunuh mereka.

Rasulullah sangat berterima kasih kepada Sang Kaisar, yang telah memberikan tempat terhormat dan melindungi para penganut ajaran Islam. Sehingga bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, ketika Nabi Muhammad SAW mendengar kabar duka bahwa Kaisar Negus telah mangkat, beliau menangis. Lalu mendo’akan arwah Sang Kaisar, agar diterima di sisiNya.

Tarikh Hijriyah, kini telah mencapai bilangan 1430 tahun. Ini berarti sudah hampir 15 abad, secara turun temurun, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Hijrah Rasulullah. Peristiwa yang mengandung banyak hikmah, terutama yang berhubungan dengan interaksi antar-manusia (hablumminannas). Dan, tahun ini, secara kebetulan tanggal 1 Muharram 1430 Hijriyah, berada sangat berdekatan dengan Hari Natal dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tidakkah ini mengingatkan kita akan kemajemukan kita yang merupakan fitrah atau sunnatullah? Tidakkah kita ingat akan keteladanan Rasululah dalam menghargai keberagaman dan perbedaan? Bahkan Sang Kekasih Allah itu selalu menganggap perbedaan sebagai hikmah.

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriyah. Mari kita berhijrah meninggalkan ketertutupan (eksklusivisme) menuju keterbukaan (inklusivisme). Meninggalkan kesempitan pikiran menuju keluasan pandangan. Sehingga kita pun tidak selalu merasa diri kita paling benar, karena kebenaran ada di mana-mana.

Billy Soemawisastra

[Foto diambil dari: www.aslowerpace.com, dan tulisan ini dapat  dilihat pula di www.liputan6.com]

Minggu, 28 Desember 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Refleksi, Sejarah | , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Isra Mi’raj

Setidaknya selama sebulan ini (penghujung bulan Juli hingga paruh ketiga Agustus) umat Islam di seluruh dunia merayakan peristiwa Isra Mi’raj, perjalanan spiritual Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang kemudian dilanjutkan menuju Sidratil Muntaha. Perjalanan jauh yang berlangsung hanya semalam itu, menurut perhitungan tahun Hijriyah, terjadi pada tanggal 27 Rajab, yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 30 Juli.

Hingga kini para pemikir Islam masih belum sepakat tentang bentuk perjalanan Nabi Muhammad, yang penuh misteri itu. Ada yang berpendapat bahwa Isra Mi’raj dilakukan Rasulullah secara utuh, dalam arti tubuh dan ruhnya yang melakukan perjalanan tersebut. Ada juga yang berpendapat hanya ruhnya yang berangkat, sementara tubuhnya tetap berada di Mekah.

Pun, tak sedikit yang berpendapat bahwa Isra Mi’raj itu berlangsung dalam suasana meditatif atau suasana zikrullah. Berdasarkan konsep ini, ruh dan tubuh Rasulullah tidak pergi ke mana pun. Ia tetap berada di Mekah, di rumahnya. Tetapi batinnya yang sedang berada dalam keheningan, dalam suasa mengingat Allah secara total, memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Sang Pencipta mengenai kekuasaanNya yang tiada tara. Dalam kondisi itu, Rasulullah berkomunikasi langsung dengan Allah.

Semua pendapat tersebut mempunyai dasar-dasar yang kuat, sehingga bentuk perjalanan Isra dan Mi’raj tidak akan pernah selesai diperdebatkan. Menurut Guru Besar Ilmu Tafsir Al-Quran, Prof. DR. Quraisy Shihab, hanya keimananlah yang bisa menerima dan meyakini adanya Isra Mi’raj. Terutama karena peristiwa tersebut secara eksplisit termaktub dalam beberapa ayat suci Al-Quran, di antaranya ayat 7 surat Al-Isra.

Sudah selayaknya umat Islam meyakini adanya peristiwa Isra Mi’raj, karena untuk memahami ajaran agama, tidak sepenuhnya bisa ditelusuri secara aqliyah (akal semata) tetapi juga harus dibarengi dengan naqliyah (berpegang pada dalil-dalil dalam Kitab Suci). Agama, merupakan paduan antara immanent dan transcendent.

Lalu apa relevansi Isra Mi’raj dengan keseharian manusia? Melalui peristiwa tersebut, Sang Pencipta agaknya ingin mengatakan secara tegas bahwa di atas segala-galanya, ada Dia. Dia yang memperhatikan tingkah-polah manusia, hingga yang sekecil-kecilnya. Dia yang akan mengadili manusia pada saatnya kelak. Walhasil, orang yang mengaku beriman dan beragama, seyogianya selalu sadar bahwa segala perbuatannya senantiasa tidak lepas dari pemantauan Sang Maha Kuasa. Adakah kesadaran ini sudah menyatu dalam diri manusia, khususnya umat beragama?

Tampaknya tidak. Masih banyak orang yang tidak pernah malu berbuat kemungkaran dan merugikan orang lain, padahal mereka mengaku beriman. Salah satu perbuatan mungkar dan merugikan orang lain itu adalah korupsi. Dan, para pelaku korupsi itu adalah mereka yang mengaku beriman dan beragama, dan pernah berkampanye pada pemilu dengan mengatasnamakan agama, guna meraih konstituen sebanyak-banyaknya.

Akhirnya agama hanya menjadi komoditas politik. Seperti “ayam potong” yang ramai-ramai disembelih setiap pemilu. Setelah berhasil, beramai-ramai pulalah berbagi-bagi uang rakyat, tanpa rasa malu, tanpa rasa bersalah. Paling-paling, begitu ketahuan, uang itu dikembalikan. Padahal pengembalian uang seperti itu tidak menghapus niat dan perbuatan sebelumnya. Pun yang dikembalikan hanya yang ketahuan. Yang tidak ketahuan?

Sebentar lagi kita akan menghadapi pemilu. Sebentar lagi kita akan menyaksikan para calon wakil rakyat berkampanye. Sebagian di antara mereka akan berkampanye dengan mengedepankan agama, dan akan mengutip ayat-ayat Al-Quran dan hadis nabi dalam orasinya. Mudah-mudahan rakyat tidak tertipu lagi oleh para “penjual agama” ini.

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: www.liputan6.com]

Kamis, 31 Juli 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Refleksi | , , , , , , , | 1 Komentar

Umatku … Umatku …

Hari ini, terjadi lagi tindak kekerasan atas nama agama. Massa AKKBB (Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), yang tengah menggelar aksi damai di Lapangan Monas, Jakarta, diserang sejumlah orang yang mengaku “pembela Islam”. Seperti itukah pembela Islam? Garang. Kejam. Tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi orang lain yang berbeda pendapat. Seperti itukah pembela Islam, yang hanya berani menyerang orang yang lemah? Seperti itukah … Islam?

Lalu di mana pemerintah Republik Indonesia dan aparat keamanannya saat itu? Takut? Tak peduli? Atau memang sengaja membiarkan kekerasan itu terjadi? Kekerasan atas nama agama di negeri ini, bukan sekali ini saja terjadi. Sudah berkali-kali. Puluhan kali. Ratusan kali. Bahkan mungkin ribuan kali. Tetapi pemerintah RI, yang memang miskin kepedulian itu, tampaknya semakin tak peduli.

Seandainya Rasulullah Muhammad SAW masih hidup, beliau pasti menangis seraya berkata, “Oh, umatku … umatku …” Beliau pasti kecewa, menyaksikan sebagian pengikutnya yang lebih suka mengumbar kemarahan dan menebar kebencian, sambil meneriakkan “Allahu Akbar!”

Nama Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Suci itu telah mereka nodai dengan napsu amarah. Dengan beraninya mereka meminjam Nama Tuhan untuk membenarkan anarkisme. Membenarkan penindasan. Rasanya bukan itu yang diinginkan Rasulullah. Karena bagi Sang Rasul, Islam itu artinya kedamaian, keselamatan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Bukan kekerasan. Bukan kekejaman. Bukan menebar ancaman.

Islam yang damai, itu yang diinginkan Rasulullah. Islam yang mampu menaungi semua orang, mampu menghargai perbedaan pendapat, mampu melindungi kaum yang lemah alias kaum minoritas. Islam yang ramah. Islam yang penuh senyuman. Tetapi hari ini, lagi-lagi kita saksikan Islam yang garang dan penuh kebencian. Islam yang menakutkan. Seperti itukah Islam? Atau … jangan-jangan … selama ini memang saya yang salah … menafsirkan Islam.

Billy Soemawisastra

Minggu, 1 Juni 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Refleksi | , , , , | 6 Komentar

Mantra Swara, Menggali Kekuatan Suara

Pernahkah Anda perhatikan, mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Bagus, dalam arti jernih, bulat, berdiafragma, dan menimbulkan getar-getar kewibawaan, meskipun disampaikan dengan nada rendah.

Atau, pernahkah Anda membayangkan, betapa merdunya suara Yesus atau Isa Al-Masih, ketika berkhotbah di atas bukit. Betapa membahananya suara Musa, sewaktu menyampaikan sepuluh perintah Tuhan, sekembalinya dari Thursina (Gunung Sinai).

Betapa hangatnya suara Muhammad SAW, sewaktu berkhotbah pada ibadah hajinya yang terakhir, atau ketika menyampaikan pesan-pesan pamungkasnya di sebuah bukit di Ghadir Khum. Pun, betapa lembutnya suara Siddharta Gautama, tatkala menyampaikan inti ajaran Buddha di sebuah taman di Bodhgaya.

Itulah suara-suara yang penuh keagungan, yang menyeruak dari kedalaman diri, yang bergetar dilingkupi frekuensi Illahi.

Sejarah agama-agama mencatat, manusia-manusia agung itu (Musa, Yesus, Muhammad, Buddha Gautama) telah berhasil memberikan pencerahan kepada sejumlah umat pada zamannya, melalui suara mereka yang penuh wibawa. Tidak ada catatan dalam sejarah bahwa mereka pernah bersuara serak, atau melengking memekakkan telinga.

Justeru sebaliknya, catatan-catatan para ahli sejarah menyebutkan bahwa suara para pembawa ajaran Tuhan itu, mampu membuat para pendengarnya terhenyak, dan menikmati kata demi kata yang mereka sampaikan.

Mungkin Anda akan mengatakan, lumrah saja bila Musa, Yesus, Muhammad dan Buddha Gautama mempunyai suara-suara yang bagus, karena mereka memang disiapkan untuk menyampaikan ajaranNya. Sehingga dibekali suara yang bagus-bagus, tanpa harus dilatih terlebih dulu.

Tidakkah Anda membayangkan, apa yang dilakukan para Kekasih Tuhan itu ketika berada dalam kesendirian? Mereka bermunajat. Berkomunikasi dengan Tuhan, seraya menyebut nama Tuhan dengan penuh keagungan. Dalam nada rendah dengan tarikan nafas yang halus.

Berulang-ulang mereka ucapkan nama Tuhan dengan penuh rasa cinta, melalui getaran-getaran diafragma. Itu yang menyebabkan suara mereka semakin merdu, melengkapi kemerduan yang memang telah dianugrahkan Tuhan kepada mereka.

Suara, merupakan anugrah Tuhan. Sang Pencipta Yang Maha Baik itu telah membekali manusia dengan berbagai jenis atau warna suara yang bagus-bagus, yang oleh manusia kemudian didefinisikan atau dipilah-pilah sebagai Bas, Bariton, Tenor, Sopran dan lain sebagainya.

Jenis atau warna suara yang bagus-bagus ini adalah fitriah, alias tidak bisa diubah oleh manusia. Yang dapat diubah hanyalah “power”nya, lalu intonasi, artikulasi dan diksinya. Semua itu perlu dilatih secara intensif, sehingga menghasilkan suara yang berkualitas, bisa dinikmati oleh semua orang, termasuk si empunya suara.

Bagusnya ciptaan Tuhan berupa suara itu, dapat kita poles atau kita perbagus lagi dengan modal yang juga diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu napas dan energi. Dengan demikian, semua pemberian Tuhan kita manfaatkan, dan dengan memanfaatkan semua pemberian Tuhan, berarti kita telah mensyukuri nikmat Tuhan.

Tulisan ini saya buat sebagai sumbangan bagi dunia Olah Suara. Semoga dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, yang dalam profesinya sangat berkaitan urusan “tarik suara”. Baik itu penyanyi, presenter radio dan televisi, para politisi dan pejabat yang sering tampil berbicara di depan khalayak, para pengajar atau bahkan para penyebar ajaran keagamaan dan spiritualisme.

Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai penyiar radio, pelatih teater dan instruktur voice training untuk para presenter televisi, ditambah pengamatan intens terhadap para pelaku atau pekerja tarik suara, saya menyodorkan cara yang sangat ampuh, guna mengeksplorasi power (kekuatan) suara. Yaitu dengan melafalkan Mantra Swara secara rutin, dengan teknik yang tepat.

Pernapasan Perut.

Suara yang kita keluarkan melalui mulut, pada hakikatnya didorong oleh napas yang kita hembuskan dari dalam rongga tubuh kita. Kualitas napas yang kita hembuskan (exhale) sangat bergantung dari cara kita memasukkan atau menarik napas (inhale) melalui hidung. Napas yang pendek akan menghasilkan suara yang pecah, terengah-engah dan volume yang tidak konstan.

Panjang pendeknya napas ini, ditentukan oleh teknik pengambilan napas yang benar. Bila napas yang kita hirup, kita simpan di dalam rongga dada, maka hasilnya adalah napas yang pendek. Tetapi bila kita terbiasa menarik napas lalu menyimpannya di dalam perut, niscaya napas kita pun akan panjang dan teratur. Ini yang disebut teknik pernapasan perut, dan merupakan cara yang lumrah digunakan dalam dunia olah suara. Cara yang juga diterapkan oleh para pelaku yoga dan meditasi.

Mengapa kita harus membiasakan diri menggunakan teknik pernapasan perut? Karena sebenarnya, secara naluriah, kita bernapas dengan teknik pernapasan perut. Coba saja perhatikan orang yang sedang tidur terlentang, perutnya akan tampak turun-naik seiring inhale dan exhale yang dilakukannya.

Begitu pula bila seseorang sedang mengalami stres, biasanya tanpa sadar ia akan menarik napas panjang dengan teknik pernapasan perut. Kondisi di bawah sadar ini merupakan kondisi naluriah atau instinktif. Jadi, melatih pernapasan perut, sama saja dengan mengembalikan naluri kita, refleks kita. Coba lagi perhatikan bila Anda bangun tidur (dengan tidur yang berkualitas tentunya), Anda akan merasakan suara Anda lebih berat, lebih bulat.

Sekarang, terlentanglah di atas alas yang datar tanpa bantal. Badan lurus mulai dari kepala hingga ujung kaki. Tangan terlentang. Tutup mata perlahan, lalu tarik napas pelan-pelan melalui mulut, simpan sejenak di dalam rongga perut. Setelah itu hembuskan melalui mulut, juga pelan-pelan. Lakukan itu berkali-kali, seraya berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan oksigen gratis untuk menopang hidup kita dan memberikan energi bagi ruh.

Cara ini juga dapat Anda lakukan sambil berdiri, atau duduk santai dengan punggung lurus. Bila teknik pernapasan perut ini Anda nikmati sepenuhnya, secara berangsur akan Anda rasakan otot-otot tubuh Anda mengendur. Sehingga stres pun tereliminasi. Efek sampingnya, Anda akan mengantuk. Tidak apa-apa. Tidur saja. Tidur juga anugrah Tuhan yang dapat membuat kita segar. Tetapi kalau bisa, jangan dulu tidur, karena Anda sedang berlatih teknik pernapasan.

Jangan sekali-kali menyimpan napas di dalam dada, karena cara itu hanya akan menyebabkan paru-paru Anda bekerja ekstra keras. Fungsi paru-paru hanya sebagai respirator atau pemompa napas. Biarkan rongga dada hanya menjadi jalur yang dilewati inhale dan exhale. Tugas menyimpan dan mendorong napas kita berikan kepada perut, rongga terbesar dalam tubuh manusia.

Bila Anda telah berhasil melatih diri Anda dengan sistem pernapasan perut (abdominal/belly breathing system), kini coba hembuskan napas yang tersimpan di dalam perut itu dibarengi dengan suara A, O, U atau I sepanjang-panjangnya, sampai cadangan napas di dalam perut Anda habis. Jangan berteriak. Ucapkan huruf-huruf vokal itu dengan nada dasar do, dalam satu hembusan napas. Lakukan berulang-ulang. Tarik napas melalui hidung sepanjang-panjangnya. Simpan sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan sambil bersuara seperti di atas.

Melafalkan Mantra Swara Secara Berirama.

Kini tiba saatnya Anda melafalkan Mantra Swara. Ini adalah istilah saya sendiri, untuk menyebut puji-pujian kepada Tuhan, yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi diafragma. Cobalah Anda perhatikan para Bhiksu Buddha yang sedang membacakan puji-pujian. Mereka menyampaikannya dengan nada rendah dan panjang.

Tirulah irama yang disenandungkan para Bhiksu ketika melafalkan puji-pujian tersebut. Tariklah napas sedalam-dalamnya melalui hidung. Simpan napas itu sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan napas Anda melalui mulut sambil mengucapkan setiap kalimat di bawah ini dengan nada yang konstan dan dengan satu tarikan napas:

  • Namo Sanghyang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya.
  • Namo Sanghyang Avalokitesvara Bodhisatva Mahasatva.
  • Namo Sanghyang Maitreya Buddhaya.
  • Namo Amitabha Buddhaya.
  • Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.

Sambil mengucapkan kalimat-kalimat ini, coba rasakan getaran-getaran diafragma di sekujur punggung, dengan menempekan salah satu telapak tangan Anda ke daerah punggung. Bila punggung Anda belum terasa bergetar, berarti masih ada yang salah dalam cara Anda menarik napas. Atau karena Anda “mencuri” napas di tengah kalimat yang Anda ucapkan. Jadi, berusahalah jujur pada diri sendiri dengan tidak mencuri napas.

Apakah hanya puji-pujian dalam agama Buddha saja yang bisa digunakan sebagai Mantra Swara? Tentu saja tidak. Puji-pujian dalam agama apa pun, bisa Anda gunakan sebagai Mantra Swara. Bila Anda seorang Muslim, misalnya, Anda dapat mengucapkan kalimat-kalimat dzikir dan do’a di bawah ini, dengan satu tarikan napas.

Caranya sama. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, simpan sejenak di dalam perut, lalu hembuskan napas Anda melalui mulut seraya melantunkan kalimat-kalimat ini sampai cadangan napas di dalam perut terkuras habis:

  • Subhanallah Walhamdulillah Walailaha ilallah Wallahu Akbar.
  • Lailaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minaddzalimin.
  • Subbuhun Quddusun Rabbuna Warabbul Malaikati Warruh.
  • Allahumma Nawwir Qulubana Binuri Hidayatika Kama Nawwartal Ardlo Binuri Syamsika Abada.
  • Rabbana La Tuzigh Qulubana Ba’da Idz Hadaitana Wahablana Min-Ladunka Rahtaman innaka Antal Wahhab.

Jika Anda seorang penganut Hindu, ucapkan Mantra Gayatri dengan teknik seperti di atas:

Om bhur bhuvah svah tat savitur varenyam

bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat.

Tentu terlalu berat bila Anda mengucapkannya mulai dari Om hingga pracodayat dengan hanya satu tarikan napas. Bagi dua saja. Satu tarikan napas mulai dari Om hingga varenyam. Lalu satu tarikan napas lagi mulai dari bhargo devasya hingga pracodayat.

Bila Anda seorang Katholik, lantunkan Gloria in Excelsis Deo dengan irama yang biasa Anda gunakan, berulang-ulang, dengan satu tarikan napas, setiap ulangannya.

Jika Anda seorang penganut Yahudi (Judaisme), ucapkan: Barukh ata Adonai, Eloheinu Melekh ha-Olam, dan kalimat-kalimat do’a lainnya dengan teknik yang sama.

Ini hanya beberapa contoh saja dari berbagai Mantra Swara yang dapat Anda gunakan untuk mengeksplorasi power atau kekuatan suara Anda. Anda bisa menambahnya dengan puji-pujian yang lain, sesuai keyakinan agama Anda.

Namun berdasarkan uraian ini, terjawablah pertanyaan di awal tulisan: mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Mengapa Musa, Yesus, Muhammad, Buddha ,memiliki suara-suara yang penuh keagungan? Karena mereka rajin memuji Tuhan dengan penuh cinta, penuh rasa hormat.

Mereka lantunkan puji-pujian itu dengan suara rendah, khidmat dan dengan napas teratur. Mengapa tidak kita tiru mereka? Melatih suara kita, sambil memuji Tuhan. Dan, Tuhan pun, akan melimpahkan energi positif yang takkan pernah ada habisnya.

Billy Soemawisastra.

[Gambar-gambar diambil dari: lifenspirit-prabhu.blogspot.com; cache.eb.com; emzr.com;www.think-aboutit.com]

Senin, 26 Mei 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Eksplorasi Diri, Mantra Swara | , , , , , , , , , , , , , , | 6 Komentar

Hijrah

Telah terbit rembulan di atas kami
dari arah Tsaniyatil Wada’i.
Kami sampaikan syukur dan puji
atas ajakan yang ia serukan dari Illahi.

Syair berbahasa Arab, yang di kemudian hari dikenal sebagai Shalawat Badr ini, serempak dinyanyikan masyarakat Yatsrib, guna menyambut kedatangan Muhammad ibnu Abdullah dan Abubakar Shiddiq. Berhari-hari, kedua lelaki asal Makkah ini, berkuda dan terkadang berjalan kaki melintasi teriknya padang pasir. Sesekali bersembunyi di balik bukit dan di dalam gua. Bukan sekadar untuk menghindari badai gurun yang ganas, tetapi juga (dan terutama) menghindari para algojo Quraisy yang ditugaskan membunuh Muhammad, Sang Nabi.

Sudah lama penduduk Yatsrib menunggu kedatangan Muhammad. Mereka ingin mendengar langsung, kabar nubuwat Ibnu Abdullah, yang telah lama tersiar di seluruh jazirah. Mereka tahu, penguasa Makkah yang sangat membenci putra Abdullah karena ajaran monoteismenya itu, berniat membunuh Rasulullah. Itu sebabnya mereka pun membuka pintu Yatsrib selebar-lebarnya bagi Muhammad.

gua-hira1.jpg

Bagi penduduk Yatsrib, yang terpecah dalam dua kelompok suku besar: Aus dan Khazraj yang saling berseteru itu, kedatangan Muhammad diharapkan dapat menyatukan mereka. Karena mereka pun pernah mendengar berita bahwa laki-laki Makkah itu berhasil menyatukan Suku Quraisy yang terpecah-belah dalam beberapa kabilah. Sehingga kemudian digelari Al-Amin, atau “orang yang dapat dipercaya”.

Kegembiraan mereka meledak, dan Shalawat Badr pun membahana, ketika akhirnya Muhammad tiba di Yatsrib bersama sahabatnya yang paling setia. Kedatangannnya mereka ibaratkan sinar purnama yang teduh, yang menerangi dan menghangati relung-relung hati mereka. Nama Yatsrib pun kemudian berganti menjadi Madinah, kependekan dari kata madinatul-munawwarah (kota yang bercahaya) dan madinatunnabiy (kota Nabi) atau madinaturrasul (kota Rasul).

Keberangkatan Nabi Muhammad SAW bersama Abubakar Shiddiq, dari Makkah menuju Madinah, yang berlangsung sekitar 13-24 September 622 Masehi itulah, yang kemudian dicatat sejarah sebagai hijratunnabiy atau hijraturrasul. Tujuh belas tahun kemudian, bertahun-tahun setelah wafatnya Muhammad Rasulullah, Khalifah Umar ibnu Khattab mencanangkan peristiwa hijrahnya Sang Nabi, sebagai awal Tarikh (Kalender) Hijriyah, yang dimulai dengan tanggal 1 Muharram.

Sistem penanggalan Kalender Hijriyah, didasarkan pada peredaran lunar (bulan). Berbeda dengan Kalender Masehi yang berpatokan pada sistem peredaran solar (matahari). Orang-orang Arab, juga menamakan Tarikh Hijriyah sebagai Tarikh Qomariyah dan Tarikh Masehi sebagai Tarikh Syamsiyah.

lunar-solar-system.jpg

Karena peredaran bulan mengelilingi bumi lebih singkat daripada peredaran matahari, maka satu tahun Hijriyah lebih pendek 11 hari dibandingkan satu tahun Masehi, meski jumlah bulannya sama-sama 12. Hijriyah 354 hari, Masehi 365 hari. Sehingga dalam satu abad, terdapat selisih sekitar tiga tahun, antara Hijriyah dan Masehi. Yang juga perlu dicatat, walau awal Kalender Hijriyah dimulai dengan tanggal 1 Muharram, peristiwa Hijrah Nabi (jika dihitung mundur) sebenarnya terjadi pada 1 Rabi’ul Awwal.

Pencanangan Kalender Hijriyyah oleh Umar ibnu Khattab, lebih bernilai sosio-kultural dan historis ketimbang religi. Sehingga dalam perayaannya pun, peringatan 1 Muharam tidak semeriah Idul Fitri dan Idul Adha yang kental dengan nilai-nilai ibadah. Jika dibuat peringkat, peringatan 1 Muharam sama peringkatnya dengan peringatan Maulid Nabi. Dengan demikian, tanggal 1 Muharam, mungkin lebih tepat disebut sebagai “Tahun Baru Orang Islam” bukan “Tahun Baru Islam”.

Beberapa ahli sejarah, bahkan menyebut Tarikh Hijriyah sebagai “Kalender Arab-Islam”, untuk memberi ruang adanya kalender orang Islam lainnya di luar Arab. Orang Jawa-Islam misalnya, mempunyai kalender sendiri (paduan antara Tahun Saka dengan Tahun Hijriyah). Sehingga nama-nama bulannya pun agak berbeda. Bulan Muharam menjadi bulan Syuro, bulan Sya’ban menjadi bulan Ruwah, dan lain sebagainya.

Yang bisa dimaknai secara religi adalah peristiwa Hijrah Nabi itu sendiri. Hijrah mengandung makna: perjalanan meninggalkan kesengsaraan menuju kebahagiaan; meninggalkan keputus-asaan menuju optimisme; atau meninggalkan keburukan menuju kebaikan.

John L. Esposito, dalam The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic Word, Volume 2 (Oxford University Press, 1995), melukiskan peristiwa Hijrah Nabi sebagai “penolakan simbolis terhadap rasa putus asa dalam menghadapi penindasan dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama (di Makkah). Sehingga keputusan meninggalkan lingkungan yang menindas menuju lingkungan yang lebih kondusif (Madinah) merupakan pilihan tepat.”

prophets-mosque-full-view-at-night_madena.jpg

Yang lebih menarik untuk dikaji dan diteladani, adalah apa yang dilakukan Muhammad Rasulullah di Madinah bersama para sahabatnya, yang berangsur-angsur ikut berhijrah. Madinah adalah sebuah kota oase yang berpenduduk multi-etnis dan multi-agama. Penduduk aslinya adalah orang Arab dari Suku Aus dan Khajraj yang kemudian masuk Islam, serta Arab-Nasrani dan Arab-Yahudi. Lalu datanglah orang-orang Islam dari Makkah yang disebut Muhajirin (orang-orang yang berhijrah), untuk membedakannya dengan Muslim Madinah yang disebut kaum Anshor (para penolong).

Rasulullah yang bijaksana itu, berdiri di tengah, untuk memelihara kehamonisan dan menyelaraskan keberagaman. Semua penduduk Madinah, baik itu kaum Muhajirin, Anshor, maupun Yahudi dan Nasrani, diberinya hak yang sama, termasuk diberi kebebasan untuk beribadah sesuai keyakinan agamanya masing-masing, dalam perlindungan Sang Rasul. Masing-masing pihak dilarang saling mengganggu.

Rasulullah yang welas asih itu, sangat menghormati perbedaan. Perbedaan dinilainya sebagai rahmat (karunia) Tuhan, karena Islam adalah “rahmat bagi seluruh alam”, yang juga berarti “rahmat bagi seluruh manusia” (dengan segala kebhinekaannya).

Kepada seluruh penduduk Madinah yang multi-etnis dan multi-keyakinan itu, Rasulullah Muhammad SAW berujar: “Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapa pun yang engkau kenal maupun tidak engkau kenal. Kalian belum bisa disebut beriman, sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (Hadis Riwayat Imam Bukhari).

Jadi mengapa kita tidak meneladani Rasulullah yang humanis dan pluralis itu? Yang dilukiskan Al-Barzanji sebagai laki-laki yang gagah, berwajah cerah dan jernih, murah senyum dan senantiasa bertutur lemah lembut. Rasulullah yang Suci dan Disucikan Allah itu sangat membenci anarkisme. Jika kemudian muncul peperangan dalam perjalanan sejarahnya, itu lebih karena untuk membela diri dari musuh-musuhnya yang ingin membunuh Rasulullah dan para pengikutnya.

Akhirul kalam, segala puji hanya buat Allah yang telah mengutus Muhammad. Limpahkanlah shalawat dan salam bagi Rasulullah, serta para kerabat dan sahabatnya. Selamat menyambut tahun baru 1 Muharram 1429 Hijriyah. Semoga kita mampu berhijrah dari kemiskinan menuju kesejahteraan, dari perseteruan menuju keharmonisan, dari kebencian dan kedengkian menuju cinta kasih bagi sesama.

Billy Soemawisastra.

[Tulisan ini juga bisa dilihat pada: www.liputan6.com. Foto: www.biocrawler.com, http://shakabect.files.wordpress.com, http://newsimg.bbc.co.uk, hhtp://ircamera.as.arizona.edu]

Kamis, 10 Januari 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Agama, Refleksi, Wacana | , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar