Kenangan Natal yang Tersisa: Spiritualitas Natal dalam SMS


foto-arthur1Oleh: Arthur J. Horoni

Saya    mendapat 47 SMS ucapan selamat Natal di penghujung Desember 2008 yang baru saja kita lewati. Pesan paling awal, tiba 24 Desember 2008, dari sobatku — tapi kami lebih dekat dan saling menyapa dengan sebutan “saudaraku” — seorang Muslim. Ia menulis,  “Saudaraku, Sang Mesias tak ke mana-mana. Dia senantiasa ada dalam hati manusia. Sang Mesias menghapus dosa para gembalaannya.”

Saya terhenyak. Saudaraku ini paham betul spirit atawa roh Natal: penebusan dan pembebasan dosa umat oleh Sang Mesias. Roh Natal bukan pesta-pora gemerlap rekayasa manusia, namun karya pembebasan umat manusia dari belenggu dosa karena Allah mengasihi manusia dan alam ciptaannya.

Tentu saja saya berterimakasih sungguh atas sapaan saudaraku itu, dan saya jawab dengan mengutip baris-baris puisi Natal Sitor Situmorang: “Menyambut Kristus kita menyambut revolusi, menyambut Kristus kita membangun dunia baru.” Penyair ini melukiskan dengan tepat spirit Natal: perubahan total yang cepat. Seratus delapan puluh  derajat, menuju pemulihan: hubungan kasih dengan Allah dan kasih terhadap sesama untuk membangun dunia baru. Tentu yang lebih berkeadilan, yang membuahkan perdamaian sejati, seraya menghargai alam ciptaan Sang Khalik.

Perdamaian sejati sebagai spirit Natal juga dipesankan saudaraku Muslim yang lain:  ”Selamat Hari Natal.  Semoga kedamaian Natal yang bersemayam di hati kita,  menyebar ke seluruh semesta.”

Ada lagi sobat dari Aceh menulis,  ”Semoga kasih sayang dan karunia Tuhan mengiringi hari-hari bahagia kita semua.” Luar biasa roh Natal yang sejati ini. Ia melintas batas. Ia memperkenankan manusia sebagai ciptaan Allah, untuk menegakkan kasih sayang yang membuahkan keadilan dan perdamaian.

Ada juga petuah yang saya rasakan lebih bernas dari khotbah pendeta yang sudah rutin. Datang dari saudaraku yang anak  Sukabumi.  “Tanpa kita sadari, dalam kepenuhan Allah, segala sesuatu akan menjadi baik dan menjadikan engkau tenang. Alangkah indahnya ketika Kristus masuk dalam hidupmu, melenyapkan semua kekhawatiran.  Semoga Damai Natal mewarnai kehidupan kita dalam menjalankan tugas dan aktivitas sehari-hari.”

Dari sobat-sobat saya yang Kristen, banyak petatah-petitih tentu saja. Syukurlah bukan khotbah. Terasa sebagai cermin akhir tahun yang menyemangati kerja. ”Saat itu Dia lahir di Betlehem. Saat ini Dia lahir di hati kita, untuk Keadilan, Perdamaian  bagi Rakyat dan Bumi.”

Juga ada yang berkelakar nakal, namun menyentuh untuk introspeksi: “Yang membuatmu mahal bukan dari penampilanmu, bukan dari harta yang kamu punya, tapi kamu mahal karena dalam hati dan pikiranmu ada Kristus. Met Natal Yauwww…”

Hahaha … Tentu ini membuat saya tergelak sukacita. Ini spirit  Natal, kabar sukacita yang menumbuhkan pengharapan akan hari depan yang lebih baik.

Spirit Natal ikhwal penebusan, pembebasan, perubahan, kasih, keadilan, perdamaian, belarasa, keutuhan ciptaan dan hari depan, sungguh melintas batas.

Andaikan kita mau mulai mempraktekkan semua itu secara sederhana, kecil-kecilan saja, dengan tidak larut dalam pesta-pora akhir tahun, tidak mabuk belanja, tidak merugikan apalagi merampas milik orang lain, mau berbagi kasih dan keprihatinan, berdamai dengan diri sendiri, mungkin kita mampu menggulirkan perubahan ke arah hari depan yang lebih berpengharapan.

Medan, Awal Januari 2009.

Andaikan Tak Ada Pesta Natal


Oleh: Arthur J. Horoni

Lebih baik, berusahalah supaya keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah kering.

(Amos 5: 21-24)

Oleh krisis global yang melanda dunia saat ini, rakyat Indonesia semakin sengsara. Harga produk pertanian merayap, padahal pupuk mahal, bahkan jadi ajang perselingkuhan pejabat dengan distributor yang tentu mencekik petani. Bayangkan bagaimana nasib petani tak bertanah? Padahal pemerintah menjagokan program ”Ketahanan Pangan”.

petani-di-sawah-kering1

Di sektor industri, bencana tengah menggempur industri tekstil. Permintaan dari Amerika dan Eropa menurun 30-40 %, sekitar 100 ribu dari 1,2 juta buruh di sektor ini akan dirumahkan dan tahun 2009, konon 50% buruh Indonesia atau sekitar 45,5 juta orang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Akan halnya, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias buruh migran lebih menyedihkan lagi. Gelombang PHK telah dimulai di Hongkong, Taiwan, Korea, menyusul Singapura dan Malaysia. Itulah kutuk neoliberalisme yang menjagokan keperkasaan pasar bebas.

Jadi kata kunci adalah: jatuh. Rupiah jatuh, sawit, karet, minyak jatuh. Padi, apalagi dilibas banjir, jatuh. Jagung bibit unggul karena tak ada pupuk jatuh. Alhasil, sokoguru bangsa: petani, buruh dan nelayan (yang tak bisa beli solar mahal), berguguran bagai daun kering terjerembab tak berdaya di tanah tandus. Jatuh sudah. Ajaib memang, pemerintah tak jatuh-jatuh, padahal Semakin Banyak Yang Jadi Korban.

buruh-migran-perempuan

Maka Sempurnalah Penderitaan Rakyat …

Kendati penderitaan rakyat semakin sempurna, renovasi gedung DPR dan rumah pejabat di pusat dan daerah jalan terus. Mobil mewah laku terus. Di sebuah kabupaten di timur nusantara, mobil Rangers Double Cabin, jadi angkutan lapangan eksekutif dan legislatif. Di kelas ini, rasa-rasanya tak ada krisis. Untuk apa pusing-pusing memikirkan rakyat yang selalu diguncang pertanyaan: apa bisa makan hari ini?

Bagi para birokrat, anggota DPR/DPRD, pimpinan parpol dan sebangsanya pertanyaan itu berubah: makan di mana hari ini? Yang serem para investor rakus: makan siapa hari ini? Jadi, sempurnalah penderitaan rakyatmu, tuan dan nyonya besar…

Suara Nabi di Tengah Gurun

Di tengah gurun ketidakadilan ini, di kubangan penderitaan rakyat, umat rindu suara nabi. Kutipan teks dari Nabi Amos di awal tadi kurang digunakan birokrat gereja, namun sungguh popular di kalangan umat yang sengsara. Amos, nabi pertama dalam Alkitab, yang pesannya dicatat secara terperinci. Ia mengritik pejabat kerajaan dan pemuka agama Yahudi yang tak peka atas ketidakadilan. Ia membentak bangsa yang menjadikan ibadah sebagai perayaan-perayaan atau pesta semata tanpa kepedulian atas nasib rakyat. Ibadah seperti itu kata Amos, bakal ditolak Tuhan. Allah, tutur Amos, menghendaki keadilan bergulung-gulung seperti air.

Dari Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja se Dunia (DGD-WCC) di Porto Alegre, Brazil, 2006, terbit sebuah dokumen latar belakang yang “membentak” globalisasi ekonomi yang menjujung neoliberalisme, ekonomi pasar bebas. Dokumen itu berjudul Alternative Globalization Addressing People and Earth. Akronimnya adalah AGAPE, kata dari bahasa Yunani yang berarti Kasih. Dokumen ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia di bawah judul, “Globalisasi Alternatif mengutamakan Rakyat dan Bumi.” Diktum neoliberalisme menurut dokumen ini, “pada dasarnya neoliberalisme mengubah segala sesuatu dan manusia menjadi komoditi. “

Penguasaan neoliberalisme terhadap kekayaan material yang melebihi penghargaan akan harkat dan martabat manusia, membuat manusia diperlakukan tidak selayaknya, mengorbankan kehidupan manusia dan alam demi ketamakan. Buahnya adalah ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan, kelaparan, pengangguran yang melanda bagian terbesar penduduk dunia dan berakibat kepada kematian. Seiring dengan itu masalah-masalah lingkungan hidup semakin meruyak: pemanasan global, penipisan sumber daya alam, terbentuknya gurun hijau (perkebunan sawit yang terlantar karena sawit jatuh) serta hilangnya keanekaragaman hayati.

Di sisi itu, pemerintah dan pengusaha kita adalah birokrat dan kapitalis yang menjadi agen neoliberalisme atau neolib itu. Ada bangunan yang seragam dari Banda Aceh sampai Jayapura sebagai wajah gemilang neolib: mal, ruko dan Swiss Bell Hotel …

Keberanian Melawan Arus

Bagaimana tanggapan gereja-gereja di Indonesia terhadap situasi ini? Pada 1-5 Desember 2008 di Wisma Samadi, Klender, Jakarta, 80 orang pimpinan gereja anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), utusan kaum perempuan dan pemuda, para pelaku ekonomi, politik dan budaya, yang prihatin atas situasi itu terlibat dalam konsultasi Nasional Gereja dan Ágape. Tema Konsultasi, “Tuhan, dalam Rahmat-Mu, Ubahlah Dunia”, dengan subtema, “ AGAPE dari Deklarasi Menjadi Aksi”.

sae-nababan

Peserta Konsutasi Nasional Gereja dan AGAPE, berpose bersama Presiden DGD, Pdt. Dr. SAE Nababan.“Bagi Allah tidak ada yang mustahil”.

(Foto: Dok. Arthur JH/PKM)

Presiden DGD (Dewan Gereja-gereja se-Dunia), Pdt. Dr. SAE Nababan, dalam renungan pada pembukaan konsultasi mengritik gereja yang tidak peduli terhadap ketidakadilan yang berlangsung di tengah masyarakat. Ia menguraikan, ada tiga penyebab sikap ketidakpedulian itu, (1) pengejaran keselamatan jiwa (kesalehan pribadi sebagai warisan pietisme), (2) kuasa tradisi gereja yang membentuk pola pikir dan pola hidup manusia, yang hampir bersifat mutlak, dan (3) keterbatasan pergumulan yang terus-menerus dengan Firman Tuhan di tengah perjalanan hidup. Karena ketidakpedulian ini, kita cenderung menjauhkan diri dari ketidakadilan yang mendera rakyat, tidak berani bersama rakyat menghadapinya dan secara tegas memberitakan, mengusahakan dan menegakkan keadilan bagi semua orang, sebagai kehendak Allah.

Dr. Nababan menegaskan, kerinduan mendalam setiap manusia dan setiap komunitas manusia bahkan setiap bangsa adalah memperoleh keadilan dan perdamaian. Karena hanya dengan adanya keadilan dan perdamaian, kehidupan manusia dapat berkembang sejahtera. “Keduanya tak terpisahkan”, ujarnya. Ia menyatakan kegembiraannya dengan kehadiran peserta konsultasi, walau hanya kelompok kecil. Namun kelompok yang peduli, dan di hadapan Tuhan, kelompok-kelompok kecil ini juga mewakili gereja. Kehadiran dalam konsultasi ini, menurut Nababan, adalah keberanian melawan arus, pada saat kebanyakan orang terpukau, terlena bahkan terbenam arus globalisasi.

Melalui diskusi, penggalian pengalaman, analisis sosial, Ibadah, refleksi teologis, peserta bergumul, menafsirkan ulang teks Alkitab sesuai dengan konteks, membaca kembali secara kritis. Kesadaran yang muncul adalah, gereja sejatinya menjadi komunitas yang transformatif dengan mengembangkan teologi yang berpihak kepada rakyat dan bumi. Untuk itu perlu upaya terus-menerus memampukan gereja menjadi gerakan ketimbang institusi yang berpihak kepada rakyat dan bumi.

Andaikan Tak Ada Pesta Natal

Konsultasi tak bermakna bila tak disusul aksi. Tentu, gereja-gereja atau komunitas Kristiani di negeri ini mampu merumuskan aksi sesuai konteks masing-masing. Kendati begitu, ada sesuatu yang sangat konkret yang dapat dilakukan bersama-sama, kalau mau.

Di pekan-pekan advent, menyongsong natal ini, sebaiknya kita membebaskan diri dari jerat neolib. Misalnya, tak perlu membeli pohon natal serta segala perniknya di mal-mal. Yesus yang lahir dalam kemiskinan kenapa mesti dirayakan dalam kegemerlapan? Kita toh tidak meracik sendiri tema natal dan segala perniknya di rumah kita dengan apa yang ada pada kita. Ada kembang, ada pohon hidup di rumah, dan terutama mempersiapkan hati yang penuh shalom (damai sejahtera).

Pesta Santa Claus atau sinterklas itu sihir neolib, boikot saja. Tak ada gunanya buat kita. Dan coba Anda hitung ongkos pesta natal di negeri ini secara total. Konon orang Kristen anggota jemaat gereja-gereja anggota PGI yang ada 87 sinode itu sekitar 10 juta. Kita hitung secara sederhana, ada sekitar 20 ribu komunitas atau jemaat yang masing-masing 500 orang anggotanya. Biasanya pesta natal setiap jemaat paling sedikit Rp 20 juta misalnya. Berapa uang terkumpul setiap pesta natal? Tak kurang dari Rp 400.000.000.000 (400 milyar rupiah).

Belum lagi natal marga, keluarga, polisi, DPR/D, Parpol, dan seterusnya dan seterusnya. Berapa trilyun uang yang dibuang sia-sia untuk pesta, yang menurut nabi Amos, tak disukai Tuhan? Berapa sekolah dan rumah sakit untuk rakyat bisa dibangun?

Andaikan gereja-gereja bersatu mengembalikan pesta natal kepada situasi natal yang pertama, kita tidak perlu berpesta di tengah semakin sempurnanya penderitaan petani, nelayan dan buruh. Dan kita akan mampu mengatasi neolib …

[Foto-foto: Suara Pembaruan dan Associated Press]

Selamat Hari Natal, Saudaraku


Setiap hari natal tiba, saya selalu teringat pada sahabat saya, kakak saya, guru saya, yang puluhan tahun lalu pernah menjadi teman berbincang di malam-malam yang panjang. Topik perbincangan kami umumnya berkisar di seputar sastra, filsafat dan agama. Atau lebih tepatnya, sastra yang berbau filsafat dan agama, bisa juga agama dari sisi filsafat dan sastra.

Tidak ada rambu-rambu yang kami gunakan dalam berbagai perbincangan itu. Segala sesuatunya berlangsung bebas, lepas tanpa batas. Namanya juga obrolan antar-teman. Tanpa moderator. Tanpa batas waktu. Sehingga sering kami lupa bahwa malam sudah berganti pagi, dan akhirnya kami saling berjanji untuk menyambung obrolan di malam lainnya. Hanya ada dua tempat yang selalu kami gunakan untuk mengobrol, yakni Rumah Makan “Roda” di kawasan Matraman, atau di rumah kontrakan sang sahabat, di Gang Manggis (juga di kawasan Matraman Jakarta Pusat).

Pernah suatu ketika, di rumahnya, sahabat saya itu meminta agar kami menghentikan obrolan sejenak, karena ia ingin mendengarkan secara khusyuk: azan subuh yang dikumandangkan Pak Haji, tetangga sebelah rumahnya. Usai azan ia berkomentar, “Pak Haji tetangga saya itu benar-benar orang suci, sehingga saya selalu tergetar setiap kali mendengar beliau azan atau membacakan ayat-ayat suci Al-Quran.” Lalu ia beranjak ke kamarnya, dan kembali dengan selembar sajadah. “Sholatlah kamu sebelum pulang ke rumah, Bill. Minggu depan kita ketemu lagi untuk menyambung obrolan kita.”

Saya bukan orang Muslim yang rajin sholat. Apalagi sholat subuh yang membutuhkan “perjuangan” untuk menahan kantuk itu. Mungkin sudah beratus atau bahkan beribu subuh saya tidak pernah bersujud di atas sajadah. Tapi kali itu, karena malu dan sekaligus terharu dengan anjuran sang sahabat, saya pun sholat.

Tentu saja saya harus malu, karena orang yang mengingatkan keislaman saya itu, justru seorang Katolik. Seorang calon pastor yang memilih mengabdikan hidupnya untuk mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Sahabat saya, guru saya dan juga kakak saya itu, adalah Dami N. Toda, seorang penyair dan kritikus sastra yang cukup flamboyan di tahun 70-an. Seorang Katolik yang taat, putera seorang tokoh Muhammadiyah di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Menurut Dami, ayahnya adalah seorang pluralis. Ia memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih agama yang mereka yakini. Dami, memilih Katolik, dan sang ayah yang bergelar haji itu justru sering mengingatkan Dami untuk pergi ke gereja setiap Hari Minggu. “Kamu harus konsekuen kalau memilih agama,” kata ayahnya suatu hari. “Karena kamu memilih Katolik, jadilah Katolik yang taat. Sering-seringlah Bunda Maria-mu itu kau kunjungi. Jangan malas beribadah.”

Mungkin karena mewarisi semangat pluralisme sang ayah itulah, Dami N. Toda pun secara tidak langsung mengingatkan saya agar konsekuen dalam beragama. Kalau memilih Islam, jadilah Islam yang taat. Saya jadi ingat ucapan almarhum Romo Dick Hartoko (pendiri majalah Basis), yang seagama dengan Dami N. Toda. “Jadilah kamu orang Indonesia dengan akar Islam-mu, dengan akar Sunda-mu.” Ucapan ini disampaikan Romo Dick, setelah saya mewawancarainya sehubungan dengan buku yang baru diterbitkannya waktu itu: Bianglala Sastra, sekitar awal 80-an.

Saya tidak akan pernah lupa pada Dami N. Toda, yang kini telah berpulang ke haribaanNya. Saya juga tidak akan pernah melupakan ucapan Romo Dick Hartoko, yang hanya sekali saya temui sepanjang hidupnya. Terlebih karena merekalah yang selalu mengingatkan keislaman saya, padahal keduanya Katolik. “Bagi saya, semua orang adalah Katolik, dan kamu juga Katolik, Bill. Semua orang yang menjalani kehidupan berdasarkan kasihNya, adalah Katolik,” ujar Dami N. Toda, suatu hari.

“Bagi saya, Anda juga seorang Islam,” sambut saya. “Islam artinya kedamaian, keselamatan. Islam juga artinya berserah diri kepada Tuhan. Semua orang yang berserah diri padaNya, dan hidup dalam jalan keselamatan dan kedamaian, adalah Islam.” Lalu saya menyitir salah satu ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa Al-Masih beserta para hawariyyun (para rasul pengikut Yesus) adalah orang-orang Islam. Islam dalam ayat ini mengandung arti berserah diri, cinta damai dan selalu mencari jalan keselamatan.

Sahabat Protestan

Saya memang termasuk orang yang paling beruntung, karena saya memiliki sahabat-sahabat Nasrani yang rajin mengingatkan keislaman saya. Selain Dami N. Toda, saya juga punya seorang sahabat Protestan, namanya Arthur John Horoni. Laki-laki kelahiran Sangihe Talaud ini,  pernah menjadi aktivis Yakoma PGI (Yayasan Komunikasi Massa, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) bersama Yapi Tambayong alias Remy Silado. Kini, ia aktif dalam lembaga konsultasi nasional gereja, untuk Dewan Gereja-gereja se-Dunia.

Persahabatan saya dengan Arthur, terjalin sejak saya bergabung dengan Radio ARH (Arief Rachman Hakim) pada tahun 1979. Arthur sudah lebih lama berkiprah di radio perjuangan Angkatan ’66 itu. Jadi dia adalah senior saya, yang mengajari saya banyak hal tentang masalah-masalah broadcasting. Dia juga teman diskusi yang intens mengenai berbagai masalah, termasuk masalah agama.

Arthur cukup rajin mendalami ajaran Islam. Seperti juga saya yang gemar mendalami berbagai ajaran agama di luar agama yang saya anut (karena kebetulan saya pernah bersekolah di fakultas teologi/ushuluddin). Sehingga diskusi-diskusi agama yang berlangsung antara saya dan Arthur, cukup lancar dan mendalam.

Suatu hari saya mengajaknya hadir dalam diskusi agama yang diselenggarakan sebuah organisasi remaja Islam. Dalam diskusi itu terjadi perdebatan fiqhiyyah dan furu’iyyah mengenai rukun wudlu, yang memang berbeda antara mazhab yang satu dengan mazhab lainnya dalam aliran ahlusunnah waljamaah (sunni). Salah satu peserta diskusi yang merasa menjadi pengikut Imam Syafi’i bersikeras bahwa rukun wudlu yang paling benar, adalah rukun wudlu seperti yang diajarkan Mazhab Syafi’i. Perdebatan antara pengikut Syafi’i dengan non-Syafi’i pun semakin tajam dan tak kunjung mencapai titik-temu.

Di tengah diskusi yang sudah berubah menjadi arena debat kusir itu, tiba-tiba saja Arthur, yang non-muslim itu, meminta izin untuk ikut berbicara. Setelah moderator memberinya izin, Arthur pun berujar, “Setahu saya, Imam Syafi’i tidak pernah meminta para pengikutnya untuk taqlid buta terhadap ajaran-ajaran fiqihnya, seperti yang beliau tulis dalam mukadimah Kitab Al-Umm, kitab yang menjadi acuan utama para pengikut mazhab Syafi’i. Di dalam mukadimah itu, Imam Syafi’i meminta agar kita mempelajari kitabnya secara kritis.”

“Bahkan,” lanjut Arthur, “Secara tegas Imam Syafi’i mengatakan, jika isi kitab yang ditulisnya itu lebih banyak mendatangkan mudarat ketimbang manfaat, lemparkan saja kitab itu ke dinding. Jadi mengapa Anda harus bersikeras mengenai hal-hal yang bersifat khilafiyah, bila Imam Syafi’i saja sangat moderat dan terbuka terhadap berbagai pendapat?”

Semua peserta diskusi tertegun. Arthur yang orang Kristen itu ternyata lebih mendalami mazhab Syafi’i ketimbang mereka, yang sebagian besar di antaranya bahkan baru mendengar adanya kitab bernama Al-Umm karangan Imam Syafi’i, sumber hukum fiqh yang dianut sebagian besar Muslim Indonesia.

Satu lagi cerita tentang Arthur, yang tak mungkin saya lupakan. Pada suatu bulan Ramadhan, saya dan beberapa teman yang beragama Islam, menginap di rumahnya. Arthur tahu, kami puasa. Itu sebabnya Arthur mengundang kami untuk berbuka puasa di rumahnya, lalu meminta kami untuk menginap. Waktu itu Arthur masih bujangan, dan sebagai bujangan, ia sering memasak. Tetapi saya tidak tahu kalau malam itu, setelah diskusi panjang hingga tengah malam dan menyuruh kami yang Muslim ini untuk tidur agar tidak kesiangan waktu sahur, Arthur justru sibuk memasak untuk hidangan sahur kami.

Hal itu baru saya ketahui setelah Arthur membangunkan kami sekitar pukul empat dinihari. “Bangunlah, saya sudah menyiapkan makanan sahur untuk kalian, jangan sampai keburu imsak” serunya. Di meja makan, sudah tersedia beberapa jenis makanan hangat, hasil olahan Arthur yang aktivis gereja itu.

Saya bahagia, mempunyai teman-teman Nasrani yang sangat menghormati keislaman saya. Maka saya pun balas menghormati kekristenan mereka. Apalagi setelah saya membaca firman Allah dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 62: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi-in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak satu agama pun yang berhak mengklaim pihaknya paling benar. Bagi Allah, tampaknya tidaklah penting agama apa yang dianut seseorang, karena yang paling penting adalah: beriman (percaya) kepada Allah, percaya akan adanya hari akhir, dan beramal saleh (berbuat kebajikan). Jika kemudian Tuhan “membiarkan” tumbuhnya berbagai agama, tak lain agar semua penganut agama (apapun) saling berlomba berbuat kebaikan, seperti yang termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 148: “Maka berlomba-lombalah kamu dalam (berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Arthur J. Horoni, Dami N. Toda, dan Romo Dick Hartoko, adalah orang-orang saleh, beriman kepada Allah, serta gemar berbuat kebaikan kepada sesama tanpa memandang agama. Yang dilakukan Arthur sekarang, misalnya, aktif dalam gerakan advokasi buruh di Nangroe Aceh Darussalam dan Medan, dan para buruh yang dibelanya, mayoritas beragama Islam.

Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menghargai dan menghormati keyakinan agama mereka, karena mereka pun sangat menghormati keyakinan agama saya. Maka saya pun, selalu mengucapkan Selamat Hari Natal kepada mereka, setiap tanggal 25 Desember. Seperti juga mereka, yang selalu mengucapkan Selamat Idul Fitri, Selamat Idul Adha, dan Selamat  Tahun Baru Hijriyah. Ucapan selamat yang mereka sampaikan kepada saya, bahkan lebih banyak daripada ucapan selamat saya untuk mereka, setiap tahunnya.

Saya pun kecewa, ketika beberapa belas tahun lalu, salah seorang Ulama besar sempat mengeluarkan fatwa yang melarang umat Islam mengucapkan Selamat Hari Natal kepada saudara-saudaranya yang beragama Nasrani, karena khawatir akan mengubah keimanan. Untungnya, tidak begitu banyak umat Islam Indonesia yang mengikuti fatwa tersebut.

Bagi saya, dan mungkin sebagian besar Muslim lainnya, ucapan Selamat Hari Natal  sebenarnya merupakan salah satu manifestasi pelaksanaan seruan untuk berbuat kebaikan kepada sesama, seperti yang diperintahkan Allah, dalam kerangka hablum-minannas (hubungan antar-manusia). Dan, tidak ada satu ayat pun dalam Al-Quran, juga tidak satu pun Hadis Nabi, yang melarang kaum Muslimin mengucapkan Selamat Hari Natal.

Jadi, saya akan selalu mengucapkan Selamat Hari Natal kepada saudara-saudara saya yang beragama Nasrani, disertai do’a: “Semoga cahaya kasih yang ditebarkan Al-Masih, akan selalu menyelimuti Anda sepanjang hayat.”  Atau, “Semoga kedamaian Natal yang bersemayam di hati kita, menyebar ke seluruh semesta.” Mereka pun akan membalas ucapan saya, dengan do’a yang lebih bertuah: “Semoga Anda selalu berada dalam bimbingan dan lindungan Allah (God Bless You).”

Setiap hari Natal tiba, saya selalu kebanjiran do’a.

Akhirulkalam,  Selamat Hari Natal,  Saudaraku.

Billy Soemawisastra

[Foto: www.ourcatholic.com]