<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jagat Alit &#187; Paulo Coelho</title>
	<atom:link href="http://jagatalit.com/tag/paulo-coelho/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jagatalit.com</link>
	<description>Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 15:49:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jagatalit.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5b9d7a5193b11aa3dcc0a9dd2fd8c982?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Jagat Alit &#187; Paulo Coelho</title>
		<link>http://jagatalit.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jagatalit.com/osd.xml" title="Jagat Alit" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jagatalit.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ziarah ke Dasar Diri</title>
		<link>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 17:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Falsafah]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Sukma]]></category>
		<category><![CDATA[Brasil]]></category>
		<category><![CDATA[Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Ksatria Templar]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[Santiago]]></category>
		<category><![CDATA[Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[The Pilgrimage]]></category>
		<category><![CDATA[Ziarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.com/?p=1357</guid>
		<description><![CDATA[Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya, serta Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya). Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, The Pilgrimage, dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1357&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Masih Ingat Paulo Coelho? Pengarang Brasil yang namanya semakin mendunia berkat bukunya <em>The Alchemist, The Zahir, The Fifth Mountain</em>, dan sejumlah buku tenar lainnya. (Untuk lebih lengkapnya silakan baca: </span><a href="http://jagatalit.com/?s=Paulo+Coelho+dan+Perjalanan+Hidupnya" target="_blank"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya</span></a><span style="color:#003366;">, serta </span><a href="http://jagatalit.com/?s=Paulo+Coelho%2C+Sang+Pendekar+Cahaya" target="_blank"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya</span></a><span style="color:#003366;">).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1381" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/coelho-pilgrimage02-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1381" title="coelho-pilgrimage02" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/coelho-pilgrimage021.jpg?w=149&h=225" alt="" width="149" height="225" /></a>Belum lama ini, PT Gramedia Pustaka Utama menerbitkan terjemahan buku Paulo Coelho, <em>The Pilgrimage</em>, dengan judul bahasa Indonesia:  <em>Ziarah</em>. Di negeri asalnya, buku ini diterbitkan pada 1987, bahkan mendahului <em>The Alchemist</em> yang telah lebih dulu populer di Indonesia. <a rel="attachment wp-att-1405" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/ziarah-gramedia-6/"><img class="alignright size-medium wp-image-1405" title="ziarah gramedia" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/ziarah-gramedia5.jpg?w=149&h=225" alt="" width="149" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Ketika Paulo Coelho menerbitkan <em>The Pilgrimage</em> dan <em>The Alchemist</em>, ia nyaris putus asa karena buku-buku tersebut hanya dibaca sedikit orang. Namun setelah terbit novelnya berjudul <em>Brida</em> (yang langsung meledak di pasaran) pada 1990, <em>The Pilgrimage</em> dan <em>The Alchemist</em> ikut terdongkrak, bahkan popularitasnya mengalahkan <em>Brida</em>. Dalam bahasa aslinya (Portugis) novel <em>The Pilgrimage</em> menggunakan judul: <em>O Diario de Um Mago</em> (Catatan Harian Seorang Pesulap).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1384" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/pilgrimage-original/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1384" title="Pilgrimage-original" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/pilgrimage-original.jpg?w=144&h=225" alt="" width="144" height="225" /></a>Meski ada jarak waktu yang cukup jauh (24 tahun) antara penerbitannya dalam bahasa Portugis dengan penerbitannya dalam bahasa Indonesia, pesan-pesan yang disampaikan Paulo Coelho melalui novel <em>The Pilgrimage</em> (<em>Ziarah</em>) masih tetap relevan dengan  kondisi masa kini. Terutama bagi peminat spiritualisme lintas agama, yang dengan sadar meniadakan batas-batas antar-agama walau tetap memeluk agama yang diyakininya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bagi Paulo Coelho sendiri, <em>The Pilgrimage</em> mempunyai arti yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Novel ini merupakan pengalaman pribadinya yang ia tulis setahun setelah melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago. Seperti juga novelnya <em>The Zahir</em>, <em>The Pilgrimage</em> mengungkapkan pencerahan-pencerahan yang ia peroleh pada awal-awal karirnya sebagai penulis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;">Road to Santiago</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Road to Santiago atau Perjalanan Menuju Santiago adalah perjalanan ziarah yang biasa dilakukan umat Kristiani, khususnya penganut Katolik, sejak awal Masehi. Seperti Islam yang mewajibkan segenap umatnya untuk mengikuti Rasulullah Muhammad SAW yang berziarah dari Mekah ke Medinah &#8212; setidaknya sekali dalam seumur hidup, dalam ibadah haji &#8212; umat Kristiani sejak abad pertama Masehi juga dianjurkan menempuh tiga rute peziarahan yang dianggap suci. &#8220;Setiap rute,&#8221; tulis Coelho dalam <em>The Pilgrimage</em>, &#8220;memiliki berkah dan keuntungan tersendiri bagi mereka yang berjalan menempuhnya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1391" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago-map/"><img class="aligncenter size-large wp-image-1391" title="road to santiago map" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-map.jpg?w=350&h=350" alt="" width="350" height="350" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Peta Perjalanan Ziarah menuju Santiago.</em><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan ziarah pertama yang dianjurkan itu adalah perjalanan menuju pusara Santo Petrus di Roma (Vatikan). Para peziarah ke Roma disebut sebagai Pengembara, bersimbolkan salib. Yang kedua, ziarah ke makam suci Yesus Kristus di Yerusalem. Para peziarahnya disebut sebagai Pembawa Daun Palem, karena mereka membawa daun palem yang dulu digunakan orang untuk menyambut Yesus saat memasuki Yerusalem. Dan, yang ketiga, adalah perjalanan ziarah ke makam San Tiago. Orang yang menempuh jalan ini disebut sebagai Peziarah, dengan simbol kulit kerang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">San Tiago adalah salah seorang dari tiga murid Yesus (dua lainnya: Saint Peter dan Saint John) yang menjadi saksi kebangkitan Kristus. Di Inggris, San Tiago dikenal dengan nama Saint James, di Prancis Jacques, di Italia Giacomo, bahasa Latinnya Jacob, dan nama aslinya (dalam bahasa Aramaic) Yaakov ben Zehdi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">San Tiago dimakamkan di suatu tempat di Tanjung Iberia, di daerah Galicia, Barat Daya Spanyol. Menurut legenda, bukan hanya San Tiago yang dimakamkan di sana, tetapi juga Maria Sang Perawan kudus, yang pergi ke sana sesaat setelah kematian Yesus, dan mengajak orang-orang di tempat tersebut untuk bergabung dalam kerajaan Allah. Tempat itu kini dikenal sebagai Compostela, dan makam San Tiago berada di di Katedral Santiago de Compostela. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela, dilakukan Paulo Coelho atas saran seseorang yang misterius, yang pertama kali bertemu dengannya di Dachau, di luar kota Munich, Bayern, Jerman, saat ia bersama isterinya, Christina Oiticica, mengadakan tur keliling Eropa. Orang itu bertemu lagi dengannya di suatu tempat di Amsterdam, dan pada saat itulah orang yang oleh Coelho hanya disebut Jean itu, menganjurkan agar Coelho kembali memperdalam Katolikisme, dan melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, untuk memperoleh pencerahan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1387" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1387" title="Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica</em>.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Namun berbeda dengan latar belakang yang ia ungkapkan dalam kisah sesungguhnya, di dalam novel <em>The Pilgrimage</em>, Coelho menguraikan bahwa keputusannya melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, adalah lantaran perintah dari Sang Guru. Sang Guru meminta Coelho melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago, guna menemukan kembali pedangnya, yang sebenarnya nyaris diperolehnya dalam suatu ritual di salah satu puncak gunung di Brasil.</span></p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/"><img src="http://img.youtube.com/vi/diI2AFjy5BM/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Cuplikan video Paulo Coelho tentang perjalanannya ke Santiago.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Ordo Tradisi</strong><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Cerita diawali dengan upacara inisiasi di sebuah ordo esoterik, yang oleh Coelho disebut sebagai Ordo Tradisi, di suatu tempat bernama Itatiaia, di ketinggian puncak gunung Serra do Mar, yang termasuk dalam rangkaian pegunungan Agulhas Negras (Jarum Hitam) Brasilia. Upacara berlangsung malam hari, 2 Januari 1986.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Upacara itu, selain dihadiri isterinya dan empat orang lainnya (salah satunya  disebut Sang Guru) merupakan upacara penobatan Paulo Coelho untuk menjadi Guru Ordo RAM. Upacara diawali dengan penguburan benda pusaka, sebuah pedang yang sudah lama dimiliki Coelho dan sering digunakannya untuk berbagai ritual gaib.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Usai penguburan pedangnya yang lama, Paulo Coelho dihampiri Sang Guru seraya meletakkan pedang baru di atas tanah tempat pedang lama terkubur. Sang Guru kemudian menghunus pedangnya sendiri lalu menyentuhkan pedang itu ke dahi dan bahu Coelho, sambil berkata, &#8220;Dengan cinta dan kekuatan RAM, aku menahbiskanmu sebagai Guru Kesatria Ordo, sekarang hingga sepanjang hayatmu.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;R untuk <em>Rigor </em>(ketetapan),&#8221; lanjut Sang Guru. &#8220;A untuk <em>Adoration</em> (penyembahan) dan M untuk <em>Mercy </em>(welas asih); R untuk <em>Regnum</em>, A untuk <em>Agnus</em>, dan M untuk <em>Mundi</em>. Jangan biarkan pedangmu lama tersimpan dalam sarungnya, agar tidak berkarat. Dan saat kau menghunus pedangmu, janganlah kau memasukkannya kembali tanpa terlebih dulu menggunakannya untuk kebaikan, membuka jalan baru, atau menumpahkan darah musuh.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho pun kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang baru yang terletak di hadapannya. Namun ketika Coelho menyentuh sarung pedang dan bersiap menggenggamnya, tiba-tiba saja Sang guru menginjak jemarinya, dan dengan nada marah mengatakan bahwa ia belum berhak memiliki pedang itu karena ia sedang diliputi kesombongan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Sang Guru meminta Coelho untuk berjuang kembali melakukan pencarian pedang tersebut mulai dari awal. Dan, melalui isterinya, Sang Guru berpesan agar Coelho membuka peta Spanyol, dan mencari rute perjalanan dari abad pertengahan, yang dikenal dengan Jalan Misterius menuju Santiago.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Masa Pencarian</strong><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Atas desakan isterinya, setelah cukup lama Coelho mempertimbangkan perintah Sang Guru, langkah pencarian pun dimulai. Jalan Misterius menuju Santiago itu terbentang sekitar 700 kilometer, dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis hingga ke Katedral Santiago de Compostela di Spanyol. Perjalanan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, seperti yang dilakukan para peziarah di masa lalu. Tak tanggung-tanggung, ada sejumlah orang besar yang pernah melakukan perjalanan ziarah dengan rute tersebut, di antaranya Karel Agung, Santo Fransiskus dari Asisi, Isabella dari Castille, dan Paus Johannes Paulus XXIII.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1388" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago1/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1388" title="Road-to-Santiago1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago1.jpg?w=300&h=210" alt="" width="300" height="210" /></a><a rel="attachment wp-att-1389" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1389" title="road to santiago2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago2.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><a rel="attachment wp-att-1390" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago3/"><br />
</a><em>Para peziarah berjalan kaki menuju Santiago.</em><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dengan berjalan kaki, tentu saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu bagi para peziarah untuk sampai di tujuan. Kalau sempat, bisa menginap di desa-desa atau kota-kota kecil yang dilewati. Tetapi juga bukan tak mungkin para peziarah kemalaman di tengah hutan, di tengah gurun, bahkan di puncak gunung (karena ada beberapa gunung yang harus dilewati) bila tidak sempat mencapai desa terdekat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Paulo Coelho pun berangkat menuju Saint-Jean-Pied-de-Port, dan menemui Mme Lourdes, seorang perempuan setengah baya, kuncen pintu gerbang menuju rute peziarahan. Dari Mme Lourdes, Coelho memperoleh kulit kerang, sebagai simbol para peziarah menuju Santiago. Namun Coelho bukanlah peziarah biasa yang akan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pemandu.  Coelho, harus ditemani seorang pemandu yang akan menemuinya di suatu tempat. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Singkat cerita, Coelho bertemu dengan sang pemandu, yang belakangan diketahui ternyata seorang disainer ternama dan termasuk orang terkaya di Italia. Ia juga seorang anggota partai komunis Italia dan &#8212; anehnya &#8212; seorang penganut Katolik yang &#8212; tentu saja &#8212; sangat taat. Pemandu itu, yang disebutnya Petrus (untuk menyamarkan nama aslinya) tak hanya bertugas memandu (menunjukkan) rute perjalanan, tetapi juga berfungsi sebagai guru spiritual Coelho, yang akan mengajari Coelho berbagai hal yang bersifat batiniah. Mengarahkan Coelho untuk memandang hidup ini dengan penuh kasih tanpa batas. Penuh optimisme. Tanpa kekhawatiran dan ketakutan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho harus menjalani serangkaian latihan fisik. Terutama tahapan-tahapan latihan RAM, semacam latihan olah nafas dan olah tubuh, guna mengajari tubuh dan jiwa menyatu dengan semesta. Ia bahkan harus menyelam di sungai yang dalam, kemudian naik ke atas air terjun yang sangat membahayakan jiwanya. Coelho tidak boleh membantah perintah sang pemandu, meskipun berlawanan dengan akal sehat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di perjalanan, berkali-kali Coelho bertemu dengan seekor anjing hitam, yang menurut Petrus, adalah jelmaan iblis bernama Legiun. Coelho harus mengalahkan sang iblis yang ada dalam diri anjing itu, sehingga terjadilah pertempuran fisik antar-keduanya. Pertempuran itu dimenangkan Coelho walaupun dengan tubuh yang penuh luka akibat gigitan dan cakaran anjing. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Namun setelah berhasil mengalahkan anjing, iblis Legiun yang semula berada di tubuh binatang tersebut berpindah ke tubuh Coelho. Untungnya Coelho berhasil mengusir iblis itu dari tubuhnya, dan Coelho pun terbebas dari pengaruh iblis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Coelho melukiskan perjalanan menuju Santiago itu dengan sangat detail. Para pembaca diajaknya menyusuri tempat-tempat yang indah. Ladang-ladang gandum yang membentang sepanjang mata memandang, padang-padang pasir yang berdebu, hutan sabana dan stepa, menyusuri pegunungan Pyrenees, mendaki dan menuruni tebing dan lembah. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1392" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/road-to-santiago-5/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1392" title="road to santiago 5" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-5.jpg?w=300&h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Ladang gandum sepanjang mata memandang</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di sepanjang jalan, Petrus sang pemandu selalu mengajaknya berdiskusi tentang segala hal. Mulai dari obrolan-obrolan teologis sampai hubungan antar-manusia. Dalam setiap diskusi yang dilakukannya, Petrus selalu menekankan agar Paulo Coelho berupaya mencapai <em>agape</em>, yakni cinta kasih kepada seluruh manusia, tanpa batas cakrawala.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Berbagai desa disinggahinya, seperti desa Roncesvalles, tempat gereja Collegiate yang didirikan oleh Kaisar Karel Agung berabad-abad silam, atas sumbangan para raja Jerman, Spanyol, Portugal dan Prancis. Kemudian desa Puente de la Rena, tempat sejumlah biarawan Katolik mengabdikan diri. Adapun kota-kota yang dilewatinya antara lain Logrono, Pamplona, Santo Domingo de la Calzada, dan Ponferrada, kota tempat Petrus sang pemandu, akhirnya meninggalkan Coelho.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><a rel="attachment wp-att-1394" href="http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/santiago_de_compostela-2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1394" title="santiago_de_compostela" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/santiago_de_compostela1.jpg?w=300&h=198" alt="" width="300" height="198" /></a></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em>Kathedral Santiago de Compostela</em>.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di Ponferrada, menjelang perpisahannya dengan Coelho, Petrus mengajaknya berbincang-bincang untuk terakhir kali di sebuah stasiun kereta api yang penuh lokomotif dan oli. Mengapa harus di stasiun kereta api? &#8220;Jalan menuju Santiago akan segera berakhir,&#8221; ujar sang pemandu, &#8220;dan karena kehidupan nyata kita lebih mirip jalur kereta api ini, yang berbau oli, daripada pedesaan yang kita jumpai sepanjang perjalanan, lebih baik kita berbincang di sini.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Petrus pun kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai hal yang telah dilalui Paulo Coelho sepanjang perjalanan, dan makna-makna kehidupan yang berada di baliknya. &#8220;Jika kau berhasil mendapatkan pedangmu, kau harus mengajarkan Jalan menuju Santiago ini kepada orang lain. Dan jika hal ini terjadi &#8212; saat kau menerima peranmu sebagai Guru &#8212; kau baru akan menemukan jawaban yang terdapat di hatimu.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Semua orang sebenarnya tahu jawabannya,&#8221; lanjut Petrus, &#8220;bahkan saat belum ada orang memberitahukannya kepada kita. Kehidupan memberikan pengetahuan kepada kita setiap waktu, dan rahasianya adalah menerima bahwa hanya dalam kehidupan sehari-hari saja kita akan mampu sebijak Sulaiman dan seperkasa Iskandar Agung. Namun kita baru akan menyadari hal ini hanya saat kita terpaksa mengajari orang lain dan terlibat dalam petualangan luar biasa seperti sekarang.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Tak lama kemudian Petrus pun pergi meninggalkan Paulo Coelho. Ia hanya sekali saja bertemu lagi untuk terakhir kalinya, di Kastil Ksatria Templar di kota Ponferrada, dalam sebuah ritual. Namun tanpa bertegur sapa. Sejak itu, Coelho melanjutkan perjalanannya sendiri menuju Katedral Santiago de Compostela untuk menemukan pedangnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dalam kesendirian, di sebuah puncak gunung bernama El Cebrero, Coelho semakin menyadari bahwa Perjalanan Ziarah menuju Santiago yang hampir diselesaikannya itu, tak semata untuk mencari pedang. Melainkan untuk merasakan penderitaan dan sekaligus kebahagiaan umat manusia sekecil apapun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Latihan-latihan fisik yang dilaluinya, seperti memindahkan kayu salib yang sangat berat dengan tangan penuh luka. Kemudian mengubur hidup-hidup dirinya di pegunungan dalam kegelapan malam, tak lain untuk merasakan betapa beratnya kehidupan sebagian besar umat manusia, dan betapa dekatnya kematian dalam hidup kita.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di tengah penderitaan itu, betapa banyak manusia yang tetap bersyukur meskipun kebahagiaan yang didapatnya sangat sedikit. Sebagai seorang calon Guru dari Ordo Tradisi, ia mempunyai tugas untuk mengajarkan makna kehidupan dan bagaimana kehidupan itu harus dijalani tanpa ketakutan, seraya menebarkan <em>agape</em>, cinta kasih kepada seluruh umat manusia, kepada seluruh kehidupan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Di keheningan puncak gunung El Cebrero, Paulo Coelho bersimpuh dan berbicara kepada Sang Pencipta: &#8220;Aku berjalan ribuan kilometer untuk menemukan hal yang sebenarnya telah kuketahui jawabannya, hal yang kita semua tahu tapi sangat sulit menerimanya. Apakah ada hal yang lebih sulit, oh Tuhan, dibandingkan dengan mengetahui bahwa kita bisa mendapatkan kekuatan itu? Rasa sakit yang kini mendera dadaku, yang membuat aku tersedu dan anak domba itu ketakutan, sesungguhnya telah dirasakan sejak pertama kali manusia ada di dunia.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">&#8220;Hanya beberapa yang mampu menahan beban kemenangan ini,&#8221; lanjut Coelho, &#8220;kebanyakan merelakan impian mereka saat mereka merasa impian itu dapat terwujud. Mereka menolak untuk bertempur sepenuh tenaga karena mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan kebahagiaan yang mereka raih; mereka terpenjara dalam benda-benda material di dunia. Seperti aku dulu, yang ingin mendapatkan pedangku tanpa tahu apa yang akan kulakukan dengannya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Usai berdo&#8217;a, Coelho bergerak perlahan menuruni lereng menuju sebuah dusun yang juga bernama El Cebrero, bersama anak domba yang sejak tadi menemaninya. Di sana ada sebuah kapel yang kemudian dimasukinya. Di kapel itu, ternyata Sang Guru telah menunggunya di depan altar dengan sebilah pedang di tangan, sambil berseri penuh kebanggaan. Pedang itu, diserahkannya kepada Paulo Coelho, dengan penuh keikhlasan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Perjalanan Coelho sudah selesai dengan diterimanya kembali pedang tersebut. Ia hanya tinggal melaksanakan ritual terakhir yakni berziarah ke makam San Tiago di Katedral Santiago de Compostela. Perjalanan Ziarah menuju Santiago, hakikatnya merupakan perjalanan ziarah ke dasar diri, dan Coelho, telah melakukannya dengan baik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Bagi para penggemar novel-novel <em>thriller</em>, novel-novel Paulo Coelho, termasuk <em>The Pilgrimage</em>, memang akan terasa membosankan, karena isinya merupakan renungan demi renungan. Tetapi bagi para peminat spiritualisme, novel-novel Coelho akan terasa seperti oase di tengah kegersangan padang pasir. Menyejukkan dan melegakan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;">Dan, para peminat spiritualisme ini ternyata semakin meningkat jumlahnya. Terbukti dari selalu larisnya novel-novel spiritual Paulo Coelho. Para penggemarnya berada di seantero dunia, dengan beragam agama.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Billy Soemawisastra</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/1357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=1357&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2011/04/08/ziarah-ke-dasar-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/coelho-pilgrimage021.jpg?w=149" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-pilgrimage02</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/ziarah-gramedia5.jpg?w=149" medium="image">
			<media:title type="html">ziarah gramedia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/pilgrimage-original.jpg?w=144" medium="image">
			<media:title type="html">Pilgrimage-original</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-map.jpg?w=350" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago map</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/paulo-coelho-dan-istrinya-christina-oiticica.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Paulo Coelho dan Istrinya, Christina Oiticica</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Road-to-Santiago1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/road-to-santiago-5.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">road to santiago 5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2011/04/santiago_de_compostela1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">santiago_de_compostela</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-sang-pendekar-cahaya/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-sang-pendekar-cahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:35:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Prominensia]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[The warrior knows that the most important words in all languages are the small words. Yes. Love. God. (Paulo Coelho) Sudah lama saya ingin menulis tentang Paulo Coelho. Tetapi saya tak pernah bisa menentukan, dengan kalimat apa saya harus memulainya. Orang ini “terlalu besar” buat saya. Di usianya yang sudah tergolong tua &#8212; dilahirkan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=519&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-737" title="paulo-coelho-desert-in-the-gulf" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho-desert-in-the-gulf.jpg?w=300&h=225" alt="paulo-coelho-desert-in-the-gulf" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">The warrior knows </span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">that the most important words in all languages</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;"> are the small words. </span></em></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;">Yes. Love. God. </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><em></em><strong><span style="font-family:Georgia;">(</span><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho</span></strong><strong><span style="font-family:Georgia;">)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Sudah lama saya ingin menulis tentang Paulo Coelho. Tetapi saya tak pernah bisa menentukan, dengan kalimat apa saya harus memulainya. Orang ini “terlalu besar” buat saya. Di usianya yang sudah tergolong tua &#8212; dilahirkan di Rio de Janeiro, Brazil, 1947 – ia justru semakin produktif. Sudah belasan novel spiritual yang ditulisnya, dan novel-novel itu telah diterjemahkan ke sekitar 56 bahasa di dunia. Beberapa novel hasil karyanya menjadi <em>best seller</em>s internasional, dan terjual dalam puluhan juta <em>copy</em>. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Jumlah penggemarnya mencapai puluhan juta orang, tersebar di sekitar 150 negara. Novel-novel yang ditulisnya telah memberikan inspirasi bagi puluhan juta pembacanya, karena umumnya berisi renungan tentang kehidupan. Renungan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup, menyiasati takdir, dan berhubungan dengan sesama manusia dengan landasan Cinta. Bahkan lebih jauh dari itu, dalam berbagai novelnya, Paulo Coelho selalu menyiratkan bahwa hidup yang dianugrahkan Tuhan harus senantiasa disyukuri, dengan cara menjalani hidup secara ikhlas dan sebaik-baiknya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Nuansa spiritual yang diwarnai ajaran berbagai agama (terutama agama-agama Timur Tengah), terasa sangat kental dalam novel-novelnya seperti </span></span><em><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">The Alchemist, The </span></span><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> Pilgrimage, The Zahi</span></span></em><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><em>r</em>, dan <em>The Fifth Mountain</em>. Ada juga novel-novel psikologis seperti <em>Brida, Veronika Dicides to Die, Eleven Minutes, The Devil and Miss Prym</em>, atau <em>By the River Piedra I Sat Down and Wept. </em>Kesemua novelnya berisi renungan tentang kehidupan, meski masing-masing novelnya ditulis dengan gaya penuturan dan <em>angle</em> yang berbeda.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="size-medium wp-image-688 aligncenter" title="coelho-lagi3" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi3.jpg?w=300&h=210" alt="coelho-lagi3" width="300" height="210" /><img class="alignnone size-medium wp-image-689" title="paulo-coelho-memanah" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho-memanah.jpg?w=300&h=199" alt="paulo-coelho-memanah" width="300" height="199" /><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tetapi Paulo Coelho bukan “hanya” seorang novelis. Ia juga seorang penutur kebijakan atau pendakwah lintas agama. Dakwah-dakwahnya bisa dilihat melalui berbagai situs <em>online</em> yang ia miliki, seperti </span><span style="font-family:Georgia;"><a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">paulocoelhoblog.com</a> dan <a href="http://www.warriorofthelight.com/">www.warriorofthelight.com.</a> Berikut, salah satu renungan spiritualnya, pada <a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">http://paulocoelhoblog.com</a>:<br />
</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Pilgrimage is a duty in Muslim and Christian religions, do you think that’s the plan of God for human beings to actually travel in their souls? </span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;">We are all on a pilgrimage whether we like it or not and the target, or goal, the real Santiago, if you like, is going from birth to death. You must get as much as you can from the journey, because &#8211; in the end &#8211; the journey is all you have. It doesn’t matter what you accumulate in terms of material wealth, because you are going to die anyway, so why not live? When you realize that you can be brave and that is the first tenant of any spiritual quest &#8211; to take risks.</span></em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Jika Paulo Coelho Blog berisi renungan harian yang di-<em>update</em> setiap hari dengan berbagai isu keseharian, Warrior of the Light berisi renungan yang lebih mendalam dan di-<em>update</em> secara bulanan. Renungan-renungan itu biasanya dilengkapi kutipan ajaran-ajaran spiritual, yang berasal dari khasanah berbagai agama dan kebudayaan, termasuk kata-kata bijak dari para Sufi. Sesuai dengan nama situsnya &#8212; Warrior of the Light atau Pendekar Cahaya &#8212; melalui situs ini Coelho bermaksud mengajak semua orang untuk selalu mencari Cahaya Kebenaran dalam hidupnya. Dan, Cahaya Kebenaran itu, sudah ada tuntunannya dalam berbagai kebudayaan dan agama.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-690" title="coelho1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho1.jpg?w=300&h=200" alt="coelho1" width="300" height="200" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-691" title="coelho3" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho3.jpg?w=300&h=200" alt="coelho3" width="300" height="200" /></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Melalui Warrior of the Light maupun Paulo Coelho Blog, sang mestro ini seakan ingin mengatakan bahwa semua agama hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni mengagungkan Tuhan dan menghormati kehidupan (baik kehidupan diri kita sendiri maupun kehidupan orang lain). Sehingga agama tidak perlu saling dipertentangkan, karena masing-masing memiliki kebenaran (yang hakikatnya, sama). Berikut, salah satu <em>postingan</em> Paulo Coelho, dalam Warrior of the Light, dengan topik <em>The Languanges that God Speaks</em>:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Below are some of those prayers:</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
<strong><span style="font-family:Georgia;">Dhammapada (attributed to Buddha)</span></strong><strong><br />
</strong><strong></strong>Instead of a thousand words,<br />
Better just one,<br />
One that brings peace.<br />
Instead of a thousand verses,<br />
Better just one,<br />
One that shows beauty.<br />
Instead of a thousand songs,<br />
Better just one,<br />
One that spreads joy.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Mevlana Jelaluddin Rumi, 13th century</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
Out there, besides what is right and what is wrong, there is an enormous field.<br />
That is where we will meet.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Prophet Mohammed, 7th century</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
<strong></strong></span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;">Oh Allah! I come to you because you know all, even what is hidden.<br />
If what I am doing is good for me and my religion, for my life now and later, then let the task be easy and blessed.<br />
If what I am doing now is bad for me and my religion, for my life now and later, then keep me far from this task.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Jesus of Nazareth, Matthew 7;7-8</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
Ask, and it shall be given you;<br />
seek and you shall find;<br />
knock, and it shall be opened unto you:<br />
For every one that asks receives;<br />
and he that seeks finds:<br />
And to him that knocks,<br />
it shall be opened.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Jewish prayer for peace</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"> We shall go the mountain of the Lord, where we shall walk with Him. We shall change our swords into plows and our spears into baskets for harvesting fruit.<br />
Let no nation raise its sword against another, and let us never learn the art of war. And no-one should fear his neighbor, because thus spoke the Lord.</span></em></span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#333399;"><strong><em><span style="font-family:Georgia;">Lao Tsu, China – 6th century B.C.</span></em></strong><em><span style="font-family:Georgia;"><br />
For there to be peace in the world, the nations must live in peace.<br />
For there to be peace among nations, cities must not rise up against one another. For there to be peace in the cities, neighbors must get on well with one another. For there to be peace among neighbors, harmony must reign in the home. For there to be harmony at home, it must be found in your own heart.</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><em><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-full wp-image-686" title="warrior-of-the-light-online" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/warrior-of-the-light-online.jpg?w=470" alt="warrior-of-the-light-online"   /></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho, tampaknya sangat menyadari keampuhan media internet. Sehingga ia pun memanfaatkan jaringan sosial <em>online</em> seperti Facebook. Di Facebook, ia bisa ditemui melalui <a href="http://www.facebook.com/home.php?#/group.php?gid=2391842607" target="_blank">Paulo Coelho Fans Club</a>, halaman khusus <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=5383259567#/pages/Paulo-Coelho/11777366210" target="_blank">Paulo Coelho</a> dan <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=5383259567" target="_blank">The Best of Paulo Coelho</a>. Meski jaringan ini dikelola oleh para penggemarnya, Coelho sering pula menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan para penggemarnya melalui Facebook. Induk dari semua situs milik Paulo Coelho, adalah <a href="http://www.paulocoelho.com/">www.paulocoelho.com</a>. Tentu saja Coelho tidak sendirian mengelola situs-situsnya. Ada pekerja khusus yang menanganinya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Melalui situs-situs tersebut, kita juga bisa mengetahui kegiatan harian sang maestro. Jadwalnya sangat padat. Hampir setiap hari, Coelho memberikan ceramah di berbagai negara. Ceramah-ceramahnya bisa diakses melalui <a href="http://www.paulocoelho.com.br/engl/index.html" target="_blank">You Tube</a>, dan foto-fotonya bisa diunduh melalui <a href="http://www.paulocoelho.com.br/engl/index.htm" target="_blank">www.flickr.com</a>. Termasuk kata-kata bijaknya yang dikemas dalam format JPEG. Selain dalam bahasa Inggris, situs-situs ini tersedia dalam bahasa-bahasa lainnya seperti Portugis, Spanyol, Itali, Prancis, Belanda, Jerman, Polandia, Arab, Rusia, Cina, Persia. Sayangnya, belum ada yang berbahasa Indonesia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-741" title="coelho-lagi1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi1.jpg?w=470" alt="coelho-lagi1"   /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho, tidak hanya bicara soal cinta dan kemanusiaan. Anjuran-anjurannya kepada semua orang agar peduli pada nasib sesama, juga diwujudkan dalam bentuk kongkret. Pada 1996, ia mendirikan Paulo Coelho Intitute. Sebuah lembaga nirlaba yang juga bernama Creche Escola Meninos da Luz, Lar Paulo de Tarso. Lembaga sosial yang berpusat di Rio de Janeiro, Brazil, itu menampung dan menghidupi ratusan anak terlantar dan orang-orang lanjut usia, hingga sekarang. Biaya pengelolaannya berasal dari <em>royalties</em> buku-buku yang ditulis Paulo Coelho. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-full wp-image-694" title="coelho-institute2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-institute2.jpg?w=470" alt="coelho-institute2"   /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Dalam usianya yang semakin tua, Paulo Coelho tampaknya tak pernah kehabisan gagasan. Semangat hidupnya semakin tinggi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang selalu diajaknya untuk menjadi pendekar cahaya, pencari kebenaran. Sementara bagi orang-orang yang tidak mampu, Coelho berupaya membantu mereka agar dapat melihat cahaya kehidupan. Cahaya yang dianugerahkan Sang Pencipta. Berlebihankah saya, bila saya mengatakan bahwa Paulo Coelho adalah seorang Sufi modern?</span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;">Billy Soemawisastra</span></strong></span></p>
<h5 style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><strong><span style="font-family:Georgia;"><span style="color:#003366;"><em>[Sumber tulisan dan foto:<a href="http://www.paulocoelho.com/" target="_blank"> www.paulocoelho.com</a>, <a href="http://www.warriorofthelight.com/" target="_blank">www.warriorofthelight.com</a>, <a href="http://paulocoelhoblog.com/" target="_blank">paulocoelhoblog.com</a>]</em></span></span></strong></span></h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=519&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-sang-pendekar-cahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho-desert-in-the-gulf.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-coelho-desert-in-the-gulf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-lagi3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho-memanah.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-coelho-memanah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/warrior-of-the-light-online.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">warrior-of-the-light-online</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-lagi1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-institute2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-institute2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-dan-perjalanan-hidupnya/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-dan-perjalanan-hidupnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Prominensia]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Pluralisme]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Brazil, negeri bekas jajahan Portugis di Amerika Selatan itu, hanyalah sebuah negara berkembang. Dan, sebagaimana umumnya negara berkembang, kegiatan tulis-menulis alias kesastraan, taklah mampu menopang hidup para sastrawannya. Apatah lagi membuat seorang sastrawan menjadi kaya raya dari hasil karyanya. Puluhan tahun lalu, masyarakat Brazil pun bahkan mungkin tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang sastrawan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=680&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Brazil, negeri bekas jajahan Portugis di Amerika Selatan itu, hanyalah sebuah negara berkembang. Dan, sebagaimana umumnya negara berkembang, kegiatan tulis-menulis alias kesastraan, taklah mampu menopang hidup para sastrawannya. </span></span><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Apatah lagi membuat seorang sastrawan menjadi kaya raya dari hasil karyanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> Puluhan tahun lalu, masyarakat Brazil pun bahkan mungkin tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang sastrawan yang tersohor ke seantero jagat, dan ikut mengharumkan nama negerinya. Apalagi sastrawan yang namanya kini mendunia itu, pernah dikenal sebagai &#8220;anak nakal&#8221; pencandu mariyuana dan anggota kaum urakan alias hippies. Ia pun pernah dipenjara karena dianggap menentang pemerintah.<br />
</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Anak nakal itu bernama Paulo Coelho, yang sempat dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena dikira terkena ganguan mental. Padahal di dalam diri anak itu, terpendam bakat yang sangat kuat. Bakat seni yang menuntunnya menjadi penyair, pemain teater dan penulis lirik lagu. Ia pun mencoba menulis novel, namun  novel-novel awal yang ditulisnya tidak mendapat sambutan masyarakat, hingga ia pun sempat frustrasi. Barulah setelah novelnya, <em>The Alchemist</em>, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjadi novel terlaris, nama Paulo Coelho melejit menjadi salah seorang novelis paling terkenal di tingkat dunia, dan membuat bangga masyarakat Brazil.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-712" title="coelho_santiago" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho_santiago.jpg?w=300&h=201" alt="coelho_santiago" width="300" height="201" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Paulo Coelho dilahirkan di tengah sebuah keluarga kelas menengah, di Rio de Janeiro, Brazil, 1947. Ayahnya, Pedro, adalah seorang insiyur, dan ibunya, Lygia, seorang ibu rumah tangga. Pada usia 7 tahun, Paulo dimasukkan ke sekolah Jesuit San Ignacio, Rio de Janeiro. Bakat menulisnya sudah terlihat di sekolah ini. Ia sering menulis puisi dan esei sastra, hingga ia pun memenangkan juara pertama dalam lomba penulisan puisi di sekolahnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Pedro dan Lygia tidak begitu bergembira dengan prestasi Paulo di bidang tulis-menulis. Kedua orangtua ini mencita-citakan anaknya menjadi insinyur, mengikuti jejak sang ayah. Melihat perilaku Paulo yang berbeda dari anak-anak lainnya,  Pedro dan Lygia khawatir putranya terkena gangguan mental. Pada usia 17 tahun, dua kali ia dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa untuk mendapatkan terapi psikiatri. Hasilnya, ia dinyatakan sehat secara mental.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tidak lama kemudian ia aktif  di teater, dan bekerja sebagai wartawan. Lagi-lagi orangtua Paulo gundah. Di kalangan masyarakat kelas menengah Brazil, ketika itu, teater dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bermoral. Untuk ketiga kalinya, Pedro dan Lygia membawa Paulo ke dokter jiwa, dan psikiater yang memeriksanya, dengan tegas mengatakan bahwa Paulo Coelho tidak menderita gangguan mental.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="alignleft size-medium wp-image-717" title="veronika" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/veronika.jpg?w=199&h=300" alt="veronika" width="199" height="300" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Apa yang dilakukan orangtuanya justru membuat Paulo depresi. Ia merasa kehidupan pribadinya terlalu jauh dicampuri. Pengalaman batinnya ini ia tuangkan 13 tahun kemudian, ke dalam sebuah novel yang diterbitkan di Brazil, 1988, <em>Veronika Decides to Die</em>. “Saya mendapatkan lebih dari 12.000 email,” ujar Coelho. “Berisi pengakuan bahwa apa yang saya tuangkan dalam novel itu, punya banyak kemiripan dengan pengalaman mereka.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tahun 1960-an, adalah era <em>flower generation</em>. Kehidupan hippies mewabah di seluruh dunia. Termasuk di Brazil.  Paulo, yang baru menginjak  usia 20-an dan gemar bertualang itu menyemplungkan diri ke dalam kehidupan kaum hippies. Ia memanjangkan rambutnya, dan sempat pula menjadi pencandu obat terlarang. Kegiatan berteaternya semakin meningkat, dan hobi menulisnya semakin menjadi-jadi. Pernah ia mencoba menerbitkan majalah, namun hanya tahan dua terbitan. Sementara itu, ia <em>drop out</em> dari sekolah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Awal 1970-an, atas ajakan Raul Seixas, seorang musisi dan <em>composer</em> Brazil, Paulo menulis lirik lagu. Lagu-lagu yang liriknya dibuat oleh Paulo Coelho, banyak yang menjadi <em>top hit</em> di Brazil. Bahkan salah satu album rekaman lagu-lagunya, terjual sebanyak 500 ribu keping piringan hitam. Itulah awal dirinya mengenal uang dalam jumlah besar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Kerja sama Paulo Coelho dengan Raul Seixas berlanjut hingga 1976. Selama itu lebih dari 60 lagu ditulisnya bersama Raul. Pada masa itu pula Paulo dan Raul aktif dalam pergerakan memperjuangkan kebebasan berpendapat. Di antaranya dengan menerbitkan buku-buku komik berjudul <em>Kring-ha</em>, sebagai sindiran atas tindakan represif pemerintah Brazil terhadap rakyatnya. Akibatnya Paulo dan Raul pun dipenjara dengan tuduhan  subversif. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Selepas dari penjara, Paulo Coelho mendapatkan pekerjaan tetap di perusahaan rekaman Polygram, dan menikah dengan isteri pertamanya. Tahun 1977, ia pindah ke London, mencoba mengadu nasib sebagai penulis, namun tak banyak mendatangkan hasil. Ia pun kembali ke Brazil, dan bekerja di perusahaan rekaman lainnya, CBS. Namun kehidupan rumah tangganya porak-poranda.  Ia pun bercerai dari isteri pertamanya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tahun 1979, ia berjumpa teman lamanya, Christina Oiticica, yang kemudian dinikahinya hingga sekarang. Setelah menikah, pasangan suami-isteri ini mengadakan perjalanan keliling Eropa. Singgah di berbagai negara. Di Jerman, ketika ia berkunjung ke bekas kamp konsentrasi di Dachau, Paulo mengaku bertemu dengan orang misterius yang menyampaikan visi tentang masa depannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Dua bulan kemudian, di sebuah café di Amsterdam, ia berjumpa orang yang sama. Kali ini ia mengobrol cukup lama dengan orang yang tidak disebutkan jatidirinya itu. Orang itu menganjurkan agar Paulo kembali memperdalam Katolikisme, dan mempelajari simbol-simbol Kristiani. Orang itu juga menganjurkan agar perjalanan Paulo Coelho dilanjutkan dengan menelusuri Road to Santiago (rute perjalanan ziarah abad pertengahan, yang membentang antara Prancis dan Spanyol). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="alignleft size-medium wp-image-714" title="the-pilgrimage" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/the-pilgrimage.jpg?w=198&h=300" alt="the-pilgrimage" width="198" height="300" />Paulo pun mengikuti anjuran orang tersebut. Ia  melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago, pada 1986. Setahun kemudian, pengalamannya itu ia tuangkan dalam novel berjudul, <em>The Pilgrimage</em>. Buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit kecil di Brazil, dan tidak banyak memperoleh sambutan. Tahun 1988, ia mencoba menulis novel yang sama sekali berbeda dari novel sebelumnya, <em>The Alchemist</em>. Sebuah novel yang penuh metapora dan simbol-simbol kehidupan, dipadu dengan pengetahuannya tentang ilmu kimia, yang pernah ia pelajari selama 11 tahun. Buku ini pun ternyata tidak memperoleh sambutan yang memuaskan. Edisi pertamanya hanya terjual 900 eksemplar, dan penerbitnya tidak mau lagi mencetak ulang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"> <img class="alignright size-medium wp-image-715" title="alchemist" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/alchemist.jpg?w=198&h=300" alt="alchemist" width="198" height="300" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tetapi ternyata masih ada kesempatan kedua. Tahun 1990, sebuah penerbit buku yang cukup besar, Rocco, menerbitkan novelnya, <em>Brida</em>. Sebuah novel tentang cinta dan pengorbanan, yang kemudian laris terjual. Kesuksesan Coelho dengan <em>Brida</em>, membuat para pembaca melirik kembali dua novel yang pernah terbit sebelumnya, <em>The Alchemist</em> dan <em>The Pilgrimage</em>. Tak dinyana, kedua novel itu berhasil menjadi <em>best sellers,</em> dan justru mengalahkan popularitas <em>Brida</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Sambutan terhadap <em>The Alchemist</em>, tidak hanya terbatas pada pembaca Brazil. Beberapa penerbit dari negara lain tertarik untuk menerjemahkan dan menerbitkannya di negara masing-masing. Novel yang semula ditulis dalam bahasa Portugis itu, kemudian muncul dalam berbagai bahasa. <em>The Alchemist</em> dan <em>The Pilgrimage</em> menjadi buku yang paling banyak dicetak ulang di Brazil dan Portugis, dan bahkan kemudian di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Guinnes Book of Records  pun mencatat <em>The Alchemist</em>, sebagai buku yang paling laris di dunia dan  buku yang paling banyak diterjemahkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><em><img class="alignleft size-medium wp-image-768" title="brida2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/brida2.jpg?w=185&h=300" alt="brida2" width="185" height="300" />The Alchemist, </em>yang kemudian menjadi maskotnya Paulo Coelho, sedikitnya telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa, dan dibaca di 150 negara. Kesuksesan Paulo Coelho dengan <em>The Alchemist</em>-nya, terus berlanjut pada buku-buku novel berikutnya, yang juga diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan dibaca di banyak negara. Di Indonesia, kini bahkan dengan mudah kita bisa menemukan karya-karya Paulo Coelho versi bahasa Indonesia di berbagai toko buku, yang umumnya diterbitkan oleh penerbit Gramedia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Bukan hanya <em>The Alchemist</em>, yang semakin laris. Tetapi juga buku-buku Paulo Coelho lainnya seperti <em>The Zahir, Fifth Mountain, Eleven Minutes, By The River Piedra I Cry and I swept, The Devil and Miss Prym</em>, serta buku-buku lainnya. Ada juga <em>The Warrior of The Light</em>, sebuah buku berisi esei tentang kehidupan, cinta dan Tuhan. Sayangnya buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan versi cetak dari website <a href="http://www.warriorofthelight.com/">www.warriorofthelight.com</a>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="size-medium wp-image-719 alignnone" title="the-zahir" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/the-zahir.jpg?w=185&h=300" alt="the-zahir" width="185" height="300" /><img class="size-medium wp-image-721 alignnone" title="11-minutes" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/11-minutes.jpg?w=197&h=300" alt="11-minutes" width="197" height="300" /><img class="size-medium wp-image-722 alignnone" title="river-piedra" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/river-piedra.jpg?w=189&h=281" alt="river-piedra" width="189" height="281" /><img class="size-medium wp-image-723 alignnone" title="the-devil-and-miss-prym" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/the-devil-and-miss-prym.jpg?w=193&h=284" alt="the-devil-and-miss-prym" width="193" height="284" /><img class="size-medium wp-image-724 aligncenter" title="warrior-of-the-light" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/warrior-of-the-light.jpg?w=199&h=300" alt="warrior-of-the-light" width="199" height="300" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tahun 2000, Paulo Coelho berkunjung ke Iran. Ia merupakan penulis non-Muslim pertama sejak 1979, yang melakukan kunjungan resmi ke Iran. Ia datang ke negeri itu atas undangan  The International for Dialogue Among Civilizations. Semula ia merasa pesimis dan khawatir bahwa masyarakat Iran akan menyambutnya dengan sikap dingin, karena ia seorang penulis non-Muslim. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Tetapi kenyataan yang ditemuinya, justru sebaliknya.  Ia tak hanya disambut dengan penuh kehangatan, namun juga memperoleh <em>royalties</em> yang cukup besar dari pemerintah Iran, atas buku-bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan dibaca secara luas oleh masyarakat Iran. Paulo Coelho pun menjadi pengarang non-Muslim pertama, yang mendapatkan <em>royalties</em> hak cipta dari pemerintah Iran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-725" title="coelho-lagi2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi2.jpg?w=300&h=199" alt="coelho-lagi2" width="300" height="199" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Ribuan penggemarnya di Iran berbondong-bondong untuk memperoleh tanda tangan Paulo Coelho, dan mendengarkan ceramahnya. Paulo Coelho tidak pernah membayangkan dirinya akan memperoleh sambutan yang luar biasa, di negeri berpenduduk mayoritas Muslim itu. “Saya telah memperoleh banyak penghargaan. Saya telah memperoleh banyak cinta. Tetapi di atas semua itu, saya memperoleh banyak pengertian dari Anda semua atas karya-karya saya, dan semua ini sangat menyentuh lubuk hati saya terdalam,” ujar Coelho, dengan penuh haru.<br />
</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">“Sungguh merupakan kejutan yang sangat besar bagi saya,” lanjut Coelho. “Jiwa saya telah datang ke sini sebelum diri saya. Buku-buku saya telah dipersembahkan dan saya menemukan teman-teman lama di antara orang-orang yang tidak pernah saya kenal sebelum ini. Sehingga saya pun  tidak merasa menjadi orang asing di negeri ini. Saya merasakan kebahagiaan yang amat sangat, dan kini saya percaya bahwa dialog antar-manusia, dari hati ke hati, bisa dilakukan di mana pun. Iran telah membuktikan hal itu.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><img class="size-medium wp-image-726 aligncenter" title="paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdes" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdes.jpg?w=300&h=202" alt="paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdes" width="300" height="202" /><img class="alignnone size-medium wp-image-727" title="coelho-dan-para-penggemarnya" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-dan-para-penggemarnya.jpg?w=300&h=205" alt="coelho-dan-para-penggemarnya" width="300" height="205" /><br />
</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Penghargaan pemerintah dan masyarakat Iran terhadap Paulo Coelho, membuktikan bahwa penulis besar ini bisa diterima semua kalangan, karena karya-karyanya yang universal dan menyuarakan kemanusiaan. Terutama juga karena spirit pluralisme yang dimilikinya, yang memandang dunia ini sebagai dunia yang penuh keragaman. Ini tercermin dari tulisan-tulisannya yang sering mengacu pada berbagai ajaran agama dan kebudayaan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Cukup banyak penghargaan yang telah didapatkan Paulo Coelho, dari berbagai lembaga di dunia. Dan, jutaan dollar telah diraihnya dari hasil penjualan buku-bukunya, sehingga ia pun berada dalam jajaran para penulis terkaya di dunia. Tetapi sebagian harta yang didapatnya, ia hibahkan untuk membantu masyarakat miskin di negerinya. Ia juga tak pernah berhenti mengajak semua orang untuk terus menjalin saling pengertian, agar tercipta dunia yang damai bagi semua. Itu sebabnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun memintanya menjadi Duta PBB untuk perdamaian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;">Billy Soemawisastra</span></span></strong></p>
<h5 class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="color:#003366;"><span style="font-family:Georgia;"><em>[Sumber tulisan dan foto: <a href="http://www.paulocoelho.com/" target="_blank">www.paulocoelho.com</a>]</em></span></span></strong></h5>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/680/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=680&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/12/09/paulo-coelho-dan-perjalanan-hidupnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho_santiago.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho_santiago</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/veronika.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">veronika</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/the-pilgrimage.jpg?w=198" medium="image">
			<media:title type="html">the-pilgrimage</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/alchemist.jpg?w=198" medium="image">
			<media:title type="html">alchemist</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/brida2.jpg?w=185" medium="image">
			<media:title type="html">brida2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/the-zahir.jpg?w=185" medium="image">
			<media:title type="html">the-zahir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/11-minutes.jpg?w=197" medium="image">
			<media:title type="html">11-minutes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/river-piedra.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">river-piedra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/the-devil-and-miss-prym.jpg?w=204" medium="image">
			<media:title type="html">the-devil-and-miss-prym</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/warrior-of-the-light.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">warrior-of-the-light</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-lagi2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdes.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-dan-para-penggemarnya.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-dan-para-penggemarnya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Renungan Paulo Coelho</title>
		<link>http://jagatalit.com/2008/12/09/beberapa-renungan-paulo-coelho/</link>
		<comments>http://jagatalit.com/2008/12/09/beberapa-renungan-paulo-coelho/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:13:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Billy Soemawisastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eksplorasi Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Paulo Coelho]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jagatalit.wordpress.com/?p=696</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=696&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-697 aligncenter" title="coelho-lagi5" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi5.jpg?w=470" alt="coelho-lagi5"   /></p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-698" title="renungan-coelho11" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho11.jpg?w=301&h=301" alt="renungan-coelho11" width="301" height="301" /></p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-699 aligncenter" title="renungan-coelho2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho2.jpg?w=303&h=303" alt="renungan-coelho2" width="303" height="303" /><img class="size-medium wp-image-700 aligncenter" title="renungan-coelho3" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho3.jpg?w=301&h=301" alt="renungan-coelho3" width="301" height="301" /><img class="size-medium wp-image-701 aligncenter" title="paulo-coelho2" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho2.jpg?w=301&h=414" alt="paulo-coelho2" width="301" height="414" /><img class="size-medium wp-image-702 aligncenter" title="renungan-coelho4" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho4.jpg?w=301&h=301" alt="renungan-coelho4" width="301" height="301" /><img class="aligncenter size-full wp-image-703" title="renungan-coelho5" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho5.jpg?w=470" alt="renungan-coelho5"   /><img class="size-full wp-image-705 alignnone" title="renungan-coelho61" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho61.jpg?w=470" alt="renungan-coelho61"   /><img class="aligncenter size-full wp-image-706" title="renungan-coelho7" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho7.jpg?w=470" alt="renungan-coelho7"   /><img class="aligncenter size-medium wp-image-707" title="paulo-coelho1" src="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho1.jpg?w=301&h=406" alt="paulo-coelho1" width="301" height="406" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jagatalit.wordpress.com/696/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jagatalit.wordpress.com/696/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jagatalit.com&#038;blog=2185836&#038;post=696&#038;subd=jagatalit&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jagatalit.com/2008/12/09/beberapa-renungan-paulo-coelho/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b9e9e8a3e93a2a924ada8d35974d97c9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Billy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/coelho-lagi5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coelho-lagi5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho2.jpg?w=219" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-coelho2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho61.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho61</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/renungan-coelho7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">renungan-coelho7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jagatalit.files.wordpress.com/2008/12/paulo-coelho1.jpg?w=222" medium="image">
			<media:title type="html">paulo-coelho1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
