Andaikan Tak Ada Pesta Natal
Oleh: Arthur J. Horoni
Lebih baik, berusahalah supaya keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah kering.
(Amos 5: 21-24)
Oleh krisis global yang melanda dunia saat ini, rakyat Indonesia semakin sengsara. Harga produk pertanian merayap, padahal pupuk mahal, bahkan jadi ajang perselingkuhan pejabat dengan distributor yang tentu mencekik petani. Bayangkan bagaimana nasib petani tak bertanah? Padahal pemerintah menjagokan program ”Ketahanan Pangan”.

Di sektor industri, bencana tengah menggempur industri tekstil. Permintaan dari Amerika dan Eropa menurun 30-40 %, sekitar 100 ribu dari 1,2 juta buruh di sektor ini akan dirumahkan dan tahun 2009, konon 50% buruh Indonesia atau sekitar 45,5 juta orang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Akan halnya, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias buruh migran lebih menyedihkan lagi. Gelombang PHK telah dimulai di Hongkong, Taiwan, Korea, menyusul Singapura dan Malaysia. Itulah kutuk neoliberalisme yang menjagokan keperkasaan pasar bebas.
Jadi kata kunci adalah: jatuh. Rupiah jatuh, sawit, karet, minyak jatuh. Padi, apalagi dilibas banjir, jatuh. Jagung bibit unggul karena tak ada pupuk jatuh. Alhasil, sokoguru bangsa: petani, buruh dan nelayan (yang tak bisa beli solar mahal), berguguran bagai daun kering terjerembab tak berdaya di tanah tandus. Jatuh sudah. Ajaib memang, pemerintah tak jatuh-jatuh, padahal Semakin Banyak Yang Jadi Korban.

Maka Sempurnalah Penderitaan Rakyat …
Kendati penderitaan rakyat semakin sempurna, renovasi gedung DPR dan rumah pejabat di pusat dan daerah jalan terus. Mobil mewah laku terus. Di sebuah kabupaten di timur nusantara, mobil Rangers Double Cabin, jadi angkutan lapangan eksekutif dan legislatif. Di kelas ini, rasa-rasanya tak ada krisis. Untuk apa pusing-pusing memikirkan rakyat yang selalu diguncang pertanyaan: apa bisa makan hari ini?
Bagi para birokrat, anggota DPR/DPRD, pimpinan parpol dan sebangsanya pertanyaan itu berubah: makan di mana hari ini? Yang serem para investor rakus: makan siapa hari ini? Jadi, sempurnalah penderitaan rakyatmu, tuan dan nyonya besar…
Suara Nabi di Tengah Gurun
Di tengah gurun ketidakadilan ini, di kubangan penderitaan rakyat, umat rindu suara nabi. Kutipan teks dari Nabi Amos di awal tadi kurang digunakan birokrat gereja, namun sungguh popular di kalangan umat yang sengsara. Amos, nabi pertama dalam Alkitab, yang pesannya dicatat secara terperinci. Ia mengritik pejabat kerajaan dan pemuka agama Yahudi yang tak peka atas ketidakadilan. Ia membentak bangsa yang menjadikan ibadah sebagai perayaan-perayaan atau pesta semata tanpa kepedulian atas nasib rakyat. Ibadah seperti itu kata Amos, bakal ditolak Tuhan. Allah, tutur Amos, menghendaki keadilan bergulung-gulung seperti air.
Dari Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja se Dunia (DGD-WCC) di Porto Alegre, Brazil, 2006, terbit sebuah dokumen latar belakang yang “membentak” globalisasi ekonomi yang menjujung neoliberalisme, ekonomi pasar bebas. Dokumen itu berjudul Alternative Globalization Addressing People and Earth. Akronimnya adalah AGAPE, kata dari bahasa Yunani yang berarti Kasih. Dokumen ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia di bawah judul, “Globalisasi Alternatif mengutamakan Rakyat dan Bumi.” Diktum neoliberalisme menurut dokumen ini, “pada dasarnya neoliberalisme mengubah segala sesuatu dan manusia menjadi komoditi. “
Penguasaan neoliberalisme terhadap kekayaan material yang melebihi penghargaan akan harkat dan martabat manusia, membuat manusia diperlakukan tidak selayaknya, mengorbankan kehidupan manusia dan alam demi ketamakan. Buahnya adalah ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan, kelaparan, pengangguran yang melanda bagian terbesar penduduk dunia dan berakibat kepada kematian. Seiring dengan itu masalah-masalah lingkungan hidup semakin meruyak: pemanasan global, penipisan sumber daya alam, terbentuknya gurun hijau (perkebunan sawit yang terlantar karena sawit jatuh) serta hilangnya keanekaragaman hayati.
Di sisi itu, pemerintah dan pengusaha kita adalah birokrat dan kapitalis yang menjadi agen neoliberalisme atau neolib itu. Ada bangunan yang seragam dari Banda Aceh sampai Jayapura sebagai wajah gemilang neolib: mal, ruko dan Swiss Bell Hotel …
Keberanian Melawan Arus
Bagaimana tanggapan gereja-gereja di Indonesia terhadap situasi ini? Pada 1-5 Desember 2008 di Wisma Samadi, Klender, Jakarta, 80 orang pimpinan gereja anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), utusan kaum perempuan dan pemuda, para pelaku ekonomi, politik dan budaya, yang prihatin atas situasi itu terlibat dalam konsultasi Nasional Gereja dan Ágape. Tema Konsultasi, “Tuhan, dalam Rahmat-Mu, Ubahlah Dunia”, dengan subtema, “ AGAPE dari Deklarasi Menjadi Aksi”.
Peserta Konsutasi Nasional Gereja dan AGAPE, berpose bersama Presiden DGD, Pdt. Dr. SAE Nababan.“Bagi Allah tidak ada yang mustahil”.
(Foto: Dok. Arthur JH/PKM)
Presiden DGD (Dewan Gereja-gereja se-Dunia), Pdt. Dr. SAE Nababan, dalam renungan pada pembukaan konsultasi mengritik gereja yang tidak peduli terhadap ketidakadilan yang berlangsung di tengah masyarakat. Ia menguraikan, ada tiga penyebab sikap ketidakpedulian itu, (1) pengejaran keselamatan jiwa (kesalehan pribadi sebagai warisan pietisme), (2) kuasa tradisi gereja yang membentuk pola pikir dan pola hidup manusia, yang hampir bersifat mutlak, dan (3) keterbatasan pergumulan yang terus-menerus dengan Firman Tuhan di tengah perjalanan hidup. Karena ketidakpedulian ini, kita cenderung menjauhkan diri dari ketidakadilan yang mendera rakyat, tidak berani bersama rakyat menghadapinya dan secara tegas memberitakan, mengusahakan dan menegakkan keadilan bagi semua orang, sebagai kehendak Allah.
Dr. Nababan menegaskan, kerinduan mendalam setiap manusia dan setiap komunitas manusia bahkan setiap bangsa adalah memperoleh keadilan dan perdamaian. Karena hanya dengan adanya keadilan dan perdamaian, kehidupan manusia dapat berkembang sejahtera. “Keduanya tak terpisahkan”, ujarnya. Ia menyatakan kegembiraannya dengan kehadiran peserta konsultasi, walau hanya kelompok kecil. Namun kelompok yang peduli, dan di hadapan Tuhan, kelompok-kelompok kecil ini juga mewakili gereja. Kehadiran dalam konsultasi ini, menurut Nababan, adalah keberanian melawan arus, pada saat kebanyakan orang terpukau, terlena bahkan terbenam arus globalisasi.
Melalui diskusi, penggalian pengalaman, analisis sosial, Ibadah, refleksi teologis, peserta bergumul, menafsirkan ulang teks Alkitab sesuai dengan konteks, membaca kembali secara kritis. Kesadaran yang muncul adalah, gereja sejatinya menjadi komunitas yang transformatif dengan mengembangkan teologi yang berpihak kepada rakyat dan bumi. Untuk itu perlu upaya terus-menerus memampukan gereja menjadi gerakan ketimbang institusi yang berpihak kepada rakyat dan bumi.
Andaikan Tak Ada Pesta Natal
Konsultasi tak bermakna bila tak disusul aksi. Tentu, gereja-gereja atau komunitas Kristiani di negeri ini mampu merumuskan aksi sesuai konteks masing-masing. Kendati begitu, ada sesuatu yang sangat konkret yang dapat dilakukan bersama-sama, kalau mau.
Di pekan-pekan advent, menyongsong natal ini, sebaiknya kita membebaskan diri dari jerat neolib. Misalnya, tak perlu membeli pohon natal serta segala perniknya di mal-mal. Yesus yang lahir dalam kemiskinan kenapa mesti dirayakan dalam kegemerlapan? Kita toh tidak meracik sendiri tema natal dan segala perniknya di rumah kita dengan apa yang ada pada kita. Ada kembang, ada pohon hidup di rumah, dan terutama mempersiapkan hati yang penuh shalom (damai sejahtera).
Pesta Santa Claus atau sinterklas itu sihir neolib, boikot saja. Tak ada gunanya buat kita. Dan coba Anda hitung ongkos pesta natal di negeri ini secara total. Konon orang Kristen anggota jemaat gereja-gereja anggota PGI yang ada 87 sinode itu sekitar 10 juta. Kita hitung secara sederhana, ada sekitar 20 ribu komunitas atau jemaat yang masing-masing 500 orang anggotanya. Biasanya pesta natal setiap jemaat paling sedikit Rp 20 juta misalnya. Berapa uang terkumpul setiap pesta natal? Tak kurang dari Rp 400.000.000.000 (400 milyar rupiah).
Belum lagi natal marga, keluarga, polisi, DPR/D, Parpol, dan seterusnya dan seterusnya. Berapa trilyun uang yang dibuang sia-sia untuk pesta, yang menurut nabi Amos, tak disukai Tuhan? Berapa sekolah dan rumah sakit untuk rakyat bisa dibangun?
Andaikan gereja-gereja bersatu mengembalikan pesta natal kepada situasi natal yang pertama, kita tidak perlu berpesta di tengah semakin sempurnanya penderitaan petani, nelayan dan buruh. Dan kita akan mampu mengatasi neolib …
[Foto-foto: Suara Pembaruan dan Associated Press]
Dari Penyadaran ke Refleksi
Jalan untuk Memperkuat Rakyat
Sebuah goresan pengalaman.
Urban Rural Mission (URM) menjunjung tinggi rakyat sebagai
tokoh dari perubahan dan sejarah.
(Rev. Dr.A. George Ninan, Bishop Nasik, India)
Pada mulanya arti kata “rakyat” bagi saya tak berbeda dengan pemahaman umum, yakni kumpulan orang-orang (individu). Ia sama saja artinya dengan kata “masyarakat”. Tahun 1972, di Surabaya tatkala bersama sekelompok kaum muda saya diringkus serdadu karena berdemo soal beras mahal, maka arti kata “rakyat” mulai sedikit khas: orang-orang yang kelaparan, bukan pejabat, serdadu dan tentu saja bukan pengusaha.
Selama bekerja sebagai “penyiar” di radio ARH Jakarta, lagu-lagu rakyat – saat itu, era 70 – 80 an, berarti nyanyian protes menjadi kesukaan saya. Konser rakyat Leo Kristi, Gombloh, Franky Sahilatua, Remy Sylado Company dan The Gang of Harry Rusli menjadi kegemaran lantaran syair-syair mereka mengemukakan sindiran, ironi atau paradoks tentang Indonesia. Dalam salah satu lagunya, dengan mengharukan Leo Imam Sukarno Kristi menyenandungkan nasib rakyat.
Hari itu di empat lima
Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI
………
Hari ini di kaki lima
Kami bernyanyi BAGIMU NEGERI
Pada periode ini, saya – sebenarnya agak malu mengakui ini – seperti seorang romantikus bulan purnama, bersimpati kepada nasib rakyat yang menderita… (He, he,he… sepertinya saya tak menderita ya ?).
Adalah Majalah Berita Mingguan FOKUS tempat saya bekerja sebagai redaktur, pada 1984 menurunkan laporan sampul 200 Orang Kaya Indonesia. Laporan ini sebenarnya hanya semacam paparan sederhana siapa saja yang menjadi kaya raya sejak Soeharto berkuasa tahun 1966. Ada di sana nama Liem Soei Liong, Bob Hasan, Prayogo Pangestu dan seterusnya. Eh, tahu-tahu majalah yang terbit sejak 1982 itu dibredel Harmoko, menteri penerangan saat itu. Alhasil, saya merasa menjadi bagian dari rakyat yang menderita.
Namun rakyat sebagaimana dipahami gerakan URM (Urban Rural Mission), barulah mulai sungguh-sungguh saya pelajari tatkala bergaul dengan teman-teman yang bekerja di tengah-tengah rakyat, antara lain Indera Nababan. Sejak 1985, Indera Nababan mulai mengorganisir kembali jaringan gerakan URM Indonesia di tengah-tengah kesibukannya sebagai Kepala Biro Informasi PGI dan Koordinator Pelayanan Buruh Jakarta (PBJ), bagian dari Pelayanan Masyarakat Kota – Huria Kristen Batak Protestan (PMK – HKBP) Jakarta. Saya bergabung bekerja di Majalah Berita OIKOUMENE (sampai 1992) kemudian di YAKOMA PGI (sejak 1992).
Bagi gerakan URM, rakyat adalah orang-orang tertindas, terpinggirkan, tereksploitasi, termiskin. Mereka itu bisa orang miskin kota, petani yang tidak memiliki tanah, nelayan tradisional yang diterjang pukat harimau, buruh pabrik, buruh migran, kaum perempuan yang dinomorduakan. Mereka tersingkir karena alasan-alasan sejarah oleh kelompok masyarakat yang dominan. Nah, rakyat inilah menurut Rev. George Ninan, salah satu tokoh gerakan URM di Asia, yang semestinya menjadi tokoh dari perubahan dan sejarah. Pertanyaannya, bagaimana memampukan rakyat menjadi tokoh?
Dalam pertemuan-pertemuan nasional URM Indonesia sejak 1985 hingga 2000 disepakati berbagai upaya penguatan rakyat, antara lain Pelatihan Community Workers, pelatihan rakyat, perkunjungan (Exposure Program), seminar rakyat dan dialog publik. Kendati begitu, fokus kegiatan lebih menajam kepada pendidikan rakyat. Sejak dini Indera Nababan berulang-ulang menekankan, perubahan di Indonesia tidak mungkin terjadi bila tanpa keikutsertaan rakyat. Karena itu rakyat harus ”dibangunkan”, ”terjaga”, dari situasi pingsan karena penindasan yang dialaminya.
Di dunia ini, menurut Paulo Freire, terdapat dua jenis manusia. Jenis pertama, yakni, bagian terbesar, menderita karena ketidakadilan, sedang jenis yang kedua, yakni sebagian kecil, menikmati jerih payah orang lain secara tidak adil. Itulah situasi penindasan, situasi yang tidak manusiawi (dehumanisasi). URM Indonesia begitu yakin situasi penindasan terhadap rakyat Indonesia bukanlah takdir yang mesti diterima secara pasrah, namun suatu realitas yang bisa diubah. Rakyat memiliki naluri, kesadaran, kepribadian dan ungkapan diri. Ia mampu memahami keberadaan dirinya dan dunianya, dengan bekal pikiran dan tindakan ia mampu mengubah realitas dunianya. Untuk itu diperlukan pendidikan rakyat, yang merupakan proses berkeseimbangan dari penyadaran, dilanjutkan dengan pendidikan, pengorganisasian, aksi, sampai kepada refleksi.
Penyadaran.
Dari pengalaman pendidikan rakyat yang diselenggarakan URM Indonesia, ada dua bentuk ”permainan penyadaran” yang bisa membantu menjelaskan makna penyadaran: permainan ”orang buta dituntun orang melek”, dan permainan mencipta ”patung orang yang dibenci dan orang-orang yang disayangi”.
Permainan pertama bermakna, proses penyadaran adalah memampukan orang dari situasi tidak melihat (buta) menjadi mampu melihat (celik). Bila kita buta, kita akan sangat tergantung kepada yang menuntun (tidak buta). Dia memperlakukan kita sesuka-sukanya. Orang yang sadar adalah orang yang berjuang mengubah situasi dari buta menjadi tidak buta.
Permainan kedua, mengajak rakyat memahami realitas, ada orang-orang yang kita ”sayangi”, boleh jadi karena keprihatinan kita terhadap nasibnya (yang buta sejarah, buta hukum, dan seterusnya), yang sebenarnya disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”. Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh tindakan dari orang-orang yang kita ”benci”. Permainan ini mengajak rakyat menyadari, kesengsaraan mereka bukanlah takdir, namun disebabkan oleh kesewenang-wenangan segelintir orang, yang mendapatkan peluang dari sebuah sistem atau struktur yang menindas.
Melalui dua permainan yang sejujurnya diinspirasi oleh permainan anak-anak, rakyat menyadari bahwa manusia terbagi dalam dua kelas: kelas penindas dan tertindas. Ia menjadi sadar, kebutaannya bukanlah nasib buruk, namun buah dari kesewenang-wenangan kaum ”berpenglihatan” yang suka menindas. Alhasil, langkah pertama dalam upaya memperkuat rakyat adalah penyadaran akan situasi penindasan sebagai realitas. Apakah ia menerima saja realitas itu sebagai takdir, atau mau mengubahnya. Andai ia mau mengubahnya, maka perjalanan atau pengembaraan dapat dilanjutkan.
Pendidikan.
Pendidikan popular atau pendidikan rakyat jelas berbeda dengan pendidikan di sekolah (formal). Pendidikan sekolah membelenggu murid, menempatkan murid sebagai objek dalam sistem pendidikan yang menyebabkan manusia menjadi komoditi bagi keperluan pembangunanisme. Sebaliknya pendidikan popular menempatkan rakyat menjadi subyek yang membebaskan dirinya dari belenggu ketertindasan. Paulo Freire, tokoh pendidikan rakyat asal Brasil menyebutnya sebagai pendidikan hadap masalah: rakyat diajak menggali pengalamannya. Belajar dari pengalaman itu rakyat menyadari situasi penindasan yang menyengsarakan, menggerakkan mereka untuk berjuang mengubah realitas (kenyataan) sesuai harapan dan cita-cita rakyat.
Pendidikan rakyat mengenal tiga tahap pengembangan.
Pengembangan sikap (attitude): rakyat diajak menggali dan menghargai pengalamannya, rakyat memahami realitas, dan pemahaman ini pada dirinya membangkitkan kreasi untuk mengubah realitas sesuai dengan harapannya. Pengalaman adalah sejarah rakyat. Ia tidak bisa dinafikan atau dihujat kendati penuh kepahitan. Ia perlu dipahami, dihargai kemudian diubah menjadi kenyataan baru. Rakyat hanya akan mampu mengubah kenyataan itu bila sikapnya juga berubah: dari tertutup menjadi terbuka, dari buta menjadi celik. Bila ia mampu menghadirkan dirinya atau mengaktualisasikan dirinya secara baru. Ia pada ujungnya menjadi percaya diri. Topik Aktualisasi Diri dan Spiritualitas memampukan rakyat mengekspresikan dirinya.
Pengembangan keterampilan (skill): rakyat dimampukan untuk terampil pertama-tama menganalisis ketertindasan yang dialaminya (analisis sosial). Kenapa situasi seperti ini terjadi? Apa sebab? Siapa penyebab? Kenapa rakyat selalu kalah? Apa sebenarnya akar permasalahan yang mengharu biru rakyat? Keterampilan kedua adalah tindak lanjut atas jawaban terhadap segudang pertanyaan analisis tadi. Yakni kalau rakyat sudah paham akan situasi, apakah dia mau berjuang untuk mengubah situasi itu agar menjadi realitas yang berbeda? Untuk itu ia memerlukan alat perjuangan, yaitu organisasi rakyat, organisasi dari, oleh dan untuk rakyat.
Pengembangan pengetahuan (knowledge), rakyat dimampukan mengembangkan pengetahuan sehubungan dengan upaya-upaya memperkuat dirinya. Topik bervariasi, dari politik, ekonomi, gender, budaya, sosial, komunikasi, demokrasi, HAM, lingkungan hidup, dan seterusnya. Tentu saja ini harus sesuai dengan kebutuhan dan disepakati rakyat. Ia tidak ditentukan oleh segelintir orang yang mengaku pintar.
Organisasi.
Langkah penyadaran dan pendidikan menggulirkan rakyat pada kebutuhan menggalang kekuatannya dalam upaya mengubah realitas atau ”dunia”. Dan kekuatan rakyat adalah organisasi. Inilah langkah ketiga penguatan rakyat.
Organisasi rakyat bukanlah organisasi yang dibentuk dengan mengacu kepada bentuk-bentuk mapan. Sekali lagi perlu disimak, ia lahir berdasarkan kebutuhan untuk menjawab permasalahan yang konkret. Organisasi rakyat berorientasi kepada masalah (isu) yang dihadapi rakyat. Karena itu ia harus (1) sederhana, (2) partisipatif dan (3) terawasi (terkontrol).
Organisasi rakyat akan berkembang menjadi kekuatan besar tatkala berbagai organisasi dengan isu yang sama bergabung (koalisi, aliansi) menjadi gerakan yang dahsyat. Jadi organisasi adalah kekuatan rakyat, yang memampukan kaum tertindas mengubah kenyataan (realitas) penindasan, menjadi dunia baru yang sesuai dengan harapan atau cita-cita rakyat.
Fungsi organisasi rakyat adalah untuk (1) memperjuangkan hak-hak rakyat, (2) melindungi kepentingan rakyat, dan (3) menggulirkan perubahan bagi terwujudnya cita-cita rakyat.
Aksi.
Hanya bila rakyat mampu menggalang kekuatan melalui organisasi rakyat yang berdaulat, ia bisa maju lagi dalam perjalanannya. Kali ini ia mengubah kehendak menjadi tindakan bagi mewujudkan harapan atau cita-citanya. Itulah langkah keempat, yakni aksi. Ini adalah muara dari perjalanan panjang sejak penyadaran tadi. Perjalanan itu harus ditempuh secara sistematis.
Dengan begitu rakyat tahu persis akan posisinya dan mampu memainkan perannya dengan baik dan benar. Banyak aksi rakyat gagal karena kegenitan aktivis yang tak mampu belajar bersama rakyat, lebih suka mendikte rakyat sesuai kepentingan sendiri. Tanpa melalui proses yang sistematis, aksi-aksi rakyat hanya akan menyenangkan para aktivis, menyebabkan frustasi di kalangan rakyat (karena lebih banyak kalahnya ketimbang menangnya). Aksi seperti itu hanya melahirkan aktivisme.
Aksi rakyat lahir dari perjalanan penyadaran, pendidikan dan penggalangan kekuatan. Aksi itu harus menghasilkan kemenangan-kemenangan bagi rakyat. Ia bermula dari kemenangan kecil yang kemudian berakibat besar, yakni mengubah potensi (modal) rakyat dan menghargainya. Aksi rakyat yang sistematis juga memungkinkan tampilnya pemimpin-pemimpin baru dari rakyat sendiri.
Pemimpin-pemimpin yang lahir karena kebutuhan perjuangan, bukan karena dititipkan dari ”atas”. Karena itu organsisasi rakyat harus benar-benar berangkat dari masalah-masalah (isu) rakyat dalam menyusun agenda aksinya, sehingga memungkinkan berlangsungnya formasi kepemimpinan sesuai kebutuhan dan kesepakatan bersama.
Refleksi.
Ada saat untuk bertindak (aksi), ada saat berdiam diri seraya bercermin. Itulah saat-saat refleksi. Refleksi terjadi hanya apabila ada aksi. Refleksi tanpa aksi melahirkan demagog atau pembual, cuma jago bicara, debat, diskusi, namun tak mampu melakukan apa-apa untuk perubahan. Sebaliknya aksi tanpa refleksi hanya menghadirkan para aktivis yang memang gegap gempita, namun sering jadi pecundang.
Tak dapat ditawar, usai melakukan perjalanan dari penyadaran, pendidikan, organisasi sampai kepada aksi, kita harus sejenak berhenti, melepas lelah, berdiam diri, merenung, bercermin dari semua proses perjalanan pengamatan tadi. Apa yang sudah dicapai? Adakah yang tercecer? Apa yang positif dan negatifnya? Pelajaran apa yang kita peroleh dari sana? Apa yang perlu kita kerjakan selanjutnya?
Langkah-langkah atau jalan penguatan rakyat secara sistematis, merupakan proses aksi – refleksi. Setia pada proses ini berarti memampukan rakyat mengembangkan dialog. Dan dialog yang dialektis, menurut Paulo Freire, senantiasa memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru bagi perubahan.
Rakyat yang menjadi partisipan pelatihan-pelatihan URM Indonesia mempunyai kesan khas setelah mengikuti proses kegiatan.
Beberapa Kutipan dari Sejumlah Peserta Pelatihan URM.
- Latihan ini sangat bermanfaat karena dari tidak tahu berorganisasi menjadi tahu, kemudian lebih paham pagi masalah hukum perburuhan. Ada nilai tambah dalam pelatihan, disamping saya menjadi semakin berani juga mengerti bahwa hak-hak manusia sangat besar nilainya. (Latihan Organisasi Buruh, Jetun Silangit, Siborong-borong, 19 – 22 Maret 2000).
- Pendidikan ini perlu untuk para pemimpin organisasi. Rasanya mereka belum pernah mempelajari dan merasa sombong menjadi pemimpin. Latihan ini juga perlu bagi golongan atas. Setelah ikut latihan ada percaya diri dan ternyata tingkat pendidikan bukanlah menjadi penentu dan pedoman utama. Selama ini ada rapat di kampung, dan saya tidak bisa bicara seperti ini, namun sekarang saya bisa mengungkapkan keinginan saya dan semakin berani.(Lokakarya Pengembangan Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5 Februari 2000).
- Saya termasuk anak nelayan yang sudah ikut pelatihan kemana-mana. Saya menemukan bahwa sistem yang sangat terorganisir dan sistematis dilakukan dalam lokakarya ini, Sangat terkesan dan ada spirit untuk menambah wawasan yang tidak bisa diungkapkan saat ini. (Lokakarya Pengembangan Kepemimpinan Rakyat, Nelayan Pantai Timur Sumatera II, 1 – 5 Februari 2000).
- Apa yang saya dapat dari pelatihan ini akan dikembangkan di tempat lain. Saya juga mendapat arti jati diri sehingga arti kehidupan di dapat di sini, terutama dapat berkenalan dan bertekad untuk berjuang. (Pendidikan Organisasi Rakyat III, Tasikmalaya, 25 – 28 Mei 2000).
- Terkesan dengan metode pelatihan dan belum pernah mengikuti pelatihan seperti yang diberikan. Materi yang diberikan berbobot dengan penyajian yang sederhana dan mudah diikuti, santai namun memberi arti. (Latihan Organisasi Rakyat I di Garut, 6-8 Desember 1999).
- Pelatihan ini mempunyai nilai tersendiri atau istimewa. Melalui latihan ini bisa menjembatani konflik, menerobos jarak diantara kita dan akhirnya menjalin komunikasi, dan mendidik untuk bersama/bersatu. (Pelatihan Pengorganisasian Dasar Buruh, Pematang Siantar, 6-9 Juli 2000).
- Fenomena baru yang selama ini tidak ada, saya temukan di pelatihan ini, Permainan orang buta dan peragaan dalam materi sangat bekaitan dan memberikan penyadaran bagi kita. Saya menemukan rasa peduli dan daya kritis yang semakin berkembang. Semoga dalam proses belajar, mengerti, mendalami diikuti pula dengan pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Tekad kita dalam pelatihan ini agar dilaksanakan dan dibuktikan setalah kita kembali ke tempat masing-masing. (Pelatihan Pengorganisasian Dasar Buruh, Pematang Siantar, 6 – 9 Juli 2000)
- Terimakasih atas pelatihan ini dan satu kemampuan yang tidak disadari adalah mengaktualisasikan diri untuk mampu menjadi pelaku dari program/tujuan. (Pelatihan Pengorganisasian Petani di Bidang Pemasaran, Pematang Siantar, 1-4 Juli 2000).
- Selama ini saya melihat perempuan selalu tampil tidak percaya diri, mulai sekarang saya akan menanamkan perempuan sama haknya dengan laki-laki dan mulai melatih diri sejak dini. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender II di Tapanuli Utara, 12 – 15 Maret 2001)
- Tekad saya untuk menerapkan demokrasi, transparansi di desa semakin kuat dan saya memohon kekuatan dari Tuhan untuk menjalankannya. Permintaan saya, di samping kepala desa perlu juga pelatihan untuk rakyat kecil seperti pedagang dan petani karena merekalah teman saya di kampung untuk diajak kerjasama. (Lokakarya Pimpinan Desa II di Tapanuli Utara, Tarutung, 4-8 Februari 2001).
- Ada perintah dari kepala sekolah untuk mengikutinya. Kami awalnya mengelak, untuk ada gender. Setelah mengikutinya kami jadi menyesal dan merasa puas. Selama ini perempuan selalu merendahkan diri karena dikatakan perempuan hanya sebagai pendamping. Kami menjadi percaya diri setelah mengikuti lokakarya. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan gender IV di Tapanuli Utara, Tarutung, 14-17 Mei 2001).
- Bangga kepada fasilitator yang mau mengangkat derajat perempuan. Selama ini perempuan direndahkan dan hanya sebagai bahan pelengkap dalam adat. Setelah mengikuti lokakarya ini jadi mengerti apa itu kesetaraan gender. Jadi jangan hanya di sini saja melaksanakan lokakarya ini. Akan lebih baik diadakan di desa yang masih merendahkan perempuan. (Lokakarya Kepekaan dan Kesetaraan Gender IV di Tapanuli Utara, Tarutung, 14-7 Mei 2001).
Medan, 25 April 2008
Arthur John Horoni
[Tulisan ini juga dapat dilihat pada Blog Bung Daktur ARH]






