Haji dan Qurban: Total Berserah Diri


Setiap kali musim haji tiba, pembicaraan kita pun selalu berulang dalam tema yang itu-itu juga: kuota jemaah haji yang perlu ditambah, pembatasan perjalanan haji bagi yang pernah naik haji lebih dari sekali, sistem pembagian konsumsi bagi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi, atau ketidakseriusan pemerintahan Bani Sa’ud dalam menjamin keamanan dan kenyamanan beribadah haji.

Lalu menjelang hari raya qurban atau idul adha (yang seyogianya bersamaan dengan wukuf di Arafah) kita pun (lagi-lagi) beramai-ramai membicarakan harga kambing dan sapi yang kian melangit, atau bahwa menyembelih sapi lebih bernilai ekonomis (dan sosial) ketimbang menyembelih kambing, karena kambing bisa dibeli secara patungan dan para pemakan daging sapi lebih banyak jumlahnya daripada pemakan daging kambing.

qurban1.jpg

Tentu tidak ada yang salah dengan tema-tema pembicaraan itu. Bahkan semakin menunjukkan bahwa gairah keagamaan yang kita miliki tidak pernah meredup, pun semangat kita untuk selalu berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu (melalui qurban) tidak pernah berkurang.

Namun, terkadang kita lupa bahwa di balik perintah untuk beribadah haji atau berqurban itu, sesungguhnya tersirat pesan yang lebih bersifat personal-spiritual, ketimbang sekedar ritual, yakni perintah untuk selalu membangkitkan kesadaran diri bahwa segala sesuatu yang kita miliki di atas jagat raya ini (kekayaan ataupun jabatan) hakikatnya hanyalah titipan Tuhan, yang pada saatnya nanti akan dikembalikan kepadaNya, atau diminta lagi olehNya.

Dalam kalimat-kalimat talbiyah, yang selalu dikumandangkan para jemaah haji di Tanah Suci, proses penyadaran diri itu begitu terasa: “Ya Tuhan kami, kami datang menghampiriMu, memenuhi panggilanMu, untuk mengembalikan segala puji, kenikmatan dan kekuasaan, yang sesungguhnya hanyalah milkMu. Tak ada sekutu bagiMu.”

Kalau saja kalimat-kalimat talbiyah itu dihayati secara mendalam oleh setiap musim di negeri ini (yang sudah beribadah haji maupun belum) maka idealnya: penyalahgunaan jabatan dan wewenang akan berkurang, dan praktik korupsi berangsur sirna di republik ini, karena munculnya kesadaran massal bahwa jabatan dan kekayaan tersebut hanya milik-Nya. Bukan milik kita.

Nilai ibadah haji yang sesungguhnya bukan terletak pada perjalanannya, bukan hanya pada thawafnya, sya’inya, wukufnya, atau pelemparan batu di jumratul aqaba dan menginap di Mina. Namun pada kepasrahan total memberikan seluruh diri dan hidup kita kepada Tuhan, walaupun hanya sesaat, karena semua yang kita miliki, termasuk diri ini, hakikatnya adalah milikNya.

Proses penyadaran diri itu, juga terkandung dalam perintah melaksanakan ibadah qurban. Ketika Tuhan memerintahkan Ibrahim menyembelih Ismail (Ishaq, dalam Kitab Perjanjian Lama), sebenarnya Tuhan hanya sekadar ingin mengingatkan manusia (yang diwakili oleh Ibrahim) bahwa harta yang paling berharga sekalipun (yang disimbolisasikan oleh Ismail) jika sudah waktunya diminta kembali oleh pemiliknya, harus dikembalikan dengan keikhlasan total.

Ismail, adalah milik Tuhan yang dititipkan pada Ibrahim. Dan, Ibrahim ikhlas mengembalikan Ismail, ketika Sang Khalik memintanya. Sehingga Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana itu pun, mengganti Ismail yang akan disembelih itu dengan seekor kambing, dan Ismail pun tetap hidup bersama sang ayah. Bagi Tuhan, bukan penyembelihan Ismail yang jadi tujuan, tapi kesadaran Ibrahim bahwa Ismail, tak lebih hanya titipan-Nya.

Begitu pula dengan milik orang lain yang secara sadar ataupun tak sadar kita ambil. Bila kita ingin kembali kepada fitrah (kesucian), kita harus mengembalikannya kepada yang berhak. Harta hasil korupsi misalnya. Tak sedikit koruptor yang dengan maksud membersihkan diri dan namanya, ia berqurban dengan menyembelih beberapa ekor sapi, padahal nilai harta yang telah dikorupnya senilai dengan puluhan ribu ekor sapi. Tujuan membersihkan diri tidak akan tercapai sebelum seluruh harta milik rakyat yang telah dirampoknya itu dikembalikan kepada yang berhak. Di situlah nilai ibadah qurban yang sesungguhnya, bukan pada peristiwa penyembelihan hewan.

Setiap tahun, ratusan ribu jemaah haji dari Indonesia diberangkatkan menuju Haramain (Mekah dan Medinah). Jika dihitung sejak Indonesia merdeka, maka sudah jutaan (atau mungkin puluhan juta) muslim Indonesia bergelar haji. Pun, sudah jutaan ekor sapi dan kambing diqurbankan. Jika makna yang terkandung dalam perintah ibadah haji dan qurban itu dihayati secara holistik, bukan mustahil negeri ini betul-betul menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang sentausa dan selalu berada dalam ampunan Tuhan).

Tetapi semua itu masih berada dalam lingkup andaikan dan jikalau. Tahun depan dan tahun depannya lagi, kita akan kembali berbondong-bondong berangkat ke Tanah Suci, dan beramai-ramai lagi menyembelih sapi, kambing dan kerbau. Lagi-lagi kita akan lupa pada pesan tersirat di balik perintah ibadah haji dan qurban yang lebih personal-spiritual, karena kita lebih suka dengan ritual.

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: www.liputan6.com. Foto: www.ezsoftech.com]