Selamat Berlebaran, Maafkan Segala Kesalahan dan Kekhilafan


Sudah berpuluh ramadhan saya lewati. Sudah berpuluh lebaran saya alami. Tetapi saya malu mengatakan bahwa saya telah memperoleh kemenangan. Betapa tidak. Ramadhan demi ramadhan, sering saya lewatkan dengan sia-sia. Tak pernah di bulan suci itu, saya sepenuhnya mengabdi kepada Illahi.

Godaan duniawi begitu kuat mencengkeram, sehingga ibadah pun sering  terlupakan. Begitu pula sedekah. Padahal saya tahu, ibadah dan sedekah itulah yang harus dipacu di bulan ramadhan. Dan, ramadhan pun berlalu, berbarengan dengan datangnya hari lebaran. Banyak orang bersorak menyambut lebaran sebagai hari kemenangan.  Kemenangan melawan hawa nafsu. Saya malu untuk ikut bersorak, karena saya tidak pernah merasa menang melawan hawa nafsu.

Setiap lebaran tiba, saya menangis, karena tidak pernah berhasil mengisi ramadhan dengan perbuatan mulia. Lalu saya pun merindukan lagi datangnya ramadhan. Padahal saya tahu, Dia bisa memanggil saya pulang sewaktu-waktu, tanpa memberitahu saya terlebih dulu. Akankah saya bertemu lagi dengan ramadhan? Saya tidak akan pernah tahu.

Hanya satu kali saya merasa berhasil mengisi ramadhan dengan bermacam amal-shaleh. Tetapi kemudian saya mabuk kemenangan. Saya riya dalam keriyaan. Saya sombong dan merasa diri paling suci. Lalu saya pun lupa melanjutkan praktek amaliyah yang sudah dirintis di bulan ramadhan itu pada bulan-bulan berikutnya. Padahal saya tahu, ramadhan hanya bulan untuk latihan. Hasil latihan itu harus terus dipraktekan di bulan-bulan non-ramadhan. Jika tidak, sama saja dengan ahli meditasi yang tidak mempraktekan meditasinya dalam laku sehari-hari. Atau ibarat ahli shalat yang tetap bergumul dengan maksiat. Itulah saya.

Saya hanya bisa berharap, Tuhan Yang Maha Bijaksana itu akan mengampuni saya. Tuhan yang telah mengajarkan saya sebuah do’a untuk minta ampun padaNya. “Rabbanaa laa tu-akhidznaa innasiinaa au akhtha-naa. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami karena kami telah berbuat khilaf dan salah.” (QS AlBaqarah:286).

Akankah Tuhan mengampuni saya? Saya tidak tahu. Tetapi saya tahu, sobat-sobat akan memaafkan saya jika saya pernah berbuat salah dan khilaf kepada sobat-sobat. Jadi, maafkan saya. Selamat berlebaran.

Billy Soemawisastra

Kesucian Ramadhan Dinodai Aksi Kekerasan


Ramadhan adalah bulan suci, bulan penuh kasih (rahmat) dan ampunan (maghfirah). Bulan yang harus diisi dengan kasih-sayang dan saling memaafkan. Bulan yang disediakan bagi umat Islam untuk berlatih menahan diri, lahir dan batin. Bukan hanya berlatih menahan lapar, haus dan nafsu syahwat. Tetapi juga berlatih menahan kemarahan, mengusir kebencian, meningkatkan toleransi, menghargai keberagaman, melenyapkan dendam dan menghapuskan permusuhan. Yang tersisa di bulan Ramadhan ini seharusnya adalah rasa saling kasih-mengasihi antar-sesama manusia, meningkatnya kepedulian terhadap masyarakat miskin, yang lemah, yang tertindas, yang tidak punya daya-upaya untuk menolong dirinya. Semua penganut agama Islam tahu itu, karena tuntunan Ramadhan begitu jelas dan gamblang terurai dalam Al-Quran dan Sunnah.

Tetapi apa yang terjadi di bulan Ramadhan 1429 Hijriyah ini? Dua kelompok masyarakat yang sama-sama mengatasnamakan Islam, yakni AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) dengan bantuan Banser Gus Nuril, berhadap-hadapan dengan FPI (Front Pembebasan Islam) dalam kondisi sama-sama penuh kebencian. Kedua kelompok ini saling melempar batu di tengah keramaian jalan Gajah Mada-Hayam Wuruk Jakarta Pusat. Aksi kekerasan ini tidak hanya disaksikan oleh para karyawan yang bekerja di berbagai perkantoran di kawasan tersebut, tetapi juga dimonitor oleh jutaan pemirsa televisi di seluruh Indonesia, setelah peristiwa itu ditayangkan melalui stasiun-stasiun televisi nasional.

Korban bentrokan FPI-AKKBB, 25/9/08. (Detiknews.com)

Aksi kekerasan ini merupakan “lanjutan” dari tragedi monas bulan Juni lalu. Dan, ini merupakan aksi kekerasan atas nama Islam, yang untuk kesekian kalinya berlangsung di negeri kita. Wajah Islam pun semakin coreng-moreng, sehingga sulit untuk menghapus kesan bahwa Islam identik dengan kekerasan. Ironisnya, aksi kekerasan kali ini justru terjadi di bulan Ramadhan, saat seluruh kaum Muslimin semestinya larut dalam kegiatan ibadah. Ibadah ritual maupun ibadah sosial.

Ibadah ritual adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah, melalui ritual-ritual keagamaan seperti shalat, zikir dan i’tiqaf. Sedangkan ibadah sosial, selain berupa kegiatan mencari nafkah yang halal untuk keluarga, adalah juga menolong fakir miskin. Anda tentu belum lupa dengan peristiwa di Pasuruan, di bulan Ramadhan ini juga, ketika puluhan orang miskin tewas terinjak-injak sesamanya, hanya untuk memperoleh pembagian zakat dari seorang “dermawan” sebanyak 20 ribu rupiah per orang. Ini menandakan bahwa jumlah orang yang sangat miskin di negeri ini, masih teramat banyak.

Kalau saja para pemimpin ormas islam menyadari hal ini, seyogianya mereka menggerakkan kekuatan massanya yang kelebihan energi itu, untuk mendatangi perkampungan-perkampungan orang miskin guna membantu mereka meningkatkan kesejahteraan, menolong mereka dari ancaman kelaparan. Bukan untuk saling melempar batu di tengah kota, tanpa rasa malu sedikit pun. Mungkin akan lebih baik bila ormas-ormas Islam yang tengah saling berseteru itu, melakukan “gencatan senjata” sebulan saja di bulan penuh kasih ini, untuk saling bahu-membahu membantu saudara-saudaranya yang masih dililit kemiskinan. Lalu di mana rasa hormat mereka terhadap bulan Ramadhan, yang (mereka pun tahu) merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan?

Kekerasan demi kekerasan atas nama agama Islam akan terus terjadi di negeri ini, bila para pemimpin umat tidak mampu menahan diri. Tidak mampu untuk duduk bermusyawarah, dengan mengedepankan persamaan-persamaan yang mereka miliki. Bukan semakin mempertajam perbedaan yang ada, dengan menonjokan keberingasan. Kekerasan alias keberingasan tidak akan menyelesaikan persoalan dan tidak akan mampu menghapuskan perbedaan, karena melalui kekerasan masing-masing pihak akan memaksanakan pendapat dan keyakinannya.

Yang juga sangat disayangkan adalah peran pemerintah dan para penegak hukum di negeri ini, yang kurang bersikap tegas terhadap para pelaku kekerasan. Berulangnya peristiwa kekerasan antara lain disebabkan tindakan “setengah hati” dari penguasa negeri ini, yang terkesan membiarkan saja kekerasan demi kekerasan ini berlangsung. Sehingga seolah-olah memberi angin bagi para pencinta kekerasan untuk terus melaksanakan kegemarannya.

Lihat saja, bentrokan yang terjadi depan gedung pengadilan negeri Jakarta Pusat hari ini, dipicu oleh peristiwa saling ejek dan saling melecehkan (bahkan pemukulan) di depan majelis hakim yang sedang memimpin sidang dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab. Tindakan yang bisa dikategorikan menghina pengadilan (contempt of court) ini, dibiarkan terjadi berulangkali. Di mana wibawa pengadilan? Di mana wibawa hukum? Para pencinta kekerasan semakin merasa berada di atas angin, karena ulah mereka dibiarkan begitu saja.

Billy Soemawisastra

Ramadhan


Ramadhan itu datang lagi. Bulan kesembilan dalam hitungan tahun Qomariyah (Hijriyah), yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu sebagian besar umat Islam, terutama para sufi dan orang-orang shaleh yang ikhlas beragama. Orang-orang inilah yang sangat bersukacita menyambut Ramadhan, dan menangis di kala bulan suci itu berakhir, karena khawatir tak jumpa lagi dengan Ramadhan.

Bulan Ramadhan, merupakan momentum teramat penting bagi setiap Muslim, untuk “sejenak” menghindarkan diri dari berbagai keinginan duniawi, dan beramal shaleh sebanyak-banyaknya baik secara vertikal (mendekatkan diri kepada Allah) maupun secara horisontal (berbuat baik kepada sesama manusia). Tetapi mengapa harus menunggu Ramadhan untuk melakukan itu semua?

Tentu saja, upaya untuk meningkatkan ketaqwaan atau memperbanyak amal shaleh, bisa dilakukan setiap hari, bahkan setiap detik, tanpa harus menunggu Ramadhan. Tetapi manusia tampaknya membutuhkan terapi, atau semacam dorongan semangat khusus — yang dalam hal puasa Ramadhan — diberikan langsung oleh Tuhan. “Hai orang-orang beriman, telah tiba untukmu masa berpuasa, seperti yang pernah dialami orang-orang sebelummu, agar kalian bertaqwa,” demikian Firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 183.

Ayat suci tersebut menyiratkan bahwa tradisi berpuasa (yang diperintahkan Tuhan), bukan semata-mata milik orang Muslim. Manusia-manusia sebelumnya (seperti Yahudi dan Nasrani) juga memiliki tradisi berpuasa, sesuai tuntunan Kitab Suci mereka masing-masing. Itu artinya bahwa praktek berpuasa memang dibutuhkan manusia, untuk memelihara keseimbangan hidupnya. Puasa menjadi semacam oase tempat mengistirahatkan tubuh, hati dan pikiran manusia dari berbagai keinginan duniawi, setidaknya selama sebulan dalam setahun.

Dalam sebulan itu, tentunya bukan hanya rasa lapar dan haus yang harus dilatih. Bukan hanya nafsu syahwat yang harus dihindari. Tetapi juga rasa iri, dengki, benci, tamak, merasa diri paling benar, itu yang harus dikikis dari dalam diri. Sehingga yang tertinggal hanyalah rasa ikhlas, keinginan untuk saling berbagi dan saling menghargai, termasuk kebiasaan menghormati pendapat dan keyakinan orang lain.

Ramadhan adalah momentum yang paling baik untuk mengembangkan rasa cinta kepada sesama manusia, tanpa melihat asal-muasalnya, seraya mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh cintaNya. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Maafkan segala kesalahan.

Billy Soemawisastra

[Tulisan ini bisa dilihat pula di www.liputan6.com]