Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1430 Hijriyah


moonrise1

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 Hijriyah, kali ini diapit dua hari besar internasional, yakni Hari Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tentu saja ini merupakan fenomena alam yang lumrah, mengingat perhitungan tarikh Hijriyah dengan tarikh Masehi, memiliki selisih sebelas hari setiap tahunnya. Ini lantaran masing-masing tarikh, menggunakan patokan yang berbeda. Tahun Masehi dihitung berdasarkan peredaran matahari (solar system) sedangkan tahun Hijriyah diukur berdasarkan peredaran bulan (lunar system).

Peredaran matahari dan bulan yang tidak berbarengan, menyebabkan jumlah hari dalam tahun Masehi dan Hijriyah, memiliki perbedaan. Tahun Masehi berjumlah 365 hari, tahun Hijriyah 354 hari. Itu pula sebabnya, pada kurun-kurun tertentu, tahun baru Hijriyah  akan berdekatan dengan tahun baru Masehi. Bahkan pada tahun 2008 ini, kita mengalami dua kali tahun baru Hijriyah. Sebelumnya tanggal 10 Januari lalu, dan kini 29 Desember.

Sekali lagi, ini adalah fenomena alam yang lumrah. Tetapi di balik fenomena alam yang lazim ini, kita bisa menyibak hikmah. Diapitnya Tahun Baru Hijriyah, oleh Hari Natal dan Tahun Baru Masehi, semakin mengingatkan kita bahwa kehidupan di atas semesta,  tidak bisa dilepaskan dari kemajemukan alias keberagaman. Seperti majemuknya unsur-unsur alam yang kita tempati ini. Ada matahari, bulan, bintang, awan, angin, hujan, laut, daratan, pepohonan, rerumputan, hewan dan manusia, yang masing-masing memiliki ciri khas berbeda. Namun kerjasama atau kebersamaan semua unsur alam ini, akan membuat alam ciptaan Tuhan berada dalam keseimbangan alias harmoni. Jika satu saja unsur alam tersebut berjalan sendiri dan tidak mau berbagi, maka semesta ini akan dilanda disharmoni.

Celakanya, mausialah yang terkadang tidak mau berbagi dengan sesama manusia lainnya. Seakan lupa bahwa manusia itu terdiri atas berbagai ragam, baik secara fisik maupun pikiran. Secara fisik, muncul rasisme. Dari segi pikiran, muncul orang-orang yang menganggap pendapat dan keyakinannyalah yang paling benar. Pendapat dan keyakinan yang berbeda dianggap sesat dan perlu diberantas. Fenomena seperti ini sangat menggejala di tahun 1429 Hijriyah  atau tahun 2008 Masehi.

Padahal, jika kita simak kembali perjalanan Hijrah Rasulullah Muhammad SAW, yang menjadi “titimangsa” diletakkannya penghitungan tarikh Hijriyah oleh Khalifah Umar ibnu Khattab, kita bisa menemukan banyak sekali keteladanan Rasulullah dalam menghargai dan menghormati keberagaman. Di Madinah, tempat Sang Nabi dan para pengikutnya berhijrah, Nabi mengakui keberadaan semua unsur masyarakat yang telah lama hidup di kota yang sebelumnya bernama Yastrib itu. Ada kelompok suku Aus dan Khajraj. Ada kaum Yahudi. Ada umat Nasrani. Belum lagi para pendatang dari Makkah yang disebut Muhajirin (orang-orang yang berhijrah) dan penduduk asli yang masuk Islam atau kaum Anshor (para penolong orang-orang yang berhijrah).

Kesemua unsur masyarakat Madinah tersebut, memperoleh hak yang sama. Nabi memerintahkan agar semua kelompok saling menghargai dan menghormati asal-usul serta keyakinan masing-masing. Ada salah satu peristiwa, yang mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana Rasulullah sangat menghormati kemajemukan itu. Pada suatu hari lewatlah serombongan pengantar jenazah di hadapan beliau, yang ketika itu tengah duduk berbincang dengan beberapa sahabatnya. Jenazah dan para pengantarnya itu adalah orang-orang Yahudi. Seketika Sang Nabi berdiri dengan takzim, menghormati jenazah yang lewat.

“Mengapa Anda melakukan itu Ya Rasul. Bukankah itu jenazah orang Yahudi? Haruskah Anda menghormatinya?” Tanya salah seorang sahabat. “Dia adalah manusia juga, seperti kita, yang berpulang ke Rahmatullah. Kita pun akan kembali padaNya,” ujar Rasulullah. Serempak para sahabat itu pun berdiri, mengikuti Sang Nabi, menghormati jenazah orang Yahudi.

Pun, jangan lupa. Sebelum berhijrah ke Madinah, para pengikut Rasulullah pernah pula berhijrah dalam dua gelombang ke sebuah negeri bernama Abessinia (Ethiopia). Penguasa negeri itu, Kaisar Najasyi (Negus) adalah seorang penganut Kristen. Begitu pula sebagian besar rakyatnya. Orang-orang Muslim yang berhijrah ke Abessinia mendapat perlindungan keamanan dari Sang Kaisar, sehingga terbebas dari orang-orang Quraisy yang berniat membunuh mereka.

Rasulullah sangat berterima kasih kepada Sang Kaisar, yang telah memberikan tempat terhormat dan melindungi para penganut ajaran Islam. Sehingga bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut, ketika Nabi Muhammad SAW mendengar kabar duka bahwa Kaisar Negus telah mangkat, beliau menangis. Lalu mendo’akan arwah Sang Kaisar, agar diterima di sisiNya.

Tarikh Hijriyah, kini telah mencapai bilangan 1430 tahun. Ini berarti sudah hampir 15 abad, secara turun temurun, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Hijrah Rasulullah. Peristiwa yang mengandung banyak hikmah, terutama yang berhubungan dengan interaksi antar-manusia (hablumminannas). Dan, tahun ini, secara kebetulan tanggal 1 Muharram 1430 Hijriyah, berada sangat berdekatan dengan Hari Natal dan Tahun Baru 2009 Masehi. Tidakkah ini mengingatkan kita akan kemajemukan kita yang merupakan fitrah atau sunnatullah? Tidakkah kita ingat akan keteladanan Rasululah dalam menghargai keberagaman dan perbedaan? Bahkan Sang Kekasih Allah itu selalu menganggap perbedaan sebagai hikmah.

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriyah. Mari kita berhijrah meninggalkan ketertutupan (eksklusivisme) menuju keterbukaan (inklusivisme). Meninggalkan kesempitan pikiran menuju keluasan pandangan. Sehingga kita pun tidak selalu merasa diri kita paling benar, karena kebenaran ada di mana-mana.

Billy Soemawisastra

[Foto diambil dari: www.aslowerpace.com, dan tulisan ini dapat  dilihat pula di www.liputan6.com]

Hijrah


Telah terbit rembulan di atas kami
dari arah Tsaniyatil Wada’i.
Kami sampaikan syukur dan puji
atas ajakan yang ia serukan dari Illahi.

Syair berbahasa Arab, yang di kemudian hari dikenal sebagai Shalawat Badr ini, serempak dinyanyikan masyarakat Yatsrib, guna menyambut kedatangan Muhammad ibnu Abdullah dan Abubakar Shiddiq. Berhari-hari, kedua lelaki asal Makkah ini, berkuda dan terkadang berjalan kaki melintasi teriknya padang pasir. Sesekali bersembunyi di balik bukit dan di dalam gua. Bukan sekadar untuk menghindari badai gurun yang ganas, tetapi juga (dan terutama) menghindari para algojo Quraisy yang ditugaskan membunuh Muhammad, Sang Nabi.

Sudah lama penduduk Yatsrib menunggu kedatangan Muhammad. Mereka ingin mendengar langsung, kabar nubuwat Ibnu Abdullah, yang telah lama tersiar di seluruh jazirah. Mereka tahu, penguasa Makkah yang sangat membenci putra Abdullah karena ajaran monoteismenya itu, berniat membunuh Rasulullah. Itu sebabnya mereka pun membuka pintu Yatsrib selebar-lebarnya bagi Muhammad.

gua-hira1.jpg

Bagi penduduk Yatsrib, yang terpecah dalam dua kelompok suku besar: Aus dan Khazraj yang saling berseteru itu, kedatangan Muhammad diharapkan dapat menyatukan mereka. Karena mereka pun pernah mendengar berita bahwa laki-laki Makkah itu berhasil menyatukan Suku Quraisy yang terpecah-belah dalam beberapa kabilah. Sehingga kemudian digelari Al-Amin, atau “orang yang dapat dipercaya”.

Kegembiraan mereka meledak, dan Shalawat Badr pun membahana, ketika akhirnya Muhammad tiba di Yatsrib bersama sahabatnya yang paling setia. Kedatangannnya mereka ibaratkan sinar purnama yang teduh, yang menerangi dan menghangati relung-relung hati mereka. Nama Yatsrib pun kemudian berganti menjadi Madinah, kependekan dari kata madinatul-munawwarah (kota yang bercahaya) dan madinatunnabiy (kota Nabi) atau madinaturrasul (kota Rasul).

Keberangkatan Nabi Muhammad SAW bersama Abubakar Shiddiq, dari Makkah menuju Madinah, yang berlangsung sekitar 13-24 September 622 Masehi itulah, yang kemudian dicatat sejarah sebagai hijratunnabiy atau hijraturrasul. Tujuh belas tahun kemudian, bertahun-tahun setelah wafatnya Muhammad Rasulullah, Khalifah Umar ibnu Khattab mencanangkan peristiwa hijrahnya Sang Nabi, sebagai awal Tarikh (Kalender) Hijriyah, yang dimulai dengan tanggal 1 Muharram.

Sistem penanggalan Kalender Hijriyah, didasarkan pada peredaran lunar (bulan). Berbeda dengan Kalender Masehi yang berpatokan pada sistem peredaran solar (matahari). Orang-orang Arab, juga menamakan Tarikh Hijriyah sebagai Tarikh Qomariyah dan Tarikh Masehi sebagai Tarikh Syamsiyah.

lunar-solar-system.jpg

Karena peredaran bulan mengelilingi bumi lebih singkat daripada peredaran matahari, maka satu tahun Hijriyah lebih pendek 11 hari dibandingkan satu tahun Masehi, meski jumlah bulannya sama-sama 12. Hijriyah 354 hari, Masehi 365 hari. Sehingga dalam satu abad, terdapat selisih sekitar tiga tahun, antara Hijriyah dan Masehi. Yang juga perlu dicatat, walau awal Kalender Hijriyah dimulai dengan tanggal 1 Muharram, peristiwa Hijrah Nabi (jika dihitung mundur) sebenarnya terjadi pada 1 Rabi’ul Awwal.

Pencanangan Kalender Hijriyyah oleh Umar ibnu Khattab, lebih bernilai sosio-kultural dan historis ketimbang religi. Sehingga dalam perayaannya pun, peringatan 1 Muharam tidak semeriah Idul Fitri dan Idul Adha yang kental dengan nilai-nilai ibadah. Jika dibuat peringkat, peringatan 1 Muharam sama peringkatnya dengan peringatan Maulid Nabi. Dengan demikian, tanggal 1 Muharam, mungkin lebih tepat disebut sebagai “Tahun Baru Orang Islam” bukan “Tahun Baru Islam”.

Beberapa ahli sejarah, bahkan menyebut Tarikh Hijriyah sebagai “Kalender Arab-Islam”, untuk memberi ruang adanya kalender orang Islam lainnya di luar Arab. Orang Jawa-Islam misalnya, mempunyai kalender sendiri (paduan antara Tahun Saka dengan Tahun Hijriyah). Sehingga nama-nama bulannya pun agak berbeda. Bulan Muharam menjadi bulan Syuro, bulan Sya’ban menjadi bulan Ruwah, dan lain sebagainya.

Yang bisa dimaknai secara religi adalah peristiwa Hijrah Nabi itu sendiri. Hijrah mengandung makna: perjalanan meninggalkan kesengsaraan menuju kebahagiaan; meninggalkan keputus-asaan menuju optimisme; atau meninggalkan keburukan menuju kebaikan.

John L. Esposito, dalam The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic Word, Volume 2 (Oxford University Press, 1995), melukiskan peristiwa Hijrah Nabi sebagai “penolakan simbolis terhadap rasa putus asa dalam menghadapi penindasan dan pelanggaran terhadap kebebasan beragama (di Makkah). Sehingga keputusan meninggalkan lingkungan yang menindas menuju lingkungan yang lebih kondusif (Madinah) merupakan pilihan tepat.”

prophets-mosque-full-view-at-night_madena.jpg

Yang lebih menarik untuk dikaji dan diteladani, adalah apa yang dilakukan Muhammad Rasulullah di Madinah bersama para sahabatnya, yang berangsur-angsur ikut berhijrah. Madinah adalah sebuah kota oase yang berpenduduk multi-etnis dan multi-agama. Penduduk aslinya adalah orang Arab dari Suku Aus dan Khajraj yang kemudian masuk Islam, serta Arab-Nasrani dan Arab-Yahudi. Lalu datanglah orang-orang Islam dari Makkah yang disebut Muhajirin (orang-orang yang berhijrah), untuk membedakannya dengan Muslim Madinah yang disebut kaum Anshor (para penolong).

Rasulullah yang bijaksana itu, berdiri di tengah, untuk memelihara kehamonisan dan menyelaraskan keberagaman. Semua penduduk Madinah, baik itu kaum Muhajirin, Anshor, maupun Yahudi dan Nasrani, diberinya hak yang sama, termasuk diberi kebebasan untuk beribadah sesuai keyakinan agamanya masing-masing, dalam perlindungan Sang Rasul. Masing-masing pihak dilarang saling mengganggu.

Rasulullah yang welas asih itu, sangat menghormati perbedaan. Perbedaan dinilainya sebagai rahmat (karunia) Tuhan, karena Islam adalah “rahmat bagi seluruh alam”, yang juga berarti “rahmat bagi seluruh manusia” (dengan segala kebhinekaannya).

Kepada seluruh penduduk Madinah yang multi-etnis dan multi-keyakinan itu, Rasulullah Muhammad SAW berujar: “Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapa pun yang engkau kenal maupun tidak engkau kenal. Kalian belum bisa disebut beriman, sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (Hadis Riwayat Imam Bukhari).

Jadi mengapa kita tidak meneladani Rasulullah yang humanis dan pluralis itu? Yang dilukiskan Al-Barzanji sebagai laki-laki yang gagah, berwajah cerah dan jernih, murah senyum dan senantiasa bertutur lemah lembut. Rasulullah yang Suci dan Disucikan Allah itu sangat membenci anarkisme. Jika kemudian muncul peperangan dalam perjalanan sejarahnya, itu lebih karena untuk membela diri dari musuh-musuhnya yang ingin membunuh Rasulullah dan para pengikutnya.

Akhirul kalam, segala puji hanya buat Allah yang telah mengutus Muhammad. Limpahkanlah shalawat dan salam bagi Rasulullah, serta para kerabat dan sahabatnya. Selamat menyambut tahun baru 1 Muharram 1429 Hijriyah. Semoga kita mampu berhijrah dari kemiskinan menuju kesejahteraan, dari perseteruan menuju keharmonisan, dari kebencian dan kedengkian menuju cinta kasih bagi sesama.

Billy Soemawisastra.

[Tulisan ini juga bisa dilihat pada: www.liputan6.com. Foto: www.biocrawler.com, http://shakabect.files.wordpress.com, http://newsimg.bbc.co.uk, hhtp://ircamera.as.arizona.edu]