Mensyukuri Musibah: Mampukah?


“Kang, sekarang saya tidak merasa sakit lagi,” kata Adhi dengan wajah berseri. “Bahkan saya pun tak lagi merasa takut dan khawatir. Mungkinkah perasaan seperti ini yang dirasakan para Wali Allah, seperti yang sering Akang ceritakan itu?”

“Adhi, itu bukan ceritaku.” Begitu timpalku. “Tapi itu ‘kan bunyi salah satu ayat dalam Al-Quran, yang menyebutkan bahwa para Wali Allah atau para Kekasih Allah sesungguhnya tidak pernah merasa takut, khawatir ataupun berduka cita sepanjang hidupnya, lantaran mereka selalu berserah diri sepenuhnya kepada Sang Khalik.”

“Saya tahu itu. Dan, seperti para beliau,  saya juga telah berserah diri sepenuhnya kepada Allah,” ujar Adhi dengan wajah yang tetap sumringah.

Sudah biasa saya mendengarkan celoteh Adhi tentang berbagai keresahan religiusitasnya. Tentang gugatannya terhadap Tuhan, yang menurutnya tidak pernah adil. Tentang berbagai ajaran agama, yang menurutnya tidak pernah memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Tentang berbagai kisah para Nabi yang menurutnya hanya dongeng pengantar tidur belaka.

Saya selalu mendengarkan celotehnya dengan sabar, dan saya tidak pernah mendebatnya. Buat apa? Dia pernah mengecap pendidikan pesantren seperti saya, dan bahkan di pesantren yang sama. Dia pernah mengenyam pendidikan di sebuah fakultas teologi, yang — ndilalah — merupakan fakultas saya juga, dulu.

Saya merasa hanya buang-buang waktu saja kalau saya berdebat dengannya, karena dia tahu betul argumen yang akan saya bangun untuk mendebatnya. Kata para dukun, seguru seilmu janganlah saling ganggu. Jadi, saya pun tidak pernah “mengganggu” pikiran-pikirannya.

Tetapi kedatangannya hari itu benar-benar berbeda. Wajahnya tidak sekusut biasanya. Tidak ada gugatan terhadap Tuhan, seperti yang biasa disampaikannya. Adhi kelihatan sangat gembira. Padahal, ia baru saja keluar dari rumah sakit setelah sekitar dua pekan menginap di sana.  Dua pekan sebelumnya, ia menjalani operasi usus tahap pertama. Ada kanker ganas dalam stadium lanjut menggerogoti ususnya. Kata dokter, Adhi tinggal “menunggu waktu”.

“Saya sudah siap,” kata Adhi. “Saya sudah berterimakasih padaNya. Saya berterimakasih atas kanker yang diberikanNya kepada saya. Saya berterimakasih karena sayalah yang telah dipilihNya untuk menikmati penderitaan ini. Saya berterimakasih karena saya telah diajariNya untuk bersyukur. Bersyukur tidak hanya karena kenikmatan hidup yang telah dilimpahkanNya kepada saya. Tetapi juga karena penyakit yang kini menggerogoti tubuh saya.”

Seperti biasa, saya terdiam mendengarkan celotehnya. Ternyata itu merupakan celotehnya terakhir. Sepekan setelah itu, Adhi berpulang tanpa pamit. Dan, ia memang tidak perlu pamit kepada siapapun.

Tentu saja saya tidak pernah bertemu lagi dengan Adhi, bahkan dalam mimpi. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pada pelajaran konkret yang disampaikannya sebelum pergi: berterimakasihlah selalu padaNya, termasuk atas musibah yang diberikanNya. Mampukah saya? Rasanya, tidak.

Billy Soemawisastra

Kenangan Natal yang Tersisa: Spiritualitas Natal dalam SMS


foto-arthur1Oleh: Arthur J. Horoni

Saya    mendapat 47 SMS ucapan selamat Natal di penghujung Desember 2008 yang baru saja kita lewati. Pesan paling awal, tiba 24 Desember 2008, dari sobatku — tapi kami lebih dekat dan saling menyapa dengan sebutan “saudaraku” — seorang Muslim. Ia menulis,  “Saudaraku, Sang Mesias tak ke mana-mana. Dia senantiasa ada dalam hati manusia. Sang Mesias menghapus dosa para gembalaannya.”

Saya terhenyak. Saudaraku ini paham betul spirit atawa roh Natal: penebusan dan pembebasan dosa umat oleh Sang Mesias. Roh Natal bukan pesta-pora gemerlap rekayasa manusia, namun karya pembebasan umat manusia dari belenggu dosa karena Allah mengasihi manusia dan alam ciptaannya.

Tentu saja saya berterimakasih sungguh atas sapaan saudaraku itu, dan saya jawab dengan mengutip baris-baris puisi Natal Sitor Situmorang: “Menyambut Kristus kita menyambut revolusi, menyambut Kristus kita membangun dunia baru.” Penyair ini melukiskan dengan tepat spirit Natal: perubahan total yang cepat. Seratus delapan puluh  derajat, menuju pemulihan: hubungan kasih dengan Allah dan kasih terhadap sesama untuk membangun dunia baru. Tentu yang lebih berkeadilan, yang membuahkan perdamaian sejati, seraya menghargai alam ciptaan Sang Khalik.

Perdamaian sejati sebagai spirit Natal juga dipesankan saudaraku Muslim yang lain:  ”Selamat Hari Natal.  Semoga kedamaian Natal yang bersemayam di hati kita,  menyebar ke seluruh semesta.”

Ada lagi sobat dari Aceh menulis,  ”Semoga kasih sayang dan karunia Tuhan mengiringi hari-hari bahagia kita semua.” Luar biasa roh Natal yang sejati ini. Ia melintas batas. Ia memperkenankan manusia sebagai ciptaan Allah, untuk menegakkan kasih sayang yang membuahkan keadilan dan perdamaian.

Ada juga petuah yang saya rasakan lebih bernas dari khotbah pendeta yang sudah rutin. Datang dari saudaraku yang anak  Sukabumi.  “Tanpa kita sadari, dalam kepenuhan Allah, segala sesuatu akan menjadi baik dan menjadikan engkau tenang. Alangkah indahnya ketika Kristus masuk dalam hidupmu, melenyapkan semua kekhawatiran.  Semoga Damai Natal mewarnai kehidupan kita dalam menjalankan tugas dan aktivitas sehari-hari.”

Dari sobat-sobat saya yang Kristen, banyak petatah-petitih tentu saja. Syukurlah bukan khotbah. Terasa sebagai cermin akhir tahun yang menyemangati kerja. ”Saat itu Dia lahir di Betlehem. Saat ini Dia lahir di hati kita, untuk Keadilan, Perdamaian  bagi Rakyat dan Bumi.”

Juga ada yang berkelakar nakal, namun menyentuh untuk introspeksi: “Yang membuatmu mahal bukan dari penampilanmu, bukan dari harta yang kamu punya, tapi kamu mahal karena dalam hati dan pikiranmu ada Kristus. Met Natal Yauwww…”

Hahaha … Tentu ini membuat saya tergelak sukacita. Ini spirit  Natal, kabar sukacita yang menumbuhkan pengharapan akan hari depan yang lebih baik.

Spirit Natal ikhwal penebusan, pembebasan, perubahan, kasih, keadilan, perdamaian, belarasa, keutuhan ciptaan dan hari depan, sungguh melintas batas.

Andaikan kita mau mulai mempraktekkan semua itu secara sederhana, kecil-kecilan saja, dengan tidak larut dalam pesta-pora akhir tahun, tidak mabuk belanja, tidak merugikan apalagi merampas milik orang lain, mau berbagi kasih dan keprihatinan, berdamai dengan diri sendiri, mungkin kita mampu menggulirkan perubahan ke arah hari depan yang lebih berpengharapan.

Medan, Awal Januari 2009.

Paulo Coelho, Sang Pendekar Cahaya


paulo-coelho-desert-in-the-gulf

The warrior knows

that the most important words in all languages

are the small words.

Yes. Love. God.

(Paulo Coelho)

Sudah lama saya ingin menulis tentang Paulo Coelho. Tetapi saya tak pernah bisa menentukan, dengan kalimat apa saya harus memulainya. Orang ini “terlalu besar” buat saya. Di usianya yang sudah tergolong tua — dilahirkan di Rio de Janeiro, Brazil, 1947 – ia justru semakin produktif. Sudah belasan novel spiritual yang ditulisnya, dan novel-novel itu telah diterjemahkan ke sekitar 56 bahasa di dunia. Beberapa novel hasil karyanya menjadi best sellers internasional, dan terjual dalam puluhan juta copy.

Jumlah penggemarnya mencapai puluhan juta orang, tersebar di sekitar 150 negara. Novel-novel yang ditulisnya telah memberikan inspirasi bagi puluhan juta pembacanya, karena umumnya berisi renungan tentang kehidupan. Renungan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidup, menyiasati takdir, dan berhubungan dengan sesama manusia dengan landasan Cinta. Bahkan lebih jauh dari itu, dalam berbagai novelnya, Paulo Coelho selalu menyiratkan bahwa hidup yang dianugrahkan Tuhan harus senantiasa disyukuri, dengan cara menjalani hidup secara ikhlas dan sebaik-baiknya.

Nuansa spiritual yang diwarnai ajaran berbagai agama (terutama agama-agama Timur Tengah), terasa sangat kental dalam novel-novelnya seperti The Alchemist, The Pilgrimage, The Zahir, dan The Fifth Mountain. Ada juga novel-novel psikologis seperti Brida, Veronika Dicides to Die, Eleven Minutes, The Devil and Miss Prym, atau By the River Piedra I Sat Down and Wept. Kesemua novelnya berisi renungan tentang kehidupan, meski masing-masing novelnya ditulis dengan gaya penuturan dan angle yang berbeda.

coelho-lagi3paulo-coelho-memanah

Tetapi Paulo Coelho bukan “hanya” seorang novelis. Ia juga seorang penutur kebijakan atau pendakwah lintas agama. Dakwah-dakwahnya bisa dilihat melalui berbagai situs online yang ia miliki, seperti paulocoelhoblog.com dan www.warriorofthelight.com. Berikut, salah satu renungan spiritualnya, pada
http://paulocoelhoblog.com
:

Pilgrimage is a duty in Muslim and Christian religions, do you think that’s the plan of God for human beings to actually travel in their souls? We are all on a pilgrimage whether we like it or not and the target, or goal, the real Santiago, if you like, is going from birth to death. You must get as much as you can from the journey, because – in the end – the journey is all you have. It doesn’t matter what you accumulate in terms of material wealth, because you are going to die anyway, so why not live? When you realize that you can be brave and that is the first tenant of any spiritual quest – to take risks.

Jika Paulo Coelho Blog berisi renungan harian yang di-update setiap hari dengan berbagai isu keseharian, Warrior of the Light berisi renungan yang lebih mendalam dan di-update secara bulanan. Renungan-renungan itu biasanya dilengkapi kutipan ajaran-ajaran spiritual, yang berasal dari khasanah berbagai agama dan kebudayaan, termasuk kata-kata bijak dari para Sufi. Sesuai dengan nama situsnya — Warrior of the Light atau Pendekar Cahaya — melalui situs ini Coelho bermaksud mengajak semua orang untuk selalu mencari Cahaya Kebenaran dalam hidupnya. Dan, Cahaya Kebenaran itu, sudah ada tuntunannya dalam berbagai kebudayaan dan agama.

coelho1coelho3

Melalui Warrior of the Light maupun Paulo Coelho Blog, sang mestro ini seakan ingin mengatakan bahwa semua agama hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni mengagungkan Tuhan dan menghormati kehidupan (baik kehidupan diri kita sendiri maupun kehidupan orang lain). Sehingga agama tidak perlu saling dipertentangkan, karena masing-masing memiliki kebenaran (yang hakikatnya, sama). Berikut, salah satu postingan Paulo Coelho, dalam Warrior of the Light, dengan topik The Languanges that God Speaks:

Below are some of those prayers:
Dhammapada (attributed to Buddha)
Instead of a thousand words,
Better just one,
One that brings peace.
Instead of a thousand verses,
Better just one,
One that shows beauty.
Instead of a thousand songs,
Better just one,
One that spreads joy.

Mevlana Jelaluddin Rumi, 13th century
Out there, besides what is right and what is wrong, there is an enormous field.
That is where we will meet.

Prophet Mohammed, 7th century
Oh Allah! I come to you because you know all, even what is hidden.
If what I am doing is good for me and my religion, for my life now and later, then let the task be easy and blessed.
If what I am doing now is bad for me and my religion, for my life now and later, then keep me far from this task.

Jesus of Nazareth, Matthew 7;7-8
Ask, and it shall be given you;
seek and you shall find;
knock, and it shall be opened unto you:
For every one that asks receives;
and he that seeks finds:
And to him that knocks,
it shall be opened.

Jewish prayer for peace
We shall go the mountain of the Lord, where we shall walk with Him. We shall change our swords into plows and our spears into baskets for harvesting fruit.
Let no nation raise its sword against another, and let us never learn the art of war. And no-one should fear his neighbor, because thus spoke the Lord.

Lao Tsu, China – 6th century B.C.
For there to be peace in the world, the nations must live in peace.
For there to be peace among nations, cities must not rise up against one another. For there to be peace in the cities, neighbors must get on well with one another. For there to be peace among neighbors, harmony must reign in the home. For there to be harmony at home, it must be found in your own heart.

warrior-of-the-light-online

Paulo Coelho, tampaknya sangat menyadari keampuhan media internet. Sehingga ia pun memanfaatkan jaringan sosial online seperti Facebook. Di Facebook, ia bisa ditemui melalui Paulo Coelho Fans Club, halaman khusus Paulo Coelho dan The Best of Paulo Coelho. Meski jaringan ini dikelola oleh para penggemarnya, Coelho sering pula menjawab langsung pertanyaan-pertanyaan para penggemarnya melalui Facebook. Induk dari semua situs milik Paulo Coelho, adalah www.paulocoelho.com. Tentu saja Coelho tidak sendirian mengelola situs-situsnya. Ada pekerja khusus yang menanganinya.

Melalui situs-situs tersebut, kita juga bisa mengetahui kegiatan harian sang maestro. Jadwalnya sangat padat. Hampir setiap hari, Coelho memberikan ceramah di berbagai negara. Ceramah-ceramahnya bisa diakses melalui You Tube, dan foto-fotonya bisa diunduh melalui www.flickr.com. Termasuk kata-kata bijaknya yang dikemas dalam format JPEG. Selain dalam bahasa Inggris, situs-situs ini tersedia dalam bahasa-bahasa lainnya seperti Portugis, Spanyol, Itali, Prancis, Belanda, Jerman, Polandia, Arab, Rusia, Cina, Persia. Sayangnya, belum ada yang berbahasa Indonesia.

coelho-lagi1

Paulo Coelho, tidak hanya bicara soal cinta dan kemanusiaan. Anjuran-anjurannya kepada semua orang agar peduli pada nasib sesama, juga diwujudkan dalam bentuk kongkret. Pada 1996, ia mendirikan Paulo Coelho Intitute. Sebuah lembaga nirlaba yang juga bernama Creche Escola Meninos da Luz, Lar Paulo de Tarso. Lembaga sosial yang berpusat di Rio de Janeiro, Brazil, itu menampung dan menghidupi ratusan anak terlantar dan orang-orang lanjut usia, hingga sekarang. Biaya pengelolaannya berasal dari royalties buku-buku yang ditulis Paulo Coelho.

coelho-institute2

Dalam usianya yang semakin tua, Paulo Coelho tampaknya tak pernah kehabisan gagasan. Semangat hidupnya semakin tinggi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang selalu diajaknya untuk menjadi pendekar cahaya, pencari kebenaran. Sementara bagi orang-orang yang tidak mampu, Coelho berupaya membantu mereka agar dapat melihat cahaya kehidupan. Cahaya yang dianugerahkan Sang Pencipta. Berlebihankah saya, bila saya mengatakan bahwa Paulo Coelho adalah seorang Sufi modern?

Billy Soemawisastra

[Sumber tulisan dan foto: www.paulocoelho.com, www.warriorofthelight.com, paulocoelhoblog.com]

Paulo Coelho dan Perjalanan Hidupnya


Brazil, negeri bekas jajahan Portugis di Amerika Selatan itu, hanyalah sebuah negara berkembang. Dan, sebagaimana umumnya negara berkembang, kegiatan tulis-menulis alias kesastraan, taklah mampu menopang hidup para sastrawannya. Apatah lagi membuat seorang sastrawan menjadi kaya raya dari hasil karyanya.

Puluhan tahun lalu, masyarakat Brazil pun bahkan mungkin tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang sastrawan yang tersohor ke seantero jagat, dan ikut mengharumkan nama negerinya. Apalagi sastrawan yang namanya kini mendunia itu, pernah dikenal sebagai “anak nakal” pencandu mariyuana dan anggota kaum urakan alias hippies. Ia pun pernah dipenjara karena dianggap menentang pemerintah.

Anak nakal itu bernama Paulo Coelho, yang sempat dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena dikira terkena ganguan mental. Padahal di dalam diri anak itu, terpendam bakat yang sangat kuat. Bakat seni yang menuntunnya menjadi penyair, pemain teater dan penulis lirik lagu. Ia pun mencoba menulis novel, namun novel-novel awal yang ditulisnya tidak mendapat sambutan masyarakat, hingga ia pun sempat frustrasi. Barulah setelah novelnya, The Alchemist, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan menjadi novel terlaris, nama Paulo Coelho melejit menjadi salah seorang novelis paling terkenal di tingkat dunia, dan membuat bangga masyarakat Brazil.

coelho_santiago

Paulo Coelho dilahirkan di tengah sebuah keluarga kelas menengah, di Rio de Janeiro, Brazil, 1947. Ayahnya, Pedro, adalah seorang insiyur, dan ibunya, Lygia, seorang ibu rumah tangga. Pada usia 7 tahun, Paulo dimasukkan ke sekolah Jesuit San Ignacio, Rio de Janeiro. Bakat menulisnya sudah terlihat di sekolah ini. Ia sering menulis puisi dan esei sastra, hingga ia pun memenangkan juara pertama dalam lomba penulisan puisi di sekolahnya.

Pedro dan Lygia tidak begitu bergembira dengan prestasi Paulo di bidang tulis-menulis. Kedua orangtua ini mencita-citakan anaknya menjadi insinyur, mengikuti jejak sang ayah. Melihat perilaku Paulo yang berbeda dari anak-anak lainnya, Pedro dan Lygia khawatir putranya terkena gangguan mental. Pada usia 17 tahun, dua kali ia dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa untuk mendapatkan terapi psikiatri. Hasilnya, ia dinyatakan sehat secara mental.

Tidak lama kemudian ia aktif di teater, dan bekerja sebagai wartawan. Lagi-lagi orangtua Paulo gundah. Di kalangan masyarakat kelas menengah Brazil, ketika itu, teater dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bermoral. Untuk ketiga kalinya, Pedro dan Lygia membawa Paulo ke dokter jiwa, dan psikiater yang memeriksanya, dengan tegas mengatakan bahwa Paulo Coelho tidak menderita gangguan mental.

veronika

Apa yang dilakukan orangtuanya justru membuat Paulo depresi. Ia merasa kehidupan pribadinya terlalu jauh dicampuri. Pengalaman batinnya ini ia tuangkan 13 tahun kemudian, ke dalam sebuah novel yang diterbitkan di Brazil, 1988, Veronika Decides to Die. “Saya mendapatkan lebih dari 12.000 email,” ujar Coelho. “Berisi pengakuan bahwa apa yang saya tuangkan dalam novel itu, punya banyak kemiripan dengan pengalaman mereka.”

Tahun 1960-an, adalah era flower generation. Kehidupan hippies mewabah di seluruh dunia. Termasuk di Brazil. Paulo, yang baru menginjak usia 20-an dan gemar bertualang itu menyemplungkan diri ke dalam kehidupan kaum hippies. Ia memanjangkan rambutnya, dan sempat pula menjadi pencandu obat terlarang. Kegiatan berteaternya semakin meningkat, dan hobi menulisnya semakin menjadi-jadi. Pernah ia mencoba menerbitkan majalah, namun hanya tahan dua terbitan. Sementara itu, ia drop out dari sekolah.

Awal 1970-an, atas ajakan Raul Seixas, seorang musisi dan composer Brazil, Paulo menulis lirik lagu. Lagu-lagu yang liriknya dibuat oleh Paulo Coelho, banyak yang menjadi top hit di Brazil. Bahkan salah satu album rekaman lagu-lagunya, terjual sebanyak 500 ribu keping piringan hitam. Itulah awal dirinya mengenal uang dalam jumlah besar.

Kerja sama Paulo Coelho dengan Raul Seixas berlanjut hingga 1976. Selama itu lebih dari 60 lagu ditulisnya bersama Raul. Pada masa itu pula Paulo dan Raul aktif dalam pergerakan memperjuangkan kebebasan berpendapat. Di antaranya dengan menerbitkan buku-buku komik berjudul Kring-ha, sebagai sindiran atas tindakan represif pemerintah Brazil terhadap rakyatnya. Akibatnya Paulo dan Raul pun dipenjara dengan tuduhan subversif.

Selepas dari penjara, Paulo Coelho mendapatkan pekerjaan tetap di perusahaan rekaman Polygram, dan menikah dengan isteri pertamanya. Tahun 1977, ia pindah ke London, mencoba mengadu nasib sebagai penulis, namun tak banyak mendatangkan hasil. Ia pun kembali ke Brazil, dan bekerja di perusahaan rekaman lainnya, CBS. Namun kehidupan rumah tangganya porak-poranda. Ia pun bercerai dari isteri pertamanya.

Tahun 1979, ia berjumpa teman lamanya, Christina Oiticica, yang kemudian dinikahinya hingga sekarang. Setelah menikah, pasangan suami-isteri ini mengadakan perjalanan keliling Eropa. Singgah di berbagai negara. Di Jerman, ketika ia berkunjung ke bekas kamp konsentrasi di Dachau, Paulo mengaku bertemu dengan orang misterius yang menyampaikan visi tentang masa depannya.

Dua bulan kemudian, di sebuah café di Amsterdam, ia berjumpa orang yang sama. Kali ini ia mengobrol cukup lama dengan orang yang tidak disebutkan jatidirinya itu. Orang itu menganjurkan agar Paulo kembali memperdalam Katolikisme, dan mempelajari simbol-simbol Kristiani. Orang itu juga menganjurkan agar perjalanan Paulo Coelho dilanjutkan dengan menelusuri Road to Santiago (rute perjalanan ziarah abad pertengahan, yang membentang antara Prancis dan Spanyol).

the-pilgrimagePaulo pun mengikuti anjuran orang tersebut. Ia melakukan perjalanan ziarah Road to Santiago, pada 1986. Setahun kemudian, pengalamannya itu ia tuangkan dalam novel berjudul, The Pilgrimage. Buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit kecil di Brazil, dan tidak banyak memperoleh sambutan. Tahun 1988, ia mencoba menulis novel yang sama sekali berbeda dari novel sebelumnya, The Alchemist. Sebuah novel yang penuh metapora dan simbol-simbol kehidupan, dipadu dengan pengetahuannya tentang ilmu kimia, yang pernah ia pelajari selama 11 tahun. Buku ini pun ternyata tidak memperoleh sambutan yang memuaskan. Edisi pertamanya hanya terjual 900 eksemplar, dan penerbitnya tidak mau lagi mencetak ulang.

alchemist

Tetapi ternyata masih ada kesempatan kedua. Tahun 1990, sebuah penerbit buku yang cukup besar, Rocco, menerbitkan novelnya, Brida. Sebuah novel tentang cinta dan pengorbanan, yang kemudian laris terjual. Kesuksesan Coelho dengan Brida, membuat para pembaca melirik kembali dua novel yang pernah terbit sebelumnya, The Alchemist dan The Pilgrimage. Tak dinyana, kedua novel itu berhasil menjadi best sellers, dan justru mengalahkan popularitas Brida.

Sambutan terhadap The Alchemist, tidak hanya terbatas pada pembaca Brazil. Beberapa penerbit dari negara lain tertarik untuk menerjemahkan dan menerbitkannya di negara masing-masing. Novel yang semula ditulis dalam bahasa Portugis itu, kemudian muncul dalam berbagai bahasa. The Alchemist dan The Pilgrimage menjadi buku yang paling banyak dicetak ulang di Brazil dan Portugis, dan bahkan kemudian di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Guinnes Book of Records pun mencatat The Alchemist, sebagai buku yang paling laris di dunia dan buku yang paling banyak diterjemahkan.

brida2The Alchemist, yang kemudian menjadi maskotnya Paulo Coelho, sedikitnya telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa, dan dibaca di 150 negara. Kesuksesan Paulo Coelho dengan The Alchemist-nya, terus berlanjut pada buku-buku novel berikutnya, yang juga diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan dibaca di banyak negara. Di Indonesia, kini bahkan dengan mudah kita bisa menemukan karya-karya Paulo Coelho versi bahasa Indonesia di berbagai toko buku, yang umumnya diterbitkan oleh penerbit Gramedia.

Bukan hanya The Alchemist, yang semakin laris. Tetapi juga buku-buku Paulo Coelho lainnya seperti The Zahir, Fifth Mountain, Eleven Minutes, By The River Piedra I Cry and I swept, The Devil and Miss Prym, serta buku-buku lainnya. Ada juga The Warrior of The Light, sebuah buku berisi esei tentang kehidupan, cinta dan Tuhan. Sayangnya buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan versi cetak dari website www.warriorofthelight.com.

the-zahir11-minutesriver-piedrathe-devil-and-miss-prymwarrior-of-the-light

Tahun 2000, Paulo Coelho berkunjung ke Iran. Ia merupakan penulis non-Muslim pertama sejak 1979, yang melakukan kunjungan resmi ke Iran. Ia datang ke negeri itu atas undangan The International for Dialogue Among Civilizations. Semula ia merasa pesimis dan khawatir bahwa masyarakat Iran akan menyambutnya dengan sikap dingin, karena ia seorang penulis non-Muslim.

Tetapi kenyataan yang ditemuinya, justru sebaliknya. Ia tak hanya disambut dengan penuh kehangatan, namun juga memperoleh royalties yang cukup besar dari pemerintah Iran, atas buku-bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan dibaca secara luas oleh masyarakat Iran. Paulo Coelho pun menjadi pengarang non-Muslim pertama, yang mendapatkan royalties hak cipta dari pemerintah Iran.

coelho-lagi2

Ribuan penggemarnya di Iran berbondong-bondong untuk memperoleh tanda tangan Paulo Coelho, dan mendengarkan ceramahnya. Paulo Coelho tidak pernah membayangkan dirinya akan memperoleh sambutan yang luar biasa, di negeri berpenduduk mayoritas Muslim itu. “Saya telah memperoleh banyak penghargaan. Saya telah memperoleh banyak cinta. Tetapi di atas semua itu, saya memperoleh banyak pengertian dari Anda semua atas karya-karya saya, dan semua ini sangat menyentuh lubuk hati saya terdalam,” ujar Coelho, dengan penuh haru.

“Sungguh merupakan kejutan yang sangat besar bagi saya,” lanjut Coelho. “Jiwa saya telah datang ke sini sebelum diri saya. Buku-buku saya telah dipersembahkan dan saya menemukan teman-teman lama di antara orang-orang yang tidak pernah saya kenal sebelum ini. Sehingga saya pun tidak merasa menjadi orang asing di negeri ini. Saya merasakan kebahagiaan yang amat sangat, dan kini saya percaya bahwa dialog antar-manusia, dari hati ke hati, bisa dilakukan di mana pun. Iran telah membuktikan hal itu.”

paulo-bersama-fans-di-teater-palacio-valdescoelho-dan-para-penggemarnya

Penghargaan pemerintah dan masyarakat Iran terhadap Paulo Coelho, membuktikan bahwa penulis besar ini bisa diterima semua kalangan, karena karya-karyanya yang universal dan menyuarakan kemanusiaan. Terutama juga karena spirit pluralisme yang dimilikinya, yang memandang dunia ini sebagai dunia yang penuh keragaman. Ini tercermin dari tulisan-tulisannya yang sering mengacu pada berbagai ajaran agama dan kebudayaan.

Cukup banyak penghargaan yang telah didapatkan Paulo Coelho, dari berbagai lembaga di dunia. Dan, jutaan dollar telah diraihnya dari hasil penjualan buku-bukunya, sehingga ia pun berada dalam jajaran para penulis terkaya di dunia. Tetapi sebagian harta yang didapatnya, ia hibahkan untuk membantu masyarakat miskin di negerinya. Ia juga tak pernah berhenti mengajak semua orang untuk terus menjalin saling pengertian, agar tercipta dunia yang damai bagi semua. Itu sebabnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun memintanya menjadi Duta PBB untuk perdamaian.

Billy Soemawisastra

[Sumber tulisan dan foto: www.paulocoelho.com]