Jagat Alit

Menyemai Gagasan, Mensyukuri Nikmat Tuhan

Paskah dan SMS Sejuta Umat

Dan, teknologi komunikasi mutakhir menunjukkan kedigjayaannya: produksi pesan pendek melalui sms maupun facebook di sekitar perayaan umat Kristiani dari Jumat Agung hingga Paskah 2010. Jumat Agung adalah perayaan wafatnya Jesus Kristus sedangkan Paskah menandai KebangkitanNya.

Melalui teknologi komunikasi mutakhir dengan PC, laptop ataupun ponsel, segala kegaduhan penyampaian ucapan menjadi serba cepat dan tak repot. Dulu orang mesti memilah-milah kartu ucapan  yang cocok, mengirim jauh hari sebelum waktunya agar tak telat tiba di alamat. Sekarang tinggal ketik, tekan tombol atau klik dan beres. Balasan dapat tiba dalam hitungan detik atau menit.

Wah. Kita tengah menikmati keajaiban global village (Desa Dunia).

Toh ada yang hilang, sapaan-sapaan lewat surat atau kartu pos jaman dulu (jadul) rasanya lebih asli atau orisinal. Dan otentik. Sekarang ini bahasa TI bisa menyesatkan. Maklumlah media adalah pesan itu sendiri (Marshal Mc Luhan; The Media is the message).  Cobalah gimana kita bisa menikmati:  ”Met Paskah”.

Sebagai ekstrim yang lain, mesti pakai bahasa asing, Inggris, misalnya, “Happy Easter” atau latin (mungkin kesannya lebih kudus) seperti, “Christo Anesti Allisto Anesti” (bangkit, tegak, tegar bersama Tuhan). Ini agak “menyesatkan” karena seolah-olah supaya lebih kristiani pakailah bahasa asing.

Namun yang lebih celaka adalah ucapan-ucapan yang diproduksi oleh kelompok-kelompok tertentu, boleh jadi bekerjasama dengan operator pelayanan  jaringan yang kemudian diserap begitu saja oleh umat dan disebar-luaskan,  seolah-olah ini paling paten.

Ada contoh:

Saudaraku…

Jika ada 1000 orang yang rindu padamu, aku turut di dalamnya.

Jika ada 100 orang yang MENYAYANGIMU

pasti aku termasuk …

Jika ada 10 orang yang peduli padamu,

Percayalah salah satunya pasti.

Aku…

Tetapi jika ada 1 orang yang mau MATI untukmu,

tunggu dulu

itu pasti bukan aku

HANYA DIA yang RELA MATI

Untukmu…

……

Happy Great Friday

Selamat Merayakan Hari Jumat Agung

Hari wafatnya Jesus Kristus di kayu salib

…..

Atau:

SELAMAT !!!

Anda mendapat Pemenang GEBYAR PASKAH BERHADIAH…

Anda berhak atas satu set perangkat SUKACITA

dan  satu unit DAMAI SEJAHTERA

dan BUAH-BUAH ROH

hadiah bisa Anda miliki cukup dengan mentransfer IMAN dan PENGHARAPAN

kepada JESUS KRISTUS serta mengirim KASIH kepada sesama.

Awas Penipuan!

dst…dst…dst…

Nah yang seperti ini yang saya bilang tadi, pesan untuk sejuta umat. Satu orang bisa mendapat pesan yang sama dari 3 orang. Artinya orang yang melanjutkan pesan itu tak sadar telah menjadi agen “perdagangan bebas” pesan-pesan perayaan keagamaan.

Neoliberalisme telah berhasil juga teologi menjadi sekadar komoditi He… he… he…,  saya juga melanjutkan pesan semacam itu ternyata.

Padahal dalam buku-buku kumpulan cerita humor tentang para pemuka agama Kristen mula-mula sekitar abad 2 Masehi, banyak cerita yang bermakna bila disebarluaskan di abad globalisasi ini.

Saya kutip saja :

Konon ketika Jesus Kristus turun ke “kerajaan maut” atawa neraka  usai mengalami penyaliban, Ia menemui pendosa, tak melihat dari bangsa mana, sekte agama apa, mengampuni dan membebaskan mereka.

Melihat itu , Iblis, sang raja kegelapan menangis, karena neraka telah kosong.

Alkitab , Jesus membujuk Iblis:

“Tak perlu menangis, nanti akan ku masukkan ke sini jadi pemimpin dunia yang kejam, para koruptor, para pegiat perang, para penindas rakyat dan para pemimpin agama yang lebih suka berkolaborasi dengan penguasa jahat, ketimbang membela umatnya yang diperlakukan tidak adil, miksin dan tertindas.  Sabarlah”.

Kenapa kita tidak belajar menulis perumpamaan-perumpamaan baru dengan memanfaatkan kedigjayaan teknologi komunikasi ?

Selamat Paskah!

Arthur John Horoni

Senin, 5 April 2010 Ditulis oleh Arthur John Horoni | Agama, Inspirasi, Refleksi, Wacana | , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Mi’raj Isa Al-Masih

Setiap tanggal 21 Mei, umat Nasrani merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus, seperti juga 21 Mei 2009 ini. Dalam salah satu Kamus Alkitab terbitan tahun 60-70-an, ada padanan Kenaikan Yesus Kristus, yaitu Mi’raj Isa Al-Masih.

Sebelas tahun yang lalu, juga pada bulan Mei, pada saat umat Nasrani khusuk berdoa merayakan Kenaikan Yesus Kristus, Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden RI. Saat itu ada seloroh: Yesus naik, Soeharto turun.

Saat ini, hanya berselang sehari, dua hari raya dengan dua istilah penuh harapan, melintas di sejarah negeri ini: Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei) dan Hari Kenaikan Yesus Kristus (21 Mei). Para mistikus atau peramal boleh-boleh saja mengotak-atik istilah kebangkitan dan kenaikan ini dengan berbagai fenomena. Boleh duniawi ataupun samawi, silakan saja.

Bagi saya, dihubungkan dengan agenda nasional pemilihan umum (legislatif dan eksekutif) yang sedang bergulir di negeri ”ratapan pulau kelapa” ini, makna kebangkitan dan kenaikan jadi menggoda.

Apa yang betul-betul bangkit saat ini?

Bila melirik data pemilu legilatif, yang bangkit adalah kelompok rakyat yang tak memilih (orang bilang golput). Coba, sekitar 49% betul-betul memilih tak menggunakan hak pilih. Sementara sekitar 12% karena tidak tercantum di daftar pemilih tetap.

Makna 49%, Sobat, mengandung arti, kelompok inilah pemenang pemilu legislatif yang sebenarnya. Lebih jauh, kelompok ini memiliki kesadaran kritis menolak gombalisasi dari partai-partai yang dikuasai orang-orang haus kuasa, serta para birokrat yang takabur.

Yesus Kristus atau Isa Al-Masih, lebih 2000 tahun silam melawan gombalisasi dari para pemimpin (termasuk pemimpin agama) Yahudi yang lebih mementingkan kekuasaan, mengubah pesan kitab suci menjadi doktrin yang justru menindas rakyat kecil.

Karena itu, di satu kesempatan membaca Kitab Suci di Synagoge (rumah ibadah agama Yahudi), Yesus membaca gulungan Kitab Nabi Yesaya (60:1-2), seperti yang dilaporkan penulis Injil Lukas (4 : 18-19); ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab itu, Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan Tahun Rahmat Tuhan telah datang?”

Begitu. Jadi Yesus berpihak pada seluruh rakyat yang terpinggirkan. Dari sana Ia menyampaikan kabar baik (Injil) sebagai berita pembebasan atau perubahan total. Tentu saja para pemimpin agama Yahudi yang sudah berkolaborasi dengan raja boneka Herodes dan Gubernur Romawi (sang penjajah) Pontius Pilatus, tersinggung berat, akhirnya marah besar dan menyalibkan Yesus.

Umat Kristiani mengimani Yesus yang disalibkan, mati dan dikuburkan itu, bangkit pada hari ketiga, yang kemudian di rayakan sebagai Hari Raya Paskah. Hari Kenaikan berlangsung 40 hari setelah Hari Raya Paskah.

Pada masa 40 hari itu, menurut beberapa tafsiran teolog, Yesus melakukan pengorganisasian kembali murid-murid-Nya yang porak poranda pada saat Ia disalibkan. Kalau istilah partai sekarang, Ia memantapkan kaderisasi, agar para murid tetap setia kepada Injil, Kabar Baik tentang Pembebasan dari ketidakadilan, karena itu selalu berpihak kepada rakyat kecil.

Para murid harus memiliki bela rasa kepada kaum tertindas dan berjuang untuk perubahan ke arah lebih baik seiring dengan kehendak Allah.

Jika dilirik dari sistem politik kiwari, sikap Yesus seperti ini adalah sikap anti mapan, sikap kiri. Karena ia menentang pemimpin agama yang senang jadi nabi istana.

Nah, bila saat ini, di sini, di Indonesia kita berefleksi di mana sebenarnya posisi institusi agama dan para pemimpinnya?

Apakah di pihak rakyat tertindas seperti sikap Yesus, atau memilih tempat aman di pihak kaum penindas (pada era Yesus, Kaum Farisi).

Yang jelas, rakyat sudah bangkit dari nina bobo para politisi, yang mengumbar janji-janji muluk setiap pemilu. Dan rakyat pasti naik kelas, menjadi lebih jeli untuk memilih pemimpin yang benar-benar memiliki bela rasa kepada penderitaan rakyat. Kalau golput semakin naik pada pemilihan presiden, jangan salahkan rakyat.

Itu berarti, belum ada pemimpin yang cocok dengan hati rakyat, atau karena sistem politik ini tidak memberi peluang majunya kaum muda untuk memimpin bangsa. Jangan lupa, Sobat, Yesus yang historis lebih 2000 tahun silam, adalah orang muda yang penuh semangat namun bijak. Usianya sekitar 30-an tahun.

Selamat merayakan Mi’raj Isa Al-Masih.

Shalom.

Arthur J. Horoni

Rabu, 20 Mei 2009 Ditulis oleh Arthur John Horoni | Agama, Inspirasi, Politik, Refleksi, Sejarah, Wacana | , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Kenangan Natal yang Tersisa: Spiritualitas Natal dalam SMS

foto-arthur1Oleh: Arthur J. Horoni

Saya    mendapat 47 SMS ucapan selamat Natal di penghujung Desember 2008 yang baru saja kita lewati. Pesan paling awal, tiba 24 Desember 2008, dari sobatku — tapi kami lebih dekat dan saling menyapa dengan sebutan “saudaraku” — seorang Muslim. Ia menulis,  “Saudaraku, Sang Mesias tak ke mana-mana. Dia senantiasa ada dalam hati manusia. Sang Mesias menghapus dosa para gembalaannya.”

Saya terhenyak. Saudaraku ini paham betul spirit atawa roh Natal: penebusan dan pembebasan dosa umat oleh Sang Mesias. Roh Natal bukan pesta-pora gemerlap rekayasa manusia, namun karya pembebasan umat manusia dari belenggu dosa karena Allah mengasihi manusia dan alam ciptaannya.

Tentu saja saya berterimakasih sungguh atas sapaan saudaraku itu, dan saya jawab dengan mengutip baris-baris puisi Natal Sitor Situmorang: “Menyambut Kristus kita menyambut revolusi, menyambut Kristus kita membangun dunia baru.” Penyair ini melukiskan dengan tepat spirit Natal: perubahan total yang cepat. Seratus delapan puluh  derajat, menuju pemulihan: hubungan kasih dengan Allah dan kasih terhadap sesama untuk membangun dunia baru. Tentu yang lebih berkeadilan, yang membuahkan perdamaian sejati, seraya menghargai alam ciptaan Sang Khalik.

Perdamaian sejati sebagai spirit Natal juga dipesankan saudaraku Muslim yang lain:  ”Selamat Hari Natal.  Semoga kedamaian Natal yang bersemayam di hati kita,  menyebar ke seluruh semesta.”

Ada lagi sobat dari Aceh menulis,  ”Semoga kasih sayang dan karunia Tuhan mengiringi hari-hari bahagia kita semua.” Luar biasa roh Natal yang sejati ini. Ia melintas batas. Ia memperkenankan manusia sebagai ciptaan Allah, untuk menegakkan kasih sayang yang membuahkan keadilan dan perdamaian.

Ada juga petuah yang saya rasakan lebih bernas dari khotbah pendeta yang sudah rutin. Datang dari saudaraku yang anak  Sukabumi.  “Tanpa kita sadari, dalam kepenuhan Allah, segala sesuatu akan menjadi baik dan menjadikan engkau tenang. Alangkah indahnya ketika Kristus masuk dalam hidupmu, melenyapkan semua kekhawatiran.  Semoga Damai Natal mewarnai kehidupan kita dalam menjalankan tugas dan aktivitas sehari-hari.”

Dari sobat-sobat saya yang Kristen, banyak petatah-petitih tentu saja. Syukurlah bukan khotbah. Terasa sebagai cermin akhir tahun yang menyemangati kerja. ”Saat itu Dia lahir di Betlehem. Saat ini Dia lahir di hati kita, untuk Keadilan, Perdamaian  bagi Rakyat dan Bumi.”

Juga ada yang berkelakar nakal, namun menyentuh untuk introspeksi: “Yang membuatmu mahal bukan dari penampilanmu, bukan dari harta yang kamu punya, tapi kamu mahal karena dalam hati dan pikiranmu ada Kristus. Met Natal Yauwww…”

Hahaha … Tentu ini membuat saya tergelak sukacita. Ini spirit  Natal, kabar sukacita yang menumbuhkan pengharapan akan hari depan yang lebih baik.

Spirit Natal ikhwal penebusan, pembebasan, perubahan, kasih, keadilan, perdamaian, belarasa, keutuhan ciptaan dan hari depan, sungguh melintas batas.

Andaikan kita mau mulai mempraktekkan semua itu secara sederhana, kecil-kecilan saja, dengan tidak larut dalam pesta-pora akhir tahun, tidak mabuk belanja, tidak merugikan apalagi merampas milik orang lain, mau berbagi kasih dan keprihatinan, berdamai dengan diri sendiri, mungkin kita mampu menggulirkan perubahan ke arah hari depan yang lebih berpengharapan.

Medan, Awal Januari 2009.

Senin, 5 Januari 2009 Ditulis oleh Arthur John Horoni | Agama, Inspirasi, Refleksi | , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Andaikan Tak Ada Pesta Natal

Oleh: Arthur J. Horoni

Lebih baik, berusahalah supaya keadilan mengalir seperti air, dan kejujuran seperti sungai yang tak pernah kering.

(Amos 5: 21-24)

Oleh krisis global yang melanda dunia saat ini, rakyat Indonesia semakin sengsara. Harga produk pertanian merayap, padahal pupuk mahal, bahkan jadi ajang perselingkuhan pejabat dengan distributor yang tentu mencekik petani. Bayangkan bagaimana nasib petani tak bertanah? Padahal pemerintah menjagokan program ”Ketahanan Pangan”.

petani-di-sawah-kering1

Di sektor industri, bencana tengah menggempur industri tekstil. Permintaan dari Amerika dan Eropa menurun 30-40 %, sekitar 100 ribu dari 1,2 juta buruh di sektor ini akan dirumahkan dan tahun 2009, konon 50% buruh Indonesia atau sekitar 45,5 juta orang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Akan halnya, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias buruh migran lebih menyedihkan lagi. Gelombang PHK telah dimulai di Hongkong, Taiwan, Korea, menyusul Singapura dan Malaysia. Itulah kutuk neoliberalisme yang menjagokan keperkasaan pasar bebas.

Jadi kata kunci adalah: jatuh. Rupiah jatuh, sawit, karet, minyak jatuh. Padi, apalagi dilibas banjir, jatuh. Jagung bibit unggul karena tak ada pupuk jatuh. Alhasil, sokoguru bangsa: petani, buruh dan nelayan (yang tak bisa beli solar mahal), berguguran bagai daun kering terjerembab tak berdaya di tanah tandus. Jatuh sudah. Ajaib memang, pemerintah tak jatuh-jatuh, padahal Semakin Banyak Yang Jadi Korban.

buruh-migran-perempuan

Maka Sempurnalah Penderitaan Rakyat …

Kendati penderitaan rakyat semakin sempurna, renovasi gedung DPR dan rumah pejabat di pusat dan daerah jalan terus. Mobil mewah laku terus. Di sebuah kabupaten di timur nusantara, mobil Rangers Double Cabin, jadi angkutan lapangan eksekutif dan legislatif. Di kelas ini, rasa-rasanya tak ada krisis. Untuk apa pusing-pusing memikirkan rakyat yang selalu diguncang pertanyaan: apa bisa makan hari ini?

Bagi para birokrat, anggota DPR/DPRD, pimpinan parpol dan sebangsanya pertanyaan itu berubah: makan di mana hari ini? Yang serem para investor rakus: makan siapa hari ini? Jadi, sempurnalah penderitaan rakyatmu, tuan dan nyonya besar…

Suara Nabi di Tengah Gurun

Di tengah gurun ketidakadilan ini, di kubangan penderitaan rakyat, umat rindu suara nabi. Kutipan teks dari Nabi Amos di awal tadi kurang digunakan birokrat gereja, namun sungguh popular di kalangan umat yang sengsara. Amos, nabi pertama dalam Alkitab, yang pesannya dicatat secara terperinci. Ia mengritik pejabat kerajaan dan pemuka agama Yahudi yang tak peka atas ketidakadilan. Ia membentak bangsa yang menjadikan ibadah sebagai perayaan-perayaan atau pesta semata tanpa kepedulian atas nasib rakyat. Ibadah seperti itu kata Amos, bakal ditolak Tuhan. Allah, tutur Amos, menghendaki keadilan bergulung-gulung seperti air.

Dari Sidang Raya IX Dewan Gereja-gereja se Dunia (DGD-WCC) di Porto Alegre, Brazil, 2006, terbit sebuah dokumen latar belakang yang “membentak” globalisasi ekonomi yang menjujung neoliberalisme, ekonomi pasar bebas. Dokumen itu berjudul Alternative Globalization Addressing People and Earth. Akronimnya adalah AGAPE, kata dari bahasa Yunani yang berarti Kasih. Dokumen ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia di bawah judul, “Globalisasi Alternatif mengutamakan Rakyat dan Bumi.” Diktum neoliberalisme menurut dokumen ini, “pada dasarnya neoliberalisme mengubah segala sesuatu dan manusia menjadi komoditi. “

Penguasaan neoliberalisme terhadap kekayaan material yang melebihi penghargaan akan harkat dan martabat manusia, membuat manusia diperlakukan tidak selayaknya, mengorbankan kehidupan manusia dan alam demi ketamakan. Buahnya adalah ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan, kelaparan, pengangguran yang melanda bagian terbesar penduduk dunia dan berakibat kepada kematian. Seiring dengan itu masalah-masalah lingkungan hidup semakin meruyak: pemanasan global, penipisan sumber daya alam, terbentuknya gurun hijau (perkebunan sawit yang terlantar karena sawit jatuh) serta hilangnya keanekaragaman hayati.

Di sisi itu, pemerintah dan pengusaha kita adalah birokrat dan kapitalis yang menjadi agen neoliberalisme atau neolib itu. Ada bangunan yang seragam dari Banda Aceh sampai Jayapura sebagai wajah gemilang neolib: mal, ruko dan Swiss Bell Hotel …

Keberanian Melawan Arus

Bagaimana tanggapan gereja-gereja di Indonesia terhadap situasi ini? Pada 1-5 Desember 2008 di Wisma Samadi, Klender, Jakarta, 80 orang pimpinan gereja anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), utusan kaum perempuan dan pemuda, para pelaku ekonomi, politik dan budaya, yang prihatin atas situasi itu terlibat dalam konsultasi Nasional Gereja dan Ágape. Tema Konsultasi, “Tuhan, dalam Rahmat-Mu, Ubahlah Dunia”, dengan subtema, “ AGAPE dari Deklarasi Menjadi Aksi”.

sae-nababan

Peserta Konsutasi Nasional Gereja dan AGAPE, berpose bersama Presiden DGD, Pdt. Dr. SAE Nababan.“Bagi Allah tidak ada yang mustahil”.

(Foto: Dok. Arthur JH/PKM)

Presiden DGD (Dewan Gereja-gereja se-Dunia), Pdt. Dr. SAE Nababan, dalam renungan pada pembukaan konsultasi mengritik gereja yang tidak peduli terhadap ketidakadilan yang berlangsung di tengah masyarakat. Ia menguraikan, ada tiga penyebab sikap ketidakpedulian itu, (1) pengejaran keselamatan jiwa (kesalehan pribadi sebagai warisan pietisme), (2) kuasa tradisi gereja yang membentuk pola pikir dan pola hidup manusia, yang hampir bersifat mutlak, dan (3) keterbatasan pergumulan yang terus-menerus dengan Firman Tuhan di tengah perjalanan hidup. Karena ketidakpedulian ini, kita cenderung menjauhkan diri dari ketidakadilan yang mendera rakyat, tidak berani bersama rakyat menghadapinya dan secara tegas memberitakan, mengusahakan dan menegakkan keadilan bagi semua orang, sebagai kehendak Allah.

Dr. Nababan menegaskan, kerinduan mendalam setiap manusia dan setiap komunitas manusia bahkan setiap bangsa adalah memperoleh keadilan dan perdamaian. Karena hanya dengan adanya keadilan dan perdamaian, kehidupan manusia dapat berkembang sejahtera. “Keduanya tak terpisahkan”, ujarnya. Ia menyatakan kegembiraannya dengan kehadiran peserta konsultasi, walau hanya kelompok kecil. Namun kelompok yang peduli, dan di hadapan Tuhan, kelompok-kelompok kecil ini juga mewakili gereja. Kehadiran dalam konsultasi ini, menurut Nababan, adalah keberanian melawan arus, pada saat kebanyakan orang terpukau, terlena bahkan terbenam arus globalisasi.

Melalui diskusi, penggalian pengalaman, analisis sosial, Ibadah, refleksi teologis, peserta bergumul, menafsirkan ulang teks Alkitab sesuai dengan konteks, membaca kembali secara kritis. Kesadaran yang muncul adalah, gereja sejatinya menjadi komunitas yang transformatif dengan mengembangkan teologi yang berpihak kepada rakyat dan bumi. Untuk itu perlu upaya terus-menerus memampukan gereja menjadi gerakan ketimbang institusi yang berpihak kepada rakyat dan bumi.

Andaikan Tak Ada Pesta Natal

Konsultasi tak bermakna bila tak disusul aksi. Tentu, gereja-gereja atau komunitas Kristiani di negeri ini mampu merumuskan aksi sesuai konteks masing-masing. Kendati begitu, ada sesuatu yang sangat konkret yang dapat dilakukan bersama-sama, kalau mau.

Di pekan-pekan advent, menyongsong natal ini, sebaiknya kita membebaskan diri dari jerat neolib. Misalnya, tak perlu membeli pohon natal serta segala perniknya di mal-mal. Yesus yang lahir dalam kemiskinan kenapa mesti dirayakan dalam kegemerlapan? Kita toh tidak meracik sendiri tema natal dan segala perniknya di rumah kita dengan apa yang ada pada kita. Ada kembang, ada pohon hidup di rumah, dan terutama mempersiapkan hati yang penuh shalom (damai sejahtera).

Pesta Santa Claus atau sinterklas itu sihir neolib, boikot saja. Tak ada gunanya buat kita. Dan coba Anda hitung ongkos pesta natal di negeri ini secara total. Konon orang Kristen anggota jemaat gereja-gereja anggota PGI yang ada 87 sinode itu sekitar 10 juta. Kita hitung secara sederhana, ada sekitar 20 ribu komunitas atau jemaat yang masing-masing 500 orang anggotanya. Biasanya pesta natal setiap jemaat paling sedikit Rp 20 juta misalnya. Berapa uang terkumpul setiap pesta natal? Tak kurang dari Rp 400.000.000.000 (400 milyar rupiah).

Belum lagi natal marga, keluarga, polisi, DPR/D, Parpol, dan seterusnya dan seterusnya. Berapa trilyun uang yang dibuang sia-sia untuk pesta, yang menurut nabi Amos, tak disukai Tuhan? Berapa sekolah dan rumah sakit untuk rakyat bisa dibangun?

Andaikan gereja-gereja bersatu mengembalikan pesta natal kepada situasi natal yang pertama, kita tidak perlu berpesta di tengah semakin sempurnanya penderitaan petani, nelayan dan buruh. Dan kita akan mampu mengatasi neolib …

[Foto-foto: Suara Pembaruan dan Associated Press]

Kamis, 11 Desember 2008 Ditulis oleh Arthur John Horoni | Agama, Inspirasi, Refleksi, Wacana | , , , , , , , , , | 1 Komentar

Resensi Buku: “Sihir AGAPE”

Inilah era komunitas pedagang. Di tiap sudut negeri terhampar mulai dari Mal sampai Kios atau Lapak. Beginilah kurun masa sebentang ideologi dunia, yang secara digjaya berhala pada neoliberalisme.

“Pada dasarnya neoliberalisme mengubah manusia menjadi komoditi.” Demikian diktum utama kelumpuhan dunia menurut buku Alternative Globalization Addressing Peoples and Earth (AGAPE) atau “Globalisasi Alternatif Mengutamakan Rakyat dan Bumi”. Sebuah buku yang diramu secara apik dan bergizi dari berlembar dokumen hasil temuan beberapa konsultasi dan studi yang digelar Dewan Gereja-Gereja Sedunia (World Council of Churches) dan beberapa organisasi ekumenis lain pasca Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia 1988 di Harare.

Bentuk saji penulisan buku ini adalah rambahan kontemporer pemaknaan teks alkitab, yang diracik dalam bahasan aktual dengan realitas dunia yang centang-perenang. Di tengahnya disisip secara cerdas analisa tajam atas berbagai penyebab masalah sekaligus solusi kongkrit mengatasinya.

Mata kita akan enggan beralih sejenak pun meninggalkan topik bahasan yang bagai menari di benak. Sementara nurani kita bagai ditohok berulang-ulang merasakan pahitnya hidup dunia yang sedang jungkir-balik diketengahkan buku ini.

Simak bagaimana hardikan nabi Yesaya, “Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman…” untuk membahas kajian dengan topik Perdagangan yang Adil. Atau kutipan Injil, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan, tapi Aku datang supaya mereka mempunyai hidup…” untuk menegaskan 1,5 penduduk dunia – kebanyakan perempuan, anak-anak dan penduduk asli – hidup kurang dari 1 dolar per hari, saat 20% kaum kaya menggenggam 86% konsumsi global barang dan jasa.

Di tiap topik bahasannya dilampirkan juga refleksi berupa berbagai pertanyaan yang sejatinya adalah sejenis “pintu masuk”, menjawab tantangan zaman.

Gagasan-gagasan baru yang bernas dibentangkan buku ini nyaris tanpa jeda. Antara realitas sosial global dan solusi-solusi aktual hadir tanpa memakai sistematisasi tulisan yang runut dan berstruktur. Semua kajian realitas global seperti kawin-mawin dengan rambahan pikiran-pikiran yang memukau. Sungguh sebuah ikhtiar menyajikan isi topikal yang bermutu dengan pembahasaan yang populis dan cair.

Lihatlah betapa gagasan gemilang seperti Keadilan Transformatif di sajikan dengan kelugasan dalam balutan kata yang renyah,

“Setiap bentuk kekuasaan tergoda untuk mengangkat dirinya sebagai yang absolut, tanpa akuntabilas terhadap mereka yang dikenainya dan pengingkaran bermacam hubungan yang membentuk jaringan kehidupan serta kebutuhan untuk dihargai dan diakui.”

Kelemahan buku ini – kalaupun penilaian itu harus dihadirkan di sini, demi azas obyektivitas – adalah pada tampilan muka, yang teramat miskin gaya. Beban tema buku yang dahsyat itu, tidak tervisualisasi menawan, baik secara asosiatif maupun imajinatif.

Selebihnya, buku ini adalah sihir spiritual bagi armada inspirator, yang terkuak dari jutaan pengalaman mencengangkan, karena keajaiban pengamatan sublim. Dan selayaknyalah dibaca oleh mereka yang tergelitik untuk mencipta gagasan baru.

Glorius Bawengan

di Lembayung me Rekah

[Foto sampul buku diambil dari: www.wcc-coe.org]

Minggu, 13 Juli 2008 Ditulis oleh Glorius Bawengan | Inspirasi, Resensi Buku | , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar

Mantra Swara, Menggali Kekuatan Suara

Pernahkah Anda perhatikan, mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Bagus, dalam arti jernih, bulat, berdiafragma, dan menimbulkan getar-getar kewibawaan, meskipun disampaikan dengan nada rendah.

Atau, pernahkah Anda membayangkan, betapa merdunya suara Yesus atau Isa Al-Masih, ketika berkhotbah di atas bukit. Betapa membahananya suara Musa, sewaktu menyampaikan sepuluh perintah Tuhan, sekembalinya dari Thursina (Gunung Sinai).

Betapa hangatnya suara Muhammad SAW, sewaktu berkhotbah pada ibadah hajinya yang terakhir, atau ketika menyampaikan pesan-pesan pamungkasnya di sebuah bukit di Ghadir Khum. Pun, betapa lembutnya suara Siddharta Gautama, tatkala menyampaikan inti ajaran Buddha di sebuah taman di Bodhgaya.

Itulah suara-suara yang penuh keagungan, yang menyeruak dari kedalaman diri, yang bergetar dilingkupi frekuensi Illahi.

Sejarah agama-agama mencatat, manusia-manusia agung itu (Musa, Yesus, Muhammad, Buddha Gautama) telah berhasil memberikan pencerahan kepada sejumlah umat pada zamannya, melalui suara mereka yang penuh wibawa. Tidak ada catatan dalam sejarah bahwa mereka pernah bersuara serak, atau melengking memekakkan telinga.

Justeru sebaliknya, catatan-catatan para ahli sejarah menyebutkan bahwa suara para pembawa ajaran Tuhan itu, mampu membuat para pendengarnya terhenyak, dan menikmati kata demi kata yang mereka sampaikan.

Mungkin Anda akan mengatakan, lumrah saja bila Musa, Yesus, Muhammad dan Buddha Gautama mempunyai suara-suara yang bagus, karena mereka memang disiapkan untuk menyampaikan ajaranNya. Sehingga dibekali suara yang bagus-bagus, tanpa harus dilatih terlebih dulu.

Tidakkah Anda membayangkan, apa yang dilakukan para Kekasih Tuhan itu ketika berada dalam kesendirian? Mereka bermunajat. Berkomunikasi dengan Tuhan, seraya menyebut nama Tuhan dengan penuh keagungan. Dalam nada rendah dengan tarikan nafas yang halus.

Berulang-ulang mereka ucapkan nama Tuhan dengan penuh rasa cinta, melalui getaran-getaran diafragma. Itu yang menyebabkan suara mereka semakin merdu, melengkapi kemerduan yang memang telah dianugrahkan Tuhan kepada mereka.

Suara, merupakan anugrah Tuhan. Sang Pencipta Yang Maha Baik itu telah membekali manusia dengan berbagai jenis atau warna suara yang bagus-bagus, yang oleh manusia kemudian didefinisikan atau dipilah-pilah sebagai Bas, Bariton, Tenor, Sopran dan lain sebagainya.

Jenis atau warna suara yang bagus-bagus ini adalah fitriah, alias tidak bisa diubah oleh manusia. Yang dapat diubah hanyalah “power”nya, lalu intonasi, artikulasi dan diksinya. Semua itu perlu dilatih secara intensif, sehingga menghasilkan suara yang berkualitas, bisa dinikmati oleh semua orang, termasuk si empunya suara.

Bagusnya ciptaan Tuhan berupa suara itu, dapat kita poles atau kita perbagus lagi dengan modal yang juga diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu napas dan energi. Dengan demikian, semua pemberian Tuhan kita manfaatkan, dan dengan memanfaatkan semua pemberian Tuhan, berarti kita telah mensyukuri nikmat Tuhan.

Tulisan ini saya buat sebagai sumbangan bagi dunia Olah Suara. Semoga dapat dimanfaatkan oleh siapa pun, yang dalam profesinya sangat berkaitan urusan “tarik suara”. Baik itu penyanyi, presenter radio dan televisi, para politisi dan pejabat yang sering tampil berbicara di depan khalayak, para pengajar atau bahkan para penyebar ajaran keagamaan dan spiritualisme.

Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai penyiar radio, pelatih teater dan instruktur voice training untuk para presenter televisi, ditambah pengamatan intens terhadap para pelaku atau pekerja tarik suara, saya menyodorkan cara yang sangat ampuh, guna mengeksplorasi power (kekuatan) suara. Yaitu dengan melafalkan Mantra Swara secara rutin, dengan teknik yang tepat.

Pernapasan Perut.

Suara yang kita keluarkan melalui mulut, pada hakikatnya didorong oleh napas yang kita hembuskan dari dalam rongga tubuh kita. Kualitas napas yang kita hembuskan (exhale) sangat bergantung dari cara kita memasukkan atau menarik napas (inhale) melalui hidung. Napas yang pendek akan menghasilkan suara yang pecah, terengah-engah dan volume yang tidak konstan.

Panjang pendeknya napas ini, ditentukan oleh teknik pengambilan napas yang benar. Bila napas yang kita hirup, kita simpan di dalam rongga dada, maka hasilnya adalah napas yang pendek. Tetapi bila kita terbiasa menarik napas lalu menyimpannya di dalam perut, niscaya napas kita pun akan panjang dan teratur. Ini yang disebut teknik pernapasan perut, dan merupakan cara yang lumrah digunakan dalam dunia olah suara. Cara yang juga diterapkan oleh para pelaku yoga dan meditasi.

Mengapa kita harus membiasakan diri menggunakan teknik pernapasan perut? Karena sebenarnya, secara naluriah, kita bernapas dengan teknik pernapasan perut. Coba saja perhatikan orang yang sedang tidur terlentang, perutnya akan tampak turun-naik seiring inhale dan exhale yang dilakukannya.

Begitu pula bila seseorang sedang mengalami stres, biasanya tanpa sadar ia akan menarik napas panjang dengan teknik pernapasan perut. Kondisi di bawah sadar ini merupakan kondisi naluriah atau instinktif. Jadi, melatih pernapasan perut, sama saja dengan mengembalikan naluri kita, refleks kita. Coba lagi perhatikan bila Anda bangun tidur (dengan tidur yang berkualitas tentunya), Anda akan merasakan suara Anda lebih berat, lebih bulat.

Sekarang, terlentanglah di atas alas yang datar tanpa bantal. Badan lurus mulai dari kepala hingga ujung kaki. Tangan terlentang. Tutup mata perlahan, lalu tarik napas pelan-pelan melalui mulut, simpan sejenak di dalam rongga perut. Setelah itu hembuskan melalui mulut, juga pelan-pelan. Lakukan itu berkali-kali, seraya berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan oksigen gratis untuk menopang hidup kita dan memberikan energi bagi ruh.

Cara ini juga dapat Anda lakukan sambil berdiri, atau duduk santai dengan punggung lurus. Bila teknik pernapasan perut ini Anda nikmati sepenuhnya, secara berangsur akan Anda rasakan otot-otot tubuh Anda mengendur. Sehingga stres pun tereliminasi. Efek sampingnya, Anda akan mengantuk. Tidak apa-apa. Tidur saja. Tidur juga anugrah Tuhan yang dapat membuat kita segar. Tetapi kalau bisa, jangan dulu tidur, karena Anda sedang berlatih teknik pernapasan.

Jangan sekali-kali menyimpan napas di dalam dada, karena cara itu hanya akan menyebabkan paru-paru Anda bekerja ekstra keras. Fungsi paru-paru hanya sebagai respirator atau pemompa napas. Biarkan rongga dada hanya menjadi jalur yang dilewati inhale dan exhale. Tugas menyimpan dan mendorong napas kita berikan kepada perut, rongga terbesar dalam tubuh manusia.

Bila Anda telah berhasil melatih diri Anda dengan sistem pernapasan perut (abdominal/belly breathing system), kini coba hembuskan napas yang tersimpan di dalam perut itu dibarengi dengan suara A, O, U atau I sepanjang-panjangnya, sampai cadangan napas di dalam perut Anda habis. Jangan berteriak. Ucapkan huruf-huruf vokal itu dengan nada dasar do, dalam satu hembusan napas. Lakukan berulang-ulang. Tarik napas melalui hidung sepanjang-panjangnya. Simpan sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan sambil bersuara seperti di atas.

Melafalkan Mantra Swara Secara Berirama.

Kini tiba saatnya Anda melafalkan Mantra Swara. Ini adalah istilah saya sendiri, untuk menyebut puji-pujian kepada Tuhan, yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi diafragma. Cobalah Anda perhatikan para Bhiksu Buddha yang sedang membacakan puji-pujian. Mereka menyampaikannya dengan nada rendah dan panjang.

Tirulah irama yang disenandungkan para Bhiksu ketika melafalkan puji-pujian tersebut. Tariklah napas sedalam-dalamnya melalui hidung. Simpan napas itu sejenak di dalam perut. Lalu hembuskan napas Anda melalui mulut sambil mengucapkan setiap kalimat di bawah ini dengan nada yang konstan dan dengan satu tarikan napas:

  • Namo Sanghyang Adhi Buddhaya, Namo Buddhaya.
  • Namo Sanghyang Avalokitesvara Bodhisatva Mahasatva.
  • Namo Sanghyang Maitreya Buddhaya.
  • Namo Amitabha Buddhaya.
  • Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.

Sambil mengucapkan kalimat-kalimat ini, coba rasakan getaran-getaran diafragma di sekujur punggung, dengan menempekan salah satu telapak tangan Anda ke daerah punggung. Bila punggung Anda belum terasa bergetar, berarti masih ada yang salah dalam cara Anda menarik napas. Atau karena Anda “mencuri” napas di tengah kalimat yang Anda ucapkan. Jadi, berusahalah jujur pada diri sendiri dengan tidak mencuri napas.

Apakah hanya puji-pujian dalam agama Buddha saja yang bisa digunakan sebagai Mantra Swara? Tentu saja tidak. Puji-pujian dalam agama apa pun, bisa Anda gunakan sebagai Mantra Swara. Bila Anda seorang Muslim, misalnya, Anda dapat mengucapkan kalimat-kalimat dzikir dan do’a di bawah ini, dengan satu tarikan napas.

Caranya sama. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, simpan sejenak di dalam perut, lalu hembuskan napas Anda melalui mulut seraya melantunkan kalimat-kalimat ini sampai cadangan napas di dalam perut terkuras habis:

  • Subhanallah Walhamdulillah Walailaha ilallah Wallahu Akbar.
  • Lailaha illa Anta, Subhanaka, inni kuntu minaddzalimin.
  • Subbuhun Quddusun Rabbuna Warabbul Malaikati Warruh.
  • Allahumma Nawwir Qulubana Binuri Hidayatika Kama Nawwartal Ardlo Binuri Syamsika Abada.
  • Rabbana La Tuzigh Qulubana Ba’da Idz Hadaitana Wahablana Min-Ladunka Rahtaman innaka Antal Wahhab.

Jika Anda seorang penganut Hindu, ucapkan Mantra Gayatri dengan teknik seperti di atas:

Om bhur bhuvah svah tat savitur varenyam

bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat.

Tentu terlalu berat bila Anda mengucapkannya mulai dari Om hingga pracodayat dengan hanya satu tarikan napas. Bagi dua saja. Satu tarikan napas mulai dari Om hingga varenyam. Lalu satu tarikan napas lagi mulai dari bhargo devasya hingga pracodayat.

Bila Anda seorang Katholik, lantunkan Gloria in Excelsis Deo dengan irama yang biasa Anda gunakan, berulang-ulang, dengan satu tarikan napas, setiap ulangannya.

Jika Anda seorang penganut Yahudi (Judaisme), ucapkan: Barukh ata Adonai, Eloheinu Melekh ha-Olam, dan kalimat-kalimat do’a lainnya dengan teknik yang sama.

Ini hanya beberapa contoh saja dari berbagai Mantra Swara yang dapat Anda gunakan untuk mengeksplorasi power atau kekuatan suara Anda. Anda bisa menambahnya dengan puji-pujian yang lain, sesuai keyakinan agama Anda.

Namun berdasarkan uraian ini, terjawablah pertanyaan di awal tulisan: mengapa sebagian Bhiksu, Kiyai, Pendeta, Pastor, mempunyai suara yang bagus-bagus? Mengapa Musa, Yesus, Muhammad, Buddha ,memiliki suara-suara yang penuh keagungan? Karena mereka rajin memuji Tuhan dengan penuh cinta, penuh rasa hormat.

Mereka lantunkan puji-pujian itu dengan suara rendah, khidmat dan dengan napas teratur. Mengapa tidak kita tiru mereka? Melatih suara kita, sambil memuji Tuhan. Dan, Tuhan pun, akan melimpahkan energi positif yang takkan pernah ada habisnya.

Billy Soemawisastra.

[Gambar-gambar diambil dari: lifenspirit-prabhu.blogspot.com; cache.eb.com; emzr.com;www.think-aboutit.com]

Senin, 26 Mei 2008 Ditulis oleh Billy Soemawisastra | Eksplorasi Diri, Mantra Swara | , , , , , , , , , , , , , , | 6 Komentar

Yesus dan Petani Andalas Utara

Adakah masih kami disebut petani

bila cuma punya tubuh

golok dan

pacul?

……………………………………….

Tak elok, kawan

tak elok

orang bilang kau penggarap

penunggu

kuli tani

…………………………………….

Kau siapa?

…………………………………….

Kita sama sobat

petani tak bertanah

karena tanah petani

dari abad ke abad dijarah

para raja, tuan tanah, penjajah

bertukar jadi tanah negara

perkebunan swasta

perkebunan negara

dan kita melarat

………………………………………

Ya, ya, aku mulai celik

bapakku jadi buruh perkebunan

miskin seumur-umur

pensiun tak bertanah

tak berumah

padahal para birokrat kebun

punya berhektar tanah

dan pesangon milyaran

saat usai masa bakti

para anak juragan

sekolah di negeri manca

sialan!

…………………………………..

Tapi, siapa kau kawan?

………………………………….

Serigala punya liang

burung punya sarang

tapi Anak Manusia tak punya

tempat untuk meletakkan kepalaNya …

……………………………………

Ha ha ha, Kau rupanya

Sang pengembara dari segala abad

di segala tempat

tentu sebagai sesama orang menderita

aku cepat kenal Kau

Sang Yesus, sobat jelata dari Nazareth

Tapi kenapa Kau ke sini

ini lahan sengketa Bos

Kau bisa dapat bencana

belum kapok disalib kaum petinggi

agama Yahudi di Golgota dulu?

Menyingkirkah Kawan

tak tega bila Kau disakiti lagi

kini giliran kami

petani tak bertanah

merebut kembali milik kami

tempatMu

di Gereja yang mentereng di kota-kota

jangan kotorkan diriMu

di kubangan para miskin ini

……………………………………….

Nah, nah, kau salah Marihot

……………………………………….

Astaga, Kau tahu namaku

……………………………………….

Ya, ya, karena kau tak pasrah pada nasib

kau masih berjuang bersama sesama

petani tak bertanah

di Simalungun, Pematangsiantar,

Serdang Bedagai, Deli Serdang

Batu Bara

Asahan, Labuhan Batu

di Lampung

Tanah Pasundan

Jawa Timur

dan seterusnya

merebut tanah untuk petani

menegakkan harkat dan martabat rakyat

tertindas,

Maka kau saudaraku

Namamu di hatiku

…………………………………………..

Tapi kenapa Kau bilang aku salah?

bukankah tempatMu memang di gereja?

Apalagi ini hari Minggu

……………………………………………

Sobatku,

BagiKu, setiap hari hari Minggu

artinya, setiap hari itu ibadah

dan ibadah yang sesunguhnya

adalah mengunjungi para jelata

melawat yang sakit

memberi makan yang lapar

membebaskan yang terbelenggu

memaklumkan Kabar Baik bagi

petani tak bertanah

untuk berjuang mendapatkan tanah

mewujudkan perubahan

Ibadah yang sesungguhnya

bukan pamer baju baru

sepatu model mutakhir

anting dan kalung mas

lantas melamun terkantuk-kantuk

lantaran khotbah pendeta tak menyentuh

persoalan umat

hapal peta Yerusalem, Betlehem

dan Yerikho

namun tak paham

bahwa di desa Durin Tonggal,

Pancur Batu, Deli Serdang

petani yang berkeringat menanami tanah

dianiaya preman dan oknum polisi

Kaum miskin itu dituduh menjarah tanah perkebunan

Padahal perkebunan merugi terus

walau birokratnya kaya raya

korupsi sudah jadi budaya

dan gereja dibangun dari hasil curian pejabat

Tidak, kawan

Aku pengembara

Kau belum baca Yesus Putera Manusia

yang ditulis sobatku Kahlil Gibran

penyair pemberang yang juga menghajar

tingkah laku pemuka agama di Lebanon

yang sok saleh namun korup?

Dia tulis, yang di gereja itu

Yesusnya orang Kristen

yang jadi Kristus Sang Raja

kau bisa mengerti kalau belajar teologi

namun Aku,

Yesus orang Nazaret

Sobat para jelata

kau tak perlu repot belajar teologi

untuk memahami Aku

cukup baca Alkitab dengan matamu sendiri

jangan pakai rumus para teolog

atau petinggi gereja

yang kebanyakannya sudah jadi

nabi istana

maka kau akan paham

Injil

Kabar Gembira

artinya berubah

buta – melihat

lumpuh – berjalan

tawanan – merdeka

mampukah gereja melakukan itu?

…………………………………………….

Sobatku Orang Nazaret

tolong jangan bikin aku bingung

jadi apa sesungguhnya gereja itu?

Salahkah bila kubilang

gereja itu bukan gedung dari batu

besi dan kayu

ditambah struktur yang kaku

namun persekutuan orang yang

sehati sepikir untuk mengubah

nasibnya menjadi manusia yang bermartabat?

Dan jalan perubahan yang dipilih

Adalah jalan kasih

aktif tanpa kekerasan?

……………………………………………

Kau benar Marihot

Kitab suci tidak lagi rumus

kesalehan bagimu

ia telah mewujud menjadi

perbuatan

tidak seperti gaya

banyak pemimpin gereja

yang pintar bikin manifes

narasi natal

narasi paskah

namun tak pernah jadi tindakan

yang membebaskan rakyat dari kemiskinan

kekerasan

dan ketidakadilan

………………………………………

Bos

Jangan marah ya

aku pernah menggunakan namaMu

semoga aku tak menyebut dengan sia- sia

waktu itu, dalam perjuangan

merebut tanah bersama rakyat

polisi menghardik kami

hei siapa yang menyuruh kalian

menduduki lahan perkebunan ini?

menyingkir atau kutembak

Kujawab

hati nurani kami yang menyuruh kami

kami petani tak bertanah berjuang

melaksanakan reforma agraria

tanah untuk rakyat

tatkala Gus Dur masih presiden

dia bilang 40% tanah perkebunan mesti

dibagi untuk rakyat

belum lama Presiden SBY bilang

lebih 8 juta hektar lahan harus

dibagi kepada rakyat tak bertanah

karena ujar-ujar yang bagus ini

belum dilaksanakan

kami membantu para pemimpin itu

mulai menduduki tanah perkebunan

yang HGU-nya telah tamat

Pintar kau ya

kata komandan polisi

kalau tanah ini milik kalian

mana alas haknya

sertifikatnya

kujawab begini:

Yesus saja tak pernah memberi sertifikat

kau baru jadi polisi sudah belagak

Mati langkah polisi itu Bos

tapi ampunlah kalau caraku itu

telah memanfaatkan namaMu

secara sia-sia

…………………………………………….

Ha ha ha dasar Batak

Mantap juga tipu kau itu

lanjutkan perjuangan kalian

petani tak bertanah

sampai semua memperoleh

tanah

dan mengelola tanah itu

sebagai sumber pendapatan

jangan dijual

agar kalian dapat hidup dari tanah itu

……………………………………………..

Sobatku Yesus

terima kasih

pesanmu selalu kuingat:

Aku datang, supaya mereka

mempunyai hidup,

dan mempunyainya dalam

segala kelimpahan

Medan, 9 April 2008

Arthur John Horoni

[Foto: www.daylife.com]

Rabu, 9 April 2008 Ditulis oleh Arthur John Horoni | Puisi | , , , , , , , | 1 Komentar