Nestapa Biarkan Sirna, Gadisku


(Bones of my bones, flesh of my flesh, blood of my blood)

Riuh rendah tangismu ketika kau terjebak di rimba alam fana
Anganku menjelma nyata saat kusaksikan tingkahmu nan gempita
November tanggal sebelas, hari yang penuh kegembiraan itu
Tahun 1988 menjadi titimangsa sejarah kelahiranmu
Yang berjalan tanpa terasa hingga kau pun menjelma seorang dara

Lakon kehidupan memang penuh adegan yang tak pernah kita duga
Adakalanya kita menangis sedih, adakalanya kita tertawa gembira
Riang dan duka silih berganti seperti rembulan dan matahari
Angan dan kenyataan tak selalu berjalan beriringan
Selaraskan saja hidupmu dengan harmoni semesta

Kau kini berada di masa penuh pancaroba layaknya seorang remaja
Ingin rasanya kuulang lagi masa kecilmu, agar aku selalu bersamamu
Namun waktu terlalu cepat berlalu, seiring langkahmu yang ceria
Ah, masih panjang jalan membentang di hadapanmu, puteriku
Nestapa biarkan sirna bersama senja usia Papa
Tetapkan hatimu, mantapkan langkahmu
I
llahi takkan pernah meninggalkanmu

Billy Soemawisastra.

(Untuk Purnama Papa: Ranty Laras Kinanti, dari Papa yang selalu rindu celotehmu)

Iklan

11 pemikiran pada “Nestapa Biarkan Sirna, Gadisku

  1. Bung Johanes, terima kasih Anda telah berkunjung ke “Jagat Alit”. Saya juga sempat singgah tadi di blog Anda, “Penembus Batas”. Sepertinya justru saya yang harus belajar banyak dari Anda. Puisi-puisi Anda sangat bagus, meditatif. Saya akan sering-sering berkunjung ke blog Anda untuk menikmati karya-karya Anda.

  2. Sajak yang bagus bagi nama yang indah milik gadis yang cantik. Orang Jawa menyebutnya sandi-asma untuk inisial yang tersusun di dalam sajak dan membentuk nama. Pujangga Jawa yang gemar menggubah sandi-asma dalam sajak-sajaknya yaitu R. Ngabehi Ranggawarsita. Ini anak yang nomor berapa, Mang? (Sori, saya jadi sok akrab, soalnya memang beginilah anak-anak BB-ARH memanggil Anda). Salam buat keluarga & anak-anak eks BB-ARH (kalau ketemu).

  3. Terima kasih, Hargie. Komentar Anda adalah pengetahuan baru bagi saya. Saya baru tahu bahwa Ki Ranggawarsita gemar menggubah sandi-asma dalam sajak-sajaknya. Ki Ranggawarsita adalah pujangga Jawa yang saya kagumi. Sayangnya, saya tidak mengerti sastra Jawa, sehingga karya-karya beliau yang saya baca hanyalah cuplikan karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan, itu, tentu saja sangat terbatas. O ya, Ranty adalah anak saya nomor dua. Kalau saya ketemu dengan anak-anak BB-ARH, insyaallah akan saya sampaikan salam Anda. Sukses selalu untuk Anda, Hargie. Saya tidak keberatan Anda memanggil saya Mang, karena sebutan (panggilan) untuk saya memang banyak: Mang, Bang, Kang, Bung, Mas. Malahan, belakangan ini banyak juga yang memanggil saya: Mbah, Abah dan Eyang. Saya suka dengan semua sebutan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s