Kehadiran

Tinggalkan komentar

Rabu, 19 Desember 2007 oleh Vincent Hakim Roosadhy


Di saat-saat yang amat genting, orang sering membutuhkan kehadiran sosok yang bisa dipercaya, mau mendengarkan, membantu, dan mampu mengayomi. Syukur-syukur mampu memberikan kepastian dan mencarikan jalan keluar. Para korban lumpur Lapindo sampai detik ini butuh semuanya itu. Masyarakat lemah tergusur, juga sama, memerlukan sosok itu. Demikian juga para pedagang di pinggir-pinggir jalan yang acap kali diusir polisi pamong praja. Atau orang-orang kecil yang tertindas oleh kaum penguasa dan dipermainkan para penegak hukum yang tidak adil. Rakyat amat rindu kehadiran sang sosok.

Kehadiran menjadi sebuah peristiwa bermakna di kala tak ada lagi jarak antara AKU dengan ENGKAU.

Gabriel Marcel – seorang filsuf Perancis (1889-1973) sangat cermat memberikan gambaran tentang hubungan sosial AKU dan ENGKAU yang penuh arti. Para pejabat pusat dan daerah juga para anggota parlemen memang sering datang mengunjungi rakyat yang sedang terkena musibah beramai-ramai – berombongan. Namun kedatangan mereka belumlah merupakan “kehadiran” sesungguhnya. Dan barangkali tak pernah ada maknanya sama sekali. Baik bagi para pengunjung maupun bagi orang-orang yang dikunjungi. Yang terjadi kemudian adalah realitas “seolah-olah” yang semu – kosong.

Apa itu kehadiran?

Hadir tidak berarti harus selalu secara objektif dalam lingkup ruang dan waktu yang sama. Bisa terjadi saya berada di dalam ruang dan waktu yang sama, namun tidak berarti saya “hadir” di situ. Kehadiran saya belum tentu dirasakan dan berarti bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya. Mungkin bisa terjadi ada komunikasi (satu memancarkan – yang lainnya menerima, seperti radio). Namun tidak ada kontak.

Kehadiran baru bisa dirasakan bila AKU berjumpa dengan ENGKAU. Dalam relasi AKU dan ENGKAU terkandung makna sesama. Persona dengan persona. Individu dengan individu. Kehadiran ini dapat diwujudkan, meski dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Secara istimewa kehadiran terealisasi konkrit dalam makna cinta. AKU dan ENGKAU mencapai level KITA. Keberadaan AKU bukan berdiri sendiri secara terpisah, demikian pula ENGKAU. Level AKU dan ENGKAU adalah satu kesatuan bagian tak terpisahkan. Dalam istilah filsafat antara AKU dan ENGKAU mewujud dalam satu kesatuan secara ontologis menjadi KITA. Sebuah kehadiran dalam bentuknya yang sempurna melebihi eksistensi memasuki strata “Ada”.

Mencintai selalu mengandung keinginan (permohonan) kepada sesama. Di dalam cinta AKU memohon kepada ENGKAU dan ENGKAU kepada AKU. Jadi dari kedua belah pihak harus ada kebersediaan. Baik untuk mendengarkan maupun menjawab. Ada posisi setara saling menghormati. AKU harus mau keluar dari egoisme dan membuka diri terhadap kehadiran ENGKAU. Begitu pula sebaliknya.

Kehadiran dalam konteks hubungan AKU dan ENGKAU yang terwujud dalam cinta, jika dipahami secara benar akan membawa kepada kesetiaan abadi. Kematian pun tidak berarti akan menghilangkan salah satu. Ikatan kesetiaan yang telah mewujud dalam KITA tidak berarti meniadakan AKU atau ENGKAU, meski maut menjemput. Kehadiran berlangsung terus-menerus melampaui ruang dan waktu.

Jadi apa yang bisa melukai makna kehadiran?

Egoisme, amat menodai arti kehadiran – cinta atau makna KITA. Itu juga berarti kembali kepada AKU dan DIA (bahwa orang lain di luar kita adalah objek dan bukan subjek) bukan AKU dan ENGKAU.

Dalam kehidupan sehari-hari yang kita alami, di rumah, di kantor, atau dalam kehidupan sosial masyarakat, kita bisa merasakan – apakah kehadiran kita sudah efektif atau belum. Sudah me-manusia-kan manusia ataukah meng-objek-an manusia? Secara jujur, masing-masing diri kita bisa mengukur. Apakah kita sebagai penonton, pengamat, komentator, atau pemain. Ketika jarak mulai membentang, meski hanya serambut, kehadiran – AKU dan ENGKAU – belumlah menjadi KITA. A friend in need is a friend indeed. Teman sejati adalah teman yang selalu hadir di saat kita sedang dalam kesusahan. Tak mudah mencari teman sejati.

Vincent Hakim Roosadhy
17 Desember 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: