Jati Diri

Tinggalkan komentar

Selasa, 8 Januari 2008 oleh Vincent Hakim Roosadhy


Dalam suatu kesempatan liputan ke luar negeri, saya pernah dipanggil petugas imigrasi dan diingatkan agar form tentang data diri diisi lengkap.

“Maaf, ini belum Anda isi,” kata perempuan petugas sambil menunjuk kolom agama.

“Apakah harus diisi?” saya bertanya dengan gaya santai sambil agak cengengesan.

“Ya. Harus Anda isi,” kata si petugas paruh baya yang manis itu sambil memandang saya dengan senyum simpatik. Saya suka senyumnya.

“Harus? Kenapa?”

Petugas itu tidak menjawab, tapi langsung menyodorkan form itu kembali. Sebenarnya saya memang agak kesal. Bagi saya urusan keimanan – hubungan pribadi dengan Sang Khalik pencipta alam semesta – Yahwe – Allah – Bapa yang bersemayam di surga – Tuhan – Gusti ingkang murbeng ing dumadi adalah sangat pribadi.

Ahh. Ya sudahlah. Sambil menggerutu dalam hati, form itu pun saya isi.

“Dagelan nggak lucu. Katanya negeri kebebasan. Negeri sekuler, lha kok…”

“Ok! Finish!” form itu segera saya serahkan ke petugas. Saya pun cepat berlalu dari situ.

Saya tidak perhatikan lagi bagaimana ekspresi petugas itu. Di form itu saya tuliskan “Soccer” alias Sepakbola – pada kolom agama. Yang pasti setelah saya isi dan serahkan form itu, saya tidak dipanggil lagi.

“Syukurlah. Agama sepakbola sudah diakui dunia,” pikir saya sambil ketawa dalam hati. Kenyataan, bahwa saya memang gila nonton bola. (Tapi maaf, bukan sepakbola Indonesia – yang hanya bikin emosi dan capek hati jika ditonton).

Di negeri kita, ada banyak pengalaman dalam kehidupan sehari-hari yang tumpang tindih – salah kaprah – tipu menipu membodohi publik berkaitan dengan soal hak dan kewajiban, fungsi, kepentingan, dan tanggung jawab. Kepentingan pribadi, golongan, atau partai meminjam “kendaraan kepentingan” seolah-olah menjadi kepentingan publik. Ada yang semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah, penguasa, atau negara namun tidak dijalankan. Atau seharusnya menjadi tanggung jawab pribadi tapi justru “merepotkan” pemerintah. Lihat saja kasus Lumpur Lapindo yang tidak juga selesai itu.

Yang paling berat memang hak pribadi namun diintervensi seolah-olah menjadi hak publik. Lucunya, pemerintah ikut-ikutan ngurusi. Soal kehidupan ber-Tuhan misalnya. Di form KTP, Paspor, Ijazah, Lamaran Pekerjaan, atau apalah. Ada kolom isian tentang agama yang wajib diisi. Haruskah orang lain atau publik tahu warna keimanan keyakinan seseorang itu apa? Atau perlukah publik tahu, seseorang beretnis keturunan apa (Cina, Arab, Jawa, Batak, Sunda, atau warga keturunan apa, dll)? Seberapa penting?

Ada banyak kasus, karena warna keimanan, lamaran kerja diterima, tender menang, orang naik pangkat jabatan, atau mungkin lamaran nikah diterima sang calon mertua. Namun jamak pula, karena sebuah warna keimanan, orang mati. Terbunuh secara kharakter, karier mandek, tidak naik pangkat, dibenci orang, putus cinta, dan bahkan batal menikah. Banyak juga rumah orang yang dirusak, tempat ibadah diporak-porandakan, sampai nyawa melayang karena beda warna keimanan, cara memahami, dan menjalankan ritual keyakinan.

Apa agamamu? Kamu orang apa? Apakah kamu sudah menikah? Kapan kamu akan menikah? Atau, istrimu sudah mengandung belum? Kapan mau punya anak? Anakmu berapa? Dst. Pertanyaan-pertanyaan sejenis setiap saat kita dengar dan menjadi sangat “biasa” terlontar. Sadarkah itu artinya telah memasuki wilayah yang sangat personal? Nama. Agama. Suku. Kebangsaan. Status. Pekerjaan. Ciri-ciri fisik. Warna kulit. Pendidikan. Menikah-tidak menikah. Inikah jati diri? Jika tidak bernama, apakah berarti tidak memiliki jati diri? Jika tidak memiliki agama, apakah berarti tak berjati diri? Tak berstatus berarti tak berjati diri? Dan seterusnya, dan sebagainya?

Apa itu Jati Diri?

Apakah jati diri setara jika disejajarkan dengan nama (yang setiap saat bisa berganti dengan macam-macam alias dari a sampai z)? Apakah jati diri sejajar dengan warna keimanan seseorang? (yang bisa saja karena alasan-alasan tertentu, orang berpindah agama, keyakinan, atau ideologi). Apakah bisa disepadankan dengan kesukuan, kebangsaan, atau status kewarganegaraan, profesi, hobi, dan sebagainya? Saya sering mendengar pernyataan pejabat negara – petinggi pemerintahan atau kelompok elite politik yang mengatakan bahwa bangsa kita nyaris kehilangan “jati diri”-nya.

Jati diri bukanlah kata-kata. Bukan warna kulit. Bukan bentuk mata. Bukan pula KTP atau ID card yang bisa dicetak dalam hitungan menit. Jati diri – sebuah pribadi – realitas pada diri yang melekat erat menyatu tak terpisahkan. Kematian tak menghilangkan jati diri. Setiap individu memiliki pribadi jati diri yang selalu khas unik. Kekhasan jati diri adalah karena membawa Citra Sang Pencipta – Sang Pribadi Maha Unik. Setiap orang berhak menjadi pribadi. Menjadi jati diri. Hak yang juga melekat erat dalam setiap pribadi. Setiap orang wajib – harus menghormati dan menghargai pribadi-pribadi. Tak bisa ditawar-tawar lagi. Keyakinan dan warna keimanan (serta lembaganya) mestinya menjaga dan mengarahkan pribadi-pribadi, agar menjadi pribadi sejati menuju jati diri mencapai keabadian Sang Pribadi.

Saya terkesan dengan iklan : MAY BE YES, MAY BE NO. Iklan ini menurut saya cerdas, lucu, ringan, berani, dan menampilkan pesan pemberontakan terhadap kebiasaan sebagian orang Indonesia yang suka sok mau tahu urusan pribadi dan memaksakan kehendak atau kebenaran pribadi/kelompok kepada orang lain. Pas banget dengan kondisi negeri ini sampai detik ini.

Apakah saya juga suka ingin tahu dan mencampuri urusan orang? Atau memaksakan kehendak kebenaran pribadi? Ahh… MAY BE YES, MAY BE NO!

Vincent Hakim Roosadhy

[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: http://blog.liputan6.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: