Kesederhanaan

6

Rabu, 2 April 2008 oleh Vincent Hakim Roosadhy


Sederhana tidak sesederhana makna kata-katanya.

Keserderhanaan. Sebuah kata yang amat sulit dipahami arti sebenarnya. Mungkin karena biasa dipakai orang untuk “menipu” makna sesungguhnya hingga sering bias. Banyak orang bersembunyi di balik arti kata sederhana. Arti kesederhanaan merangkul pikiran, memeluk erat kata-kata dan perilaku. Dan yang pasti, menyatu dalam kemesraan kedalaman penghayatan hidup spiritual penuh ketulusan. Dalam bahasa Jawa ada kata bermakna filosofis SUMELEH. Artinya: lepas, tulus ikhlas, tanpa beban, tidak ada pretensi negatif apa pun di belakangnya. Ada makna “kepasrahan diri” di sana.

Alkisah ada seorang duda tua miskin yang hidup bersama dua anak. Setelah istrinya meninggal, ia seorang diri mengasuh dua anaknya. Seorang anak laki-lakinya gagah dan tampan. Adiknya seorang perempuan cantik dan cerdas. Kemiskinan Pak Tua dan kondisi kedua anaknya sering jadi perbincangan warga desa. Pak Tua tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai omongan orang. Dia tetap hidup sederhana dan rajin bekerja sebagai buruh tani di sawah.

Suatu ketika anak lelakinya tertimpa musibah jatuh dari kuda yang dipercayakan orang untuk digembalakan. Salah satu kakinya patah dan akhirnya si pemuda tampan pun menjadi cacat permanen. Para tetangga datang dan ikut menyatakan keprihatinannya.

“Pak, saya ikut prihatin atas musibah dan kemalangan ini,” kata seorang tetangganya.

“Terima kasih. Saya tidak tahu, apakah ini musibah atau keberuntungan,” jawab Pak Tua dengan lugu.

Tak lama berselang. Pemerintah merekrut seluruh pemuda desa untuk wajib militer menghadapi konflik di perbatasan. Para pemuda dan orang tua pun resah. Beberapa warga desa menjadi teringat pada anak Pak Tua yang cacat.

“Pak Tua. Kamu beruntung ya. Anak laki-lakimu tidak dikirim berperang di perbatasan. Anak-anak kami semua berangkat …”, kata seorang wanita tetangganya.

“Bu. Saya tidak tahu, apakah saya sedang beruntung atau tidak beruntung.” Jawab Pak Tua, tetap dengan kesederhanaan berpikirnya.

Suatu waktu datanglah seorang pemandu bakat di desa ini. Ketika melihat, bertemu, dan ngobrol panjang lebar dengan keluarga Pak Tua, sang pemandu bakat pun amat terkesan. Sang pemandu bakat, bukan hanya terkesan pada Pak Tua yang bijak, namun juga terpesona atas ketampanan, kecantikan, dan kecerdasan anak-anak dari seorang buruh tani miskin ini.

“Pak. Bolehkah saya mengajak kedua anak bapak ke kota untuk menjadi pemeran film yang sedang saya buat?” pinta sang pemandu bakat dengan amat sopan dan tulus penuh harap.

Pak Tua pun mempertimbangkan dan akhirnya luluh hati mengizinkan kedua anaknya dibawa sang pemandu bakat. Orang-orang di desa ini pun heboh mempergunjingkannya.

“Pak. Kamu akan kehilangan anak-anakmu. Kamu rugi karena tidak ada lagi orang yang bisa mengurusi dan membantumu di rumah,” kata seorang pejabat desa.

“Ya. Terima kasih atas perhatian bapak. Tapi sesungguhnya saya tidak tahu, apakah saya sedang rugi atau akan beruntung,” jawab Pak Tua dengan tenang.

Satu setengah tahun kemudian tersiar kabar, ada dua orang muda dari desa ini menjadi bintang film yang amat berbakat dan mulai diidolakan para kawula muda kota. Warga desa pun kembali heboh. Silih berganti mereka mendatangi rumah Pak Tua, memberikan ucapan selamat dan menjadi amat ramah penuh perhatian

“Wah. Selamat ya pak. Anak-anakmu hebat. Dan pasti, kamu akan ikut menjadi kaya dan terkenal,” kata beberapa warga desa.

Pak Tua menerima segala ucapan para tetangganya dengan sikap tetap lugu sederhana. Tidak ada yang berubah pada ekspresi Pak Tua.

“Terima kasih. Tapi sesungguhnya saya tidak tahu. Apakah saya sedang beruntung atau sedang rugi. Saya juga tidak tahu, apakah saya akan menjadi kaya dan terkenal atau tidak. Saya pun tidak tahu, apakah kami hebat?”

Ahh … siapa yang tahu, apa yang akan terjadi nanti. Data-data, angka-angka statistik, hitungan-hitungan ramalan, hidup, nasib, dan keberuntungan-kerugian. Semua itu kosong kehampaan – kata orang bijak. Kenyataan, banyak orang lebih memuja kehampaan. Atau cepat menilai orang berdasarkan tampilan fisik aksesoris semata. Dan banyak pula, orang yang begitu bangga dengan atribut, aksesoris, dan membalur diri dengan puja puji agar dipuji khalayak. Program-program televisi … cermin mini kehidupan kita yang penuh dengan atribut-atribut, kegaduhan, dan impian.

Ya … Tapi biarlah semuanya berjalan dengan apa adanya.

Siapa yang tahu esok akan terjadi apa?

Vincent Hakim Roosadhy

6 thoughts on “Kesederhanaan

  1. handaru mengatakan:

    Pak Billy, boleh bertanya, apakah arti kata wisesa pak saya ingin menggunakan “wisesa” untuk anak laki laki saya kelak. Terima kasih

  2. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Wisesa, lengkapnya: Murba Wisesa. Itu artinya kira-kira sama dengan “Allahu Akbar”; Maha Besar, Maha Agung, Maha Berkuasa. Mau dijadikan nama anak laki-laki Anda? Saya pikir, tidak masalah. Hanya saja perlu diingat bahwa “wisesa” itu merupakan salah satu sifat Tuhan Yang Maha Suci.

  3. handaru mengatakan:

    maksud bapak jika wisesa didunakan untuk nama manusia terlalu ” berat ” ? saya pernah searching bahwa ada raja di jawa yang namanya pake wisesa juga , tapi saya lupa nama panjangnya pak. Kayaknya di jaman majapahit. Terima kasih

  4. handaru mengatakan:

    oh ya pak saya mohon ijin menambahakan alamat blog ini di link blog saya.apakah diperbolehkan ?
    thanks

  5. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Mas Handaru, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa nama “wisesa” terlalu berat buat manusia. Cuma mungkin perlu ada kata lain yang mendahuluinya. Sebagai perbandingan, jika orang Muslim ingin melekatkan nama Allah, Rahman, Rahim sebagai nama anaknya, biasanya didahului dengan kata “abdul” yang artinya “hamba”. Sehingga namanya menjadi Abdullah, Abdurrahman, atau Abdurrahim, yang kesemuanya bisa berarti “hamba Tuhan”.

    Begitu pula dengan “wisesa” yang juga berarti sempurna (bukankah kesempurnaan hanya milik Tuhan?). Mungkin perlu didahului dengan kata lain, seperti yang digunakan salah seorang Raja Majapahit (kalau tidak salah Prabu Brawijaya V) yang bergelar “Purwa Wisesa”. Atau salah seorang putra Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran) yang bergelar “Sunan Jati Wisesa”. Jadi tidak ada salahnya jika Mas Handaru ingin menamai anak laki-laki Anda dengan kata “wisesa” asalkan (lebih elok) ada kata lain yang mendahuluinya, umpamanya saja: Sukma Wisesa, Jaka Wisesa, Santana Wisesa. Ah, ini hanya sekadar saran dari orang yang sok tahu seperti saya.

    Mengenai keinginan Anda untuk menambahkan alamat Jagat Alit pada blog Anda, saya setuju, bahkan saya senang sekali dan terima kasih. Karena saya juga (tanpa minta izin Anda terlebih dulu) sudah mencantumkan alamat blog Anda pada link (tautan) blog saya.

    Terus terang saya terkesan dengan blog Mas Handaru: Gagah, yang berisi tulisan-tulisan tentang berbagai permasalahan sosial, dengan gaya penyajian yang ringan, mudah dicerna. Berbeda dengan Jagat Alit yang, kata teman-teman saya, berat dan terkadang harus mengerutkan kening ketika membacanya.

    Sekali lagi terima kasih, Mas Handaru. Keep in touch.

  6. gopril mengatakan:

    Segala puji hanya untuk Allah Sang Maha Agung, blog yang bagus salut buat panjenengan, Ya Allah mohon limpahkanlah rahmatMu, kasihMu, dan ampunanMu untuk kami semua…amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: