Pemimpin Tanpa Spiritualitas

3

Selasa, 8 April 2008 oleh Arthur John Horoni


Billy, tiba-tiba aku kangen betul pada Bung Daktur, Mas Zen (Zainal Abidin Suryokusumo) sobat kita yang sudah lebih enam bulan kembali kehadirat Penciptanya. Dia adalah guru spiritualitas bagi banyak orang. Spiritualitas, yang kata dasarnya: Spirit, kita alihkan ke bahasa kita: semangat. Padahal mungkin lebih kena jika diterjemahkan sebagai “roh” atau “ruah”: keyakinan yang teguh. Pada Bung Daktur, tatkala Bengkel Belia ARH dideklarasikan bulan Desember 1975 di Pantai Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, keyakinan yang teguh itu terpateri dalam idiom, “untuk Tuhan dan Tanah Air, kami berbakti”. Idiom itu diakuinya tidak orisinal miliknya. Ia mengutip Lord Baden Powell, Bapak Kepanduan Dunia. Maklum, zaman remaja (ABG, kata anak muda kiwari), Bung Daktur ikut kepanduan. Makanya dia memiliki itu tadi, spiritualitas. Entah kenapa setelah pandu menjadi pramuka, gerakan itu malah memble. Maaf.

Billy, sobatku yang panjang sabar.

Aku rasa kita perlu memperbincangkan ikhwal spiritualitas ini. Bagiku, spiritualitas tidak identik dengan ajaran agama. Ia mengatasi tembok doktrin. Ia dapat saja ditemui dalam keutuhan iman, kearifan budaya lokal, sejarah, perjuangan rakyat tertindas untuk bertahan hidup, humor, puisi, tarian, nyanyian para sufi atau celoteh sederhana petani organik yang anti pupuk kimia dan bibit hibrida. Orang yang memilih sikap emoh terhadap roh-roh zaman macam: mamonisme (kemaruk duit), materialisme, konsumerisme, narsisisme, korupsi, gila kuasa dan sebangsanmya, tentu orang yang memiliki spiritualitas.

Nah, di sinilah soalnya. Nilai ini yang tampaknya sulit kita temukan, ia telah menjadi sesuatu yang luks di tengah-tengah trend pragmatisme atawa mumpungisme. Pada akhir dasawarsa 70-an sampai awal 80-an abad silam, tatkala kita bersama-sama Bengkel Belia ARH kamping di Gunung Salak atau di perkebunan tebu di Subang, kau ingat, kita berlatih bagaimana menjadi demokrat dalam pemilihan kepala suku. Inspiratornya tentu saja Bung Daktur. Bayangkan, di tengah-tengah situasi otoriter Suharto waktu itu, kita sudah mempraktekkan attitude (sikap) anti kemapanan. Berani melawan arus, kata orang. Perdebatan dihalalkan, perbedaan pendapat diterima sebagai rahmat, ekspresi diri yang bebas dimuliakan. Ingat semangat perlawanan dalam Lomba Baca Puisi-puisi Tempe yang sarat sajak protes pada 1979 atau Aksi Musik ARH 80. Bengkel Belia ARH sudah berani pada saat Suharto dan Orbanya masih berjaya.

Tak pelak, karena kita dilandasi spiritualitas, kalau aku boleh berefleksi. Toh tak perlu kita sesali ketika ada yang tak tahan. Tatkala para senior kita memilih jalan partai politik, spiritualitas untuk memihak kepada kaum yang terpinggirkan, rakyat jelata, yang dalam puisi Taufiq Ismail digambarkan sebagai, “yang di pinggir jalan mengacungkan tangan kepada bus yang penuh,” tersingkir. Jalan pragmatisme menjadi pilihan. Apa boleh buat, kalau tidak sekarang, kapan lagi ikut-ikutan berkuasa. Celakanya, setelah reformasi bergulir sejak 1998, semangat mumpung orang partai malah semakin menjadi-jadi.

Kekuasaan menjadi dambaan, dan rakyat boleh makan janji kampanye saja. Rakyat Jakarta sudah digilas janji kampanye gubernurnya karena ternyata, kendati ahlinya sudah berjaya, banjir (ada hujan maupun tidak hujan), kemacetan jalanan, kesemrawutan tata kota, penggusuran rakyat jelata tetap saja jadi cerita sehari-hari.

Rakyat Sumatera Utara dan Jawa Barat hari-hari ini juga lagi melahap janji kampanye. Sialnya, calon perseorangan belum dapat kesempatan, padahal calon yang dijagokan partai yang oligarkis dan sentralistik ini tak sesuai harapan rakyat. Padahal mereka bakal memimpin provinsi-provinsi itu lima tahun ke depan. Dan, para politisi yang diusung partai-partai ini semua tak memiliki roh. Tak punya spiritualitas. Beragama pasti. Sangat taat. Tapi apa itu sudah jaminan memiliki spiritualitas?

Billy,

Maukah kau sejenak membayangkan negara yang para pemimpinnya tak memiliki keyakinan yang teguh, roh, untuk menyejahterakan rakyatnya? Tanpa spiritualitas kita berada dalam suasana anomali, tanpa pegangan, tak jelas mana yang boleh dan mana yang tak boleh. Tak jelas etikanya, karena material jadi tujuan, dambaan, sementara mental-spiritualnya jadi pemanis bibir saja.

Tentu saja tak mudah merawat dan menumbuhkan spiritalitas, keyakinan yang teguh, sikap batin yang mengarah kepada penegakan hak dan martabat manusia. Seorang teman dulu pernah becanda, begini, “sobat, kita bisa berbeda agama tapi satu iman.” Aku kaget mulanya. Maksudmu? “Ya, iman kita kan keadilan, walau agama bisa berbeda.” Tapi bukankah semua agama mengumandangkan keadilan, perdamaian, persaudaraan dan penghormatan kepada alam ciptaan Tuhan. Ya, rohnya, spiritualitasnya begitu, tapi praktek banyak orang beragama tidak begitu.

Apalagi kalau sudah jadi politisi yang bercita-cita jadi penguasa. Rakyat cuma jadi kendaraan yang dibayar murah. Partai telah mengijonkan rakyat demi mendapatkan uang untuk biaya kampanye. Gosipnya, para calon pemimpin harus membayar pemimpin partai sekian M. Wow. Saat kampanye, setiap kepala manusia yang dikerahkan, mendapat nasi bungkus seharga 15 ribu rupiah ditambah uang transpor. Hitung-hitung Rp 100.000 sehari itu. Lumayan, ketimbang nganggur, kata rakyat. Padahal harga seekor kambing boleh jadi di atas Rp 500.000. Celaka, para politisi, para pemimpin tanpa spiritualitas, menghargai seorang rakyat lebih rendah dari seekor kambing! Kutuk apa gerangan ini, Billy?

Mungkin kita perlu bermimpi, suatu hari, entah kapan, siapa tahu saat negeri yang terlalu luas ini secara pragmatis memilih jalan republik federasi, akan muncul pemimpin yang mau belajar jujur pada dirinya sendiri, mau menghargai dirinya apa adanya, yang mandiri dan merdeka dari relasi kekuasaan penindasan, yang berani memilih berpihak kepada kepentingan rakyat, yang memiliki bela rasa, kepekaan dan keperdulian kepada rakyatnya yang sengsara (bukan yang berurai airmata lantaran nonton film, namun tak menangis saat ada ibu hamil mati karena kelaparan), yang menghargai waktu – tidak menunda-nunda keputusan penting, yang setia mendengar suara rakyat, yang selalu belajar dari sejarah (keledai saja tak pernah terperosok ke dalam lobang yang sama), yang sedia menjadi pelayan rakyat.

Karena menjunjung nilai-nilai itu, sang pemimpin pun dihargai, karena ia memiliki watak yang bijak. Ia memiliki keyakinan yang teguh untuk membangun bangsa dan negara bersama rakyatnya. Ia memiliki spiritualitas. Tak salah mulai dari mimpi ya? Mumpung belum dilarang.

Medan, 8 April 2008

Arthur John Horoni

[Tulisan ini juga dapat dilihat pada: http://bungdaktur-arh.blogspot.com]

3 thoughts on “Pemimpin Tanpa Spiritualitas

  1. Pambudi Nugroho mengatakan:

    Bung Arthur yg sy kagumi,
    Terkejut pula aku ketika hidup berkompetisi sbg “anak domba ditengah kawanan Srigala” ,romantisme yg sarat refleksi sejarah pd Tulisan blogspot ini(jujur baru tahu aku )membangunkan kita dr kegelisahan pd sebuah “komitmen” & “eksistensi” sbg Pejoang, utk merawat saudaraKU yg paling hina dan me-regenerasikan kpd “The Orgizer “(Diaken) utk memiliki spiritualitas.

    Pambudi Nugroho
    Aktifis Pouk & Alumnus Lokakarya Teater Rendra

  2. Pambudi Nugroho mengatakan:

    Bung Arthur yang kami kasihi,

    Mohon maaf blogspot kita http://poukdepok.multiply.com masih dalam kontruksi oleh kawan kawan INRI sebagai media untuk menggalang dana pembangunan POUK. Nanti kalo sudah jadi aku kabari (mohon alamat email bung ), dan lagi -lagi kita akan ” mengganggu ” waktu Bung’ untuk memberikan content baik Ide ,refleksi maupun apresiasi mengenai organisasi. Ini alamat email aku:pambudi@aggi.co.id

    Doa dari kami akan selalu mendampingi perjuangan Bung & para sobat.

    Pambudi Nugroho
    INRI & PRPO

  3. Billy Soemawisastra mengatakan:

    Email Bung Arthur: bungarthur@gmail.com. Terima kasih atas komentar-komentar Anda di Jagat Alit, Bung Pambudi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: