Terima Kasihku pada Sang Buddha

4

Selasa, 20 Mei 2008 oleh Billy Soemawisastra


Lama saya berpikir, apa yang dapat saya tulis untuk Sang Buddha di Hari Waisak 2552/2008 ini? Sudah terlalu banyak cendekiawan dari berbagai agama menulis tentang Siddharta Gautama. Begitu pula para ilmuwan, budayawan dan filsuf dari zaman ke zaman, yang umumnya memuji kebesaran Sang Buddha — kesederhanaannya, kesuciannya, dan ajaran-ajarannya yang ringkas namun padat membumi.

Kalaupun saya ikut menulis tentang Sang Buddha, tulisan saya tak ubahnya sebutir debu yang mudah hilang diterbangkan angin. Meskipun debu itu sempat singgah di altar Mendut dan Borobudur. Tetapi saya merasa harus menulis, walaupun serba sedikit dan serba dangkal tentang Sang Pangeran yang lahir di Taman Lumbini, 623 SM itu, karena begitu besar rasa terima kasih saya padanya.

Siddharta Gautama, yang memperoleh pencerahan di Bodhgaya, 588 SM, dalam usianya ke-35 tahun, telah banyak memberikan inspirasi tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi banyak orang, sejak dulu hingga sekarang. Siddharta telah meninggalkan segala kemewahannya untuk mencari hakikat hidup, begitu ditengarainya bahwa hidup hanyalah “pertempuran” yang tiada henti antara kebahagiaan dan ketersiksaan, antara musibah dan anugrah, antara bencana dan keberuntungan. Semua itu adalah dukkha (penderitaan) yang melilit hidup manusia.

Lalu di bawah pohon bodhi, di suatu tempat yang kemudian disebut Bodhgaya, Siddharta yang juga bergelar Sang Bodhisatwa itu menemukan arti bahwa kebahagiaan dan ketersiksaan, bukanlah dua hal yang bertentangan dan saling bermusuhan. Melainkan satu rangkaian yang saling melengkapi, dan dapat dinikmati dengan penuh rasa syukur. Asalkan (kita) melaksanakan kebajikan atau berbuat baik pada sesama (Dana); menghindari perbuatan jahat atau berusaha tidak menyakiti sesama (Sila); dan selalu berusaha menyucikan pikiran (samadhi). Itulah inti ajaran Sang Buddha.

Begitu sederhananya ajaran itu, namun melaksanakannya secara konsisten tidaklah mudah. Termasuk melakukan apa yang disebut Samadhi (meditasi). Samadhi bukan hanya berdiam diri dan mengistirahatkan pikiran, melainkan suatu perjalanan ke dasar diri untuk menemukan kondisi “tanpa keinginan”. Kondisi suwung yang tak berbentuk, berwarna atau pun berupa (arupa). Kondisi azali manusia. Kondisi yang harus terus menerus dibentuk bahkan dalam keadaan penuh gerak (berkegiatan sehari-hari). Jika kondisi ini berhasil menyatu dalam diri, kita pun akan terbebas dari rasa iri, dengki dan keserakahan.

Diakui atau tidak, ajaran dan perilaku sang Buddha ini mempengaruhi para pencari kebenaran lintas agama berabad-abad kemudian. Salah satu contohnya adalah Ibrahim bin Adham, seorang Sultan atau Raja yang berkuasa di kerajaan Balkh (kini termasuk wilayah Afghanistan bagian utara). Sultan Ibrahim bin Adham, Bin Mansur al-Balkhi al- Ijli, yang juga dijuluki Abu Ishaq itu, rela meninggalkan kebesaran dan kemewahannya sebagai seorang Sultan, untuk berkelana mencari kebenaran.

Dengan hanya selembar pakaian yang melekat di tubuhnya, Ibrahim bin Adham pun berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya sebagai seorang faqir. Ia tinggalkan segala “keinginannya” sebagai manusia normal, dengan hanya satu cita-cita: mendekatkan diri kepada Allah, sepenuhnya, dan dengan segala kecintaan. Ia pun dikenal sebagai salah seorang sufi besar dalam khazanah sufisme Islam. Wafat pada sekitar 777 Masehi di Suriah.

Tentu masih bisa diperdebatkan apakah betul Ibrahim bin Adham terinspirasi Sang Buddha? Namun mengingat lokasi Afghanistan yang tak jauh dari Nepal dan India, serta pernah berkiprahnya para penganut Buddhisme dalam jumlah besar di Afghanistan, keterpengaruhan itu bukanlah hal yang mustahil.

Hanya sampai di sini tulisan saya untuk memperingati Tri Suci Waisak 2552/2008. Sekedar ungkapan rasa terima kasih saya kepada Sang Buddha, yang wafat pada usia 80 tahun di Kusinara, 543 SM. Terima kasih bahwa engkau pernah hadir di atas Bumi, Sang Buddha. Meski jarak kehidupan Anda dan kehidupan saya dipisahkan ruang dan waktu berbilang milenium, namun perilaku dan ajaran Anda banyak mempengaruhi hidup saya. Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambudassa.

Billy Soemawisastra

[Foto: www.snowlion.com, www.wikipedia.org]

4 thoughts on “Terima Kasihku pada Sang Buddha

  1. handaru mengatakan:

    Pak Billy, ada fenomena yang begitu menggejala di lingkungan sekitar saya akhir akhir ini. Banyak teman saya (Muslim) yang mengambil filosofi dari sang Buddha dalam hidupnya. Saya sempat berdiskusi dengan teman saya, apakah Al-Quran yang sudah sedemikian lengkap tidak menginspirasi hidupnya? Jawab teman saya: Ini hanya soal bahasa, bahwa di Al-Quran substansi nilai-nilai kehidupannya tidak berbeda dengan sang Buddha. Hanya soal bahasa penerjemahan nilai kehidupan dari sang Buddha baginya sangat elok dan mengena. Bahasa di Al-Quran tentu saja didominasi aroma budaya Timur Tengah yang kental, dan agak belum akrab dengan lingkungan Asia. Apapun jawaban teman saya, saya setuju bahwa nilai-nilai kehidupan sang Buddha begitu universal dan hakiki. Saya juga terinspirasi oleh tulisan Pak Billy untuk berterimakasih pada Sang Buddha.

  2. soegeng soediro mengatakan:

    Ayat-ayat suci bertebaran di mana-mana, di Timur dan di Barat. Semoga jiwa yang beribadah juga ada di mana-mana.

  3. Ratih Purnama mengatakan:

    Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhasa…

    Siapa saja yang paham akan Dhamma yang diungkakan dengan penuh metta oleh Guru Agung, Guru semua mahkluk yang tiada taranya, Sammasambuddha Gotama,tidak akan habis-habisnya bersyukur dan berterima kasih sepanjang hayat. Sama seperti saya dan banyak mahkluk lainnya yang memperoleh sedemikian kebijaksanaan dan kebahagian yang begitu besar berkat Dhamma Sang Buddha.

    Buddha,Sang Tathagata
    Tidak pergi kemana – mana
    Siapa yang melihat Dhamma, maka ia melihat Buddha…
    Tidak ada jarak antara saya dan Buddha..
    Begitu pula Sang Tathagata tidak pernah meninggalkan siapa pun..
    Tidak membuat jarak bagi apapun…
    Buddha ada dalam hati saya,dalam pikiran saya..
    Saya rasakan keagungan dan cinta kasihNya dalam tiap hembusan nafas hidup saya..

    Terima Kasih Buddha..
    Terima Kasih Dhamma..
    Terima Kasih Sangha..
    Terima Kasih Tiratana…
    Terima Kasih Semesta…

    Biarlah mulai kehidupan saya saat ini
    sampai tumimbal lahir yang terakhir
    saya selalu berbakti dan berada dalam Buddhasasana
    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
    Sadhu…Sadhu…Sadhu…

  4. eugine mengatakan:

    Sang Tathagata adalah guruku…
    dari kehidupan sekarang maupun kehidupanku yang akan datang
    aku bersujud di hadapan Buddha
    aku bersujud di hadapan Dhamma
    aku bersujud di hadapan Sangha

    keyakinan ini begitu luar biasa, sampai tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata..kebenaran dalam setiap ajaran nya membuat kita tersadar..betapa beruntungnya kita bisa mendengar ajarannya..

    keagungan Sang Guru tidaklah tertandingi, beliaulah guru para dewa dan manusia..Dhamma ajaran-nya sungguh indah, indah pada awalnya, indah pada pertengahan, dan indah pada akhirnya…
    sangha, persamuan para bhikkhu yang melatih diri..sungguh mulia..
    aku menghormat dengan sepenuh jiwaku kepada sang triratana…

    semoga aku dapat melihat jalan yang telah diajarkan oleh beliau dan dapat merealisasinya
    baik dalam kehidupan sekarang maupun yang selanjutnya.
    sadhu..sadhu…sadhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: