Umatku … Umatku …


Hari ini, terjadi lagi tindak kekerasan atas nama agama. Massa AKKBB (Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), yang tengah menggelar aksi damai di Lapangan Monas, Jakarta, diserang sejumlah orang yang mengaku “pembela Islam”. Seperti itukah pembela Islam? Garang. Kejam. Tidak menyisakan sedikit pun ruang bagi orang lain yang berbeda pendapat. Seperti itukah pembela Islam, yang hanya berani menyerang orang yang lemah? Seperti itukah … Islam?

Lalu di mana pemerintah Republik Indonesia dan aparat keamanannya saat itu? Takut? Tak peduli? Atau memang sengaja membiarkan kekerasan itu terjadi? Kekerasan atas nama agama di negeri ini, bukan sekali ini saja terjadi. Sudah berkali-kali. Puluhan kali. Ratusan kali. Bahkan mungkin ribuan kali. Tetapi pemerintah RI, yang memang miskin kepedulian itu, tampaknya semakin tak peduli.

Seandainya Rasulullah Muhammad SAW masih hidup, beliau pasti menangis seraya berkata, “Oh, umatku … umatku …” Beliau pasti kecewa, menyaksikan sebagian pengikutnya yang lebih suka mengumbar kemarahan dan menebar kebencian, sambil meneriakkan “Allahu Akbar!”

Nama Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Suci itu telah mereka nodai dengan napsu amarah. Dengan beraninya mereka meminjam Nama Tuhan untuk membenarkan anarkisme. Membenarkan penindasan. Rasanya bukan itu yang diinginkan Rasulullah. Karena bagi Sang Rasul, Islam itu artinya kedamaian, keselamatan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Bukan kekerasan. Bukan kekejaman. Bukan menebar ancaman.

Islam yang damai, itu yang diinginkan Rasulullah. Islam yang mampu menaungi semua orang, mampu menghargai perbedaan pendapat, mampu melindungi kaum yang lemah alias kaum minoritas. Islam yang ramah. Islam yang penuh senyuman. Tetapi hari ini, lagi-lagi kita saksikan Islam yang garang dan penuh kebencian. Islam yang menakutkan. Seperti itukah Islam? Atau … jangan-jangan … selama ini memang saya yang salah … menafsirkan Islam.

Billy Soemawisastra

Iklan

6 pemikiran pada “Umatku … Umatku …

  1. Kepada YTH,
    DETASEMEN 88 ANTI TERORIS
    Di Tempat

    Saya melaporkan bahwa ada suatu gerakan teroris yang sangat membahayakan jiwa masyarakat umum dan keamanan secara umum. Kelompok teroris tersebut bernama FPI, singkatan dari: FRONT PEMBELA ISLAM, adalah suatu kelompok teroris yang setiap saat bisa membunuh siapa saja.
    Mohon segera diproses secara hukum dan kelompok teroris tersebut segera dibubarkan, serta para anggota yang diidentifikasi ikut di dalamnya untuk segera dilakukan penangkapan dengan segera.

    Indonesia, 2 Juni 2008.

  2. Mang Billy,

    Sampai hari ini kita setuju bahwa Indonesia ini negara yang berlandaskan Pancasila. Kita setuju bahwa di negara Pancasila kebebasan beragama dijamin oleh undang-undang. Namun orang-orang yang menjunjung tinggi pluralisme dan keberagaman keyakinan malah diserang dan diperlakukan semena-mena oleh sekelompok orang yang menamakan diri pembela agama. Dan negara membiarkan hal itu terjadi. Saya khawatir, di masa mendatang Indonesia menjauh dari pijakan demokrasi dan cita-cita luhur para pendiri republik ini tinggal menjadi sebaris anak kalimat di halaman kecil buku sejarah.

    Salam,
    Hargie

  3. Bung Hargi, terima kasih atas komentar Anda. Anda masih berdomisili di Palembang? Saya sudah mengunjungi blog Anda. Sayangnya belum banyak posting yang Anda buat. Teruskan Bung. “Kertas Buram” akan dicari orang, karena kertas buram itu termasuk benda antik.

    Terima kasih juga kepada Bung Indera Keenam dan Bung Shodiq Mustofa. Sudah berkali-kali saya berkunjung ke blog Anda berdua, namun belum sempat memberikan komentar. Blog Anda berdua sungguh menyejukkan dan mencerahkan, dan semakin menambah panjang barisan orang-orang yang cinta damai.

  4. Mang Billy,

    Sudah cukup lama saya meninggalkan kota Palembang, lebih kurang delapan tahun. Karena harus memenuhi tugas perusahaan, saat ini saya tinggal di Surabaya dan sudah hampir dua tahun saya merantau di kota ini. Untuk menggantikan Kertas Buram, yang menurut saya tidak menarik minat para browser untuk mengunjunginya, karena arti ‘buram’ lebih dekat ke ‘suram’, mungkin saya akan membuat blog yang lain lagi.

    Salam untuk alumnus BB-ARH Angkatan 80-an.

  5. jika kita mengatakan kita Islam dan kita umat rasulullah apa yang kamu bisa buktikan untuk itu ? ……Rasulullah tidak pernah mati selama sunnah masih dipegang dan masih dilakukan umatnya…..yang mati itu cuma jasad….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s