Siapakah yang Paling Berhak Menilai Keislaman Seseorang?

3

Jumat, 13 Juni 2008 oleh Billy Soemawisastra


Pertanyaan ini muncul dari seorang teman, beberapa saat setelah pemerintah (Departemen Agama, Departemen Dalam Negeri dan Kejaksaan Agung) menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Ahmadiyah. Menurut sang teman, apapun alasannya, pemerintah telah melakukan intervensi terhadap keimanan rakyatnya. Meski tidak secara tegas melarang kehadiran Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), SKB tersebut telah menempatkan JAI sebagai organisasi yang perlu diawasi gerak-geriknya. Ini tentu saja membuat para pengikut Ahmadiyah menjadi tidak bebas, bahkan dalam melaksanakan ibadah sekalipun.

SKB itu, juga akan membuat orang-orang yang merasa “paling Islam” menjadi pengawas orang-orang Ahmadiyah. Padahal, lagi-lagi, siapa yang paling kompeten menilai kadar keislaman seseorang? Pemerintahkah? Atau Majelis Ulama Indonesia (MUI)? Kalau ya, bisakah kedua lembaga itu menunjukkan surat mandat dari Tuhan bahwa mereka mempunyai hak untuk menentukan keislaman seseorang? Karena rasanya, hanya Tuhan yang boleh menilai hal itu, apalagi bila menyangkut hablumminallah .

Yang jelas, pemerintah telah menyerah pada keinginan salah satu kelompok masyarakatnya yang selalu memaksakan kehendak, dan mengorbankan kelompok masyarakat lainnya, yang mestinya sama-sama diayomi. Ironisnya, pemerintah yang telah mengeluarkan keputusan tersebut, bukanlah pemerintah dari suatu negara teokratis. Melainkan pemerintah yang undang-undang dasarnya menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan, dan yang dasar negaranya menjamin keberagaman.

Jangan lagi berharap bahwa pemerintah akan membela golongan masyarakat yang lemah. Jangan lagi berharap bahwa pemerintah akan menjadi wasit yang adil dalam menengahi berbagai perbedaan. Pemerintahan yang sekarang adalah pemerintahan yang tidak malu-malu lagi melampaui batas wewenangnya, tetapi lupa pada kewajiban yang sebenarnya, yaitu meningkatkan kesejahteraan dan menjamin rasa aman rakyatnya. Setelah kenaikan BBM yang membuat napas rakyat semakin tersekat, pemerintah mengeluarkan SKB yang membuat salah satu kelompok masyarakat pencinta damai kini dilanda ketakutan berkepanjangan.

Pencinta Damai, seperti itulah sebenarnya orang-orang Ahmadiyah. Mereka tak pernah menebar kebencian, apalagi memerangi golongan lain yang tak sepaham dengan mereka. Pun, jangan lupa, merekalah yang menerjemahkan Al-Quran ke dalam berbagai bahasa di dunia, sehingga dunia pun (terutama dunia Barat) menjadi lebih mengenal Islam. Mereka juga mengakui bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah, menjalankan sholat lima waktu dan berupaya beramal shaleh sesuai tuntunan Al-Quran. Mereka bukan Islam? Hanya Allah yang berhak menjawabnya.

Saya khawatir, setelah SKB tentang Ahmadiyah, pemerintah akan menerbitkan lagi SKB tentang golongan Islam lainnya yang tidak disukai para fundamentalis. Lalu penafsiran tentang Islam pun akan menjadi tunggal, seperti pemerintah Orde Baru yang memaksakan penafsiran tunggal terhadap Pancasila. Dan, kali ini lebih parah lagi, karena bisa-bisa pemerintah akan terjebak untuk meninggalkan Pancasila, lantas menggantinya dengan Islam berdasarkan penafsiran kelompok tertentu.

Mudah-mudahan kekhawatiran ini tidak akan terjadi, karena saya yakin di negeri ini masih banyak tokoh masyarakat yang berakal sehat, dan tak tinggal diam. Kini mari kita berserah diri kepada Allah. Karena arti Islam, selain kedamaian dan keselamatan, juga mengandung arti berserah diri secara total kepadaNya. Hanya Dialah Hakim Yang Maha Adil, yang telah menurunkan ajaran Islam sebagai rahmat atau karunia bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin). Sekali lagi, BAGI SELURUH ALAM, BUKAN HANYA BAGI ORANG ISLAM ATAU HANYA BAGI ORANG-ORANG YANG MERASA PALING ISLAM.

Billy Soemawisastra.

3 thoughts on “Siapakah yang Paling Berhak Menilai Keislaman Seseorang?

  1. Hendra mengatakan:

    Assalamu’alaikum wr wb…..

    ADA BEBERAPA PERTANYAAN YANG SAYA INGIN AJUKAN, MUNGKIN SAYA SALAH KARENA KURANGNYA PENGETAHUAN SAYA.

    1. “Meski tidak secara tegas melarang kehadiran Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), SKB tersebut telah menempatkan JAI sebagai organisasi yang perlu diawasi gerak-geriknya. Ini tentu saja membuat para pengikut Ahmadiyah menjadi tidak bebas, bahkan dalam melaksanakan ibadah sekalipun.”

    Bukankah ibadah itu urusan manusia dengan Sang Khaliq, karena hal itu merupakan keyakinan setiap orang yang cuma ada dihatinya. Jadi apakah bisa SKB melarang seseorang melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya, dan siapa yang akan menjadi pengawas, serta bagaimana model pengawasannya ?
    =======================================================

    2. “Siapa yang paling kompeten menilai kadar keislaman seseorang ? Pemerintahkah ? Atau Majelis Ulama Indonesia (MUI) ? Kalau ya, bisakah kedua lembaga itu menunjukkan surat mandat dari Tuhan bahwa mereka mempunyai hak untuk menentukan keislaman seseorang ?”

    Bukankah Rasulullah SAW juga tidak membawa surat mandat dari Sang Maha Mengetahui, melainkan diberi mukjizat Al – Qur’an dan meninggalkan As Sunnah sebagai petunjuk bagi manusia agar tidak tersesat.

    “Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS Al Baqarah: 2)

    “…..Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)……”(QS Al Baqarah: 185)

    “(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali ‘Imran: 138)

    “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS Al Isra: 9)

    Jadi “surat mandat” yang dipegang oleh manusia saat ini adalah dua buah petunjuk yang ditinggalkan Nabi SAW kepada manusia, yaitu Al – Qur’an dan As Sunnah. Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi.

    “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi……” (QS Al Baqarah: 30)

    “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi…..” (QS Fatir: 39)

    Dia memberikan bekal kepada manusia untuk memandunya supaya dapat menjalankan tugas kekhalifahan, yakni Al-Qur’an. Namun demikian, yang mampu mengambilnya sebagai petunjuk hanyalah orang-orang yang bertaqwa (lihat QS Al-Baqarah: 2 dan QS Ali Imran: 138 diatas).

    “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat” (QS Ali ‘Imran: 132)
    =========================================================

    3. “Ironisnya, pemerintah yang telah mengeluarkan keputusan tersebut, bukanlah pemerintah dari suatu negara teokratis. Melainkan pemerintah yang undang-undang dasarnya menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan, dan yang dasar negaranya menjamin keberagaman.”

    Bukankah KEBEBASAN kita juga berbatasan dengan KEBEBASAN orang lain. Bukankah HAK ASASI kita juga berbatasan dengan HAK ASASI orang lain. Apakah kita boleh melanggar HAK ASASI orang lain dengan mengatas-namakan HAK ASASI kita ? Apakah kita boleh melanggar KEBEBASAN orang lain dengan mengatas-namakan KEBEBASAN kita ? Bukankah HAK ASASI MANUSIA dan KEBEBASAN tidak mutlak.

    Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 berbunyi :
    “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
    Menurut Pasal 29, negara menjamin kebebasan penduduk memeluk agama dan beribadat sesuai agamanya, bukan menjamin kebebasan penduduk melakukan penodaan atau penistaan suatu agama atau agamanya.

    Kebebasan beragama dihargai dalam Islam selama dia beragama Islam dengan benar (sesuai Al – Qur’an dan As Sunnah, serta bukan aliran sesat) atau beragama lain seperti Hindu, Budha, Kristen, dan sebagainya. Jika dia mengaku Islam, maka dia harus menjalankan agama Islam dengan konsekwen. Bukan merusak atau menista ajaran Islam dengan aliran sesat.

    Jika Ahmadiyah tetap ingin mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai rasul, kenapa tidak menyatakan diri keluar dari Islam dan membentuk agama baru seperti agama Ahmadiyah. Maka Ahmadiyah bukan lagi aliran sesat dalam Islam karena dalam Islam ada ajaran “Laakum diinukum waliyadiin (untukmu agamamu dan untukku agamaku)” (QS Al Kafirun: 6)

    ”…..Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maa-idah: 3)
    Jika Ahmadiyah tidak mengimani kesempurnaan ajaran Islam sebagaimana disebut ayat Al Qur’an di atas, sehingga merubah-rubah/menambah-nambahnya dengan alasan memperkuat segala macam seraya berusaha menyesatkan ummat Islam, Ahmadiyah harus berani mengakui bahwa mereka bukan Islam.

    =========================================================

    4. “Mereka juga mengakui bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah, menjalankan sholat lima waktu dan berupaya beramal shaleh sesuai tuntunan Al-Quran. Mereka bukan Islam? Hanya Allah yang berhak menjawabnya.”

    Apakah memang benar Ahmadiyah mengakui Muhammad SAW adalah Rasullulah dan Nabi terakhir ? Apakah benar kitab mereka Al – Fur’qan ?

    Ahmadiyah menganggap ada rasul setelah Nabi Muhammad SAW, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Ini bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

    Dalilnya di antaranya:
    “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS Al Ahzab: 40)

    Nabi Muhammad SAW bersabda:
    “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku” [HR Abu Daud]

    Oleh karena itu bukan hanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan perwakilan ormas Islam di Indonesia yang menyatakan Ahmadiyah sesat.

    Para ulama di seluruh dunia yang tergabung dalam Rabithah ‘Alam Islami (Liga Muslim Dunia) yang berkedudukan di Makkah berfatwa Ahmadiyah itu KAFIR, SESAT & KELUAR DARI ISLAM.

    Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak 18 Juni 1975.

    Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunei Darussalam.

    Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan TIDAK BOLEH pergi haji ke Makkah.

    Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah golongan MINORITAS NON MUSLIM.

    MUI menyatakan akan mencabut fatwa Ahmadiyah sesat jika Ahmadiyah mau mengakui Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi dan bukan Rasul. Namun dari 12 pernyataan Ahmadiyah, tidak ada satu pernyataan pun yang menyatakan Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi dan bukan Rasul. Sebaliknya di poin 3 disebut Ghulam adalah Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan (bukan sekedar Guru). Padahal Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan itu adalah Nabi/Rasul.

    Berikut ayat-ayat Al Qur’an yang menunjukkan bahwa Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan itu adalah Rasul seperti halnya Nabi Muhammad:

    “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan…..” (QS Al Baqarah: 119)

    “Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” (QS Al Fath: 8)

    “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS Fatir: 24)

    “Dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan” (QS Al Israa’: 105)

    “Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan;………….” (QS Al Kahf: 56)

    “Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Ma’idah: 19)

    “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS An Nisaa’:165)

    “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS Saba’: 28)

    Jadi, jika Ahmadiyah menyatakan hal serupa, maka Ahmadiyah tetap kekeh berpendapat Ghulam adalah Rasul. Ini masuk dalam penistaan agama dan harus ditindak oleh negara sesuai dengan pasal penistaan agama. Saat ini banyak orang-orang Ahmadiyah yang menyusup ke milis-milis Islam tapi menyiarkan paham bahwa ada Rasul setelah Nabi Muhammad SAW.

    Begitu juga dengan kitab sucinya, bukan Al – Qur’an tetapi kitab suci Tadzkirah. Kitab suci Tadzkirah adalah kumpulan wahyu yang diturunkan “tuhan” kepada Mirza Ghulam Ahmad yang diklaim kesuciannya sama dengan kitab suci Al-Qur’an, karena sama-sama wahyu dari Tuhan, tebalnya lebih tebal dari Al-Qur’an. (Lihat Kebohongan Ahmadiyah dan Butir Butir Kesesatan Ahmadiyah)
    ===============================================================

    5. “Lalu penafsiran tentang Islam pun akan menjadi tunggal, seperti pemerintah Orde Baru yang memaksakan penafsiran tunggal terhadap Pancasila. Dan, kali ini lebih parah lagi, karena bisa-bisa pemerintah akan terjebak untuk meninggalkan Pancasila, lantas menggantinya dengan Islam berdasarkan penafsiran kelompok tertentu.”

    Bukankah “penafsiran” tentang Islam (IMAN) memang Tunggal (TIDAK ADA MEDAN IJTIHAD DALAM AQIDAH) ?
    – PERCAYA KEPADA ALLAH SWT
    – PERCAYA KEPADA NABI DAN RASULNYA
    – PERCAYA KEPADA KITAB-KITABNYA
    – PERCAYA KEPADA PARA MALAIKATNYA
    – PERCAYA KEPADA HARI AKHIR
    – PERCAYA KEPADA TAKDIRNYA

    ”Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An Nisaa’:136)
    =============================================================

    6. “Mudah-mudahan kekhawatiran ini tidak akan terjadi, karena saya yakin di negeri ini masih banyak tokoh masyarakat yang berakal sehat, dan tak tinggal diam.”

    Saya setuju bang, saya yakin di negeri kita ini masih banyak tokoh serta warga yang berakal sehat dan juga mau menggunakan hati nurani, berpegang teguh pada kebenaran Al – Qur’an & As Sunnah, serta tidak tinggal diam melihat kebenaran ISLAM diputar-balikan.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

  2. soegeng soediro mengatakan:

    Mereka yang merasa pernah belajar tetapi belum ” mempelajari” apalagi mendalami, apalagi ” melakoni” jadinya serba kering, dan sepertinya hanya berbekal “titipan” yang berbau politis, ehm.

  3. ika mengatakan:

    hanya Allah SWT yang bisa menilai manusia sesat atau tidaknya…intropeksi diri sendiri dan bertakwa kepada Allah SWT agar masuk surga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kuncen Jagat Alit

Rubrikasi

Pustaka Gagasan

Sekedar Maklumat

Tidak ada larangan untuk mengutip berbagai tulisan yang termaktub di Jagat Alit, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Tetapi mohon cantumkan nama penulisnya dan sebutkan nama situsnya: jagatalit.com. Kejujuran Anda, sangat kami hargai.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: